“Kontribusi” Kresna atas kemenangan Pandawa

Sungguh malang nasib Pandawa dan Drupadi. Mereka harus menjalani masa pembuangan 12 tahun dan masa penyamaran 1 tahun. Semua adalah akibat kalah dalam main dadu (lakon Pandawa Dadu). Permainan dadu terjadi atas ulah licik Sengkuni dan Duryudana yang memanfaatkan “kelemahan” Yudistira yang pantang menampik undangan dan membuat kecewa kawan atau saudara. Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur.

Saat Kresna kemudian berkunjung di hutan tempat pembuangan menemui Pandawa dan mencerna cerita serta tangisan Drupadi yang dipermalukan dan berusaha ditelanjangi di muka umum oleh Kurawa, maka dengan keras Kresna mengutuk perilaku para Kurawa dan bersumpah di perang Bharatayuda nanti dia akan berfihak kepada Pandawa dan membantunya dengan segenap kemampuannya.

Dan janji itu dipenuhi oleh Kresna saat perang Bharatayuda berlangsung. Kontribusi Kresna sangat besar dalam ikut membantu menyingkirkan Durna (lakon Durna Gugur), menghindakan Arjuna dari termakan sumpahnya sendiri saat menyaksikan anaknya Abimanyu gugur (Jayadrata gugur), pada saat Arjuna melawan Karna (Karna tanding), ketika Bima kewalahan untuk menaklukan Duryudana (Duryudana gugur).

Kontribusi macam apa yang diberikan oleh Kresna kepada Pandawa sehingga kemudian memperoleh kemenangan yang gemilang ?

http://singaraja.files.wordpress.com/2008/03/bg-krishna-instructs-arjuna.jpg

Jawaban Pak Baskara

A. Kontribusi Kresna membantu Pandawa hingga menang perang Bharatayudha:

1. Dalam lakon Durna gugur.

Ketika Durna maju sebagai panglima perang Kurawa, kesaktiannya tidak tertandingi oleh pihak Pandawa. Kelemahan Durna adalah kasih sayangnya kepada anaknya, Aswatama. Sebelum maju perang, dia berpesan supaya Aswatama tidak ikut terjun ke medan laga.
Mengetahui kelemahan ini, Prabu Kresna menyuruh Pandawa membunuh seekor gajah yang bernama Swatomo, kemudian balatentara Pandawa diminta bersorak-sorai: “Swatomo mati, swatomo gugur, swatomo gugur.”

Mendengar gegap-gempita itu, Durna keder hatinya, hilang semangatnya. Pendengarannya sudah agak berkurang, sehingga dikiranya yang mati anaknya. Tapi dia belum percaya sepenuhnya, hingga dia bertanya kepada seseorang yang tidak pernah bohong. Dia bertanya kepada muridnya yang dipercaya: “Yudistira muridku, kau tidak akan berbohong kepadaku. Benarkah Aswatama telah mati?”.

Yudistira, yang sesunggguhnya telah dibujuk Kresna agar sedikit berbohong, menjawab:”Ya guru, aku tidak membohongimu. Yang mati adalah “esti” Swatomo”. (Yudistira tidak mau berbohong).

Dalam pemahaman Durna, dia percaya, karena dia mendengar “Esti” sebagai “estu”, bahasa Jawa yang berarti “benar”. Sedangkan maksud Yudistira, “esti” maknanya “gajah”.

Runtuhlah semangat Durna, sehingga dia tidak ingin hidup lagi, dan memilih mati di medan laga, gugur sebagai ksatria. Akhirnya Durna yang sakti itu gugur di tangan Destrajumena.

(ada versi yang menceritakan bahwa Destrajumena menikam Durna dari belakang, sehingga berhasil menewaskannya).

2. Saat mendengar bahwa Abimanyu telah gugur dengan cara diranjap (dijebak Kurawa kemudian dikeroyok beramai-ramai), hancurlah hati Arjuna. Yang melancarkan serangan mematikan Abimayu adalah Jayadrata (sering disebut juga Jayajatra). Arjuna bersumpah, bahwa sebelum matahari terbenam, dia akan membunuh Jayadrata. Jika matahari terbenam dan Arjuna tidak berhasil membunuh Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri.

Continue reading

Kidung Malam 60

Kunthi menghibur Nakula dan Sadewa yang kelaparan (karya Herjaka HS)

Membalas Budi

Mendengar penuturan mimpi Rara Winihan, para bebahu desa Kabayakan tersebut mulai timbul keberaniannya. Mereka sepakat untuk tidak menyediakan korban bagi Prabu Baka. Rara Winihan menyarankan agar salah satu bebahu desa menghadap Resi Hijrapa di padepokan Giripurwa, untuk memohon agar Resi Hijrapa berani menolak korban untuk Prabu Baka. Dua orang bebahu desa segera berangkat menuju ke rumah Resi Hijrapa.

Kembali kepada Kunthi yang sedang menunggui anaknya Nakula dan Sadewa yang kelaparan. Hati Kunthi teriris-iris melihat Nakula dan Sadewa menangis kelaparan. Hingga terucap dalam bibirnya yang pecah dan kering. Jika pun aku harus mengiris dagingku demi untuk Nakula dan Sadewa, aku akan lakukan. Kunthi semakin gelisah menghadapi tangis Nakula dan Sadewa yang semakin serak. Walupun Kunthi sudah mengutus Bima dan Arjuna untuk mencari makan bagi si kembar, Kunthi masih berupaya untuk mendapatkan makanan secepatnya, agar tangis si kembar segera berhenti. Pada saat mengbibur si Kembar, Kunthi mendengar ada suara di dalam rumah yang sebelumnya dikira tidak berpenghuni.

