Mendung diatas Mandaraka (3)

Oleh: MasPatikrajaDewaku ( PPW – 1 1- 01 – 0006)

4. Yang Rebah Terkena Panah Asmara.

Surtikanti pergi dari hadapan Permadi dengan hati perih. Ia tidak menyangka bahwa dirinya yang anak raja besar, akan mendapat penolakan dari seorang pria. Sangkaannya, bahwa sebagai anak raja besar, semua apa yang dimaui pastilah akan terlaksana. Maka rasa sakit didalam hatinya telah mulai tumbuh menjadi dendam.

Sementara itu, walaupun hanya mengerti sedikit masalah diantara mereka berdua antara Pamadi dan Surtikanti, para penakawan tidak urung ikut menangis. Mereka menyesalkan perlakuan Pamadi terhadap Surtikanti. Mereka menyesalkan tampikan dari Pamade. Tapi apakah tangisan itu tulus atas nasib buruk Surtikanti? Ternyata tidak seluruhnya. Coba dengar apa kata Gareng.

“Aduh Truk, tadi aku lihat den ayu Surtikanti sikapnya begitu lugas. Bicaranya sekalimat demi sekalimat tertata sopan dan rapi. Tapi kenapa ndara Permadi menolak undangannya untuk mampir ke keputren. Padahal Truk, sudah aku bayangkan, disana pasti setidak-tidaknya kita akan disuguhi makanan”. Gareng menelan ludah, kemudian terusnya, “Kalau ndara Permadi nggak masalah menolak undangan itu. Dia memang terbiasa laku prihatin tanpa makan minum berhari hari. Lha kalau kita?”

“Eeeh kalian pada diam kenapa !! “Semar menyela obrolan Gareng.

“Disuruh diam kalau perutnya keroncongan bagaimana bisa diam!” Gareng ngeyel

“Ya dikendalikan . . . “ sabung Semar.

“Dikendalikan cara apa. Apa aku ini kuda liar apa gimana?” Gareng tetap ngeyel

“Eeh ya ditahan gitu . . “

“Kurang berapa lama lagi aku menahan diri. Berhari hari jalan sambil menahan lapar. Ditengah hutan kemarin itu aku nyari ubi gembili buat ganjel perut, tapi begitu sulitnya”.

“Jangan diucapkan pakai kata-kata”.

“Harus dikeluarkan unek-unek itu kok. Kalau tidak, bisa jadi penyakit dalam tubuh”.

“Jangan sampai diketahui orang lain rasa laparmu”

“Kamu anggap suara-suaraku seperti suara  yang nggak kepakai apa gimana?” Gareng masih tetap ngeyel. Semar akhirnya tidak lagi menyahuti kata-kata Gareng. Sekarang ia malah bertanya kepada Permadi.

“Haaa. .  ini bagaimana den, kenapa akhirnya jadi membuat orang menangis. Ini bagaimana? Bagaimanapun yang terjadi, seharusnya andika harus mempunyai rasa kasihan. Dewi Surtikanti itu bukan seorang wanita yang remeh. Ia adalah putri Mandaraka. Andika didekati diajak akrab. Diminta untuk mampir dan mau diberi suguhan sekedarnya dan salin, berganti kain buatannya. Ditolak. Seharusnya adalah, andika mau mampir walau sebentar dan minum barang seteguk. Kalaulah saya menjadi den ayu Surtikanti, pasti saya juga akan sakit hati”.

Aku jadi teringat waktu lalu. Aku juga pernah merasakan seperti itu.” Petruk menyela sambil meratap.

Namun Gareng yang sebal Petruk menyama-samakan dengan Pamadi berkata, “Gombal amoh kamu Truk. Kamu kok mau kau samakan dengan Raden Permadi. Apanya yang sama?”

“Aku dulu juga pernah disuruh berganti kain”. Jawab Petruk, “Tapi setelah itu, tiap bulan aku dipotong gaji”.

“Itu namanya ngebon!! Ooh memang benar gombal kamu”. Bagong nyahut.

Permadi diam membiarkan para panakwan. Sejurus kemudian setelah mereka diam, Pamadi berkata kepada Semar“Memang aku tidak tega, kakang. Tapi kakang tahu, bila aku teringat akan kewajiban, nanti pasti akan ada kesempatian lain. Yang penting kali ini kita harus keluar dari Mandaraka. Ayo kakang Semar aku bakal pergi memenuhi tugas dari uwa Prabu Salya”.

