Ki Nartosabdho : Bima Suci

Lakon ini adalah salah satu dari lima lakon yang telah dikirimkan Mas Imam Garut kepada saya untuk disharing kepada para pecinta wayang, khususnya pagelaran wayang oleh Ki Nartosabdho.

Kelima lakon itu adalah :

  • Bima Suci
  • Harjuna Wiwaha
  • Bambang Partodewo
  • Sudamala
  • Banuwati Janji

Saya masih memiliki lakon “Banjaran Arjuna I” yang masih berwujud kaset yang masih belum saya convert ke soft copy, berarti masih cukup banyak yang harus saya unggah dan kerjakan.

bima

Kiriman dari Mas Imam, nyuwun sewu, saya convert ke default CD quality saja yaitu 128 KB/44 KH karena kebetulan file-filenya tidak seragam, cenderung semua kebesaran. Rak mboten nopo-nopo to MaS Imam ?

Dan sebagai langkah pertama, saya unggah dulu lakon Bima Suci yang dapat Anda nikmati disini

Sebagai referensi saya kutip tulisan yang saya peroleh :

Bima Suci

Oleh : Rakhmat Giryadi

Kata guru agama saya, Islam disebarkan masuk ke bumi nusantara dengan jalan damai. Di Jawa ada tokoh yang masyhur dalam proses penyebaran Islam yaitu wali sanga (sembilan wali). Kata guru saya, salah satu cara yang mereka tempuh dalam menyebarkan Islam yaitu melalui akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Continue reading

Bali dan Wayang

Di Bali seperti halnya di jawa, budaya yang terkait dengan wayang masih tumbuh cukup subur di masyarat.

Di Bali beberapa jalan masih mengambil nama tokoh wayang, seperti Abimanyu, Kunti, Drupadi, Yudhistira, Nakula dll.

bali-crop

Dalam wayang kulit, mungkin agak berbeda bila dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Namun secara umum, kelihatannya sumber ceritanya adalah sama.

Sudah 3 hari ini saya ke Bali atau tepatnya di sekitar Kuta, untuk tugas dinas. Malam ini harus kembali ke Bandung dengan fligh Air Asia yang kembali lagi harus mengalami reschedule jadwal alias delay :) Namun Air Asia profesional kok dengan memberitahukan satu hari sebelumnya. Entah nanti pada saatnya di undur lagi atau on schedule. Harus kembali malam ini karena tetangga sebelah ada punya hajat perkawinan.

Kayon bali

Kebetulan saya sekarang sudah di bandara sambil menunggu jam terbang, mampir dulu di Starbucks Bandara Ngurah Rai. Ada hotspot Speedy Telkom disana, dan wus … wus … lebih cepet kalau saya bandingkan dengan pake modem 3G beberapa operator GSM.

3 hari dua malam di sini nggak bisa kemana-mana. Maklum, Kuta sangat padat dengan turis lokal dan manca negara karena bulan-bulan begini memang lagi ramai-ramainya.

Arjuna the Lover

Yang jelas disini panas, sampai dijalan-jalan banyak orang-orang yang buka-buka baju :)

Blog khusus untuk Ki Nartosabdho

Blog ini saya coba create untuk “menampung” segala hal yang terkait dengan sosok yang bernama “Ki Nartosabdho”. Karya, pikiran, bakti dan pengabdian  Beliau terhadap negri ini, terutama sebagai seorang budayawan.

Nartosabdho blog

Tentu masih jauh dari sempurna karena saya baru mengawalinya dan sebab keterbatasan pengetahuan saya terhadap kiprah beliau mengingat perbedaan generasi dan masalah dokumentasi yang masih jarang mengenai diri Beliau.

