Asep Sunandar Sunarya : Trijaya Sakti

Lakon ini menceritakan kisah Batara Kala yang mempunyai keiinginan untuk memakan manusia. Batara Guru sebagai raja para dewa berusaha untuk melarang namun tidak sanggup untuk menghalanginya. Hingga akhirnya Batara Kala mengamuk dan menduduki singgasana kursi kerajaan Batara Guru.
Di kisah ini juga dijelaskan bagaimana asal-usul ngaruwat (ruwatan) yang dijelaskan oleh Semar Badranaya.

Kemudian munculah Trijaya Sakti sebagai tokoh yang mampu menyelesaikan permasalahan ini. Siapakah Trijaya Sakti itu?

Silahkan menikmati audionya disini

Atau menikmati visualnya dengan download disini

s

Asep Sunandar Sunarya : Kumbakarna Gugur

Sebuah lakon Ramayana versi Wayang Golek oleh Ki Asep Sunandar Sunarya.

Menceritakan tentang gugurnya adik Rahwana, yaitu Kumbakarna, seorang raksasa yang sebenarnya berhati mulia. Kakaknya yang adalah raja Alengka, sudah acap diperingatkan akan tingkah polahnya yang sewenang-wenang. Keserakahan dan mau menang sendiri adalah memang watak Sang Rahwana. Puncaknya, saat Rahwana menculik Dewi Sinta, istri Rama, Kumbakarna sudah memperingatkan kakaknya akan bahaya yang ditimbulkan oleh tindakan bodoh itu. Rama adalah seorang raja sakti, titisan dewa wisnu.

Namun Rahwana tetap Rahwana, yang mana mau mendengar kata orang lain termasuk adiknya sendiri.

Hingga setelah perang berkobar dan satu per satu saudaranya gugur, Kumbakarna yang diminta untuk melawan pasukan Rama menjadi goyah. Gundah hatinya antara membantu kakaknya yang angkara atau antara kewajiban bela negara. Kegundahan hati yang akhirnya membawanya berperang setengah hati.

Audiofilenya dapat diunduh disini.

Bagi yang ingin menyaksikan videonya dapat diunduh disini (versi MP4)

Dapat juga di download di blognya Mifka.

Kidung Malam 47

Yamawidura selalu menasihati Kakaknya Destarastra peri hal pendidikan anak-anak Kurawa (karya Herjaka)

Purucona

Pesanggrahan Bale Sigala-gala yang indah megah, tak mampu bertahan lama dari amukan api. Purucona seorang undagi atau ahli bangunan terkemuka di Hastinapura. termasuk juga menjadi korban keganasan api. Ia dipaksa untuk menyulut Bale Sigala-gala yang ia bangun dengan bahan yang mudah terbakar. Ketika api mulai ganas menyala, Purucona dilemparkan ke dalam api oleh beberapa pengawal yang telah dipersiapkan. Sungguh malang nasibnya si Purucona. Ia sengaja dijadikan tumbal untuk rencana besar ini. Awal tragedi Purucona adalah ketika Patih Sengkuni menemui dirinya dan memerintahkan untuk membangun sebuah pesanggrahan yang indah menawan. Kepercayaan langsung dari Patih Hastinapura kepada dirinya membuat Purucona benar-benar merasa bangga dan gembira. Oleh karena kepercayaan yang diberikan kepadanya Purucona ingin menunjukkan bahwa dalam waktu yang relatif pendek ia mampu menciptakan sebuah karya bangunan yang indah.

Konsep bangunan pesanggrahan Bale Sigala-gala adalah ‘Pradah’ artinya ruang-ruang yang ada dibuat terbuka. Dengan desain yang sedemikian rupa Purucona menginginkan setiap ruangan yang ada mampu mempunyai daya undang bagi siapa saja untuk masuk. Setelah mereka masuk, mereka akan dimanjakan dengan ruangan yang nyaman, udara yang segar dan hidangan yang lezat. Sehingga semua orang yang datang, masuk ruangan dan menikmati hidangan yang disajikan akan menjadi lupa terhadap beban hidup yang berat.