“Puntadewa ke sinilah, rupanya ada orang sengaja bersembunyi di dalam rumah ini. Coba dengarlah baik-baik. Tidak salahkah pendengaranku bahwa ada beberapa orang sedang berbicara? Tolong Punta temui mereka, siapa tahu ada makanan yang dapat dibagikan untuk Nakula dan Sadewa. Puntadewa bergegas pergi menemui orang yang berdialog di rumah dalam. Kunthi tinggal sendirian menunggui anak kembarnya yang merengek menyedihkan. Tak lama kemudian Puntadewa datang dengan membawa sedikit makanan dan minuman. Makanan tersebut sedikit untuk ukuran orang dewasa, juga belum mencukupi untuk ukuran anak-anak. Namun makanan yang didapat dari pemilik rumah tersebut sungguh dapat menolong untuk sementara, sembari menunggu usaha Bima dan Arjuna.

Tak beberapa lama makanan yang sedikit itu segera habis. Nakula dan Sadewa masih lapar, namun sudah tidak menangis lagi. Kunthi sangat lega, ingin mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah yang telah menyambung nyawa anak kembarnya. Dengan membawa Nakula Sadewa dan diiringi Puntadewa, Kunthi menemui si pemilik rumah yang bernama Resi Hijrapa.

“Dengan apakah kami harus membalas? Jika tidak sekarang, nanti pasti aku balas kebaikan Sang Resi. Karena jika kebaikan itu tidak aku balas, aku seperti seorang pepriman yang kerjanya ke sana-ke mari hanya untuk minta-minta.

Resi Hijrapa tersenyum getir mendengar pernyataan Kunthi. Di jaman seperti ini, masih adakah seseorang yang merasa wajib untuk membalas budi? Tentu saja semua orang tua bisa berbicara seperti apa yang dikatakan oleh ibu setengah baya tersebut, atas nama kebaikan budi, manakala anaknya dibebaskan dari bahaya kelaparan, kesakitan atau pun kematian. Namun jika bahaya kematian masih mengacam anaknya, masihkah orang tua itu mampu berbicara tentang kebaikan budi? Jikapun pernyataan ibu setengah baya tersebut sungguh-sungguh, tidak sekedar basa-basi, apakah ia dapat gantian membebaskan anaknya dari bahaya kematian? Jika dapat, tentunya gantian aku yang mebicarakan tentang kebaikan budi.

Resi Hijrapa adalah pengasuh sebuah Padepokan yang berada di wilayah Giripurwa. Ia hidup bersama isteri dan tiga anaknya. Sebelumnya, rumah besar ini menjadi pusat kegiatan cantrik-cantriknya. Namun sayang, sekarang rumah besar tersebut menjadi tidak terurus. Tidak ada lagi cantrik yang datang. Tinggal Resi Hijrapa dan keluarga yang menunggui rumah itu. Itu pun bersembunyi di ruang paling dalam, takut jika diketahui oleh perajurit Ekacakra.

Kelemahan Resi Hijrapa itulah yang menyebabkan para cantrik-cantriknya tidak lagi berguru kepada Resi Hijrapa. Mereka kecewa kepada gurunya yang takut membela para korban kekejaman Prabu Baka. Bahkan ketika Resi Hijrapa pada gilirannya diharuskan mengorbankan salah satu anaknya untuk Prabu Baka, Resi Hijrapa tidak berani menolak. Maka kecuali keluarganya, hampir semua warga giripurwa termasuk cantrik-cantriknya mengungsi ke negara Pancalradya

Oleh karenanya kedatangan enam orang asing di rumahnya membuat hati Resi Hijrapa berkurang ketakuatannya. Mereka untuk sementara waktu boleh menempati di rumah depan. Kunthi mengucap terimakasih atas kebaikannnya.

Menjelang sore hari Arjuna datang dengan membawa dua bungkus nasi. Kunthi tidak berkenan dengan cerita Harjuna. Dua bungkus nasi ditolaknya, karena dua bungkus nasi tersebut didapatkannya dengan cara meminta belas kasihan dari seseorang? Aku tidak mau darah anakku akan mengalir darah seorang pepriman yang pekerjaannya meminta-minta. Harjuna diam, ia meletakan dua bungkus nasi tersebut di depan kaki Ibu Kunthi. Sebelum Kunthi mengambil tindakan mau diapakan nasi hasil dari minta-minta tersebut, Bima datang dengan membawa dua bungkus nasi. Kepada Ibu Kunthi, Bima bercerita tentang para pengungsi yang memberikan sebagian dari bekalnya karena telah ditolong dan diselamatkan. Kunthi menerima dua bungkus nasi dari tangan Bimasena.

