KSSU LAKON SESAJI ROJO SUYO LIVE IN TAWANGMANGU KARANGANYAR

Nah kembali Lakon Sesaji Rojo Suyo ditampilkan atau diunggah di blog ini, akan tetapi dengan sangit dan daya kreatif dalang muda satu ini seolah olah akan mengobati rasa rindu kita dengan wayangan yang lengkap dan tentu kita rindu dengan garapan klasik beliau selanjutnya.

Dengan adanya dan mungkin banyaknya pertunjukan wayang kulit live yang selalu porsi untuk limbukan dan goro – goro terkesan ngladrah atau lama karena permintaan penanggap atau banyaknya bintang tamu atau pelawak sehingga mengorbankan adegan adegan bahkan tokoh tokoh wayang yang seharusnya sering muncul sehingga tidak pernah muncul, sebut saja mengorbankan tokoh Punakawan TOGOG TEJOMANTRI dan MBELUNG SOROITO yang selalu menjadi abdi Ratu Sabrang.

Nah Kali ini KSSU (KI SARMADI SABDHO UTOMO Ssn) Dalang Muda Asal Trenggalek Jawa Timur dengan sangit beliau akan mewngobati rindu kita terhadap pertunjukan dan pagelaran wayang kulit seperti waktu masa kecil dulu.

Kali ini KSSU yang diiringi Pengrawit pengrawit Muda dari SMKI Surakarta sukses membawakan Lakon SESAJI ROJO SUYO live di Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah, nah tidak hanya itu beliau KSSU dalam pentas kali ini membawa pesinden dari HONGARIA yang sudah lama menetap di Palur Surakarta namanya AGNES SERFOZO Waginem …..katanya…..hehehe.

KSSU (Ki Sarmadi Sabdho Utomo Ssn) Dalang Asal Trenggalek konsisiten dengan garapan klasik dan gaya sabet mirip KNS dengan di Kolaborasikan Gaya Sabet Jawa Timuran lengkap sudah mengobati rindu wayang kulit klasik.

Panasaran Mungkin di Internet kok belum ada Videonya ya….hehehe jangan kawatir tidak akan lama Video KSSU akan dirilis di Internet. karena yang lengkap memiliki Videonya selain KSSU sendiri, PPW Jatim telah memiliki 3 Lakon berupa Video Visual. Rekaman Video Festival Dalang Muda Jatim beberapa Tahun yang lalu masih sering diputar di JTV.

Tak beda Jauh saat KSSU pentas di Trenggalek yang begitu banyak menyedot penonton atau pengemar wayang kulit sehingga tidak hanya ingin menonton  Limbukan atau goro – goro saja terbukti hingga tancep kayonpun penonton tidak berkurang itu terbukti bahwa KSSU mempunyai daya pikat pada pengemar wayang kulit. Nah sedikit berbeda untuk Pertunjukan di Tawangmanggu Karanganyar penonton dari segala usia baik muda tua bahkan laki – laki perempuan menikmati hingga tancep kayon.

Dengan diiringi pengrawit pengrawit muda dari SMKI pementasan wayang kulit LAKON SESAJI ROJO SUYO sayang untuk kita lewatkan

SELAMAT MENIKMATI

Salam dari PPW Jatim

Ali Mustofa

KSSU (KI SARMADI SABDHO UTOMO Ssn) LAKON ANOMAN LAIR

Nah Judul diatas kayaknya asing ya…..siapa KSSU itu ?, KI SARMADI SABDHO UTOMO Ssn yang disingkat menjadi KSSU hanya sebagai singkatan dan judul saja, siapa sih KSSU itu……nah ini sedikit diskripsi yang saya dapat pada saat saya sempat mampir dipertapan atau tempat tinggal beliaunya KSSU di Solo.

Ki Sarmadi Sabdo Utomo dilahirkan di Pule –  Trenggalek pada tahun 1982  dari darah seniman yaitu anak seorang dalang Ruwat dari daerah Kecamatan Pule – Trenggalek yang sampai sekarang masih aktif bergelut di dunia seni Adiluhung wayang kulit, anak ketiga dari 4 bersaudara ini sejak tahun 2000 merantau dan studi di Solo yaitu sejak lulus SMP di Trenggalek melanjutkan Studinya di SMKI solo jurusan Pedalangan dan kuliah di ISI jurusan Krawitan hingga sekarang mengajar di SMKI dan tentu sering pentas di wilayah surakarta Karanganyar dan sekitarnya, bahkan  KSSU telah lama juga sebagai Perngrawitnya KAS hingga sekarang.

