Kresna Duta Utusan Pemberi Peringatan Sebelum Kebenaran Ditegakkan

Nikmati perbedaan dalam membawakan lakon “Kresna Duta” ini oleh beberapa dalang :

Cerita saya kutip dari OneEarthMedia

Sang Duta Kebenaran

Para leluhur kita menghormati para Duta Kebenaran. Hanya para raksasa dan mereka yang berjiwa raksasa yang mengabaikan datangnya Duta Kebenaran. Hanuman adalah Duta ke negeri Alengka sebelum negeri  umat raksasa dihancurkan Sri Rama. Prabu Kresna  adalah Duta Kebenaran sebelum  perang  bharatayuda dimulai. Ada putaran cakra, ada waktu yang diberikan  untuk memilih Kebenaran yang sudah jelas nampak atau tetap memilih berkubang dalam adharma, sampai saat Kebenaran ditegakkan. Nabi Musa juga merupakan Utusan bagi kaumnya Fir’aun, demikian pula Pesuruh Gusti  lainnya sebagai pemberi peringatan terhadap kaumnya. Banyak umat yang mempertahankan ‘status quo’-nya tidak mau menerima perubahan dan tidak mau mendukung Kebenaran.

Para leluhur kita, membayangkan semuanya terjadi  di dalam diri. Guru Sejati yang menyentuh dalam diri akan terungkap di luar sebagai Guru Ruhani. Duta Kebenaran berada dalam diri, Utusan Gusti memperingatkan diri lewat hati nurani. Diri yang masih dikuasai keserakahan Korawa, enggan menerima Kebenaran. Sesudah habis masa pengasingan diri, masa meditasi,  hati nurani perlu mendapatkan kembali haknya di Inderaprasta, sudah saatnya Kebenaran memerintah semua indera kita. Terima kasih Duta Kebenaran, Terima kasih Guru yang telah bersemayam dalam hati nurani.

Dari Buku JANGKA JAYABAYA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. ‘Di tengah Kalabendu, zaman morat-marit tak menentu, banyak orang memimpikan datangnya Kalamukti, zaman penuh kemuliaan dan ketenteraman sejati. Orang memimpikan Sosok Utama yang akan memimpin perubahan dan mengawali transisi: Herumukti. Konon tokoh ini bersenjatakan trisula – tombak tajam bermata tiga: kebenaran, keadilan, dan kejujuran’. Pemimpin, pelopor, pemberi peringatan,  penegak Kebenaran adalah Herumukti yang berada di dalam diri.

Bapak Anand Krishna mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir Jangka Jayabaya. ‘Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, dia melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah Anda! Sambut kelahirannya dalam diri Anda’!

Senjata Prabu Kresna Read more »

Adimanggala

Arya Adimanggala adalah putra dari Ken Sagupi. Kisah Ken Sagupi sungguh “unik”.

Ken Sagupi yang waktu mudanya bernama Yasuda, adalah seorang swarawati keraton Mandura. Selain suaranya sangat merdu. Ia berwajah cantik dan menarik hati. Sikap dan polahnya serba luwes, sabar dan memiliki tabiat senang menyenangkan hati orang lain.

Tidak heran kemudian hal ini menarik hati bendara-nya, Prabu Basudewa raja Mandura. Kemudian Prabu Basudewa memutuskan untuk menikahkan Ken Sagupi dengan Antagopa perjaka tua yang tidak bisa punya keturunan anak Buyut Gupala pemelihara kebuyutan Widarakanda (Widarakandang).

Namun secara tidak resmi Ken Sagupi diperistri oleh tiga orang satria Mandura, yaitu kakak beradik, Arya Basudewa, Arya prabu Rukma dan Arya Ugrasena.

Dari hubungan suami-isteri itu, Ken Sagupi memperoleh empat orang putra. Dengan Arya Basudewa ia berputra Arya Udawa dengan Arya Prabu Rukma berputra Dewi Rarasati (larasati), sedang dengan Arya Ugrasena Ken Sagupi berputra dua orang Arya Pragota dan Arya Adimanggala. (lihat di Bausastra).

Arya Adimanggala adalah patih Negara Awangga dengan rajanya Karna. Patih Adimanggala gugur karena dibunuh oleh atasannya sendiri karena kesalahpahaman. Dia dipersalahkan atas bunuh dirinya istri Karna yaitu Dewi Surtikanti.

