Sesaji rajasuya

Sumber Gambar : http://i261.photobucket.com/albums/ii44/antadhanar/Jarasanda.jpg

Bila penderitaan dijalani dengan mengedepankan kesabaran dan kerja keras, kesuksesan tinggal menunggu waktu akan diperoleh.

Pandawa yang telah ditinggal oleh ayahnya, Pandu, kala masih kecil kemudian hanya diasuh oleh ibunda Kunti, telah mengalami banyak sekali godaan dan cobaan.

Masih terbayang bagaimana Bima, yang diakui oleh Kurawa sebagai tokoh terkuat Pandawa, pernah diracun hingga nyaris menemui ajal akibat ulah licik Duryudana dan adik-adiknya serta Sengkuni yang selalu berperan sebagai provokator dan dalang segala ulah durjana kurawa.

Pandawa tetap sabar.

Masih teringat tipu daya Kurawa yang seolah ingin memuliakan saudaranya Pandawa dengan menjamu di “istana kardus” pada peristiwa Bale sigala gala. Namun kemudian Pandawa sengaja di bakar untuk memusnahkan dari bumi ini.

Namun Pandawa tetap selamat dan kembali hanya mampu mengurut dada atas ulah Saudara-saudara tuanya itu.

Masih tertancap diingatan Bima, bagaimana setelah selamat dari kebakaran istana itu, Dia dan saudara-saudaranya serta ibunya tercinta, terlunta-lunta dari hutan ke hutan, dari satu negri ke negri lain untuk menghindari Kurawa. Hingga akhirnya sampai ke negri Ekacakra yang kemudian Bima harus melawan dan membunuh raja raksasa, Prabu baka, untuk menolong rakyat Ekacakra yang tertindas.

Bima dan saudara-saudaranya masih bisa tersenyum dalam penderitaan.

Masih diingat oleh Arjuna saat menyamar sebagai brahmana, dia mengikuti sayembara Raja negri Pancala, Prabu Drupada, memperebutkan putri nan rupawan Dewi Drupadi. Dan akhirnya sang Dewi menjadi istri terkasih kakak sulungnya Puntadewa.

Arjuna dan saudara-saudaranya masih bisa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Masih terngiang panggilan pakdhenya Destrarastra untuk kembali ke Astina dan diberi hutan Wanamarta yang angker dan masih belantara untuk dibangun menjadi ibu negri Amarta atau Indraprasta.

Kini istana itu megah berdiri. Istana yang dibangun dari cucuran keringat, buah kesabaran dalam derita dan sengsara dan doa-doa rakyat yang mencintai mereka.

Pandawa hanya bisa bersyukur atas limpahan berkah yang diterima.

Dan kini ada desakan dari para raja agar Puntadewa sebagai Raja Amarta untuk mengadakan sesaji rajasuya untuk mengucapkan syukur dengan mengundang 100 raja-raja dari berbagai negri.

Namun berdasarkan saran dari Prabu Kresna, masih ada ganjalan atas terselenggaranya sesaji itu yaitu Prabu Jarasanda dari Kerajaan Giribaya yang begitu rakus melahap negri-negri tetangganya untuk dikangkangi. Negri Giribaya adalah negri imperialis. Dan harus segera dibasmi.

Ikuti lakon Sesaji Rajasuya oleh Ki Nartosabdho

Parikesit Lahir

Perang Baratayudha usai sudah

Perang yang telah merengut ribuan prajurit-prajurit pilihan yang hanya mengikuti panggilan negara dan perintah senopati, menghadirkan penderitaan dan sengsara bagi semua.

Perang yang telah menghilangkan nyawa ratusan para satria pinunjul yang saling bertarung mempertahan harga diri dan mengumbar kedigdayaan, menyisakan perih dan duka yang dalam.

Perang yang mempertahankan sejengkal hak atas kepemilikan negara oleh para penguasa, begitu banyak mengorbankan jiwa, raga dan airmata bersimbah darah.

Perang yang mengatasnamakan perjuangan dan kebenaran, telah menghancurkan persaudaraan dan meluluhlantakan bangunan-bangunan kasih sayang.

