Mendung Diatas Mandaraka (2)

3. Rencana Salya adalah Air Mata Surtikanti.

Di dalam hati Prabu Salya berdesakan perasaan antara nurani bersih – rasa kepatutan – dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Apapun cara itu, bagi Salya, yang penting terlaksana. Kedua rasa yang saling bertentangan itu bergulung campur aduk, hingga sekian lama Prabu Salya hanya duduk tegak bagai arca yang terhiasi busana. Setelah menarik nafas panjang, dan menetapan hati, berkata Prabu Salya kepada putranya.

“Putraku Rukmarata !!”

“Daulat Rama Prabu”. Jawab Rukmarata yang sedari tadi menunduk diam menunggu perintah dari ramandanya.

“Semoga dewata memberikan ijin dan meluluskan apa yang menjadi kemauan Pamadi.

Selama aku melihat kemenakanku, Permadi, berdesakan rasa dalam dadaku. Alangkah gembira rasa hati ini, pasti juga termasuk hati ibumu, bila kita bisa mendapatkan menantu Permadi, anak Pandu. Itu yang pertama.

Kedua, bila dilihat dari kenyataan bahwa dia bisa menjadikan kraton Mandaraka lebih indah, lagi pula menurut hitungan, Pamadi itu adalah salah satu satria yang terbiasa melakukan darma tanpa pamrih.

Ketiga, adalah kita ini bisa diibaratkan berusaha hendak mengumpulkan daging yang terpisah dan menautkan tulang yang renggang. Oleh sebab itu ada suatu cara yang bakal aku lakukan. Heh Rukmarata!”

“Daulat Rama Prabu, hamba akan setuju saja dengan pendapat Rama Prabu apapun itu. Putra juga berharap, semoga kehendak Rama Prabu dapat terlaksana”. Rukmarata telah paham apa yang menjadi jalan pikiran ramandanya. Dan benarlah, ketika Prabu Salya kali ini mengutus dirinya untuk memanggil kedua kakak perempuannya.

 “Hari ini aku kepengin kamu memanggil kedua kakak perempuanmu, Surtikanti dan Banuwati. Segeralah panggil keduanya”.

“ Baiklah, titah rama prabu akan putara laksanakan.“ Tanpa ada bantahan lagi, Rukmarata segera lengser dari hadapan ramandanya.

Demikianlah, tak lama kemudian Rukmarata telah kembali kehadapan Prabu Salya. Rukmarata telah datang dengan diiring oleh kedua kakaknya Surtikanti dan Banuwati. Surtikanti adalah putra kedua Prabu Salya, berwajah ruruh kalem. Wanita ayu, dan sosoknya sedang. Bila berbaur dengan wanita yang berbadan tinggi ia tidak kelihatan pendek, dan sebaliknya bila ada diantara wanita yang berbadan pendek, ia tidak kelihatan kelewat tinggi. Kulitnya  kuning langsat bersih bening bagaikan emas yang baru saja disepuh. Dengan sedikit senyum, cenderung serius. Ia berjalan sebelah kanan mengiring adik lelakinya.

Disebelah kiri Rukmarata, Banuwati berjalan dengan langkah gemulai. Sebagaimana kakaknya, Banuwati juga mempunyai paras yang demikian cantik. Bahkan ada sedikit kelebihannya bila dibanding dengan Surtikanti. Gadis putri Prabu Salya yang satu ini memang begitu kenes dan periang. Senyumnya selalu merekah dan matanya yang bulat agak liar dan dinaungi bulu mata lentik, membuat pria siapapun yang terkena kerlingannya seakan runtuh jantungnya. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar begitu manja dan mengundang perhatian siapapun baik wanita apalagi pria. Memang, putri Prabu Salya yang satu ini memiliki daya tarik kewanitaan yang begitu menakjubkan. Demikian juga selera busananya yang tinggi, walau sebenarnya kulit beningnya dapat membuat semua warna masuk tertata dalam sosoknya yang sintal.

Dan ketika ketiga putranya telah duduk dihadapan ramandanya, dengan senyum bangga, kali ini sejenak melupakan kesedihan hatinya. Ia melihat anak-anak wanitanya seperti halnya memandang asrinya kembang-kembang warna warni penghias istana Mandaraka. Maka kemudian berkata Prabu Salya.

“Anakku Surtikanti, dan Banuwati. Hmmm . . . . .  disamping kebahagiaan yang menggunung dalam dadaku ini melihat keberadaanmu berdua, bagimu sekalian juga aku melihat ada kebahagian yang terhampar dihadapanmu, seperti ujud dari turunnya wahyu sejati”.

Sejenak walau baru memulai pembicaraan, Salya berhenti berbicara memandang kedua putrinya bergantian. Surtikanti tetap menunduk sedang Banuwati dengan senyumnya memandang ayahandanya. Salya terseret ikut tersenyum melihat kemanjaan Banuwati. Terusnya.“Itu tidak lain adalah, bahwa aku telah menerima datangnya saudaramu, Permadi. Permadi itu perlu aku jelaskan dulu. Ia adalah putra dari Raja Astina dahulu, mendiang pamanmu Prabu Pandu Dewanata.

Terus apa sebab kamu berdua aku panggil? Begini, orang itu tak akan tahu kapan kebahagiaan itu bakal datang. Hari ini kamu berdua satu demi satu akan aku utus untuk mengajak mampir Pamadi, yang hari ini sudah mengatakan kesanggupannya mencari dimana hilangnya kakakmu Herawati.

Satu-satu dari kamu berdua hendaknya bisa merayunya dengan sikap mesra kalian Tariklah ia agar ia batal pergi mencari Herawati. Sebab menurut hitungan, masih banyak para orang yang kuat tenaganya dan awas mata hatinya, yang aku anggap dapat mencari keberadaan Herawati.

Tapi aku tahu watak Permadi yang kuat seperti mendiang ayahnya. Pasti ia dengan teguh akan tetap berangkat mencari kakakmu. Maka gagalkan maksudnya, jangan sampai Pamadi kukuh kemauannya. Ya kalau ia berhasil, kalau tidak, ia pasti akan malu kembali ke Mandaraka. Dan ini berarti, Mandaraka bakal kehilangan perhiasan yang indahnya tiada terkira”. Begitulah Salya telah menerangkan maksud hatinya dengan menguraikan kepada keduanya memakai bahasa yang menurutnya begitu jelas.

Namun Surtikanti, wanita yang mempunyai tata susila yang begitu genap, masih meragukan apa yang didengarnya. Maka ia dengan memberanikan diri menanyakan apa maksud dari perintah itu kembali.“ Rama, jadi apa yang harus hamba perbuat?”

“Ajaklah Permadi mampir di keputrenmu.”  Jawab Prabu Salya tegas.

“Duh Rama, nista apa yang akan hamba sandang. Yang sudah lumrah dan sampai saat ini masih berlaku, yang harus mendahului adalah pria. Bila ada seorang wanita yang berani mengajak pria, walau ia adalah saudara sendiri, maka . . . . .

 “Bagaimana? Bagaimana menurutmu . . . . ?!!” Belum lagi selesai Surtikanti menjelaskan, namun Prabu Salya sudah tahu arah pembicaraan Surtikanti. Surtikanti hendak menolak. Maka kata kata Surtikanti dipotongnya, kali ini lebih tegas.

Tetapi Surtikanti melanjutkan, “ . . . .bila ini terlihat oleh umum, apakah tidak jatuh martabat hamba dan wanita umumnya. Apakah hal ini malah akan menjatuhkan nama baik kami terlebih nama baik paduka rama Prabu. Terlebih Rama Prabu adalah . . . “

“Hayoh ajari aku . . . teruskan . . . . Salya kembali memotong. Ia mulai tidak senang, tetapi kemudian ia diam dan memberikan waktu untuk Surtikanti agar terus mengeluarkan unek-uneknya.

 . . .terlebih hamba adalah putra raja, dan ajaran perbuatan yang sering Paduka katakan, langkah walau sejangkah, dan ucapan walaupun sekalimat, akan haruslah pantas diteladani oleh para kawula. Ya kalaulah hamba sendiri yang melakukan, bila kemudian melebar kepada kelakuan wanita-wanita lain di Mandaraka, artinya hamba telah menyebar racun.”

“Mmmm tidak seperti anakku. . . . . . . “ Salya berkata dengan nada dalam “Memang benar yang kamu ucap. Aku tidak pernah lupa bahwa aku pernah juga mengajari tata cara seperti itu. Tetapi haruslah dilihat, bagaimana menggunakan dan bagaimana menerapkannya. Artinya, tidaklah aku menyuruhmu menjual diri menawar-nawarkankan. Tetapi semua ada waktunya dan ada tempatnya, dan sekarang waktunya untuk mengalah.  Merendahkan derajat, yang pada akhirnya perbuatan ini dikemudian hari akan menambahi nama baik Negara Mandaraka.”  Prabu Salya mencoba berkilah, walau tahu ia berkilah sekenanya.

“Mohon maaf rama, adakah cara lain bagaimana cara menaikkan nama baik Negara Mandaraka?”

“Misalnya? “

“Rama, akan lebih bertambah nama baik Negara Mandaraka bila sewaktu waktu paduka berkenan turun melihat keseharian para kawula, tidak hanya didalam negara dan kotanya saja, tapi haruslah sampai ke desa desa terpencil, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dengan lingkungan orang pinggiran. Dari situ rama bisa menjadikan yang keruh menjadi bening, yang ganjil menjadi genap, yang kurang ditambahkan. Itulah seharusnya yang dapat menaikkan martabat Negara Mandaraka . . . “

“Cukup!! . . . Cukup. . . .”  kali ini kesabaran Prabu Salya sudah tak dapat dibendung lagi. Dengan muka merah ia berkata ketus kepada Surtikanti, “Terlalu menggurui kata-katamu. Semua yang kamu ucapkan itu benar. Tetapi, sorga bagi orang tuamu itu adalah, bila mempunyai anak perempuan, haruslah anak itu patuh kepada kedua orang tua. Tetapi sebaliknya, bila kamu kepengin melihat pendek umur orang tuamu, cobalah untuk membantah perintah. Disitulah kamu akan kehilangan kedua orang tuamu! “

“Baiklah bila demikian  . . . . . .”  jawab Surtikanti yang menunduk semakin dalam. Bila ayahnya sudah marah, maka apapun alasan dan bantahan walau itu benar, akan ditampiknya. Maka kemudian ia memanggil nama adiknya, pelan.  “Banuwati . .”

“Apa kanda? “

“Bagaimana ini . . . ? “

“Aku ini lebih muda darimu kanda, jadi hanyalah menurut apa saja kehendak kanda. Aku hanya takut kepada rama prabu. Aku takut membantah perintah Rama Prabu. Lagipula dimana kewibawaan Rama Prabu bila kita sebagai anak selalu menyangkal apa yang diperintahkan orang tua.”  Jawab Banuwati enteng.

