Sumantri Ngenger
Negri Maespati tengah berduka. Di daerah pedesaan banyak pageblug, tersebar penyakit aneh yang menyebabkan banyak rakyat yang mengalami kematian menyedihkan. Hal yang sungguh aneh mengingat negri Maespati adalah negri besar yang gemah ripah loh jinawi dengan raja yang bijaksana, Harjuna Sasrabahu.
Di pasewakan agung, Prabu Harjuna Sasrabahu menerima laporan dari Patih Suroto perkara tersebut. Dan akhirnya Sang Raja menjelaskan bahwa berdasarkan wangsit dari Dewata, hal itu terjadi karena dirinya belum mempunyai prameswari, pendamping hidup. Dan satu-satunya yang berkenan di hati hanyalah seorang putri Magada putri Prabu Citradarma yang bernama Citrawati. Namun Patih Suroto mengabarkan bahwa Dewi Citrawati sangat terkenal akan kecantikannya di jagat raya, jadi bahan perbincangan dan keinginan untuk menjadikannya sebagai istri sehingga sudah ratusan surat lamaran sampai di negri Magada namun belum ada yang diterima.
Belum selesai membicarakan hal tersebut, diluar tengah menanti seorang pemuda tampan dan perkasa yang katanya ingin mengabdi kepada raja di negri Maespati. Pemuda itu adalah Bambang Sumantri, putra dari Begawan Swandagni dari pertapaan Jati Sarana. Oleh Patih Suroto, Bambang Sumantri akan diterima pengabdiannya bila mampu menuntaskan 3 masalah yang tengah dialami negri yaitu Ingin menolong negri Magada dari mala petaka yang tengah menimpa, memulangkan para raja yang tengah mengepung negri Magada karena menginginkan Dewi Citrawati dan membantu Harjuna Sasrabahu untuk mempersunting Dewi Citrawati sehingga malapetaka di negri Maespat akan segera sirna.
Sebenarnyalah raja Maespati kurang berkenan karena “kesombongan” Bambang Sumantri yang dari ucapan dan kesanggupannya merendahkan raja dan negri Maespati, namun secara bijaksana kemudian Prabu Harjuna Sasrabahu kemudian menyuruh Patih Suroto untuk mengutus Sumantri sebagai duta raja Maespati.
Perkiraan Raja Maespati itu kemudian terbukti, saat kemudian Bambang Sumantri sukses dalam tugas namun keangkuhannya membuatnya lupa diri dan malah menantang Prabu Harjuna Sasrabahu.
![]()
Sastra Jendra Yuningrat (Alap-alap Sukesi)
Dasamuka Lair
Kisah perseteruan antara anak dan bapak, antara Danaraja dengan Wisrawa. Hal ini diakibatkan seorang putri yang bernama Sukesi.
Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai prameswari. Cuma satu keinginannya yaitu memperistri Sukesi, putri Prabu Sumali Raja Alengka. Namun terdengar kabar bahwa untuk mempersunting Sukesi, harus mampu memenangkan sayembara perang yaitu melawan Jambu Mangli, kemenakan Prabu Sumali Raja. Dan Danaraja siap untuk mengikuti sayembara itu demi mempersunting idaman hatinya.
Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baiknya.
Syahdan di negri Alengka, pinangan yang datang dari para raja, mengalir begitu banyak. Tidak heran, karena keelokan Sukesi nan tiada tara, harumnya sudah tersebar ke seluruh penjuru jagat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Prabu Sumali bila tidak diputuskan dan dipilih salah satu dari para peminang akan menimbulkan peperangan antar para pelamar. Akhirnya Sukesi menetapkan bahwa siapapun diantara mereka yang mampu membeberkan wedaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu, maka dialah yang berhak untuk dijadikan suaminya.
Yang mampu mempunyai ilmu dan mampu menjelaskan itu hanya Begawan Wisrawa. Akibatnya, campur tangan Hyang Guru dan Dewi Uma membuat semua jadi berantakan. Hingga lahirlah anak-anak dari hubungan antara Begawan Wisrawa dengan Sukesi.

