Ki Timbul yang Konsisten

http://asia.groups.yahoo.com/group/paguyuban_pecinta_wayang/message/2190

Mas Sugiran dan sahabat-sahabat saya

Saya sependapat dengan anda. Ki Timbul Hadi Prayitno, merupakan salah seorang dhalang senior (maestro), yang mempunyai suatu keunggulan yang sangat jarang dimiliki dhalang lain, yaitu pagelaran wayang yang dibawakan beliau, sangat kuat memilih dan memakai kalimat-kalimat yang sangat mudah dimengerti orang awam. Coba dengarkan guyonannya. Semua guyonannya selalu merupakan kalimat yang mudah dicerna dan merupakan guyonan gaya ‘wong cilik’ (rakyat jelata). Meskipun saya termasuk penganut mahzab Pesisir, tetapi saya sangat mengagumi permainan mahzab Mataraman Klasik yang menjadi dasar utama pagelaran wayang yang dibawakan beliau.

Coba juga dicermati cara dan gaya beliau saat menceritakan adegan dalam pagelaran wayang. Bahkan, kita bisa memahami dan membayangkan berbagai adegan yang dibawakan beliau tanpa perlu melihat pagelarannya secara langsung. Misalnya, jika mendengarkan pagelaran Ki Timbul dari radio. Seakan-akan pagelaran wayang yang dibawakan beliau itu tampil secara sangat jelas di dalam imajinasi kita.

Saya juga sangat beruntung, karena pernah melihat pagelaran beliau, yang dilaksanakan di Siti Hinggil Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, beberapa puluh tahun yang lampau. Saat itu, beliau ndhalang dengan iringan gamelan keraton yang sangat luar biasa jumlah ricikan-nya dan sangat bagus suaranya. Bahkan memakai dua pengendhang (biasanya kan hanya ada satu pengendhang), tidak termasuk penabuh bedhug ageng. Kalau saya tidak salah, saat pagelaran wayang itu, beliau diringi memakai gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Laut. Sedangkan pradangga-nya sebagian besar merupakan pradangga dalem keraton, dari kelompok ‘Uyon-uyon Adi Luhung’, yang semuanya merupakan pradangga senior atau maestro yang sangat mumpuni. Waktu itu, saya hanya bisa tercengang dan duduk diam terpaku saja semalam suntuk, tanpa bisa berkata-kata atau berkomentar apapun. Terus terang, saya belum pernah mendengar suara gamelan yang seperti itu getar, gaung, dan gemanya.

Getaran nadanya, begitu aneh dan mencengangkan, karena membuat setiap nada yang dibunyikan menjadi mengalun berombak, dan bunyi yang dihasilkan, seperti dilakukan oleh ratusan pradangga. Saya kok merasa pengaturan (penalaan) nada pada kedua gamelan ini, bisa menghasilkan efek seperti ditabuh oleh beberapa ratus orang (efek bunyinya, seakan-akan seperti penabuhnya dilipat-gandakan jumlahnya). Tentang hal ini, sudah pernah saya tanyakan kepada banyak panji, termasuk beberapa panji sepuh sekalipun. Semuanya tidak bisa menjawab secara jelas, bagaimana efek suara itu bisa dihasilkan. Kebanyakan hanya menjawab bahwa itu merupakan permainan ‘embat’ saja. Tetapi dalam hati kecil saya, tetap saja selalu bertanya-tanya (karena ada semacam ketidak-puasan atas jawaban yang saya terima),apa yang sebenarnya menjadi penyebab terjadinya efek penggandaan bunyi itu.

Seingat saya, yang memakai mikropon saat itu hanya, dhalang, pesindhen, wiraswara, rebab, gender barung, gambang, slenthem, dan siter. Ricikan lainnya sama sekali tidak dilengkapi mikropon. Saat itu, saya juga melihat sama sekali tidak ada peralatan elektronika apapun yang dipasang sehingga bisa menghasilkan efek seperti melipat-gandakan pradangga-nya. Hanya ada sound mixer biasa dengan sebuah perangkat penguat suara (audio amplifier) yang juga biasa saja. Lodspiker, hanya dipasang dua set, masing-masing di sisi kanan dan kiri panggung.

