New Collections from KSMS

Sore kemarin saya memperoleh SMS dari Ki Sigit Manggolo Seputro, seperti berikut:

Time: 26 April 2011 18:14
Sugeng dalu mas. Caos pirso bilih siang wau pun kulo kintun cd audio visual rkm kulo 4 lakon SEMAR BANGUN KAYANGAN event supitan. MIKUKUHAN event brsih desa. KALIMASADA KAJARWO/puntodwo mukswa event ultah ganggeng samodra karya DRS.GBPH.H.YUDANINGRAT.MM/ adik HB  X. PERMADIKRAMA event mantu. Mugkin kamis udh spi k mas prabu. Mksi slm sigitdalang.

Pgstunipun mas prabu + mas roni nalika kulo ndalang wntn palembang lancar nadyan klasik pnonton ngantos bibar ttp katah mas. Crita tumurune pusaka tanah jawa

Dan lebih cepat dari perkiraan, barusan malam saat saya sampai di rumah telah teronggok bungkusan kiriman dari beliau.

Akan saya copy dulu ke hard disk dan convert ke mp4 karena koleksinya berupa video DVD.

Atas nama penggemar wayang kulit dan penggemar KSMS, saya sampaikan ucapan terima kasih atas sharing ini.

Semoga Ki Sigit dalam berkiprah dalam budaya serta sebagai pendidik selalu menemui kesuksesan.

Matur nuwun sekali lagi.

Video KES Mustika Merah Delima

Berikut hasil upload di youtube oleh Mas Bowo50 pagelaran wayang bersama Ki Enthus Susmono bertitel “Mustika Merah Delima”.

MP3 dan MP4-nya sudah saya sharing sebelumnya. Bagi Anda yang menginginkan menyaksikan lakon tersebut melalui youtube silahkan dapat dinikmati

Disini (31 Klip)

Matur nuwun Mas atas bantuannya mengunggah di youtube

Klip ke-31

Aneka Gending Giro

Sumber Gambar : http://1.bp.blogspot.com/_gCkdVBoDYRc/TGzGAnRU07I/AAAAAAAAACY/BkTczfFFnMU/s1600/Traditional_indonesian_instruments02.jpg

Bersama Karawitan Moestika Laras Madiun kami sharing Gending Aneka Giro

Konten

  1. Giro Dayung Sl. Mnyr
  2. Giro Esuk-Esuk Sl. Mnyr
  3. Giro Gondo Boyo Sl. 9
  4. Giro Gumebyar Sl. Mnyr.
  5. Giro Ijo-Ijo Sl. 9
  6. Giro Kecik-kecik Sl. Mnyr.
  7. Giro Kembang Jeruk Sl. 9
  8. Giro Kembang Melati Sl. Mnyr
  9. Giro Lesung Jumengglung Sl. Mnyr
  10. Giro Rambang Sl. 6
  11. Giro Sopo Ngiro Sl. 9

password : wayangprabu.com

Aneka Palaran Original Javanese Classical Traditional

Bersama Karawitan Suka Laras led pimpinan Djarwa Saminta dengan Waranggana Rusyati, Sri Pudji, Suparni, and Sri Anjarni bertitel “Aneka Palaran Vol.1″

Konten

  1. Ldr pangkur gobyok kalajengaken srepeg
  2. Jineman sarkoro kalajengaken ayak rangu rangu
  3. Bawa dandanggula banyumasan

Kisah Kasih Petruk (1)

Petruk Hilang !

Berita menghebohkan itu menggetarkan seantero kampung. Maklum, Petruk adalah sosok popular di kampung.  Dihampir seluruh kegiatan kampung sepertinya selalu hadir sosok Petruk. Di persawahan, dia selalu membantu ayahnya nggarap sawah, bahkan di pasarpun Petruk kadang dijumpai bersama ibunya berbelanja kebutuhan sehari-hari. Apatah lagi dilingkungan pergaulan kawula muda dimana dia meleburkan dirinya dalam jiwa-jiwa muda yang penuh gejolak. Namun yang mengherankan, di kalangan anak-anak Petruk-pun menjadi sosok yang begitu dikenal karena memang sangat akrab dengan mereka. Tidak ada rasa canggung saat bergabung dalam dunia ceria anak-anak.

