Monthly Archives: October 2010

Baratayuda [21] : Atas Nama Darma Satria


By MasPatikrajaDewaku


Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.

***

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.

Sumber Gambar : http://jepara-ukir-relief.blogspot.com/2009/06/karno-tanding.html

Read the rest of this entry

Mifka Weblog


http://manuskripkesunyian.wordpress.com/

Pengelola

Badru Tamam Mifka. Anak bungsu dari 4 bersaudara. Lahir di Tasikmalaya, 15 April 1983. Masuk sekolah dasar di MI Tasikmalaya, MI Plered Purwakarta dan SDN III Tanjungsari. Melanjutkan belajar di SMPN I Tanjungsari dan SMAN di Jatinangor. Kini masih sebagai mahasiswa Jurusan KPI di Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung. Mengagumi sastra, google, buku dan berbagai jenis musik, lukisan, kesenian wayang golek, cerita-cerita humor, dll. Belajar ngeblog dan bergabung dengan Komunitas Blogger UIN Bandung. Pernah menjadi Pimimpin Redaksi Buletin Al-Kitabah tahun 2004; dewan redaksi Waroeng Sastra dan Lingkar Sastra Kampus tahun 2006; Pimimpin Redaksi Buletin Equality Women Studies Centre (WSC) tahun 2005-2006; anggota Komunitas Islam Emansipatoris Bandung Tahun 2005; Sekretaris Lembaga Pers Gerakan Persatuan Mahasiswa Islam (GPMI) tahun 2005-2006; Koordinator Seni Lukis dan Kaligrafi di Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSLK) tahun 2005-2006; Ketua Umum Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2005-2006. Sempat juga aktif sebagai anggota di GAMAS dan PUI Bandung.

Kini menyibukkan diri menjadi Pimred untuk Buletin Sapa Institut dan belajar desain-layout di tepat yang sama. Sempat mengikuti lomba menulis dan membaca cerpen PTAI se-Indonesia sebagai juara II; pemenang III Kategori Cerpen HOKI Online Literary Awards 2008 (HOLY 2008); masuk 25 finalis LCPI Februari. Profil dan artikelnya pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat. Kini menetap di Ciromed, Tanjungsari, Sumedang. Temui pengelola di Facebook atau kirim email di: mifkaisme@gmail.com atau ke: mifkaisme@yahoo.com. Atau bisa chat via Yahoo! Messenger: mifkaisme@yahoo.com. Mau  Bergabung dan Berekspresi Di Halaman Facebook Saya? Klik di Sini.

LIMA’S


LIMA’S

Sanggar Seni Sumber Sa’adat Sunda

Menyebarluaskan dan Melestarikan

Budaya Sunda

Gambar LIMAS

Dalam rangka melestarikan dan menyebarluaskan budaya Sunda, sanggar seni LIMA’S aktif dalam kegiatan mengumpulkan dan mendokumentasikan sekaligus mempublikasikan kembali berbagai jenis data-data tentang kesenian, kesusastraan, kegiatan tradisi, serta budaya masyarakat Sunda. Website ini merupakan salah satu media publikasi sebagai bagian dari hasil kegiatan penilitian selama 7 tahun dan menyajikan informasi diantaranya :

Database yang disajikan relatif masih baru dan tentu masih banyak kekurangan. Kami masih membutuhkan orang-orang yang peduli dan mencintai seni traditsi serta kebudayaan masyarakat Sunda untuk melangkapi dan memeriksa tentang berbagai hal yang bisa dan layak dipublikasikan di sini. Silahkan humbungi kami, berikan informasi, saran dan kritik melalui:

Nyai Saraswati


 

Welcome to the home page for Gamelan Nyai Saraswati, a central Javanese gamelan performing group.

