Banjaran Cerita Pandhawa 38


Bima pada saat melakukan Babad Wanamarta dengan kesaktiannya.
(lukisan wayang Herjaka HS)

Babad Wanamarta

Prabu Matswapati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Seta, Untara, Wratsangka, Surata dan Patih Nirbita. Raja membicarakan rencana pemberian hutan Wanamarta kepada Pandhawa. Raja menyuruh Patih Nirbita supaya memberitahu kepada Bagawan Abyasa, bahwa Pandhawa akan diberi tanah Wanamarta. Sang Patih segera minta diri, berangkat ke Wukir Retawu. Perundingan selesai, raja Matswapati masuk ke istana menemui permaisuri dan Untari. Raja bercerita tentang rencana pemberian tanah kepada Pandhawa. Kemudian raja bersamadi.

Patih Nirbita berunding dengan Seta, Untara dan Wratsangka. Mereka hendak berangkat ke Wukir Retawu.

Prabu Kalasambawa raja Nuswakambangan menerima kedatangan Patih Saramba. Patih memberitahu tentang keturunan Parasara yang pernah membunuh ayah raja. Patih mengusulkan agar keturunan Parasara yang sedang mendirikan Negara di Wanamarta dibunuhnya. Raja menyetujui, sang Patih disuruh mengangkat utusan para ditya yang hebat. Setelah siap mereka berangkat ke Wanamarta. Diperjalanan barisan raksasa Nuswakambangan bertemu dengan barisan Wiratha. Pertempuran tidak dapat dihindarkan, masing-masing menyimpang jalan.

Bagawan Abyasa dihadap oleh Yudisthira, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sang Bagawan membicarakan Bima yang akan membuka hutan Wanamarta. Arjuna disuruh membantunya. Arjuna minta diri, para panakawan mengikutinya.

Sepeninggal Arjuna dari Wukir Retawu, datanglah Patih Nirbita dan Seta. Mereka berdua memberitahu rencana raja Wiratha yang akan memberi anugerah hutan Wanamarta kepada Pandhawa. Bagawan Abyasa mengucap terimakasih. Patih Nirbita dan Seta minta diri.

Perjalanan Arjuna di tengah hutan dihadang oleh barisan raksasa. Terjadilah perkelahian, para raksasa mati oleh Arjuna.

Kombang Aliali yang tinggal di Randu Gumbala mendapat ilham supaya bersekutu dengan Arjuna. Ia bersama raja raksasa masuk ke hutan Wanamarta.

Raja raksasa bertemu dengan Bima, terjadilah perselisihan. Raja raksasa sewaktu akan dibunuh tiba-tiba musnah, bersatu dengan Bima.

Arjuna dikeroyok oleh jin anak-anak Kombang Aliali. Jin diusir oleh Arjuna. Kombang Aliali ingin bersatu dengan Arjuna. Arjuna menolak, sebab tidak mungkin terlaksana.

Sang Hyang Narada datang, Kombang Aliali disuruh merasuk kepada Arjuna. Setelah dirasuki Kombang Aliali, Arjuna bertambah sakti. Sang Hyang Narada minta agar Arjuna mau menggunakan nama Kombang Aliali, kemudian Sang Hyang Narada kembali ke Kahyangan.

Partawati anak Prabu Partakusuma raja Cintakapura bercerita tentang mimpinya kepada ayahnya. Ia bermimpi kawin dengan Arjuna. Lalu minta dicarikan kesatria Arjuna itu. Prabu Partakusuma menyanggupina, lalu pergi mencarinya.

Prabu Partakusuma berjumpa Arjuna bersama panakawan. Raja jin itu minta agar Arjuna mau diambil menjadi menantu. Arjuna marah, dengan geram mengusir raja jin itu. Raja jin yang sakti berhasil memboyong Arjuna, lalu dipertemukan dengan Partawati. Arjuna tertarik, lalu bersedia memperisteri Partawati.

Prabu Partakusuma ingin melihat keris Pulanggeni, pusaka milik Arjuna. Arjuna memberinya. Prabu Partakusuma bunuh diri dengan keris Pulanggeni, seketika musnah, bersatu dengan Arjuna. Sejak itu Arjuna menggunakan nama sebutan Parta.

Prabu Matswapati bercakap-cakap dengan Seta, Untara dan Wratsangka tentang Negara Ngamarta yang telah selesai dibangun oleh Pandhawa. Raja akan berkunjung ke Ngamarta.

Prabu Kalasambawa menanti kedatangan utusan yang disuruh ke hutan Wanamarta. Tiba-tiba Togog datang, memberitahu tentang kematian para utusan. Raja marah, lalu pergi menyerang Ngamarta bersama perajuritnya.