Bukti Bahwa Trenggalek itu  slalu muncul dalang dalang potensial terbukti bahwa KSSU pernah tampil dan menjuarai festival dalang muda sejawa timur tahun 2004 di Surabaya dan rekamannya sering diputar di JTV, nah ini bukti bahwa Trenggalek  selalu memunculkan dalang dalang muda potensial bahkan tidak hanya laris di kampungnya sendiri tapi juga laris didaerah lain seperti Solo, karanganyar, Wonogiri, Boyolali dan sekitarnya.

Nah kebetulan Admin jauh jauh dari Trenggalek main ke Jogja kemarin ddalam rangka liburan dan acara keluarga, sempat mampir dipertapan KSSU di Solo dan mendapatkan oleh oleh sebagai berikut :

1. Audio Visual KSSU Lakon Anoman Lahir Live in RRI Surakarta

2. Video KSSU lakon Rama bargowo live in RRI Surakarta

3. Video KSSU lakon Sesaji Raja Suyo live in Tawangmangu Karanganyar

Sebenarnya di pertapan KSSU masih ada lagi file Video dan Audio Visual akan tetapi karena keterbatasan waktu dan space flasdik yang Admin bawa sementara hanya 3 ini dulu yang nantinya akan disharing di wayangprabu.com

Sedikit gambaran pengabdian KSSU selama tinggal di Solo pada saat sekarang ini selain sebagai dalang juga sebagai guru di SMKI dan ISI, juga sering sebagai pengrawit dalang Ki Anom Suroto.

KSSU lulusan ISI jurusan kerawitan dan SMKI Pedalangan ini juga sering tampil di Trenggalek pada saat mengawali hari ulang tahun Kabupaten Trenggalek Beliaunya juga pentas di Pendopo Kabupaten Trenggalek, dan ada juga sempat terdokumentasi PPW Jatim  Lakon Wahyu Cokroningrat live in Gamping – Pule – Trenggalek beberapa waktu yang lalu.

Pada Lakon Anoman lahir ini juga dimeriahkan/ di hadiri  mpu Dalang dari Klaten  Ki Sayoko Gondo Saputro.

Berikut ini link ANOMAN LAIR LIVE IN RRI SURAKARTA

Mendung Diatas Mandaraka [5]

Yang Gundah Terbeban Serapah.

by MasPatikrajaDewaku 

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.

“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”.

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”.

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil

“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.

“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”.

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.

“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.

“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berarti macan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”.

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”. Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.”

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.”

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:

Mengertilah, sesungguhnya

manusia hidup didunia itu

hanya seperti (orang) mampir minum

umpama burung terbang, lepas dari kurungannya

dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.

umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur

tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)

Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang

Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//

Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//

Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .

Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

 

Diriku yang benar-benar setia

dari dulu hingga kini

seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

 

Dirimulah pengayomanku

lahir dan batin tumbuh menjadi nyata

tapi agaknya andika kurang berkenan.

 

Saksi akan tanda-tanda itu

walau seberat apapun

jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

 

Semoga mendapat berkah dari tuhan

andika selalulah dapat mengatasi

Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.

Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.

Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat

agawe rujiting galih

‘rerepa kang sinedya

upama mundhuta rukmi,

Tartamtu tak turuti

ibarat wong numpak prau

lumampah tanpa welah

neng madyaning jalanidi,

temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

 

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian, “Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan. “Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngisep sepuhing supana

mrih pana pranawa_ ing kapti

Tistis ing tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh tyas kasubratan

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus. Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi; walau ditepi samudra sekalipun. Tetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

Link pagelaran dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan kisah diatas:

http://www.mediafire.com/?f4xq7e74ndk3vig

Ki Manteb Sudharsono “Singer”

Selain piawai dalam mendalang memainkan wayang kulit sehingga terkenal dengan julukan “dalang setan” karena ketrampilan yang luar biasa, ternyata Ki Manteb Sudharsono juga jago dalam mencipta lagu serta menyanyikannya sendiri.

Berikut beberapa video hasil karya yang ditembangkannya sendiri

Ki Manteb Sudarsono “Jaman Edan”

Ki Manteb Sudarsono “Sayang”

Ki Manteb Sudarsono “Ledha Ledhe”

Macan

MACAN. Ketika lakon Basudewa Grogol banyak binatang yang dihalau para punggawa agar mendekati pepanggungan dimana Raja Basudewa telah siap dengan busurnya. Binatang-binatang buruan itu antara lain macan, kijang, singa dll.