Mendengar jawaban anak perempuan yang ia sayangi ini, Prabu Salya menggeremang. “Yang lebih muda saja nalarnya matang…. padahal itu adikmu, yang lebih muda”.

Namun kemudian suaranya kembali jelas berkata,“Bagaimana Surtikanti?!”

“Baiklah, bila demikian . . . “ Pelan jawaban Surtikanti hampir berbisik, hingga Prabu Salya kembali bertanya, “Bagaimana?!”

Namun kembali Surtikanti diam, dan kemudian malah memanggil nama adik lelakinya, “Rukmarata . . .”

“Ya kanda . . “ jawab Rukmarata.

“Bagaimana?”

“Silakan kanda untuk menurut semua kehendak Rama Prabu”. Jawab Rukmarata memotong masalah.

“Baiklah Rama Prabu, hamba akan menuruti apa yang diperintahkan. Walau dengan berat hati, semua pasti akan menjadi ringan bila mengingat bahwa ini adalah perintah dari rama dan ibu.” Akhirnya Surtikanti-pun pasrah.

“Nah . .  harusnya begitu. Ha ha ha . tidak urung juga kamu menurut.”  Tertawa dipaksakan Salya mendengar jawaban Surtikanti. Kemudian sambungnya kepada Banuwati, “Banowati dari awal sampai akhir semua pembicaraan ini sudah kamu ketahui tak satupun yang terlewat”.

“Begitulah rama Prabu”.

“Nah sekarang pergilah, mumpung Pamadi belum begitu jauh. Lakukan menurut apa yang menjadi kata hatimu, aku percaya kepada kamu berdua”.

Maka kedua putri-putri itupun segera menghaturkan sembah dan undur diri dari hadapan Prabu Salya. Sesuai dengan perintah, maka satu demi satu dimulai dari Surtikanti, mencoba untuk menggagalkan kepergian Arjuna.

—————————————————————————————————

Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Gong, nggak seperti rencana kita ya, ketika itu Raden Pamade melihat pemberitahuan adanya sayembara itu. Kita berempat diajak semua ke Mandaraka. Tapi kok hanya mereka berdua yang masuk ke istana. Mereka pasti dapat suguhan. Pasti melimpah ruah suguhan makanannya ya Gong?!! Lha kita disini hanya membaui saja sampai kita jadi semakin lapar. Eee . . boro-boro mereka ingat, menyuruh orang mengantarkan makanan kemari saja nggak dipikirkan”. Petruk yang kesal menumpahkan unek-uneknya yang terbawa rasa lapar yang dari tadi ditahannya.

“Lho iya, semuanya kan hanya soal tebal tipisnya rasa kemanusiaannya, begitu . . ! makanya liat itu, Semar diam saja. Sepertinya ia tersedak centong. Mau ditelan susah, dikeluarkan  apa lagi, lebih susah. Makanya liat saja kang, dia diaaam saja”. Bagong tidak mau kalah, malah Semar di sindirnya.

“Eeeh anak ini ngomong seenaknya. Apa kamu pikir aku didalam disuguh makanan enak? Aku didalam itu cuma menelan ludah, tahu!! Yang lain pada minum seger, tapi aku nggak diberi layanan”. Kali ini Semar ganti jengkel. Terpancing sindiran Bagong.

“Kalau dibegitukan aku nekat Ma!!” Gareng ikut nimbrung bicara.

“Eeeeeeeh . . . nekat macam mana?”

“Misalnya pelayan yang meladeni, kamu cegat. Katakan mau kasih minum aku, apa nyawamu hilang , begitu.!”

“Itu namanya ngaco!!” jawab Semar memutus.

“Tapi ngomong-ngomong, kok lama bener to, ma?” Kembali Petruk menanyakan sebab musabab lamanya ia naik ke pendapa.“Lha mestinya singkat saja, minta restu, Raden Pamadi mau ikut mencari putri paduka, dewi Herawati. Itu saja cukup”.

Tidak mau disalahkan, lalu Semar menceritakan bagaimana Permadi diperlakukan oleh Prabu Salya dengan cerita cerita haru di sidang tadi, tapi dengan dibumbui serba lucu.

“Dari itu aku jadi kelamaan disana, sambung Semar. Malah setelah itu, saking senengnya Prabu Salya sama bendaramu dan aku, aku disuguhinya makan nasi kuning, telornya tiga butir”. Sekarang Semar mulai ngambul. Ketiga anaknya menelan ludah.

“Lha mbok aku dibagi to ma. Lah kamu makan disana sendirian, terus kamu ceritakan disini. Apa itu bukan namanya bikin orang jadi kepingin. Ngiming-imingi gitu!”.

“Hanya untuk aku saja, wong cuma sepiring itu. Tapi aku juga diberi lauk emping yang luebar. Juga dilengkapi timun diiris iris. Timun dibumbu kemiri, kamu gumun (heran) aku pameri.”

“Lha, rama malah berpantun. Apa juga dikasih buah ma?”

“Ooh tentu. Aku disuguhi mangga Pertanggajiwa, asalnya dari Kahyangan”.

“Waaah rama itu malah cuma bikin ngiler saja. Tapi manis ma mangganya?” sekarang Gareng yang ganti nanya.

“Maniiiiiss . . . .  !!“

“Asin ma?”  Tanya Bagong ngawur.

“Aaaassiiiinn”. Walau ngawur, Semar tetap menjawab.

“Mangga itu aku habis tiga butir”. Semar makin menambah-nambahi bualannya.

“Aduuh apa rama nggak inget aku diluaran yang kelaparan itu ma?” tanya Petruk yang perutnya makin keroncongan dan air liurnya menetes.

“Ngggaaak tuh. Kamu juga kalau dapat rejeki juga kamu telan sendiri. Ngapa saya harus ingat kamu?”

“Tapi aku kan anakmu to ma? Lumrahnya orang tua itu mesti ingat sama anak, begitu kan ma?”

“Emaaang, tapi bagaimana sifat anaknya. Aku nggak ingat kamu itu karena bagaimana tingkah lakumu”.

“Yang mana?”  tanya Petruk membela diri.

“Yang itu. Kamu kenduri, orang lain diundang dioleh-olehi besekan, malah aku kamu lewati”. Petruk diam merasa salah. Pura pura tidak bersalah malah ia menanya lagi.

“Lha anu ma, minumannya kamu dikasih apa?”

Eeeeh . . . .  ya macam-macam. Ada legen, ada segala macam air tape”. Semarpun tetap menanggapi Petruk dengan bualannya yang makin membuat mereka menelan ludah.

“Aduuuh Gong, kyaine makan minum enak begitu, kok kita cuma disuguhi ceritanya doang. Menurutmu bagaimana Gong?”

“Biar saja. Aku tutup kuping kok. Lihat saja nanti kalau aku jajan, Semar bakalan aku iming-imingi, kapok dia nanti”. Jawab Bagong kesal.

“Eeeeehh . . . aku sudah kenyang, kamu mau apa?”

Merasa kalah, Bagong diam. Tapi Petruk nyerocos terus tanya hal yang lain. Pikirnya kalau terus-terusan ngomong makanan, pasti akan membuat perutnya makin mules “Terus kyaine disuruh duduk dimana?”

“Aku dipersilakan duduk dilantai yang diberi alas karpet tebal. Rupanya dianya sangat menghormati aku”.

“Dianya itu siapa?”

“Ya itu, Prabu Salya. Sewaktu aku duduk disitu aku dikipasi tiga orang.”

Kesal Petruk menanya sekenanya.”Lho dikipasi kok tidak mendidih?

“Lho apa aku kamu anggap anglo, begitu? Eeeee selesai cuci mulut, aku disuguhi kopi panas”. Kembali Semar membual soal makanan. Tetapi Petruk masih juga menanggapi.

“Lha iya to?”

 “Temen minum kopinya, pisang kepok”

“Digoreng?”

“Nggak cocok, dibakar! Dalamnya diisi gula jawa.”

“Habis berapa?”

“Cuma habis tiga!!!” kembali Semar menyebut bilangan tiga.

“Truk, disekitar sini ada tempat sepi nggak?!” Kesal, Bagong ngomong ketus.

“Mau apa Gong?”

“Anu . . . ., Semar mau aku rogoh perutnya. Geregetan aku, disini ndomble kelaparan malah cerita makanan enak”.

Tapi Semar makin menjadi-jadi “ Eeeeh . . . Ada lagi, aku juga disuguhi lemper”.

“Sudah kenyang begitu masih juga makan lemper? “ Tanya Petruk.

“Lha iya. Dalemnya isi abon. Setelah itu juga ada arem-arem.”

Gareng sekarang yang tanya, “Apa badanmu bisa gerak ma?”

“Suka-suka aku. Ini badan-badanku sendiri. Mau bergerak, ini badanku, nggak juga badanku. Masih ada lagi suguhan, uli ketan. Lemang. Habis lemang . . . .”

“Apa nggak modar aja kamu ma? Orang nggak inget anak, malah kamu pameri anakmu?”  kali ini Gareng yang sewot.

“Eeeeh he he he  . . . .   itu kalau disuguhi beneran. . . . “ Akhirnya setelah puas meledek, Semar terkekeh kekeh. Puas meledek ia berkata, “Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?”  Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu.

“Siapa nama andika, Raden Ayu?”

“Adimas walaupun baru kali ini aku kenal denganmu, anggaplah kalau aku dan kamu sudah kenal lama “  bukannya menjawab nama, malah Surtikanti mencoba langsung melakukan pendekatan.

Sejenak Pamadi diam, kemudian katanya , “Apakah saya harus berlaku bohong. Sebab pada kenyataannya baru kali ini aku mengenalmu Raden Ayu. Kecuali itu, saya adalah seorang satria yang harus selalu memegang teguh jiwa kesatrianya. Bila diketahui orang banyak aku berlaku sembrono, maka tidak urung dewata akan mengutuk perbuatanku.”

“Kata-kamu memang benar Pamadi, tapi itu hanya berlaku untuk orang lain. Tapi bagiku harusnya tidak begitu”. Surtikanti gugup, tapi kemudian ia mencoba kembali membela diri.

“Bagiku setiap pergaulan haruslah tidak membeda bedakan. Apalagi dalam pergaulannya dengan wanita. Saudara atau bukan, aku harus menjunjung drajat kaum wanita, selalu menjaga kesusilaan dan selalu menjaga keutamaannya. Kalaulah aku berani berlaku ceroboh, sembrono apalagi sampai menabrak kesusilaan, alangkah nistanya aku. Boleh dikata adalah orang yang tidak ada harganya sama sekali”.

“Apakah kamu sudah tahu siapa aku Pamadi?”

“Terlebih lagi, bagiku andika belum aku kenal. Bagiku andika mengajakku lebih dekat lagi, apakah tidak namanya membuat aku kecewa nantinya”.