Gamelan Nyai Saraswati

 

http://www.ibiblio.org/gamelan/audio/index.php?group=Gamelan_Nyai_Saraswati&view=audio

Please choose a performance:

 

 

http://www.ibiblio.org/gamelan/images/index.php

KSMS Petruk Mandhita


Persembahan dari Radio Swara Kenanga Jogja dengan dalang Ki Sigit Manggolo Saputro dengan mengambil lakon “Petruk Mandhita”

Selamat Menikmati

KHS Gatotkaca Neges


Sakmeniko Ki Hadi Sugito badhe medaraken cariyos “Gatotkaca Neges”. Taksih koleksinipun Radio Swara Kenanga Jogja

Monggo dipun midangetaken

KSMS Jumenengan Parikesit


Persembahan dari Radio Swara Kenanga Jogja dengan dalang Ki Sigit Manggolo Saputro dengan mengambil lakon “Jumenengan Parikesit”

Selamat Menikmati

Video Ki Suwarjono – Sekar Tunjung Seta


Masih dari koleksi yang saya refer dari Maindul. Wayang banyumasan bersama Ki Suwarjono dengan judul “Sekar Tunjung Seta”.

Jalan ceritanya saya ambil dari link ini

Sekar Tunjung Seta

Dalam pisowanan agung di keraton Dwarawati, raja keraton Mandura prabu Baladewa dengan begawan Durna disaksikan oleh patih Udawa menghadap ke prabu Kresna. Prabu Baladewa mengutarakan niat bertamunya untuk meminta prabu Kresna/ Harimurti meminta mencari wasiat Sekar Tunjung Seta yang menjadi sebuah pertanda, bahwa yang memiliki wasiat ini yang akan memenangkan perang besar Kurawa dan Pandawa yaitu Baratayudha Jayabinangun. Wasiat ini ini berada ditangan Batara Wisnu yang berada Kayangan Untara Segara, yang bisa mengambil cuma prabu Kresna. Karena prabu Baladewa sudah berjanji ke prabu Duryudana untuk bisa membawa wasiat Sekar Tunjung Seta, maka Prabu Kresna didesak untuk menyerahkan wasiat tersebut kepadanya.

Belum prabu Kresna berangkat menhadap ke Batara Wisnu, datanglah utusan Pandawa yaitu Ki Lurah bawor. Dengan menyampaikan bahwa Pendawa mengingat prabu Kresna tentang Sekar tunjung Seta. Prabu Baladewa pun marah dan Ki lurah Bawor diajak peperangan di palagan peperangan. Akhirnya Raden Wisanggeni menolong Bawor dengan meragasukma/nitis ke Bawor sehingga dalam peperangan dengan Baladewa bisa mengimbangi.

Di lain tempat di Candi Bungawan, begawan Sidik Purnomo sedang bercengkrama dengan cucunya raden Bambang Irawan, yang sedang mempunyai persoalan tentang keterlibatannya apakah dirinya juga akan terlibat dalam perang agung Baratayudha, tergugah jiwa kesatriyaannya untuk membela negara Amarta? Namun begawan Sidik Purnomo hanya menyarankan untuk bertanya kepada prabu Kresna, karena hanya dia yang tahu tentang hal ini. Sehingga pamitlah Bambang Irawan yang merupakan anak raden Janaka dengan Dewi Palupi ke keraton Dwarawati.

Dalam perajalanan Bambang Irawan ketemu dengan Ratu Sobrah Lambangan, Prabu Gento Dewo pihak Astina. Akhirnya peperangan dengan prabu Gento Dewa tidak bisa dihindarkan, namun tidak bisa melawan Bambang Irawan. Akhirnya Durna menghasut raden Bambang Irawan, untuk memperdayai ki Lurah Semar.

Akhir adegan ditutup dengan strategi punakawan Bawor, Gareng, dan Petruk dengan menyamar untuk menghalangi jatuhnya Sekar Tunjung Seta ke pihak Kurawa. Dengan strategi tersebut akhirnya wasiat Sekar Tunjung Seta jatuh ke tangan Pandawa.

KSMS Dumadine Gunung Jamur Dwipa


Kembali persembahan dari Radio Swara Kenanga Jogja dengan dalang Ki Sigit Manggolo Saputro dengan mengambil lakon “Dumadine Gunung Jamur Dwipa”

Selamat Menikmati

KHS Bagong dadi guru


Taksih koleksi saking Pak Siswanto Radio Swara Kenanga Jogja, wekdal punika Ki Hadi Sugito badhe mbabaraken cariyos kanti judul “Bagong Dadi Guru”

Sugeng Midangetaken

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 939 other followers

%d bloggers like this: