Ki Timbul Hadiprayitno-KUNTULWILANTEN

Ki Timbul Hadiprayitno yang ingkang kula mangertosi, inggih menika satungaling Dhalang Gagrag Metaraman ingkang kukuh nidakaken ing bab pedhalangan pakem. Urut urutaning jejeran ngantos tancep kayon, sedaya dipun tindakaken kanthi patitis ing salebeting garis sastra pedhalangan ingkang jangkep. Liripun, Ki Timbul disiplin nindakaken kados pundi ngecakaken ukara sastra utawi basa pocapan lan janturan ingkang leres, suluk Metaraman ingkang baku, lan sabetan ingkang sae. Dramatisasi adegan ingkang dipun garap dening Ki Timbul menika salah satunggaling bab ingkang menjila katandhing kaliyan dalang Metaraman sanesipun.

Setunggaling conto ingkan kapethik saking jejeran wontening Negari Slagahima nalika ngrembag ruwet rentenging kawontenan ingkang saweg damel para rawuh ing pagelaran kados dene mlebet ing swasana lampahan, kados kapetha ing ngandhap menika. Nalika samanten, Prabu Wiwanadewa ndangu ingkang putra magepokan kaliyan putri sekar kedhaton. Makaten kirang langkung pangandikanipun Prabu Wiwanadewa dhumateng ingkang putra, Bimakurdha;

Sambetipun wonten ing mriki lan ing mriki

Duryudana Gugur, awal Kalimataya

Lakon Kalimataya; Tentang Kepantasan-kepantasan

1. Apa yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ksatria dalam pertempuran dan perang? Jawabannya begitu jelas: tidak ada yang tidak pantas yang dilakukan oleh seorang ksatria dalam pertempuran dan perang! Mengapa demikian? Karena seorang ksatria telah berlaku adil sejak sebelum perang itu terjadi. Adil seperti apa? Adil untuk mencegah agar perang tidak terjadi; adil ketika memutuskan perang memang harus terjadi, serta adil untuk membuat bagaimana sebuah perang harus diakhiri. Bahkan saat seorang ksatria tidak mampu menghentikan peperangan, ia tetap akan berupaya adil: membiarkan perang itu sendiri menghentikan semuanya.

Apa yang membedakan seorang ksatria dengan yang bukan-ksatria? Mereka yang bukan-ksatria selalu terlambat berbuat adil atau bahkan lupa serta abai terhadap keadilan, bahkan ketika perang telah usai. Yang bukan-ksatria menghasut agar perang terjadi sementara orang ingin berdamai; memerintah orang lain untuk maju perang sedang ia minum tuak dan menari; ketika ia menjadi orang terakhir dalam menghadapi lawan, ia menyelinap sambil menyerapah di tempat ia bersembunyi.

Apa yang tersisa dari sebuah perang, khususnya perang antar-wangsa Barata? Bagi ksatria yang tersisa adalah harapan untuk tumbuh, untuk bangkit. Bagi yang bukan-ksatria yang tersisa adalah tetap kesumat: sebuah dendam untuk melanggengkan kekuasaan; sebuah hasrat untuk kembali melakukan kesewenangan; dan politik penumpasan diam-diam, termasuk – dan ini yang dilakukan – mencerabut nyawa para perempuan.

2. Mari kita hadir di hari itu: waktu menjelang paripurna Baratayuda. Bala pasukan Kurawa dan semua panglima Hastina menjelang sirna dan lampus. Di pihak Pandawa kelima putera Pandu masih bugar.

Di tepi Danau Dwaipayana, Bima, Kresna, dan Arjuna berdiri. Bertiga memanggil keras Duryudana yang berlari dan bertenggelam ke danau itu. Kresna menyindir agar Duryudana bersikap ksatria untuk laga pamungkas, tapi tidak berpengaruh. Arjuna pun menegaskan tentang Hastina yang secara legal-sah menjadi hak Pandawa, tapi tetap tidak membuat Duryudana naik ke permukaan. Justru sebaliknya sulung dari Kurawa itu menyebut mereka bertiga “tak lebih dari sekawanan serigala yang dengan licik sedang mengeroyok seekor singa”. Tanpa jeda nafas, Arjuna pun meneruskan, “Mungkin maksudmu, seekor singa yang diperanakkan oleh ayah yang buta?”

Air menggelegak. Duryudana muncul meradang.

3. Siapa lawan Duryudana yang gagah itu? Siapa yang pantas meladeni Raja Hastinapura? Tidak lain adalah Bima yang sejak kecil menjadi rekan beradu tubuh dan nyali. Harga yang paling tepat untuk keduanya: sama kuat, sama semangat, sama memburu, tapi beda niat. Sang Raja menghantam sekuat penuh untuk melanjutkan kekuasaan dan menghancur-matikan mereka yang berhak. Bima memalukan gadanya separuh tenaga ke paha lawan untuk menghentikan arogansi sebuah tahta.

Semar menganggap Bima bimbang dalam bertarung. Baladewa memprotesnya sebagai curang!

4. Kalimataya (kali = zaman, mataya = bergerak) akhirnya ditetapkan sebagai sebuah asma untuk gerakan baru, julukan untuk Raja di episode pasca-klimaks perang besar. Menjelang puncak – runtuhnya Duryudana – suasana hati pelaku pertempuran telah sampai di tahap akhir pengharapan. Pihak Pandawa yang begitu optimis di atas puluhan tahun penyiksaan-derita lahir batin melawan beberapa raga Hastina yang suluh keangkaraannya menjelang padam.

Suasana batin ini, baik Pandawa dan sisa Kurawa (dalam hal ini khususnya Duryudana), begitu sulit dirasakan bagi mereka yang tidak terlibat dalam roman besar itu. Pantaskah seorang Arjuna ‘menghujat’ Putra Destarastra itu? Seorang Arjuna yang dikenal halus budi, dengan kesusilaan yang terjaga, harus menyampaikan serapah yang tidak sopan? Apakah pantas seorang Bima bimbang dan ragu-ragu untuk mengakhiri laganya melawan Duryudana? Seorang Bima yang telah merambah jagad kadewan itu memiliki kesangsian atas dirinya? Ataukah ini semua merupakan tanda yang mengarah ke lain hal?

5. Seringkali sebuah teks memang hadir begitu saja, kita terima seperti itu. Pengarang atau penulis tentunya memiliki alasan untuk meruwat atau memilih kata yang begini atau begitu. Namun setiap teks memang menjadi pasif ketika ia telah dinikmati atau disajikan. Ia menjadi obyek yang bisa dijelaskan, ditafsirkan, dimaknai bebas. Mengapa begitu? Karena penonton, pembaca, penikmat tidak mampu sepenuhnya berada dalam nuansa atau suasana penulis/pengarang pada saat ia menciptakan teks tersebut. Jika demikian, layakkah sebuah teks dikomentari? Salah satu jalan yang imbang adalah cara membaca / model pembacaan terhadap teks itu. Ada yang mesti dirunut dari lingkaran pembacaan ini: pengarang, teks, dan pembaca/penonton.

Lakon Kalimataya kiranya bukan sekedar nukilan sebuah episode drama Mahabarata. Cuplikan sebagian kisah di masa akhir perang Baratayuda dan kemudian tampilnya raja sementara Puntadewa di tahta Hastina merupakan puncak perjuangan lahir-batin kedua pihak yang berseteru. Dalam lakon ini setidaknya ada makna baru tentang pilihan: yang mana ksatria dan yang mana sebaliknya.

Kalimataya menjadi ambang batas bagi perlawanan terhadap dendam. Karena dendam adalah benih yang semenjak awal telah disemaikan. Kemelut telah hadir mengiringi para pendiri dan penggagas sistem pemerintahan Hastinapura. Duryudana pun, meski telah kalah oleh Bima, tetap menyempatkan diri mewariskan dendam-pembalasan itu pada Aswatama; yang nantinya cukup sukses mencerabut beberapa nyawa dari pihak Pandawa, termasuk Banowati – figur di antara dua pihak.

Masihkah kita bimbang atas Arjuna atau Bima? Pun Puntadewa ketika gamang menduduki tahta? Tak ada jawaban sepenuhnya yang memastikan boleh atau tidak. Tapi mungkin kita paham: apakah Duryudana memang tidak pantas disebut sebagai pengecut?

M. Iskak Wijaya

Catatan: Kutipan dialog mengacu pada naskah wayang Sandosa dari Nanang Hape, Kalimataya. Digelar 31 Januari 2010, Gd Kautaman TMII.