Pada saat Baratayuda berlangsung, Surtikanti selalu mengikuti berita tentang suaminya dari medan perang yang disampaikan oleh Patih Adimanggala. Suatu hari, patih Awangga itu menyampaikan berita yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti salah mengerti. Ia mengira suaminya gugur di palagan Baratayuda. Tanpa pikir panjang Surtikanti bunuh diri dengan mencabut patrem (keris kecil) lalu menu-sukkannya ke dadanya sendiri. Kematian Dewi Surtikanti membuat Adipati Karna amat marah. Ia mempersalahkan Adimanggala. Tanpa banyak bicara Karna segera membunuh Patih Adimanggala.

Tetapi versi lain menyebutkan, Patih Adimanggala gugur bersama (sampyuh : Jawa) ketika ia bertempur melawan Patih Udawa, abang satu ibu lain ayah. (lihat di Bausastra)

Abimanyu

Cukup banyak lakon dan kajian yang ditulis mengenai tokoh yang satu ini. Berikut saya cuplik dari beberapa sumber. Pagelaran wayang di blog ini juga sudah ada lakon tentang Abimanyu oleh Ki Nartosabdho, Anom Suroto, Ki Timbul dan dalang lainnya : Abimanyu Lahir, Abimanyu Krama, Wahyu Cakraningrat, Abimanyu Gugur (ranjapan).

Sosok Abimanyu di WIKI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Abimanyu (Sanskerta: अभिमन्यु, abhiman’yu) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera Arjuna dari salah satu istrinya yang bernama Subadra. Ditetapkan bahwa Abimanyu-lah yang akan meneruskan Yudistira. Dalam wiracarita Mahabharata, ia dianggap seorang pahlawan yang tragis. Ia gugur dalam pertempuran besar di Kurukshetra sebagai kesatriaPandawa, karena baru berusia enam belas tahun. Abimanyu menikah dengan Utara, puteri Raja Wirata dan memiliki seorang putera bernama Parikesit, yang lahir setelah ia gugur. termuda dari pihak

Arti nama

Abimanyu terdiri dari dua kata Sanskerta, yaitu abhi (berani) dan man’yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata Abhiman’yuharfiah berarti “ia yang memiliki sifat tak kenal takut” atau “yang bersifat kepahlawanan”. secara

Kelahiran, pendidikan, dan pertempuran

Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi mematikan yang sulit ditembus bernama Chakrawyuha dari Arjuna. Mahabharata menjelaskan bahwa dari dalam rahim, ia menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian Subadra (ibu Abimanyu) tertidur maka sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang bernama Arjuna yang merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan keluarga Raja Wirata, saat pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan ksatria-ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka.

Kematian Abimanyu

Pada hari ketiga belas Bharatayuddha, pihak Korawa menantang Pandawa untuk mematahkan formasi perang melingkar yang dikenal sebagai Chakrawyuha. Para Pandawa menerima tantangan tersebut karena Kresna dan Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan berbagai formasi.

Namun, pada hari itu, Kresna dan Arjuna sibuk bertarung dengan laskar Samsaptaka. Oleh karena Pandawa sudah menerima tantangan tersebut, mereka tidak memiliki pilihan namun mencoba untuk menggunakan Abimanyu yang masih muda, yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara mematahkan formasi Chakrawyuha namun tidak tahu bagaimana cara keluar dari dalamnya. Untuk meyakinkan bahwa Abimanyu tidak akan terperangkap dalam formasi tersebut, Pandawa bersaudara memutuskan bahwa mereka dan sekutu mereka akan mematahkan formasi itu bersama Abimanyu dan membantu sang pemuda keluar dari formasi tersebut.

Pada hari penting itu, Abimanyu menggunakan kecerdikannya untuk menembus formasi tersebut. pandawa bersaudara dan sekutunya mencoba untuk mengikutinya di dalam formasi, namun mereka dihadang oleh Jayadrata, Raja Sindhu, yang memakai anugerah Siwa agar mampu menahan para Pandawa kecuali Arjuna, hanya untuk satu hari. Abimanyu ditinggal sendirian untuk menangkis serangan pasukan Korawa.