Continue reading

Kakrasana Rabi (KH Anom Suroto)

Lakon ini merupakan sumbangan mas Wahyudiono (Tangerang), pengubah format mas Mustafa (Citayam-Depok).

RADEN KAKRASANA
Sumber : Sejarah Wayang Purwa – Hardjowirogo – PN Balai Pustaka – 1982 dan http://ki-demang.com/

Raden Kakrasana putra Prabu Basudewa dari perkawinannya dengan Dewi Rohini. Ketika bertakhta sebagai raja di Madura, ia bernama Prabu Baladewa. Raden Kakrasana adalah saudara kembar Raden Nayarana, tapi Kakrasana berkulit putih bulai dan Nayarana herkulit hitam. Kakrasana titisan Hyang Basuki, dewa ular. Tabiatnya keras dan pemarah, tetapi marahnya gampang mereda. Pada masa mudanya ia menjadi pendeta, bernama Wasi Jaladara. Sebabnya ia menjadi pendeta ialah karena negaranya dikuasai seorang ksatria raksasa, bernama Raden Kangsa. Kangsa ini terus-menerus mencari Kakrasana, dengan maksud untuk membunuhnya, sebab oleh Kangsa, Kakrasana dianggap sebagai orang yang akan menguasai negara Madura.

Semasa menjadi pendeta, Kakrasana sangat waspada dan berbudi hening, hingga termasyhurlah ia sebagai pendeta sakti. Karena kewaspadaannya, Jaladara bisa mengetahui hal-hal yang gaib, hingga ia bisa menemukan seorang putri raja Madraka, bernama Dewi Herawati yang dicuri oleh Raden Kartawiyaga, putra raja raksasa, bernama Karondageni dari negara Tirtakandasan. Akhirnya putri itu menjadi istri Wasi Jaladara yang kemudian bertakhta menjadi negara Madura.

Tetapi sebenarnya Kakrasana bukan saudara kembar Nayarana, mereka malahan berlainan ibu, Kakrasana adalah putra Dewi Rohini dan Nayarana putra Dewi Dewani. Dewi ini sesudah bersalin, meninggal. Dalam bahasa Jawanya ini dinamakan mati konduran. Maka bayi Nayarana pun disusui oleh ibu Kakrasana. Itulah sebabnya mengapa kedua bayi itu dikira anak kembar.

Raden Kakrasana bermata kedondongan, berhidung dan bermuka serba lengkap (sembada). Berjamang dengan garuda membelakang. Berambut terurai dengan bentuk polos (biasa). Berkalung bulan sabit, menandakan, bahwa ia masih ksatria muda. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain katongan (kerajaan).

Raden Kakrasana berwanda: 1. Kilat, 2. Sembada dan 3. Bangbang wetan.

Untuk menikmati cerita ini selangkapnya silahkan diunduh Di Sini

Transkrip Pentas Makhutarama (Ki Purbo Asmoro)

UCAPAN TERIMA KASIH DAN KENANG-KENANGAN TAHUN BARU 2011 dari KI PURBO ASMORO

KPD YTH
Para penggemar Ki Purbo Asmoro yang ada di Facebook, http://wayangprabu.com, Paguyuban Pecinta Wayang, di mana saja.

Saya minta ma’af sebelumnya karena saya nulis ini dalam Bahasa Indonesia yang kurang baik—semoga maksud saya bisa diterima, dan minta ma’af kalau ada kata-kata, istilah yang kurang pas.