Sementara itu hampir bersamaan Nakula dan Sadewa yang masih merasa lapar segera mengambil bungkusan nasi dan kemudian memakannya. Nakula mengambil bungkusan nasi yang dibawa Arjuna sedangkan Sadewa memakan nasi yang dibawa Bimasena. Kunthi membiarkannya nasi yang dibawa Arjuna dimakan oleh Nakula. Namun hal itu merupakan hutang budi kepada orang yang memberi. Dan tentunya ia akan beruasaha membalasnya seperti yang akan dilakukan kepada Resi Hijrapa

herjaka HS

http://tembi.org/

Kidung Malam 59

Warga desa Sendangkandayakan atau Kabayakan sangat beruntung mempunyai Ibu Lurah Rara Winihan, yang mampu membesarkan hati warganya disaat ketakutan menghantui setiap hati. (karya : Herjaka HS 2010)

Harapan Baru

Tidak seperti biasanya, pagi itu dusun kabayakan kelihatan masih sepi, khususnya di rumah kepala desa Kabayakan. Rara Winihan dan Lurah Sagotra belum bangun. Hanya ada dua orang sekabat atau pembantu Lurah yang sedang membersihkan meja kursi di pendapa. Baru setelah tabuh sepuluh, ada satu, dua orang yang mulai berdatangan untuk bertemu dengan Lurah Sagotra.

Sementara itu perjalanan Bima dalam mencari dua bungkus nasi untuk adiknya Sadewa dan Nakula bertemu dengan para pengungsi. Dari para pengungsi itulah Bima mendapat keterangan bahwa daerah ini masih dibawah kerajaan Manahilan atau kerajaan Ekacakra. Yang bertahta adalah seorang raja bertulang besar dan bergigi tajam, bernama Prabu Dawaka atau Prabu Baka. Pada setiap bulan sekali Prabu Baka meminta kepada rakyatnya untuk menghidangkan hidangan istimewa berupa ingkung manusia (daging manusia utuh) Tentu saja hal tersebut membuat rakyatnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Banyak diantara mereka yang secara diam-diam mengungsi ke negara Pancala untuk meminta perlindungan. Suasana di Ekacakra semakin sepi. Di sana-sini banyak dijumpai rumah tak berpenghuni. Mengetahui keadaan yang seperti itu, Prabu Baka marah-marah. Ia menyerukan agar semua penduduk tidak boleh meninggalkan negara Manahilan. Bagi yang melanggar perintah tersebut akibatnya akan lebih mengerikan.

Sejak diberlakukan aturan itu suasana tambah mencekam. Para warga semakin ketakutan. Mau meninggalkan Ekacakra takut jika ketahuan oleh para perajurit. Tetapi jika tetap tinggal di negara Ekacakra juga takut karena akan mendapat giliran korban keganasan raja. Pantas saja Desa-desa di seluruh pelosok negeri bagaikan desa mati, yang tidak mengungsi lebih memilih bersembunyi.

Para pengungsi yang ketemu Bima disore itu adalah mereka yang mengambil langkah untung-untungan. Dari pada tinggal di Ekacakra hidup dalam kecemasan terus-menerus, lebih baik segera meninggalkan negeri ini. Mereka mencari celah-celah yang kemungkinan besar dapat lolos dari penjagaan perajurit.

Namun ternyata para pengungsi yang ketemu Bima tersebut belum beruntung. Walaupun telah memperhitungkan waktu dan tempat dengan cermat untuk dapat lolos dari pantauan perajurit, ternyata meleset. Ditikungan desa para pengungsi dihadang oleh beberapa perajurit. Walaupun jumlah mereka tidak lebih banyak daripara pengungsi, mereka membawa senja lengkap yang siap merajam atau jika memungkinkan menangkapnya hidup-hidup untuk dipersembahkan kepada Prabu Dwaka

Melihat dan merasakan penindasan dan penderitaan sesama, naluri Bima tergugah. Sebelum para perajurit menyerang para pegungsi yang ketakutan. Bima lebih dahulu menerjang perajurit yang rata-rata berbadan besar dan bergigi tajam. Para perajurit sangat terkejut menghadapi keberanian Bima. Belum pernah rakyat di negeri ini mempunyai keberanian seperti Bima. Terjangan Bima yang menyeruak diantara para pengungsi membuyarkan para perajurit. Beberapa pengungsi yang bernyali menyaksikan sepak terjang Bima dengan penuh takjub. Sedangkan pengungsi yang lain lari bersembunyi. Bima tidak membutuhkan banyak waktu untuk melumpuhkan para perajurit Ekacakra. Tidak ada satu pun yang mampu mengimbangi kesaktian Bima. Belum sampai lecet kulitnya, merela lari ketakutan.

Para pengungsi yang menyaksikan kesaktian Bima bersorak gembira. Sementara pengungsi yang lain keluar dari persembunyiannya. Ucapan terimakasih terlontar tanpa disuruh dari mulut mereka. Wajahnya yang penuh dengan garis-garis ketakutan mulai terurai. Hampir bersamaan, para pengungsi yang telah berkumpul itu menghaturkan sembah kepada Bima.

“Ampun Raden, hamba semua ini orang bodoh, sehingga tidak tahu bahwa pada hari ini, desa kami telah kedatangan tamu istimewa yang akan mengentaskan kami dari rasa ketakutan yang berkepanjangan. Maafkan hamba Raden atas kesalahan kami. Bolehkan kami mengetahui siapa sesungguhnya Raden ini?”

“Namaku Bima. Aku adalah anak Prabu Pandudewanata yang nomor dua.”

“Ooo Raden Bima? Pantas saja mempunyai kesaktian yang luar biasa. Sekali lagi maafkan hamba yang tidak menghormat pada awal berjumpa. Sungguh kami tidak tahu sebelumnya bahwa Raden adalah salah satu pewaris tahta Hastinapura.”