“Aku putri kedua Prabu Salya, setelah kanda Herawati, namaku Surtikanti, Pamadi”

“Ya raden ayu”. Pamadi tidak berubah sikap setelah tahu dihadapannya adalah Surtikanti.

“Jangan lagi menyebutku raden ayu, sebut aku kanda saja. apalagi kita jelas hitungannya. Bila kamu dan aku hubungannya tidak jelas, dalam kebiasaannya sudah menyebutkan, bila kita  duduk berdua selama setengah hari, maka rasanya sama seperti kita sudah menjadi kerabat dekat saja. Lebih dari itu, jangan berlaku sungkan terhadapku, Pamadi.” Jurus pendekatan terus Surtikanti jalankan, maka sambungnya, “Pamadi, orang tampan itu tetaplah lestari tampan bila tidak pernah membuat sakit hati wanita”.

“Kalau menurutku hal itu adalah kebalikannya. Kanda dewi, janganlah menilai orang dari ketampanan wajah. Tetapi haruslah sampai kepada ketampanan rasa. Sedangkan yang namanya ketampanan atau kecantikan rasa adalah, bila ia mampu bergaul dengan semua golongan tanpa membedakan pangkat dan derajat. Tetapi bila diukur dengan ketampanan lahiriah tidak urung akan seperti halnya burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya”.

Surtikanti pura-pura tidak mendengar omongan Pamadi dan ia kemudian mengganti pembicaraan. “Orang orang semua mengatakan, orang tampan kok ganjil”.

Ganjil yang dimaksud bagaimana, kanda Dewi?.

“Kainmu sudah lusuh, sabukmu sudah pudar warnanya. Sedangkan wrangka kerismu seakan tak pernah digosok. Adimas, kalau orang-orang mengetahui, bahwa adimas adalah masih kerabat Mandaraka, alangkah malunya aku. Oleh sebab itu dimas, ayolah mampir dulu ke keputrenku. Bebersihlah, dan disana akan aku suguhkan air. Walau hanya seteguk, minuman itu biarlah menjadi pelepas dahaga. Adimas juga telah aku sediakan kain pengganti walau hanya selembar, tapi kain itu adalah kain batik yang aku buat sendiri”.

“Terus terang saja kanda dewi, kalau ada seorang satria, yang berhenti melakukan darma karena dari rayuan wanita, maka hidupnya akan menjadi nista. Ya kalau kenistaan itu berlaku hanya untuk diri sendiri, kalau hal ini merambah ke seluruh keluarga, maka hal ini akan menyebabkan kesengsaraan bagi seluruh keluarga”.

“Ya benar, tapi ini beda”. Jawab Surtikanti yang sebenarnya sudah kesal dan hampir putus asa. Tetapi ia masih ingat kepada orang tuanya. Karena itu ia  masih mencoba bertahan

“ Apa bedanya.”

“Aku ini kerabatmu”.

“Hal seperti tadi aku katakan, tidak memandang siapapun . . .”. Pamadi menjawab terus terang. Namun ketika melihat Surtikanti membalikkan badan, serasa ia hendak menarik ucapannya. Tapi terlanjur diam ketika kemudian Surtikanti berkata terputus-putus.

“Nista benar aku ini. Telah aku bela-belakan pasang badan soroh jiwa, hanya untuk dijenguk tempat keputrenku. Tetapi ditolaknya aku. Kau pandang aku layaknya daun kering yang sama sekali tidak punya harga . . . . ”.

Surtikanti sudah ada dalam puncak keputus asaan. Tidak ada lagi cara baginya untuk mengajak mampir Pamadi. Ia telah merasa gagal menjalankan perintah ayahandanya, menggagalkan keberangkatan Pamadi. Hatinya menangis bahkan menjerit. Namun tidak ada sepatah kalimatpun yang keluar dari mulutnya kali ini. Hanya ujud kewadagannya saja yang menandai bahwa Surtikanti begitu perih hatinya, yaitu air matanya yang butir demi butir mengalir.

Link pagelaran Ki Nartosabdo yang bersangkutan dengan cerita diatas: http://www.mediafire.com/?cwzi5tddin9w6zj

Ki Sugino Siswo Carito – Petruk Idu Geni (Audio)

Makarya bareng karo Radio Mutiara AM Bandung.

Dening : MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)
Mangga lah para sedherek. Kiye Lakon Petruk Idu Geni
Dalang             : Ki Sugino Siswo Carito.
Karawitan        : Mudha Budhaya.
Pangarsa          : Ki Sugino Siswo Carito
Kendhang         : Ki Rasito.
Waranggana     : Nyi Suryati, Nyi Wahyuni, Nyi Suwarti.

Rebut Palenggahan Senapati – Ki Sugi Hadi Karsono

(Kerjasama atara PPW dengan Radio Mutiara AM Bandung)

Oleh: MasPatikrajaDewaku. (PPW No 11-01–0006)

Ketika pertama kali saya mendengarkan janturan pambuka lakon ini, kesan pertama adalah apakah ada kesalahan “speed reel drive motor” pada pemutar kaset. Terdengar suara sedikit memiliki effect “wow”. Tetapi setelah dipaksakan untuk meneruskan permainan, kelihatan bahwa suara gamelan dan waranggana serta penggerong tidak terdistorsi oleh sebab “speed motor cassette” yang “under drive”. Tapi kita lupakan dulu masalah teknis-ini .

Lakon Rebut Kancing Senapati ini juga yang membuat saya penasaran dengan cover cassetnya. Di-cover cassette terpampang tampang Raden Jaya Anggada. Kesan saya adalah, lakon ini mungkin merupakan salah satu segment dari cerita Ramayana. Mungkin cerita lain dari Anggada Duta yang mengisahkan rebutan tugas untuk memata-matai kondisi Dewi Sinta sewaktu dalam sekapan Rahwana.

Baru setelah jejeran berlangsung, terbuka tabir lakon ini. Bahwa lakon Rebut Kancing Senapati, adalah lakon yang berkaitan dengan Lakon Baratayuda. Tepatnya ketika Prabu Boma Nara Kasura meminta menggantikan Peran Gathutkaca dalam jabatannya sebagai senapati dalam Baratayuda.

Syahdan, Batara Kresna naik ke Kahyangan Kandhawaru Binangun dengan badan wadag. Keperluannya adalah meminta kepada penguasa Kahyangan Jonggring Salaka untuk menggeser jejeri palenggahan Senapati pada perang Baratayuda nanti, dari Raden Gatutkaca ke putra nDwarawati yaitu Boma Nara Kasura.

Sebagaimana lakon carangan, cerita semacan ini kadang agak tumpang tindih timingnya. Artinya skema perang Baratayuda yang digambar coretannya ketika lakon Kresna Gugah, pada lakon ini sudah di-wedhar oleh Batara Guru kepada Sri Kresna. Padahal pada Kresna Gugah, skenario itu baru berlangsung penulisannya oleh Batara Panyarikan yang dituntun oleh Batara Guru dan Batara Naradda dengan debat seru. Sampai-sampai ketika penulisan perang antara Antareja dan Prabu Baladewa akhirnya dibatalkan oleh iguh pertikel Prabu Kresna, sehingga “duel” keduanya tidak pernah terjadi.

Begitu cintanya Prabu Kresna kepada kakandanya, Prabu Baladewa, sehingga ia rela menyerahkan Kembang Wijaya Kusuma yang merupakan penguripannya wong sabumi kepada penguasa kahyangan, sebagai barter antara nyawa sang kakak dengan pusaka yang tidak ada duanya.

Nah, kembali ke cerita ini, jauh hari sebelum Baratayuda itu terjadi, Kresna sudah memperoleh gambaran lengkap babak demi babak cerita urutan Baratayuda. Hal inilah yang kemudian menjadikan Kresna masuk kedalam penyusunan skenario Baratayuda ini dengan mengajukan anaknya, Raden Sitija alias Boma Nara Kasura. Usulan Kresna adalah Sitija menjadi senapati menggantikan peran Gatutkaca. Alasan yang dikemukakan oleh Kresna adalah bahwa dirinya adalah merupakan botoh para Pendawa, sehingga punya hak pula ikut menentukan jalannya perang. Tetapi dibalik itu, Kresna juga mempunyai pamrih untuk mencarikan kemukten bagi anaknya itu.

Cerita pergeseran posisi ini tidak berakhir sampai disini, Gatutkaca yang telah disihkan dari jabatannya, juga hendak disingkirkan dari dunia, alias hendak dibunuh. Para dewa yang dikumpulkan di Repat Kepanasan oleh Batara Narada, semuanya menolak tugas itu dengan bermacam alasan konyol, yang membuat adegan pagelaran njawi menjadi “ger-geran”. Usulan dari Batara Panyarikan, adalah, yang menyuruh, dalam hal ini adalah Batara Narada, harus ikut dalam tugas mencari Gatutkaca. Dengan berat hati permintaan Panyarikan terhadap Batara Narada akhirnya dipenuhi

Dilain pihak,  kedekatan Gatutkaca dengan Sang Paman, Raden Nakula/Sedewa, menjadikannya mengadukan firasat berupa impian yang menggambarkan bahwa Kesatrian Pringgandani terbanjri air bah.

Sang paman tidak ragu bahwa sejatinya sang keponakan akan menghadapi hal yang sulit, sehingga dimintanya Gatutkaca sementara tinggal dahulu di Sawojajar. Celakanya, dewa segera mengetahui bahwa Gatutkaca telah berada di Sawojajar. Lebih celaka lagi, yang menemui para dewa adalah putra Nakula, yaitu Pramusinta. Nah, anak yang masih kelewat muda ini begitu lugu, disamping tidak mengerti unggah ungguh, Pramusinta adalah begitu jujurnya. Pada saat ditanya dimanakah Gatutkaca, maka ia mengatakan bawa saat ini Gatutkaca sedang disembunyikan ayahnya. Sanggit yang menggambarkan keluguan Pramusinta membuat yang mendengar tersenyum! Bagaimana para Dewa dalam menyirnakan Raden Gathutkaca?

Beralih kepada lambang Kancingan senapati. Adalah Gamparan Kencana dan Topeng Prunggu. Dan Gamparan Kencana inilah yang saat itu dititpkan oleh Gatutkaca di Wukir Retawu, ditempat eyangnya Resi Wiyasa. Nah kedua wujud pusaka itulah yang juga menjadi simbol dari kemuliaan itulah, yang kemudian menjadi buruan dari Raden Sitija yang disengkuyung oleh Prabu Nagaraja.

Surya Lelana, jejadian dari Prabu Kresna, kemudian Prabu Nagaraja sesinglon, juga menjadi satria bagus bernama Naga Pertala, menunjangnya secara langsung usaha perebutan kekuasaan dan benda pusaka itu. Dalam hal ini Sencaki tidak setuju dalam hati. Tetapi dalam hal ini Sencaki sudah berjanji pada diri sendiri untuk menggagalkan usaha dari Raden Sitija.

