Ki Nartosabdho : Banowati Janji

Kasih tak sampai seorang Banowati terhadap Arjuna. Cintanya sebenarnya kepada Arjuna, namun Duryudana-lah yang akhirnya menjadi suaminya.

Seperti kita ketahui bahwa Banowati adalah salah satu putra dari Prabu Salya bersama Dewi Pujawati (Setyawati) yaitu : Dewi Erawati (istri Prabu Baladewa), Dewi Surtikanti (istrinya Prabu Karna), Banowati, Burisrawa dan Rukmarata.

Karna sebagai mantu dari Prabu Salya memberikan keterangan bahwa yang diminta Banowati ketika dilamar oleh Duryudana berupa pengiring penganten seorang pria yang cakep tanpa cela, tidak lain adalah saudaranya sendiri yaitu Arjuna. Hingga kemudian dimintalah arjuna menjadi pengiring penganten sesuai dengan permintaan Banowati. Kemudian apa yang terjadi ?

banuwati_solo

Ikutilah kisahnya oleh Ki Nartosabdho dalam lakon “Banowati Janji” yang adalah masih kiriman dari Mas Imam Garut.

Nilai-nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pedhalangan Ringgit Purwa Jilid I

Sumber : http://pendekarjawa.wordpress.com/nilai-nilai-pendidikan-moral-dalam-serat-pedhalangan-ringgit-purwa-jilid-i/

Oleh : Dhidhik Setiabudi

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kebudayaan, salah satunya kebudayaan Jawa. Adapun peninggalan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan keberadaannya berbentuk tulisan yaitu naskah. Naskah sebagai hasil karya tulisan nenek moyang dan merupakan peninggalan masa lampau. Naskah tersebut ditulis diatas bahan tulis yang beraneka ragam, seperti gendhong, daluwang, dan kertas yang didatangkan dari Eropa.

Berbagai kebudayaan yang ada pada masa lampau banyak terekam dalam tulisan berbentuk naskah. Dengan menganalisis ataupun mengkaji naskah dapat diketahui kesenian, sastra, tradisi, nilai-nilai, adat istiadat, dan peristiwa yang ada pada masa lampau. Masyarakat Jawa sangat suka pada kesenian dan sastra, terbukti dengan banyaknya naskah yang berisikan hal tersebut. Misalnya; tembang, wayang/pedalangan, tari, cerita, dan masih banyak lagi.

Seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan masa sekarang tidak banyak berbeda dari seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan pada masa lampau. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa masih melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka. Banyak nilai-nilai dan pandangan hidup yang masih diwarisi dan dilestarikan. Seni wayang/pedalangan yang berisi pendidikan moral juga masih sering digelar dan dikembangkan untuk memberikan ajaran moral. Terlebih lagi masa sekarang ini moral bangsa Indonesia dapat dikatakan mengalami kemerosotan.

Di antara pada adipati di Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII adalah seorang pujangga yang produktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916 – 1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII (Soetarno, 1995: 29). Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya, yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V. Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangkunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV. Selain seorang sastrawan dan seniman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII merupakan seorang yang sangat baik dan bijak serta seorang aktivis. Beliau pernah menjabat sebagai ketua PB Boedi Oetomo pada tahun 1916 sebelum diangkat menjadi Mangkunegara VII. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII terkenal sebagai manajer yang cerdas dalam usaha-usaha ekonomi (antara lain mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu), serta visioner dalam berbagai persoalan sosial termasuk lingkungan (membangun waduk dan jaringan rel kereta tebu), selain sebagai budayawan.

Waduk Plumbon di Kecamatan Eromoko dan waduk Kedunguling di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, dikenang sebagai peninggalan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII. Waduk itu dibangun selama 10 tahun dari tahun 1918-1928. Keberadaan kedua waduk itu sebagai balas jasa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII kepada rakyat setempat yang sebelumnya banyak berperan menjadi tukang pada pembangunan pendapa agung Mangkunegaran (rumah pendapa terbesar di Indonesia). Beliau memberikan hadiah berupa dua waduk sebagai prasarana irigasi untuk memakmurkan masyarakat Eromoko dan Wuryantoro. Beliau sangat memperhatikan serta dekat dengan alam sekitar dan masyarakat.

