Berikut saya teruskan sedikit ulasan dari Pak Aris Samudrianto yang awalnya hadir di email saya, namun karena saya anggap layak untuk di publish dan dicermati bersama, maka kali ini saya sharing untuk kita bersama(sebelum inyong balik maning ke mbandung munggah sepur saka stasiun Tawang).
Selaku penggila wayang sedari kecil dan salah satu dalang yang digandrunginya adalah KNS, maka sedikit banyak pengetahuan wayang dan lakon yang dibawakan oleh KNS tentu beliau cukup detil mengetahuinya. Sedangkan dengan ditunjang pengalaman beliau di bidang media rekam merekam, sedikit ulasan tentang ripping semoga akan bermanfaat bagi kita semuanya.
Tulisan ini sudah diijinkan oleh pemiliknya, Pak Aris, untuk dipublish dengan harapan berguna bagi kita semua. Mudah-mudahan nantinya sesuai dengan yang saya minta via email, Pak Aris berkenan untuk memberikan pengetahuan dan pengalamannya terkait dengan wayang dan media lebih banyak lagi.
Matur nuwun
Berikut tulisannya :
__________________________________________________________________________
Terimakasih sudah diperkenankan mengunduh dengan bantuan kata kunci yang diberikan waktu lalu.
Tiga file sudah saya unduh, masing masing Kangsa Adu Jago, Pendawa Tyasa dan Pendawa Pitu.
Ketiganya dibawakan beliau dengan sastra pedalangan tingkat tinggi khas Nartosabdan dengan tata rekam seimbang antara vocal sang dalang, keprak, dhodhogan dan karawitannya. Sungguh detil garap tata suara pada jamannya, melebihi tata rekam salah satu dalang kondang saat ini yang pada umumnya lebih dominan suara kombangan dan teriakan sang dalang serta keprak dan gendangnya (kalau didengarkan seperti irama majruran/arab) karena audio level karawitan pengiringnya begitu lamat lamat.
Tidak demikian kualitas tata suara khas Condong Raos yang selalu terjaga tonal balance pada setiap rekamannya walaupun terdapat beda perekam, misalnya antara nuansa live show Singobarong dengan rekaman studio.
Kangsa Adu Jago, mempunyai kenangan masa kecil, ketika dengan susah payah mendengarkan siaran Radio Pertanian Wanacala-Surabaya di gelombang SW1 dengan suara yang sedikit fading karena jauhnya jarak dari Purwokerto ke Surabaya. Sekarang terlaksana sudah menikmati dengan level yang stabil, walaupun masih Mono, tetapi dimaklumi pasti saat itu rekaman masih pakai reel kaset dan siaran radionya pun tidak menuntut Stereo.
Sayang hasil ripping-nya sedikit over drive sehingga distorsi clipping terjadi saat amplitude bergejolak.
Pandawa Tyasa, saya tidak menyebut sebagai Pendadaran Siswa Sokalima, karena seingat saya, waktu itu paman saya mempunyai kaset tersebut dengan label Pandawa Tyasa dan dengan ngilernya saya ingin memutarnya waktu itu. Sekarang kembali lagi saya terlaksana menikmatinya dengan kualitas rekaman Stereo khas Singobarong, nuansa ruang Stereo live yang meriah . . . . . Satu lagi hal, perhatikan saat perang manyura, terlepas dari apakah beliau mengulur waktu sesuai ruang kaset, jarang terjadi Sang Maestro melakukan adegan perang dengan sebegitu lama terbawa dengan sorak sorai penonton . . .dramatis .. . . . , mengingatkan masa kecil kami ketika itu keranjingan menonton wayang.
Saat di awal, kembali hasil audio ripping overdrive terjadi, untung hanya sesaat, kemudian level-nya turun hingga ke tingkat sewajarnya.
Kebiasaan saya dalam mengunduh adalah mengambil file pertama dan terakhir dari satu folder lakon. Ketika file pertama dari Pendawa Pitu saya coba dengarkan, ada suatu diluar kebiasaan dari Ki Narto, jejeran menerapkan ayak-ayak Metaraman sementara intonasi terasa sangat ditekan, sanggit antawecana pun keluar dari rel pewayangan baku. Dari situ saya teruskan dan saya merasakan mood sang dalang rupanya sedang ON, alhasil, keriuhan suasana dan sastra pedalangan mbeling khas yang pada awal jamannya banyak dicerca merusak pakem, mengalir dengan meriah.