Sudah lama penggemar Facebook tanyakan naskah dan rekaman Ki Purbo Asmoro. Baru kemarin rekaman Mélik Nggendhong Lali—pentas dari TBS Solo, April 2005—di-upload untuk para penggemar—pentas yang dalam gaya garapan sedalu. Supaya ada kontrast, sekarang dilengkapi dengan sajian naskah lengkap yang dalam gaya klasik—pentas gaya tradisi Kraton Surakarta, lakon Makutharama. Tetapi mohon dipahami:

  • Ini transkript pentas “live”, dan sama sekali tidak dinaskah sebelum pentas
  • Kemungkinan besar masih ada kesalahan dalam transkript, dan mohon pengertian saja
  • Transkript ini masih dalam proses percetakan dari Yayasan Lontar, dan masih akan dilengkapi banyak “appendix”, keterangan, latar belakang, belum lengkap—apa lagi masih ada transkript pakeliran garapan sedalu dan padhat, lakon MAKUTHARAMA, dan klasik/garapan sedalu/padhat lakon SESAJI RAJA SUYA. Ini merupakan semacam “soft opening” saja untuk salah satu antara enam transkript dan rekaman nanti yang akan dicetak oleh Yayasan Lontar secara resmi
  • Naskah ini yang akan dikasih kepada penggemar yang partisipasi dalam pentas besok 22 Januari di Jakarta—akan dicetak dalam wujud buku dan ditanda-tangani oleh Ki Purbo Asmoro.

Terima kasih dan selamat membaca,
Kitsie Emerson, 27 Desember 2010
Jakarta/Solo/USA
(asisten Ki Purbo Asmoro dalam hal2 terkait dengan internet)

Naskah lengkap dapat diambil DISINI

Pethilan2 Goro2_Ki Nartosabdho

Sekuel Goro2 dibawah ini merupakan sumbangan dari mas Rumlan Dwiyatno. Goro2 ini dipethil dari lakon2 yang sudah ada di WP atau blog ini.

Kangge poro sutresno KNS, monggo kula aturi mundut ing link2 ngandap:

1. Goro2 Cakraningrat dapat diambil di sini

2. Goro2 Dasamuka Lahir saget kapundut ing mriki

3. Goro2 Sri Makhuta Rama bisa diunduh DI SINI

4. Goro2 Alap2an Setyaboma saget dipethik ING MRIKI

5. Goro2 Duryudana Gugur bisa di-download Di SINI

6. Goro2 Karno Tanding dapat diunduh DI SINI

Rahasia Nabuh Gender Barung

by Bram Palgunadi on Monday, December 20, 2010 at 2:16am

Sumber : http://ki-demang.com/

Mas Nur dan para kadang kinasih,

Menjawab pertanyaan Mas Nur, selama ini, saya memang meluangkan waktu dan menyempatkan diri sesekali mengajar sejumlah mahasiswa/i ITB nabuh gender barung di unit kegiatan mahasiswa PSTK-ITB. Mereka tidak saya ajari nabuh gender barung gaya ‘cengkok jadi’ (melodi), tetapi yang saya ajarkan adalah ‘rumus menabuh gender barung’. Rumusnya (saya seringkali menyebutnya sebagai ‘kunci’), hanya ada 12 macam tabuhan, yaitu:

  • 1)  Tabuhan gender gembyang mbukak
  • 2)  Tabuhan gender gembyang nutup
  • 3)  Tabuhan gender gembyang minggah
  • 4)  Tabuhan gender gembyang mandhap
  • 5)  Tabuhan gender kempyung mbukak
  • 6)  Tabuhan gender kempyung nutup
  • 7)  Tabuhan gender kempyung minggah
  • 8)  Tabuhan gender kempyung mandhap
  • 9)  Tabuhan gender gantungan gembyang
  • 10) Tabuhan gender gantungan kempyung
  • 11) Tabuhan gender mipil
  • 12) Tabuhan gender imbal (untuk lancaran, srepegan, palaran)

Di luar keduabelas rumus di atas, ada tiga rumus lain, yang secara khusus dipakai untuk mengiringi suluk (pedhalangan) wayang, yaitu:

  • 13) Tabuhan gender pathetan
  • 14) Tabuhan gender ada-ada
  • 15) Tabuhan gender grambyangan

Ini ada cerita tentang bagaimana ‘rahasia rumus nabuh gender’ itu didapatkan. Ini benar-benar merupakan peristiwa yang terjadi (true story), jadi bukan sekedar cerita semata-mata.