Untuk kelengkapan konten blog, tentu saya mengharapkan dukungan dan sumbangan dari para pembaca khususnya pecinta Budaya Jawa, lebih khusus lagi pengagum Ki Nartosabdho, berupa sharing konten. Dapat juga pembaca yang berminat untuk menyumbangkan konten dengan menjadi kontributor blog ini. Karena blog ini saya harapkan bukan milik pribadi melainkan milik bersama.

Demikian untuk sementara sebagai pengantar, adapun blognya berlamatkan di http://nartosabdho.co.cc/

Hormat kami

Prabu (Pranowo Budi Sulistyo)

Ki Hadi Sugito : Durgo Ruwat

Berikut adalah pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Hadi Sugito dengan mengambil lakon “Durgo Ruwat”. Lakon ini disimpan dalam 6 keping VCD dengan durasi masing-masing sekitar 1 jam lebih, 70 menitan.

durgo ruwat

Saya rip dengan format standart 128 KBps/44 KH dan menghasilkan file dengan ukuran cukup besar. Maaf bagi yang koneksi internetnya agak lambat :)

Silahkan nikmati audio pagelarannya disini

Bagi yang ingin menyaksikan videonya, silahkan dapat dilihat di you tube, maaf baru 1 VCD saya upload, sisanya menyusul.

Ki Narto Sabdho; Sastro Jendroyuningrat (Alap2 Sukesi)

Waktu itu saya ketemu dengan mas Bramantyo, dia menitipkan satu lakon wayang purwa dari Ki Narto sabdho…..sayang karena adanya pindahan rumah besar-besaran, kaset beliau pada ketlisut dan hanya ketemu nomer 1, 2, 3, 6 dan 8. Kaset nomer 1 hanya saya convert 1B saja karena 1A hanya gending2 pambuka, no 4, 5 dan 7 belum ketemu….Eh…tidak sengaja tadi malam sekitar jam 2.30 dini hari (Minggu 12 Juli 2009) saya puter2 radio ada satu studio resmi Jakarta menyiarkan lakon ini…eh ini kebetulan, langsung saya sambung dengan computer dan langsung saya ripping untuk jadi file mp3…..sayang hanya dapat nomer 7A dan 7B. Mungkin ada sedulur2 yang punya lakon ini silahkan kalau mau nyumbang untuk yang nomer 4 dan 5……ditunggu.

wy-begawan-wisrawa

Ringkasan Cerita:

Cerita ini dapat juga disebut sebagai cerita Alap-alap Sukesi atau lahirnya Rahwana sampai Sarpakenaka. Merupakan petikan babad Lokapala yang di dalamnya mengandung mutiara yang sangat berharga. Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai permaisuri. Karena itu ia ingin memasuki sayembara perang melawan Jambu Mangli kemenakan Prabu Sumali Raja dari negara Alengka yang kalau menang dapat mempersunting Dewi Sukesi putri Sumali Raja. Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan atau Resi Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baik dari Wisrawa.

Pada waktu yang bersamaan, Prabu Wisamarta dari Negara Madiantara juga melawat ke Alengka dengan maksud yang sama. Di tengah jalan, wadia bala Madiantara terlibat perang dengan balatentara Lokapala yang menjaga wilayahnya. Sehingga, wadia Madiantara mengambil jalan yang lain, akhirnya Wisamarta kalah dengan Jambu Mangli. Dalam perjalanan ke Alengka, Begawan Wisrawa bertemu dengan Prabu Partakusuma dari Medanggiri. Setelah diketahui maksud masing2 yang tunggal tujuan, terjadilah perang, akhirnya Partakusuma lari. Mengingat betapa berat bahaya yang dihadapi Negara Alengka, maka oleh Sumali Raja Sukesi disyogakan untuk menerima pinangan dari salah satu di antara para raja yang telah melamarnya. Dalam hal ini, Sukesi menyatakan bahwa ia hanya mau menikah dengan seorang yang dapat membeberkan wedaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu. Kemudian datanglah Wisrawa dan terbukti Wisrawa dapat memenuhi persyaratan Sukesi. Karena peristiwa tersebut, menurut Hyang Guru …Wisrawa harus menerima pameleh (bhs. Jawa). Hyang Guru manunggal dengan Wisrawa dan Dewi Uma dengan Sukesi. Karenanya Sukesi jatuh hati pada Wisrawa walaupun berulang diingatkan bahwa Wisrawa adalah calon mertuanya.