Hal diatas juga berpengaruh pada rasa seni dan penciptaan karya sastranya. Karya-karya buatan beliau banyak mempengaruhi dan dipakai sebagai referensi budayawan lain, baik pada masa beliau maupun sampai sekarang. Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII yg terdiri dari 37 jilid berisi 177 lakon dan terbagi 4: cerita dewa (7 lakon), cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), cerita Ramayana (18 lakon), cerita Pendhawa Kurawa (147 lakon). Jilid I (Ngruna-ngruni watugunung| Mumpuni | Mikukuhan), jilid II (Sri Maha Punggung | Sri Mantun-Murwakala), jilid III (Sang Hyang Wisnu Krama | Bremana-Bremani Manumayasa Rabi | Bambang Kalingga | Jamurdipa atau Sekutrem Rabi), jilid IV (Palasara Lahir atau Sari Rabi | Palasara Krama | Citranggada Rabi | Pandu Lahir), jilid V (Narasoma Rabi| Puntadewa Lahir | Suyudana Lahir | Bima Bungkus), jilid VI (Arjuna Lahir | Raden Yamawidura Krama | Basudewa Rabi | Kangsa Lahir atau Basudewa Grogol | Lahiripun Kakrasana Narayana | Kangsa Adu Jago), jilid VII (Arya Prabu Rabi | Ugrasena Rabi | Bambang Sucitra Rabi | Pandan Papa | Palgunadi | Pendhawa Apus), jilid VIII (Arjuna Papa | Bondhan Peksa Jandhu | Bale Sigalagala | Seta Krama | Rabinipun Untara-Wratsangka), jilid IX (Babad Wanamarta | Arimba-Arimbi | Gandamana Sayembara | Mustakaweni-Kuntul Wilanten), jilid X (Lambangkara | Pancawala Larung | Antasena Lahir | Gathutkaca Lahir | Pregiwa – Pregiwati), jilid XI (Gathutkaca Rabi-Sasikirana | Gathutkaca Dadi Ratu Brajadenta-Brajamusti atau Gathutkaca Sungging | Sridanta), jilid XII (Tugu Wasesa | Sena Rodra | Ganda Wardaya | Semar Barang Jantur atau Kartawiyoga Maling), jilid XIII (Parta Krama | Lambangkara | Sembadra Larung | Bambang WIjanarka | Murca Lelana | Kitiran Petak), jilid XIV (Mayanggana-Sindusena | Cekel Indralaya | Sidajati-Sidamalong | Manu Maya), jilid XV (Pandhu Bregala-Bambang Margana | Sukma Ndadari-Sumong | Bambang Manon Bawa), jilid XVI (Parta Wigena atau Makutharama | Wahyu Cakraningrat | Peksi Jawata | Taman Maerakaca | Srikandhi Maguru Manah | Cakra Negara), jilid XVII (Kandi Hawa | Nirbita | Jalasegara | Turanggajati | Randha Widada), jilid XVIII (Swarga Bandhang | Alap-alapan Larasati | Alap-alapan Ulupi | Semboto-Senggono), jilid XIX (Irawan Maling | Gambir Anom | Bambang Jaganala | Irawan Rabi | Alap-alapan Gandawati), jilid XX (Sumitra Rabi | Udan Mintaya | Seti Wijaya | Arjuna Sendhang), jilid XXI (Nakula Rabi | Candrageni | Sadewa Rabi | Candrasasi | Pramusinta), jilid XXII (Derwa Kasimpar | Semar Minta Bagus | Semara Papa | Dwila Warna), jilid XXIII (Kresna Kembang | Kresna Pujangga | Kresna Begal | Samba Rajah | Bambang Sutera), jilid XXIV (Samba Ngengleng | Bomantaka | Sugatawati-Sugatawati Dhaup | Endhang Wediningsih | Setyaki Rabi), jilid XXV (Suyudana Rabi | Dursilawati Ical | Peksi Anjali Retna), jilid XXVI (Suryatmaja Rabi | Dana Salirta | Kumbayana | Durna Tapa), jilid XXVII (Candha Birawa | Pendhawa Puter Puja | Darma Birawa | Arjuna Terus), jilid XXVIII (Wisanggeni Lahir | Bambang Manon Manonton | Pendhawa Dhadhu | Pancawala Ngarit), jilid XXIX (Mintaraga | Parta Dewa | Arjuna Wibawa | Cendreh Kemasan), jilid XXX (Kalabendana Lena | Rara Temon | Jagal Abilawa Pendhawa Gubah | Kresna Duta), jilid XXXI (Jabelan | Kresna Gugah | Bisma Lena), jilid XXXII (Angkawijaya Lena | Jayadrana Lena | Burisrawa Lena | Gathutkaca Lena | Dursasana Lena), jilid XXXIII (Karna Lena | Suyudana Gugur | Parikesit Lahit), jilid XXXIV (Parikesit Grogol | Yudayana Ical), jilid XXXV (Bedhahipun Lokapala | Arjuna Wijaya | Sumantri Ngenger | Sumantri Gugur | Arjuna Sasra Gugur), jilid XXXVI Bedhahipun Ngayodyapala | Dasarata Rabi | Sinta Lahir | Prabu Rama Krama | Rama Tundhung | Anoman Duta | Rama Tambak | Anggada Duta | Bukbis), jilid XXXVII (Trikaya Lena | Trisirah Lena | Kumbakarna Gugur | Megananda Gugur | Dasamuka gugur | Sinta Boyong | Rama Obong | Rama Nitik | Rama Nitis).