Itulah kehebatan Petruk. Mampu berada dimana saja, tidak sekedar ada namun juga memberi warna.

Dan keceriaan Petruk, biasanya akan menghadirkan cerah suasana. Kicauannya tiada henti memenuhi tempat dan waktu. Dari A sampai Z dia tahu. Dari masalah serius sampai gosip-gosip ringan maupun yang “asyik-asyik” dia paham. Bahasa yang dipergunakan menyesuaikan. Artinya saat berkumpul dengan anak-anak, yang diperbincangkan adalah dunia mereka yaitu, bermain, belajar dan bermain. Bila kongkow-kongkow bersama teman-teman remajanya, maka bahasan tentang dunia mereka begitu lancar dan mengasyikan. Namun, saat duduk ngobrol bersama ayah ibunya ataupun orang tua para tetangga, Petruk dengan cepat mampu menyesuaikan diri. Dengan takzim kata-kata santun dan bijak selalu terucap dari mulutnya, walaupun sekali-sekali keluar ungkapan-ungkapan nakal namun masih dalam koridor kesopanan, malah justru lebih menyegarkan suasana.

Itulah Petruk. Sosok populis di kampung yang hari itu tidak diketahui keberadaannya. Sekelompok temannya yang menyangka Petruk sedang tidak sehat, ketika berkunjung ke rumah Ki Lurah Semar dibuat semakin menyimpan tanda tanya besar tentang lenyapnya Petruk. Ki Lurah Semar-pun dibuat cemas juga karena sama sekali tidak mengetahui dimana saat itu anaknya berada.

Setelah kelompok remaja itu pergi maka kemudian Ki Lurah Semar memanggil Gareng dan Bagong untuk menanyai hal ini.

“Le, anakku Gareng wong bagus, kamu tahu nggak adikmu Petruk sekarang ada dimana” Semar menginterogasi Gareng terlebih dahulu.

“Kulo mboten ngertos Romo. Saya masih bersama Petruk sehabis jamaah sholat Isya di Langgar semalam. Dan setelah itu dia keluar rumah katanya mau main sebentar ke rumah Parto, anaknya Pak Ngadimin. Dan setelah itu saya tidak bertemu lagi karena saya langsung tidur Mo” jelas Gareng.

“Oooo ngono to Le. Lha kalau kowe Bagong anakku wong bagus, tahu nggak kakakmu pergi kemana”

Yang ditanya terlihat sedang serius, seolah berfikir keras hingga hidungnya kembang kempis seraya matanya sedikit mlerok. Begitu kebiasaan Bagong kalau sedang berfikir sesuatu yang membutuhkan effort untuk menggali ingatan.

“Gong … Bagong, Romo takon lho karo kowe !” Gareng njawil hidungnya Bagong dengan usil.

“Iya Kang Gareng, aku yo krungu. Ra usah dijawil irungku. Ngerti ra, irungku iki pusaka yang aku jaga setiap kali. Yang menyentuhnya smoga menemui kacilakan tujuh kali berturut-turut” ketus Bagong yang tengah serius merasa diganggu kakaknya.

Gareng cengar-cengir saja. Untuk menghindari percekcokan Semar menengahi.

“Jane kowe lagi opo to anakku bocah ngguanteng Bagong. Kok di tanya Romo malah diam saja, terlihat serius gitu. Memangnya yang lagi kau pikirkan tuh apa ?