Perang Baratayudha telah menguras habis airmata Kunthi. Perang itu semakin menyayat hatinya hingga terasa luka seperih-perihnya. Duka kembali mnyeruak manakala mengingat kembali pertarungan antara Karna dan Arjuna, dua orang putranya yang gagah rupawan. Dan seperti yang disaksikannya kemudian, salah satunya kemudian menuemui ajal ditangan yang lawannya. Hati ibu mana tiada perih menyaksikan perseteruan antara Saudara sendiri yang berujung pada ajal menjemput. Hati ibu mana yang tidak merintih, saat menerima kabar satu persatu anak-anaknya berguguran terbunuh.

Perang memang kejam. Dimana-mana tidak ada kebahagiaan yang tercipta dalam perang.

Begitu-pun para Pandawa. Meskipun kemenangan mereka genggam atas saudaranya Kurawa, namun sesudahnya hati tetap merana. Saat merunut kembali kisah masa lalu bersama para Saudara satu darahnya. Meskipun acap dan sepanjang hidupnya mereka selalu dizalimi, namun itulah yang mendewasakan mereka. Ibarat pupuk, semakin menyuburkan kebijaksanaan mereka dalam menyikapi hidup dan menjalaninya.

Namun semua telah terjadi, semua telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kehidupan harus berlanjut. Puing-puing berserakan harus ditata ulang tuk menjadi bangunan nan megah dan menyenangkan.

Hati-hati yang luka harus segera terobati. Jiwa-jiwa yang merana harus segera menemukan kesegaran. Dan hidup kemudian harus lebih baik.

Semangat itulah yang dihembuskan oleh Kresna dan Baladewa kepada para Pandawa dan keluarganya. Semangat tuk segera keluar dari rasa sesal dan menatap masa depan cemerlang. Semangat yang berlandaskan bahwa, segala kemuliaan butuh pengorbanan asalkan perjuangannya tetap berada dalam rel kebenaran.

Memang … mudah dikatakan namun sangat sulit untuk menerima kepahitan bila itu dirasakan sendiri. Arjuna, satria penengah Pandawa, kehilangan begitu banyak orang-orang terkasih. Salah satunya adalah putra kesayangannya, Abimanyu. Abimanyu tewas mengenaskan sementara istrinya, Dewi Utari tengah mengandung buah cintanya.

Ya … saat perang usai dan menimbulkan banyak persoalan baru, seorang bayi terlahir kedunia.

Parikesit Lahir oleh Ki Nartosabdho

Semar maneges

Jejer Amarta

Prabu Puntadewa, raja Amarta, yang didampingi oleh adik-adiknya yaitu Bima dan arjuna sedang menerima kunjungan Prabu Kresna raja Dwarawati dan Prabu Baladewa raja Mandura.

Setelah saling bersapa dan menanyakan kabar, kemudian Kresna bercerita bahwa dirinya bersama Baladewa statusnya sekarang adalah pengungsi. Lho kok ?

Dari cerita Kresna diketahui bahwa sekarang ini negri Dwarawati diduduki oleh Bambang Asmarasanto atau Prabu Asmarasanta dari negri Ngawiat. Dalam menduduki Dwarawati, Prabu Asmarasanto tidak menggunakan cara-cara layaknya satria yaitu mengirimkan surat tantangan. Penyerbuan dilakukan pada malam hari. Pada saat itu Kresna dan Baladewa, yang saat itu sedang mengunjungi Dwarawati, kalah bertanding dengan Prabu Asmarasanta.

Dan setelah kekalahan itu, tiada lain tujuan mereka adalah adik-adiknya para Pandawa di Amarta untuk minta pertolongan dalam mengusir dan memusnahkan Prabu Asmarasanta dari negri Dwarawati.

Dimintai pertolongan oleh Kresna, Puntadewa malah menangis. Ternyata berdasarkan tutur dari Puntadewa saat itupun Amarta tengah dilanda duka sehingga dia tidak bisa menolong Kresna. Setelah didesak oleh Kresna, Puntadewa mengabarkan bahwa Amarta berduka karena Semar mengalami sakit dan belum sembuh-sembuh.

Terjadi eyel-eyelan.

