Cakil, tokoh Perang Kembang

cakil_solo

cakil-kriting-yogyacakil-solocakil-komik

Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.

Cakil digambarkan berbeda dengan raksasa lain yang hanya satu tangannya bisa digerakkan. Tangan Cakil bisa digerakkan kedua-duanya. Hal ini diartikan sebagai penggambaran “sengkalan memet”: “tangan yaksa satataning janma” yang kurang lebih berarti tangan raksasa layaknya tangan manusia. Kata-kata tersebut mengandung watak bilangan sebagai berikut, tangan:2, yaksa:5, satataning:5, jalma:1. Jika dibaca terbalik maka akan menghasilkan angka Tahun Jawa 1552, atau 1630 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya tokoh Cakil.

Continue reading

Wayang Pospa VIII – Parwo Maespati

VIII. Parwo Maespati

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 43

Rahwono Koplo

[ Parwo ini tidak banyak menyimpang dari pakem dan akan diceritakan dengan singkat. ]


Syahdan, dikawasan India utara terdapatlah sebuah negara besar wangsa Arya : Maespati. Maharajanya adalah prabu Arjunososrobahu dengan agul2nya Patih Suwondo. Maespati adalah sebuah negara adidaya dengan banyak jajahan.

Prabu Arjunososrobahu adalah raja playboyo. Permaisurinya hanya satu tetapi selirnya seribu banyaknya. Jika beliau mampu ngeloni satu dalam satu malam, maka setiap selir hanya dikeloni sekali tiap tiga tahun ! Jika sang raja mampu ngeloni satu tiap dua hari, maka seorang selir hanya kelonan sekali tiap 5-6 tahun. Sehingga tiap selir dipersilahkan mrongos selama 3-6 tahun untuk bisa dikeloni.

Continue reading

Wayang Pospa VII – Parwo Ranjapan


VII. PARWO RANJAPAN

Episode 38

Surat Tantangan.

Apa yang diungkapkan para gerilyawan tidak sepenuhnya benar. Walaupun pas2an, Kapi Mendo mengurus negara dengan cukup baik. Tuduhan bahwa pejabat2 bawahan Mendo korup diragukan. Siapa yang berani kurang ajar dengan Resi Subali. demikian juga halnya Subali, ia menjalankan kewajibannya sebagai raja cukup baik.

Apa yang disampaikan para gerilyawan sebenanrnya adalah ‘pembenaran’ untuk kedok ambisi masing2. Sugriwo memang dari dulu berambisi menjadi raja. Walaupun ia lebih baik, tidak berarti Resi Subali tidak becus. Anilo berambisi duduk kembali menjadi Rekyono Patih. Kapi Jembawan sangat mencintai Sugriwo dan ia akan berbuat apapun agar gegayuhan momongannya tercapai. Seperti Haryo Suman (Sengkuni) yang berbuat apapun demi keponakan2nya, Kurowo.

Romo dengan kanggunannya sangat pandai mengkamlufase ambisinya se-olah apa yang akan dilakukan adalah ‘membela kebenaran’. Sebenarnya ia bersikap licik, pengecut dan tengik. Namun karena paindainya, tidak kelihatan. Ia membungkus ambisinya dalam sutro dewonggo sehingga Kapi Senggono Anomanpun yang masih beliapun terpesona. Ia berdalih menaikkan Sugriwo demi masyarakat Poncowati. Dalam penampilannya yang bersahaja, kini tampak sosok Romo yang sejati. Ia adalah gladiator. Lahir untuk bertarung. Ia akan menyabung nyawa mengusik wanoro digdoyo, Resi Subali.

Continue reading

Wayang Pospa VI – Parwo Poncowati

VI. PARWO PONCOWATI

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 33

Konspirasi Rojopati

Romo & Lesmono sementara waktu tinggal dikemah Gerilyawan Reksomuko. Ke-dua2nya disukai para gerilyawan karena sikap mereka yang bersahabat, bersahaja dan rendah hati. Ke-dua2nya adalah putra2 kraton yang terdidik ketat untuk bersikap santun. Pengetahuan mereka tentang tata negara, taktik perang, dll menarik perhatian. Juga pengetahuan agama Romo yang meguru resi2 kawentar mempesona para gerilyawan. Ketinggian pengetahuannya menyebabkan Romo tampak menjadi orang suci. Kisah tragedi mereka, dari terpental dari singgasana sampai kehilangan istri menarik simpati. Tentu saja rahasia homoseksualitas mereka simpan dalam2. Karena arogansi ras Arya, Romo tidak mau nyodomi para wanoro yang (dianggapnya) asor sehingga rahasia mereka tersimpan rapat. Praktis biseksualitas Romo sembuh. Ia hanya kelonan dengan Lesmono kinasih.

