Goro-goro Ki Nartosabdho

Entah tahun berapa kaset ini dirilis. Yang jelas isinya sedikit mengungkap isyu yang sempat beredar pada saat itu bahwa Nartosabdho telah meninggal. Mungkin sekitar tahun 70-an, nggak tahu ya soalnya waktu itu saya masih menjadi seorang bayi :)

nartosabdho-goro-goro

Isi satu kaset berdurasi sekitar satu jam berupa goro-goro dari dalang Ki Nartosabdho bisa dinikmati disini

MP3 Wayang Ki Nartosabdho

ki-nartosabdo

Tentang Ki Nartosabdho

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah.Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola.

Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.

Continue reading

Sudamala untuk Meruwat Batin

Oleh LUKAS ADI PRASETYA

Bagian akhir pementasan Sendratari Ruwatan Sudamala Episode Tundhung Kala Durga di halaman Balaikota Yogyakarta, Jumat (8/9) malam, diisi dengan berjejalnya ratusan orang di atas panggung. Mereka rela dipotong sedikit rambut kepalanya dan diciprati air agar mendapat berkat.

Kula menika pitados sedaya mawon ingkang becik (saya percaya hal-hal yang baik),” begitu komentar Mbah Sumiati (61), warga Semaki, Kota Yogyakarta, dengan gembira seusai turun dari panggung setelah rela berdesak-desakan.

Mbah Sumiati yang datang bersama sejumlah tetangganya ini juga merasa beruntung karena mendapat sejumput kembang melati, salah satu uba rampe dari sendratari yang dipentaskan oleh Paguyuban Pringgosari (Karanganyar, Jawa Tengah) bersama Dinas Pariwisata kabupaten ini.

Dengan bersemangat, Mbah Sumiati yakin bahwa apa yang didapatnya itu menjadi semacam berkat yang berkorelasi erat dengan keinginannya untuk sembuh dari penyakit darah tinggi dan asam urat yang sudah cukup lama dideritanya.

Continue reading

Sudamala

sadewa_solo

Di Kahyangan Betara Guru,  Betara Narada dan segenap dewa-dewa tengah bersamadi dengan menyaksikan persembahan tari sakral para bidadari. Di akhir persembahan, Dewi Uma ( isteri Betara Guru)  mendapat giliran untuk  menghaturkan  Tirta Amerta dalam wadah Sweta Kamandalu (bejana kendi). Ketika tiba di hadapan Rajadewa Betara Guru, tiba-tiba wajahnya pias, tangannya gemetar dan kendi pun jatuh berantakan. Tirta Amerta tumpah. Anehnya tirta suci itu menyebarkan aroma busuk.

Dengan mata batinnya Betara Guru tahu bahwa Uma telah melakukan perbuatan yang merusak tatanan jagad raya. Uma berselingkuh dengan Bidadara Citragada dan Citrasena.

Betara Guru Murka, Betari Uma dikutuk menjadi rakseksi yang buruk rupa dan diberi nama Betari Durga. Citrasena dan Citragada dikutuk pula sebagai raksasa bernama Kalanjaya dan Kalantaka. Durga  diusir dari Kahyangan. Diperintahkan untuk menjadi ratu di  kerajaan setan di Hutan Setragandamayit.

Durga mendapat petunjuk yang bisa meruwat dirinya adalah bungsu Pandawa, yang bernama Raden Sadewa. Durga lalu mengubah dirinya sebagai Kunti kemudian  menculik Sadewa. Sang Hyang Wenang akhirnya bersatu dengan Sadewa dan meruwat Durga.

Durga yang sudah bertobat akhirnya mendapat ampunan jagad raya. Wajahnya kembali cantik jelita, dan diperkenankan kembali ke Kahyangan.

Atas jasanya Sadewa mendapat anugerah julukan Raden Sudamala.

Sumber : http://tv.groups.yahoo.com/group/indotvwatch/message/4051

MP3 Wayang Ki Suleman

Dalang wayang Jawa Timuran, yang dikenal dengan istilah wayang kulit jeg-dong ini lahir di Malang, 11 Nopember 1939. Sejak kecil dia sudah mendalang dengan belajar dari ayahnya sendiri, Ki Draham. Menginjak remaja dia berguru kepada dalang-dalang lain, seperti: Ki Parman, Ki Suwoto, Ki Pit Asmoro. Dalang yang satu ini banyak menggubah lakon-lakon wayang dan dipentaskannya sendiri, seperti Bagong Sugih, Pandawa Maneges, Sena Miruda, Semar Mejang, Anoman Pikun, Sena Maneges dsb.

kisulaiman

  1. Penyaji terbaik Lomba Karawitan Tingkat Kabupaten Pasuruan, tahun 1982.
  2. Penyaji terbaik Lomba Dalang Tingkat Kabupaten Pasuruan, tahun 1983.
  3. Penyaji terbaik Kidungan Juli-Juli Tingkat Jawa Timur, tahun 1987.
  4. Penghargaan dari Kepala BP 7 Propinisi Jawa Timur sebagai peserta terbaik lomba karawitan, tahun 1987.
  5. Mendapat Piagam Seni dari Pemerintah Pusat melalui Senawangi, sebagai Dalang Jawatimuran, tahun 1993.
  6. Mendapat Penghargaan dari “Sesaji Dalang Jawa Tengah” sebagai Dalang Jawatimuran, tahun 1993.
  7. Mendapat Penghargaan dari Presiden RI, sebagai salah satu tokoh Pelestari Budaya Bidang Karawitan dan Pedalangan, tahun1993.
  8. Mendapat Penghargaan dari Presiden RI, sebagai salah satu tokoh Dalang Jawatimuran, tahun 1995.
  9. Mendapat penghargaan Piagam Seni dari Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai tokoh Karawitan dan Pedalangan Jawatimuran, 1996.
  10. Mendapat Penghargaan dari Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, Sebagai 10 penyaji terbaik Festival Dalang Tingkat Jawa Timur, 2002.