“Semar tuh cuman satu orang dan hanya seorang abdi, kalau dibandingkan dengan rakyat se Dwarawati, apakah Adi tega tidak membantu Kakang” sengit suara Kresna

“Kakang Krena tahu, bagaimana besar jasa dan pengabdian seorang Semar Badranaya terhadap Pandawa bahkan terhadap Kakang berdua. Alangkah tidak berbudinya saya kalau saya meninggalkan Semar dalam kondisi itu. Kami para Pandawa sungguh sangat sedih karena Beliau sedang sakit” pelan Puntadewa berujar.

“Bagaimana kalau satu bulan Semar belum sembuh?” tanya Kresna

“Saya tetap akan menunggunya”lirih Yudhistira

“Kalau satu tahun?”

“Saya tetap belum bisa membantu Kakang”

“Adi tuh gimana. Kakang hanya meminta bantuan ini saja Adi tidak menyanggupi. Ingat, berapa ratus kali Kakang ikut sibuk dan membantu kalian para Pandawa saat menghadapi kesulitan dimasa yang lampau. Ini namanya kalian menyepelekan Kakang!”

“Iya Adi, Kakangmu Kresna benar. Aku, Baladewa, dengan sangat juga meminta pertolonan dari kalian untuk membantu kami dalam memberantas musuh.”

Puntadewa tetap keras hati, tidak goyah.

“Perkataan seorang narendra tidak bisa berubah-ubah kakang”

Tiba-tiba Bima yang selama debat tadi hanya berdiam diri, kemudian ikut bicara

“Aku sanggup bantu kalian Jlitheng dan Bule Kakangku. Tidak usah minta ijin dari kakakku yang penakut itu. Ayo mari kita ke Dwarawati membasmi si Prabu siapa tadi”

Begitu kata terakhir Bima selesai, terlihat badan Puntadewa menggigil. Keringat sebesar kelereng mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Dan kemudian tiba-tiba Puntadewa jatuh dari singgasana dan kemudian pingsan.

Arjuna, Bima, Setyaki dan punggawa yang berada disekitar situ berteriak dan panik.

Bagaimana kelanjutan cerita ini ?

Silahkan Menikmatinya persembahan Singo Barong oleh Ki Nartosabdho

Rama Gandrung

Tanging jering angawe-awe kaya ngampirake tindaknyo sang satrio gung, raja putra ing Ngayodya, putra Sri Dasarata ingkang kekasih Raden Rama, yo Raden Regawa

Pranyata satria bagus tanpa cacat, cahya wening sumamburat katitik saka luhuring darajad

Lamun kadulu suwe-suwe tan prabeda kaya wujuding jimat

Akeh para manungsa-manungsa kang padha kepikat

Darbe niat supaya bisa lan sesandingan kalawan satria kang prabane kaya cahyaningrat

Denya kesah saking negari Ngayodya  dening sawargi ingkang rama pun atesan kawan welas warsa laminipun

Nedenge temanten enggal mila garwa tan purun pisah sarema anenggih raja putri ing Mantilidirja

Putrine Sri Janaka ingkang sesilih Rekyan Shinta

Wanodya sulistyo ing warna dasar pinter angedi busana ngadi sarira

Trusing driya hanguma larum ora jeneng mokal  denya anandang sungkawa nganti  jagat saisine datan kuwawa anampani sungkawane Dewi Shinta

Manuk-manuk kang padha mencok panging kayon pating caruwet ocehe

Parandene dupi mulat tindaknyo Dewi Shinta ceklakep kaya binungkem sami mandhap saking ngepang andekur

Yen manungsaa kaya sung pembage datheng rawuhe Sang Putri linangkung

Kali cilik kang padha mambeg sakala banyune kemricik ebahing toya labet denyo kepengin tumingal marang sulistyoning warni Dewi Shinta

Mina-mina alit kang mapan ana ing kono pating calunguk padha ngatonake sirahe awit denyo anginceng sarta anginjen nglirik namatake marang sulistaning Dewi Shinta

Padas turi padha ambrol

watu gedhe padha gathuk

watu cilik padha gathik

Upama wujude manungsa padha saur-sauran takon genti tinakon paran boyo wanita kuwi Konco

Benjang lakone ayo konco padha rinekso kahaywanane

Suket grinting kang wus aking karana dangu tan kejawahan

Parandene ketetesan kringeting Dewi Shinta saknalika subur semi angembruyung

Walang-walang kang padha mencok ing witing sidaguri padha mabur pating kleper angubengi lungguhane Dewi Shinta

Rama Gandrung bersama Ki Nartosabdo

Prabu Dewa Amral

Prabu Baladewa datang ke Dwarawati untuk memenuhi undangan adiknya Prabu Kresna. Ternyata Kresna hanya mengabarkan soal kekhawatirannya kepada Pandawa, terutama Puntadewa, terkait dengan penglihatan yang belum lama dialaminya.

