Satu lagi koleksi wayang kulit dari dalang kesayangan kita Ki Narto Sabdho (Alm.). Lakon ini merupakan sumbangan dari mas Suwardito (Rawamangun). Silahkan untuk yang berminat, kunjungi saja:
Monthly Archives: September 2009
Met Lebaran 1430 H
Kepada para pecinta wayang dimana saja yang merayakan Iedul Fitri, saya ucapkan “Minal Aidzin wal faidzin”, “Taqoballahu minna waminku”, Mohon maaf lahir dan batin.
Meskipun kaki masih pegel habis dari nyetir, namun bahagia rasanya berbagi bahagia bersama keluarga. Begitupun saya harap bagi Anda semua.
Bayangin, Bandung – Garut yang biasa kalau normal ditempuh sekitar 2 jam, barusan menghabiskan dijalan selama 11 jam ! :D
Habis dari Garut terus melanjutkan perjalanan ke Klaten. Mudah-mudahan lancar-lancar saja. Aaamiin
Ebook Wayang : Nemu yang hilang
Sudah download ebook “Sedjarah Wajang Poerwa” Pak Hardjowirogo ?
Kalau sudah tentu masih ada yang tidak sempurna karena ada 2 halaman yang tidak ada. Waktu itu saya kehilangan 2 halaman itu, namun kemudian akhirnya saya menemukannya. Untung belum disobek dan rusak.
Halaman yang hilang sebelumnya adalah halaman 125 & 126.
Silahkan sisipkan di PDF yang telah jadi.
Ebook Wayang : Serat Tuntunan Padalangan
Berikut saya sharing ebook hasil saya scan tadi pagi berjudul “Serat Tuntunan Padalangan III, IV” ingkang ngimpu M Ng. Nojowirongko.
Scan baru selesai yang ilid ke-3.

Buku ini adalah cetakan yang ke-2 tahun 1958. Kalau lihat di kata pengantar, buku ini cukup mendapat perhatian dari para pecinta wayang mengingat baru 4 tahun sebanyak 2.000 buku telah habis terjual. Untuk ukuran tahun 50-an tentu jumlah segitu suatu hal yang luar biasa, apalagi untuk buku yang spesifik seperti membahas soal wayang.
Bagi yang pengin belajar ndalang, tentu buku ini sangat berguna karena dibeberkan detail cerita Irawan Rabi dalam bahasa Jawa.
OK, silahkan membacanya disini (tentu saja bagi yang faham Bahasa Jawa)
Goro-goro WO
Era awal 1980-an merupakan era pentas gabungan, baik itu ketoprak ataupun wayang orang. Berikut adalah salah satu cuplikan dari pentas gabungan wayang orang. Cuplikan ini merupakan sumbangan dari mas Riyanto (Cinere) berupa goro-goro. Goro-goro ini merupakan kolaborasi antara Ki Narto Sabdho (Petruk) dan Ki Anom Suroto (Bagong)…..
Silahkan menikmati di sini
Ki Nartosabdho Alap-alapan Satyoboma
Monggo-monggo ingkang bade mundut kulo aturi pinarak wonten ing:
http://www.nartosabdho.wordpress.com atau
listantoedy’s blog
Penarikan Kembali Kumbakarna Lena
Kepada Yth. sederek2 pengagum Ki Narto Sabdho. Mohon maaf, dengan terpaksa Lakon ini saya tarik kembali, karena ada beberapa laporan audionya terlalu jelek…..nanti setelah normal saya upload ulang. Sebagai gantinya akan naik Alap2an Satyoboma. Matur nuwun awit kawigasanipun.
Banjaran Cerita Pandhawa (10)

Kelahiran Yudhisthira
sumber : tembi.org
Pertemuan di istana Ngastina, Pandhu dihadap oleh Dhestharata, Widura dan Patih Jayaprayitna. Mereka membicarakan kandungan Kunthi yang telah sampai bulan kelahirannya belum juga lahir. Tengah mereka berunding, Arya Prabu Rukma datang memberi tahu, bahwa negara Mandura akan diserang perajurit dari negara Garbasumandha. Raja Garbasumandha ingin merebut Dewi Maherah. Raja Basudewa minta bantuan. Arya Widura disuruh pergi ke Wukir Retawu dan ke Talkandha, supaya mohon doa restu demi kelahiran bayi. Raja Pandhu akan ke Mandura untuk membantu raja Basudewa dalam menahan serangan musuh.
Raja Pandhu menemui Dewi Kunthi yang sedang berbincang-bincang dengan Dewi Ambika, Dewi Ambiki dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang rencana kepergiannya ke Mandura, Pandhu lalu bersamadi. Kemudian berangkat ke Mandura bersama Arya Prabu Rukma, Dhestharata menunggu kerajaan Ngastina.
Yaksadarma raja Garbasumandha dihadap oleh Arya Endrakusuma, Patih Kaladruwendra, Togog, Sarawita dan Ditya Garbacaraka. Raja berkeinginan memperisteri Dewi Maherah isteri raja Mandura. Ditya Garbacaraka disuruh melamar, Togog menyertainya, Patih Kaladruwendra dan perajurit disuruh mengawal perjalanan mereka.
Perajurit Garbasumandha bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, tetapi perajurit Garbasumandha menyimpang jalan.
Banjaran Cerita Pandhawa (9)
Sumber : tembi.org

