Berikut saya teruskan sharing dari Pak WADI Bandung yang berbagi koleksi Ki Enthus Susmono berjudul “Rama Tambak”.
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6778&Itemid=37
Wayang Kebangsaan di halaman Gubernuran Belajar bersatu lewat ’Rama Tambak’

KALAU saja tak ada Prabu Sugriwa dan Senopati Hanoman, Prabu Ramawijaya sudah pasti merasa putus asa. Negeri Alengka tempat isterinya, Dewi Sinta, disembunyikan Prabu Rahwana, berada di seberang lautan yang maha luas. Mustahil baginya untuk menyerang Alengka bila keadaannya demikian. Tetapi Prabu Sugriwa dan Senopati Hanoman tak habis akal. Dengan kuasa sebagai raja kera, jutaan kera-kera pasukannya diminta untuk mengumpulkan batu dan melemparkannya ke tepi lautan. Tujuannya satu, yaitu membuat bendungan besar sebagai jembatan menuju Negeri Alengka.
Bersatunya jutaan pasukan kera untuk menambak (membendung-red) samudera, ternyata membuahkan hasil yang manis. Pelan-pelan mulai terlihat sebuah jembatan memanjang yang mengarah ke negeri Alengka. Sesuatu yang semula terlihat mustahil untuk diatasi, ternyata bisa diselesaikan dengan persatuan dan kesatuan.
Begitulah gambaran cerita yang diangkat Ki Enthus Susmono, saat melakonkan cerita Rama Tambak, dalam Pergelaran Wayang Kebangsaan di Halaman Gubernuran Jateng, Sabtu (4/8) malam lalu. Dalam pergelaran itu hadir pula Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Suparno dan anggota DPR RI Sumaryoto.
Lakon Rama Tambak, bila dicermati secara lebih mendalam, merupakan sebuah lakon kiasan terhadap kondisi Indonesia dewasa ini. Sebagai negara besar, Indonesia tengah mengalami banyak konflik kebangsaan yang seakan-akan mustahil untuk diatasi. Kondisi-kondisi buruk seperti ini, seharusnya bisa ditangani dengan mudah, apabila seluruh rakyat Indonesia mau bersatu dan bergotong royong.
Penyadaran
Wayang Kebangsaan merupakan wayang yang diciptakan dengan tujuan penyadaran publik. Setiap kali digelar, wayang itu mengangkat tema-tema besar kebangsaan, yang bisa untuk membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia. Harapannya, melalui pergelaran Wayang Kebangsaan, bangsa Indonesia kembali teringat akan perjuangan para pahlawan, terutama untuk saat mereka menggalang persatuan yang kemudian menjadi negara Indonesia.
Sementara itu, dilihat dari sisi pamentasan, pergelaran wayang kulit yang dipertontonkan Ki Enthus Susmono, terbilang menarik dan sangat kreatif. Bukan hanya kreatif dalam membawakan lakon, tetapi kreatif pula dalam menyentil beberapa kebijakan pemerintah masa kini. Tak sekali dua kali dia mengkritisi kebijakan pemerintah dan wakil rakyat, yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat dan terlalu membebani. Continue reading