Grogol artinya berburu. Para raja jaman dahulu mempunyai sebuah gaya hidup untuk berekreasi. Salah satu hobby Basudewa adalah melakukan perburuan dengan membuat grogolan. Sayang ketika Basudewa grogol, isterinya Dewi Maerah dikerajaan Mandura cinidrengresmi ‘diperkosa’ oleh seorang raksasa bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai Prabu Basudewa.

Sumber : Buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana cetakan ke-1 Mei 2010

Cangehgar

Humor Bahasa Sunda CANGEHGAR berdurasi pendek-pendek, tapi padat dan pikasebeleun. Cangehgar adalah bobodoran kreasi dari Radio Rama FM Bandung yang cukup banyak digemari para pendengar setianya. Cangehgar (Carita Ngenah dan Segar) cukup ringan dan membuat segar untuk sekedar tersenyum, tertawa melepaskan kepenatan setelah lelah sehatian berkarya di rumah atau di tempat kerja.

Ternyata di lapak-lapak penjual CD bajakan, ada juga yang kreatif mengumpulkan rekaman-rekaman tersebut dalam satu CD. Dan “terpaksa” saya harus mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk membelinya karena penasaran juga.

Sebagian saya unggah disini

Cangehgar – Campuran Bag 1

Cangehgar – Campuran Bag 2

Cangehgar – Campuran Bag 3

Cangehgar – Campuran Bag 4

Cangehgar – Campuran Bag 5

Dapat juga Anda download yang lain silahkan menuju kesini http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2009/12/12/download-mp3-humor-sunda-cangehgar/

Ki Warseno Slenk – Antasena Takon Bapa

Oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW – 11-01-0006)                               

Kerjasama dengan Radio Mutiara Bandung

Setidaknya ada  tiga alasan ketika pertama kali saya akan membagikan pagelaran dari dalang muda ini.

Alasan pertama adalah, dalangnya sendiri. Ki Warseno Slenk. Nama yang ngepop. Mungkin dalang dengan gelar insinyur ini mendedikasikan pagelarannya, umumnya buat anak muda. Hal ini terlihat dari nama slenk yang memang pada saat itu Group Band Slenk sedang naik daun. Juga gaya selengehan-nya pada adegan santai yang dinilai agak kebablasan waktu itu.

Sebenarnya gaya panggung yang slengehan dalam lakon ini masih pada taraf ditolerir bila dibandingkan dengan yang terjadi pada saat sekarang. Limbukan yang saat rekaman dilakukan oleh Ki Warseno Slenk (dengan gaya yang slengehannya waktu itu) masih belum nggladrah banget. Atau mungkin bisa dikatakan belum pada taraf menjadi lakon “Banjaran Limbuk dan Petruk”, yang sedang trend saat ini. Tapi dari semuanya yang telah saya amati sambil mendigitalisasi kaset analog dari dalang muda ini, sebenarnya Ki Warseno ini punya potensi besar untuk mampu mendalang secara serius, atau bergaya klasik.

Secara gaya mendalangnya, Ki Warseno ini sepertinya hendak mencari jati diri agar tidak berimpit dengan segment audience dari saudaranya yang terlebih dahulu mapan. Maka tidak heran bahwa adik dari Ki Anom Suroto ini “bermain” dalam segmentasi yang berbeda dengan sang kakak. Mungkin anggapan beliau, bila ditinjau dari segi komersial, maka keduanya tidak akan bentrok dengan “dagangan” yang segmentnya sama.  Atau dengan kata lain, masing masing mempunyai “diferensiasi” sendiri-sendiri. Sebabnya adalah, bila dicermati secara vocal, timbre suara dan gaya pedalangannya, Ki Warseno ini adalah tipikal kembaran dari sang kakak.

Satu kreasi positif Ki Warseno adalah olah karawitannya. Olah gending iringan yang menyatu dalam pagelaran-nya membanggakan. Ia berani mendobrak kebiasaan yang pakem. Misalnya jejer Astina yang umumnya dengan iringan Gending Kabor, tapi beliau mengiringi jejer itu dengan sanggit gendhing yang berbeda. Dinamis!! Dinamisnya iringan gending jejeran menggantikan suasana monoton ketika menonton/mendengarkan wayangan ini. Hal ini juga terjadi pada beberapa adegan lagi

Demikian juga dalam hal janturan. Ki Warseno tidak teguh memegang janturan (narasi) standard yang seringkali diucapkan tanpa mengenal siapa atau negara mana yang dijantur. Tetapi beliau menggambarkan dengan cakepan janturan yang berbeda antara, misalnya, jejeran Astina dengan raja yang korup dan negara yang tergolong negara gagal, dibandingkan dengan janturan untuk negara nDwarawati, yang mempunyai raja bawa leksana dan negara loh jinawi, kerta lan raharja.

