Sesaji Rajasurya yang dilakukan oleh Yudistira dan adik-adiknya Pandawa, menyisakan rasa iri dan sakit hati Duryudana yang juga diundang menghadirinya. Betapa dilihatnya bagaimana begitu megah dan mewahnya istana Indraprasta. Betapa iri hatinya manakala disaksikannya bahwa negri yang baru seumur jagung tadi, apalagi bila dibandingkan dengan Hastinapura, sudah mampu menyelenggarakan sesaji itu. Berarti apa ? Bahwa pandawa telah diakui oleh negri-negri lainnya sebagai kerajaan besar yang dipimpin oleh raja besar.
Betapa masih terbayang rasa malu Duryudana saat dia tercebur di kolam dalam istana yang disangkanya adalah lantai kemilau. Matanya begitu silau akan kemilau istana adiknya itu. Namun hatinya tertutup mendung kedengkian.
Hatinya kembali bertekad untuk menjerumuskan kembali Pandawa dalam jurang kenistaan. Tidak rela dirinya semasa menyaksikan Pandawa hidup dalam kegembiraan dan kemulyaan.
Lalu upaya apalagi yang dilakukan Duryudana untuk mewujudkan niat jahat itu.
Solusinya selalu ada dipikiran cerdik namun kotor Sengkuni.

Pingback: Wayang Kulit Ki Narto Sabdho « Listantoedy's Blog
ok