Prabu Kresna antara tidur dan jaga “melihat” Puntadewa tengah naik kereta yang di tarik oleh 4 ekor kuda berwarna putih. Kereta berlari kencang lama-lama tidak kelihatan dalam pandangan Kresna. Prabu Kresna merasa penasaran dan kemudian mengikuti dan melacak laju kereta Puntadewa dengan menaiki kereta Jaladaranya.

Sesaat kemudian Kresna mengedipkan matanya lagi, dan dilihatnya Puntadewa berada dalam kepulan asap dan lama-lama hilang dari pandangan. Kresna mencari-carinya, namun tidak dijumpainya Puntadewa.

Prabu Kresna minta petunjuk kepada kakaknya untuk menafsirkan makna dari penglihatan itu.

Prabu Baladewa-pun mengkhawatirkan perlambang yang diterima adiknya itu dan menyatakan segera akan ke Amarta untuk mewartakan dan melihat keadaan adiknya para Pandawa.

Akan ada kejadian apakah di Amarta ?

Silahkan Menikmati disini

Rajamala

http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=11934

Rajamala ora bisa mati waton kena banyu

Rajamala kuwi anake pupon Resi Palasara, saka padhepokan Retawu, lan Dewi Durgandini, anake wadon Prabu Basukesti (raja negara Wirata).

Rajamala cinipta saka mala lelarane Dewi Durgandini utawa Dewi Lara Amis sing diemplok sawijining babon iwak.

Rajamala lair utawa cinipta bebarengan sedulure yakuwi Kecaka utawa Kencakarupa, Upakeca utawa Rupakeca, Setatama, Gandamana lan Dewi Ni Yutisnawati utawa Rekatawati. Rajamala uga duwe sedulur angkat, yakuwi Begawan Abiyasa (anake Resi Palasara lan Dewi Durgandini), Citragada lan Wicitrawirya (wayang sakloron iki anake Dewi Durgandini lan Sentanu, raja negara Astina).

Rajamala awatak atos atine, kendel, pengin menange dhewe lan tansah nuruti hardaning kanepson. Rajamala kondhang sekti mandraguna. Dheweke ora bakal mati angger isih kena banyu. Miturut pepesthene para dewa, mung ana limang satriya sing bisa ngalahake lan mateni Rajamala, yakuwi Resi Bisma, Adipati Karna, Resi Balarama utawa Baladewa, Duryudana lan Bima.

Ing pungkasan uripe, Rajamala nemahi pati ing sawijining paprangan, andon yuda, mungsuh Bima. Nalika kuwi Bima utawa Werkudara urip nyamar ing negara Wirata kanthi jatidhiri Balawa. Lakune Bima saengga nganti kasil mateni Rajamala kuwi kanggo males tumindake Rajamala sing wus nyecamah Salidri, yakuwi jeneng singlone Dewi Drupadi. ::Ichwan Prasetyo::

http://www.bausastra.com/main/index.php?do=view&id=121

Rajamala

Adalah tokoh wayang cerita Mahabarata, Rajamala adalah putra angkat Resi Palasara dari padepokan Retawu dengan Dewi Durgandini putri Prabu Basukesti raja negara Wirata. Ia tercipta dari mala penyakit Dewi Durgandini (Dewi Lara Amis) yang tertelan seekor ikan betina. Ia tercipta berbarengan dengan saudaranya yang lain bernama: Kecaka (Kencakarupa), Upakeca (Rupakenca), Setatama, Gandawana dan Dewi Ni Yutisnawati (Rekatawati).

Rajamala juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya yaitu: Bagawan Abiyasa putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawiya, keduanya putra Dewi Duragandini dengan Prabu Santanu raja negara Astina.

