Ki Narto Sabdho; Kresna Gugah

Lakon wayang kulit ini merupakan koleksi pribadi yang dipergelarkan oleh Ki Narto Sabdho.

Cerita Kresna Gugah merupakan sempalan cerita Mahabarata yang diculik di antara lakon Wiratha Parwa dan Kresna Duta.

Cerita inKresnai menggambarkan perebutan antara Hastina dan Pandawa untuk dapat memboyong prabu Kresno….karena dengan bisa memboyong Kresna nantinya akan dapat Berjaya dalam perang Baratayuda. Nah untuk dapat menikmati cerita selengkapnya silahkan di klik nomer2 berikut (saya mencoba indowebster upload, ini lebih cepat tapi saya belum dapat cara membuat foldernya seperti di 4shared) dan untuk download diklik aja pada tulisan download from IDWS (posisi agak dibawah): NYUWUN SEWU MENAWI RADI RIBET DOWNLOAD-IPUN.
01, 02, 03, 04, 05, 06, 07, 08, 09, 10, 11, 12, 13, 14, 15, dan 16

Wayang Golek : Kitab Sastra Jendra Rahayu Ningrat

Sebagai referensi lain, mari kita dengarkan pagelaran wayang golek dengan mengambil judul “Kitab Sastra Jendra Rahayu Ningrat”. Tentu saja diperuntukan bagi yang suka wayang golek dan bisa bahasa sunda :)

Pandawa

Gambar diambil dari http://wayanggolek.net/

Mungkin jalan cerita agak berbeda dengan versi yang lain, tapi no problemo …

Referensi silahkan lihat disini

Untuk audio wayangnya dapat didengarkan disini.

Kidung Malam 39 : Kembali Kepangkuan Keabadian

kidung_malam39

Ekalaya dan Anggraeni (herjaka HS)

Sementara itu, Aswatama yang mengikuti kedua sahabatnya ke Paranggelung, ditempatkan di ruang tengah Baluwerti. Di sini Aswatama merasa lebih dihargai dibandingkan dengan di Sokalima atau di Hastinapura. Oleh Ekalaya ia diperkenalkan sebagai sahabat raja, sehingga tentu saja para pejabat negeri dan terlebih rakyat Paranggelung sangat menghormati Aswatama. Ada sebuah paradigma baru baginya, agar seorang raja tidak mabuk kuasa, tetapi penuh perhatian kepada rakyatnya, dan dengan tulus mencintai rakyatnya.

Kepergian Aswatama tanpa pamit ke Paranggelung adalah merupakan ungkapan sikap ketidaksetujuannya atas tindakan Drona bapaknya. Ada perasaan kecewa yang amat dalam, mengapa bapanya telah tega mencelakai Ekalaya. Karena dengan memotong ibu jari Ekalaya, artinya memotong harapan hidupnya. Lagi pula ia menilai bapanya adalah seorang guru yang pilih kasih. Lebih mengasihi Harjuna.

Di malam itu, entah apa yang menyebabkan Aswatama gelisah dan tidak dapat segera tidur. Perasaannya mendorong-ndorong untuk bangun dan melangkah ke luar Baluwerti. Inikah kegelisahan itu? Ketika Aswatama berada di regol halaman, dilihatnya Ekalaya dan Anggraeni berjalan dengan sangat ringan, seperti terbang ke arah luar kota raja. Aneh ya, ada apa dengan mereka berdua? Malam-malam begini, tanpa pengawalan, seorang raja dan prameswarinya meninggalkan keraton dengan diam-diam. Timbul rasa khawatir yang berlebihan, ketika tiba-tiba saja Ekalaya dan Anggraeni hilang di telan gelapnya malam. Tidak salahkah mataku memandangnya? Benarkah mereka Ekalaya dan Anggraeni? Aswatama penasaran, dengan hati-hati diikutinya bayangan keduanya yang sudah jauh memasuki pekatnya malam.

Continue reading

Kidung Malam 38 : Menuju Kesempurnaan

kidung_malam38

Ekalaya memenuhi tantangan Harjuna (karya Herjaka HS 2008)

Tidak seperti malam ini, Anggraeni yang biasanya kuat, tegar tak mengenal takut, tiba-tiba hatinya berdesir cemas.

“Ada apa Kakangmas?”

“Harjuna menantangku melalui daya aji Pameling.”

“Harjuna?!”

Ekalaya mengangguk lemah.

