
Kali ini Saya sharing pagelaran wayang oleh almarhum dalang Ki Hadi Sugito dengan judul “Mbangun Taman Maerokoco”. Lakon ini adalah lakon pakem yang kalau di buku Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII ada di jilid ke XVI.


Kali ini Saya sharing pagelaran wayang oleh almarhum dalang Ki Hadi Sugito dengan judul “Mbangun Taman Maerokoco”. Lakon ini adalah lakon pakem yang kalau di buku Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII ada di jilid ke XVI.

Berikut adalah lakon oleh dalang Ki Enthus Susmono dari Tegal dengan mengambil lakon Bimo Kurdho atau Pandhu Swargo. Kisah tentang “pembangkangan” Pandawa terhadap Dewa yang “menyiksa” Pandu, ayah para Pandawa, setelah kematiannya.
Berikut saya kutip beritanya di malangraya
Gelar Wayang, Pandu Swargo Jadi Lakon
19 Oktober 2008
Peringatan HUT Kota Batu ke 7, Jumat (17/10) malam lalu disemarakkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran yang dihelat di pelataran Pendopo Pemkot Batu itu mendatangkan dalang Ki Enthus Suswono bersama Paguyuban Tari Satria Laras dari Tegal Jawa Tengah. Lakon yang dimainkan adalah Pandu Swargo.
Acara itu dihadiri ratusan warga Kota Batu termasuk Wali Kota Batu Eddy Rumpoko berserta istri Ny
Dewanti Rumpoko, Wawali HM Budiono, serta jajaran Muspida Kota Batu dan anggota Dewan. Hadir pula Ny Endang Imam Kabul isteri mendiang mantan Walikota Batu pertama Imam Kabul.
“Pagelaran ini untuk lebih mendekatkan warga Kota Batu dengan pejabat di jajaran Pemkota Batu dan anggota dewan. Karena acara ini murni kami persembahan untuk warga Kota Batu. Tidak lupa, dalam momen paling baik ini, secara khuhus kami mengucapkan penghargaan setinggi-tinggi kepada almarhum Walikota Imam Kabul sebagai tokoh berdirinya Kota Batu,” ujar Walkot, Eddy Rumpoko dalam sambutannya.
Sementara itu Ketua DPRD Kota Batu, Mashuri Abdul Rokhim mengulas banyak sejarah perjalanan Kota Batu. Mulai perjuangan ‘berpisah’ dari induknya Kabupaten Malang hingga memasuki usia tujuh tahun. Sebelumnya secara khusus Ki Enthus menghadiahkan tokoh pewayangan tertua Pandawa Lima, Puntodewo kepada Wali Kota Eddy Rumpoko dan Werkudoro kepada Wawali HM Budiono.
“Saya gambarkan Pak Eddy Rumpoko ini ibaratnya lakon Puntodewo yang tak banyak bicara dan menjadi tempatnya ‘berobat’ bagi mereka yang ingin sembuh dari segala macam penyakit kehidupan. Sedangkan Pak Budiono, ibarat Werkudoro, adalah dwi tunggal-nya wali kota yang terpisahkan dalam membangun Kota Batu,” ujar Ki Enthus.
Dalam kesempatan itu, secara khusus Eddy menyerahkan Gunungan kepada dalang asal Tegal tersebut. Disusul penyematan pin HUT Kota Batu ke 7 oleh Ny Dewanti Rumpoko kepada Ny. Endang Imam Kabul, Wali Kota, dan Dalang.
Lakon ‘Pandu Swargo’ diibaratkan sebuah lakon perjuangan warga Kota Batu berjuang dari bawah hingga berusia tujuh tahun seperti sekarang ini. Disebutkan lakon tersebut mengisahkan ketika Prabu Pandu ayah para Pandawa Lima yang bersikap lupa diri terhadap Dewi Madrim menuai amrah para Dewata.(nov/eno) (Muhaimin/malangpost)
Audionya dapat dinikmati disini, sengaja saya split per cd agar tidak terlalu besar ukuran filenya.
Semar Badranaya memanggil Cepot & Dawala untuk diberikan nasihat dan petuah. Sementara istrinya Sutiragen pergi ke Sekarnumbe bersama Gareng. Selain memberikan nasihat Semar juga bermaksud memberitahukan kepada Cepot & Dawala bahwa ia ingin beristri lagi dengan menikahi Dewi Nila Ningrum.
Ternyata dari pihak Kurawa, Aswatama putra satu-satunya Resi Drona juga ingin menikahi Dewi Nila Ningrum. Terjadilah perkelahian antara ayahanda Dewi Nila Ningrum dan Aswatama karena sang putri tidak bersedia dinikahi oleh Aswatama.
Bertemulah Gatotkaca dengan Cepot dan Dawala. Ternyata Gatotkaca juga diperintah oleh Yudistira untuk melamar Dewi Nila Ningrum agar dapat dinikahi oleh Yudistira.
Keadaan semakin kusut karena banyak yang ingin menikah dengan Dewi Nila Ningrum termasuk Semar dan Yudistira. Bagaimana kisah selanjutnya? Tidak lepas dari bodoran cepot dan buta khas Asep Sunandar Sunarya, VCD Dewi Nila Ningrum penuh dengan didikan, seru dan menghibur.
Sumber : http://www.kapalay.com/produkdetail.php?id=1004
“Cawokah” kamus LBSS mah hartina teh jorang, porno, resep nyebut kecap-kecap nu kudu dibalibirkeun jeung nyaritakeun sual nu matak ngahudang birahi. Arti sederhananya ya … suka ngomong atau bicara yang terkesan “menjurus” …
Dalam dunia lawakan kita, hal-hal seperti itu sudah menjadi suatu kebiasaan. Ngomong yang “menjurus” cenderung mengundang senyum dan tawa. Asal ngomongnya tidak terlalu vulgar dan kata-kata yang dipilih berbahasa halus dan cerdas maka humor demikian tidak ada salahnya.
Dawala adalah adik dari Cepot. Seperti diketahui bahwa di dunia pewayangan Sunda, anak semar ada tiga yaitu Cepot, Dawala dan Gareng. Gareng jarang dimainkan karena sering membantu emaknya, Sutiragen, di rumah :)
Bagaimana bila Dawala yang selama ini selalu menjadi punakawan sejati, tiba-tiba menjadi raja ?
Wayang kulit Jawa Tengah bersama dengan wayang golek menggelar lakon wayang dalam panggung yang sama ? Tentu akan menyajikan keunikan dan keramaian yang lain dari pada yang lain. Apalagi dalam pagelaran ini menampilkan dua dalang kondang dimasing-masing jenis wayang yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Asep Sunandar Sunarya dengan mengambil judul “Semar Gugat”.
Layak untuk dinikmati
Ini adalah kisah seorang ksatria turunan Pandawa yaitu Gatotkaca.
Dalam lakon Jabang Tutuka ini diceritakan proses dihidupkannya kembali Jabang Tutuka, yang mati oleh Naga Percona, menjadi seorang ksatria pinilih, Gatotkaca.
Dari mulai kekhawatiran para dewa karena kematian Jabang Tutuka, dimasukan ke kawah Candradimuka, diberi pakaian Kre Antakusuma, diberi berbagai nama oleh para dewa dan lain sebagainya menjadikan kita tahu bagaimana asal usul Gatotkaca menjadi punggawa sakti mandraguna.