Rajamala berwatak keras hati, berani, ingin selalu menangnya sendiri dan selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, tidak bisa mati selama masih terkena air. Menurut ketentuan dewata, hanya ada lima orang satria yang dapat mengalahkan dan membunuh Rajamala, yaitu: Resi Bisma, Adipati Karna, Baladewa, Duryudana dan Bima.

Rajamala akhirnya tewas dalam peperangan melawan Bima yang waktu itu hidup menyamar di negara Wirata dengan nama Balawa, sebagai tindakan Rajamala yang ingin menjamah Salidri nama samaran Dewi Drupadi.

Dewi Sritanjung

http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=11911

Dewi Sritanjung senapati Astina

Dewi Sritanjung kuwi anake Nakula lan Dewi Srengganawati. Nakula kuwi warga Pandhawa kang dedunung ing Kasatriyan Sawojajar, ing negara Amarta. Dene Dewi Srengganawati kuwi anake wadon Resi Badawanangala, bulus raseksa sing dedunung ing Kali Wailu. Dene miturut Purwacarita, Badawanangala kuwi raja negara Gisiksamodra utawa Ekapratala.

Dewi Sritanjung duwe sedulur tunggal bapa beda biyung, yakuwi anake Dewi Sayati.

Jenenge sedulure Sritanjung yaiku Bambang Pramusinta lan Dewi Pramuwati. Praupane Dewi Sritanjung kondhang sulistya, watake pinter, lantip lan santosa jiwane.
Dheweke mujudake prajurit wanita sing sekti mandraguna lan tangguh tanggon. Piyandele arupa wasiyat wujud cupu isi banyu panguripan. Cupu kuwi paringane ibune. Dewi Sritanjung uga duwe aji pengasihan paringane simbahe.

Wiwit isih bayi Dewi Sritanjung digulawenthah dening simbahe, Resi Badawanangala ing Pertapan Wailu. Sawise perang Bharatayuda sirep Dewi Sritanjung mangkat tumuju negara Astina kanggo nggoleki sudarmane, ya Nakula.

Ing laku nuju Astina, Dewi Sritanjung ketemu Prabu Ajibarang, raja denawa saka negara Gowasiluman ing alas Tunggarana. Ajibarang kasil maeka Sritanjung lan wusana Sritanjung mbiyantu Ajibarang ngrabasa negara Astina.

Ing Astina, Sritanjung ketemu Bambang Widapaksa, sedulure nak sanak, anake Sadewa. Sritanjung lan Bambang Widapaksa sabanjure tembayatan mateni Prabu Ajibarang.
Dening wong tuwa sakloron, yakuwi Nakula lan Sadewa, Dewi Sritanjung dipacangake karo Bambang Widapaksa lan banjur dijodhokake. Sritanjung lan Bambang Widapaksa banjur diangkat dadi senapati Astina kabawah paprentahane Prabu Parikesit. ::Ichwan Prasetyo::

Sritanjung

Adalah tokoh wayang cerita Mahabarata, Dewi Sritanjung adalah putra Nakula dari kesatrian Sawojajar negara Amarta dengan Dewi Srengganawati putri Resi Badawanganala kura-kura raksasa yang tinggal di sungai (narmada) Wailu menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra (Ekapratala). Ia
mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu putra Dewi Sayati, masing-masing bernama: Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

Dewi Sritanjung berwajah sangat cantik, cerdas, pandai dan tahan uji. Ia merupakan prajurit wanita yang sangat sakti dan tangguh, serta mempunyai wasiat sebuah cupu berisi “air kehidupan (banyu panguripan)” atas pemberian ibunya dan aji pengasihan pemberian kakeknya. Sejak kecil Dewi Sritanjung tinggal bersama kakeknya Resi Badaqwanangala di pertapaan Wailu.

Setelah berakhirnya perang Baratayuda Dewi Sritanjung pergi ke negara Astina untuk mencari ayahnya. Di perjalanan ia bertemu dengan Prabu Ajibarang raja raksasa dari negara Gowasiluman di hutan Tunggarana yang berhasil menipunya dan diajak bersama-sama menyerang negara Astina.

Di negara Astina Dewi Sri Tanjung bertemu dengan Bambang Widapaksa saudara sepupunya putra Sadewa dengan Dewi Srengganawati. Mereka kemudian bersama-sama membunuh Prabu Ajibarang. Oleh ayah mereka. Nakula dan Sadewa Dewi Sri Tanjung dan Bambang Widapaksa kemudian diperjodohkan dan diangkat menjadi panglima-panglima Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit.