“Gini Romo … saya lagi berfikir keras menyingkap misteri hilangnya Kang Petruk ini. Saya sedang merangkai kejadian-kejadian yang saya alami bersama Kang Petruk beberapa hari ini. Saya sedang berupaya mengingat kata-kata kang Petruk yang mungkin mengandung maksud tertentu yang berhubungan dengan kepergian kang Petruk tanpa pamit. Lha saya mau menemukan jawabannya, tiba-tiba Kang Gareng njawil irung kulo. Dadi ilang kabeh to Romo,” Bagong menjelaskan runtut bak pengacara di pengadilan memaparkan alibi client-nya.

“Oalah gayamu Gong. Pakai di analisa segala. Nek ora weruh yo ngomong ra ngerti. Kalau tahu keberadaan Petruk ya tinggal bilang sekarang dia dimana !” mangkel Gareng melihat gaya omongan Bagong yang sok intelek.

“Bukan begitu Kang Gareng. Bukannya saya sok intelek, ataupun sok menguasai permasalahan kemudian ngomong sesuatu yang menyimpang dari konten seperti itu tuh wakil-wakil kita di Dewan. Atau saya sok jadi pemikir ulung yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan seputar ruwetnya pengaturan negara, layaknya komentator-komentator yang cuman mampu mencerca. Saya hanya seorang Bagong yang ingin membantu Romo dan warga kampung ini dalam menemukan keberadaan Kang Petruk dengan membuat analisa sederhana terhadap yang saya ketahui,” jelas Bagong percaya diri. Continue reading

Didi Kempot Album Emas Vol. 1

Berikut lagu-lagunya:

  1. Sewu Kutho
  2. Bojo Loro
  3. Tanjungmas Tinggal Janji
  4. Iki weke sopo
  5. Kusumaning Ati
  6. Tanjung perak
  7. Gethuk
  8. Stasiun Balapan
  9. Lingsir wengi
  10. Mesti Penak
  11. Sewu Dina
  12. Cidro

Didi Kempot adalah salah satu putra dari almarhum pelawak Mbah Ranto.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0212/13/nas7.htm

BERDOA: Anak-anak dan keluarga seniman dari pelawak Ranto Edi Gudel berdoa di depan jenazah almarhum, di rumah duka Jl Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber, Banjarsari, Solo, semalam. Inzet, Ranto Edi Gudel. (Foto:Suara Merdeka/D11)

JAGAT seni kembali berkabung. Tokoh lawak dan seniman serba bisa, Suharanto yang lebih kondang disapa Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto, Kamis sekitar pukul 16.30 kemarin meninggal dunia pada usia 66 tahun. Pencipta lagu Anoman Obong itu tutup usia di RS Dokter Oen Solo Baru, setelah menjalani perawatan sejak Lebaran lalu, tepatnya mulai hari Sabtu (7/12) malam. Jenazah akan dimakamkan Jumat siang ini, pukul 14.00 di TPU Pracimaloyo, Solo.

”Sebenarnya sakit Bapak sudah lama, tapi tak dirasakan. Beliau juga tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pernah dibawa ke RS Brayat Minulyo, malah minta pulang. Tapi dalam keadaan setengah sadar, Sabtu malam lalu kami bawa ke RS Dokter Oen,” kata anak keempatnya, Didi Kempot.

Penyanyi berambut gondrong itu mengisahkan, saat meninggal Mbah Ranto ditunggu segenap keluarganya, termasuk empat istrinya, yakni Umi, Tuminah, Magdalena, dan Sugiyarni. Satu-satunya kakak almarhum, Ny Suharni (72), juga berada di tengah-tengah keluarga duka.

Keenam anaknya, Antonius Lilik Subagyo, penyanyi Joko Lelur Sentot Suwarso, pelawak Mamik Prakoso (Srimulat), Didi (Prasetyo) Kempot, Eko Guntur Martinus (Eko Gudel), dan Veronika Tatik Hartanti, tampak tabah di tengah suasana duka. Demikian pula 11 cucu dan seorang cicitnya.