———————

Lakon Duryudana Gugur bersama Ki Manteb Sudharsana dapat dinikmati disini :

Link :  http://www.mediafire.com/?jllrok07w3zn9

Password : wayangprabu.com

Koleksi ini diberikan oleh Saudaraku Mas Guntur Sragen

Sengkuni Sukses

Oleh Bambang Murtiyoso
(ISI Surakarta)

Ki Surya Wignyocarito menggelar satu episode wayang, pra-Pandawa, dengan judul Gandamana Luweng. Gandamana seorang mahapatih Astina, semasa pemerintah¬an Pandu. Gandamana adalah gambaran seorang ksatria yang jujur, polos, sederhana, adil, penuh pengabdian, dan setia kepada kebenaran. Ia mendapat tugas dari rajanya untuk mencari fakta yang sebenarnya ke Pringgandani. Apakah raja raksasa, Tremboko, benar mengirim surat ke Astina yang berisi sebuah tantangan terhadap Pandu. Nalar Pandu ragu terhadap Tremboko berulah seperti itu.

Sesampai di batas negara Pringgandani, telah terjadi tawur masa antara prajurit Astina dan Pringgandani. Genderang perang bertalu-talu; Gandamana mengibarkan bendera putih, pertanda pembawa misi perdamaian. Agaknya ada penelusup, sekaligus provokator, penggerak amuk masa di kedua belah pihak. Tidak tahu sebab-musababnya, Gandamana telah dihujani berbagai senjata dan dikeroyok habis-habisan. Gandamana sama sekali tidak melawan, sebab yakin ada kesalahpahaman. Gandamana didorong terus ke sebuah sumur jebakan, “luweng.” Gandamana terperangkap dan ter¬perosok ke dalam luweng tersebut. Tidak hanya itu, Gandamana ditimbun hidup-hidup dengan bebatuan.

Masa Pringgandani yang brutal dapat dikendalikan dan diundurkan rajanya, Tremboko. Atas bantuan Tremboko pula, Gandamana dapat terselamatkan dari maut. Keduanya, Gandamana dan Tremboko, semakin yakin bahwa ada tangan jahil yang mengeruhkan situasi. Keyakinan itu semakin mantap setelah Tremboko me¬nyerah¬kan surat yang berisi tantangan Pandu terhadap raja raksasa yang sakti itu.

Pada akhir cerita dalang, diketahui bahwa ada sentana Astina, Sengkunilah yang mengatur semuanya, agar terjadi benturan kekuatan antara Pringgandani dengan Astina. Intinya, adalah Sengkuni mencari muka, ngaji pumpung, dan mélik nggéndhong lali. Dalam berbagai kasus di negeri ini, persoalannya tentu tidak sejelas dan semudah seperti alur lakon Gandamana Luweng di atas. Hal ini sangat bergantung pada kecerdasan, ke¬canggih¬an, atau sanggit dalang. Permasalahannya adalah, siapa dalang yang sebenar¬nya, sehingga mampumembikin jagad Nusantara menjadi gonjang-ganjing? Apakah di balik lakon itu terdapat sebuah, atau lebih, tim pembuat huru-hara yang menyusun skenario itu.

Tokoh-tokoh wayang yang lazimnya memiliki tipologi bulat, meski tidak hitam dan putih, nampakkah sekarang? Kalau di masa silam wayang sering dijadikan sebagai simbol, pasemon, dan juga cermin budaya bangsa, apakah masih mampu menjawab dan memberikan gambaran berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia modern sekarang? Berkaitan dengan banyak kasus yang melahirkan bermacam-macam masalah rumit, termasuk segala rupa mafia dan makelar di Indonesia kini, siapa yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya?

Gandamana yang terkorbankan, atau memang pantas dikorban¬kan? Atau orang-orang baik layak untuk dijebak, agar keadilan, kearifan, dan kebajikan tidak merebak. Siapa pula tokoh Nasional yang berkarakter sebagai Sengkuni? Sengkuni yang IQ-nya cerdas tetapi julig, culas, vested interes, penjilat, pengadu domba, khianat, dan ambisius. Siapa pula sebenarnya Prabu Pandu yang berpenampilan kalem, terkesan bijak, tetapi selalu lamban dalam menangani berbagai.permasalahan kini.
Untuk itulah Pandu sering mendapat protes, termasuk adiknya sendiri, Yama Widura. Apalagi setelah Pandu secara sepihak memecat Gandamana, yang dianggap tidak loyal kepada raja. Bahkan Sengkuni yang licik, telah diangkat sebagai mahapatih Astina, pengganti Gandamana. Padahal Gandamana, oleh banyak orang dianggap sangat jujur, tanpa pamrih, dan kesetyaannya terhadap raja dan negara telah teruji.

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sangatlah sulit untuk mengurai permasalahanya. Sebab, semua yang terlibat—dengan bermodal kecakapan bicara serta wajah meyakinkan tetapi penuh kepura-puraan—berusaha menghindar dari tuduhan dan dakwaan. Jika perlu teman-teman dekat didorong untuk terperosok dalam reka jebakan. Agaknya tokoh Sengkuni, dalam pertunjukan panggung Indonesia, telah berinkarnasi ke jutaan tokoh di mana-mana.
Roh-roh Sengkuni itu telah menyelinap dan menebar di seluruh latar, di bilik-bilik institusi, di kamar-kamar atasan, di sela-sela bicara, di jeruji-jeruji bui, di meja-meja pimpinan lembaga, di sidang-sidang pengadilan, di pansus-pansus markus, di almari-almari dokumen negara, di file-file petinggi seluruh negeri, di perdebatan-perdebatan pemilu, di kampane-kampanye pilkada, dan di mana pun serta kapan saja.

Akibat dari semuanya, sangat langka menemukan tokoh ksatria, negarawan, seperti Gandamana yang tangguh, yang jujur, yang setya, dan yang tidak ambisius. Kesuksesan Sengkuni-Sengkuni di seluruh institusi negeri ini benar-benar sangat menghantui Surti, seorang pesinden amatir, yang aktivis pergerakan kesetaraan jender. Akan diarahkan menjadi apa serta akan dibawa ke mana bangsa dan negeri ini? Gerutu Surti setiap pagi selepas nonton televisi.

Kata dalang: ledhog iliné banyu, air selalu mencari celah untuk mengalir ke bawah. Kalau sumber air di atas keruh, pasti bermuara dengan penuh lumpur polusi yang menjijikkan. Pertanyaan-pertanyaan terus menguntit di relung hati Surti. Apakah negeri ini akan usai pada awal abad ini? Kalau tidak, siapa tokoh ksatria yang mampu me¬mimpin bangsa ini? Cara apa yang tepat untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nevotisme yang tiada henti? Apakah semua pejabat negeri ini harus diganti? Siapkah generasi pengganti, untuk bermental suci, adil, dan percaya diri? Sakbeja-bejané wong lali, isih beja wong kang éling lan waspada. Kata mutiara ini sudah lama dilupakan banyak orang dan tidak tahu bagaimana perwujudannya.

BERBURU KASET AUDIO ING KALANING LIBURAN KECEPIT

Liburan Hari Kejepit tanggal 23 Maret wingi kula sampun ancang-ancang badhe ngeteraken lare mbajeng seminar lan ngiras pantes tuwi lare bontot ingkang taksih kuliah wonten njaban kitha Jakarta. Lha keleres malih, sampun sewulan menika kula mboten nate convert audio awit mboten wonten bahan malih kangge ngisi audio wonten blog, angkahipun mangke sekaliyan berburu wayangan audio wonten kitha alit ingkang samangertos kula taksih wonten kaset audio wayangan.

Ndilalah kaya tumbu oleh tutup, Mas Edy Listanto ngabari lewat SMS menawi Mas Santoso ingkang pidalem wonten ing Bandung kersa nelpon sekedhap malih. Mekaten isinipun SMS.

Mboten watawis menitan, Mas Santoso sampun ngebel. Ngobrol gendhu raos saking kareman ringgit umumipun, melembar kareman khusus midhangetaken KNS, lajeng MaS Santoso kersa nitip ringgitan saking Ki Sugino.

Jum’at enjang, kula sampun dugi toko kaset. Pilah pilih angsal 8 lakon saking Ki Sugino lan 1 lampahan saking Ki Timbul Hadi Prayitno.

Kaset saking KNs wonten kalih ingkang kasedhiyaaken wonten toko. Nanging kalih kalihipun sampun wonten ing unggahan “wp”.

Image

Janipun kejawi 8 lampahan saking Ki Sugino ingkang kula pendhet, taksih watawis 10 langkung lampahan saking dalang sanesipun antawisipun Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono lan Ki Sugino piyambak ingkang dereng sempat kula boyong awit keterbatasan dana. Dene lampahan ingkang katindakaaken dening Ki Hadi Sugito ingkang nalika samanten kula prangguli sampun gusis tanpa tilas.

Senajan makaten, toko sampun paring kalodhangan saged mesen lampahan ingkang dipun keparengaken badhe dipun pundhut mangke. kanthi sarana transfer lan kekirim lewat ekspedisi kiriman.