Sumber : http://www.bausastra.com/main/index.php?do=view&id=147

SANJAYA

http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=11865

Arya Sanjaya abdi kinasihe Drestarastra

Arya Sanjaya kuwi anake Arya Widura utawa Yamawidura lan Dewi Padmarini, anake wadon Prabu Dipacandra. Dene Arya Widura dhewe anake Prabu Kresnadwipayana utawa Begawan Abiyasa, raja negara Astina lan Dewi Ambiki utawa Ambalika.

Arya Sanjaya duwe sedulur tunggal bapa biyung sing jenenge Arya Yuyutsuh. Sanjaya dadi andele lan emban pribadine Dristarastra utawa Drestarastra jalaran saka dhawuhe bapake, yakuwi Arya Widura.

Nalika pecah perang Bharatayuda, Sanjaya didadekake sekti mandraguna dening Begawan Abiyasa. Pamrihe supaya Sanjaya bisa meruhi lakune perang Bharatayuda saka njero kraton tanpa kudu meruhi dhewe apa kang dumadi ing perang gedhen-gedhenan antarane kulawarga Pandhawa lan Kurawa kuwi.

Daya kasektene Sanjaya kang mangkene iki kanggo nuruti pepenginane Drestarastra sing wuta nanging pengin weruh lakune perang antarane anak-anake, kulawarga Kurawa, kalawan para Pandhawa.

Prabu Drestarastra lungguh ing dhampar keprabon lan Sanjaya lungguh sila ing jobin, nemplek ing dhampar keprabon sing ana ing njero karaton. Sanjaya ngeremake mripate lan banjur nyritakake kabeh kedadeyan ing perang Bharatayuda kanthi cetha ceples kedadeyan sanyatane.

Prabu Drestarastra ngrungokake kabeh andharane Sanjaya lan wola-wali luhe Drestarastra dleweran nalika krungu siji mbaka siji anake, kulawarga Kurawa, mati ing pabaratan jalaran mbela tumindak lan sikep sing nerak bebener.

Rina lan wengi Sanjaya tansah ngladeni kekarepane Drestarastra. Nalika Bharatayuda wus rampung lan negara Astina dikuwasani dening Pandhawa sing pancen duwe hak, Drestarastra banjur metu saka karaton Astina lan mlebu ing alas gedhe kanggo ngudi kamoksan kairing dening Sanjaya. ::Ichwan Prasetyo::

http://www.bausastra.com/main/index.php?do=view&id=134

Sanjaya

Adalah tokoh wayang cerita Mahabarata, Arya Sanjaya adalah putra Arya Widura (Yamawidura), putra Prabu Krisnadwipayana (Bagawan Abiyasa) raja negra Astina dari permaisuri Dewi Ambiki (Ambalika) dengan Dewi Padmarini putri Prabu Dipasandra. Ia
mempunyai adik kandung bernama Arya Yuyutsuh.

Sanjaya berwajah tampan. Ia mempunyai sifat dan perwatakan: jujur, setia, tekun dan teliti, sangat berbakti dan sangat patuh terhadap orang tua. Selain penyabar, Sanjaya juga pendai bercerita. Oleh ayahnya Sanjaya ditugaskan menjadi pengawal dan pengasuh pribadi Prabu Drestarasta, kakak ayahnya yang memiliki cacat buta kedua matanya sejak lahir.

Pada saat berlangsungnya perang Baratayuda, Sanjaya disaktikan oleh kakeknya Bagawan Abiyasa agar dapat melihat seluruh jalannya pertempuran yang berlangsung di Tegal Kurusetra dari dalam keraton Astina. Hanya dengan memejamkan matanya Sanjaya senantiasa memutarkan dan memaparkan seluruh kejadian di medan perang Baratayuda dengan jelas seperti peristiwanya kepada Prabu Drestarasta yang mendengarkannya dengan tekun dan sesekali menangis sedih bila ada putranya yang gugur.

Setelah parang Baratayuda selesai dan Astina jatuh ketangan Pandawa yang berhak, Sanjaya dengan setia mengikuti Prabu Drestarasta dan Dewi Gandari masuk ke hutan untuk mencari Moksa.