Cerita berlangsung rumit ketika beberapa tokoh selain dari golongan hitam seperti Prabu Nagaraja yang disebutkan tadi, juga tutun gunungnya Resi Seta untuk mebantu munah satru sekti yang hendak maeka Raden Gatutkaca.

Kembali ke  urutan bagaimana Jitapsara yang dibuat menjelang Baratayuda. Karena ini merupakan lakon modifikasi sebagaimana beberapa kejanggalan urutan cerita yang juga pernah saya baca sekilas pada  ajang pirembugan anggota PPW. Maka bila diurut timing-nya , misalnya kapan waktunya antara kecilnya Abimanyu dihubungkan dengan masa hidup Samba atau Raden Setija ini agak membingungkan.

Kenapa? Karena menurut cerita ini, Abimanyu menjelang Baratayuda sudah dewasa. Sedangkan Boma masih hidup. Padahal dalam cerita Cipataning yang merupakan kelanjutan Samba Juwing, Boma (dan juga Samba) sudah tewas. Itu terjadi sewaktu Abimanyu masih balita.

Mari kita lupakan saja urutan tersebut. Kita nikmati saja bagaimana kiprah Ki Sugi Hadi Karsana, dalang dengan vokal yang jernih, dalam menjejak keprak. Silakan untuk mengunduh audionya pada link dibawah ini:

  1. 1A: http://jumbofiles.com/9jq1wwq3ex6u
  2. 1B: http://jumbofiles.com/5c1khv901ndo
  3. 2A: http://jumbofiles.com/wkt0hcov4y9x
  4. 2B: http://jumbofiles.com/kmr9fs9poehh
  5. 3A: http://jumbofiles.com/grkt2g15idsf
  6. 3B: http://jumbofiles.com/4756x4hpamnk
  7. 4A:  http://jumbofiles.com/90h93mrd9sz0
  8. 4B: http://jumbofiles.com/m494ycn3sgfy
  9. 5A: http://jumbofiles.com/w2us0rzdl2cu
  10. 5B: http://jumbofiles.com/qk70shqqvqd4
  11. 6A: http://jumbofiles.com/x388sv9getkv
  12. 6B: http://jumbofiles.com/hnh8541n34fi
  13. 7A: http://jumbofiles.com/60xqimvvgjwf
  14. 7B: http://jumbofiles.com/8pxr90dmcy54
  15. 8A: http://jumbofiles.com/n285k5fnq0ty
  16. 8B: http://jumbofiles.com/7dx6nhksufgk

KAS RANJAPAN ABIMANYU GUGUR (AUDIO)

Kembali lagi Kerjasama antara PPW Jatim dan Radio ADS FM 94.8 MHz  Trenggalek  conversi lama dari koleksi pita kaset  yang belum sempat diunggah oleh admin adalah lakon RANJABAN ABIMANYU GUGUR dalang Ki Anom Suroto

Dengan Kwalitas Audio Yang baik tentu akan dapat kita Nikmati bersama

Salam dari

Ali M/ PPW jatim

SELAMAT MENIKMATI

 

KMS PANDOWO DADU (AUDIO)

Sudah lama sekali conversi Audio Visual Mp3 ini belum sempat diunggah yaitu persembahan dari Radio ADS FM 94.8 MHz TRENGGALEK yang tentu kerjasama dengan PPW Jatim yang bertujuan ikut berpartisipasi dalam proses conversi dan dokumentasi wayang kulit.

SALAM saking

Ali M / PPW jatim

SELAMAT MENIKMATI

 

KI SUGINO SISWOCARITO – GARENG LARUNG

(Makarya bareng antarane PPW karo Radio Mutiara AM Bandung).

Dening : MasPatikrajaDewaku. (PPW No 11.01.0006)

Gareng larung kayane memper karo lakon Gareng Dadi Ratu sing inyong esih simpen konvertane. Kenangapa sih ora dibagi lan esih tek simpen? Sebab kaset sing gemiyen disilihi karo Kang Tohirin, esih kurang sekaset. Inyong esih duwe pengarep-arep, muga muga esih ana sedulur sing kagungan lakon kiye sing jangkep. Terus dikirimaken maring inyong dinggo njuguli. Jan pangarep-arepe inyong keleksanan, senajana ora pada, tapi memper.

Kebeneran sekang PPW pusat mBandung sing dipangarsani Pak Roni Subari olih lakon Gareng Larung kiye sekang Radio Mutiara AM Bandung. Matur Nuwun kagem Bapak-bapak Pangarsane Radio Mutiara Bandung lan sedaya jajaranipun, sing empun kersa paring palilah ngampilaken.

Bareng tek jajal ngemataken alur critane Gareng Larung kiye, ya pancen memper. Bedane sejen perekam lan sejen wektu lan sejen sanggite. Dadi inyong arep ngunggah dhisit sing versi lengkap sekang mBandung. Mengko inyong arep ngunggah loro-lorone supaya penjenengan padha bisa milih sing pedhes apa sing asin, aya kuwe.

Kaset sing sekang mBandung kiye padha kaya sing wis tau tek unggah wingi yakuwe lakon Siluman Naga Putih sekang bab rekamane. Rekaman kopian. Tapi senajana rekaman kopian, tapi kaset kiye jan cling banget koh para sedulur. Dadi rasane kepenak banget gole ngonvert. Ora kakehan ngulik nganah-ngeneh, asile jan apik banget.

Sing tek omong mau, dilihat dari perspective crita (alala . . . . apa kiye), pancen mandan padha alur critane karo Gareng Dadi Ratu.  Dimulai sekang jejer Negara nDwarawati. Neng pasowanan agung kiye, Nata nDwarawati lagi rembugan karo Raden Samba putrane, Raden Setyaki adi ipene, karo Patih Udawa, sedulur sejen biyung.

Sing derembug kejaba raharjaning praja, uga sing penting, ana pawarta angger rayine Prabu Kresna, Wara Sumbadra, lagi nandhang gerah. Sekehing usada wis ditamakena, tapi ora nana sewiji jenis usada sing kewawa gawe pulihe Wara Sembadra.

Lagi eca imbal wacana, dumadakan kesaru geger ing pangurakan, ana raseksa sak giri suta pepe neng alun alun. Bareng didangu, niate raseksa sing aran Ditya Kala Sudarapati arep sowan marang ngarsane Prabu Kresna. Wusana niyate Ditya Kala Sudarapati dikeparengaken munggah sitihinggil.

Kocapa, bareng niate Ditya Kala Sudarapati diaturaken neng ngarsane Prabu Kresna, Raden Samba maju wawan rembug karo Ditya Kala Sudarapati. Neng atine Raden Samba kebranang, tapine kanti ulat lan tembung sing diplomatis, Raden Samba matur ririh. (cara sekiyene kepala boleh panas, tapi hati harus tetap adem). Kenangapa sih jane?

Sebab Ditya Kala Sudarapati diutus karo ratu gustine sekang Negara Jongparang, jejuluk Prabu Sudaradewa, supaya tuku Sekar Cangkok Wijayakusuma, denggo tumbal neng Negara Jongparang. Pira regane kembang Cangkok Wijayakusuma arep dituku. Neng kene, dhalange nyindir perkara korupsi para pejabat sekiye neng Negara Indonesia.

Sebabe kang, Ditya Kala Sudarapati anu arep numpangi, tegese enggane regane satus ewu, kon ditulis neng kwitansi rongatus ewu. Jan ora gemiyen ora siki deneng lah!

Raden Samba nyaguhi. Tapi dol tinuku arep dileksanani neng alun-alun. Neng kene inyong kemutan karo lakon Durna Gemblung. Nalika semana utusan sekang Negara Ngrancang Kencana, yakuwe Patih Kala Lodra arep nyuwun Dewi Jembawati. Alure meh padha, tapi sebab kiye lakon sing nindakena Dalang Gino, ya ora mboseni. Kaya kuwe mbokan para sedulur nggih? Nggiiiiiiih!!

Bareng metu neng njaba, Patih Kala Lodra jan bombong banget. Togog karo Sarawita sing maune matur, angger jejibahan sing kaya kuwe derasa abot, nyatane kedadiane jan entheng kemlentheng temenan. Tapi Togog malah nyalahena gustine. Awit Togog ngerti angger kiye mesti pokale Raden Samba. Bener bae, kembang Wijayakesuma kena dituku, tapi nganggo ndhase Patih Kala Lodra.

Ana maning kang, nang jejeran candake, Taman Maduganda. Nalika kuwe Dewi Wara Sembadra lagi nandhang raga dirawuhi Pendita Drona. Neng kono, Pendita Drona matur karo muride, Raden Janaka, gerahe Wara Sembadra ana sing maeka. Sing nindakaken paeka, ora nana liya marune dewek, yakuwe Wara Srikandhi. Neng kene ana maning, inyong dadi kemutan karo lakon Durna Gemblung. Angger Durna Gemblung, Drona njaluk banten kuncunge Semar, lah angger Gareng larung Drona njaluk atine Gareng, sing disanepakena ati aking.

Neng pungkasane crita mangga para rawuh mengko pada tek paringi perbedaan antarane lakon Gareng Larung karo lakon Gareng Dadi Ratu. Mangga kari, milih sing endi sing arep deundhuh. Sukur arep ngunduh loro-lorone. Tekade lakone beda sanggite ya beda.

Angger lakon Gareng Larung, matine Gareng pancen arep dearah atine, tapi angger lakon Gareng Dadi Ratu, matine Gareng sekang sebab nyewek jala pusaka. Tapi ending-e pada, Nala Gareng sing dadi sekti bisa mateni ratu tokoh antagonis, ketemu karo Dewi Wara Sembadra karo Wara Srikandi. Bareng Nala Gareng nganggo agemane ratu sing dadi tokoh antagonis kuwe, Nala Gareng menjelma dadi ratu sekti. Turan, Wara Sembadra karo Wara Srikandi uga digandheng karo Nala Gareng, api-api dadi bojone. Dadi kiye lakon Gareng Larung mandan kaya cerita campuran antarane Drona Gemblung karo Gareng Dadi Ratu

 Senajana kaya kuwe, wong kiye kiprahe Dalang Gino, kabeh maen koh. Dideleng sekang crita lan sanggite, apa maning rekamane. Loro-lorone esih pada cling. Setereo!!  Kiye kang folder link-e :

Gareng Larung        : http://www.mediafire.com/myfiles.php#7278f2x7485ja

Rama Nitik – Ki Timbul Cerma Manggala (Audio)

Makarya Sesarengan Kaliyan Radio Mutiara AM Bandung

Dening : MasPatikrajaDewaku

Sumangga Para rawuh ing wayangprabu.com, menika audio MP3 Rama Nitik ingkang kapanggungan dening Ki Timbul Cerma Manggala.