Demikianlah, maka Pamadi dan para panakawannya telah sepakat segera pergi dari wilayah kraton Mandaraka. Namun belum sampai mereka beranjak, tiba tiba mereka melihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa datang mendekat, “Lho . . . itu siapa yang datang kemari ?!!” tanya Petruk

“Eeeh iya, itu ada wanita lagi yang datang kemari. Raden, ayolah ditemui. Ttapi ingat jangan lagi membuat sakit hati”. Sambung Semar

Memang demikian. Kali ini yang datang kembali memenuhi tugas dari ramandanya adalah Dewi Banowati. Dengan langkah ringan memikat hati, Banuwati datang seorang diri dengan wajah tengadah, mata yang berbinar dan senyum yang selalu lekat dibibirnya. Setelah ia sampai dihadapan Pamadi dan para panakawan, ia bertanya kemayu. Kali ini Semar disapa terlebih dulu.

“Yang didepan ini,  aku sudah kenal. Bukannya kamu yang tadi aku lihat menghadap rama Prabu? Kakek pamong, bukankah kamu yang namanya Semar?”

“Ya, hamba yang namanya Semar.”

“Yang tiga lagi namanya siapa?” kini ketiga panakawan Pamadi disapa, tetap dengan  suara kenes.

“Hamba Nala Wigareng, Pancal Pamor.  Putranda dari Semar. Pangkat hamba lurah. Punya sapi tujuh dan bengkok saya luas. Motor saya baru . . . “ Gareng mengenalkan diri sambil menyombong.

“Lha kang Gareng ini  malah omong yang enggak enggak”. Petruk menyela, kemudian memperkenalkan diri, “Nama saya Petruk”.

“Kalau saya Bagong”.

Kalau aku hendak omong dengan tuanmu, kira kira aku harus berhubungan dulu dengan siapa?” tanya Banuwati.

“Saya”. Sahut Petruk cepat.

“Petruk, yang kamu ikuti itu namanya siapa?” . banuwati pura-pura tanya nama Pamadi.

“Namanya Pamadi”. Jawab Petruk.

Apa dia tidak bisa bicara?” tanya Banuwati.

“Yang sudah-sudah sih bisa!”, Petruk senyum menjawab dengan irama yang terseret oleh nada perkataan Banuwati.

“Omong dengan putri cantik itu harusnya yang halus”, Bagong mengingatkan Petruk.

“Tapi Gong, dianya yang mulai begitu”, Petruk tidak mau disalahkan.

“Petruk, bisanya aku omong sama tuanmu, itu harus dengan cara  bagaimana?” Kembali Banuwati bertanya

“Ada pepatah “jer basuki mawa beya”, Jawab Petruk yang kali ini mengeluarkan ajian akal bulus. “Kalau hendak mencapai keinginan harus ditebus dengan biaya. Misalnya kalau ingin berpakaian baik harus beli lebih mahal. Kalau mau makan enak harus keluar uang lebih banyak.  Jadi kalau kepengin omong-omong dengan orang seperti tuanku itu, ya harus melewati jalannya . . . . gitu”. Jurus awal sudah diterapkan. Dan sekarang Petruk mengetrapkan jurus kedua.

“Kalau saya sih tidak mengharapkan apa-apa den ayu. Beneeer, taruhan . . . . . . Kecilnya jari besarnya leher, saya tidak mengharapkan sesuatu apapun. Tapi den ayu lihat sendiri, saya punya sarung cuma satu. Sama . . . .  ya itu . . . saya dari rumah itu nggak bawa bekal seperakpun”.

“Lha Petruk ternya lebih dari minta . . . !“. Bagong yang dari tadi mendengarkan omongan Petruk, akhirnya nyeletuk.

