Video Ki Sudir dan Ki Enthus

Video ini saya ambil dari koleksi http://www.youtube.com/user/RIANKLA. Tidak ada judul disana, namun dari jalan cerita yang ditampilkan lakon mengambil setting negri Maespati yang diakhiri dengan gugurnya patih Suwondo. Dalangnya adalah Ki Sudir (nama lengkapnya kurang tahu karena info yang diberikan tidak jelas). Ki Enthus hanya muncul di adegan gara-gara.

Silahkan download MP4-nya disini

KNS Udawa Sayembara

Lakon ini sudah perbah disharing di blog ini. Namun berdasarkan informasi dari Pak Santoso, pengirim koleksi ini, suaranya lebih jernih. Bagi yang mau download lagi lakon Udawa Sayembara untuk memperoleh kenikmatan suara yang lebih baik, silahkan download disini.

Koleksi Gambar KNS oleh Mas Imam Garut

Password silahkan dilihat di “Files” Milis Paguyuban, Password KNS 4Shared

Baratayuda [2] : Kresna Gugah (2)

By MasPatikrajaDewaku

Diceritakan, ketika itu di Kahyangan Jonggiri Kaelasa atau Jonggring Salaka, Batara Guru sedang bersidang menetapkan siapa saja yang masuk dalam agenda perang Baratayuda.

Batara Panyarikan dengan pena ditangan dan tinta dihadapannya menulis skenario apa yang dikatakan oleh Sang Jagad nata.

Telah ditulisnya sabda dari Batara Guru, dari awal skenario:

Raden Utara dan Salya bertanding , Utara terbunuh oleh Prabu Salya.

Raden Wratsangka bertanding dengan Resi Durna, Wratsangka  terbunuh oleh Resi Durna.

Raden Rukmarata terbunuh oleh panah Resi Seta.

Resi Bhisma perang tanding dengan Resi Seta dan  terbunuh oleh Resi Bhisma, dan seterusnya.

Ketika sampai pada kalimat Prabu Baladewa tanding dengan Antareja dan hendak ditulisnya kedalam daftar skenario, tumpahlah tinta dihadapan Batara Panyarikan ditabrak seekor kumbang penjelmaan Sang Sukma Wicara, sukma dari Batara Kresna yang sedang memata-matai bagaimana Baratayuda tergelar. Gagallah kalimat itu dituliskan.

Marahlah Sang Girinata, ditangkapnya kumbang itu, seketika berubah menjadi Sukma Wicara.

“Heh Kaki Kresna. . ! kenapa kamu sebagai  titahku menggagalkan usahaku dalam menulis naskah ini?” tanya Batara Guru.

“Duh Pukulun, jujur saja, rasa sayang hamba terhadap kakak kandung hamba Prabu Baladewa-lah yang menyebabkan hamba menggagalkan alur kejadian Baratayuda  itu. Bukanlah tandingannya bila kakak hamba diadu dengan Antareja”. Jawab Sukma Wicara.

Baik, adakah sesuatu yang dapat kamu berikan menjadi tetukar terhadap jalan cerita Baratayuda dan dapatkah kamu memberikan jalan cerita yang lain sehingga hal yang kamu tidak sukai itu dapat terhindar?” sahut Batara Guru.

“Pukulun, saya rela menukarnya dengan pusaka andalan hamba Kembang Wijayakusuma, sangatlah adil dan berharga nyawa kakak hamba bila dibandingkan dengan kembang yang merupakan penghidupan orang yang belum dalam pepasti akhir hidup, pukulun” demikian Sri Kresna menawarkan taruhan atas nyawa sang kakak dengan pusaka yang merupakan warisan dari Sang Guru, Resi Padmanaba.

“Dengan penyerahan ini Pukulun, maka dirasa akan fair-lah perang itu karena hamba tidak dapat lagi menghidupkan kawan yang telah terbunuh”. Tambah Sri Kresna seraya menghiba atas kearifan Sang Jagat Nata.

“Sedangkan bagaimana caranya agar kakak hamba Kakrasana agar tidak ikut dalam perang Baratayudha kelak serahkan kepada hamba” Kresna meneruskan.

http://202.138.226.22/file2/RagamdanUnsurSpiritualitas/SeratBharatayudha.jpg

Demikianlah, setelah barter terjadi dan Sukma Wicara telah diberitahu bagaimana jalan cerita dituliskan dalam Jitapsara maka pulanglah Sang Sukma kembali ke menuju raganya.