Continue reading

Ki Nartosabdho : Sudamala

Mungkin lakon “Sudamala” ini banyak yang menunggu karena sudah ada sebelumnya namun belum lengkap. Koleksi sebelumnya saya peroleh dari javawayang. Dan karena kebaikan dari Mas Imam Garut, maka kita semua dapat menuntaskan keingintahuan akan akhir dari lakon ini.

Awalnya akan saya masukan dalam folder file yang lama, namun ternyata akunnya sudah full alias hampir memenuhi kuota sebesar 5 GB. Akhirnya saya bikin folder baru saja dan saya upload semua file dari 1 sampai 8. Saya juga baru ngeh kalau ternyata file-file yang saya simpan di 4shared sudah cukup banyak. Sampai dengan saat ini saya sudah mempunyai 10 akun di 4shared yang free. Satu akun free 5 GB. Rata-ratakan saja isi per akun 4 GB maka sudah ada sekitar 40 GB di dunia maya. :)

Kenapa sampai 10 akun ? Karena saya belum mau beli. Dulu saya pernah beli untuk akses download sebesar 10 GB, sehingga kalau download cepat sekali dan dapat multifile pada saat bersamaan.

Kenapa jadi ngelantur ya :)

Silahkan saja nikmati lakon Sudamala ini yang dibawakan oleh Ki Nartosabdho.

Dewi UmaBatari Durga

Ada beberapa referensi yang layak di baca untuk menikmati lakon ini.

_____________

Sudamala

Di Kahyangan Betara Guru,  Betara Narada dan segenap dewa-dewa tengah bersamadi dengan menyaksikan persembahan tari sakral para bidadari. Di akhir persembahan, Dewi Uma ( isteri Betara Guru)  mendapat giliran untuk  menghaturkan  Tirta Amerta dalam wadah Sweta Kamandalu (bejana kendi). Ketika tiba di hadapan Rajadewa Betara Guru, tiba-tiba wajahnya pias, tangannya gemetar dan kendi pun jatuh berantakan. Tirta Amerta tumpah. Anehnya tirta suci itu menyebarkan aroma busuk.

Continue reading

Ki Nartosabdho : Arjuna Wiwaha

Kisah kepahlawanan Arjuna yang menolong para dewa di kahyangan dalam menghadapi keangkaramurkaan raja raksasa Himahimantaka bergelar Prabu Niwatakawaca. Sang Prabu yang telah diberi kemulyaan oleh dewa dengan beristrikan seorang bathari, merasa kurang dan meminta lebih untuk mempersunting kembali kembang para bathari, Bathari Supraba. Keinginan tersebut tentu saja mengundang amarah para dewa, namun sungguh tak dinyana bahwa para dewapun kalah bertempur dalam menghadapi utusan Prabu Niwatakawaca, patih Mamangmuka.

niwatakawaca_solo

Para dewa kemudian mencari jalan menghadapi Raja Himahimantaka. Bagaimana kelanjutannya ?

Silahkan nikmati pagelaran wayang oleh dalang Ki Nartosabdho berjudul “Harjuna Wiwaha”. Koleksi ini adalah kiriman dai Mas Imam Garut. Matur nuwun kami ucapkan kepada Mas Imam yang telah memberikan koleksinya untuk kita semua.

arjuna_solo

Dan bagi yang ingin membaca bukunya, telah ada di blog ini ebook karangan Resi Kano berjudul sama. Silahkan membacanya bagi yang belum mendownloadnya disini.