Bagawan Abyasa datang di Ngamarta, kemudian datang pula raja Matswapati. Warga Pandhawa dan Wiratha lengkap hadir di Ngamarta. Prabu Matswapati mewisuda Yudisthira menjadi raja di Ngamarta.

Patih Nirbita datang memberitahu, bahwa ada musuh datang menyerang kerajaan Ngamarta. Bima dan Arjuna ditugaskan melawan kedatangan musuh. Raja Kalasambawa dan perajurit raksasa musnah karena amukan Bima dan Arjuna. Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram.

Pesta besar di kerajaan Ngamarta, dihadiri oleh keluarga Pandhawa dan Wiratha.

R.S. Subalidinata.
Sumber: (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 3-9)

Kidung Malam 73


Arimbi yang sudah berubah berparas cantik menghaturkan sembah kepada Bima
(karya herjaka HS)

Arimba Gugur

Perang tanding antara Prabu Arimba dan Bimasena tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan perang tanding sebelumnya. Ketika Prabu Arimba mulai mengetrapkan ajian andalanya yang dapat menyedot tenaga lawan, maka kekuatan Bimasena susut dengan cepat. Tidak hanya itu, selain dapat menyedot tenaga lawan, ajian andalan Prabu Arimba menjadikan kulitnya alot seperti janget, tidak luka oleh segala macam senjata tajam, termasuk juga kuku Pancanaka.

Bima menyadari bahwa lawannya mulai mengetrapkan ajian andalannya, yang dapat mencuri tenaga lawan dengan tidak diketahui dan dirasakan oleh lawannya. Dua kali Bima menjadi korban ajian tersebut, sehingga ia kehabisan tenaga di peperangan. Untunglah, pada saat itu Arimba tidak mengabiskan Bima pada saat Bima tak berdaya. Namun untuk perang tanding yang ke tiga ini, jauh berbeda dengan perang tanding sebelumnya. Prabu Arimba tidak lagi menampakkan sifat kesatrianya, tetapi menonjolkan naluri raksasa yang ganas. Sepak terjangnya tidak lagi tenang dan mantap, tetapi kasar dan nagwur. Maka jika kali ini Bima sampai kehabisan tenaga di peperangan, pastilah Arimba akan melumatkannya. Bima tidak mau jatuh di peperangan melawan Arimba untuk ke tiga kalinya. Oleh karenanya Bima telah mempelajari bagaimana cara menghadapi ilmu andalan Prabu Arimba, yaitu dengan mengurangi sentuhan langsung dengan badan Arimba. Terlebih pada saat mengeluarkan tenaga besar, karena tenaga yang akan tersedot juga besar.

Selain mengurangi benturan langsung, Bima mengetrapkan ajian Angkusprana, angkus artinya kait dan prana artinya nafas atau angin. Dengan mengetrapkan aji angkusprana, Bima dapat mengkait dan menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin yang dihimpun menjadi satu, membuat tenaga Bima mampu bertahan dan mengimbangi aji andalan Arimba. Sehingga perang tanding semakin panjang dan rame. Namun satu hal yang menggelisahkan Bima, bahwa Prabu Arimba tidak dapat luka oleh kuku pusaka Bimasena.

Menjelang tengah hari, Prabu Arimba meningkatkan serangannya dan sangat berambisi untuk segera menghabisi Bima. Bima kesulitan membendung serangannya dan mulai terdesak. Hantaman, tendangan dan gigitan acap kali menghampiri tubuh Bima. Hingga pada akhirnya Prabu Arimba berhasil menguasai Bimasena. Pada saat Bima akan dihabisi, tepat matahari bertahta pada puncaknya, Arimbi berteriak nyaring

“Bima! Tusuk pusarnya!!”

Keduanya sama-sama terkejut. Arimba memandang adiknya dengan ekspresi kemarahan. Jahanam Arimbi! engkau bocorkan titik kelemahanku. Sehabis hatinya mengumpat adiknya, Arimba memandang ke langit, kearah matahari yang persis berada di atas kepalanya. Pada saat itulah, Bima yang berada dalam cengkeramannya memanfaatkan kesempatan. Kuku ditangan Bima modot, muncul keluar dan segeralah ditusukkan di pusar Arimba. Raja raksasa sebesar anak gunung menggerang keras.. Bima kemudian menarik kukunya dan menjauhi lawannya.