“Sudahlah kami maafkan semuanya, namun jangan menghormatiku secara berlebihan seperti ini. Aku sampai ditempat ini sesungguhnya mencari dua bungkus nasi untuk adik saya yang lelaparan.”

Dengan senang hati para pengungsi tersebut berebut menawarkan sebagian bekalnya untuk adik Bima yang kelaparan.

“Dimanakah adik Raden Bima berada?”

“Diujung desa yang berbatasan dengan Gunung?”

“Ooo di Giripurwa. Apakah di rumah Resi Hijrapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi rumah itu kosong tidak berpenghuni.”

Setelah menerima dua bungkus nasi, Bima segera meninggalkan para pengungsi yang mengagumi Bima tak berkesudahan.

Setelah Bima jauh meninggalkannya, para pengungsi tersebut kembali menyadari bahwa jiwa mereka belum bebas sepenuhnya dari ancaman. Ketakutan mulai merambati lagi. Dikhawatirkan para perajurit yang dikalahkan Bima akan mengejar mereka dalam jumlah yang lebih besar. Maka lebih baik mereka tidak meneruskan perjalanannya mengungsi ke Negara Pancala, tetapi mengikuti Bima menuju ke Giripurwa.

Siang itu, pendapa Kabayakan mulai menggeliat. Rara Winihan mendahului suaminya, menemui para warga yang butuh pelayanannya. Para warga yang datang pada intinya menyatakan keprihatinannya bahwa pada minggu ini, desa Kabayakan mendapat giliran untuk menyediakan korban bagi Prabu Dwaka. Mendapat pengaduan itu Rara Winihan tidak memperlihatkan kecemasan. Wajahnya berseri, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang tipis merah.

“Para bebahu Desa yang aku banggakan. Jangan khawatir akan hal itu. Prabu Baka boleh saja mengirimkan hulu-balangnya ke desa kita untuk mengambil korban manusia, tetapi kita juga punya hak untuk tidak menyediakan baginya.”

Rara Winihan memberikan pengharapan, bahwa tidak lama lagi desa Kabayakan akan terbebas dari rasa cemas takut. Bahkan Desa ini akan mendapat anugerah yang begitu besar.

Tanda akan datangnya anugerah besar itu di sampaikan oleh Hyang Widi Wasa lewat mimpinya. Pada dini hari tadi, Rara Winihan bermimpi sedang melakukan perjalanan ke dusun-dusun, bersama Ki Lurah Sagotra, Para Bebahu, dan beberapa orang yang dituakan. Sesampainya di setiap dusun yang mereka kunjungi, para warga mengelu-elukan rombongan Lurah Sagotra. Suasana kunjungan tersebut mirip sebuah perjalanan pesiar. Diakhir perjalanannya, rombongan Lurah Sagotra memasuki jalur sungai. Keanehan terjadi, mereka berjalan diatas sungai dan kakinya tidak menyentuh air.

herjaka HS

http://tembi.org/

Kidung Malam 58

Setelah menunggu lebih dari satu tahun, Sagotra berhasil menyanding Winihan di kamar pengantin. karya Herjaka HS, Januari 2010

Malam Pertama

Ki Sagotra dan Rara Winihan tak pernah berkedhip memandangi Harjuna meninggalkan halaman rumah. Ketika Harjuna tidak kelihatan lagi, kedua pasang mata tersebut saling bertatap. Ada getar menyentuh kalbu. Oh betapa menjejukkan pandangan matamu kakang. kata Winihan dalam hati. Demikian pula Ki Lurah Sagotra pun merasa sesuatu yang istimewa. Mengapa tidak dari dahulu bola matamu kau biarkan telanjang dihadapanku? Keduanya menatap semakin dekat. Dan kemudian rara Winihan menempelkan badannya yang lunak dan hangat ke dalam pelukan Ki Lurah Sagotra. Keduanya berpelukan sangat erat, takut untuk berpisah. Mereka disadarkan, bahwa selama ini mereka telah menyia-nyiakan cinta yang dianugerahkan.

“Kakang aku mencintaimu”

“Winihan”

Cukup hanya menyebut namanya saja, setelah itu Sagotra tak kuasa meneruskan kata-katanya. Kebahagiaannya melebihi keindahan kata-kata. Pelukan isterinya yang pasrah, membuat Lurah muda itu terharu. Terharu karena dirinya mulai dipercaya oleh isterinya untuk menjadi pelindung keluarga yang menentramkan.

Senja mulai merambat malam. Bulan separo tanggal telah menggelantung di langit untuk menemani bintang-bintang yang bertaburan menghias langit. Lampu-lampu minyak dan lentera mulai dinyalakan. Baik di dalam rumah maupun di sudut halaman, untuk menyisihkan pekatnya malam.

Di rumah induk bagian tengah sebelah kanan, ada kamar yang disebutnya dengan kamar pengantin. Namun sejak diset pertama kali yaitu pada waktu Sagotra dan Winihan diresmikan sebagai suami isteri hingga sekarang kamar tersebut belum pernah dipakai. Namun walaupun begitu, kamar tersebut selalu harum semerbak, rapi dan bersih. Jika bunga yang ada mulai layu, akan segera diganti dengan yang baru. Setiap hari Sagotra memasuki kamar tersebut dengan tujuan untuk sebuah harapan. Harapan yang selalu dihidupi dan diperbaharui setiap hari. Harapan sebuah kepastian, bahwa pada saatnya nanti ia dan isterinya dapat mengfungsikan kamar pengantin tersebut sebagai mana mestinya.