Ing mriku sampun wonten pribadi ingkang nulis lampahan ingkang dipun kersaaken lan kula ugi nambahi nulis lampahan saking Ki Nartasabdo lan Ki Sugino ingkang kula kajengaken. Amargi mboten apal lampahan saking Ki Hadi Sugito ingkang sampun minggah lan dereng, mangke mbokmenawi lajeng kita lantaraken dhateng toko pesenanipun.

Kados kecathet ing ngandhap, menika lampahan ingkang kula pendhet lan mbaka setunggal badhe kula aturaken kaliyan panjenengan sedaya.

  1. Kresna Dhuta
  2. Pendhawa Kependut
  3. Rama Tambak
  4. Aswanikumba-Kumba-kumaba Lena
  5. Antasena Ngraman
  6. Suryandadari
  7. Praconadewa Gugat
  8. Kuntul Wilanten (Ki Timbul Hadi Prayitno)

Nuwun sewu lampahan Karno Tandhing (KSSC) lan Salya gugur (KSSC) Pundutanipun Mas Santoso dereng wonten.

Senajana mekaten, ing wekdal ingkang mboten lami malih, badhe kula inggah lampahan ing ngandhap:

  1.  Lahiripun Wisanggeni (Ki Sugino) paringanipun Mas Supri Banyumas.
  2.  Anoman Obong (Ki Sugino) paringanipun Radio Mutiara Bandung lumantar Mas Rony Subari. Lan
  3. Antasena Takon Rama, (Ki Sugino) ugi paringanipun Radio Mutiara Bandung.

Senajan no 2 lan no 3 seri terakhir teksih cicir wonten seri pungkasan, nanging tetep kula unggah sinambi ngentosi bokmenawi wonten ingkang aba menawi kagungan jangkepipun.

Maturnuwun Mas Marmin mBanyumas sing kersa rawuh wonten ing gubug tinggalan wong tuwa lan Kang Supri lan Mas Marmin sepindhah malih sing mpun maringi buah tangan.

Wisanggeni Krama – Ki Sugino Siswocarito.

Dening: MasPatikraja

Wonten ing lampahan Wisanggeni Krama dhalang sanesipun ing gagrak Surakarta, menawi katandhingaken lampahan saking gagrag mBanyumasan tetela benten sanget. Contonipun panjenengan saged mbetenaken lampahan menika kaliyan lampahan ingkang sami, ingkang kagelar dening Ki Nartosabdo.

Wonten ing pagelaranipun Ki Nartasabda, Wisanggeni krama pikantuk Dewi Mustikawati ingkang nyuwun bebana tigang perkawis ingkang winasatan tiga mustika, inggih menika mustikaning geni, mustikaning angin lan mustikaning banyu.

Raden Wisanggeni – Koleksi Mas Agus “Mahesa Jenar” Wiyarto

Mustika tetiga menika nyatanipun sampun sumandhing wonten ing caketipun Raden Wisanggeni, awit mustika menika awujud garwanipun ingkang ramanipun, Raden Janaka, inggih menika  Dewi Dersanala ingkang putrinipun Bathara Brama dewaning agni, Dewi Barunawati ingkang putrinipun Bathara Baruna dewaning tirta lan Dewi Marutawati putri saking Bathara Bayu.

Continue reading

Batara Partadewa – Duet Ki Endang dan Ki Asep

Kerjasama dengan Radio Mutiara AM Bandung

Oleh MasPatikrajaDewaku

 

Diceritakan di Kraton Gajahoya, Batara Raksadewa sedang menerima kedatangan Prabu Duryudana dan kesepuhan Korawa, yaitu Kombayana dan Patih Sakuni alias Kunting.

Dalam sidang itu, Prabu Duryodana mengkhawatirkan masa depannya. Prabu Duryodana menginginkan agar Gatotkaca jangan sampai mempunyai keturunan. Kekhawatiran Prabu Duryodana adalah supaya ia terlepas dari gangguan keturunanan Amarta khususnya anak Gatotkaca, sehingga Duryudana lestari dalam mengukuhi Negara Astina sampai anak cucu.

Kunting alias Sakuni juga memberikan usulan setaelah ditanya apa punya usulan. Patih Sakuni menyatakan, kalau hendak menyirnakan Gatotkaca yang tentu saja nantinya tidak mempunyai keturunan, maka sebaiknya sekalian saja Kurawa memulai Baratayuda. Kunting punya keyakinan, walaupun Pandawa adalah kekasih para Dewa, tetapi tetap saja punya kelemahan.

 

Continue reading

Mendung diatas Mandaraka [7]

Berganti Cerah, udara Mandaraka.

Oleh MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Dialah Wasi Jaladara, nama lain dari Raden Kakrasana, putra sulung dari Prabu Basudewa, raja di Negara Mandura. Pemuda berbadan sentosa dan berkulit bule ini baru saja ia pulang dari bertapa di Argaliman, memenuhi kehendak hati yang didorong oleh sifat satria pinandita dan juga direstui oleh kebijaksanaan ayahndanya di Mandura.

Kaget mendengar teriakan Larasati yang terburu-buru masuk ke dalam ruang tengah, Jaladara segera menyongsong kedatangan Larasati dengan menghujani pertanyaan seputar ketergesaannya menemui dirinya.

“Ada apa teriak teriak menggangguku, ada apa dengan adikku Rara Ireng?” Kata Jaladara menanyakan kepada Larasati perihal teriakannya, yang menyebut nama Bratajaya. Memang, Lara Ireng adalah panggilan sayang sang kakak, Jaladara, kepada adik bungsunya, Bratajaya atau Sumbadra.

Ketika Jaladara keluar, segera Bratajaya berbalik menubruk kakaknya, mengadukan perihal apa yang terjadi, “Aku dikejar kejar lelaki, kakang!”

“Keparat . . . Sudah bosen hidup rupanya orang itu. Menyingkirlah aku akan hadapi.  Kakrasana segera menyisihkan adiknya dan menghadapi orang yang disebut mengganggunya.

Tapi setelah berhadapan, kemarahan Kakrasana menjadi buyar berganti dengan rasa heran. Pamadi-lah yang tampak dengan senjata terhunus.  “Heh kamu Pamadi. Aneh kalau kamu tidak kenal saudara tuamu Bratajaya. Kamu kesini mau apa?

Pamadi yang juga kaget oleh adanya Kakrasana yang dikenalnya adalah Putra Mahkota Mandura terdiam. Keheranan juga muncul oleh peristiwa yang dianggapnya aneh, hingga mempertemukan kerabat Mandura ada di sebuah kademangan kecil, Widarakandang.

Tak lama kemudian, Pamadi menceritakan apa yang telah terjadi hingga ia marah dan mendapatkan orang yang memberinya makanan yang sudah tidak layak makan.

“Benar apa yang Pamadi katakan, Rara Ireng?”

“Kakang, tanyakan ke Larasati, nasi dan lauknya itu tadinya ada di tempat sanggar sesuci Kakang Kakrasana. Semua makanan yang ada disitu semuanya enak dan pantas dimakan orang”. Bratajaya mendesak kakanya untuk menanyakan kebenaran cerita itu kepada Larasati.

Larasatipun berkata dengan sejujurnya mengenai keadaan makanan yang diberikan kepada Semar Badranaya.

“Lho, semua yang dikatakan Bratajaya makanan itu, semuanya enak. Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Kakrasana.

“Aku tidak merasa memberikan makanan bercampur pasir!!. Jawab Bratajaya yang dari tadi menggelendot ditubuh kakaknya, Jaladara.

Suasana sebentar menjadi hening, karena teka teki seputar makanan yang menyebabkan Pamadi menjadi marah. Semar yang dari tadi diam, kemudian maju menjelaskan sebenarnya yang sudah terjadi, “Ya, kalau ada yang salah, saya minta maaf. Sayalah yang mencampurnya dengan pasir. Sebenarnya makanan yang berasal dari Putri Bratajaya dalam keadaan baik. Tetapi sengaja aku campur dengan pasir. Saya Cuma menyesalkan, momonganku ini tidak meniru leluhurnya dulu, Bambang Sakri, Bambang Sekutrem, Palasara hingga Panembahan Abiyasa dan kemudian Pandu Dewanata, yang bisa sebegitu lama tidak makan dan tidak kehausan walau tidak minum seteguk airpun. Tapi ini, tidak makan tiga hari kok pingsan? Bila satria yang mempunyai cita-cita, kemudian berhenti hanya karena lapar,  lha apa gunanya tapa bertahun tahun. Bila itu yang terjadi, akhirnya semuanya yang telah didapat menjadi tawar, tidak berguna”.