Abimanyu membunuh dengan bengis beberapa ksatria yang mendekatinya, termasuk putera Duryodana, yaitu Laksmana. Setelah menyaksikan putera kesayangannya terbunuh, Duryodana marah besar dan menyuruh segenap pasukan Korawa untuk menyerang Abimanyu. Karena gagal menghancurkan baju zirah Abimanyu, atas nasihat Drona, Karna menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kemudian keretanya dihancurkan, kusir dan kudanya dibunuh, dan seluruh senjatanya terbuang. Putera Dursasanaperisai hancur berkeping-keping. Tak berapa lama kemudian, Abimanyu dibunuh oleh putera Dursasana dengan cara menghancurkan kepalanya dengan gada. mencoba untuk bertarung dengan tangan kosong dengan Abimanyu. Namun tanpa menghiraukan aturan perang, pihak Korawa menyerang Abimanyu secara serentak. Abimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai

Arjuna membalas dendam

Read more »

Abilawa

Jagal Abilawa (bermuka dan seluruh badannya hitam) adalah nama samaran dari Raden Bratasena (Wrekudara waktu masih muda). Dia menyamarkan diri, karena pada masa itu para Pandawa mendapat kemalangan oleh perbuatan Kurawa. Bratasena dan saudara-saudaranya Pandawa berlindung ke negeri Wirata, dengan menyamar dan menghamba pada raja Wirata.

Di negeri Wirata pada masa itu ada perang tanding yang diadakan oleh putera raja yang bernama Raden Rajamala. Masuklah Jagalabilawa ke gelanggang perang tanding itu, Rajamala dapat dikalahkan. Kemudian tertolonglah kesengsaraan Pandawa, kelimanya saudara itu mengabdi ke Wirata.

Bentuk dan pakaian Jagalabilawa tak beda Bratasena, hanya berambut terurai bentuk gimbal.

Sumber : Sedjarah Wajang Purwa, terbitan PN Balai Pustaka cetakan kelima tahun 1968, oleh Pak Hardjowirogo.

Kisah yang melibatkan Abilawa, saya kutip dari Jogjanews

Jagal Abilawa: Kisah matinya Rajamala


Raden Utara dan Wratsangka meminta jago kepada Prabu Amarta

Prabu Mangsahpati memanggil Raden Utara dan Wratsangka, menanyakan mengapa Patih Kencaka dan Rupapenca tidak datang menghadap dirinya. Raden Utara menjawab:”Paman Patih tidak datang sebab sedang mengadakan pertandingan adu jago, jagonya ialah Paman Rajamala. Saya sudah berkali-kali ikut bertarung, tetapi kalah terus. Saya keroyok sepuluh orang, Rajamala masih tetap segar. Sudah banyak uang yang habis dalam adu jago ini.”

Prabu Mangsahpati mengatakan,”Kamu keroyok dengan 100 orang pun si Rajamala tidak akan kalah karena mereka itu bukan tandingannya. Coba tanyakan Wijakangka di Ketandan, apakah dia mempunyai jago yang baik.” Raden Utaka lalu menyembah dan berangkat ke Ketandan bersama Wratsangka.

Setelah bertemu Wijakangka, mereka mengutarakan maksudnya. Wijakangka sanggup mencarikan jago untuk melawan Rajamala yaitu si Jagal Abilawa. Mereka bertiga segera menuju Pejagalan mencari Jagal Abilawa tetapi saat bisa bertemu Jagal Abilawa sedang tidur. Mereka mencoba membangunkan Jagal Abilawa tetapi tidak bergeming. Akhirnya bulu jari kakinya dicabut sehingga membuat Abilawa bangun dan marah-marah dan hendak menangkap Wijajangka dan ingin membantingnya namun setelah Wijajangka mengingatkannya bahwa ia adalah kakaknya, Abilawa mereda marahnya.

Raden Utara lalu menerangkan maksud kedatangan mereka bertiga meminta Abilawa mau menjadi jago melawan Rajamala. Abilawa sanggup kemudian mereka pergi ke Kepatihan untuk bertarung dengan Rajamala. Pertandingan berlangsung cepat Rajamala dapat dibunuh dengan Kukupancanaka, namun setelah Rajamala dimasukkan ke dalam dia segar kembali. Demikian berturut-turut hingga Abilawa kehabisan tenaga. Read more »

Ki Hadi Sugito : Lakon Wahyu

Lakon wahyu biasanya adalah lakon carangan. Yang memperoleh wahyu biasanya adalah para satria utama yang mengharapkan wahyu untuk memenuhi tugas dalam memperjuangkan dan menegakan kebenaran.