Kemudian yang saya kagumi dari dalang ini, kecuali suluknya yang kung dengan cakepan yang tidak pasaran dan tidak perlu diceritakan lagi, juga sastra dalam menceritakan keberadaan seorang tokoh atau suasana dengan persajakan (jw. purwakanthi).

Dalam lakon ini banyak adegan dengan narasi persajakan. Misalnya dalam adegan Dewi Banuwati, yang diceritakan kurang lebih seperti ini:

Dewi Banuwati wis kondhang kaloka ayune sesigar jagad, gedhe dhuwur ora kliwat, pakulitan kuning tanpa cacat, yen mesem esmu angujiwat, sapa diesemi mesthi ora kuwat. Mula nadyan larang meksa diangkat, minimal kudu eketan papat  (ketoke sing iki wis ora mekakat).

Dhasar rambut ireng tanpa disemir, netra mblalak irunge mbangir. Lambe abang ginaris pinggir. Lelewani agawe gingsir, sing ora jejeg imane malah klakon bisa kenthir.

Untu cilik miji timun, janggut nyathis kaya winangun. Payudara agawe gumun, sapa nyawang meksa ngalamun, wekasane golek dhukun, karepe dimen kayungyun, jebul mung tiwas urun. Nanging banda entek wekasane turu neng setasiun, dst.

Kurang lebih seperti ini artinya:

Dewi Banuwati terkenal cantiknya setengah jagad, sosoknya sedang, kulitnya kuning tanpa cacat, kalau tersenyum agak menggoda, siapapun yang disenyumi tidak kuat. Maka walaupun mahal tetap saja “dibeli”.

Rambutnya hitam tanpa disemir, matanya berbinar hidungnya mancung. Bibirnya merah bergaris dipinggirnya. Tingkahnya membuat hati tertarik. yang tidak kuat iman bisa menjadi gila.

Gigi teratur bagai biji timun, dagu berbentuk sarang lebah. Payudara membuat orang terheran, membuat siapa yang melihat terus melamun, akhirnya mencari dukun, maksudnya biar ia jadi tertarik. Tidak taunya cuma kehilangan uang, harta habis akhirnya tidur disetasiun.

Dan masih banyak lagi.

Kedua, ini kaset adalah salah satu yang terbaik yang saya pernah temui. Terbaik disini diartikan, keseimbangan tonalnya yang hampir presisi, artinya suara instrumen mendapat porsi gain yang sepadan dalam reproduksi ketika dimainkan ulang. Sedangkan tata suara rekam stereo yang pilah, memungkinkan kita sebagai pendengar seakan masuk dalam kelompok penabuh gamelan. Ini bisa terjadi, bila kita menikmatinya pada posisi apitan speker kiri dan kanan, atau kita mendengarkan lewat headphone. Hal stereo yang pilah ini yang jarang lagi kita dapat lagi pada pagelaran wayang masa sekarang yang kebanyakan mementingkan kuantitas suara yang menggelegar tapi buruk tata suaranya. Padahal efek stereo, sebenarnya diarahkan untuk memanjakan telinga kita yang dua: kiri dan kanan, sehingga terciptanya efek ruang (z). Kondisi seperti inilah pada pagelaran akhir akhir ini menjadi terabaikan.

Yang ketiga adalah, lakon yang dipentaskan. Pada masa lalu, yang namanya Antasena tidak terceritakan dalam gagrak Surakarta. Kalau adapun, nama itu adalah nama lain dari Antareja. Sedangkan untuk gagrak Mataraman dan Banyumasan, tokoh Antasena adalah Antasena itu sendiri. Pada gagrak Mataraman dan Banyumasan, sesama anak Wrekudara ini terlahir dari ibu yang berbeda. Antasena adalah anak Dewi Urangayu, sedangkan Antareja adalah anak dari Dewi Nagagini. Lah sejak kapan, tokoh ini muncul menjadi sosok dengan kemandirian nama pada gagrak Surakarta ini? Mungkin ada yang mau sharing?

Secara cerita, lakon ini mengisahkan Putra Prabu Salya yang bernama Raden Burisrawa, yang tengah patah hati ketiga gagal mempersunting Dewi Sumbadra, idaman hatinya. Burisrawa yang pantang mundur tidak tinggal diam. Usahanya untuk kembali merebut Wara Sumbadra hampir saja tercapai ketika ia, dengan berbekal kesaktian dari Batari Durga, berhasil melarikan Wara Sumbadra. Tetapi ternyata Sumbadra dalam kekuasaan Burisrawa lebih memilih bunuh diri. Jenasah Wara Sumbadra berhasil ditemukan dan dihidupkan kembali oleh Raden Antasena yang ketika itu pertama kalinya akan menemui ayahnya. Ia berhasil menyelamatkan Dewi Wara Sumbadra

Saat ia berbincang mengenai asal-usul keduanya, Gathutkaca yang salah paham menerjang Antasena. Keduanya bertempur seru oleh karena kesaktian keduanya yang memang hebat. Keduanyapun memang belum sempat saling mengenal. Sampai akhirnya keduanya dipisahkan oleh Sumbadra.