Pada sekitar tahun 1965 – 1968, sewaktu saya tinggal di Kota Salatiga, saat saya pertama kali belajar nabuh gender barung, tidak tepat seperti rumusan di atas, melainkan dalam bentuk yang sudah menjadi susunan nada melodi. Susunan nada melodi ini oleh guru saya almarhum ditulis di atas secarik kertas, sebagai tabuhan gender barung untuk mengiringi Gendhing Ladrang Wilujeng dan Ladrang Asmarandana. Waktu itu, saya benar-benar tidak tahu bahwa yang ditulis guru saya itu sebenarnya adalah rumus yang diturunkan dan dituliskan sesuai dengan notasi gendhing. Baru setelah saya tinggal di Bandung selama beberapa tahun, yaitu menjelang tahun 1980-an, saya akhirnya memahami ‘rumus’ yang diajarkan guru saya itu. Hal itu, sebenarnya dipicu adanya peristiwa pertemuan saya dengan seorang ‘kakak seperguruan’ (persis seperti di cerita silat Cina saja) yang juga tinggal di Bandung. Beliau namanya Pak Ali. Pada suatu ketika, kakak seperguruan saya nabuh gamelan di PSTK-ITB bersama sejumlah anggauta grup karawitannya. Tiba-tiba saya mendengar suara susunan nada melodi yang dihasilkan oleh tabuhan gender kakak seperguruan saya (saat itu, saya belum sadar bahwa itu kakak seperguruan saya), kok sangat mirib (kalau tidak boleh dikatakan sama persis) dengan susunan nada melodi yang biasa saya mainkan. Saya tercengang, karena hampir seluruh susunan nada melodinya benar-benar sama seperti yang saya mainkan.

Segera setelah latihan selesai, sebelum beliau pulang, saya lalu mengajukan sejumlah pertanyaan kepada beliau. Pada awalnya saya bertanya kepada beliau, dulu belajar nabuh gender di mana. Jawabnya: “Saya belajar dari seseorang yang tinggal di Kota Amba-Rawa”. Lalu saya bertanya lagi: “Sebelum tinggal dan belajar di Kota Amba-Rawa apa pernah tinggal di tempat lain?” Beliau menjawab: “Sebelumnya, saya tinggal di Kota Salatiga”. Saat itulah, saya tanyakan secara langsung siapa gurunya sewaktu di Salatiga. Jawabnya: “Pak Harjo Prewita dari Desa Karang Pete”. Nah, yang beliau sebut itu adalah nama guru saya, yang mengajari saya karawitan dan pedhalangan.

Sejak peristiwa itulah, saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada susunan nada melodi yang dulu diberikan kepada saya oleh guru saya. Ada suatu pola tertentu, yang kelihatan sangat konsisten dalam cara penyusunannya. Namun, saat itu saya sama sekali tidak mengerti bagaimana polanya dan apalagi rumusnya. Sebenarnya saya juga sempat membicarakan tentang hal ini dengan kakak seperguruan saya. Sayangnya, karena kesibukan masing-masing, pertemuan itu tidak bisa terlampau sering dilakukan dan hanya bisa dilaksanakan sesekali saja. Sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memikirkannya sendiri. Saya memerlukan waktu sekitar dua tahun (masih di sekitar tahun 1980-an) untuk berusaha menguraikan rahasia yang dikandung dalam tulisan notasi susunan nada melodi yang diberikan oleh guru saya. Sebagai gambaran, notasi yang saya terima dari guru saya, sudah berbentuk sangat mirip cengkok, karena disusun dan dituliskan secara khusus untuk memainkan Gendhing Ladrang Wilujeng dan Ladran Asmarandana.

Continue reading