Suatu hari mereka ber-bincang2 mengelilingi api unggun.

“ Sekarang bagaimana keadaan pemerintahan Poncowati, kapi Jembawan ? “

“ Yang ngurusi negara itu Kapi Mendo, rekan saya seangkatan. Ia itu jujur dan setia namun agak dungu sehingga sering diapusi staf2nya yang korupsi, nyolong, dll. Coba, piyé keadaan Poncowati, Anilo ? “

“ Payah. Angka pengangguran naik, indikator ekonomi memble, blah …. blah … blah … “ Anilo nerocos, mem-buruk2kan keadaan Poncowati.

“ Apakah Resi Subali tidak mengambil tindakan ? “

“ Sebenarnya sudah di-beritahu bahwa kewajiban beliau sebagai raja tentunya mengurus negara tetapi memang Gus Subali itu trahing pandito rembesing Brahmono. Ia hanya tepekur memuja semedi, persis ayahandanya “

“ Terus piye ? “

Continue reading

Wayang Pospa V – Parwo Kiskendo

V. Parwo Kiskendo

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 25

Guwarso Guwarsi

Disebuah lereng gunung yang sangat terpencil jauh dari permukiman manusia, terdapatlah sebuah Padepokan Grasino. Padepokan itu milik dan tempat tinggal Resi Gutomo yang termashyur sakti dan waskito, mampu melihat yang sedang dan sudah winarah (terjadi). Tetapi beliau belum mampu melihat yang belum winarah. Saking genturnya bertapa, tanpa disadarinya Sang Wiku menjadi kelewat sakti, apa yang diucapkan akan winarah.

Dewi Windardi adalah istri yang setia tetapi ditelantarkan oleh suaminya yang terlalu gentur tapanya. Kalau sedang memuja semedi, Resi Gutomo bisa ber-hari2 bahkan ber-minggu2 di sanggar pamujan, lupa makan lupa minum. Lupa bahwa ia adalah ayah dan suami sebuah keluarga. Untuk mengusir sepi, Dewi Windardi suka meninggalkan padepokan dan bepergian jauh sampai ber-hari2 bahkan ber-minggu2. Dalam pakem pedalangan dikabarkan ia berselingkuh dengan dewa. Dalam kisah ini, tidak tertutup kemungkinan ia kelonan bukan dengan Dewa tetapi dengan pria lain. Dewi Windardi masih muda, belum menop(ause) tetapi ditinggal suaminya ber-zikir sepanjang bulan.

Anak yang paling sulung adalah Retno Anjani, kemudian Guwarsi dan sibungsu Guwarso. Guwarso & Guwarsi secara fisik nyaris kembar, bahkan nada bicaranyapun sama. Tetapi sifat mereka berbeda jauh. Guwarsi penyendiri dan pendiam. Ia seorang spesialis, tahu banyak tentang sedikit hal. Sebaliknya, Guwarso berpembawan hangat, ramah, dan suka bersosialisasi. Ia generalis, tahu sedikit2 tentang banyak hal. Sejak usia dini, Guwarsi menunjukkan ketertarikannya akan kependetaan. Ia suka menyimak ayahandanya dalam memuja semedi sampai ber-hari2. Sebaliknya, Guwarso menunjukkan bakatnya sebagai pemimpin kelompok.

Continue reading

Wayang Pospa IV – Parwo Reksomuko

IV. Parwo Reksomuko

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 22

Satria Pangulandaran.

Setelah membakar jenasah Kiai Jatayu, Romo & Lesmono meneruskan pengembarannya. Berbulan lamanya mereka mengembara sembari berguru ke guru2 sakti, padepokan2, dan asrama2 untuk menambah kedigdayan & kewaskitan mereka. Peristiwa yang baru berlalu bagaikan kawah Condrodimuko yang menggodok kedua pemuda itu makin menjadi kuat. Mereka sudah menjadi pria2 matang dan tangguh. Bukan lagi ABG yang hanya poya2 & hura2, tetapi manusia2 yang punya gegayuhan (cita2) dan bukan hanya sekedar trimo ing pandum. Mereka punya rencana hidup yang pasti. Mereka mau menggapai bintang gemintang dilangit biru.

“ Rasanya mustahil jika kita berdua menumbangkan rezim Mantoro. Lebih baik kita mencari kekuatan2 dari luar yang bisa kita ajak bergabung menumbangkan rezim Mantoro. “ Romo memaparkan rencananya, seperti Hun Seng yang mendatangkan Legiun Asing dari Vietnam menghadapi rezim Khmer Merah.