Kalau saya perhatikan dari segi cerita, alur ini sama sekali berbeda dengan versi Banyumasan yang dalam lakon-lakon yang sering dipentaskan mengangkat tokoh Antasena sebagai role cerita. Pada cerita Antasena Takon Bapa versi Banyumasan (konversi digital lakon ini yang saya masih simpan, judulnya Antasena Takon Rama), ceritanya adalah berkisar pada hilangnya Dewi Banuwati dari Taman Kadilengeng. Durna menuduh Arjuna yang mencuri Banuwati. Walaupun perkataan Durna tidak dipercaya oleh Adipati Karna, tetapi keduanya terpergok sedang berduaan. Keduanya dipertemukan ketika Arjuna dengan tidak sengaja berhasil menemukan Banuwati yang tengah dilarikan. Lakon ini juga banyak dikenal dengan nama Gendreh Kencana. Yang versi Banyumasan oleh Ki Sugino akan saya share kemudian. (Pendhemen Dhalang Gino mesti wis padha ngenteni kiye).

Dari hal yang menarik diatas, yang saya bisa garis bawahi adalah; rekaman yang sangat bagus membungkus content lakon Antasena Takon Bapa dan digelar oleh dalang potensial dengan cita rasa tinggi.

Link unduh:

  1. 1A. http://jumbofiles.com/prgvo4rkqoxh
  2. 1B. http://jumbofiles.com/bneiipp5skzi
  3. 2A. http://jumbofiles.com/qq6thqpm11du
  4. 2B. http://jumbofiles.com/j4abr8vbdhrd
  5. 3A. http://jumbofiles.com/i4ai08lmeycb
  6. 3B. http://jumbofiles.com/n87ymv31v5ik
  7. 4A. http://jumbofiles.com/wflgb1muy156
  8. 4B. http://jumbofiles.com/elzg68qjepy1
  9. 5A. http://jumbofiles.com/vz5qt5160f3t
  10. 5B. http://jumbofiles.com/cgtzi30zs4c1
  11. 6A. http://jumbofiles.com/ldd479puma9v
  12. 6B. http://jumbofiles.com/st4ajk2vsquu
  13. 7A. http://jumbofiles.com/wlzncgf8vrms
  14. 7B. http://jumbofiles.com/1a6fxozch9ts
  15. 8A. http://jumbofiles.com/6gght0v30j1w
  16. 8B. http://jumbofiles.com/sex9k2xoyatg

________________________________________

FILE AUDIO INI DITUJUKAN UNTUK PENGUNJUNG wayangprabu.com DAN UNTUK KEPERLUAN KONSERVASI SAJA.

Mendung Diatas Mandaraka (4)

Oleh: MasPatikrajaDewaku PPW-11-01-0006

5. Akal Cemerlang Erawati.

Ya, nama Negara tempat menyembunyikan Dewi Erawati adalah bernama Tirtakadasar. Dinamakan demikian, karena Negara itu ada di dasar muara bengawan Swilugangga, yang menuju ke laut lepas. Dengan demikian, Negara ini tidak mudah diketahu apalagi dikalahkan oleh musuh dari negara yang lumrahnya ada di atas tanah.

Disitulah raja bersosok raksasa yang berjuluk Prabu Kurandayaksa bertahta. Sosok tinggi besar.  Orang-orang yang kelewat membesar-besarkankan sosoknya, mengatakan besarnya seperti anak gunung. Kulit kasar merah tembaga yang ditumbuhi rambut hampir disekujur tubuhnya kelihatan seperti pohon palem yang tumbuh pada pereng jurang. Kencang kulit itu, bagai tak akan mempan terkena bermacam senjata. Kedua matanya bersinar menyeramkan seperti matahari kembar, hidung bagaikan haluan kapal. Geliginya kelihatan bagai karang pantai yang gemerlap ditimpa sinar matahari. Sementara gigi taringnya sebesar cula badak, basah oleh air liur berbisa. Bila ia bersin suaranya bagaikan petir dan ketika bersendawa seakan bersuara bagai guntur.