Diperjalanan ketemulah Sang Sukma Wicara dengan Sukma Langgeng.

Sukma Langgeng memaksa memberikan kitab skenario kepadanya, tetapi dijelaskan bahwa ini adalah rahasia para dewa dan iapun tidak diberikan kitabnya hanya diberitahu jalan ceritanya. Sukma Langgeng tidak percaya dengan keterangan itu, dan terjadi perkelahian diantara keduanya.

Gegerlah Jonggring Salaka oleh tanding seimbang dan tidak akan berkesudahan. Diutusnya Batara Naradda oleh Hyang Girinata untuk memisahkan keduanya.

“ Heh cucu-cucuku. . .!!, Berhentilah . . . !!, Tidak ada gunanya kalian berkelahi, segera masuklah kembali ke raga masing masing. Tugas suci sudah menunggu. Sukma Langgeng percayakan kepada Sukma Wicara yang kelak menjadi pengatur laku dalam peperangan besar nanti !!” Batara Naradda datang dengan memberikan penjelasan panjang lebar kepada Sukma Langgeng atas apa yang terjadi ketika Sukma Wicara menghadap di Kahyangan Jonggring Salaka.

Keduanya segera mematuhi titah sang Naradda, turun kembali ke arcapada masuk ke raga masing masing.

Gembiralah para Pandawa setelah menerima kesanggupan Sri Kresna untuk diboyong ke Wirata.

Continue reading

KNS Banjaran Bima

Lakon ini juga sudah perbah disharing di blog ini. Namun berdasarkan informasi dari Pak Santoso, pengirim koleksi ini, lebih lengkap daripada eksisting. Bagi yang mau download lagi lakon Banjaran Bima dari koleksi Pak Santoso silahkan download disini.

Koleksi Gambar KNS oleh Mas Imam Garut

Password silahkan dilihat di “Files” Milis Paguyuban, Password KNS 4Shared

KNS Wisanggeni Krama

Ini adalah kiriman dari Pak Santoso Bandung yang mempersembahkan lakon “Wisangggeni Krama” bersama sang maestros Ki Nartosabdho.

Lakon ini pernah dibawakan oleh KHS dengan judul Wisanggeni Rabi, juga oleh Ki Kondho Widodo dengan judul ‘Rabine Wisanggeni

 

Gambar KNS koleksi Mas Imam Garut

Silahkan download disini

Password silahkan dilihat di “Files” Milis Paguyuban, Password KNS 4Shared

Baratayuda [1] : Kresna Gugah (1)

By MasPatikrajaDewaku


Arjuna ingin mengetahui tujuan tapa Kresna (karya Herjaka HS)

Perang Baratayudha, atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah Barata, merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa dalam pewayangan, selain perang Pamuksa ketika Prabu Pandu menumpas pemberontakan Prabu Trembuku dari Pringgandani dan Perang Gojalisuta, perang saudara anak bapak, antara Prabu Bomantara alias Prabu Sitija, dengan Prabu Kresna dalam membela anaknya yang lainnya Samba Wisnubrata, serta perang Guntarayana ketika Sang Begawan Ciptaning menjadi sraya, atas serangan Raja Hima Imantaka, Prabu Niwatakawaca, yang hendak mempersunting primadona kahyangan Jonggring Salaka, Dewi Supraba.

Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi senapati, memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain meluwar janji yang pernah terucap.

Semua kejadian adalah bermula dari konflik keluarga keturunan langsung dari Resi Wiyasa Kresna Dwipayana.

Tiga orang puteranya: Drestarastra sang cacat netra sebagai anak sulung, Pandu Dewanata anak penengah dan Arya Yamawidura sebagai anak bungsu.

Ketika Prabu Wiyasa hendak menyerahkan tahta lengser keprabon Astina dan hendak menyucikan diri ke Sapta Arga, dipanggilnya ketiga puteranya. Dan dengan ikhlas disaksikan para saudara dekat termasuk Resi Bhisma atau Sang Jahnawisuta Dewabrata, yang secara garis adalah sebenarnya pewaris trah Barata, Drestarastra menyerahkan tahta haknya hingga ke anak cucu turunnya kepada adik penengah, Pandu Dewanata.