Bahkan, ketika Eko menangis saat jenazah sang ayah tiba di rumah kontrakan Jalan Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber Balekambang, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Mamik memintanya untuk segera menghapus air matanya. ”Ora usah nangis, Le. Mbah Ranto ora seneng yen anak-anake ora tabah. (Tidak usah menangis, Nak. Mbah Ranto tidak suka kalau anak-anaknya tidak tabah-Red),” kata Mamik.

Watak Keras

Menurut anak ketiga Mbah Ranto itu, semasa hidup almarhum berwatak keras, di antaranya menanamkan pada anak-anaknya agar selalu tegar. Meski demikian, lanjut Sentot, seniman gaek itu senang guyon. Bahkan, ketika dirawat di RS pun tidak melepaskan senyum dan candanya. ”Bapak sangat cinta seni. Maka senang melihat anak-anaknya bergelut di bidang seni. Bahkan, saat-saat terakhir menjelang meninggal, di telinganya saya lantunkan lagu Joko Lelur,” ungkapnya.

Jiwa seni Mbah Ranto, menurut kakaknya, Ny Suharni, sudah terlihat sejak kecil. Ketika masa kanak-kanak, seniman yang kondang menjadi pelakon Petruk pada WO Sriwedari tahun 1960-an dan pelakon Umar Moyo pada ketoprak tobong era 1970-an itu, suka melucu. ”Maka ketika baru duduk di kelas 3 SMP di Jakarta, dia malah memutuskan pulang ke Solo dan berkiprah di dunia seni,” kenangnya.

Anak-anak almarhum mengungkapkan, keinginan bapaknya sebelum meninggal juga telah tercapai. ”Bapak ingin kami sekeluarga manggung bareng. Dan itu terlaksana setelah TV7 menggelar acara ‘Es Campur Es’ yang ditayangkan saat Lebaran tanggal 7 Desember lalu,” kata mereka.

Ketika itu, Ranto tampil bareng anak-anaknya dalam episode ”Oh Nasib, Oh Bapak”. Rekaman kenangan itu tentu menjadi dokumen yang sangat berharga bagi keluarga almarhum.

Teguh Pendirian

Ranto Edi Gudel adalah seorang yang teguh pendiriannya. Salah satu contoh, almarhum enggan pindah ke rumah sendiri di Plelen, Kadipiro, tetapi malah lebih suka mengontrak di kawasan Sumber. Menurut anak-anaknya, itu dilakukan karena keinginannya untuk selalu dekat dengan masyarakat yang diinginkannya.

”Pernah suatu saat ketika diminta untuk pindah rumah sendiri, beliau tetap menolak. Alasannya, beliau merasa hanyalah sebagai seniman panggung. Maka dia lebih senang tinggal di rumah kontrakan,” papar Mamik.

Satu pesan yang akan terus diingatnya, menjalani hidup tak boleh berlaku aneh. ”Istilahnya aja wah yen lagi ana, jangan aneh saat sedang berada.”

Keterangan Mamik dibenarkan Martoyo, Ketua RT setempat. ”Mbah Ranto itu orangnya sangat supel kepada siapa pun. Dia tak mau membeda-bedakan pergaulan dan sangat sosial.” Dia ingat, semasa hidup almarhum justru lebih lucu dalam pergaulan, dibanding saat di panggung.

Hingga akhir hanyatnya, pelawak gaek itu juga masih menyisakan beberapa gubahan lagunya. Menurut anak kelimanya, Eko, Mbah Ranto meninggalkan rancangan lagu ”Buto Terong”. ”Mungkin kami, anak-anaknya menyanyikan bersama lagu-lagu Bapak yang belum pernah ditampilkan,” kata Didi Kempot.

Selamat jalan senimanku. Semoga Tuhan memberi tempat untukmu di sisi-Nya. (Setyo Wiyono, Wisnu Kisawa-16t)