Sayangnya rekaman masih mono dan level balance sedikit tidak imbang. Distorsi clipping juga terjadi pada sepanjang pagelaran.
Perkenankan saya mengkritisi hasil upload pada umumnya, bukan karena usil, sudah dapat files gratisan kok masih minta lebih, tetapi ini lebih karena kecintaan saya terhadap WP yang Anda bina, barangkali sesedikit pengetahuan serta pengalaman yang saya peroleh dari perjalanan karir saya di bidang elektronika konsumsi khususnya dalam rekam merekan audio analog ketika saya nyantrik di beberapa perusahaan Jepang bisa memberikan sumbangan positif pada Wayang Prabu.
Memang bukanlah pada tempatnya untuk mengharapkan kualitas audio rekaman pita lawas memiliki bandwith yang lebar, sehingga semua komposisi deretan bebunyian mulai dari gong ageng yang pulen hingga denting siter yang renyah ter-reproduksi dengan lepas, rentang dinamika yang kuasa mewadahi suara bergeseknya sendok piring nayaga hingga hingar bingarnya srepeg seseg-nya gangsa yang menjadikan pagelaran menjadi dramatis, serta lebar ruang dan tegasnya pemisahan kanal yang mereproduksi real stereo sehingga suasana menjadi seakan akan kita hadir ditengah pagelaran. Bukan itu. Tetapi tujuan usil saya adalah memberikan usulan untuk perbaikan kedepan.
Lebar bandwith, rentang dinamika dan pemisahan kanal stereo setara Super Audio Compact Disc kualitasnya sudah tidak bisa dikejar karena dari sumbernya; audio pita analog tidak lagi dapat menyamai rekaman digital saat ini. Belum lagi tingginya level desah/noise, wow & flutter khas pita kaset, degradasi kuat pendaman gauss pita dsb.
Namun ada salah satu hal yang bisa sedikit membantu mutu upload dan reproduksi download adalah membuat audio tidak overdrive saat ripping.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa level audio yang di-sampling tidak harus powerfull, tetapi inti usaha ripping adalah menjaga agar level audio tidak “menyundul plafon” (baca: clipping, terpotongnya puncak amplitude), agar orisinalitas sumber signal tidak ter-distorsi. Jangan khawatir dengan kemungkinan munculnya noise baru karena kerjaan ripping yang tidak powerfull, karena proses ini relative tidak banyak lagi noise yang terbangkitkan, kecuali noise (serta clipping) dari sumber signal aslinya.
Boleh percaya, overdrive hanya akan mengakibatkan distorsi clipping meninggi hingga hasil akhirnya hanya suara yang rebek-sember, keprak yang seharusnya crèk jadi crk, kendang yang seharusnya dung menjadi duk dsb.
Singkatnya, jaga ripping agar level-nya tidak overdrive, supaya kemurnian/orisinalitas sumbernya terjaga. Jangan menambah distorsi pada kualitas audio yang awalnya sudah termakan usia.
Urusan powerfull adalah urusan amplifier.
Damn . . . !! Wong iki kok ngajari.
Ya ora lah . . . wong mung mbagi pengalaman koh, ora papa mbokan?
Muga muga sih ora apriori: “Isaku ripping kaya ngene, seneng ya sukur, ora seneng ya ora patheken.”. Aja kaya kuwe lah . . . .
Mergane ora ana wong maju anggere ora terus usaha memperbarui diri lan ngrungu usulan seka wong liya. Aja suwe suwe manggon neng comfort area, aja ngrasa yen aku wis tanpa tandhing, ketitik aku wis sinayudan dening sepadha competitor tanpa nggebug sarana peperangan.
Nggih napa nggih . . ??
Klilaaan . . . . . . . . . . . . .
(Ooollaaahhh . . . dadi Bawor maning)
A Samudrianto.
Wong mBanyumas.
d/h prc.eng@akira .co.id.