“Petruk, kalau kamu bisa membuat aku dan bendaramu bisa saling bicara, Semua apa yang kamu minta, nanti akan aku turuti. Aku masih punya sabuk yang sudah tidak lagi dipakai oleh rama Prabu, dan sabuk itu terbuat dari kulit ular Dak Brama”. Ujar Banuwati

“Nggak usah saja, Den ayu, sabuk itu nanti malah mbakar pinggang saya. Petruk menolak dan kembali menyambung minta Banuwati menunggu sebentar. “Tunggu sebentar ya den ayu.. . . . . . . Ndara Permadi”,

“Apa Petruk?” Jawab Pamade

“Anu . . . . , kali ini mau diajak mampir ya. Ini rejeki bagi raden. Dan pasti meleber pada saya juga akhirnya. Mau ya”, kata Petruk bisik-bisik.

Semar yang melihat gelagat Petruk ngomong bisik-bisik menimpali, “Eeeeh jangan omong yang enggak-enggak! Ingat, ndaramu itu sedang menjalankan tugas. Aku berani taruhan kecil jari besar leher, sebab ndara Pamadi itu biasa bertindak adil, kalau Den Ayu Surtikanti tadi ditolak, pasti yang ini juga ditolak”.

Gareng ikut bicara mengiyakan, “Pasti nggak bakalan mau”.

“Pasti mau”. Petruk kukuh. “Semua watak ndara Pamadi itu seluruhnya sudah ada digenggaman saya, kok. Aku menjadi pemomongnya sudah lama. Aku bisa melihat setiap gelagat. Sesama orang melirik, lirikan ndara Pamadi dan lirikan orang lain bisa saja berbeda. Apalagi lirikannya Kang Gareng”, sambung Petruk

Sialan kamu Truk. Malah moyoki orang tua!! Gareng yang matanya jereng tersinggung.

“Pamadi . . . “ kali ini Banuwati langsung memanggil Pamadi. Namun Pamadi masih tetep diam.

Ayolah ndara, mbok disahuti gitu?” Petruk mengompori

“Ya raden ayu”. Pamadi menyahut. Kali ini pandangan keduanya bentrok. Pamadi yang dari tadi duduk menghormati anak raja Mandaraka sebenarnya telah tersihir oleh tingkah laku Banowati yang sedemikian memikat. Masing masing mata yang bertaut itu telah memercikkan api asmara dan membakar hati kedua anak muda itu.

Bila Pamadi pada waktu di Mandura ia telah melihat putri Prabu Basudewa yang hitam  manis dan hendak dijodohkan dengannya terlihat ayu, maka di Mandaraka ia menjumpai satu lagi putri raja yang cantik dengan tingkah laku lanyap dan sungguh membuat hatinya runtuh.

Tapi sebenarnyalah. Kedua mata yang bertaut itu masing masing telah melontarkan panah asmara. Terkena telak ke dada masing masing insan muda itu, yang kemudian nampak pada lahiriahnya adalah senyum dibibir masing masing. Sejenak keduanya memalingkan muka, dan pipi Banowati semburat memerah.

Setelah bisa menguasai diri, Banuwati berkata kepada Petruk mengalihkan pandangan dari mata Pamadi “Petruk, aku nggak mau disebut raden ayu sama dia. Mbok panggil namaku saja”.

“Baiklah, anu . .  Banowati mau pergi kemana” jawab Petruk salah mengartikan

Eeeh gombal amoh. Yang dimaui oleh den ayu Banowati itu ndaramu, Pamadi. Bukan kamu. Malah ikut-ikutan nyebut nama”. Gareng coba memberi pengertian.

Biar aja Ma, biar saja Petruk bertingkah, nanti modar dengan sendirinya dia”. Bagong ikut menimpali.

“Baiklah, kanda Banuwati.”

“Petruk . . . aku nggak mau disebut kanda . . . “

“Banuwati . . .”  Pamadi memberanikan diri menyebut nama itu.

“Aduh Petruk . . . . “ sekarang Banuwati yang kelimpungan. Katanya kepada Petruk sekenanya, “Petruk, itu sisa makan burung boleh kamu makan . . . .” Petruk melengos jengkel.

“Pamadi, mbok kamu jangan kelewat berlaku hormat seperti itu” kata Banuwati yang sudah menguasai diri dan muncul kembali sifat-sifat asli yang selalu memandang kehidupan dengan ringan,  Bertindaklah seperti halnya kamu berhadapan dengan saudara yang terpisah lama!

“Ya kanda . . .  eh . . Banuwati.”