Pamadi merasa terpukul oleh kata-kata pemomongnya. Dipegangnya pundak Semar dan kemudian berkata dengan nada menyesal, “Kakang, semua kesalahku aku minta maaf. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi terhadap aku”

Semar terdiam sejenak, kemudian sambil memandang momongannya ia berkata, “Ya sudahlah, kalau sudah merasa akan kesalahan yang sampeyan buat. Saya hanyalah menjalankan darma sebagai pemomong yang tidak sekedar momong. Harus bisa menjadi orang tua, juga harus bisa menjadi pembantu. Dan juga harus menjadi penuntun langkah. Tadi itu sampeyan telah salah dalam langkah”.

Kakrasana yang dari tadi menjadi tidak mengerti awal mulanya memandang Pamadi dengan air muka yang mengandung pertanyaan. Pamadi yang dipandanginya mengerti akan kehendak tanya yang ada di mata Kakrasana, kemudian kata Pamadi, “Baiklah kakang Kakrasana, semua kejadian tadi, sebenarnya bermula dari putus asanya pikiran ini. Oleh sebab hamba sudah menjawab kesediaan hamba kepada uwa Prabu Salya, untuk mencari hilangnya putri Erawati. Sudah sebulan lamanya hamba mencari keberadaan kanda Erawati yang hilang diculik, tetapi sampai saat ini belum terlihat tanda tanda akan keberadaannya”.

Seperti melihat kilatan ndaru kebahagiaan, Kakrasana menjadi terang pikirannya. Kepekaan hati dan pikirannya yang begitu terasah oleh olah kapanditan yang baru saja dijalaninya, telah menuntunnya kearah takdir yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tetapi rasa kemanusiaannya menjadikannya masih menanyakan kembali apa yang didengar adik misannya, “Nanti dulu, tadi kamu bilang mau kemana?”

“Hamba bermaksud mencari dimana hilangnya bunga kedaton Mandaraka, kanda Erawati, yang sudah sebulan ini hilang dari tempatnya”.

“Terus bagaimana kata raja Mandaraka?” Pertanyaan Kakrasana makin memburu.

“Siapa yang dapat menemukan kanda Erawati, bila ia perempuan, akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila yang menemukan adalah seorang pria, ia akan dikawinkan dengan kanda Erawati”.

“Umpanya, aku yang menemukan, bagaimana?!” Jaladara semakin penasaran. Nalurinya yang tajam telah meyakininya apa yang akan terjadi hubungannya dengan Putri Mandaraka yang hilang  itu.

“Terserah kanda Kakrasana saja.”  Kata Pamadi dengan senyum.

Kembali kepekaan seorang wasi menjadikan Jaladara melakukan tidakan yang tidak tergesa gesa. Rancangan telah diatur didalam benaknya agar nanti peristiwa yang berakhir menjadi akhir yang bahagia. Maka kemudian kata Kakrasana, “Tapi kamu jangan bilang kepada Prabu Salya, kalau aku ini Pangeran Pati dari Mandura. Bilang saja aku pendeta muda dari Argaliman, sebut namaku Wasi Jaladara”.

Pamadi mengangguk setuju. Daripada tidak menemukan Erawati sama sekali, maka saudara misannyapun dapat menyingkirkan rasa malu atas kesanggupan yang telah ia katakan kepada orang tua Banuwati. Demikianlah maka kedua satria itu kemudian berangkat ke Mandaraka untuk meminta ijin mencari hilangnya putri sekar kedaton.

—————

Wajah gembira memancar dari Prabu Salya yang telah kembali menerima kedatangan kemenakan yang ia sayangi. Tidak sabar Prabu Salya segera menanyakan ihwal kedatangannya kembali, “Pamade, bagaimana kabar dari kamu yang dulu sudah mempunyai kesanggupan untuk mencari hilangnya kakakmu Erawati?”

“Mohon maaf uwa Prabu, walau sudah hamba umpamakan seputaran wilayah Mandaraka sudah dijajaki, tetapi jejak kanda Herawati bagaikan tersaput kabut, dan hamba gagal mencarinya. Tetapi tanpa disangka hamba bertemu dengan seorang pendeta muda yang tengah bersemedi di Argaliman, beliaulah yang sanggup mengembalikan kanda Erawati”.

Kegembiraan Prabu Salya berganti sedikit kecewa. Terlihat mendung kembali meliputi air muka Prabu Salya. Harapan kelewat besar yang ia letakkan di pundak Pamadi telah runtuh oleh kata kata kepasrahan Pamadi.

Dengan sedikit acuh, Prabu Salya menanyakan siapa yang disebut oleh kemenakannya itu, “Ooh inikah orangnya? Siapakah kamu?”

“Hamba yang bernama Jaladara, asal hamba dari Pertapan Argaliman”. Jawab Jaladara yang berkata khidmat.

“Apakah kamu yang sanggup mengembalikan putriku Erawati?”.

“Hamba Paduka. Tidak hanya sanggup mengembalikan putri paduka saja, bahkan hamba juga sanggup meringkus penculiknya”.

Merah muka Prabu Salya oleh kata kata Jaladara yang menggambarkan kesombongannya. “Heh Jaladara, kenapa kamu bisa mengatakan begitu? Apakah kamu sudah mendapatkan titik terang siapa penculiknya dan dimana putriku disembunyikan?”

Tidak usahlah hamba pergi dari Mandaraka. Nanti malam, semua penjaga malam sebaiknya diliburkan. Hamba sanggup untuk meringkus penculik itu malam nanti. Nanti tengah malam maling itu akan kembali ke Mandaraka”. Dengan sengaja Jaladara memperlihatkan kesanggupannya yang sedemikian tinggi.

Jaladara. . . ! Perkataanmu itu sebenarnya sudah kelewat takabur!” Prabu Salya bangkit karena sikap sombong Jaladara dan enggan meneruskan pembicaraan dengan Jaladara. Ia mengalihkan  pandangannya kepada putranya, Rukmarata dengan ekor matanya. Rukmarata segera mengetahui kehendak ayahndanya yang berjalan masuk ke dalam istanannya, meninggalkan Pamadi, Kakrasana dan Rukmarata.

Rukmarata yang mengerti apa yang harus dilakukan, menatap tajam mata Jaladara sembari berkata, “Jaladara . . .  lancang ucapanmu. Bila nanti tidak terbukti, besok waktu matahari terbit kepalamu akan aku pisahkan dari lehermu!”

Tidak lagi banyak berkata, Jaladara segera beranjak dari paseban dengan menggandeng Pamadi. Setelah sampai diluar, Pamadi yang dari tadi tidak tahan mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jaladara, segera memburu dengan pertanyaan, “Kalau nanti malam kanda Kakrasana tidak bisa membuktikan kata-kata itu, betapa hamba akan mendapat marah dan malu, kanda”.

“Sudahlah, tidak namanya aku mendahului kemauan yang kuasa. Tetapi catat, bahwa aku rela kehilangan kepalaku bila ucapanku tidak terbukti. Tetapi menjelang tengah malam ini aku mau istirahat dulu. Carikan aku pinjaman tikar untuk sekedar beristirahat”. Santai Jaladara malah rebahan bersandar pada sebatang pohon beringin.

“Lho ini mau kerja apa mau istirahat?” Petruk yang tadi menyongsong kedatangan momongan dan saudara misannya menanya

“Namanya kerja ya harus pakai istirahat. Kalau kerja tanpa Istirahat itu tidak akan bertambah kekuatannya. Istirahat perlu untuk mendapat kekuatan baru”. Bagong menyahut membela Kakrasana.

“Mohon maaf kanda, hamba orang baru disini. Hamba berlum mempunyai kenalan.”

Jaladara yang ternyata mempunyai mata batin yang begitu tajam tersenyum. Kemudian katanya, “Kamu boleh ingkar, Pamade. Tapi aku ini apamu? Aku ini saudaramu tua, semua yang ada di dalam dirimu, sudah aku ketahui”.

“Mohon maaf kanda, hamba belum punya kenalan”, sekali lagi Pamadi yang belum yakin akan kemampuan mata batin Kakrasana kembali berbohong.

Tetapi bagai tersengat kala, Pamadi terkesiap, ketika Kakrasana kemudian bertanya, “Bagaimana? Lha Banowati itu siapa?”

Pamadi yang terkaget mendengar kata Kakrasana yang tajam memalu dadanya. Tanpa berkata Pamade  berlalu dengan cepat dari hadapan Jaladara dengan muka yang memerah, sementara para panakawan mentertawakan momongannya salah tingkah. Kemana Pamadi? Kembali ia berjalan ke keputren menemui Banowati.

Tengah malam. Kedua satria ini sudah ada ditempatnya masing masing. Arjuna muda tidak terceritakan ada dimana dia ;), sedangkan Jaladara bersembunyi menunggu pencuri dengan mata awas terbuka.

