Nikmati perbedaan dalam membawakan lakon “Kresna Duta” ini oleh beberapa dalang :

Cerita saya kutip dari OneEarthMedia
Sang Duta Kebenaran
Para leluhur kita menghormati para Duta Kebenaran. Hanya para raksasa dan mereka yang berjiwa raksasa yang mengabaikan datangnya Duta Kebenaran. Hanuman adalah Duta ke negeri Alengka sebelum negeri umat raksasa dihancurkan Sri Rama. Prabu Kresna adalah Duta Kebenaran sebelum perang bharatayuda dimulai. Ada putaran cakra, ada waktu yang diberikan untuk memilih Kebenaran yang sudah jelas nampak atau tetap memilih berkubang dalam adharma, sampai saat Kebenaran ditegakkan. Nabi Musa juga merupakan Utusan bagi kaumnya Fir’aun, demikian pula Pesuruh Gusti lainnya sebagai pemberi peringatan terhadap kaumnya. Banyak umat yang mempertahankan ‘status quo’-nya tidak mau menerima perubahan dan tidak mau mendukung Kebenaran.
Para leluhur kita, membayangkan semuanya terjadi di dalam diri. Guru Sejati yang menyentuh dalam diri akan terungkap di luar sebagai Guru Ruhani. Duta Kebenaran berada dalam diri, Utusan Gusti memperingatkan diri lewat hati nurani. Diri yang masih dikuasai keserakahan Korawa, enggan menerima Kebenaran. Sesudah habis masa pengasingan diri, masa meditasi, hati nurani perlu mendapatkan kembali haknya di Inderaprasta, sudah saatnya Kebenaran memerintah semua indera kita. Terima kasih Duta Kebenaran, Terima kasih Guru yang telah bersemayam dalam hati nurani.
Dari Buku JANGKA JAYABAYA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. ‘Di tengah Kalabendu, zaman morat-marit tak menentu, banyak orang memimpikan datangnya Kalamukti, zaman penuh kemuliaan dan ketenteraman sejati. Orang memimpikan Sosok Utama yang akan memimpin perubahan dan mengawali transisi: Herumukti. Konon tokoh ini bersenjatakan trisula – tombak tajam bermata tiga: kebenaran, keadilan, dan kejujuran’. Pemimpin, pelopor, pemberi peringatan, penegak Kebenaran adalah Herumukti yang berada di dalam diri.
Bapak Anand Krishna mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir Jangka Jayabaya. ‘Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, dia melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah Anda! Sambut kelahirannya dalam diri Anda’!
Senjata Prabu Kresna Read more »
Filed under: Cerita Mahabarata | Tagged: Ki Hadi Sugito, ki nartosabdho, Ki Timbul Hadiprayitno, kresna duta | 1 Comment »