Continue reading

Wayang Pospa III – Parwo Alengko Puwo

III. Parwo Alengko Puwo

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 18

Bilahi Birahi di Girijembangan

Syahdan, jaman dulu sekali di pulau Srilangka ada beberapa negara kecil2. Seringkali negara2 kecil tersebut saling berperang memperebutkan wilayah. Diantara negara2 tersebut ada negara kecil Alengko dengan Rajanya Prabu Somali. Putri sulung bernama Dewi Sukaesi telah menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Raja Danarjo dari kerajaan Lokapala yang juga di pulau Srilangka tertarik dengan Dewi Sukesi. Kehendak Sang Prabu dilambari motif politis. Ia ingin Alengko dimerger dengan Lokapala.

Dewi Sukesi yang hanya sedikit lebih ayu dari Omah atau Yati Pèsèk punya syarat, ia mau dinikahi asalkan diajari ilmu Sastro Jendro Yuningrat Pangruwating Diyu. Sebuah ilmu yang wingit & pelik. Untungnya Prabu Danarjo anak begawan Dr. Wisrowo yang profesor emeritus kesusastraan dan rektor dari Universitas Girijembangan. Segera dipersilahkannya Woro Sukesi untuk mengikuti kuliah Bopo wiku. Karena anak Raja, Sukesi mendapat keistimewaan kuliah khusus sendiri.

Sebenarnya nilai Sukesi pas2an, kebanyakan C, beberapa C+, dan ada yang C-. selain kuliah Sastro Jendro yang jadi kuliah pokok, Woro Sukesi juga diizinkan kuliah minor. Boleh Fisika Quantum, Kimia, Geografi, dll. Karena kuliah sudah masuk semester III, Sukesi diizinkan masuk ke perpustakaan pribadi Sang Resi. Semua naskah diperbolehkan dipelajari kecuali sebuah kitab yang diberi warna biru. Buku sakral ini bukan untuk perjaka & perawan. Sebagai mahasiswi yang patuh, Sukesi tidak pernah berupaya mempelajari buku tersebut.

Continue reading

Wayang Pospa II – Parwo Jantoko

II. Parwo Jantoko

http://kibroto.blogspot.com/

 Episode 10

Janda di Sarang Penyamun

Begitu masuk Dewi Sinto langsung diinterogasi Dityo Kolo Marico.

“ eiiiit …. ini ada cewek nan cantik jelita, … siapa kau, dari mana asalmu, ngapain kesini ? … mana ktp, sim, paspor, visa, izin kerja, daftar riwayat hidup, ppn, pajak, … dst … dst “

“… Tumbaaaaas … Aku kesini mo beli bakpya pathook … Kamu siapa ?“

“ eiiiiit … disini tidak ada bakpya pathook, adanya minyak tanah, mau ? Saya Dityo Kolo Marico van der Alengko Dirojo. Siapa kau ?

“ Wo, kamu Kolo Wahing, to ?

“ eiiiit …, wahing ?

“ Lha, Mrico itu rak bikin wahing, to ? Aku Dewi Woro Sinto binti Janoko von Manthili “

 “ eiiiit …, putri Prabu Janoko, to ? …. monggo … monggo …

“ Kamu tahu keadaan Manthili ? “

“ eiiiit … tahu. Intelejen saya melaporkan keadaan Manthili sedang krisis ekonomi !

“ sik, siapa bossmu …. ?

Continue reading

The Episodes of Ramayana Stories (31-41)

The Episodes of Ramayana Stories

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ramayana/ramafs.htm

 

31. Dukungan Tentara Kera Kiskenda

Sugriwa beserta para kera, yaitu Hanuman, Anggada, Susena, Hanila, Jambawan, Gaya, Gawaksa, dan pemuka kera lainnya datang menghadap Rama.

Sugriwa berkata kepada para kera bahwa sebagai balas budi kepada Rama, maka seluruh bala tentara kera Kiskenda harus ikut mencari Sita yang hilang diculik Rahwana. Para kera pun menjawab bahwa mereka bersedia mencari Sita sampai dimanapun.

Sugriwa memerintahkan balatentara kera mencari Sita sampai ke daerah pegunungan Widarba dan Misori, pula sampai ke tanah Matsya, Kalingga, Kausika, Andra, Chola, Chera dan Pandya. Sungai-sungai Gangga, Jumna dan Serayu harus disusuri. Lembah-lembah yang dalam harus dituruni, dan gunung-gunung yang tinggi harus didaki.

32. Hanuman Duta

 

Setelah menerima perintah Raja Sugriwa, maka balatentara Kiskenda berangkatlah. Mereka menyebar ke segenap penjuru. Setiap jurang ditengok, kalau-kalau Sita disembunyikan raja raksasa Rahwana di situ. Setiap gunung didaki, setiap semak dikuakkan. Mereka masuk ke dalam gua-gua, menjelajahi desa-desa, dan menyusuri pantai.