Berikut adalah 3 lakon wahyu dari Ki Hadi Sugito :

  1. Wahyu Dewandaru
  2. Wahyu Godo Inten
  3. Wahyu Senopati

Ki Hadi Sugito : Subali Lena

Sosok Subali saya kutip dari WIKI

Bali (Sanskerta: वाली; Valī), atau yang di Indonesia lebih terkenal dengan sebutan Subali, adalah nama seorang raja Wanara dalam wiracarita Ramayana. Ia merupakan kakak dari Sugriwa, sekutu Sri Rama. Ketika terjadi perselisihan antara kedua Wanara bersaudara itu, Rama berada di pihak Sugriwa. Subali akhirnya tewas di tangan pangeran dari Ayodhya tersebut.

Subali juga dikenal dalam dunia pewayangan Jawa sebagai seorang pendeta Wanara berdarah putih yang tinggal di puncak Gunung Sunyapringga. Ia memiliki Aji Pancasunya (di daerah Sunda disebut Pancasona) yang membuatnya tidak bisa mati. Ilmu kesaktian tersebut diwariskannya kepada Rahwana, musuh besar Rama.

Asal-usul

Nama Subali berasal dari kata bala, yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “rambut”. Konon ia dilahirkan melalui rambut ibunya, sehingga diberi nama Bali atau Subali. Setelah dewasa, Subali menjadi raja bangsa Wanara di Kerajaan Kiskenda, sedangkan Sugriwa bertindak sebagai wakilnya.

Menurut versi Ramayana, Subali dan Sugriwa adalah sepasang Wanara kembar yang dilahirkan oleh seorang ibu, tetapi berbeda ayah. Keduanya sama-sama putra dewa. Subali adalah putra Indra, sedangkan Sugriwa merupakan putra Surya.

Berbeda dengan versi aslinya, dalam pewayangan Jawa, Subali dan Sugriwa pada mulanya terlahir sebagai manusia normal. Keduanya masing-masing bernama Guwarsi dan Guwarsa. Mereka memiliki kakak perempuan bernama Anjani. Ketiganya merupakan anak Resi Gotama dan Dewi Indradi yang tinggal di Pertapaan Agrastina.

Pada suatu hari Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa berselisih memperebutkan cupu milik ibu mereka yang luar biasa indahnya. Hal itu diketahui oleh Gotama. Indradi pun dipanggil dan ditanya dari mana cupu tersebut berasal. Gotama sebenarnya mengetahui kalau cupu itu adalah benda kahyangan milik Batara Surya yang bernama Cupumanik Astagina. Indradi yang ketakutan diam tak mau menjawab. Gotama yang marah karena merasa dikhianati mengutuk istrinya itu menjadi tugu. Ia lalu melemparkan tugu tersebut sejauh-jauhnya, sampai jatuh di perbatasan Kerajaan Alengka.

Meskipun kehilangan ibu, ketiga anak Gotama tetap saja memperebutkan Cupu Astagina. Gotama pun membuang benda itu jauh-jauh. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cupu Astagina jatuh di sebuah tanah kosong dan berubah menjadi telaga. Guwarsi dan Guwarsa begitu sampai di dekat telaga itu segera menceburkan diri karena mengira cupu yang mereka cari jatuh ke dalamnya. Seketika itu juga wujud keduanya berubah menjadi wanara atau kera. Sementara itu Anjani yang baru tiba merasa kepanasan. Ia pun mencuci muka menggunakan air telaga tersebut. Akibatnya, wajah dan lengannya berubah menjadi wajah dan lengan kera.

Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa menghadap Gotama dengan perasaan sedih. Ketiganya pun diperintahkan untuk bertapa mensucikan diri. Anjani bertapa di Telaga Madirda. Kelak ia bertemu Batara Guru dan memperoleh seorang putra bernama Hanoman. Sementara itu Guwarsi dan Guwarsa yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa masing-masing bertapa di Gunung dan Hutan Sunyapringga. Ketiga anak Gotama tersebut berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sesuai petunjuk ayah mereka, Anjani bertapa dengan gaya berendam telanjang seperti seekor katak, Subali menggantung di dahan pohon seperti seekor kelelawar, sedangkan Sugriwa mengangkat sebelah kakinya seperti seekor kijang.