Continue reading

Kidung Malam 46

karya Herjaka HS

Terowongan yang Menyelamatkan

Kunthi bersama lima anaknya telah masuk terowongan rahasia, menyusul peristiwa kebakaran hehat di Bale Sigala-gala. Namun pikiran dan hatinya masih tertinggal di ruangan tempat ke enam petapa tidur. Ia membayangkan bahwa keenam brahmana yang tidur nyenyak, tidak akan mampu menyelamatkan diri dari kepungan api yang merambat teramat cepat. Betapa dahsyatnya kebakaran itu. Hawa panasnya mampu menembus beberapa langkah dari mulut terowongan. Bima menggendong Nakula dan Sadewa berjalan paling belakang menyusuri terowongan, menjauhi pintu trowongan yang terasa semakin panas. Mereka mengikuti cahaya putih yang berjalan paling depan. Bima berusaha menenangkan Ibu dan saudara-saudaranya, terutama si kembar Nakula dan Sadewa yang menangis ketakutan.

Siapakah cahaya putih di depan itu? Dialah Kanana? abdi Paman Yamawidura yang ahli membuat terowongan? Pertanyaan Dewi Kunthi dan anak-anaknya rupanya tidak membutuhkan jawaban. Bagi mereka yang penting adalah bahwa cahaya putih itu akan menuntunnya keluar dari terowongan ini menuju tempat yang aman, jauh dari kobaran api Bale Sigala-gala, api yang dinyalakan dari kobaran hati yang penuh dendam dan kebencian.

Sebenarnya apa yang terjadi di Bale Sigala-gala? Bale artinya bangunan rumah, Gala adalah jabung. bahan yang bisa menjadi keras seperti semen, namun mudah terbakar. Itulah alasan Patih Sengkuni menggunakan jabung sebagai bahan utama untuk membuat bangunan. Ditambah lagi dengan tiang-tiang penyangga bangunan, yang telah diisi dengan sendawa dan gandarukem, bahan sejenis mesiu yang bisa meledak. Dengan demikian jadilah pesanggrahan “Bale Sigala-gala” yang siap dibakar dan diledakan. Sengkuni yakin, bahwa Bale Sigala-gala akan mampu mengubah tulang daging Kunthi dan Pandawa menjadi abu dan arang.

Purucona cepat bakar! bakar! Bakar!!! Perintah tersebut terdengar keras, namun walaupun begitu tidak ada seorang pun diantara Kunthi dan para Pandhawa yang bisa menyelamatkan diri keluar dari Bale Sigala-gala. Apalagi ruangan yang ditempati Kunti dan anak-anaknya telah dikancing dari luar. Sehingga dipastikan bahwa mereka terbakar di dalam ruangan.

Api berkobar ganas, disusul suara ledakan ledakan keras dari tiang-tiang bangunan yang diisi sendawa dan gandarukem. Malang bagi Purocana, undagi nomor satu di Hastinapura tersebut sengaja dijadikan tumbal untuk peristiwa Balesigala-gala ini Ia, setelah menyulut Bale Sigala-gala dilempar paksa ke dalam api oleh beberapa perajurit yang ditugaskan Senkuni. Karena jika tidak, dikhawatirkan Purucona akan membeberkan rekayasa kebakaran di Bale Sigala-gala.

Patih Sengkuni, Duryudana, Dursasana dan para Korawa yang lain, serta para perajurit dan pekerja pesta, dari kejauhan memandangi lidah-lidah api yang menimbulkan asap hitam pekat. Tanpa berkedip Patih Sengkuni memandangi Bale Sigala-Gala yang dibakar, untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun diantara Kunthi dan anak-anaknya menyelamatkan diri, keluar dari kobaran api. Artinya bahwa Kunthi dan ke lima anaknya hangus terbakar. Karena memang hanya tinggal enam orang yang masih berada di dalam bangunan Bale Sigala-gala, karena yang lainnya telah diajak keluar sebelum kebakaran terjadi. Yah tinggal enam orang. Kunthi, Puntadewa. Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Dan pasti tubuh mereka telah menjadi arang dan abu. Demikian pikir Sengkuni

Wajah Sengkuni dan warga Kurawa nampak lega dan senang. Karena dengan tewasnya para Pandawa, tidak ada lagi yang menghalangi Duryudana menduduki tahta Hastinapura.