Syahdan, Bagaimana klimaks dari Lakon ini, Bagaimana pula jalan yang ditempuh oleh Danapati terhadap orang tuanya?

Silahkan file audionya dapat diambil Di sini

Narasi: Karno Tanding (Ki Narto Sabdho)

Nyuwun sewu mas Prabu; Saya ini habis bertemu dengan mas Bramantyo (tugas di Kaltim) di Bogor. Beliau menitipkan sebuah narasi dari cerita Karno Tanding untuk di post-kan….ya saya sanggupi aja. Beliau sebetulnya punya beberapa cerita wayang kulit dari Ki Narto Sabdho…sayang waktu pindahan besar-besaran kaset2nya pada ketlisut…dan salah satu lakonnya (Sastro Jendroyuningrat) akan saya upload minggu depan (Senin 13 Juli 2009)…dan itu pun tidak lengkap karena 3 kaset masih dalam pencarian…nggak apa-apa mungkin dapat menambah koleksi.

Narasinya sebagai berikut:

Setelah gugurnya sementara senapati Astina dalam kancah perang Barata, termasuk Resi Bisma dan guru Durna, semakin sedihlah hati Suyudana. Kesedihan yang tak ter-redakan itu menimbulkan kekhawatiran akan kehilangan Dewi Banuwati. Oleh karenanya, Dursasana ditugaskan kembali ke Astinapura untuk menjaga keamanan Dewi banuwati, tetapi setelah Dursasana bertemu dengan Dewi Banuwati terjadi sengketa kata, sehingga Banuwati lari tidak sudi berhadapan dengan Dursasana. Sedang Dursasana sendiri karena terkena kata-kata pedas dari Dewi Banuwati, tanpa menanti perintah Suyudana terjunke kancah ayuda di gelanggang Kurusetra. Malang bagi Dursasana, ia mati ditangan Bratasena dan darahnya kemudian dikumpulkan untuk mencuci rambut Dewi Drupadi. Sesuai dengan prasetia sang dewi pada waktu Pandawa kalah dadu.

Suyudana semakin kecil hatinya dan sangat bingung untuk memilih senapati sakti yang dapat mengatasi kesaktian para Pandawa. Atas kemauannya sendiri Karna mohon dijadikan senapati dengan syarat keretanya harus dikemudikan Prabu Salya. Melalui perdebatan sengit, akhirnya Prabu Salya rela menjadi kusir. Di pihak Pandawa Kresna menunjuk Harjuna untuk menandingi Karna, sedang tandingan kusir Salya ialah Kresna pribadi. Syahdan; Karna gugur bertanding Harjuna.

Waranggana: Nyi Ngatirah, Nyi Maryati, Nyi Suryati dan Nyi Anggana Sulaksmi.

Dan link-nya tetap seperti sebelumnya: Di sini

Beli CD/kaset wayang

Barusan ke Matahari Mall di Klaten, saya menyempatkan diri mencari kaset atau VCD pagelaran wayang. Maunya sih beli banyak, namun karena keterbatasan moneter :) maka saya hanya beli 3 judul saja, yaitu :

  • Banjaran Arjuna oleh Ki Nartosabdho (8 kaset)
  • Durgo Ruwat oleh Ki Hadi Sugito (6 disc)
  • Pandowo Sukur oleh Ki Manteb Sudharsono (6 disc)

Ada beberapa judul dari dalang lain yang sebenarnya pengin saya beli, namun lain kali saja ah …

Audionya akan saya rip sekembali saya ke Bandung nanti …

Matur nuwun