Rama Tundhung
Prabu Dasarata, raja negri Ayodya, tengah bingung dan judeg. Bagaimana tidak ? Ketiga istrinya yaitu Dewi Ragu (Dewi Sukasalya), Dewi Kekeyi dan Dewi Sumitra tidak kompak alias saling bersaing. Hal tersebut bukan rahasia lagi namun telah diketahui oleh umum termasuk Patih Tameng Gita.
Dasarata kemudian melakukan pendekatan diri kepada dewata melalui tapa brata untuk meminta petunjuk dan solusi. Menurut pemikirannya, tidak kompaknya ketiga istrinya salah satunya disebabkan karena belum ada keturunan.
Akhirnya selesai semedinya kemudian muncul Dewi Ragu untuk kemudian andum katresnan hingga kemudian Dewi Sukasalya mengandung. Ternyata harapan Dasarata untuk memperoleh seorang putra akhirnya terkabul setelah Dewi Ragu melahirkan anak laki-laki yang kemudian di beri nama Raden Ragawa atau Raden Rama.
Kelahiran tersebut semakin membuat iri Kekeyi sehingga kemudian dia mendekati suaminya dan menumpahkan kecemburuan serta menuntut keadilan Dasarata. Kecemburuan akan “saingan” nya Dewi Ragu yang telah memberikan putra, menyebabkan kemudian dia meminta kepada Dasarata untuk berjanji bahwa di kemudian hari bila melahirkan seorang putra, maka keturunannya itulah yang harus di angkat menjadi raja Ayodya. Dengan terpaksa kemudian Dasarata menyanggupinya dan kemudian mengambil sumpah yang disaksikan seluruh jagat seisinya. Kemudian lahirlah putra Dasarata dari Kekayi yang diberinama Raden Barata.
Sesaat kemudian Dasarata ingat kepada istrinya yang ketiga yaitu Dewi Sumitra, seorang putri yang tidak macam-macam, selalu mengikuti apa kata suami, tidak ambisius seperti halnya Kekeyi. Dari Dewi Sumitra kemudian lahir putra Dasarata yang ketiga yaitu Raden Lesmana Widagda. Dari Dewi Sumitra kemudian juga lahir anak Dasarata yang keempat yang diberi nama Satrugena.
Namun sumpah Prabu Dasarata terhadap Kekayi, kemudian membawa malapetaka bagi Ayodya.

Rama Gandrung
Rama Tambak
Anoman Obong
Kumbakarna Lena
Kumbakarna Lena
Dasamuka Lena
Rama Nitis


Matur nuwun mas Prabu. Apakah epos Ramayana ini ada perbedaan dengan wayang versi India, sebagai asal usul terciptanya kisah tersebut?
Mahabarata dan Ramayana tentu berbeda yang di sini dengan aslinya dari india
Silahkan explore di web ini, sudah cukup banyak disampaikan hal tersebut
matur nuwun
Mas Prabu, kok dereng wonten lakon Sumantri Gugur
kabar dunk klo ada pagelaran wayang di TV sukur bagi jadwalnya
Alhamdulillah, saya sangat senang masih ada dan bahkan banyak teman yang mencintai wayang purwa, dan mengidola Ki Nartosabdho. Kerinduan akan dunia wayang, yang sangat saya cintai sejak masa kanak-kanak, seolah terobati bila mendengarkan suara KNS lewat radio, dan kini lewat dunia maya dari situs ini.
Kita bisa bertukar pikiran dan pemahaman mengenai wayang, melalui wahana ini.
Terima kasih.
P. Hw – Jgj
Silahkan Pak dengan senang hati, lebih pas lagi bila Bapak dapat bergabung di milis PPW. Nuwun
Lampahan Sumantri Ngenger (Sri Harjuna Sasrabahu) mengandung banyak nasehat dalam bentuk kiasan.
Bambang Sumantri merupakan sosok tokoh pemuda yang mempunyai hard skill unggul, dipadu dengan sosok fisiknya yang sempurna. Namun dia kurang memiliki soft skil yang utuh. Memang, di samping kesaktian dan ketampanan, ia mempunyai keberanian dan rasa percaya diri yang sangat kuat, dan mungkin berlebihan. Keberanian dan rasa percaya diri yang berlebihan inilah yang menumbuhkan sikap angkuh, sombong, serta gengsi, yang kelak akan menjadi bumerang bagi karir dan bahkan hidupnya sendiri. Dengan keberanian, kepercayaan diri, dan kesaktiannya, ia berhasil meyakinkan raja Magada dan mampu menghajar para raja pengepung Magada. Rasa over confidence dan Kesombongannya ditunjukkan ketika menantang rajanya sendiri, yang ia pandang kurang pantas menerima persembahan putri boyongannya yang sangat cantik, sementara ia menduga rajanya ini tidak mempunyai kesaktian yang melebihi dirinya. Rasa gengsi yang berlebih ditunjukkan, dengan merasa malu mempunyai adik yang buruk rupa di hadapan putri cantik yang sempat ia puja. ………. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari cerita ini.
Benar Pak, setidaknya pada lakon ini ada 2 tokoh berseberangan karakter dan juga berkebalikan ciri fisiknya. Dan itu dimiliki Sumantri dan Sukrasana, kakak beradik yang jauh dari kemiripan. Sang kakak, Sumantri, dikaruniai kelebihan dalam hal penampilan dan kepandaian, sementara sang Adik, Sukrasana, mempunyai bentuk fisik yang jauh dari sempurna. Namun itulah kehidupan. Kesempurnaan fisik bila tidak diimbangi dengan karakter yang baik dan terpuji, maka akan menuai hasil yang tidak selalu baik. Sementara, justru meskipun orang mencibir terhadap yang tampak karena keburukannya, namun jasad hanyalah bungkus belaka, Sang Sukrasana mempunyai hati dan jiwa yang terpuji dan mulia. Sebuah pembelajaran yang bagus bagi jiwa-jiwa kita dalam upaya meraih hidup yang bernilai.
Nuwun sewu Lampahan Dasamuka Lena mboten saget dipun unduh, amargi web-ipun sampun mboten eksis, mbok menawi wonten ingkang kagungan mbok dipun unggah malih
nuwun
Tiyang mbantul