Ki Nartosabdho : Bima Suci

Lakon ini adalah salah satu dari lima lakon yang telah dikirimkan Mas Imam Garut kepada saya untuk disharing kepada para pecinta wayang, khususnya pagelaran wayang oleh Ki Nartosabdho.

Kelima lakon itu adalah :

  • Bima Suci
  • Harjuna Wiwaha
  • Bambang Partodewo
  • Sudamala
  • Banuwati Janji

Saya masih memiliki lakon “Banjaran Arjuna I” yang masih berwujud kaset yang masih belum saya convert ke soft copy, berarti masih cukup banyak yang harus saya unggah dan kerjakan.

bima

Kiriman dari Mas Imam, nyuwun sewu, saya convert ke default CD quality saja yaitu 128 KB/44 KH karena kebetulan file-filenya tidak seragam, cenderung semua kebesaran. Rak mboten nopo-nopo to MaS Imam ?

Dan sebagai langkah pertama, saya unggah dulu lakon Bima Suci yang dapat Anda nikmati disini

Sebagai referensi saya kutip tulisan yang saya peroleh :

Bima Suci

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kata guru agama saya, Islam disebarkan masuk ke bumi nusantara dengan jalan damai. Di Jawa ada tokoh yang masyhur dalam proses penyebaran Islam yaitu wali sanga (sembilan wali). Kata guru saya, salah satu cara yang mereka tempuh dalam menyebarkan Islam yaitu melalui akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Continue reading

Bali dan Wayang

Di Bali seperti halnya di jawa, budaya yang terkait dengan wayang masih tumbuh cukup subur di masyarat.

Di Bali beberapa jalan masih mengambil nama tokoh wayang, seperti Abimanyu, Kunti, Drupadi, Yudhistira, Nakula dll.

bali-crop

Dalam wayang kulit, mungkin agak berbeda bila dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Namun secara umum, kelihatannya sumber ceritanya adalah sama.

Sudah 3 hari ini saya ke Bali atau tepatnya di sekitar Kuta, untuk tugas dinas. Malam ini harus kembali ke Bandung dengan fligh Air Asia yang kembali lagi harus mengalami reschedule jadwal alias delay :) Namun Air Asia profesional kok dengan memberitahukan satu hari sebelumnya. Entah nanti pada saatnya di undur lagi atau on schedule. Harus kembali malam ini karena tetangga sebelah ada punya hajat perkawinan.

Kayon bali

Kebetulan saya sekarang sudah di bandara sambil menunggu jam terbang, mampir dulu di Starbucks Bandara Ngurah Rai. Ada hotspot Speedy Telkom disana, dan wus … wus … lebih cepet kalau saya bandingkan dengan pake modem 3G beberapa operator GSM.

3 hari dua malam di sini nggak bisa kemana-mana. Maklum, Kuta sangat padat dengan turis lokal dan manca negara karena bulan-bulan begini memang lagi ramai-ramainya.

Arjuna the Lover

Yang jelas disini panas, sampai dijalan-jalan banyak orang-orang yang buka-buka baju :)

Blog khusus untuk Ki Nartosabdho

Blog ini saya coba create untuk “menampung” segala hal yang terkait dengan sosok yang bernama “Ki Nartosabdho”. Karya, pikiran, bakti dan pengabdian  Beliau terhadap negri ini, terutama sebagai seorang budayawan.

Nartosabdho blog

Tentu masih jauh dari sempurna karena saya baru mengawalinya dan sebab keterbatasan pengetahuan saya terhadap kiprah beliau mengingat perbedaan generasi dan masalah dokumentasi yang masih jarang mengenai diri Beliau.

Untuk kelengkapan konten blog, tentu saya mengharapkan dukungan dan sumbangan dari para pembaca khususnya pecinta Budaya Jawa, lebih khusus lagi pengagum Ki Nartosabdho, berupa sharing konten. Dapat juga pembaca yang berminat untuk menyumbangkan konten dengan menjadi kontributor blog ini. Karena blog ini saya harapkan bukan milik pribadi melainkan milik bersama.

Demikian untuk sementara sebagai pengantar, adapun blognya berlamatkan di http://nartosabdho.co.cc/

Hormat kami

Prabu (Pranowo Budi Sulistyo)