Namun usaha mereka sia-sia. Akhirnya mereka kembali ke Kiskenda tanpa membawa hasil. Lalu Sugriwa teringat bahwa ada sebuah pulau yang terletak di selatan. Pulau itu harus dijelajahi pula karena mungkin Sita disembunyikan Rahwana di tengah pulau itu.

Hanumanlah yang diserahi tugas oleh Sugriwa untuk meninjau keadaan pulau itu serta meneliti jejak raja raksasa Rahwana. Sugriwa yakin bahwa Hanuman akan sanggup menjalankan tugasnya.

33. Perjalanan Hanuman

Sebelum Hanuman berangkat, Rama menitipkan sebuah cincin kepadanya. Jika Hanuman bertemu dengan Sita, maka cincin itu menjadi bukti bahwa Hanuman adalah duta Rama.

Hanuman berangkatlah menuju arah selatan. Siang malam ia melompat-lompat tak kunjung lelah di antara pepohonan. Sebagai duta ia ingin melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya serta secepat-cepatnya.

Sesampainya di pantai selatan ia terhalang oleh lautan. Sebagai putra Dewa Bayu ia bersemadi meminta pertolongan agar diantarkan angin terbang ke Pulau Langka. Tak lama kemudian datanglah angin badai. Hanuman diterbangkan tinggi-tinggi ke angkasa dan melayang menuju Pulau Langka.

Setibanya di pulau itu ia berjalan mengendap-endap, kadang melompat-lompat melalui cabang-cabang pohon agar tidak tampak oleh raksasa penghuni pulau itu.

34. Taman Langkapura

Akhirnya Hanuman tiba di sebuah taman yang indah permai. Burung-burung berkicau merdu di atas pohon angsoka, sedangkan di halaman berumput kijang-kijang berkeliaran dengan amannya.

Tampak seekor burung merak menengadah karena mendengar bunyi kicau burung yang merdu laksana nyanyian yang diiringi gamelan sorga Lokananta. Ekor merak itu berkembang, lalu menarilah ia berputar-putar di tengah taman.

Hanuman terpesona melihat segala keindahan taman itu. Tiba-tiba tampaklah olehnya seorang putri yang cantik jelita, duduk seorang diri di dalam taman itu. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya terurai kusut. Wajah putri itu tepekur sayu.

35. Hanuman Menghadap Sita

Hanuman yakin bahwa putri itu pastilah Sita, istri Rama. Sambil duduk di atas sebuah cabang pohon angsoka Hanuman menembang. Adapun lagunya mengenai kisah Rama, mulai dari pembuangannya di hutan Dandaka bersama Sita dan Laksamana, penculikan Sita oleh raja raksasa Rahwana, kesedihan Rama dalam mencari istrinya, lalu perjumpaannya dengan Sugriwa, dan akhirnya mengutus Hanuman mencari Sita ke Negeri Langkapura.

Sita heran mendengar tembang Hanuman, seakan-akan dia bermimpi. Hanuman pun turun dari pohon, lalu ia menyembah Sita  serta mengatakan bahwa dirinya adalah utusan Rama.

Mula-mula Sita tidak percaya. Hanuman lalu memperlihatkan sebentuk cincin pemberian Rama. Maka percayalah Sita bahwa Hanuman memang utusan suaminya. Timbullah pula keyakinannya bahwa ia akan dapat bertemu lagi dengan Rama, terlebih setelah ia mendengar dari Hanuman bahwa Rama dengan bantuan raja kera Sugriwa akan datang menggempur Langkapura.

Sebelum Hanuman minta diri, Sita pun menitipkan sebentuk perhiasan rambutnya agar disampaikan kepada Rama sebagai tanda bakti dan setia.

36. Hanuman Merusak Taman Langkapura

Sebelum Hanuman pergi, ia sengaja merusak taman itu. Pohon-pohon ditumbangkannya, bunga-bunga dicabutinya, dan  jambangan-jambangan digulingkannya. Pula, atap balai peranginan diruntuhkannya, dan bendungan kolam di dalam taman itu dibobolnya sehingga terjadi banjir.

Para raksasa penjaga taman mengira hal itu terjadi karena disebabkan oleh gempa atau banjir. Tetapi kemudian mereka melihat bahwa ada seekor kera putih yang merusak taman. Beramai-ramai mereka berusaha mengejar dan menangkapnya, tetapi Hanuman dengan gesit selalu dapat menghindar.