Ketika itu ia sedang duduk dihadap oleh satu-satunya anak lelakinya. Bernama Kartapiyoga. Rupa Kartapiyoga tidak jauh dari orang tuanya yang serba gagah sembada. Yang membedakan adalah Kartapiyoga berujud setengah raksasa. Kedua matanya merah dinaungi oleh helai bulu matanya sebesar lidi dan mengumpul sedemikian tebal. Demikian juga kumisnya yang tebal dan panjang. Saking panjangnya kumis dililitkan ke telinga kanan kiri. Seperti ayahnya, Kartapiyoga juga bertaring panjang, mengerikan, walau panjangnya “hanya” sebesar pisang ambon. Bila berbicara suaranya keras menakutkan siapapun yang mendengarnya.

Ketika menghadap keharibaan ayahandanya, Kartapiyoga kelihatan murung. Maka berkata Prabu Kurandayaksa memanggil anaknya agar lebih mendekat. Sembah Kartapiyoga berkali-kali kepada kaki ayahandanya, setelah itu Kartapiyoga duduk dengan muka menghujam ketanah.

“Eeeeh . . . .  hong tete hyang Kala Lodra, Mas patik raja dewaku . . .  Anakku Kartapiyoga!” Demikian kata Prabu Kurandayaksa menggelegar bagai hendak melongsorkan istananya.

“Daulat rama Prabu”. Jawab Kartapiyoga

“Kamu ini serba merepotkan. Lewat sebulan lalu kamu pernah bicara kepadaku, kalau kamu saat sekarang kepengin kawin. Tidak ada yang menjadi kecocokan hatimu, kecuali raja putri Mandaraka yang sulung, yaitu Dewi Herawati. Seribu cara telah kamu lakukan, untuk mendapatkan Herawati. Karena untuk melamar pasti kamu tidak akan diterima. Maka kamu bertindak melarikan Herawati dari Mandaraka dan sekarang telah kamu tempatkan disini. Sampai disitu kamu merasa puas. Tapi setelah aku perhatikan, akhir-akhir ini mukamu masih menandakan bahwa rasa kecewa masih kamu rasakan. Anakku hanya kamu seorang. Sekarang katakan, apa lagi yang kamu rasakan?!!” Kurandayaksa yang begitu sayang kepada anaknya yang hari terkhir seperti tidak lagi bergairah, langsung menanyakan masalahnya.

“Rama Prabu, kalaulah saya bisa menghitung, jauh sudah merasa kenyang bila dekat sudah tak lagi bisa menerima semua pemanjaan dari Rama Prabu yang sudah hamba terima. Seperti yang Rama Prabu katakan, semestinya hati ini sudah merasa puas setelah hamba mendapatakan keinginan hamba. Tapi sampai saat ini, putra paduka belumlah mendapat pelayanan dari Herawati sebagaimana layaknya pria dan wanita. Ketika hamba dekati, ia selalu memalingkan wajahnya. Dan ketika hamba menjauh, hamba lihat dari kejauhan itu, ia kelihatan tersenyum gembira”. Kartapiyoga berhenti sejenak. Diipandangnya wajah ayahnya melihat tanggapan. Ketika tidak ada yang tersirat dari wajah ayahnya maka kemudian Kartapiyoga melanjutkan, “Tak lagi putra paduka kuat menahan hati, pada suatu saat putra paduka memaksanya untuk bicara. Pada akhirnya, ia berkata yang sebenarnya, ia bersedia meladeni hamba sampai ajal tiba, bila hamba mempunyai istri lagi yaitu kedua adiknya, Surtikanti dan Banuwati. Karena mereka telah dari masa kecil telah berjanji akan melayani pria yang sama. Begitulah rama prabu, apakah yang harus putra lakukan?” Kartapiyoga menghentikan ceritanya sambil kembali bersembah.

Sebenarnya ada sesuatu yang tidak terpikir oleh Prabu Kurandayaksa atas permintaan Erawati. Permintaan yang tidak masuk akal bahkan terkesan menyuruh agar Kartapiyoga kembali ke Mandaraka. Ternyata tidak terpikir oleh Kurandageni bahwa Erawati telah menjebak Kartapiyoga. Tidak aneh bahwa Mandaraka sedang dalam siaga penuh setelah kecurian.

Tetapi Kurandayaksa adalah raja dengan kepercayaan tinggi melebihi nalarnya. Pikiran Kurandayaksa lebih percaya kepada kesaktiannya. Maka katanya kepada Kartapiyoga, “Oooh begitu kemauan Herawati. Lakukanlah Kartapiyoga!! Memang tidak gampang mendapatkan isteri cantik. Tetapi ada hal yang membuat akau heran. Lumrahnya orang itu tidak mau dimadu. Tetapi Herawati malah minta dimadu dan oleh adik-adiknya. Turuti kemauannya!!!”.