Penggabungan silsilah

Versi pewayangan Jawa yang bersumber dari naskah Serat Arjunasasrabahu, sebagaimana yang telah diceritakan di atas, rupanya telah menggabungkan silsilah beberapa tokoh dalam Ramayana.

Read more »

Ki Hadi Sugito : Sengkuni Tundung

Berikut saya kutipkan sosok Sengkuni dari WIKI

Asal-Usul Versi Pewayangan

Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka. Sangkuni sendiri dikisahkan memiliki nama asli Arya Suman.

Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.

Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.

Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Asal-Usul Nama Sangkuni

Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Suman berwajah tampan. Ia mulai menggunakan nama Sangkuni semenjak wujudnya berubah menjadi buruk akibat dihajar oleh Gandamana.

Read more »

Ki Hadi Sugito : Sadewa Reca

Cerita diawali dengan gonjang-ganjing kahyangan karena kedatangan Duryudana diiringi  oleh Panditha Dorna. Duryudana dan Dorna meminta mati saja dengan alasan bahwa Dewa sudah menentukan Kurawa akan mengalami kekalahan pada perang Baratayuda kelak. Disamping itu mereka mengeluh bahwa para dewa berlaku tidak adil terhadap mereka. Wahyu-wahyu yang diturunkan selalu Pandawa yang memperolehnya, sementara mereka tidak pernah memperoleh barang satupun.

Dan dengan kata-kata yang meyakinkan, pandita Dorna membeberkan beberapa fakta yang sebenarnya menyudutkan bahwa Pendawa justru menjadi tidak tahu diri dan memiliki kesombongan. Betapa Bima beserta anaknya, Ontoseno tidak memiliki tata susila terhadap sesama bahkan terhadap dewa sekalipun. Pun demikian halnya Wisanggeni, anak dari Arjuna. Ayah Wisanggeni, Arjuna, menurut penuturan Dorna juga pernah mengatakan kepadanya selaku gurunya, yang intinya  melecehkan para dewa atas “keberhasilannya” memperisitri beberapa batari. Bahkan, masih menurut Dorna, Arjuna mulai nglunjak dengan mengatakan bahwa seluruh batari di kahyangan, baik yang belum menikah maupun yang sudah, kalau Arjuna mau pasti bertekuk lutut kepadanya.

Batara Guru yang mendengar wadul Dorna, terpengaruh. Harga dirinya selaku penguasa di kahyangan merasa diinjak oleh seorang titah yang bernama Arjuna. Hingga keluarlah titahnya kepada Duryudana dan Dorna, supaya membawa Prabu Kresna dan Sadewa ke kahyangan untuk dihadapkan dan diajak rembukan.

Batara Narada yang mendengar perintha nyleneh dari atasannya Batara Guru, kemudian protes akan hal itu. Namun justru kemudian malah Batara Guru marah dan mengusir Batara Narada untuk melepas busana kaendran dan meninggalkan kahyangan.

Bagaimana kisah selanjutnya ?

Ki Hadi Sugito : Antasena Ngraman

Antasena adalah putra Bima dari Nagagini putri Hyang Antaboga, dewanya ular. Pada kisah Bale Sigalagala dimana atas pertolongan dari Hyang Antaboga, Pandawa lolos dari bencana kebakaran dengan menyelamatkan diri melalui lorong-lorong bawah tanah. Dan kemudian akhirnya Nagagini menikah dengan Bima di istana perut bumi kediaman Hyang Antaboga.

Lakon ini mengisahkan huru hara yang ditimbulkan oleh kedua bocah pandawa yaitu Antasena dan Pancawala. Pancawala adalah anak Yudistira dan Drupadi. Apa huru hara yang ditimbulkan mereka ?

Sebenarnyalah ini adalah “ide gila” dari Antasena, Pancawala hanya ngikut-ngikut adiknya saja. Aktor utamanya adalah Antasena.