Para raksasa itu segera memberitahukan hal tersebut kepada Indrajit, putra mahkota Langkapura. Demi melihat kerusakan taman istana itu, Indrajit pun marah. Kemarahannya bertambah setelah ia melihat kera Hanuman yang seakan-akan mengejek sambil meloncat-loncat di atas pohon.

Indrajit segera mengangkat panah pusakanya, yaitu panah Nagapasa, sebuah panah yang dapat melilit sasarannya. Dipanahnya Hanuman saat itu juga. Panah itu segera melilit tubuh Hanuman. Dengan demikian para raksasa dapat menangkapnya.

37. Hanuman Dibakar

Hanuman dibawa menghadap ke dalam istana. Betapa marahnya Rahwana ketika ia melihat kera putih yang telah merusak taman istananya. Tetapi betapa herannya Rahwana setelah ia  mengetahui bahwa kera putih itu dapat berbicara.

Sambil memaki-maki, Rahwana bertanya kepada Hanuman mengapa Hanuman merusak tamannya sampai porak poranda. Hanuman menjawab bahwa ia adalah utusan Rama yang tengah mencari istrinya, Sita, yang diculik oleh Rahwana.

Rahwana tak dapat menahan amarahnya. Hanuman hendak dibunuhnya, tetapi adik Rahwana, yaitu Wibisana, mencegahnya. Dengan bijaksana ia berkata bahwa Hanuman sebagai utusan raja tidaklah patut dibunuh. Ia harus dikembalikan kepada raja yang mengutusnya. Lagi pula, bukankah Rahwana yang membuat kesalahan terlebih dahulu dengan menculik dan merampas istri Rama.

Rahwana menjadi semakin marah. Wibisana diusirnya agar pergi dari Negeri Langkapura. Rahwana pun memerintahkan para prajurit raksasa agar membakar Hanuman di tengah alun-alun. Para raksasa mengikat tubuh Hanuman lalu meletakkannya di atas tumpukan kayu bakar. Tumpukan kayu itupun disulut beramai-ramai. Api menyala-nyala dan berkobar-kobar. Tapi Hanuman tidak terbakar, bahkan ia berhasil melepaskan diri dari tali pengikatnya.

38. Kota Langkapura Terbakar

Dengan tangkasnya Hanuman meloncat-loncat sambil membawa bara api di ekornya. Ia meloncat ke atas balai peranginan dan membakar atap gedung tersebut. Ketika nyala api semakin membesar, Hanuman meloncat-loncat dari satu bangunan ke bangunan lainnya sehingga semua bangunan menjadi terbakar.

Demi melihat kejadian itu pasukan raksasa berusaha meringkus Hanuman. Namun kera perkasa itu dengan cepat dan mudahnya meloloskan diri dari kepungan bala tentara raksasa. Kota Langkapura dibuatnya gaduh. Banyak bangunan yang terbakar.

39. Dewa Baruna

Setelah menempuh hutan belukar, barisan pasukan kera  tibalah di pantai selatan. Mereka berhenti karena tidak mampu mengarungi samudra menuju Pulau Langka. Mereka mencoba menyeberangi selat itu, tetapi ombak dan gelombang selalu memukul mereka.

Rama segera mengambil panah pusakanya. Dilepaskannya sebuah anak panah dari busurnya menuju ke dalam samudra. Tak lama kemudian segala macam ikan, penyu, udang dan bermacam-macam jenis mahkluk lautan timbul ke atas permukaan samudra. Mereka mengerang kesakitan karena air laut yang terkena panah Rama itu mendidih dan bergumpal-gumpal.

Tiba-tiba di antara deburan gelombang muncullah secercah cahaya yang semakin lama semakin terang. Lalu tampaklah Dewa Baruna, yaitu dewa penguasa samudra. Ia memohon kepada Rama agar air samudra yang mendidih itu segera dapat pulih seperti sediakala. Rama bersedia, tetapi dengan syarat Sang Baruna harus bersedia menolong menyeberangkan balatentara kera menuju ke Pulau Langka.

40. Membangun Jembatan

Dewa Baruna menyatakan kesanggupannya membantu menyeberangkan balatentara kera. Ia menyarankan agar dibuat jembatan batu yang menghubungkan pantai itu dengan Pulau Langka sehingga   para prajurit kera dapat menyeberang. Sekali lagi Rama melepaskan sebuah panah pusaka ke dalam samudra. Maka air lautan pun pulih kembali seperti sedia kala.

Sugriwa segera memerintahkan para prajurit kera mencari batu untuk ditumpuk di dalam laut sehingga menjadi sebuah jembatan. Puluhan ribu kera itu pun pergi ke gunung-gunung.