“Ia tidak ingin melibatkan rakyat Paranggelung, cukup Aswatama yang dijadikan saksi.”

“Apakah Kakangmas akan memenuhi tantangan itu?”

“Ya, sebagai seorang ksatria.”

“Dengan kondisi lemah tak berdaya?”

“Iya Anggraeni. Apakah menurutmu lebih baik aku bersembunyi, tidak memenuhi tantangannya?”

Anggraeni menggeleng lemah.

Continue reading

Ki Nartosabdho : Sawitri (dan Satyawan)

Sebuah lakon yang merupakan koleksi pribadi dari seorang sahabat yang berjudul Sawitri (Satyawan).

lakon savitri

Kisah ini merupakan kisah yang dicuplik dari kitab “Mahabarata” yang aslinya berasal dari Hindustan. Suatu kisah tentang cinta sejati Savitri terhadap suaminya Satyavan. Di dalam lakon ini diolah oleh dalang Ki Nartosabdho dengan sangat mendalam filosifinya serta banya pelajaran yang dapat kita petik.

Untuk menikmati lakon tersebut silahkan diklik di sini

Dongeng Savitri (Satyavan)

Cerita ini diambil dari tanah Hindustan, mungkin versinya agak berbeda dengan Sawitri (Satyawan) dalam pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Sang Maestro Ki Nartosabdho….tapi intinya tidak jauh berbeda. Dalam lakon ini banyak sekali pelajaran yang kita petik. Untuk Lakon wayang kulit dari Ki Nartosabdho saat ini sedang dalam proses Upload….ditunggu saja dalam waktu dekat akan bisa dinikmati para sutrisno mbah Narto.

[femaleradio.com-19/3/2003] Alkisah di Madras, salah satu daerah di India, berkuasalah Raja Asvapati. Telah lama ia menginginkan seorang anak untuk mewarisi kerajaannya. Karena itu raja Asvapati setiap hari mempersembahkan doa-doa pujian bagi dewa-dewa. Suatu hari, Dewi Savitri menampakkan diri di hadapan raja itu. Dewi Savitri menjanjikan seorang putri baginya. Raja Asvapati sangat gembira. Ketika permaisurinya melahirkan seorang putri, dinamakannya Savitri. Savitri tumbuh menjadi gadis yang cantik dan halus budi pekertinya. Namun, diam-diam Raja Asvapati merasa khawatir. Karena belum ada seorang pria pun yang datang melamar Savitri. Savitri memang sangat anggun bagai seorang dewi. Sehingga para pria segan meminangnya.

Suatu hari Raja Asvapati berkata, Savitri, anakku! Sudah saatnya engkau mempunyai suami. Ayah sudah semakin tua. Bila kau tak punya suami, kepada siapa kerajaanku akan kuwariskan? Pergilah ke hutan. Berdoalah agar dewa-dewa menganugerahimu seorang suami yang bijak.

Setelah memohon doa restu dari ayahnya, Savitri lalu pergi ke hutan.

Suatu hari Raja Asvapati dikunjungi oleh Bagawan Narada, seorang petapa sakti. Narada yang sakti dapat melihat apa yang akan terjadi.

“Wahai Raja Asvapati, kulihat putrimu sedang menuju ke mari. Rupanya ia ingin memberitahukan sesuatu yang penting!” ujar Bagawan Narada.

Ucapannya itu betul. Tak lama kemudian Savitri tiba di hadapan ayahnya.

“Savitri, anakku! Bagaimana keadaanmu, Nak? Apakah kau telah menerima wahyu dari Dewa-Dewa?” tanya Raja Asvapati.

“Ayahanda, atas kemurahan para Dewa, ananda telah mendapat seorang calon suami. Di dalam hutan hamba bertemu Raja Dyumatsena. Raja Dyumatsena buta, dan kerajaannya telah diambil alih musuhnya. Putranya, Satyavan, kini hidup bersama ayahnya di pengasingan. Satyavan itulah yang akan menjadi suami ananda, kata Savitri.

“Maaf Raja Asvapati, aku menyela sebentar. Anakku Savitri yang malang, memang Satyavan sangat gagah dan cakap. Namun ia berumur pendek. Umurnya hanya tinggal setahun lagi, sela Bagawan Narada.

Walaupun demikian Savitri tetap pada pendiriannya. Ia minta izin tinggal di hutan bersama suaminya. Raja Asvapati dengan berat hati mengabulkannya. Karena ia tahu Savitri hanya punya waktu setahun bersama suaminya. Demikianlah Savitri hidup rukun bersama suaminya di dalam hutan. Walaupun demikian Savitri masih ingat akan perkataan Bagawan Narada.