Benarlah. Tengah malam telah menjelang, ketika putra raja Tirtakadasar, Raden Kartapiyoga telah sampai di dalam beteng. Ketika ia masih melihat banyak jaga malam yang berseliweran, dalam hati ia berkata, “Hmm, masih ramai keadaan dalam petamanan. Tapi aku tidak kurang akal, aku akan menyirep semua orang yang ada dalam taman sari”.

Sebentar kemudian, niat itu telah ia ujudkan dengan mengucapkan mantra sirep Begananda. Sirep sakti yang mengalirkan udara sejuk yang mampu membelai sukma hingga mata menjadi terpejam, tidur nyenyak.

//Niat ingsun anyirepi/Hong ilaheng awigena/Sirep lerep turu kabeh/Sagung janma jroning pura/Awit karsaning Dewa, mung ingsun kang datan turu/Ya jagad dewa bathara.//

Kidung dengan mantra sakti telah ditembangkan. Demikianlah, maka satu demi satu para penunggu telah jatuh tertidur. Terbahak Kartapiyoga setelah melihat sekitarnya bergelimpangan prajurit jaga telah roboh tertidur. “Heh orang Mandaraka, jangan terkaget. Besok semua akan kehilangan Surtikanti dan Banowati!”.

Tetapi Kartopiyoga memiliki ketelitan. Satu demi satu Kartapiyoga meneliti orang orang yang jatuh tertidur, ia tidak mau pekerjaannya menjadi terganggu oleh kecerobohannya. Sampai pada satu orang yang ia teliti, Kartapiyoga merasa kagum. “Keparat, aku kira semuanya sudah roboh tertidur siapa ini yang tertidur sambil berdiri dengan mata yang diganjal paku? Gagah perkasa muka merah seperti tembaga yang baru digosok. Belum pernah aku bertemu dengan orang ini sebelumnya, ketika pertama kali aku kesini. Tapi tidak perduli. Surtikanti, Banuwati dimana kamu ?!!.

Kartapiyoga yang terlalu percaya diri membiarkan Jaladara yang diraba masih diam. Maka dengan lompatan panjang ia telah sampai disekitar keputren.

Jaladara yang mengamati ulah Kartapiyoga kemudian ganti bergerak cepat mengikuti langkah Kartapiyoga, dalam hatinya ia berkata, “Huh hampir saja aku terlena. Berat mata ini terkena sirep Beganada. Itu dia, maling sudah datang. Jangan berbangga dulu. Ini Jaladara yang hendak menangkapmu !!”.

Belum sempat menyentuh pintu keputren, Kartapiyoga tersentak ketika punggungnya diraba telunjuk Jaladara. Secara tidak sadar, Kartapiyoga mengelak tetapi sepasang tangan kokoh telah melekat dilengan Kartapiyoga. Dengan naluri dan kesaktian tinggi,  Kartapiyoga melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jaladara. Maka tanpa berkata sepatahpun, pertempuran sengit segera terjadi.

Sedikit demi sedikit ilmu mereka yang sedang bertempur telah dinaikkan untuk mengatasi satu sama lain. Tetapi Kartapiyoga yang menjadi heran karena ada salah satu penjaga malam Negara Mandaraka tidak gampang ditundukkan. Dengan rasa penasaran akhirnya Kartapiyoga buka mulut. “Heh penjaga malam, siapa yang mengganggu kerjaku !!??.”

Abdi Mandaraka namaku Jaladara! Siapa kamu maling yang berani menyatroni petamanan Mandaraka”.

“Tidak pakai tedeng aling-aling. Aku pangeran pati dari Negara Tirtakadasar, Putra Prabu Kurandayaksa, namaku Kartapiyoga! Sorongkan lehermu untuk aku pisahkan dari badanmu. Agar tidak menggangu kerjaku memboyong Surtikanti dan Banowati !”. Dengan percaya diri, Kartapiyoga memberitahukan jati dirinya. Pikirnya tak ada seorangpun penjaga malam Mandaraka yang bisa mengalahkannya. Bahkan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi ia hendak memisakan kepala dari tubuh penjaga malam itu.

Namun waktu berlalu, Kartapiyoga makin keteteran  menghadapi penjaga malam yang sedemikan sakti, hingga ia sadar, fajar segera menjelang. Maka dikerahkan kesaktiannya hingga batas tertinggi. Tetapi sekali lagi, penjaga malam itu masih dapat melayaninya dengan nafas yang masih teratur. Putus asa telah menghinggapi pikir Kartapiyoga. Maka segera ia menerapkan ajian ajaran ayahnya, amblas ia kedalam tanah, melarikan diri.

Ternyata ada seorang lagi yang tidak kena sirep. Ialah Permadi. Usai Kartapiyoga melarikan diri dan Kakrasana menghentikan usaha menangkap pencuri, Pamadi mendekati Jaladara. Melihat kedatangan Pamadi, Jaladara menjelaskan apa yang terjadi, “Permadi sudah ada titik terang. Aku sudah mendapat siapa dan dimana pencuri itu. Pencurinya sudah aku ketahui bernama Kartapiyoga anak raja Tirtakadasar. Aku hampir bisa meringkusnya tetapi ia masuk kedalam bumi.  Ternyata ia sangat sakti, terbukti bisa lolos dari tanganku. Ayuh ikut aku mengikut jejak Kartapiyoga”.

Tidak lagi membuang waktu kehilangan jejak. Kesaktian Jaladara telah menempatkan Pamadi dalam ruang cincinnya. Kesaktian Jaladara yang sedemikian tinggi telah melacak arah lari Kartapiyoga.

Sampai dihadapan ayahnya, Kartapiyoga dengan tanpa malu menceritakan bagaimana ia dikalahkan oleh Jaladara. “Aduh rama, ketiwasan. Masuknya hamba kembali ke Mandaraka ternyata disana sudah ada prajurit segelar sepapan yang siap menyongsong. Hamba ketahuan penjaga malam yang bernama Jaladara, sehingga terjadi perkelahian. Kesaktian Jaladara ternyata sangat tinggi. Rama, saya pasrah jiwa raga”.

Marah Prabu Kurandayaksa, anak kesayangannya telah dilecehkan oleh penjaga malah bernama Jaladara, “Heeee . . sekarang giliranku. Pasti ia mengejar kamu kemari. Kita hadapi kedatangannya !!”.

Sementara itu ditempat persembunyian Erawati, wanita malang yang sedang menangisi nasibnya dikejutkan dengan kedatangan dua orang satria yang kelihatan santun. Sebersit harapan telah tumbuh. Setelah ketiganya berhadapan, tanya Erawati kepada keduanya meluncur, “siapakah kalian berdua ini? Yang satu berwajah tampan dan yang satu lagi berbadan perkasa. Katakan maksud kedatanganmu. Katakan, kisanak!”.

“Baiklah raden ayu, terus terang hamba masih kulit daging andika. Hamba putra mendiang Prabu Pandu Dewayana, nama hamba Pamadi”.

“Hamba hanya orang kecil saja, nama hamba Jaladara asal hamba dari Argaliman”. Keduanya memperkenalkan diri.

“Kedatangan hamba tanpa dipanggil, adalah demi tugas yang dibebankan oleh ayah kanda Dewi, Prabu Salya. Hamba harus berhasil memulangkan andika Sang Dewi kembali ke Mandaraka”. Kata Pamadi kemudian.

“Begitu juga hamba yang sudah menyanggupi berdasarkan sayembara, yang siapapun dapat mengembalikan andika Sang Dewi kembali”. Jaladara menjelaskan

Gembira bukan kepalang Erawati mendengar kesanggupan keduanya. Sebersit keraguan masih saja menghinggapi hingga ia masih menanyakan kembali tentang diri mereka, “Tapi kalian bukan dari golongan orang yang menipu, bukankan begitu?”

Bukan Raden Ayu, walaupun bagaimana pun andika Raden Ayu hendaknya bisa membedakan dengan jelas, bahwa hamba masih termasuk kulit daging Mandaraka”.

“Kalau itu yang sebenarnya, aku hanya menurut kepada kamu berdua. Tetapi apakah kamu datang kemari tidak diliputi oleh ancaman bahaya?” Kembali Erawati menyangsikan keduanya. Kesangsian oleh sebab perasaan takut yang telah mengurungnya hari demi hari.

“Benar Raden Ayu. Tetapi semua dapat hamba sisihkan terbukti hamba sudah sampai disini”. Jawab Jaladara meyakinkan.

Kalau begitu, bagaimana kamu bisa membawaku dari sini ?.

“Baik kami akan masukkan Raden Ayu kedalam cincinku”. Kata Jaladara kemudian memupus keraguan Erawati.

Demikianlah, Erawati dan Pamadi telah kembali dimasukkan kedalam bilik cincin Jaladara. Jaladara tidak mau diribetkan dengan Pamadi dan Erawati yang tidak dapat mengarungi bahayanya dunia bawah air Tirtakadasar.