Pusar Arimba menganga karena luka. Ia berjalan sempoyongan mendekati Arimbi adiknya. Bumi bergetar-getar karena langkahnya yang berat. Arimbi sangat kecemasan. Ia menanti dan pasrah apa yang akan dilakukan kakaknya, untuk menebus kesalahannya. Kunthi juga mencemaskan keselamatan Arimbi dan memberi isyarat kepada Arjuna untuk waspada. Semua mata tertuju kepada Arimba yang semakin gontai mendekati Arimbi.

Ketika tepat berada di depan Arimbi, raja Raksasa yang tinggi besar tersebut jatuh bertumpu pada dua tangan dan lututnya. Dugaan mereka yang mengamati peristiwa itu meleset. Prabu Arimba tidak menumpahkan kemarahannya kepada Arimbi. Dengan nada berat dan patah-patah ia berpesan kepada Arimbi, untuk menitipkan Negara Pringgandani dan merestui hubungannya dengan Bima yang sakti perkasa dan kesatria.

Tangis Arimbi memecah hutan Waranawata, mengiring gugurnya Kakanda Prabu Arimba, pengganti orang tuanya yang ia hormati dan cintai. Arimbi sangat bersedih, dirinya merasa berdosa, atas kepergian Kakanda Arimba ke alam keabadian

Siang hari itu, di saat matahari sedikit bergeser dari puncaknya, para pengawal Pringgandani membawa pulang rajanya yang sudah tidak bernyawa. Mereka tidak berani mengganggu Arimbi yang telah diwarisi kekuasaan Negara Pringgandani secara lesan oleh Prabu Arimba.

Sepeninggalnya para pengawal Pringgandani, Kunthi mendekati Arimbi, yang telah menyelamatkan nyawa Bimasena dan saudara-saudaranya. Sebagai tanda terimakasihnya, Kunthi membisikan mantra sakti ditelinganya. Dengan sepenuh hati Arimbi mendengarkan dan mngucapkan apa yang dibisikan Kunthi.

Sebentar kemudian keajaiban terjadi, Arimbi si raseksi perempuan berubah menjadi putri cantik, berkulit kuning langsat dengan postur tubuh yang tinggi besar. Naluri lelaki Bima terpana, ia mendekati Arimbi dan Arimbi pun segera menghaturkan sembah.

Semua mata memandang keduanya, dalam hati mereka berkata sungguh mereka adalah pasangan yang pantas dan ideal.

herjaka HS

Kidung Malam 72


Kunthi merasakan kesedihannya (karya: Herjaka HS)

Kesedihan Kunthi

Mendengar permohonan maaf Kunthi atas kesalahan Pandudewata, Puntadewa dan adik-adiknya menjadi semakin sedih. Sedih bukan karena tidak mau memberi maaf ayahnya yang sudah meninggal, atau sedih bukan pula karena ditinggal Pandu untuk selamanya, namun sedih karena melihat Ibunda Kunthi bersedih.

“Ibunda Kunthi, janganlah Ibunda bersedih karena kesalahan Ramanda Prabu Pandu sewaktu hidupnya. Jika pun aku dan adik-adikku harus ikut menanggung akibat buruk dari perbuatan Ramanda, kami akan menjalaninya dengan ketulusan hati. Bahkan kami berlima mau melakukan apa saja yang diperlukan demi untuk permohonan ampun atas kesalahannya, sehingga Ramanda segera mendapatkan surga mulia.”

Bagai diiris sembilu hati Kunthi mendengar pernyataan Puntadewa. Walaupun ada kebanggaan besar atas sifat mulia yang dimiliki anak-anaknya, kesedihan Kunthi semakin mendalam. Dalam kesendiriannya, Kunthi merasa tak berdaya untuk membahagiakan anak-anaknya. Ketika beberapa kali anak-anaknya mendapat sasaran aniaya, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Malam menjadi semakin larut. Hutan Waranawata gelap pekat tanpa hadirnya bulan. Beberapa lampu minyak yang dipasang di rumah darurat dari kayu, menari-nari dihembus angin malam. Kunthi dan ke lima anaknya merebahkan diri dalam tidur.

Diwaktu yang sama Arimbi menemui kakaknya Prabu Arimba di kemah pinggir hutan.

“Kakanda Prabu, tidak lebih baikkah jika Kakanda berdamai dengan Bimasena.?” Prabu Arimba tidak segera menjawab. Hatinya sesak dan marah terhadap pertanyaan Arimbi. Bukankah adiknya tahu bahwa ketika upacara wisuda raja, aku bersumpah dihadapan rakyat Pringgandani, bahwa aku akan menagih hutang nyawa kepada Pandudewanata.