Waranggana:   Nyi Maria Magdalena Rubinem

Nyi Painah

Link                 http://www.mediafire.com/?ku3f9sldlzy9w

Sugeng Midhangetaken

Mendung Diatas Mandaraka (1)

Oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW 011-01-0006)

 

Pembuka.

Bagi para muda atau bukan “suku wayang”, terkadang sulit untuk mencerna pertunjukan wayang karena keterbatasan pengenalan mengenai bahasa yang dipergunakan dalam pegelaran wayang. Untuk itu kami mencoba untuk mengenalkan wayang dengan segala aspeknya, baik alur cerita dengan banyak tokoh didalamya beserta silisilah dengan bahasa Indonesia. Cerita wayang yang demikian kompleks dengan segala macam kejadian pertentangan, konflik, intrik yang tentunya dibumbui dengan romantisme disana sini memang menjadi kendala bagi para muda atau bukan “suku wayang” tadi yang tadinya ingin mengetahui tentang wayang tetapi banyak yang tidak lagi berminat karena terbentur oleh masalah komunikasi, dalam hal ini bahasa. Cerita tentang kepahlawanan dari pewayangan akan kami beberkan dengan bahasa yang sebisanya mudah, sehingga gampang dimengerti.

Satu hal lagi, cerita ini kami rangkum dan kami ceritakan kembali dengan bebas, dari pagelaran Ki Nartosabdo. Kami anggap dalang ini yang dikenal piawai menceritakan detail alur cerita dan yang kami anggap runtut dan benar menurut pewayangan Indonesia. Cerita dari Ki Narto ini, juga banyak ditingkahi oleh dialog dialog dari para tokohnya yang kadang liku likunya tak terduga. Namun demikian, alih bahasa dari sastra pedalangan Ki Narto yang demikian tinggi dan indah, tidaklah akan dapat kami uraikan dalam bahasa Indonesia dengan utuh. Mohon kritiknya atas kekurangan kami dalam menyampaikan cerita ini karena kekurangannya itu.

Kami sampaikan link pagelarannya pada akhir setiap akhir seri tulisan agar pembaca semua dapat mempelajari pagelaran seutuhnya.

Ucapan Terimakasih kami haturkan kepada Radio Mutiara Bandung yang telah mengijinkan kami mendigitalisasi kaset koleksinya, dan menjadikannya referensi tulisan yang mudah-mudahan berguna untuk penikmat wayang semua.

Selamat mengikuti.

——————————————————————————-

1.   Jalan Cinta Banuwati Berawal

Cinta terlarang sepanjang hidup. Cinta lewat belakang dijalani Arjuna dengan Banuwati hampir sepanjang kedewasaan keduanya. Perselingkuhan cinta keduanya bukanlah sebuah rahasia, tetapi keniscayaan ini telah menjadi rahasia umum. Bahkan suami Banuwati-pun sebenarnya mengetahuinya secara terang benderang. Tetapi Duryudana, sang suami, tak berdaya bertekuk lutut di sudut kerling mata manja Banuwati. Berkali kali Banuwati kepergok, namun keduanya tetap bersatu erat dalam buaian cinta pertama. Kata orang, selingkuh itu indah. Kenyataan ini benar benar tergambar di kehidupan cinta antara Arjuna dan Banuwati. Mereka berdua saling membutuhkan dan Banuwati telah menyatakan janji, yang apakah ini boleh dikatakan suci?. Ia sanggup menjadi mata-mata bagi kejayaan Pandawa dalam perseteruannya dengan saudara sedarah, Kurawa. Janji yang ada atau tidak adapun akan dibayar dengan kemesraan Arjuna yang diperoleh sepanjang hayatnya hingga Aswatama mengakhiri hidup Banuwati usai Baratayuda.

Ketika itu di petamanan Mandaraka. Tidak ada yang menyuruhpun, sebenarnya Banuwati akan dengan gembira mengakrabi Permadi, Arjuna muda. Pemuda yang sangat tampan itu telah memikat hatinya pada pandangan pertama. Apalagi ketika ayahndanya menyuruh kakak perempuannya, Surtikanti dan dirinya untuk mengenal lebih dekat saudara misan yang begitu membuat heboh sidang yang ketika itu sedang berlangsung. Ayahnda memanggil keduanya seusai sidang agung, ketika putri tertua dari Prabu Salya telah sebulan hilang dari kamarnya.

Memang demikian, sejak Prabu Salya kehilangan putri pertamanya, Herawati atau Erawati, maka telah disiarkan kabar lewat selebaran yang ditempel pada kayu kayu besar dan tempat ramai, bahwa siapapun tidak memandang pangkat dan derajat, bila yang menemukan dan mengantarkannya kembali ke Mandaraka adalah seorang wanita, ia akan diangkat menjadi saudara. Dan bila yang menemukan adalah seorang pria, maka akan dinikahkan dengan Dewi Herawati.

Maka ketika sidang sedang berlangsung hari itu, Prabu Salya yang dihadap oleh putra pangeran pati, Raden Rukmarata, dan dibelakangnya duduk takzim Patih Tuhayata, maka heninglah balairung terbawa oleh kesedihan hati Prabu Salya. Dan kesunyian itu tak hendak terusik oleh para yang hadir. Mereka mahfum dengan apa yang dirasakan oleh rajanya.

Sekian lama waktu berlalu ketika Prabu Salya akhirnya memangil nama putra pangeran pati, Raden Rukmarata.

“Rukmarata putraku . . . . “

“Terimakasih ramanda, bahwa ramanda telah memanggil putra ramanda. Gerangan apakah yang hendak rama prabu hendak sampaikan?”  Geragapan Rukmarata yang didalam benaknya juga sedang berputar-putar kenangan mengenai kakak perempuannya, menjawab.

“Hari ini walaupun sebenarnya aku sedang dalam pasamuan agung, tidaklah aku hendak membicarakan tata negara, tetapi saat ini kamu pasti tahu, ramandamu sedang dalam kesusahan. Pikiran ini selalu saja tertuju kepada hilangnya kakakmu Herawati. Sudah terhitung sampai saat ini waktu hilangnya kakakmu itu sudah mencapai satu bulan lamanya.”  Sejenak Prabu Salya menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang terasa serak.

“Hilangnya kakakmu itu bagaikan tercabut oleh Dewa. Waktu sore itu kakakmu masih menghadap aku, tetapi ketika keesokan paginya, kakakmu sudah lenyap dari kamarnya. Heh putraku Rukmarata.”

“Daulat ramanda,”  Rukmarata menjawab dengan sembah takzimnya.

“Kenapa sampai saat ini belum lagi ada titik terang dimana kakamu Erawati berada? Atau adakah titik terang siapakah yang telah melarikannya. Bila hilangnya kakakmu ini berlarut-larut hingga misalnya dua bulan, betapa akan menjadi teramat menyusahkan ibumu. Dari kemarin sore hingga pagi tadi ketika aku hendak menyelenggarakan sidang, ibumu selalu sedih menangis. Air matanya selalu jatuh berlinangan, dan tingkah lakunya selalu serba salah. Semua cara sudah aku lakukan, semuanya bertujuan agar ibumu terhibur. Tetapi usahaku itu tidak menjadikan ibumu pulih. Menurutku, satu cara agar ibumu akan kembali gembira, bila Erawati ditemukan. Adakah ada cara atau usaha menurutmu, bagaimana agar kakamu segera dapat ditemukan ?”  Tanya Salya kepada putranya

“Duh rama, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa putra paduka telah berbuat tanpa mendapat perintah terlebih dulu. Sekitar tujuh hari yang lalu, hamba telah mendaki gunung-gunung dan masuk ke dalam hutan. Menyusuri tepian pantai dan merambah ke desa demi desa. Semua yang hamba lakukan adalah mencari titik terang, dimanakah adanya kakanda Herawati dan sekalian mencari tahu siapakah yang melarikannya”. Sejenak Rukmarata berhenti untuk membetulkan letak duduknya. Kemudian sambungnya “Hamba juga telah bertanya kesana-kemari kepada para Pandita yang berpenglihatan terang dan berperasaan tajam. Semua itu adalah usaha putranda, supaya hamba diberi titik terang dimanakah dapat diketemukan kanda Herawati. Tetapi ramanda, semua yang hamba tanyai selalu menjawab hal yang sama. Semua telah menguncupkan tangan menekuk dengkul, pasrah hidup tidak dapat menunjukkan apa yang hamba minta. Duh ramanda, hingga saat ini tidak ada sepercik titk terang yang dapat dijadikan pedoman dimana adanya kanda Herawati. Putranda hanya dapat berharap kepada Dewata agar kesulitan ini dapat diatasi.”  Demikian Rukmarata telah menjelaskan semua usaha yang telah ia lakukan.

“Putraku Rukmarata, seingatku selama aku dititahkan di madyapada ini, tidak sekalipun aku membuat orang lain menderita. Tetapi tanpa aku ketahui musababnya aku telah tersandung perstiwa yang membawa penderitaan semacam ini.”  Setelah berdiam diri sebentar, pertanyaan sekarang beralih kepada paranpara kepatihan, Patih Tuhayata

“Patih Tuhayata, apa yang bisa kamu berbuat untuk meringankan kesulitan ini, patih?”

“Duh Gusti Prabu, walaupun tidak sedikit prajurit sandi telah disebar untuk mengetahui dimana Gusti Putri Erawati berada, namun sampai saat ini tidak satupun laporan yang masuk, yang mengatakan telah mendapat titik terang dimana Gusti Putri Erawati telah berada. Hamba hanya dapat meminta seribu maaf karena kali ini hamba tidak dapat berbuat labih banyak lagi.”  Jawab Tuhayata dengan disertai kepasrahan.

2. Yang Bersedia Menanggung Beban.

Sejenak sidang agung itu menjadi sunyi. Tak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Tetapi tiba tiba terjadi gaduh diluar sidang. Bertanya Prabu Salya kepada Patih Tuhayata.

“Patih Tuhayata, lihatlah keluar, ada apakah gerangan sehingga keadaan diluar sidang menjadi begitu gaduh!”

Keluar sejenak Patih Tuhayata melihat keadaan diluar. Setelah mengetahui apa yang terjadi, kemudian ia naik kembali ke balairung melaporkan peristiwa yang terjadi di pisowanan diluar sana.

“Gusti, tidak ada kuda yang lepas dari istal, ataupun gajah yang keluar dari kandang atau pula harimau yang lepas dari kerangkengnya. Yang membuat gaduh diluar sidang adalah datangnya Patih Sangkuni dari Astina. Beliau ada diluar menanti ijin dari paduka untuk menghadap.”

“Hmmm, ada keperluan apakah Sangkuni datang ke Mandaraka ini. Patih, keluarlah dari sidang, beritahu Sangkuni untuk menghadap aku.”  Prabu Salya memerintahkan kembali kepada Patih Tuhayata untuk memberikan titah Raja, bahwa Patih Sengkuni sudah diperkenankan naik menghadap.