Continue reading

Kidung Malam 45

Terowongan Rahasia

Suasana berangsur-angsur hening. Dentingan perkakas yang saling beradu diantara sendok dengan gelas, mangkuk dan piring, sudah tidak terjadi lagi. Para petugas yang mengontrtol makanan dan minuman sudah berhenti melakukan panambahan hidangan. Dikarenakan makanan memang masih cukup ada, masih cukup untuk tamu yang ada. Bahkan mereka mulai mencicil untuk menyingkirkan aneka perkakas yang sudah kotor oleh sisa-sisa makanan dan minuman. Bersamaan dengan itu, datanglah rombongan petapa yang sengaja mampir untuk meminta makanan. Jumlahnya enam orang lima orang putra dan satu orang putri. Kedatangannya disambut hangat oleh para Pandawa, mereka dipersilakan menikmati makanan yang masih terhidang dengan leluasa.

Sementara itu Sengkuni dan Duryudana dibuat geram. Warga Kurawa telah gagal melaksanakan tugasnya. Semula diharapan warga Kurawa ikut berpesta tersebut hanya untuk membuat suasana pesta meriah. Dengan berpura-pura ikut makan dan minum sebanyak-banyaknya, agar para Pandhawa terpancing untuk ikut makan dan minum sampai mabuk dan tak sadarkan diri, sehingga dengan mudah Sengkuni dapat melaksanakan rencananya yaitu membakar Bale Sigala-gala beserta Kunthi dan para Pandhawa

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Para warga Kurawa lah yang tidak dapat menahan diri. Mereka terlalu banyak makan dan minum sehingga menjadi mabuk Perilaku warga Kurawa tersebut secara tidak sadar telah menghambat rencananya sendiri, rencana warga Kurawa yang diprakarsai oleh Patih Sengkuni. Tentunya tidaklah mungkin untuk menunggu mereka yang mabuk sadar kembali. Sengkuni dan Duryudana harus berpacu dengan waktu. Jangan sampai fajar mulai merekah diufuk Timur, Bale-Sigala-gala masih utuh berdiri.

Maka dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Kunthi dan anak-anaknya, Duryudana dibantu oleh para hulubalang dan tenaga kasar yang lain, memapah keluar para pemabuk yang tak sadarkan diri. Setelah semua warga Kurawa dan beberapa orang yang mabuk di amankan di tempat yang jauh dari Bale Sigala-gala, Sengkuni mempersilakan Kunthi dan Nakula untuk beristirahat dan tidur di ruang yang telah disediakan, tepatnya di belakang ruang pesta, menyusul Bimasena, Arjuna dan Sadewa. Ketika Kunthi dan Nakula menuju ke ruang belakang, mereka melihat ke enam Petapa tidur nyenyak sekali di lantai, tidak seberapa jauh dengan pintu ruang belakang. Mereka sangat kecapaian. Dewi Kunthi menyapa lembut, dengan tanpa mengharap balasan. “Selamat malam sang petapa, selamat beristirahat dan sampai jumpa di esok hari.”

Continue reading

Kidung Malam 44

Detik-Detik menjelang Tragedi

Destarastra dan Gendari, tidak mampu mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus dengan baik (karya Herjaka HS)

Kicau burung bersautan di pagi itu. Langit Panggombakan biru cerah. Tak ada sedikit pun awan yang menggelantung. Kunthi dan anak-anaknya merasakan pula cerahnya hari itu. Secerah hati mereka yang tidak pernah terhalang awan dendam dan kebencian, kendati mereka menjadi sasaran irihati. Seperti yang terjadi belum lama ini, para Kurawa gagal membunuh Bimasena di hutan Pramanakoti. Dikarenakan dari pihak Pandawa mudah melupakan perbuatan jahat yang dilakukan Sengkuni dan para Kurawa maka Pandawa tidak menaruh curiga seikitpun atas undangan pesta di Bale Sigala-gala nanti sore. bahkan bagi Pandhawa kesempatan tersebut dapat menjadi sarana untuk merekatkan hubungan persaudaraan.