Sumber : http://bharatayudha.multiply.com/reviews/item/31

Rekaman audio pagelaran wayang Ki Suleman :

MP3 Wayang Ki Manteb Soedharsono

manteb-sudharsono-new

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ki Manteb Soedharsono (lahir: Sukoharjo, 1948) adalah seorang dalang wayang kulit ternama yang dari Jawa Tengah. Karena keterampilannya dalam memainkan wayang, ia pun dijuluki para penggemarnya sebagai Dalang Setan. Ia juga dianggap sebagai pelopor perpaduan seni pedalangan dengan peralatan musik modern.

Saat ini Ki Manteb berdomisili di Dusun Sekiteran, Kelurahan Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Masa Muda

Manteb Soedharsono adalah putra seorang dalang pula, bernama Ki Hardjo Brahim. Ia dilahirkan di desa Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tanggal 31 Agustus 1948.

Continue reading

MP3 Ki Timbul Hadiprayitno

Ki Timbul Hadiprayitno atau kini M.W Timbul Cermo Manggala tergolong dalang paling senior dan masih aktif sampai sekarang. Lahir di desa Jenar, Bagelan, Purworejo pada tahun 1932. Darah seni dan bakatnya mendalang harus diakui tidak datang secara tiba-tiba, meskipun jelas dari garis keturunannya.

timbul-hadiprayitno

Pada awalnya Timbul yang masih bocah itu memang sudah menunjukkan kelebihannya dalam bermain wayang. Kemampuan ini di dapat dari kakeknya, Ki Gunawarto. Di dorong oleh motivasinya yang tinggi, pada tahun 1956, Timbul masuk ke Habirandha keraton Yogyakarta. Di sekolah pedalangan milik keraton inilah Timbul mendapatkan gemblengan, pengetahuan baik teori, retorika serta filsafat tentang wayang yang menjadi bekalnya kemudian sebagai dalang. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Mula-mula Timbul menggelar pementasanya di daerahnya. Eksistensinya sebagai dalang semakin mendapat pengakuan luas, terbukti kemudian Ki Timbul menguasai Yogya bagian Selatan, Utara, Timur dan Barat.

Namanya terus melambung. Pada dekace 80-an, Ki Timbul melawat ke Lampung, Lombok, dan ke London (Inggris).

Banyak lakon yang sudah digarapnya disamping menyajikan lakon-lakon baku yang sudah ada. Sebagai dalang Ki Timbul menampakkan cirinya yang khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecintanya: sabet, filsafat serta kesetiaannya yang tidak bisa ditawar pada dunia seni pewayangan klasik Yogyakarta. Prinsip ini seakan tidak tergoyahkan bahkan sampai sekarang ketika para dalang-dalang muda bermunculan.

Atas keseniannya, Ki Timbul sejak tahun 1986 mengajar di ISI Yogyakarta. Adapun berkait dengan penghargaan, Ki Timbul Hadiprayitno pernah menerimanya dari Mendikbud RI, Kodam V Brawijaya Jatim, Polda Jateng, TVRI Stasiun Yogyakarta, RRI Nusantara II, Pemda Bantul, Fakultas Sastra UGM, mingguan Buana Minggu Jakarta, Pepadi dan masih banyak lainnya.

Sementara dari Keraton Yogyakarta tempat dimana ia mengabdikan dirinya sebagai abdi dalem, Ki Timbul Hadiprayitno mendapat anugerah nama M.W. Timbul Cermo Manggala, dan budaya dalam serat bratayuda (Cetakan I terbit Maret 2004), Teori Estetika untuk Seni Pedalangan (Cetakan I, terbit September 204).

Selain itu juga mengerjakan penulisan Naskah dan Karya Seni, antara lain Smaradahana (1995), Ontran-ontran Mandura (1996), Dewa Ruci (1997), Prigiwa-Pregiwati (1997), Babad Alas Mertani (1999), Harjuna Wijimulya (2000), Sang Palasara (2001), Apologi Rama (2001) Tele Wayang serial Gathutkaca (1999-2000).

Pengalaman dalam program Pengabdian Masyarakat : Tim Penyuluhan Seni ISI Yogyakarta bidang seni pedalangan di DIY dan sekitarnya (1999 s/d 2001); Ketua PEPADI (Perstuan Dalang Indonesia) Prop. DIY dua periode sejak 1998 – 2001 dan 2001 – 2004; Anggota Dewan Kebijaksanaan SENA WANGI Jakarta (2001-2004); Ketua tim Sibermas ISI Yogyakarta (2001-2004) di Kab Gunung Kidul DIY Ketua Pendampingan UKM Perajin Kulit di Kec. Pajangan Bantul, Yogyakarta (2001).

Pengalaman misi luar negeri : 1989 ke London sebagai tim editing film wayang The Crown of Roma, 1997 ke India dalam rangka workshop and Exhibition Indian and South East of Asia Tribal Art.

Sumber : http://www.tasteofjogja.com/web/ida/detailbud.asp?idbud=325

Beberapa lakon pagelaran wayang Ki Timbul Hadiprayitno :

  1. Abimanyu Gugur
  2. Antasena takon bapa
  3. Durna Gugur
  4. Gatotkaca Krama
  5. Rama Nitis
  6. Suyudana Gugur