Malam itu, hari yang ke 369 sejak pernikahannya, Sagotra dan Winihan beriringan memasuki kamar pengantin. Ada tanda-tanda bahwa harapan Sagotra akan segera terwujud. Harapan untuk mengfungsikan kamar pengantin benar-benar sebagai kamar pengantin. Setelah keduanya memasuki kamar, sebentar kemudian suara pintu berderit lembut, dan kamarpun tertutup rapi. Tidak ada lagi sarana yang dapat menggambarkan betapa nikmat dan mulianya malam itu. Malam pertama bagi pasangan Sagotra dan winihan.di kamar pengantin yang telah diset lebih dari setahun lalu. Dan kidung malam pun menggema di dasar sanubari kedua insan yang sedang memadu kasih.

bagaikan anak kidang
haus akan telaga.
entah berapa waktu dapat bertahan
jikalau tak mendapatkan
seteguk pelepas dahaga

beruntunglah ketika kekeringan
belum benar-benar kering
air mata masih menetes
dan cinta pun masih tersisa
langit bermurah hati
mengguyur segar lingga dan yoni
dewa dan dewi kesuburan berdendang suka
membaca mantra asmara

dhuh Gusti …
nikmat-Mu adalah abadi
mengabadikan
nikmat kami
malam ini
malam pertama

“Rara Winihan, apa yang engkau inginkan?

“Anak laki-laki yang gagah dan sakti Kakang?

“Mengapa tidak menginginkan anak perempuan yang cantik?

“Siapakah nanti yang akan melindungi?”

“Tentu saja aku “

“Sungguh Kakang? Jika yang mengancam Prabu Dwaka?”

“E .. e… e….

Mendengar nama Prabu Dwaka atau lebih sering disebut Prabu Baka, Ki Lurah desa Sagotra tersebut mendadak kelu lidah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Badannya menjadi semakin dingin ketika angin pagi yang membawa embun mulai membasahi genteng dan dinding rumah lurah desa Kabayakan. Sagotra menyesali, kenaapa pada saat-saat yang sangat membahagiakan ini tiba-tiba saja pembicaraan mereka meski sampai kepada nama Prabu Baka? Tidak saja bagi Sagotra, nama Prabu Baka adalah nama yang mampu membuat banyak orang ketakutan. Terutama bagi rakyat di seluruh wilyah negara Ekacakra, termasuk desa Kabayakan.

Prabu Dwaka atau Baka adalah raja yang berkuasa di negara Manahilan atau Ekacakra. Ia bertulang besar, berkekuatan seribu gajah dan saktimandraguna. Namun sayang kedahsyatannya sang raja tidak diperuntukan untuk mengayomi kawula, tetapi justru untuk menancapkan sifat arogansi yang tidak manusiawi demi untuk memuaskan nafsu pribadinya. Perlu diketahui bahwa Prabu Baka mempunyai kebiasaan yang mengerikan dan sekaligus menjijikkan. yaitu, setiap bulan tua ia meminta disediakan satu orang manusia untuk disantap. Kebiasaan itulah yang telah menebar rasa takut dan kengerian yang berlebihan bagi setiap rakyatnya. Namun karena dia raja yang berkuasa, kuat dan sakti, tidak ada yang berani menentangnya, termasuk juga Ki Lurah Sagotra.

Ketidak beranian Lurah Sagotra untuk melindungi warganya itulah yang menyebabkan Rara Winihan dan warga Desa Kabayakan kecewa. Padahal sebelum Sagotra dipilih menjadi Lurah, ia dengan lantang berjanji akan melindungi serta membela warganya dari berbagai ancaman bahaya, baik dari dalam maupun dari luar negara.

Namun setelah dipilih dan diangkat oleh penduduk menjadi lurah desa Kabayakan, Sagotra tidak menepati janji. Lurah Muda tersebut tidak berani melindungi salah satu warganya yang diambil paksa oleh utusan Prabu Baka untuk dijadikan korban. Yang lebih memukul warga kabayakan adalah bahwa pengambilan paksa tersebut dilakukan pada saat warga Desa Kabayakan sedang punya gawe, yaitu malam midodareni perkawinannya Lurah Muda Sagotra dengan Rara Winihan. Atas kejadian tersebut, warga Desa Kabayakan sangat kecewa dengan sikap Lurah Sagotra yang membiarkan salah satu warganya ditangkap diikat dan dimasukan ke dalam gerobag, untuk kemudian dibawa ke Ekacakra..

Sepeninggal utusan Prabu Baka, desa Kabayakan berkabung Rangkaian Upacara Perkawinan di rumah Rara Winihan tetap berlangsung, tetapi tidak ada suka cita di sana.. Rara Winihan yang mejadi pusat dan pelaku utama upacara perkawinan justru menunjukan wajah yang gelap dan sedih. Dibanding Sagotra, Rara Winihan lebih dapat merasakan jeritan ketakutan warga Kabayakan. Ia sangat kecewa mempunyai seorang Lurah yang tidak dapat dijadikan pelinndung warganya. Apalagi Lurah tersebut sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lalu bagaimana jika nantinya dirinya yang terancam? Apakah ia berani melindungi? Aku tidak mau mempunyai seorang suami penakut, tidak berani melindungi isterinya dan tidak peduli dengan rakyatnya.