“Titah paduka akan hamba laksanakan.”  Takzim menyembah kemudian hendak diberitahunya Patih Sengkuni untuk naik pendapa.

Begitulah Patih dari Astina itu telah diperintahkan untuk naik ke balairung. Dialah Patih Sangkuni yang bernama lainHarya Suman, Suwelaputra atau juga disebut Tri Gantalpati. Sesudah beberapa saat ia menunggu, segera ia dihadapkan kepada Sang Prabu Salya. Patih Sangkuni yang datang ke Mandaraka atas utusan dari kemenakannya Raja Astina Prabu Jakapitana atau Prabu Kurupati. berjalan mengendap. Merunduk gerak Patih Sangkuni ketika menghadap Prabu Salya, seraya menyembah berulang ulang dengan sikap takzim, ia duduk dihadapan Prabu Salya.

“Heh Patih Sangkuni, baik-baik sajakah kedatanganmu di Mandaraka?”

“Atas pangestu Paduka Sang Prabu, kami tak menemui halangan apapun. Sembah hamba kami haturkan kepada paduka Sang Prabu.”

Demikian juga Putra Prabu Salya, Rukmarata menghaturkan salam keselamatan kepada patih Astina tersebut. Setelah itu Prabu Salya segera ingin mengetahui gerangan apakah yang menjadi keperluan Patih Astina itu datang ke Mandaraka.

“Ada keperluan apakah Patih Sangkuni, kelihatan ada sesuatu yang penting yang hendak kamu sampaikan. Sukur apabila kedatanganmu sekedar tilik saja, tetapi apabila kamu diperintah oleh putramu Prabu Kurupati, hendaknya bicaralah yang jelas, agar aku dapat mendengarkan maksudmu dengan sebaik-baiknya.”

Setelah memperbaiki posisi duduknya dan beringsut maju sejengkal, Patih Sangkuni memulai cerita yang dialami ketika para Kurawa juga ikut melakukan pencarian Putri Mandaraka,

“Baiklah. Kenapa hamba berani datang ke hadapan Paduka tanpa diundang, sebab hamba diperintah oleh kemenakan Paduka Prabu Kurupati. Beliau telah tertarik oleh lembar kabar yang telah terpasang di pohon-pohon besar. Disitu diberitakan bahwa putra paduka yang pertama telah sebulan ini hilang, diduga dilarikan orang. Didalam selebaran tersebut juga diberitahukan, bahwa siapapun yang bisa mengembalikan putri Paduka Dyah Herawati, apabila ia adalah seorang wanita, akan diaku menjadi saudaranya. Dan apabila seorang pria yang dapat mengembalikan, dia akan dinikahkan dengan Dewi Herawati.

Dari itulah Putra kemenakan Paduka Prabu Jaka Pitana, melakukan pencarian terhadap Dewi Herawati. Pencarian telah dilakukan tanpa mengingat waktu, baik itu siang atau malam. Sampai pada saat senja, ketika anak Prabu Jaka Pitana membuat pesanggrahan untuk bermalam di tepi Bengawan Swilugangga, ia melihat sesuatu bayangan yang tidak mudah terlihat, tetapi dapat diduga itulah yang melarikan Putri Paduka Prabu Salya. Kenapa dapat dipastikan, karena disitu juga terdengar tangis seorang wanita. Dan dari situlah patut diduga, bahwa putri paduka Dyah Erawati telah dilarikan kedalam Bengawan Swilugangga oleh mahluk tersebut.”  Berhenti sebentar Patih Sengkuni, kemudian masih dengan khidmat ia meneruskan ceritanya

“Oleh sebab itu, anak Prabu Jakapitana telah bersumpah, tidak akan kembali ke Negara Astina bila tidak dapat pulang bersamaan dengan putri paduka Dewi Erawati. Demikian yang dapat hamba ceritakan, sinuhun”.

Sejenak sang Prabu Salya menghela nafas panjang. Cerita Patih Sangkuni makin tentang keberadaan Herawati bukannya menjadikan sang Prabu berlega hati, tetapi malah menambah gundah isi hati Sang Prabu.

Sejenak kemudian, berkata Prabu Salya kepada Patih Sangkuni. “Heh Patih Sangkuni, setelah kamu menceritakan hal yang terjadi, seketika jantungku menjadi berdebaran. Bila hal itu nyata, mulai kapan lagi Kurawa akan memulai kembali melakukan pencarian didalam Bengawan Swilugangga?

“Walau tidak diperintah, siang dan malam tak bakal berhenti pencarian itu. Akan berasa malu besar apabila Prabu Jaka Pitana tidak kembali membawa putri Paduka, pulang ke Mandaraka.”

“Sukurlah bila demikian. Kecuali aku menyetujui usaha para Kurawa, aku juga akan memberikan bantuan apapun yang para Kurawa butuhkan”. Prabu Salya mencoba menawarkan bantuan untuk memperlancar usaha para Kurawa.

“Hanya pangestu dari Paduka Sinuwun Mandaraka yang hendaknya menjadi obor bagi gelapnya jalan kami.”  Namun Sangkuni dengan halus menolak

“Bagus!! Kapan kamu mau kembali?”

“Sekarang juga kami akan kembali menghadap putra Prabu Jakapitana, supaya tidak menjadi pertanyaan bagi Prabu Jaka Pitana dan hamba akan segera menceritakan apa yang terjadi disini.”

Demikianlah, Patih Sengkuni segera lengser dari hadapan Prabu Salya. Gembira hati Sangkuni setelah melakukan tugas kemenakannya dan diberikan restu oleh Prabu Salya. Maka segera ia meloncat ke punggung kudanya dan sekali lecut kuda telah berlari kencang meninggalkan Mandaraka dengan debu putih yang beterbangan

Diceritakan setelah Patih Sengkuni pergi dari balairung, kesepian balairung kembali mencekam. Tetapi suasana itu tidak berlangsung lama. Diluar kembali terjadi kehebohan. Banyak yang hadir bersuara ramai, terlihat seorang pemuda datang hendak minta ijin menghadap Prabu Salya. Pemuda tampan yang terlihat bagaikan sosok Dewata

Siapakah yang datang itu? Demikian pertanyaan dari banyak hadirin yang memenuhi didalam dan diluar sidang. Dialah anak Prabu Pandu, raja Astina dahulu. Dia adalah anak penengah dari lima bersaudara anak Prabu Pandu, atau biasa disebut Pandawa. Anak penengah Pandawa itulah yang bernama Pamade atau Pamadi. Nama lainnnya adalah Permadi, Arjuna, Kuntadi, Parta Panduputra dan banyak lagi nama dan jejuluknya.

Satria yang sangat tampan tanpa cacat secuilpun. Dengan aura yang memancar dari seluruh sosoknya yang berperawakan sedang tetapi tegap. Kulitnya bening bercahaya bagai emas yang baru saja disepuh.

Walaupun mengenakan busana yang serba sederhana, tetapi hal itu malah semakin membuat seluruh sosoknya menjadi makin menonjol.

Ketika ia menaiki pendapa balairung istana, semua mata tertuju kepada sosok yang bagaikan dewa yang turun dari kahyangan. Apalagi para wanita, berdebaran jantung mereka melihat ketampanannya. Mereka saling colek satu sama lain. Beberapa diantaranya melemparkan kerlingan sambil tersenyum merayu. Ada yang melambaikan tangan dari jauh bahkan melemparkan kuntum bunga. Yang tidak sabar bahkan tidak ingat bahwa dia ada dalam sidang agung, walau masih duduk tapi dipanjangkan lehernya berusaha  untuk melihat dengan jelas siapakah pemuda tampan yang menghadap rajanya.

Bahkan seorang wanita yang sedang hamil mengelus dan menggebuk pelan perutnya. Dalam hatinya ia berkata: “Ooh anakku, semoga bila kamu lahir lelaki, dewa berkenan menjadikan kamu tampan seperti pemuda yang baru naik menghadap Gusti Prabu Salya itu!”

Yang lain bahkan ada juga menyembah sang tampan dikira ia adalah dewa yang sedang turun ke dunia. Tetapi Pamadi tidak menghiraukannya dan terus melaju menuju tempat Prabu Salya yang tengah duduk di kursi Gading dengan hiasan emasnya.

Demikianlah. Ternyata Raden Pamadi juga telah mendengar kabar bahwa putri pertama Sang Prabu, Dewi Herawati telah hilang dari kamarnya. Ia naik ke hadapan Prabu Salya hanya didampingi oleh pemomongnya Kyai Lurah Semar Badranaya, atau disebut juga bernama Duda Manang-Munung, Wong Boga Sampir atau juga disebut Jurudyah Kunta Prasanta.

Seketika Prabu Salya seakan tersihir. Dengan mulut ternganga dengan mata yang tanpa berkedip, ia melihat kedatangan pemuda tampan iitu. Walau dalam keadaan yang sangat sedih dan terpukul oleh kehilangan anak perempuannya itu, tetapi kedatangan pemuda  ini dapat dikatakan telah menjadikannya ia lupa dengan rasa sedih yang sedang mendera.

Setelah tersadar dengan geragapan ia berkata ;”Oooh . . . aku kejap-kejapkan mata ini berkali kali, tetepi ternyata makin tegas. Kalau tidak salah dihadapanku ini, pamongku dahulu, kakang Semar . . . . ?

Betul sinuwun, saya Semar Badranaya.” Demikian jawab Semar.

“Oooh kakang, tidak mengira aku bisa ketemu lagi. . . .!”

“He he he saya juga sampai sekarang masih ada . . . .” Terkekeh Semar menjawab

“Selamat atas kedatanganmu kakang. . . ?“

“Ya selamat tanpa aral melintang. Baktiku kepada andika sinuhun.”

“Semar . . . .  , pemuda tampan ini siapa?”

“Mohon diperkenankan hamba bercerita dulu. Waktu itu. Sewaktu menjalani sayembara pilih di Negara mandura paduka mungkin masih ingat. Paduka berperang tanding dengan Prabu Pandu Dewanata, setelah andika terpilih pada sayembara pilih itu. Pada waktu itu Prabu Pandu yang datang belakangan ditantang oleh andika, yang kemudian menang atas paduka dan memboyong Dewi Kunti ditambah dengan adik Paduka Dewi Madrim. “ Nyerocos Semar mulai bercerita dengan pertanyaan.

Iya kakang, aku masih ingat . .