Batu-batu besar dipecahkan dan diusung beramai-ramai ke pantai, lalu ditenggelamkan ke dalam samudra. Batu-batu itu disusun sebagai landasan jembatan di dasar samudra, lalu ditumpuk meninggi sehingga mencapai permukaan laut. Susunan batu-batu itu dibuat memanjang sampai mencapai pantai Pulau Langka. Jembatan batu itu amat kuat sehingga dapat dilalui puluhan ribu balatentara kera.

41. Menyerang Negeri Langka

Syahdan, Rahwana memerintahkan balatentara raksasa untuk menjaga pantai Pulau Langka. Sejak lolosnya Hanuman dari api pembakaran, Rahwana telah menduga bahwa suatu saat Rama beserta balatentara kera pasti akan datang menyerang Langkapura.

Prajurit-prajurit raksasa yang tengah berjaga-jaga di tepi pantai melihat ribuan kera yang sibuk membuat jembatan batu yang amat kokoh. Jembatan batu itu  menghubungkan pantai di seberang dengan pantai Pulau Langka.

Raksasa-raksasa itu segera naik ke perahu hendak menyerang para prajurit kera yang sedang bekerja. Tetapi prajurit kera itu ternyata lebih berani dan lebih tangkas bertarung dibandingkan dengan mereka. Raksasa-raksasa penjaga pantai dikalahkannya.

Maka seluruh balatentara kera dibawah pimpinan Rama segera menuju pantai Pulau Langka dengan melalui jembatan batu yang amat kokoh itu. Atas perintah Dewa Baruna, segenap mahkluk lautan dengan patuh menjaga dasar jembatan itu sehingga selamatlah balatentara Rama tiba di Langkapura.

TAMAT

 

The Episodes of Ramayana Stories (21-30)

The Episodes of Ramayana Stories

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ramayana/ramafs.htm

21. Perlawanan Jatayu

Sita meronta-ronta dan menjerit-jerit, tapi sia-sia. Tangan Rahwana menjadi sepuluh pasang, begitu pula   mukanya menjadi sepuluh. Itulah sebabnya ia dijuluki Dasamuka. Sita terus berteriak-teriak menyebut nama Rama. Sita kini sadar akan kesalahannya. Ia tak mengikuti nasehat Laksamana, bahkan berprasangka buruk terhadap iparnya itu.

Konon, adalah seekor burung garuda, Jatayu namanya. Ia sahabat Rama. Demi mendengar nama Rama yang dijeritkan Sita, terbanglah ia hendak memberi pertolongan. Rahwana disambarnya berkali-kali, dipatuknya dan dicakarnya. Sita hendak direbutnya.

Rahwana marah karenanya, lalu ia menghunus senjata. Terjadilah pertarungan di angkasa. Garuda Jatayu terluka parah sehingga tak dapat terbang lagi. Sita yang mengetahui bahwa garuda itu membelanya segera melepaskan cincinnya. Cincin itu lalu dilemparkannya kepada Jatayu agar diberikan kepada Rama. Jatayu terkulai jatuh ke bumi, tubuhnya mandi darah.

22.Jatayu Bertemu Rama

Rama dan Laksamana kembali ke pondoknya. Tapi betapa kagetnya mereka karena Sita tidak berada di sana. Menitiklah air mata Rama karena sedihnya. Keluhnya terbawa angin menerobos hutan dan terbawa debur gelombang lautan. Laksamana pun tak henti-hentinya menyesali dirinya karena pergi meninggalkan Sita.

Kedua satria itupun pergilah mencari Sita. Dijelajahinya rimba belantara, didakinya bukit, dan dituruninya lembah. Namun tiada jejak sedikitpun yang ditemukannya.

Akhirnya Rama melihat seekor burung garuda yang terkapar di tanah tanpa daya. Hanya pada paruhnya terdapat sebentuk cincin. Rama mengamati cincin itu dan seketika itu juga dikenalinya sebagai cincin Sita.

Jatayu dengan tersendat-sendat berkata bahwa Sita dilarikan oleh raja raksasa Rahwana. Jatayu tak dapat berkata lebih banyak karena tubuhnya telah lemah lunglai dan kehabisan tenaga. Sesaat kemudian Jatayu pun menghembuskan nafas penghabisan. Rama menyadari bahwa garuda yang telah tiada itu adalah sahabatnya. Sebagai penghormatan terakhir, burung garuda itu pun dibakarnya dengan disertai upacara yang khidmat.

23. Mencari Sita bagian 1

Walaupun Rama dan Laksamana telah mengetahui siapa yang melarikan Sita, tetapi mereka belum mengetahui nama dan letak negara raja raksasa itu. Maka mengembaralah kedua satria itu mendaki gunung-gunung yang tinggi, menyusuri tebing-tebing yang curam, dan menuruni lereng-lereng yang terjal.