Setelah semuanya diatur rapi, Jaladara berrenang mencari adanya orang penting Tirtakadasar. “Heh orang Tirtakadasar, inilah aku Jaladara yang telah ganti menculik Erawati dari Tirtakadasar !!”

Maka peremuan ketiga manusia itu telah menjadikannya Kerajaan Bawah air Tirtakadhasan menjadi ajang pertempuran sengit. Tidak mudah Kakrasana mengatasi Prabu Kurandayaksa yang memang lebih sakti daripada anaknya, Kartapiyoga. Namun takdir telah jatuh. Kurandayaksa dan anaknya Kartapiyoga tidak mampu mengalahkan Jaladara. Bahkan keduanya dapat dimusnahkan setelah pertarungan sengit terjadi berhari hari.

Ketika ia memeriksa masih adanya musuh dalam kerajaan bawah air itu, ia bertemu dengan seorang wanita berujud raksasa yang dengan terang terangan telah menjumpai Jaladara. Jaladara menjadi terheran dan kemudian menanyakan siapa sebenarnya ia, “Aduh raden, hamba tidak ikut-ikutan”

“Siapakan andika yang berujud raseksi?”

“Hamba istri dari Prabu Kurandageni dan sekaligus ibu dari Kartapiyoga. Nama hamba Tapayati”.

Tanpa diperintah, Tapayati mengisahkan keberadaanya di dasar air, “Begini raden. Sebenarnya hamba sangat tdak setuju dengan tindakan suami serta anak hamba, memaksa putri Mandaraka menjadi istri dari anak hamba, Kartapiyoga. Erawati sejak ada di Tirtakadasar setiap harinya hanya menangis hampir tanpa henti. Saya yang menjadi saksi radenlah yang menyelamatkan putri Prabu Salya itu. Hamba berharap agar hamba diperkenankan ikut ke Mandaraka bersama andika dan Putri Erawati. Maksud hamba adalah sebagai saksi mata bahwa radenlah yang telah berhasil menyelamatkan Erawati dari sekapan anak dan suami hamba”.

“Baiklah aku tidak keberatan”. Tadinya Jaladara ragu, tetapi kembali naluri seorang pertapa menyetujui permintaan Tapayati. Tanpa membuang waktu lagi, Jaladara segera kembali ke pinggir bengawan  yang ternyata telah terkepung oleh wadya Astina.

Kemunculan sosok manusia dengan tubuh berkult tembaga, sontak telah menggegerkan wadya Kurawa yang segera mengepung Jaladara dari berbagai arah. Tombak dan mata pedang telah merunduk mengacu ke tubuh Jaladara yang tetap diam ditempat, namun tubuh yang basah berkilat merah tembaga tersinari matahari, telah membuat para Kurawa kehilangan nyali. Seseorang kemudian menyeruak diantara para prajurit dan nyaring berkata,  “Hee kamu pasti yang telah membawa Dewi Erawati. Ayoh jangan banyak cakap, serahkan Dewi Erawati ke tangan Para Kurawa”. Demikian sapa orang yang ternyata Sangkuni, mencoba menakuti Jaladara dengan mengadang ditepi bengawan segelar sepapan dengan wadya mengurungnya.

Jaladara yang tidak mau dihardik menjawab, “Ini hakku, tidak satupun orang yang akan aku serahi Erawati kecuali ayahnya sendiri, Prabu Salya”. Jawab Jaladara tegas.

Aba–aba telah diteriakkan oleh Sangkuni. Para prajurit Astina bergerak serentak mengepung rapat Jaladara. Tidak tinggal diam, Jaladara mengibaskan tangannya dan beberapa pengepung telah terjerembab ketanah. Namun serangan telah bergelombang kembali mengalir. Tidak mau membuang waktu dan banyak jatuh korban, tidak lama kemudian  dalam rapatnya kepungan Jaladara melompat dan meloloskan diri. Diluar lingkaran pertempuran, Jaladara memetik sekuntum bunga, kemudian dipujanya menjadi sosok Dewi Erawati.

Gembira sorak Para Kurawa telah menemukan Dewi Erawati palsu yang kemudian digendong kedalam tandu untuk dibawa ke Mandaraka. Pada saatnya nanti kegembiraan para Kurawa berubah sebaliknya ketika sampai di Mandarka, Erawati telah kembali ke ujud semula, sekuntum bunga.

————————

Mendung telah tersaput angin. Cerah wajah Prabu Salya ketika menemukan kembali putri sulungnya dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Tak lama kemudian setelah kedatangan Jaladara kembali ke Mandaraka, dipanggilnya Wasi Jaladara kehadapan Prabu Salya, “Kamu sudah membuktikan omonganmu bisa mengembalikan anakku Erawati. Dan aku juga akan membuktikan janjiku, tidak akan ingkar. Tetapi hendaknya kamu bersabar, tunggulah hari baik. Tapi lain dari itu, aku melihat ada raksasa wanita. Siapakah ia Jaladara?”.

“Silakan gusti Prabu menanyakan sendiri jati dirinya”. Jawab Jaladara takzim.

Heh wanita raksasa, siapakah dirimu sebenarnya?” Prabu Salya memandangi Raseksi itu sambil bertanya.

“Hamba adalah ibu dari Kartapiyoga yang telah terbunuh Jaladara.”

“Aku ingin tahu bagaimana kamu beserta keluarga dan para pengikutmu berdiam disuatu negara didalam air yang bernama Tirtakadasar?”

“Terus terang hamba sebagai istri dari Prabu Kurandayaksa sebenarnya dahulu hamba diculik. Ketika hamba sedang mencuci ditepi Bengawan Swilugangga, tidak mengerti datangnya bahaya, hamba diseret kedalam bengawan. Dari situlah hamba dijadikan istri dari Prabu Kurandayaksa. Demikian hingga yang terjadi, hamba mempunyai anak bernama Kartapiyoga itu”.

“Lho, andika itu berasal dari mana asal usulnya?” Ketertarikan akan jalan cerita raseksi itu, Prabu Salya kemudian menanyakan lebih dalam.

“Hamba adalah putri pendeta bernama Begawan Bagaskara, hamba terpisah dengan ayah hamba Begawan Bagaskara sejak saat itu. Ayah hamba dua bersaudara, yang muda bernama Begawan Bagaspati, dua duanya adalah pendita yang berujud raksasa. Juga berputri satu yang namanya adalah Pujawati. Hambalah yang bernama Tapayati”.

Terkesiap hati Dewi Setyawati, istri Prabu Salya yang ikut dalam lingkungan pembicaraan. Karena ialah putri dari Pendita di Argabelah, kakak beradik Begawan Bagaspati dan Begawan Bagaskara. Setyawati alias Pujawati bergerak mendekat ketika mendengar kisah dari Tapayati yang kemudian memeluknya, “Kanda, hambalah yang bernama Pujawati itu. Aku sudah beranak lima kanda!”.

Hening para hadirin yang ikut dalam sidang ketika melihat  keduanya saling berpelukan. Seakan mereka ikut merasakan betapa takdir telah mempertemukan kedua saudara misan itu dalam pertemuan yang tak diduga-duga. Ketika suasana haru tela mereda, Tapayati berkata memohon maaf kepada suami istri itu, “Mohon maaf Sang Prabu, bahwa anak hamba Kartapiyoga yang telah beraninya menculik saudaranya sendiri, Erawati.”

“Tapi aku masih heran, bagaimana Prabu Kurandayaksa bisa membuat Istana dalam air dan bermukim disitu?”. Tanya Prabu Salya.

“Itu adalah kekuatan dari pusaka yang bernama manik sotyaning candrama yang bisa digelar dan digulung. Bisa diringkas menjadi satu ujud seperti yang hamba bawa ini”.

“Oooh itukah bentuk pusaka itu?” Takjub Prabu Salya melihat kesaktian pusaka yang dibawa Tapayati

Kecuali dapat digelar dan digulung sebagai gelaran sebuah negara, pusaka ini juga dapat dibuat sarana untuk mengubah segala bentuk yang buruk menjadi ujud yang baik” tambah Tapayati.

“Apakah kira kira dapat dipakai untuk meruwat ujud ayunda yang serupa raseksi?”

Itulah yang sebenarnya hamba inginkan . . . . ”. Tapayati menjawab dengan wajah yang berharap.

Baiklah ayunda. Tahanlah nafas ayunda, aku akan merubah ujud ayunda sebagaimana yang ayunda inginkan”. Begitulah kesaktian pusaka manik sotyaning candrama tlah dijadikan sarana untuk mewujudkan keinginan Tapayati. Kehendak Dewa telah terjadi, Tapayati berganti ujud yang buruk menjadi sosok cantik mirip dengan dewi Setyawati.