Oleh karena kekecewaan Rara Winihan atas diri Lurah Sagotra, ia berjanji dalam hati, tidak mau menjadi isteri Sagotra jika Sagotra tidak dapat membuktikan bahwa ia adalah pelindung bagi isterinya dan rakyatnya. Walaupun waktu itu, Rara Winihan tetap diresmikan menjadi Isteri Sagotra, lebih dari setahun ia tidak mau melayani Sagotra sebagai suami. Beruntunglah pada hari ke 369 sejak ia menikah dan sejak tragedi di Kabayakan, pertolongan datang. Ada sebuah peristiwa yang menjadikan Sagotra berperan sebagai pelindung atas Rara Winihan yang ketakutan dibuntuti Harjuna. Dan buahnya adalah: Malam Pertama.

Herjaka HS

http://tembi.org/

Kidung Malam (57)

Mengetahui bahwa langkahnya diikuti seorang lelaki yang belum dikenal, Rara Winihan mempercepat langkahnya (karya Herjaka HS 2009)

Sagotra dan Rara Winihan

Harjuna sedikit lega, karena pada akhirnya ia mendapatkan seseorang di dusun yang sebelumnya dianggap tak berpenghuni. Dengan perasaan tidak sabar, Harjuna menunggu wanita yang sedang mengambil air, dan kemudian mengikutinya dari belakang. Mengetahui bahwa langkahnya diikuti seorang pria yang belum dikenal, wanita yang membawa kelenting dipinggangnya tersebut mempercepat langkahnya. Bagi Harjuna hal tersebut justru kebetulan, semakin cepat sampai di rumah akan semakin baik, karena dengan demikian, mudah-mudahan ada makanan di rumahnya dan sebagian boleh diminta untuk menolong adik kembarnya yang kelaparan.

Setengah berlari wanita yang berwajah manis tersebut menuju pada sebuah rumah yang cukup besar, halamannya luas dan tertata rapi. Sesampainya di depan rumah, dengan tergesa, wanita tersebut membuka pintu yang tidak dikunci, setelah meletakkan kelenthing penuh air di atas amben kayu, wanita tersebut segera memeluk lelaki usia tiga puluhan yang berdiri dibalik pintu.

Rumah besar tersebut adalah Rumah Ki Sagotra, Lurah Desa Sendangkandayakan atau lebih sering disebut desa Kabayakan. Ki Lurah Sagotra masih terhitung pengantin baru, karena belum ada satu tahun ia menikah dengan wanita muda berparas manis yang bernama Endang Sumekti atau Rara Winihan. Namun semenjak menjadi isteri Sagotra, Rara Winihan belum mau memadu asmara. Sagotra pantas prihatin dan bersedih atas sikap isterinya. Namun karena cintanya yang begitu besar kepada Rara Winihan, Sagotra selalu bersabar dalam kesetiaan.

Maka sungguh mengejutkan dan mengherankan ketika tiba-tiba saja, pulang dari mencari air, isterinya mendekap erat-erat dan menyembunyikan wajahnya yang manis kedalam dada Ki Sagotra. Tidak dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ki Sagotra pada saat itu. Karena selama ini, jangankan saling berpelukan, didekati saja isterinya selalu menghindar.

“Kakang tolonglah!, aku takut, aku dikejar-kejar seorang lelaki.”

Wanita muda berparas manis tersebut menempelkan wajahnya di dada laki-laki yang adalah suaminya. Jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Mendapat pengaduan dari isterinya, Ki Sagotra seakan-akan menampakkan kemarahan terhadap lelaki yang sudah berani mengganggu isterinya. Namun sesunguhnya dilubuk hatinya yang paling dalam Ki Sagotra justru berterimakasih kepada lelaki yang telah mengganggunta. Pasalnya gara-gara lelaki tersebut, isterinya mau memeluk dirinya untuk meminta perlindungan.

Dhuh Gusti, beginilah rasanya dipeluk isterinya, dijadikan tempat untuk mengadu dan dijadikan tumpuan perlindungan oleh isterinya. Isterinya yang selama ini tidak menghirauakan dirinya. Ki Sagotra memang ingin menemui lelaki yang telah berani membuntuti isterinya, tetapi tidak untuk memarahinya, melainkan justru ingin mengucapkan terimakasih. Karena secara tidak langsung lelaki tersebut telah membantu menyadarkan isterinya untuk menempatkan suaminya sebagai mana seharusnya.

Ki Sagotra mengelus rambut Rara Winihan dengan penuh cinta, sambil menenangkan hatinya, untuk kemudian keluar menuju ke halaman rumah. Baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumahnya, Ki Sagotra terkejut, lelaki yang mengganggu isterinya telah berdiri di halaman. Wajahnya amat tampan, walaupun memakai pakaian sederhana, kulitnya bersih dan bersinar. Seperti ada yang memerintahkan Ki Sagotra untuk menunduk hormat kepada lelaki tersebut. Dengan sikap bak seorang abdi kepada tuannya. Ki Sagotra bertanya mengenai nama, asal muasal dan keperluannya lelaki asing tersebut datang di Desa Kabayakan.

“Namaku Harjuna, anak Prabu Pandudewanata yang nomor tiga, aku datang tidak untuk mengganggu rumah tangga kalian, tetapi aku ingin memohon belaskasihan untuk mendapatkan dua bungkus nasi bagi adik kembarku yang kelaparan .

“Adhuh Raden, maafkan aku Lurah Sagotra dan isteriku Rara Winihan ini atas segala tindakan yang tidak pantas kami lakukan terhadap salah satu pewaris tahta Hastinapura.”