“Lalu putri dari Plasa Jenar putra dari Prabu Suwela yaitu Prabu Gendara yang bernama dewi Gendari. Dipasrahkan oleh Sangkuni yang kalah ketika hendak merebut kedua putri boyongan Kunti dan Madrim. Setelah dibawa ke Astina, ketiga putri tersebut diberikan semua kepada Ayahnya, Prabu Abiyasa. Sebab Prabu Pandu masih memangku adat dan naluri yang kuat. Tidak baik namanya apabila berani menikah dan melompati yang lebih tua. Setelah itu, Prabu Abiyasa memanggil putra pertamanya, Drestarastra, disuruh memilih diantara ketiganya. Cara memilih yang unik dari Drestarastra ketiga wanita itu dipegang tapak tangan putri-putri itu satu persatu dimulai dari Dewi Madrim, dirabanya. Raden Drestarastra akhirnya mengatakan ia tidak suka kepada Dewi Madrim, yang menurutnya hanya akan berputra dua. Seketika saking girangnya hati Dewi madrim, ia tertawa berkepanjangan. Ia merasa bahagia tidak terpilih. Waktu itu Kunthi juga diperlakukan sama, kemudian ditolaknya Kunthi karena hanya akan berputra tiga.”

Dewi Gendari dipegang tangannya, kemudian mengkipatkan tangan Drestarastra tetapi dipegangnya kembali tangan Gendari dengan paksa, karena Gendari selalu meronta. Tetapi akhirnya setelah perjuangan panjang menahan krodat Gendari yang selalu meronta, terpilihlah Gendari, karena dinyatakan Gendari bakal melahirkan anak sejumlah seratus.

Demikianlah seperti yang sinuwun sudah tahu, Prabu Pandu yang kemudian bertahta menjadi raja Astina, mempunyai tiga orang putra dari Kunti, bernama Puntadewa yang pertama, kemudian yang kedua bernama Bratasena dan yang ketiga bernama Permadi. Sedangkan dari adik paduka Madrim, Prabu Pandu berputra dua kembar, bernama Nakula dan Sadewa”. Sejenak Semar berhenti bercerita seolah berteka-teki. Namun kemudian ia melanjutkan.

“Dan inilah putra Pandu yang ketiga dari Kunti, yang bernama Pamadi.”

Seketika kaget bercampur gembira Prabu Salya ketika mendengar akhir cerita Semar. Turun dari kursi kebesaran dan dirangkulnya kemenakannya itu. Sebentar sebentar diciuminya, sebentar sebentar dielus rambutnya. Bila tidak merasa malu terlihat oleh yang hadir, maka akan berteriaklah prabu Salya sekuatnya melepas rasa gembira yang tidak terkira. Dalam hatinya ia merasa tidaklah berangkulan dengan Pamadi, tetapi ia sedang berrangkulan dengan adik iparnya Prabu Pandu. Haru-biru melingkup suasana sidang kala itu. Maka setelah berapa lama berangkulan, dilepaskannya bahu Pamadi dibimbingnya ia ia lebih mendekat dan berkata.

“Pamadi, kemarilah mendekat kepada uwakmu.”  Setelah kembali suasana tertata, dengan sabar Prabu Salya kembali berkata.

“Sampai sampai hampir aku tak dapat menahan keluarnya air mataku ketika aku tahu siapa kamu, anakku. Ternyata tak ada bedanya antara kamu dengan ayahmu dulu. Lima anak Pandu hanya kamu yang mirip ayahmu. Sama-sama tampan, tetapi ayahmu agak tengeng. Sementara kamu bagusmu tanpa cacat. Selamat atas kedatanganmu Pamadi.”

“Doa puji paduka, tiada halangan sehingga putra paduka dapat sampai di Negara Mandaraka. Bakti putranda semoga diterima, Sinuwun Mandaraka.” Jawab Pamade sambil bersembah kagok.

“Nanti dulu. Jangan kamu sebut aku Sinuwun. Kalau dilihat dari silsilah, aku kepada ramamu seharusnya menyebut kakak. Tetapi oleh kerena ayahmu memperistri adikku , Madrim, maka aku disebut lebih tua. Lah kamu dapat menyebutku uwa Prabu, begitu.

Demikianlah sidang menjadi agak cair dari kebekuan oleh peristiwa yang tidak disangka sangka. Demikian juga dikenalkannya putra pangeran pati Mandaraka, Rukmarata. Dilarahkannya semua tata keluarga antara Pamadi dan Rukmarata sehingga jelas silsilah antara kedua pihak.

Namun demikian masih ada lagi cerita dari Semar yang hendak disampaikan kepada Prabu Salya. Setelah mendapat ijin dari Prabu Salya, Semar kembali menyambung cerita tentang para satria yang diemongnya.

“Cerita ini dimulai ketika ada peristiwa Balai Sigala-gala. Pendawa dan Kurawa dipanggil oleh Adipati Drestarastra yang ketika itu menggantikan sementara tahta Pandu yang telah wafat. Pemanggilan kedua pihak Pendawa, anak Pandu, dan Kurawa, anak Drestarastra itu, adalah berkaitan dengan dibaginya warisan Pandu.

Oleh kecurangan Kurawa, Para Pandawa dinyatakan terbakar didalam bale penginapan yang dinamakan Bale Si Gala-Gala, termasuk ibundanya, Kunti.

Namun sebenarnya tidak. Mereka terselamatkan oleh binatang yang berjenis garangan. Binatang itu membuat liang panjang yang masuk ke kawasan Sapta Pratala. Disanalah Bratasena diambil menjadi menantu oleh penguasa Sapta Pratala Sang Hyang Anantaboga. Wanita putra Anantaboga yang diperistri Bratasane alias Wrekudara itulah yang bernama Nagagini.

Setelah sekian lama tinggal di Sapta Pratala, Pandawa segera melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa Karangasem. Disanalah Pandawa menginap di rumah Kaki Wijrapa.

Keesokan harinya, Bratasena diadu dengan penguasa Ekacakra yang berujud raksasa bernama Prabu Baka. Bratasana menang menebus nyawa orang senegara, karena Prabu Baka adalah pemakan rakyatnya.

Sekian lama tinggal di Ekacakra, Pamadi mengajak saya pergi, sekian lama setelah kami pergi, Kunti menangisi kepergian Permadi hingga Bratasena tidak sabar lagi dan pergi mencari adiknya itu. Setelah dicari sekian lama, ketemu ia di Negara Mandura. Ketika itu ia sedang menonton adu manusia antara Sura Tri Mantra, patih dari kadipaten Sengkapura anak haram dewi Maerah. Sedangkan Maerah adalah istri Prabu Basudewa. Ketika itu Bratasena diminta menandingi jago dari Sengkapura dan Bratasena menjadi jago Mandura. Sedangkan yang menjadi taruhan adalah Negara Mandura itu sendiri. Bratasena menang. Kangsa mati beserta Sura Tri Mantra. Dari situlah prabu Basudewa mengerti bahwa Bratasena dan Pamadi adalah kulit daging sendiri. Karana Kunti ibu Pendawa adalah adik Basudewa.

Malah, Pamadi hendak dijodohkan dengan putri Basudewa yang bernama Bratajaya atau Sumbadra. Sedangkan Bratasena mendapatkan gada kepunyaan Sura Tri Mantra yang bernama Gada Rujak Polo”. Prabu Salya membiarkan Semar menuturkan ceritanya hingga selesai. Sebenarnyalah, memang Salya ingin sekali mengetahui riwayat dari kemenakan-kemenakan dan adik iparnya Kunti, yang sudah sekian lama dikabarkan telah sirna.

<< 00 >>

“Kembali ke peristiwa sekarang, momonganku membaca selebaran yang andika buat.”  Kata Semar menjelaskan kenapa ia sampai di Mandaraka.

Sejenak Prabu Salya berpikir keras, bagaimana cara agar Pamade tidak ikut-ikutan mencari Herawati. Dalam hatinya terbersit suatu pemikiran, bagaimana agar salah satu anaknya dapat diperistri oleh Pamade tanpa harus mengorbankan kemenakannya itu. Maka ketika sepercik akal terbersit, berkata Prabu Salya kepada Pamade

“Pamadi, kalau kamu hendak beristri, kamu tidak usah ikut-ikutan mencari kakakmu Herawati. Aku masih mempunyai dua orang putri lagi. Yang hilang ya sudahlah biar orang lain saja yang mencari, kamu tinggal memilih putriku yang lain. Pilih satu diantaranya. Yang satu nama Surtikanti sedangkan satunya nama Banuwati. Walau Herawati hilang, tetapi bila nanti kamu menjadi menantuku, serasa dalam hati ini, Herawati telah pulang kembali.”

“Uwa Prabu apakah tidak menjadi nista bila satria yang sudah mempunyai niat dan kemauan menemukan kanda Herawati yang kemudian kemauan itu terhenti hanya karena menerima ganjaran berujud wanita. Dipandang dari darma kesatria tidaklah elok. Mohon maaf Uwa Prabu, kami memaksa untuk menetapkan ujud dari kewajiban sebagai satria, hamba tetap hendak mencari dimana adanya kanda Herawati, hingga tetes darah hamba yang terakhir”.

Walau sudah diduga sebelumnya, bahwa Pamadi akan menolak. Sebab ia teringat dengan sifat ayah Pamadi yang juga mempunyai watak yang demikian. Tetapi tak urung Salya sempat kaget juga. Maka katanya, “Jagat dewa batara, sukurlah bila nanti ketemu. Jangan lama lama ada di Mandaraka, segeralah memperingan kesusahan yang menimpaku, anakku”

“Mohon puji doa dari Uwa Prabu.”  Pamadi segera menghaturkan sembah yang kemudian lengser turun dari balai agung.

Salya memberikan doa puji untuk kepergian Pamadi. Namun itu hanya terucap di mulut saja. Pada kenyataannya ia berat melepas Pamadi yang hendak menempuh bahaya. Dalam hati ia mempunyai rencana lain, bagaimana ia harus menahan kepergiannya. Caranya adalah menghadirkan kedua putrinya dihadapan Pamade. Dan dari rencana Salya ini, cinta kedua insan, Arjuna dan Banuwati bersemi.

Link Pagelaran Ki Nartosabdo:


KONTRIBUSI POSITIF VII

Kita wajib bersyukur dengan banyaknya kontribusi sehingga telah terposting begitu banyak di blog kesayangan kita wayangprabu.com ini serta dukungan dari berbagai macam Komunitas Radio seperti Radio Mutiara Bandung Jawa Barat, Radio Suara Parangtitis Yogyakarta, Radio Suara Kenanga Yogyakarta, Radio Safari Jakarta, Radio Kurniafm Trenggalek Jawa timur dan radio radio yang lain yang mungkin belum disebutkan.

live in Tumpuk Tugu Trenggalek Ki H Sukron Suwondo Nop 2011

Tak lupa juga ucapan Terima kasih kepada anggota PPW dimana saja berada yang ikut membantu baik material, Non material, dukungan moral juga sumbangan berbagai macam Audio maupun Videonya sehingga dapat menambah khasanah dan indahnya blog wayangprabu.com

Live In Surodakan Trenggalek Jawa Timur

Dari Wilayah Timur Pulau Jawa…kami PPW jatim dan Kurniafm Trenggalek berusaha memberi sebagai wujud kontribusi kami untuk slalu mendukung dan memotivasi agar wayangprabu.com menjadi lebih berwarna dengan kata lain kami (cilik sworo nanging bukti Nyoto)….yang kami artikan bahwa kami akan slalu berusaha membuktikan bahwa tidak hanya berita tapi kami juga mampu mendokumantasikan Audio dan Atau Video pagelaran atau pertunjukan wayang kulit yang ada di wilayah Jawa timur yang tentu bisa kami jangkau baik waktu dan kondisi keuangan kami.  Wujud nyata tersebut telah beberapa kami posting Audionya pagelaran wayang kulit yang berhasil kami dokumentasikan beberapa waktu yang lalu.