“Aku masih ingat, pada waktu penobatan raja, Kakanda berjanji akan mengadakan perhitungan hanya dengan Pandudewanata, tidak kepada anak-anaknya. Bimasena adalah anaknya. ia tidak berdosa, berdamailah dengannya Kakanda”

Benar juga kata Arimbi. Bima tidak bersalah, ayahnya yang bersalah. Tetapi ayahnya sudah meninggal. Tidak mungkin mengadakan perhitungan dengan orang yang sudah mati. Yang mungkin dilakukan adalah mengadakan perhitungan dengan yang masih hidup. Dan wajarlah jika kesalahan dan dosa orang tuanya ditimpakan kepada anaknya. Seperti halnya kepopuleran, kehormatan dan nama baik orang tua, anaknyalah yang ikut merasakan keuntungannya.

“Arimbi aku sudah bersumpah akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Dengan darahnya yang masih mengalir di dalam pribadi anak-anaknya. jika engkau lebih menyayangi Bimasena, berpihaklah kepadanya dan lawanlah aku.”

Arimbi menangis. Ia tidak dapat memilih diantara ke duanya. Ia menghormati dan mencintai Arimba sebagai pengganti orang tuanya. Tetapi ia jatuh cinta kepada Bimasena.

Arimba habis kesabarannya. Adik yang sesungguhnya ia cintai tersebut diusir dari hadapannya. Dengan terisak Arimbi meninggalkan Arimba. Arimba menatap kepergian Arimbi dengan dingin. Hingga gelap malam menelan bayangnya.

Tatkala pagi tiba, Arimbi sudah berada di halaman rumah kayu tempat Kunthi dan ke lima anaknya tinggal. Bima menampakan wajah gelap. Tidak senang atas kehadiran Arimbi. Maka kemudian Arimbi diusirnya. Kunthi merasa kasihan kepada Arimbi.

“Sena anakku, jangan memperlakukan sesamamu tidak dengan hormat dan merendahkan martabatnya. Kalau pun engkau tidak senang jangan begitu caranya.”

“Ibunda, sejak awal aku sudah mengatakan tidak senang, tetapi ia selalu membuatku risih dan jijik.”

Memang akhirnya Kunthi dapat ikut merasakan apa yang dirasakan Bima, maka disarankannya agar Arimbi untuk sementara menjauhi tempat itu.

Matahari belum begitu tinggi.Prabu Arimba bergegas mendatangi Bimasena untuk segera membinasakan.anak-anak Pandu. Gara-gara Arimbi, perang tak kunjung usai. Maka kali ini naluri raksasanya lebih diberi tempat jika dibandingkan dengan sifat kesatrianya. Dengan keganasannya ia ingin secepatnya membinasakan semua keturunan Pandu sebelum matahari sepenggalah.

Bima cukup terkejut dan belum siap mendapat serangan mendadak dari Prabu Arimba. Beruntung ia masih sempat menghindar kesamping dan menusukkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Arimba. Namun dada tersebut sangat ulet, tidak mampu ditembus Kuku Pancanaka. Arimba tak mau melepaskan lawannya, segera ia menyusul dengan serangan berikutnya

Perang dahsyatpun terjadi lagi. Mereka saling serang dan masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Kunthi, Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa, termasuk juga Arimbi cemas dibuatnya. Sedangkan para pengawal Pringgandani. tenang-tenang saja. Bahkan sesekali diantara mereka melempar senyum ejekan kepada kubu Bimasena.

Arimba mulai mengetrapkan ajian andalannya, maka setahap demi setahap tenaga Bima tersedot. Semakin banyak tenaga yang dikeluarkan semakin banyak pula tenaga yang tersedot.

Herjaka HS

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1431 H

Segenap pengelola blog wayangprabu.com mengucapkan :

“Taqoballahu Minna Wa Minkum ”

Semoga Allah menerima ibadah kita semua.

Tentu selama ini dalam bersilaturahmi secara maya, terdapat salah tulis, salah kira, maka pada hari mulia ini kami memohon untuk dimaafkan kiranya.

Tiada kata yang lebih indah selain kata ma’af

Tiada rasa paling bahagia selain saling maaf

Tiada bahagia paling sejati selain kasih sayang silaturahmi sesama makluk

Semoga kita semua memperoleh berkah dan hidayah dari ALLAH SWT untuk selalu berjalan menyusuri jalan lurusNYA.

Semua gambar diambil dari Mas Sutamto Tototk

KTCM Semar Boyong

Semar Boyong, Inspirasi Bangkit dari Keterpurukan

Jagad menika badhe ayem tentrem menawi sedaya titah purun nindakaken rehing subasita myang kramaniti tan koncatan jatidhirining bangsa. Jagad samangke kisruh amargi tata susila sampun dipun tilar, budi pekerti sampun boten dipun paelu. Pramila negari pikantuk walake Gusti syuh kanugrahaning Hyang Manon.”