Lain yang dirasakan para Pandhawa, lain pula yang dirasakan Yama Widura. Sejak Kunthi dan para Pandhawa merencakan akan datang pesta memenuhi undangan warga Korawa di Bale Sigala-gala, Yama Widura, paman dari para Pandhawa itu gelisah. Semalaman ia tidak dapat tidur. Kidung mantra tulak bala, memohon keselamatan mengalun hingga tenggah malam. Sementara malam yang tersisa digunakan untuk berdoa di sanggar pamujan. Apa yang telah dilakukan Yama Widura, termasuk juga pembuatan terowongan yang dikerjakan oleh Kanana, adalah semata-mata demi keselamatan Kunti dan para Pandhawa.

Pagi itu, Yama Widura menerima Kunthi dan anak-anaknya yang hendak berpamitan pergi ke gunung Waranawata menghadiri undangan pesta di Bale Sigala-gala

“Kakang Mbok Kunti dan anak-anakku Pandawa, kemeriahan pesta dapat dengan mudah membuat orang lupa. Oleh karenanya jangan tinggalkan kewaspadaan. Bimasena engkau orang yang paling perkasa diantara Ibu dan saudara-saudaramu. Padamulah aku titipkan keselamatan Ibu dan saudara-saudaramu.”

Dihantar oleh tatapan cemas Yamawidura. Kunthi dan ke lima anaknya meninggalkan Panggombakan.

Continue reading

Kidung Malam 43

Bale Sigala-gala


Dalam rencana Bale Sigala-gala ini Drona yang menjadi guru besar warga Kurawa dan Pandawa tidak dilibatkan oleh Patih Sengkuni (karya Herjaka HS).

Di hadapan sang raja, Bimasena tidak mengisahkan peristiwa yang sebenarnya menimpa dirinya di kedung Sungai Gangga wilayah hutan Pramanakoti. Hal tersebut dilakukan semata-mata agar tidak ada dendam yang tersisa di hatinya. Ia teringat nasihat Naga Aryaka ”Bima, janganlah engkau membalas kejahatan saudara tuamu dengan kejahatan pula, karena hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Serahkan masalahmu kepada Sang Hyang Tunggal penguasa alam semesta. Serahkan kepada Dia perbuatan jahat Sengkuni dan Kurawa. Jika pun ada hukuman, biarlah Dia yang menghukumnya.” Dan Bimasena telah berjanji untuk mentaati nasihat Naga Aryaka, dewa penguasa sungai telah menolong, menyelamatkan dan bahkan memberikan anugerah Tirta Rasakundha kepada dirinya.

Prabu Destarastra tahu bahwa ada sesuatu kejadian buruk yang disembunyikan Bimasena, maka pada kesempatan lain Deatarastra memanggil beberapa orang terdekat tanpa kehadiran Bimasena dan saudara-saudaranya. Pada kesempatan tersebut, Sang Prabu Destarastra melampiaskan amarahnya kepada Sengkuni.

“Sengkuni, Sengkuni, sampai kapankah engkau akan mempermainkan aku? Berapa kali engkau telah meniupkan kabar bohong kepadaku yang adalah raja Hastinapura.”

“Ampun Sang Prabu Destarastra, waktu itu memang benar, saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa seusai pesta, mungkin karena saking banyaknya minum tuak, Bimasena jalan sempoyongan dan masuk ke kedung sungai Gangga. Para perajurit berjaga-jaga di pinggir sungai, dan siap menolong jika sewaktu-waktu Bimasena timbul dari kedung tersebut. Namun hingga sampai dengan hari ke tiga, anak ke dua dari Pandudewanata tersebut tidak muncul juga. Salahkah jika kemudian aku menyimpulkan bahwa Bimasena telah mati? Adakah seseorang yang mampu bertahan di dalam air selama tiga hari?”

“Sengkuni! Nyatanya engkau salah! Bimasena masih hidup!!!

Bentakan Destarastra membuat semua yang ada di pisowanan tersebut tertunduk diam. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan kata-kata. Destarastra sendiri nampaknya sudah tidak ingin lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan ia memberi isyarat kepada Gendari agar dituntunnya meninggalkan pisowanan terbatas.

Sengkuni semakin terbakar atas nasib baik yang dialami Bimasena. Api kebencian yang menyala-nyala di hati Sengkuni memang ingin sungguh-sungguh diwujudkan untuk membakar, tidak hanya Bimasena tetapi juga Kunti dan ke lima anaknya.

Continue reading