Ki Lurah Sagotra yang kemudian diikuti oleh Rara Winihan berjongkok dan menyembah Harjuna.

“Ki lurah Sagotra dan Rara Winihan jangan berlebihan memperlakukan aku, aku tidak membutuhkan perlakuan seperti itu, dua bungkus nasi bagiku sangat berarti untuk menolong saudara kembarku yang menangis kelaparan. Apakah kalian tidak keberatan memberikan dua bungkus nasi sekarang juga?”

“Jangankan hanya dua bungkus nasi, segerobakpun akan kami haturkan sebagai tanda bulu bekti kawula kepada raja.”

“Ki Sagotra, untuk sementara ini aku hanya membutuhkan dua bungkus nasi”

Ki Sagotra dan Rara Winihan segera menghaturkan dua bungkus nasi kepada Harjuna. Sebelum meninggalkan Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan, Harjuna berpesan bahwa sikap bakti antara kawula kepada rajanya tidak mengutamakan hasil bumi yang berupa makanan, melainkan hatilah yang diutamakan. Demikian pula seorang raja hendaknya juga berbakti kepada kawula denga hatinya. Artinya dengan seluruh akal budinya untuk menyejahterakan rakyatnya. Jika hati yang diutamakan niscaya, kesejahteraan yang berupa makanan dan hasil bmi bakal melimpah ruah.

“Jika demikian Raden, pada saatnya aku akan mengorbankan seluruh jiwa ragaku termasuk hatiku demi kejayaan junjungan kami, pewaris tahta Hastinapura yang sah.

“Terimakasih Sagotra, aku mohon pamit.”

Herjaka HS

http://tembi.org/

Kidung Malam 56

Perpisahan


Kunthi dan Pandhawa meninggalkan Saptapertala, Sadewa dan Nakula digendong Bimasena (karya Herjaka HS, 2009)

Kebahagian Bimasena juga menjadi kebahagiaan Puntadewa dan adik-adiknya. Tidak seperti yang dikhawatirkan Kunthi, bahwa Puntadewa sebagai saudara sulung akan merasa di langkahi oleh adiknya. Bimasena dan Dewi Nagagini menikmati masa bulan madu yang sungguh membahagiakan. Namun ada saat berjumpa dan ada saat berpisah. Waktu untuk menikmati sebuah kebahagiaan di dunia mana pun tidaklah abadi, bahkan dapat dikatakan terbatas. Demikian halnya dengan pasangan temanten baru Bimasena dan Nagagini

Mereka boleh puas menikmati waktu bercengkerama yang tidak genap satu tahun. Walaupun begitu, cinta diantara mereka telah membuahkan benih di rahim Dewi Nagagini. Berat rasanya untuk meninggalkan isterinya yang sedang hamil. Namun apaboleh buat tugas sebagai kesatria dan pelindung Ibu dan saudara-saudara berada di atas kepentingan pribadinya. Bahkan sebagai salah satu pewaris tahta Hastinapura, Bimasena bersama Pandhawa berkewajiban berjuang untuk mengembalikan kekuasaan yang sekarang dikuasai oleh warga Korawa. Bagi warga Pandhawa sesungguhnya bukan kekuasaan itu yang ingin dikuasai, melainkan sebagai bukti rasa baktinya kepada rakyat Hastinapura yang mempercayakan tahta Hastinapura kepada putra-putra Pandudewanata. Suara rakyat itulah yang menjadi energi perjuangan untuk meraih kekuasaan.

Dengan alasan itulah Sang Hyang Antaboga menyarankan agar Kunthi dan anak-anaknya, termasuk menantunya segera meninggalkan Kahyangan Saptapratala menuju Hastinapura, untuk menunaikan panggilannya sebagai pewaris tahta.

Pagi-pagi benar, Kunthi, Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa dan juga Kanana seorang abdi dari Panggomabakan ahli membuat terowongan meninggalkan Kahyangan Saptapertala. Perpisahan yang mengharukan antara Dewi Nagagini dan Bimasena tidak dapat dihindarkan. Namun diantara mereka ada janji untuk saling bertemu kembali agar cinta mereka berdua semakin sempurnya adanya.

Mereka diantar oleh Sang Hyang Antaboga dengan pethitnya atau ekornya. Dan tiba-tiba saja mereka telah berada dipermukaan bumi, yang dipanasi dan diterangi oleh matahari. Semakin lama bumi Saptapertala semakin jauh ditinggalkan. Kunthi dan Para Pandhawa menuju jalan ke Hastinapura sedangkan Kanana menuju ke Panggombakan.

Dikisahkan perjalanan Kunthi dan Pandhawa sampailah di sebuah desa yang sangat subur tanahnya. Tetapi ada keganjilan yang dirasakan. Banyaknya rumah kosong tanpa berpenghuni menimbulkan dugaan ada hal yang tidak beres di desa tersebut. Kunthi dan anak-anaknya beristirhat di salah satu rumah besar yang tidak terurus. Rumput liar di halaman depan dan samping rumah mulai tumbuh lebat. Herjuna mengelilingi rumah tersebut, siapa tahu ada orang yang bisa ditanya perihal desa tersebut. Namun tidak ada satu pun orang yang nampak disekitar rumah. Sadewa dan Nakula merengek minta makan. Kunthi kebingungan. Disuruhnya Bimasena dan Harjuna mencari makan di dusun sebelah yang berpenghuni.