PESAN Hyang Wenang tersebut dituturkan Kanestren, sesaat setelah kembali mewujud ke wadagnya yang sejati. Suaranya lembut, intonasinya pun datar. Meski demikian, mampu menggetarkan hati para ksatria yang sekian saat bertikai memperebutkan Semar Badranaya, sosok pencipta ketenteraman di mayapada.

Ucapan Kanestren segera memberikan kesadaran, betapa pralaya yang melanda negeri mereka adalah buah dari laku penistaan terhadap tata susila dan budi pekerti. Untuk mengembalikan tatanan sosial dan pemerintahan seperti sediakala, semua elemen harus kembali berpegang pada jati diri bangsa.

Bisa jadi, itulah piwulang yang dapat dicerap dari Pergelaran Wayang Orang berlakon Semar Boyong (Sekar Pudhak Tunjung Biru) persembahan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sekar Budaya Nusantara (SBN), dan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) di Pusat Kesenian Jawa Tengah, kompleks PRPP Tawangmas, Semarang, Sabtu (4/12) malam.

Ya, pesan tersebut sangat kontekstual dengan kondisi negeri yang tengah berada dalam situasi carut-marut ini. Terasa benar ada kesengajaan Teguh Kenthus Ampiranto, sang sutradara, memacak lakon tersebut dalam pentas yang digelar bersamaan acara halalbihalal tersebut.

Semar Boyong adalah kisah teladan, yang setidak-tidaknya mampu memberikan inspirasi untuk kembali bangkit dari keterpurukan.

Kisah bermula dari pralaya yang melanda mayapada. Negeri-negeri besar yang terlihat kukuh, seperti Hastinapura, Pancawati, dan Amarta pun mengalami kemunduran. Adalah Semar, tokoh yang dianggap mampu membalikkan pralaya menjadi zaman gilang-gemilang. Maka, dengan segenap daya upaya, negeri-negeri agung itu berlomba memboyong Sang Batara Ismaya itu. Pancawati mengutus Lesmana, Hastinapura menugasi Sengkuni, sedangkan Amarta memercayakannya kepada Pandhawa.

Kepada para duta terhormat itu, Semar meminta syarat, barang siapa mampu mendapatkan Sekar Pudhak Tunjung Biru, kepadanyalah ia akan berserah diri. Perburuan dimulai, dan pertempuran tak terelakkan.

Lesmana dan Arjuna bertarung sengit memperebutkan kembang yang sejatinya penjelmaan Kanestren, istri terkasih Semar. Akibatnya, Sekar Pudhak Tunjung Biru terpisah menjadi dua: Arjuna mendapatkan sekar pudhak, Lesmana tunjung biru.

Terasa Ringan

Berdua mereka menyerahkan kembang tersebut kepada Semar di Klampisireng. Tokoh Panakawan itu lantas menyatukan kedua bagian yang terpisah. Maka, menjelmalah Kanestren dengan membawa pesan-pesan bijak Sang Hyang Wenang.

Berbeda dari garapan wayang orang klasik, pentas yang dimainkan gabungan anak wayang dari Bharata Jakarta, Ngesti Pandawa Semarang, Sriwedari Solo, dan beberapa perkumpulan lain itu terasa lebih ringan.

Durasi pementasan sekitar dua jam sebagian di antaranya diisi dengan gara-gara dan peperangan yang memukau.

Demikian halnya dengan bahasa yang digunakan, cenderung bahasa Jawa populer.

Pelawak kondang Kirun yang melakonkan tokoh Bagong mampu meretas kejumudan sekitar 150 orang penonton yang hadir dengan dagelan-dagelan segarnya yang acap keluar dari konteks cerita.

Tamu undangan seperti Gubernur Jateng H Mardiyanto, Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip dan istri, Ny Sinto Adi Prasetyorini, Ketua DKJT Prof Ir Eko Budihardjo MSc, dan Ketua SBN yang juga mantan menteri urusan peranan wanita Nani Soedarsono acap menjadi objek dagelannya.

”Wong pensiunan menteri saja bisa memberi THR, masak gubernur tidak,” sindir Kirun yang disambut tawa penonton.

Terlebih, sebelum pentas dimulai, Sukawi, Ny Sinto, dan Mardiyanto menyumbangkan dua tembang campursari, ”Kempling” dan ”Layang Kangen” dengan iringan orkes pengamen jalanan pimpinan Marco Marnadi.(Rukardi-81)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0412/06/bud01.htm

Berikut adalah lakon Semar Boyong oleh KTCM