Sayang, atas kelicikan dan gosok kerti sampeka sang maha julig adik ipar Drestarastra, yaitu Arya Gendara Sangkuni, seratus anak Drestarastra, dikenal sebagai trah Kurawa, menjadi manusia-manusia bermoral buruk yang kurang tata krama.

Puntadewa, anak sulung trah Pandawa, anak Pandu yang telah mangkat, seorang yang tidak bisa berkata tidak, masuk dalam perangkap pokal akal-akalan Sengkuni dengan mengadakan permainan dadu.

Trah Pandawa yang telah mempunyai negara sendiri, hasil dari membuka hutan Wisaamerta, dan menjadikannya sebuah istana indah bernama Indraparahasta atau kerajaan Amarta, terpaksa kalah dalam olah permainan curang Sengkuni. Perjanjian telah disepakati, pihak kalah akan dibuang ke hutan Kamyaka selama 12 tahun dan melakukan penyamaran disuatu tempat selama setahun terakhir masa pembuangan. Bila penyamaran diketahui pihak Astina, maka pembuangan harus diulang selama waktu yang sama.

Tigabelas tahun hampir lewat. Ketika Astina kedatangan seorang raja seberang bernama Prabu Susarman, raja dari negara Trikarta. Bujuk rayu Susarman menghasilkan serbuan bermotif menggelar jajahan ke Negara Wirata, dan berakhir gagal.

***

Syahdan, dalam sidang agung Negara Astina, Sang Duryudana sangat jengkel ketika prajurit Astina kembali dengan tangan hampa ketika pulang dari Wirata dalam misi menaklukkan negara itu.

Continue reading

Koleksi KNS baru

Saya telah menerima 4 lakon Ki Nartosabdho baru dari Pak Santoso Bandung kemarin. Adapun lakon-lakonnya sbb:

  1. Banjaran Bima
  2. Banjaran Gatotkaca
  3. Udawa Sayembara
  4. Wisanggeni Krama

Lakon “Banjaran Bima” sudah ada sebelumnya di blog ini di list no. 39 Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima). Saya belum sempat bandingkan dengan yang lama namun seandainyapun sama dapat kita manfaatkan sebagai alternatif pilihan untuk memperoleh kualitas rekaman yang terbaik.

Mewakili pribadi dan para sutresna wayang lainnya, terutama penggemar Ki Nartosabdho, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sharing dari Pak Santoso ini. Semoga semua dapat berkenan.

Insya Allah secepatnya akan saya sharing.

Matur nuwun

Antara Kangsa dan putra-putra Mandura lainnya

Siapa sajakah Putra dari Raja Mandura, Prabu Basudewa ? dan sebutkan nama ibunya.

Ceritakan sekilas tentang KANGSA dan Arya UDAWA !


Jawaban Pak Baskara

1. Putera Raja Mandura:

-      Kakrasana (kelak bergelar Prabu Baladewa). ibunya Dewi Mahendra (nama lainnya Dewi Mahira, Dewi Maekah).

-      Narayana (kelaj bergelar Prabu Kresna), ibunya Dewi Mahendra

-      Lara Ireng (Dewi Sumbadra); ibunya Dewi Badrahini.

-      Arya Udawa; ibunya bernama Ken Sagupi, seniwati Mandura yang dikawini tidak resmi oleh Prabu Basudewa.

catatan:

-      Versi lain menyebut Arya Udawa adalah anak pasangan Kyai-Nyai Sagupi yang bermukim di Widarakandang. Selain Udawa, Kyai-Nyai Sagupi punya anak Dewi Larasati. Pada masa kecilnya, Kakrasana, Narayana, Lara Ireng, Udawa, Larasati, bersama-sama tinggal bersama Kyai-Nyai Sagupi di Widarakandang, dan mereka mengira sebagai anak Kyai-Nyai Sagupi.

-      Ada anak Dewi Mahendra yang lain bernama Kangsa, yang juga diakui sebagai anak Prabu Basudewa.

2. Riwayat singkat Kangsa dan Arya Udawa:

Continue reading