Pancawala menghadap ke uwa-nya raja Astina, Duryudana, untuk meminta negri astina hak para pendawa saat itu juga. Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah. Kemudian pecah perkelahian antara Antasena melawan Kurawa. Kurawa dikalahkan dengan mudah. Pun Karna dan kemudian Baladewa dapat dikalahkan oleh Antasena. Hingga akhirnya Duryudana ngungsi keluar Astina. Sengkuni di sandera untuk mendampingi kedua bocah tadi di istana …

Cerita selanjutnya ?

Tambahan deskripsi 4 Feb 2010

Dari WIKI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.

Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.

Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Asal-Usul

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Mintuna. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.

Antasena lahir dan dibesarkan dalam naungan ibu dan kakeknya. Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Namun saat itu Bima dan saudara-saudaranya sedang disekap oleh sekutu Korawa yang bernama Ganggatrimuka raja Dasarsamodra.

Antasena berhasil menemukan para Pandawa dalam keadaan mati karena disekap di dalam penjara besi yang ditenggelamkan di laut. Dengan menggunakan Cupu Madusena pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali. Ia juga berhasil menewaskan Ganggatrimuka.

Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati putri Arjuna.

Sifat dan Kesaktian

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.

Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.

Kematian

Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.

Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

Sumber Gubahan Lain

Buku Antareja Antasena : Jalan Kematian Para Ksatria karangan Pitoyo Amrih. Resensi di halaman http://antareja-antasena.pitoyo.com

Ki Hadi Sugito : Karno Tandhing

Lakon “Karno Tandhing” sudah ada di blog ini dibawakan oleh Ki Nartosabdho dan Ki Anom Suroto. Namun tidak ada salahnya bila kita menikmati Ki Hadi Sugito membawakannya.

Siapa yang menjadi lawan Arjuna di perang Baratayudha di pihak kurawa ? Hanya satu nama yang seimbang, yaitu Karna.

Sedemikian besar keinginan Karna untuk melawan Arjuna yang telah menjadi “musuh abadi”nya di sepanjang hidupnya, sehingga pertempuran antara kedua satria yang lahir dari rahim seorang ibu negara “Kunthi” tidak dapat dielakan.

Walau dendam begitu menggumpal di dada Karna, namun sejatinya di sudut hati terselip rasa sayang kepada adik seibu berlainan ayah itu. Sebenarnyalah ada terselip rasa simpati kepada perjuangan pandawa karena darahnya sangat dekat dengan mereka. Namun jiwa satria dan ucap janji setia kepada Duryudana telah terlepas dan itulah yang membelenggunya. Sebagai seorang satria pantang baginya menelan ludah sendiri, mengingkari janji setia.

Walau tangisan sang ibu Kunti, yang memintanya untuk membatalkan bertarung dengan adiknya sendiri begitu menusuk hatinya. Walaupun hatinya perih menahan keinginan untuk rebah dalam dekapan ibu dan saudara-saudaranya, jiwa satrianya sungguh tidak tergoyah. Matanya tetap memancar ketegaran walau menahan haru dan pilu.

Perseteruan yang mengharu biru antara hati nurani dan sikap hidup seorang satria utama.

Begitupun halnya dengan Prabu Salya, raja Mandraka. Sikap bertolak belakang dengan kemauan. Kedudukannya serba salah. Dua putrinya menjadi istri dari Kurawa dan pendukungnya. Banuwati menjadi istri Duryudana, Surtikanti menjadi istri Karna.

Sementara Salya-pun begitu mengasihi para pandawa, terutama si kembar Nakula-Sadewa yang adalah keponakan-keponakannya, aAnak-anak dari Madrim, adiknya. Salya begitu mengasihi si kembar sedari kecil, begitu menaruh kasihan akan nasibnya yang telah kehilangan ayah dan ibunya. Dan dia selaku uwa-nya malah justru berpihak sebagai lawan.

Oh … betapa sungguh menyesakan sandiwara di dunia ini …

Namun perang harus tetap berlangsung terus …

Dahsyatnya pertempuran antara Senapati Arjuna yang dikusiri Kresna melawan Senapati Karna dengan kusir mertuanya, Salya … sudah di depan mata …..

Kini Karna menemui tandingannya

Maaf audio saya sharing sesuai yang saya peroleh dari sang pengirim. Sepertinya bagian 2a, 2b, 8a dan 8b belum ada. Semoga nanti dapat disusulkan