Suatu hari Savitri memutuskan untuk bertapa. Di tengah malam ia pergi ke tengah hutan. Lalu bertapa sambil berdiri dengan mata terbuka di bawah sebuah pohon besar. Selama beberapa hari ia tetap berdiri tegak. Satyavan tak berhasil membujuknya pulang ayahnya juga tidak. Savitri tetap bertapa dengan tekun.

Suatu hari dilihatnya Satyavan hendak pergi berburu. Firasatnya mengatakan bahwa saat berpisah sudah tiba.

“Suamiku, tunggulah. Aku ingin ikut bersamamu. Jangan tinggalkan aku sendiri! kata Savitri sambil berjalan mengikuti suaminya.

Savitri terus mengikuti Satyavan. Di perjalanan ia berusaha menghilangkan pikiran sedihnya. Namun ia tahu, saat perpisahaan sudah tiba. Tiba-tiba Satyavan memegang kepalanya sambil mengaduh.

“Aduh! Kepalaku sakit sekali, seakan-akan ditusuk jarum! seru Satyavan.

Satyavan terjatuh. Savitri memeluk tubuh suaminya. Di kejauhan ia melihat seseorang memakai jubah merah, membawa sebuah tongkat, datang menghampiri. Savitri tahu itu pastilah seorang dewa. Dengan sigap dihampirinya orang berjubah merah itu.Savitri

“Sembahku pada Bagawan. Firasatku mengatakan Bagawan bukanlah manusia. Kalau memang betul terimalah hormat sujudku, kata Savitri sambil menyembah.

“Akulah Yama, Dewa Kematian. Tugasku mengambil nyawa manusia yang telah tiba saatnya. Nyawa suamimu Satyavan akan kuambil sekarang,” jawab Dewa Yama.

Sambil berkata demikian Dewa Yama mengambil nyawa Satyavan. Lalu Dewa Yama berjalan kembali. Savitri mengikuti dari belakang.

“Savitri! Kembalilah! Tak ada gunanya kau mengikutiku, kata Dewa Yama. Namun Savitri tetap mengikutinya.

“Savitri! Karena kesetiaanmu akan kupenuhi satu permintaanmu. Namun bukan permintaan nyawa Satyavan, kata Dewa Yama.

“Berikanlah penglihatan kepada Raja Dyumatsena, pinta Savitri.

“Terkabul! seru Dewa Yama.

Namun Savitri tetap mengikutinya. Yama memberikan lagi dua permintaan kepada Savitri. Savitri meminta kerajaan Raja Dyumatsena dikembalikan. Juga seorang putra bagi ayahnya. Dewa Yama mengabulkannya. Namun Savitri tetap mengikuti Yama. Padahal kakinya hampir-hampir tak dapat melangkah lagi. Lututnya serta sendi-sendi lainnya mengeluarkan darah. Dewa Yama yang melihat ketabahan hati Savitri menjadi iba.

“Baiklah Savitri! Karena kau sangat tabah dan setia, maka nyawa Satyavan kukembalikan. Kini pulanglah! seru Dewa Yama.

Savitri kembali ke pondoknya. Di situ dijumpainya Satyavan segar bugar. Raja Dyumatsena dapat melihat kembali. Dan musuhnya dapat dikalahkan. Satyavan menjadi raja, dan Raja Asvapati memperoleh seorang putra.

Dari Pustaka Bobo Diceritakan Oleh La

Ki Nartosabdho : Banjaran Arjuna I

Berikut adalah lakon “Banjaran Arjuna bagian I” yang dibawakan oleh Ki Nartosabdho.

arjuna_solosubadra_solo

Lakon ini menceritakan riwayat panengah pandhawa yaitu Arjuna. Di bagian satu ini diceritakan saat kelahiran yang membuat geger kahyangan, terutama para bidadari yang begitu mengagumi ketampanannya.

Akhir dari lakon ini adalah saat dipertemukan dan direstuinya pernikahan antara Arjuna dengan Sumbadra oleh Prabu Basudewa raja negri Mandura. Sebagaimana kita ketahui bahwa Sumbadra adalah adik dari Kakrasana (Baladewa) dan Narayana (Kresna).

Mohon maaf untuk kaset yang kelima rekamannya agak banyak noise. Selamat Menikmati disini.