Srikandhi melatih prajurit (oil pada kanvas 120 cm x 80 cm, karya Herjaka HS 2009)
Serat Srikandhi Maguru Manah
Serat Srikandhi Maguru Manah karangan Raden Ngabehi Sindusastra (VBG XXXIII No. 167 Th.1874) dikarang dalam bentuk tembang Macapat, berisi cerita tentang perkawinan Arjuna dengan Srikandi. Isi pokok ceritanya adalah sebagai berikut :
Jungkungmardeya raja Paranggubarja mimpi bertemu dengan Srikandhi anak raja Cempala. Raja itu lalu menugaskan Patih Jayasudarga untuk menyampaikan surat lamaran kepada Durpada. Sang Raja menyetujui lamaran itu, tetapi Srikandhi tidak menerima lamaran tersebut. Kemudian Srikandi melarikan diri menuju Madukara, dengan dalih untuk berguru memanah. Namun senyatanya, Srikandhi minta perlindungan kepada Arjuna. Kepergian Srikandhi menyebabkan orang se istana kebingungan. Drupadi mencari Srikandi ke Madukara, untuk meminta kepada Srikandhi agar mau kembali ke istana.
Arjuna berhasil mengalahkan raja Jungkungmardeya dan prajuritnya. Demikian juga Arjuna harus mengusir Korawa yang ingin merebut Sumbadra yang akan dikawinkan dengan Burisrawa. Arjuna berhasil memperisteri Srikandhi, setelah Larasati mampu mengungguli kepandaian Srikandhi dalam hal berolah panah.
Cerita tokoh-tokoh Pandawa secara individu atau kelompok banyak didapat dalam beberapa naskah kumpulan cerita lakon, yaitu cerita prosa yang berisi kerangka cerita sebagai pegangan untuk pementasan pada layar oleh seorang dalang.
Cerita Kelahiran Pandhawa
Cerita kelahiran Pandhawa dimuat dalam kitab Adiparwa. Isi pokok cerita itu sebagai berikut:
Banjaran Cerita Pandhawa (8)
sumber : tembi.org
Kitab Jawa Baru
Sejak jaman kepujanggan Surakarta (abad 17-19) cerita pewayangan berkembang dan didukung oleh penulisan kitab-kitab berbahasa Jawa baru. Cerita yang dimuat dalam Jawa kuna menjadi sumber pengembangan dan sebagai bahan penciptaan cerita baru. Kitab-kitab yang berisi cerita pewayangan itu disusun dalam bentuk tembang, teks drama dan kerangka cerita lakon untuk pentas di layar putih atau kelir. Kitab-kitab atau naskah yang berisi cerita itu antara lain:
Serat Mintaraga
Serat Mintaraga karangan Sunan Paku Buwana III ditulis dalam bentuk tembang macapat pada tahun 1704 Jawa. Raden Ngabei Yasadipura I juga mengarang cerita Arjuna bertapa, dikenal dengan sebutan Serat Wiwaha Jarwa. Dr.M. Prijohoetomo mengarang cerita Mintaraga dalam bentuk prosa, berjudul Serat Mintaraga Gancaran (Prijohoetomo, BP. 1953) Isi pokok cerita Mintaraga yaitu sebagai berikut:
Bathara Indra berunding dengan para dewa.tentang rencana raja Niwatakawaca yang menggempur Indraloka. Bathara Indra menugaskan tujuh bidadari untuk menguji keteguhan tapa Arjuna, tetapi usaha mereka tidak berhasil. Kemudian Bathara Indra menyamar pendeta tua bernama Resi Padya, menemui Arjuna dan da bertanya tujuan tapa Arjuna. Sementara itu Niwatakawaca menyuruh Momongmurka untuk membunuh Arjuna. Momongmurka berubah menjadi babi hutan, dan ketika mengamuk babi hutan itu dibunuh oleh Arjuna dan Kirata. Kirata dan Arjuna berebut sebagai pembunuh babi hutan. Setelah berkelahi Kirata menampakkan diri sebagai dewa Siwah, lalu menganugerahkan panah Pasupati kepada Arjuna.

Di Benteng pertahanan yang terakhir, Niwatakawaca gugur terkena panah Pasupati yang dilepaskan Arjuna. Badannya hancur menyatu dengan kaki Gunung Sumeru. (karya: Herjaka HS)