Sepeninggal Bima dan Harjuna dari tempat itu, Kunthi memasang telinganya. Alisnya berkerut, menandakan ada sesuatu yang didengarnya.

“Puntadewa ke sinilah, rupanya ada orang di dalam rumah ini. Coba dengarlah baik-baik. Tidak salahkah pendengaranku bahwa ada beberapa orang sedang berbicara?

Puntadewa mengangguk, menggiyakan pendengaran sang ibu Kunthi, bahwasanya di rumah yang tidak terurus ini masih ada penghuninya.

Siapakah mereka dan apa yang mereka bicarakan? Kunthi dan Puntadewa memasang telinga di dinding bambu yang membujur ke belakang rumah.

Bima, sudah jauh meninggalkan tempat di mana Kunthi, Puntadewa dan kembar berada, tetapi belum juga menjumpai seseorang yang dapat dimintai makan untuk kembar adiknya

Sementara itu sudah beratus langkah Harjuna berjalan belum ada orang yang dijumpai. Harjuna semakin heran. Jika ada perang yang menyebabkan orang di desa ini mengungsi ke luar desa, nyatanya tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat perang. Lalu apa yang menyebabkan desa ini seperti mati? Belum lagi Harjuna memikirkan hal lain, tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda yang sedang mencari air di sendang.

Herjaka HS

http://tembi.org

Tokoh-tokoh “Netral”

Perang Bharatayuda adalah perang saudara antara keturunan Abiyasa yang melibatkan banyak negara-negara tetangga yang mendukung masing-masing jagoannya yaitu Pandawa atau Kurawa. Hampir semua negara di wilayah sekitar Astinapura dan Indraprasta melibatkan diri dalam peperangan dengan membawa pasukan-pasukannya dan dikomandoi oleh raja atau senapati sebagai pimpinan perang.

Namun ternyata ada beberapa raja atau tokoh suatu negara yang dtidak mau melibatkan diri dalam perang besar itu. Ada perbedaan alasan mengapa mereka bersikap “netral”. Siapakah mereka dan jelaskan alasan-alasan mereka sehingga tidak berpihak pada salah satu Pandawa atau Kurawa

Gambar : http://files.myopera.com/echa2268/albums/639558/Bharata%20Yudha.jpg 

Jawaban Pak Widji

1. Prabu Rukmi Raja Widarbo

Prabu Rukmi adalah kakak kandung dewi Rukmini (Istri Prabu Kresno). Keduanya adalah putera Prabu Bismoko yang gugur melawan Bomo Naroko Suro (Raja Trajutrisno) jauh hari sebelum perang Baratyuda. Setelah Prabu Bismoko gugur, Raden Rukmi yang menggantikan ayahnya menjadi raja Widarbo bergelar Prabu Rukmi.

Karena kesombongannya, Bantuan Prabu Rukmi dan bala tentaranya ditolak oleh Pandowo maupun Kurawa, sehingga Prabu Rukmi menyatakan netral dalam perang Barata Yuda.

2. Prabu Baladewa dari Mandura

Jauh-jauh hari, Prabu Baladewa selalu berusaha agar perang Baratayuda jangan sampai terjadi, karena Pandowo dan Kurawa masih bersaudara.

Sesuai kodrat bahwa perang Baratayuda harus terjadi yang bertujuan untuk memusnahkan angkara murka para Kurawa. Agar Prabu Baladewa tidak melihat adanya perang Baratayuda, Prabu Kresno mengatur siasat agar Prabu Bolodewo mau menghindar dengan cara bertapa. Siasatnya pada waktu perebutan untuk memboyong Prabu Kresno antara Pandowo dan Kurawa (Cerita Kresno Boyong), terjadi perang tanding antara Baladewa denga Bimo dan pada waktu Baladewa hendak membunuh Bimo dengan senjata nenggolonya, Bimo menghindar dan senjata nenggolo mengenai tanah dimana Prabu Kresno sengaja sedang ngumpet disekitarnya. Prabu Kresno berpura-pura jadi tanah dan berbicara dengan Prabu Baladewa, bahwa Kelak Prabu Baladewa akan dijepit BUMI SAPITU bila meninggal dunia, karena ulahnya telah membuat tanah yang tak berdosa menjadi bengkah (Berlubang besar). Akhirnya Baladewa mencari prabu Kresno untuk minta petunjuk agar terbebas dari jepitan bumi. Kemudian Prabu Kresno menyarankan agar bertapa rendam dalam sungai Bagi Ratri (Grojogan Sewu), dan akhirnya Prabu Baladewa setuju dan berucap tidak akan ikut campur dalam Baratayuda, tapi berpesan agar dapat melihat perang baratayuda walaupun sudah hampir selesai. Pada perang baratayuda hari ke-18, Prabu Baladewa dijemput Prabu Kresno untuk dapat menyaksikan perang tanding antara Bimo dan Duryudana, dan melihat bahwa prabu Duryudono gugur oleh Bimo.

Jawaban Pak Baskara:

Ada 2 orang raja yang bersifat netral dalam Perang Bharatayudha, yaitu:

a. Prabu Baladewa dari Mandura. Baladewa adalah abang Kresna, raja Dwarawati.

b. Arya Rukma dari Kumbina; dalam versi Mahabharata negaranya disebut Widharba. Arya Rukma punya adik bernama Dewi Rukmini, yang menjadi salah satu istri Prabu Kresna.

2. Alasan mengapa mereka tidak berpihak kepada Pandawa atau Kurawa.

Continue reading