Suasana saat Nonton Live di Trenggalek salah satu anggota PPW jatim

Sudah Masuk redaksi PPW jatim dan belum terunggah antara lain :

1. Lakon Anoman Lair  Dalang Ki H. Sukron Suwondo Live In Tumpuk Tugu Trenggalek.

2. Lakon Gatotkaca Wisudo Dalang Ki Kondho Widodo (Sun Gondrong) live In Bendorejo Pogalan Trenggalek Jawa Timur

3. Lakon Wahyu Makhutoromo Dalang Ki Anom Suroto Live In Stadion Menak Sopal Trenggalek (Hut Kabupaten Trenggalek)

4. Lakon Wahyu Makhutoromo Dalang Ki Anom Suroto Live In Pendopo Sidoarjo Jawa Timur.

5. Lakon Wahyu Mustiko Aji Dalang Ki Eko K Presdianto Live In Karangan Trenggalek Jawa Timur

6. Lakon Wisanggeni Lahir Dalang Ki Deni SC live In Surodakan Trenggalek

7. Lakon Wirotho Parwo Dalang Ki Deni SC live in Sambirejo Trenggalek

8. Lakon Petruk dadi Ratu Dalang Ki Eko K Presdianto live In Gapensi Kab. Trenggalek.

Nah diatas data yang sudah masuk redaksi untuk proses unggah secara bertahab dan dalam proses conversasi PPW jatim yang didukung sepenuhnya oleh KURNIAFM TRENGGALEK RADIO INFORMASI DAN BUDAYA.

Selingan lawak pada saat limbukan dan goro goro (lawak Cak Supali)

Dari data diatas tentu masih banyak lagi yang akan dalam pengerjaan convert yaitu berbagai audio pita kaset wayang yang masih dalam taraf pengumpulan dan proses pengerjaan, yang tentunya nanti akan dapat dinikmati secara gratis dengan cara mendownload saja.

Dengan Slogan CILIK SWORO NANGGING BUKTI NYOTO kami PPW jatim hadir untuk memotivasi nantinya dimana tempat pertunjukan wayang kulit dan disitu ada PPW hadir akan mampu melobi untuk ikut serta mendokumentasikan Audio dan atau Videonya untuk dapat dinikmati kita semua.

Akhir kata mari Kita berkarya sebagai wujud nyata bahwa kita bisa…….

Iwak Sepat dipangan Ulo , Menawi lepat Nyuwun pangapuro

Salam saking

Ali M (PPW jatim)

Petruk Idu Geni – KSSC – Sinopsis

(Makarya bareng kalih Radio Mutiara AM Bandung)

Dening: MasPatikrajaDewaku. (PPW 011-01-0006)

Para rawuh teng wayangprabu.com kabeh bae. Ora tek wiji-wiji endi sing kelebu seneng karo Gagrak Solo tapi seneng Mataraman, sing seneng gagrak Mataraman tapine uga seneng gagrak Soloan. Kelebune penjenengan sing ora ke-etung kelompok sing biasa, alias kelompok luar biasa, kaya penjengan sing seneng gagrak Banyumasan tapi seneng gagrak Solo karo Mataraman. Sapa sih kang?. Mangga niki onten malih lakon sekang Ki Sugino Siswocarito sing mesthi bae wayangan gagrak Banyumasan.

Lakon carangan sing marakena para sutresnane Ki Sugino mandan penasaran, kenangapa ana lakon sing judule kayong mendeni banget. Petruk Idu Geni!! Biasa kang, kiye sih jenenge model dodolan sing menjual ala sales. Dagangan jere kudu duwe selling point, yakuwe salah sijining factor sing arane differensiasi. Pembeda antarane produk siji lan sijine, bedane yakuwe,  judul sing mendeni. Angger neng dunia blog supaya para rawuh neng blog-e pada ketarik maca, penulis uga diwajibena kreatif gole ngetrapena judul. Angger judule aneh, bombastis lan liya liyane sing menarik, paling ora pengunjunge ngeklik. Perkara mengko arep nerusena maca apa ora, kiye ya perkara mengko.

Kuwe anu bab dodolan lan perkara judul artikel blog. Tapine anu kaset sing tek trima sekang panjenengane Pak Roni Subari kiye koleksi kaset kagungane Radio Mutiara AM Bandung, kejaba judule sing medeni. Suarane jan esih gandhang, jan esih maen. Senajana kiye terbitan wis lawas banget antarane tahun 1982. jan lawas temenan turan klasik gaya mayange. Kayane malah angger nonoman sing sekiye pada rawuh maring wayangprabu lan dadi fans Ki Sugino, mesthine akeh sing durung lair

Crita Petruk Idu Geni kayane ana sing wis tau request. Malah ana maning sing coment angger penjenengane wis duwe wujud digital sing durung tau diunggah. Nuwun sewu nggih mase sing kagungan digital conversion, kula unggah mawon sing teng tangan kula mergane kula enggih mpun sumedya mung kari ngunggah tapi internete mandan lelet, dadi sing tek unggah sinopsise      disit.. Sing wis suwe ngenteni, ora suwe maning angger wis munggah net kabeh, link-e arep tek tidhokena

Lakone dhewek, Petruk Idu Geni kiye pancen lakon carangan ala Gino. Ndeyan neng tlatah liya ora nana lakon sing alur crita apa maning judhule pada karo lakon kiye. Lakone nyritakena pokale Prabu Duryudana sing diombyongi karo Pendhita Drona gole arep ngrebut Wahyu Cakraningrat sing wis manjing manungal karo Raden Abimanyu.

Niyate Prabu Duryudana gole kepengin ngrebut wahyu kiye, awit kepengin ditrimakaken karo putrane Sang Prabu sing aran Lesmana Mandra Kumara. Awit sapa sing kadunungan wahyu kiye dicritakena bakal bisa nurunaken raja-raja tanah Jawa.

Bareng niyate mau dicritakena karepe karo para sing lagi rembugan neng Pasewakan agung Ngastina, Prabu Baladewa nyarujoni, senajan Angkawijaya kuwe plunane. Sing penting menurut Prabu Baladewa  cilike aja nglarani, gedhene aja nganti gawe pepati. Tapi kocapa, bareng ditawakena karo Adipati Karna, Raja Awangga kiye ora setuju. Malah ngendika angger Pendhita Durna wis minger kiblate.

Kocapa, Bambang Aswatama sing ora trima, nantang Adipati Karna. Dilayani! Tapi para sedulur, tekade Drona gole nyanggupi arep ngrebut wahyu Cakraningrat nyatane kesaguhane di back-up karo  denawa cacah loro sing aran  Dhendha Swala Yaksa lan Dhendha Swala Pati sekang Guwa Maya Siluman. . Dadi, Drona wanine mung angger ana balane.

Adipati Karna tandhing yuda karo Aswatama. Mesthi bae Aswatama kasoran. Senajana sekti kaya ngapa, tapi Adipati Karna nglawan srayane Drona sing wong loro duwe nyawa siji, nyatane Adipati Karna kasoran, malah kebuncang adoh mbuh ngkana tibane.

Prabu Baladewa sing maune serujuk, wusanane mbalik tingal. Raja Mandura nututi kebuncange Adipati Karna arep paring tetulung karo adi ipene..

Neng ngendi tibane Kang? Ora liya anu neng ngarepe Sang Begawan Kalinglingan. Sapa sih ya kang sing jenenge Begawan Kalinglingan? Lah kiye sing dadi role crita. Sekang sektine Begawan Kalinglingan, bisa mengerteni endi sing jeneng Bawor, ambi Gareng, senajana durung tau ketemu.

Agi Begawan Kalinglingan ketemu karo Bawor gole nakoni Bawor kaya kiye, – Sapa jenengmu Bawor ? -  Semana uga lagi nakoni Gareng ya monine takon jeneng nyebutena jenenge Gareng. Jelas bae wong Begawan Kalinglingan kuwe pancen Kanthong. Saking sektine Kanthong alias Petruk, bisa idu geni. Lah kiye, mulane lakone disebut Petruk Idu Geni. Paham nggih sedulur?

Kejaba crita ngarah patine Abimanyu, neng lakon kiye uga ana pemintane Pandhita Drona gole ngarah Jamus Kalimasada. Utusan karo Dhenda Swala Yaksa maring Ngamarta. Senajana babak belur dijotosi karo Wrekudara, tapi wusanane, jamus Kalimasada bisa dicekel, merga olih palilahe Prabu Puntadewa sing wis terkenal anu duwe watak rila dunya trusing patine. Perkara dunya sing wujude Layang Jamus Kalimasada mesti bae dituruti panjaluke Dhendha Swala Yaksa.

Kepriwe para sedulur, cara kepriwe baline Layang Jamus maring asale maning maring Ngamarta? terus sapa sejatine Dhendha Swala Yaksa ambi Dhendha Swala Pati? Anggere ana sedulur pada sing wis tau ngrungokena apamaning angger wis tau duwe kasete, mesthine si ya wis ngerti alur lakone. Tapine angger perkara Dalang Gino angger mbabar lakon, kayane para sedulur pada mesthi kangen karo kepriwe kakine Gino gole nglakokena wayangan Banyumasan klasik kaya sing tau ditindakena jaman gemiyen nalika tahun antarane 80’an. Jan, ngangeni temenan koh!!

Kayane wis ora bakal ana maning pegelaran klasik kaya kiye. Sebab, siki angger ndalang, kakine sing wis sepuh anu wis ditambal ambi limbukan karo dagelan sing mandan suwe. Lha kiye tumrape inyong, kurang sari aya kuwe. Siki kadhang-malah sering, putune sing ngganti kakine, sasat malah kakine gole mayang mung rong jam-telung jam thok

Kiye konvertane tek gawe sekaset selakon. Angger njenengan sreg ambi cara sing kaya kiye, inyong ya manut. Tapi angger njaluk depripil sing cilik-cilik kaya biasane, ya njenegan ngendika bae karo inyong. Mengko tek timbang kurang lewihe. Mangga dienteni link-e.