Ki Nartosabdho : Babad Wanamarta

Satu lagi koleksi dari mbah Nartosabdho adalah lakon “Babad Wanamarta”. Kali ini yang menyumbang adalah Mas Jatmiko. Matur nuwun mas sumbangannya untuk para pecinta wayang.

Sebenarnya dalam blog ini sudah ada cerita yang sama yaitu dibawakan oleh Ki Manteb Sudharsono dan oleh Ki Sugino Siswocarito berjudul “Babad alas Mertani“. Namun tentunya masing-masing dalang akan berbeda cita rasa dalam membawakan lakon yang sama.

Ringkasan ceritanya dan beberapa gambar dapat diikuti sekilas di sini.

Wanamarta-2

Wanamarta-1

Audio filenya dapat diunduh disini.

4 Dalang : Brotoyudho

Berikut adalah lakon “Brotoyudho” yang dipagelarkan rame-rame oleh empat dalang yaitu Ki. H. Anom Suroto, Ki Warseno (Slank), Ki Bagong dan Ki Bayu Aji di Lapangang Cawas Klaten Jateng secara Live Show.

Duryudana_lawan_Bima

Sumber gambar : wikipedia

Audio file saya peroleh dari MP-nya ykomp.

Dapat di unduh juga disini

Ki Hadi Sugito : Bogadenta Gugur

Lakon Bogadenta Gugur ini adalah bagian ketiga dari babak peperangan Baratayuda versi pewayangan Jawa, yaitu :

bogadenta_solo

  • Babak 1: Seta Gugur
  • Babak 2: Tawur (Bisma Gugur)
  • Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur)
  • Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur)
  • Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur)
  • Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur)
  • Babak 7: Karna Tanding
  • Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur)
  • Babak 9: Lahirnya Parikesit

Sumber : Wikipedia

Lakon “Bogadenta Gugur” ini saya ambil dari MP-nya maspei

Audio Filenya dapat diambil disini

Ki Nartosabdho – Goro-Goro

Sebenarnya saya sudah menemukan koleksi ini cukup lama di lamannya Mas bhbhbh.

Ki-Nartosabdho-Gara-Gara-0

Ki-Nartosabdho-Gara-Gara-1

File displit sesuai dengan judul di bawah ini :

  1. Gara-Gara
  2. Dialog Punakawan
  3. Sinom Semarangan Laras Slendro Barang Miring
  4. Dialog Punakawan
  5. Sapa Ngira Sl.9
  6. Dialog Punakawan
  7. Lumbung Desa Sl.9
  8. Dialog Punakawan
  9. Praon Pl.6
  10. Mari Kangen Pl.6
  11. Lurah Semar Badranaja
  12. Sekar Putjung
  13. Dialog Punakawan
  14. Ngunda Lajangan Pl.6
  15. Dialog Punakawan
  16. Djula-Djuli Sunba Sl.9
  17. Dialog Punakawan
  18. Saputanganmu Pl.br.
  19. Dialog Punakawan
  20. Tjaping Pl.br.

Sayang suaranya agak kemresek, namun masih lumayan untuk dinikmati.

Audio Filenya dapat dilihat disini

Terima kasih kepada Mas Bhbhbh

Matur nuwun

Kidung Malam 30

Dua Murid Berseteru

Harjuna adalah murid Pandhita Durna yang masuk kategori lantip, cerdas dan cepat tanggap akan sasmita perlambang yang diberikan gurunya. Oleh karenanya sebelum sang Guru Durna menyelesaikan ceritanya, Harjuna sudah mampu menangkap bahwa Gurunya secara tidak langsung telah mengangkat raja muda Paranggelung sebagai muridnya.

kidung_malam30

Kedekatan Guru Durna dengan Ekalaya menjadi kecemburuan Harjuna (karya herjaka HS)

“Bapa Guru yang aku hormati, jika berkenan sebaiknya cerita mengenai raja muda yang rupawan, sakti dan rendah hati dicukupkan. Kami sesungguhnya tidak mempunyai hak untuk melarang sang Guru mengangkat murid baru. Demikian pula kiranya seorang Guru tidak berhak melarang muridnya berguru kepada guru yang lain. Tetapi bukankah selama ini pengangkatan murid-murid Sokalima selalu melibatkan saudara tua perguruan? Adakah kekhususan untuk murid yang satu ini? Adakah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh murid-murid yang lain?”

Continue reading

Kidung Malam 29

PATUNG DURNA

kidung_malam29Maha Guru Durna
Karya herjaka HS 2000

Lolongan anjing yang terus-menerus dirasa dapat mengganggu semedinya, maka Ekalaya melepaskan anak panah dari jarak jauh dan diarahkan ke suara anjing. Namun ternyata tindakan yang dilakukan Ekalaya tersebut berbuntut panjang. Pasalnya anjing yang terkena panah bukan anjing hutan, dan bukan pula anjing milik penduduk sekitar, seperti yang diduga oleh Ekalaya. Namun anjing tersebut ternyata anjing pelacak milik Harjuna.

Ketika Harjuna membawa bangkai anjingnya kepada Pandita Durna, dan menanyakan perihal panah yang menancap, Harjuna belum sepenuhnya lega atas keterangan Sang Guru Durna. Ia akan mencari sampai ketemu, siapa sesungguhnya orang berilmu tinggi yang telah membunuh anjingnya. Maka Harjuna segera mohon pamit untuk kembali ke hutan kecil di pinggiran Sokalima.

Melihat kegelisahan Harjuna, Aswatama yang sejak awal mengamati dari kejauhan, diam-diam mendahului Harjuna masuk ke tengah hutan untuk mengabarkan kepada Ekalaya dan Anggraeni. Demi keselamatan dua sahabatnya Aswatama menyarankan agar keduanya pergi ke tempat yang aman untuk sementara.

Continue reading

Kidung Malam 28

Ilmu Sapta Tunggal

Harjuna adalah seorang ksatria yang gemar ‘tapa ngrame’, selalu siap sedia menolong sesamanya yang membutuhkan, melindungi yang lemah, membela yang teraniaya. Ia senantiasa memperjuangkan kebenaran dan menentang yang durhaka. Maka tidak mengherankan, jika pada saat Sang Harjuna menyusuri jalan-jalan pedesaan, mereka berebut untuk menawarkan agar Harjuna berkenan singgah di rumahnya, untuk memberikan cunduk bunga melati, lambang dari cinta dan kasih sayang. Oleh karenanya bagi keluarga yang dikunjungi Harjuna menjadi berkah akan berkelimpahan.

“Hore! Hore! Hore! Sang Pekik datang, kita sambut dia, kita taburkan bunga mawar warna-warni. Ayo jongkok, ayo jongkok, jongkok. Beri sembah hormat kepadanya. Sang Pekik mampirlah di gubuk kami, mangga pinarak Raden, Raden Harjuna. Horeee!”

kidung_malam28

Tampak dari kejauhan, Harjuna membopong anjing kesayangannya yang mati ditembus tujuh anak panah (karya herjaka HS, pernah dimuat di majalah Jaya Baya)

Cep klakep! Suara suka-cita para kawula pedesaan yang terngiang di telinga berhenti seketika. Demikian pula suasana penuh kasih yang pernah singgah di sanubari lenyap tak berbekas. Ketika sang Harjuna melihat anjing kesayangannya tergeletak mati ditembus tujuh anak panah sekaligus. Yang ditinggal adalah sebuah kemarahan, yang semakin menjadi besar.

“Kurang ajar! Siapa yang berani menghina Harjuna, ayo keluarlah! Perang tanding melawan panengah Pandawa.”

Continue reading