“Kapan putra paduka harus berangkat”. Tidak sabar Kartapiyoga berkata.

Sekarang juga!! Hari ini hari baik. Berangkatlah, pasti terlaksana apa yang menjadi tindakanmu”.

Maka berangkatlah Kartapiyoga. Setelah Kartapiyoga hilang dari pandangan mata, Raja raksasa itu kemudian memanggil para punggawa yang bernama Ditya Pralebda yang termasuk prajurit andalan yang selalu mendapat kepercayaan menggelar jajahan walau hanya seorang diri. Prabu Kurandayaksa segera menyuruh Ditya Pralebda agar mendekat ketika telah terlihat naik ke pandapa.

Setelah Pralebda duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kurandayaksa, kemudian diperintahkan agar ia segera memata-matai Kartapiyoga yang hendak kembali ke Mandaraka melarikan putri Prabu Salya yang lain, Surtikanti dan Banuwati. Setelah tata merakit barisan, maka Ditya Pralebda segera memberangkatkan pasukannya, yang walaupun serba sedikit tetapi terdiri dari para raksasa yang berilmu tinggi.

—–

Kembali kepada Para Kurawa yang sedang mencari keberadaan hilangnya Herawati. Maka terlihat di muara Bengawan Swilugangga beratus ratus perahu besarta para penunggangnya yang terjun dan naik kembali ke perahunya dalam usaha mencari titik terang dimanakah sebenarnya pencuri itu berada. Suara mereka yang saling memberitahu dimana mereka berada dan teriakan perintah dari pembesar yang merancang gelar pencarian terdengar memekakkan telinga.

Tetapi sebagian dari mereka menjadi terkejut ketika mereka melajukan perahu tetapi tidak kunjung bergerak maju walaupun sudah mengerahkan segenap tenaganya. Keterkejutan mereka bertambah ketika perahu mereka malah terangkat dan muncul raksasa-raksasa yang berwajah menakutkan.

“Gila!!  Ternyata ada banyak raksasa yang mencoba mengacaukan usaha para Kurawa. Heh raksasa buruk rupa, siapa kamu ini sebenarnya?” Kartamarma yang dekat dengan peristiwa itu menanyakan kepada salah satu raksasa yang diduga sebagai pemimpinnya.

“Akulah raksasa yang menguasai bengawan Swilugangga yang bisa berrenang dan juga biasa dan bisa hidup didaratan. Akulah kaula dari Negara Tirtakadasar, abdi dari Prabu Kurandayaksa. Sedangkan namaku Ditya Pralebda. Namamu siapa, sebelum kamu mati hanya membawa nama saja?” Pralebda yang menjadi panglima menanyakan siapa mereka.

“Saudara muda raja Astina akulah yang bernama Kartamarma. Segeralah kamu pergi jangan menghalangi usahaku”.

“Bermula dari usahamu mengobak bengawan Swilugangga, banyak ikan dan hewan bengawan yang mati. Aku tidak terima, dan kamulah yang menjadi penukar dari makanan yang kau bunuh itu!”

“Apa maumu?!!!”. Kartamarma tidak gentar.

“Jangan sampai berlarut larut, ayo menurutlah kamu aku jadikan tawanan. Atau kamulah yang aku akan jadikan sarapan pengganti ikan ikan yang pada mati terbunuh!!”.

“Keparat!! jangan hanya bisa omong. Majulah akan aku hancurkan mayatmu!!” Kartamarma tidak sabar dan segera melabrak Ditya Pralebda.

Maka terjadi pertarungan antara prajurit Astina dengan raksasa-raksasa dari Tirtakadasar. Prajurit Astina yang menggunakan ratusan perahu, sementara para raksasa yang terbiasa hidup di air dan didarat segera terlibat dalam pertarungan sengit. Pertarungan yang tidak seimbang antara jumlah prajurit yang lebih banyak berasal dari Astina melawan prajurit Tirtakadasar yang walaupun lebih sedikit, ternyata mereka mempunyai banyak keunggulan.

Prajurit Tirtakadasar yang terbiasa bergerak diair dan di daratan ditambah dengan sosok mereka yang tinggi besar, telah merangsek prajurit Astina. Maka tidak heran bahwa banyak perahu yang bergelimpangan karam ditelan arus Bengawan Swilugangga hanyut kelaut lepas. Demikian pula dengan penunggangnya, banyak yang menjadi santapan para raseksa yang mengamuk bagaikan segerombolan buaya mendapatkan gerombolan kerbau yang menyeberang.