Tiba-tiba dari balik semak belukar muncullah makhluk yang aneh wujudnya. Tubuhnya seperti raksasa tetapi berkepala dua. Salah sebuah kepalanya terletak pada bagian perut.

Dengan suara mendesis-desis, raksasa itu segera menyerang Rama dan Laksamana. Sangatlah sukar bagi Rama dan Laksamana untuk berperang karena tempat itu penuh dengan semak belukar dan akar-akar pohon yang melintang menghambat gerak.

Rama menjauhi tempat itu lalu dibidiknya raksasa itu dengan panahnya. Sesaat kemudian terlepaslah sebuah anak panah dari busurnya. Anak panah itu menembus dada sang raksasa. Tiba-tiba raksasa itu berubah menjadi dewa. Rama dan Laksamana menghampiri dewa itu lalu menyembahnya.

Dewa itu bercerita bahwa ia dahulu terkena kutuk Hyang Siwa sehingga ia berubah menjadi raksasa berkepala dua. Ia menyatakan terima kasihnya kepada Rama yang telah memanahnya sehingga ia berubah kembali menjadi dewa.

24. Mencari Sita bagian 2

Rama dan Laksamana meneruskan perjalanannya. Tibalah keduanya pada sebuah telaga lalu mereka beristirahat di tepi telaga itu. Air telaga itu amat jernih sehingga tampak ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Berbagai jenis ikan itu berenang kian kemari.

Ikan-ikan tersebut  bermacam-macam warnanya. Ada yang kuning keemasan, merah berkilauan, biru, putih, dan kelabu. Udang, kepiting dan penyu tampak pula menghuni telaga itu. Bunga-bunga teratai mekar di permukaan air telaga. Ada yang merah dan ada yang putih.

Begitu asyiknya Rama dan Laksamana menikmati keindahan alam sehingga mereka tidak mengetahui bahwa di belakangnya ada seekor buaya yang mengintai. Mulut buaya itu terbuka lebar-lebar dan siap hendak menyambar.

Tetapi kedua satria itu telah terlatih untuk menghadapi setiap bahaya. Ketika buaya itu mulai bergerak hendak menyergap, Rama dan Laksamana segera membalikkan badan sambil meloncat menghindari sergapan. Dengan mudah buaya itu dibunuhnya dengan senjata.

Ternyata buaya itu adalah  penjelmaan seorang dewi yang dahulu terkena kutukan dewa. Kini dewi itu terbebas dari kutukan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Rama dan Laksamana, dewi itu terbang kembali ke sorga.

25. Hanuman

Sebelum dewi itu terbang kembali ke sorga, ia berpesan kepada Rama agar Rama dan Laksamana pergi ke hutan Pancawati. Di hutan itulah akan didapatkan petunjuk guna mencari Sita.

Maka berangkatlah Rama dan Laksamana menuju hutan Pancawati. Betapa jauhnya mereka berjalan, menerobos semak belukar, mendaki gunung, kemudian menyusuri tepi pantai. Betapa damai hati kedua satria itu melihat langit yang kebiruan. Sejauh mata memandang tampak cakrawala dan permukaan samudra yang luas.

Kedua satria Ayodya itu berteduh di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba muncullah seekor kera putih yang sejak tadi telah mengintai perjalanan kedua satria itu. Kera putih itu tampak bijaksana, bahkan amat sopan sikapnya terhadap Rama dan Laksamana. Kera putih itu menyembah di hadapan Rama. Ia menyebut namanya, Hanuman, dan ia berasal dari Pancawati.

26. Sugriwa

Rama dan Laksamana heran menyaksikan kera putih Hanuman yang dapat berbicara seperti manusia. Hanuman bercerita bahwa rajanya yang bernama Sugriwa berada di hutan Pancawati karena diusir dari kerajaan Kiskenda oleh kakaknya yang bernama Subali. Hanuman memohon  Rama untuk menolong Sugriwa  menduduki kembali takhta kerajaannya.

Rama menyanggupi. Rama pun bercerita bahwa pengembaraannya di hutan itu sebenarnya untuk mencari istrinya yang diculik oleh raja raksasa Rahwana. Dengan diantar Hanuman, Rama dan Laksamana pergi menuju hutan Pancawati. Sebagai penunjuk jalan Hanuman mendahului mereka sambil meloncat di antara pepohonan.

Ketika tiba di suatu tempat Rama merasa kehausan. Laksamana disuruhnya mencari air. Pada sebuah batang pohon Laksamana melihat air mengalir turun ke bawah. Maka ditampungnya air itu dengan buluh. Ternyata air itu adalah air mata Sugriwa yang tengah bertapa duduk di atas sebatang pohon yang tinggi.