Kembali Setyawati dan Tapayati berrangkulan haru. Kebahagiaan telah merebak diantara saudara trah Bagaspati dan Bagaswara. “Bagaimana hamba dapat mengucapkan terimakasih sinuhun?

“Tidak usahlah berterimakasih kepadaku.”

“Bagaimanapun, hamba harus mempunyai rasa terimakasih. Hamba berjanji, dinda Pujawati semogalah seluruh isi jagad menyaksikan, sampai ajal menjemput, kita berdua tak akan dapat terpisahkan.” Sumpah Tapayati akan terjadi. Hidup mereka berdua berakhir di padang Kurusetra ketika Prabu Salya gugur di medan perang Baratayuda.

Setelah hening sejenak, Prabu Salya berkata, “Tapi begini ayunda, karena ayunda sudah berujud manusia yang sempurna ujudnya, akan aku ubah nama ayunda dengan nama baru; Endang Sugandini”.

Demikianlah, mendung telah benar benar tersaput dari langit Mandaraka. Jaladara sabar menunggu waktu yang telah dijanjikan. Ketika waktu telah ditakdirkan, Jaladara yang kemudian menjadi suami setia dari Erawati, setia hingga akhir hayat. Wasi Jaladara atau Kakrasana bertahta di Mandura dengan jejuluk Prabu Baladewa

Link Pagelaran Wayang dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan keseluruhan cerita Mendung diatas Mandaraka dapat dilihat di:

 http://www.mediafire.com/?5qojwb6u9csd1

atau ingin mempelajari pedhalangan lengkap dengan cerita ini, Bukunya dapat diunduh di:

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/28/160/

Mendung Diatas Mandaraka [5]

Yang Gundah Terbeban Serapah.

by MasPatikrajaDewaku 

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.

“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”.

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”.

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil

“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.

“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”.

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.

“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.

“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berarti macan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”.

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”. Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.”

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.”

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:

Mengertilah, sesungguhnya

manusia hidup didunia itu

hanya seperti (orang) mampir minum

umpama burung terbang, lepas dari kurungannya

dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.

umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur

tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)

Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang

Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//

Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//

Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .

Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

 

Diriku yang benar-benar setia

dari dulu hingga kini

seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

 

Dirimulah pengayomanku

lahir dan batin tumbuh menjadi nyata

tapi agaknya andika kurang berkenan.

 

Saksi akan tanda-tanda itu

walau seberat apapun

jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

 

Semoga mendapat berkah dari tuhan

andika selalulah dapat mengatasi

Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.

Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.

Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat

agawe rujiting galih

‘rerepa kang sinedya

upama mundhuta rukmi,

Tartamtu tak turuti

ibarat wong numpak prau

lumampah tanpa welah

neng madyaning jalanidi,

temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

 

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian, “Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan. “Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngisep sepuhing supana

mrih pana pranawa_ ing kapti

Tistis ing tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh tyas kasubratan

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus. Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi; walau ditepi samudra sekalipun. Tetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

Link pagelaran dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan kisah diatas:

http://www.mediafire.com/?f4xq7e74ndk3vig

Macan

MACAN. Ketika lakon Basudewa Grogol banyak binatang yang dihalau para punggawa agar mendekati pepanggungan dimana Raja Basudewa telah siap dengan busurnya. Binatang-binatang buruan itu antara lain macan, kijang, singa dll.

Grogol artinya berburu. Para raja jaman dahulu mempunyai sebuah gaya hidup untuk berekreasi. Salah satu hobby Basudewa adalah melakukan perburuan dengan membuat grogolan. Sayang ketika Basudewa grogol, isterinya Dewi Maerah dikerajaan Mandura cinidrengresmi ‘diperkosa’ oleh seorang raksasa bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai Prabu Basudewa.

Sumber : Buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana cetakan ke-1 Mei 2010

Mendung Diatas Mandaraka (4)

Oleh: MasPatikrajaDewaku PPW-11-01-0006

5. Akal Cemerlang Erawati.

Ya, nama Negara tempat menyembunyikan Dewi Erawati adalah bernama Tirtakadasar. Dinamakan demikian, karena Negara itu ada di dasar muara bengawan Swilugangga, yang menuju ke laut lepas. Dengan demikian, Negara ini tidak mudah diketahu apalagi dikalahkan oleh musuh dari negara yang lumrahnya ada di atas tanah.

Disitulah raja bersosok raksasa yang berjuluk Prabu Kurandayaksa bertahta. Sosok tinggi besar.  Orang-orang yang kelewat membesar-besarkankan sosoknya, mengatakan besarnya seperti anak gunung. Kulit kasar merah tembaga yang ditumbuhi rambut hampir disekujur tubuhnya kelihatan seperti pohon palem yang tumbuh pada pereng jurang. Kencang kulit itu, bagai tak akan mempan terkena bermacam senjata. Kedua matanya bersinar menyeramkan seperti matahari kembar, hidung bagaikan haluan kapal. Geliginya kelihatan bagai karang pantai yang gemerlap ditimpa sinar matahari. Sementara gigi taringnya sebesar cula badak, basah oleh air liur berbisa. Bila ia bersin suaranya bagaikan petir dan ketika bersendawa seakan bersuara bagai guntur.

Ketika itu ia sedang duduk dihadap oleh satu-satunya anak lelakinya. Bernama Kartapiyoga. Rupa Kartapiyoga tidak jauh dari orang tuanya yang serba gagah sembada. Yang membedakan adalah Kartapiyoga berujud setengah raksasa. Kedua matanya merah dinaungi oleh helai bulu matanya sebesar lidi dan mengumpul sedemikian tebal. Demikian juga kumisnya yang tebal dan panjang. Saking panjangnya kumis dililitkan ke telinga kanan kiri. Seperti ayahnya, Kartapiyoga juga bertaring panjang, mengerikan, walau panjangnya “hanya” sebesar pisang ambon. Bila berbicara suaranya keras menakutkan siapapun yang mendengarnya.

Ketika menghadap keharibaan ayahandanya, Kartapiyoga kelihatan murung. Maka berkata Prabu Kurandayaksa memanggil anaknya agar lebih mendekat. Sembah Kartapiyoga berkali-kali kepada kaki ayahandanya, setelah itu Kartapiyoga duduk dengan muka menghujam ketanah.

“Eeeeh . . . .  hong tete hyang Kala Lodra, Mas patik raja dewaku . . .  Anakku Kartapiyoga!” Demikian kata Prabu Kurandayaksa menggelegar bagai hendak melongsorkan istananya.

“Daulat rama Prabu”. Jawab Kartapiyoga

“Kamu ini serba merepotkan. Lewat sebulan lalu kamu pernah bicara kepadaku, kalau kamu saat sekarang kepengin kawin. Tidak ada yang menjadi kecocokan hatimu, kecuali raja putri Mandaraka yang sulung, yaitu Dewi Herawati. Seribu cara telah kamu lakukan, untuk mendapatkan Herawati. Karena untuk melamar pasti kamu tidak akan diterima. Maka kamu bertindak melarikan Herawati dari Mandaraka dan sekarang telah kamu tempatkan disini. Sampai disitu kamu merasa puas. Tapi setelah aku perhatikan, akhir-akhir ini mukamu masih menandakan bahwa rasa kecewa masih kamu rasakan. Anakku hanya kamu seorang. Sekarang katakan, apa lagi yang kamu rasakan?!!” Kurandayaksa yang begitu sayang kepada anaknya yang hari terkhir seperti tidak lagi bergairah, langsung menanyakan masalahnya.

“Rama Prabu, kalaulah saya bisa menghitung, jauh sudah merasa kenyang bila dekat sudah tak lagi bisa menerima semua pemanjaan dari Rama Prabu yang sudah hamba terima. Seperti yang Rama Prabu katakan, semestinya hati ini sudah merasa puas setelah hamba mendapatakan keinginan hamba. Tapi sampai saat ini, putra paduka belumlah mendapat pelayanan dari Herawati sebagaimana layaknya pria dan wanita. Ketika hamba dekati, ia selalu memalingkan wajahnya. Dan ketika hamba menjauh, hamba lihat dari kejauhan itu, ia kelihatan tersenyum gembira”. Kartapiyoga berhenti sejenak. Diipandangnya wajah ayahnya melihat tanggapan. Ketika tidak ada yang tersirat dari wajah ayahnya maka kemudian Kartapiyoga melanjutkan, “Tak lagi putra paduka kuat menahan hati, pada suatu saat putra paduka memaksanya untuk bicara. Pada akhirnya, ia berkata yang sebenarnya, ia bersedia meladeni hamba sampai ajal tiba, bila hamba mempunyai istri lagi yaitu kedua adiknya, Surtikanti dan Banuwati. Karena mereka telah dari masa kecil telah berjanji akan melayani pria yang sama. Begitulah rama prabu, apakah yang harus putra lakukan?” Kartapiyoga menghentikan ceritanya sambil kembali bersembah.