Namun demikian ketika Dursasana dan adik adiknya melihat kejadian ini segera terjun kedalam kancah pertempuran. Walaupun para raksasa itu berusaha keras membendung amuk dari Dursasana, Kartamarma, Jayadrata dan lainnya, tetapi mereka merasa keteteran. Ingat bahwa bukan saatnya untuk melayani amuk para Kurawa, tetapi tugas mereka adalah mengamati kemana perginya Pangeran Pati Tirtakadasar, maka mereka segera menjauhi para Kurawa. Segera Ditya Pralebda memberikan isyarat agar prajurit Tirtakadasar segera menghindari pertempuran.

Kurawa yang kemudian kehilangan lacak segera kembali ke perkemahan mereka yang kemudian disambut oleh Patih Sangkuni. Berkata Patih Sangkuni, “Kartamarma, setelah aku melihat kekalahan para raksasa, kamu bersaudara, diminta menghadap kandamu Jakapitana. Diperintahkan kepada kamu semuanya, agar tidak jauh dari perkemahan kita”. Kemudian mereka segera kembali dengan rasa kemenangan yang memenuhi dada.

——————-

Kita tinggalkan sejenak kebanggaan para Kurawa yang merasa telah berhasil menghalau musuh. Kita kembali bersama perginya Pamade yang belum menemukan arah pasti kemana harus pergi mencari hilangnya Erawati.

Diumpamakan bagaikan permata yang lepas dari bingkai cincinnya. Demikian adanya kepergian Pamade yang meninggalkan para saudara dan ibunya. Kesaktian dan keperwiraan Pamade ternyata telah tersebar keseantero wilayah maka tidak mengherankan bahwa pada setiap tempat, Pamade selalu dihormati oleh para penduduk yang kotanya dilalui. Tetapi sebetulnya bukan karena kesaktian dan kewibawaan seorang Pamade, melainkan karena keramahannya dalam melayani mereka yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Tidak hanya orang orang yang bermukim dalam kota, demikian juga yang ada didesa, pinggir hutan puncak bukit hingga kepinggir lautan pun, bila mendengar orang yang bernama Pamadi melewati pemukiman mereka, perasaan mereka bagai tersiram sejuknya air pegunungan.

Demikian Pamadi yang telah terlanjur memenuhi janji kepada Prabu Salya, untuk mengembalikan putri sulung Prabu Salya, yaitu Dewi Herawati, telah berjalan tanpa tujuan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu mengikuti langkah Pamadi, waktu itu ikut berhenti ketika Pamadi beristirahat dibawah pohon nagasari yang cabangnya menaungi pinggir telaga.

Telaga itu berair bening, diatasnya terhampar teratai merah berkelompok, menambah keindahan lingkungan telaga itu. Tengah hari itu nampak ikan yang berbaris dan berseliweran didalam beningnya air, bagaikan bintang malam yang beralih tempat. Rasa tentram sekeliling telaga telah menghilangkan rasa penat berganti dengan rasa damai dalam dada. Sejenak Pamadi melupakan beban kewajiban dan sumpah serapah Surtikanti yang seringkali terngiang ditelinganya.

Link Pagelaran wayang yang bersangkutan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?4835o9knidec75t

KSSC- Gathutkaca Rangsang (Audio)

Dening MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Sesarengan kalih: Radio Mutiara AM Bandung.

 

Lha kiye link-e wis komplit: Gathutkaca Rangsang MP3 sekang Ki Sugino Siswocarito

Waranggana: Nyi Suryati, Nyi Sri Kamiati lan Nyi Jumirah.

Mangga Sugeng ngrahabi.

————————————————————————————–

FILE MP3 GATHUTKACA RANGSANG DITUJUKAN UNTUK PARA PENGUNJUNG BLOG wayangprabu.com DAN UNTUK KEPERLUAN KONSERVASI

TIDAK UNTUK KEPERLUAN KOMERSIAL!!

————————————————————————————-

  1. http://mediafire.com/?0uw55fa7429o2nr
  2. http://mediafire.com/?oa3p7aqxlw4niv6
  3. http://mediafire.com/?17tld1qy0d73q4v
  4. http://mediafire.com/?5ntutl6dx5ngfdn
  5. http://mediafire.com/?m7wrk8zh6ga1jz7
  6. http://mediafire.com/?m7wrk8zh6ga1jz7
  7. http://mediafire.com/?11617y6x52xboal
  8. http://mediafire.com/?qc89oyroruz4ank