27. Kecakapan Rama Memanah

Hanuman segera memanjat pohon itu. Lalu Sugriwa pun turun dan bertemu dengan Rama dan Laksamana. Sugriwa amat terharu mendengar kisah Rama yang tengah hidup dalam pembuangan. Ditambah pula ia kehilangan istrinya karena diculik oleh raja raksasa Rahwana. Sugriwa berjanji akan membantu Rama mencari Sita.

Rama pun merasa senasib dengan Sugriwa yang terusir dari kerajaanya. Satria Ayodya itu menyatakan  kesediaannya membantu Sugriwa merebut kembali takhtanya yang diduduki oleh Subali.

Sugriwa ingin melihat kepandaian Rama dalam memanah. Dengan segala senang hati Rama bersedia untuk memperlihatkan kecakapannya. Di dalam hutan itu terdapat tujuh batang pohon tal dan Rama hanya dengan sekali bidikan dapat merobohkan ketujuh batang pohon itu. Sugriwa dan Hanuman amat kagum melihat ketangkasan Rama dalam memanah.

28. Subali dan Sugriwa

Sugriwa diantar oleh Rama pergi ke kerajaan Kiskenda. Hanuman dan para kera yang ribuan jumlahnya ikut pula mengiringkan. Sesampainya di depan istana Kiskenda Sugriwa berteriak-teriak memanggil Subali sambil menantang berperang tanding. Suara Sugriwa begitu kerasnya sehingga Subali terkejut.

Hati Subali amat panas demi mendengar tantangan adiknya. Timbullah amarahnya, lalu ia bangkit dan keluar dari istana. Ia hendak memenuhi tantangan Sugriwa. Maka berhadap-hadapanlah kedua kakak beradik itu. Keduanya saling ancam.

Dengan disaksikan ribuan kera, bertarunglah Sugriwa dan Subali dengan amat sengitnya. Dengan penuh geram keduanya bergantian menyerang, tinju-meninju, cekik-mencekik,  cakar-mencakar dan bergulat tindih-menindih. Debu berkepulan. Masing-masing memeras tenaga, beradu dan berlaga dengan sengitnya.

29. Gugurnya Subali

Pertarungan kedua kakak-beradik itu belum berakhir juga. Sugriwa dengan sekuat tenaga mencabut sebatang pohon tal, lalu dihantamkannya kepada Subali. Subali rubuh, tapi ia segera bangkit lagi. Subali memuncak amarahnya. Sugriwa ditangkapnya, lalu dilemparkannya jauh-jauh.

Sugriwa mendekati Rama dan bertanya mengapa Rama belum juga membantu. Rama menjawab bahwa ia ragu-ragu untuk melepaskan panahnya karena Sugriwa dan Subali amat mirip . Rama menyuruh Sugriwa berkalung janur agar mudah dibedakan dari Subali.

Tak lama kemudian Sugriwa dengan berkalungkan janur kembali ke medan pertarungan. Ditantangnya Subali bertanding lagi. Mendengar tantangan Sugriwa itu, Subali pun semakin membara amarahnya. Diterkamnya Sugriwa, lalu diringkusnya sampai ia tak dapat bergerak sama sekali. Pada saat itulah Rama mengangkat busurnya. Dibidiknya Subali, dan sesaat kemudian terlepaslah anak panah dari busur Rama. Panah itu menancap di dada Subali, dan rubuhlah Subali ke tanah.

30. Raja Kiskenda

Terlepaslah Sugriwa dari bahaya maut. Tetapi setelah melihat mayat Subali, hatinya menjadi sedih. Betapa sengit permusuhan kedua saudara itu. Setelah Sugriwa menyaksikan kematian kakaknya, ia pun tak dapat menahan air matanya.

Sambil terisak-isak dirangkulnya tubuh kakaknya. Ketika Rama mendekat, Sugriwa menyembah sambil mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sugriwa dengan rela hati menyilakan Rama menjadi raja di Kiskenda. Rama menolaknya karena ia masih menjalankan perintah ayahandanya almarhum, yaitu hidup dalam pembuangan. Menurut pendapatnya, sudah sewajarnyalah jika Sugriwa kini menduduki takhta Kerajaan Kiskenda.

Rama berpesan agar Anggada, yaitu putra Subali, diambil anak oleh Sugriwa. Begitu pula Dewi Tara, yaitu ibu Anggada, supaya diangkat sebagai permaisuri. Sugriwa menyatakan akan memenuhi perintah Rama, lalu menyembahlah ia di hadapan satria Ayodya itu. Semua kera pengikut Sugriwa pun menyembah bersama-sama.