Sebenarnya ada sesuatu yang tidak terpikir oleh Prabu Kurandayaksa atas permintaan Erawati. Permintaan yang tidak masuk akal bahkan terkesan menyuruh agar Kartapiyoga kembali ke Mandaraka. Ternyata tidak terpikir oleh Kurandageni bahwa Erawati telah menjebak Kartapiyoga. Tidak aneh bahwa Mandaraka sedang dalam siaga penuh setelah kecurian.

Tetapi Kurandayaksa adalah raja dengan kepercayaan tinggi melebihi nalarnya. Pikiran Kurandayaksa lebih percaya kepada kesaktiannya. Maka katanya kepada Kartapiyoga, “Oooh begitu kemauan Herawati. Lakukanlah Kartapiyoga!! Memang tidak gampang mendapatkan isteri cantik. Tetapi ada hal yang membuat akau heran. Lumrahnya orang itu tidak mau dimadu. Tetapi Herawati malah minta dimadu dan oleh adik-adiknya. Turuti kemauannya!!!”.

“Kapan putra paduka harus berangkat”. Tidak sabar Kartapiyoga berkata.

Sekarang juga!! Hari ini hari baik. Berangkatlah, pasti terlaksana apa yang menjadi tindakanmu”.

Maka berangkatlah Kartapiyoga. Setelah Kartapiyoga hilang dari pandangan mata, Raja raksasa itu kemudian memanggil para punggawa yang bernama Ditya Pralebda yang termasuk prajurit andalan yang selalu mendapat kepercayaan menggelar jajahan walau hanya seorang diri. Prabu Kurandayaksa segera menyuruh Ditya Pralebda agar mendekat ketika telah terlihat naik ke pandapa.

Setelah Pralebda duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kurandayaksa, kemudian diperintahkan agar ia segera memata-matai Kartapiyoga yang hendak kembali ke Mandaraka melarikan putri Prabu Salya yang lain, Surtikanti dan Banuwati. Setelah tata merakit barisan, maka Ditya Pralebda segera memberangkatkan pasukannya, yang walaupun serba sedikit tetapi terdiri dari para raksasa yang berilmu tinggi.

—–

Kembali kepada Para Kurawa yang sedang mencari keberadaan hilangnya Herawati. Maka terlihat di muara Bengawan Swilugangga beratus ratus perahu besarta para penunggangnya yang terjun dan naik kembali ke perahunya dalam usaha mencari titik terang dimanakah sebenarnya pencuri itu berada. Suara mereka yang saling memberitahu dimana mereka berada dan teriakan perintah dari pembesar yang merancang gelar pencarian terdengar memekakkan telinga.

Tetapi sebagian dari mereka menjadi terkejut ketika mereka melajukan perahu tetapi tidak kunjung bergerak maju walaupun sudah mengerahkan segenap tenaganya. Keterkejutan mereka bertambah ketika perahu mereka malah terangkat dan muncul raksasa-raksasa yang berwajah menakutkan.

“Gila!!  Ternyata ada banyak raksasa yang mencoba mengacaukan usaha para Kurawa. Heh raksasa buruk rupa, siapa kamu ini sebenarnya?” Kartamarma yang dekat dengan peristiwa itu menanyakan kepada salah satu raksasa yang diduga sebagai pemimpinnya.

“Akulah raksasa yang menguasai bengawan Swilugangga yang bisa berrenang dan juga biasa dan bisa hidup didaratan. Akulah kaula dari Negara Tirtakadasar, abdi dari Prabu Kurandayaksa. Sedangkan namaku Ditya Pralebda. Namamu siapa, sebelum kamu mati hanya membawa nama saja?” Pralebda yang menjadi panglima menanyakan siapa mereka.

“Saudara muda raja Astina akulah yang bernama Kartamarma. Segeralah kamu pergi jangan menghalangi usahaku”.

“Bermula dari usahamu mengobak bengawan Swilugangga, banyak ikan dan hewan bengawan yang mati. Aku tidak terima, dan kamulah yang menjadi penukar dari makanan yang kau bunuh itu!”

“Apa maumu?!!!”. Kartamarma tidak gentar.

“Jangan sampai berlarut larut, ayo menurutlah kamu aku jadikan tawanan. Atau kamulah yang aku akan jadikan sarapan pengganti ikan ikan yang pada mati terbunuh!!”.

“Keparat!! jangan hanya bisa omong. Majulah akan aku hancurkan mayatmu!!” Kartamarma tidak sabar dan segera melabrak Ditya Pralebda.

Maka terjadi pertarungan antara prajurit Astina dengan raksasa-raksasa dari Tirtakadasar. Prajurit Astina yang menggunakan ratusan perahu, sementara para raksasa yang terbiasa hidup di air dan didarat segera terlibat dalam pertarungan sengit. Pertarungan yang tidak seimbang antara jumlah prajurit yang lebih banyak berasal dari Astina melawan prajurit Tirtakadasar yang walaupun lebih sedikit, ternyata mereka mempunyai banyak keunggulan.

Prajurit Tirtakadasar yang terbiasa bergerak diair dan di daratan ditambah dengan sosok mereka yang tinggi besar, telah merangsek prajurit Astina. Maka tidak heran bahwa banyak perahu yang bergelimpangan karam ditelan arus Bengawan Swilugangga hanyut kelaut lepas. Demikian pula dengan penunggangnya, banyak yang menjadi santapan para raseksa yang mengamuk bagaikan segerombolan buaya mendapatkan gerombolan kerbau yang menyeberang.

Namun demikian ketika Dursasana dan adik adiknya melihat kejadian ini segera terjun kedalam kancah pertempuran. Walaupun para raksasa itu berusaha keras membendung amuk dari Dursasana, Kartamarma, Jayadrata dan lainnya, tetapi mereka merasa keteteran. Ingat bahwa bukan saatnya untuk melayani amuk para Kurawa, tetapi tugas mereka adalah mengamati kemana perginya Pangeran Pati Tirtakadasar, maka mereka segera menjauhi para Kurawa. Segera Ditya Pralebda memberikan isyarat agar prajurit Tirtakadasar segera menghindari pertempuran.

Kurawa yang kemudian kehilangan lacak segera kembali ke perkemahan mereka yang kemudian disambut oleh Patih Sangkuni. Berkata Patih Sangkuni, “Kartamarma, setelah aku melihat kekalahan para raksasa, kamu bersaudara, diminta menghadap kandamu Jakapitana. Diperintahkan kepada kamu semuanya, agar tidak jauh dari perkemahan kita”. Kemudian mereka segera kembali dengan rasa kemenangan yang memenuhi dada.

——————-

Kita tinggalkan sejenak kebanggaan para Kurawa yang merasa telah berhasil menghalau musuh. Kita kembali bersama perginya Pamade yang belum menemukan arah pasti kemana harus pergi mencari hilangnya Erawati.

Diumpamakan bagaikan permata yang lepas dari bingkai cincinnya. Demikian adanya kepergian Pamade yang meninggalkan para saudara dan ibunya. Kesaktian dan keperwiraan Pamade ternyata telah tersebar keseantero wilayah maka tidak mengherankan bahwa pada setiap tempat, Pamade selalu dihormati oleh para penduduk yang kotanya dilalui. Tetapi sebetulnya bukan karena kesaktian dan kewibawaan seorang Pamade, melainkan karena keramahannya dalam melayani mereka yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Tidak hanya orang orang yang bermukim dalam kota, demikian juga yang ada didesa, pinggir hutan puncak bukit hingga kepinggir lautan pun, bila mendengar orang yang bernama Pamadi melewati pemukiman mereka, perasaan mereka bagai tersiram sejuknya air pegunungan.

Demikian Pamadi yang telah terlanjur memenuhi janji kepada Prabu Salya, untuk mengembalikan putri sulung Prabu Salya, yaitu Dewi Herawati, telah berjalan tanpa tujuan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu mengikuti langkah Pamadi, waktu itu ikut berhenti ketika Pamadi beristirahat dibawah pohon nagasari yang cabangnya menaungi pinggir telaga.

Telaga itu berair bening, diatasnya terhampar teratai merah berkelompok, menambah keindahan lingkungan telaga itu. Tengah hari itu nampak ikan yang berbaris dan berseliweran didalam beningnya air, bagaikan bintang malam yang beralih tempat. Rasa tentram sekeliling telaga telah menghilangkan rasa penat berganti dengan rasa damai dalam dada. Sejenak Pamadi melupakan beban kewajiban dan sumpah serapah Surtikanti yang seringkali terngiang ditelinganya.

Link Pagelaran wayang yang bersangkutan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?4835o9knidec75t