“Eeeh ndara Pamadi, jangan mau berlaku seperti itu. Salah salah malah sampean bakal dipukuli orang se Mandaraka” Semar mengingatkan Pamadi agar tidak berlaku seperti yang Banuwati inginkan.

“Petruk . . “ kembali Banuwati memanggil Petruk.

“Ya den ayuu. . “

“Nanti kalau ada demit lewat, berhentikan dia. Suruh demit itu mencekik leher Semar. Banuwati sewot. “Orang kok sukananya ngojok-ojoki. Pamadi sudah mau, malah dicegahnya. Sebaiknya kamu semua malah mendukung. Apa kamu semua mau kelaparan?”.

“Ya mau saja. Orang dari tadi juga cuma dijanji janji saja kok . . . sekalian saja lapar”. Jawab Semar.

Banuwati tidak peduli dan memanggil Pamadi “Pamadi . .  “

Apakah nanti tidak diamarahi uwa Prabu?” Pamadi masih menanyakan keraguannya.

“Tidak. Semua aturan di Mandaraka aku yang mengatur. Jangan sungkan, ayo berdiri. Jangan duduk begitu. Kainmu yang bagus itu nanti kotor kena tanah”

“Apakah tidak kualat nantinya” lagi lagi Pamadi masih merasa sungkan.

“Tidak akan! “ tukas Banuwati.

“Nanti kainmu akan aku ganti yang kotor itu. Aku sudah menyediakan tiga lembar kain batik buatanku sendiri.”

“Lah ini . . . . , kita anak Semar bakal kebagian. Satu buat aku dua buat kang Gareng dan Bagong”. Lagi lagi Petruk salah tanggap. Tapi Banuwati tidak peduli dan meneruskan kata katanya sambil melirik Petruk.

“Kamu pakai satu demi satu dalam tiga hari kamu mampir dikeputrenku. Kalau yang lain dicuci, biar yang sudah kering siap pakai, kamu kenakan”.

“Lho kalau saya dikasih apa?” Petruk masih saja tanya.

“Kamu akan aku kasih terpal”. Banuwati meledek. Kemudian lanjutnya kepada Pamadi

“Pamadi, orang bagus seperti kamu seakan tidak hilang dari pandangan mataku walau mata ini aku pejamkan”. Banuwati maju mendekat kepada Pamade. Tangannya meraih lengan Pamadi dan berkata sambil mendekatkan wajahnya kearah Pamadi, “Alismu seperti digambar. Bibirmu seperti dicetak, sedang hidungmu seperti dibentuk. Kulitmu seperti dilabur emas dan rambutmu hitam berkilau, membuat aku begitu terpesona. Selama hidupku, aku belum pernah bertemu dengan lelaki yang tampan sepertimu”. Rayu Banowati

Pamadi tetap diam tetapi matanya lekat pada mata Banuwati. Ia telah dimabuk cinta.

“Pamadi, mampirlah dikeputrenku ya . . “

“Manakah jalannya kanda?” Kata Pamadi. Sebenarnyalah, disamping kata kata Semar yang dari awal mengingatkan agar jangan sampai menyakiti hati wanita, kali ini Pamadi telah terpikat oleh kemanjaan Banuwati.

“Kamu tidak usah mencari kanda Erawati. Kamu beristirahat dahulu. Sedikitnya enam bulan saja, ya!”. Kembali Banuwati menandaskan.

Baiklah Banuwati”

Maka demikianlah, Pamadi telah dalam tertancap panah asmara yang telah dilepas putri Mandaraka itu. Banowati yang begitu  mempesona, telah menyeret Pamadi yang telah rebah itu, ke dunia muda yang belum pernah ia tapaki.

Bujuk rayu Banuwati telah menyebabkan semua yang ada di dalam benaknya sedikit demi sedikit baur yang akhirnya kabur. Pamadi tak bisa lagi membedakan apa yang benar menurut nalar dan jiwa kesatrianya. Kesediaannya untuk pergi mencari Herawati telah luluh terkena oleh gerojok bujuk manis yang begitu menghanyutkan jiwanya.

Maka keduanya telah bergandengan tangan menuju keputren dengan mesranya, layaknya dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Rasa sungkan Pamade telah hilang. Panah asmara yang sebenarnya telah menancap pada jantung keduanya, telah menjadikan mereka dua orang asmarawan sejati. Saling colek dan saling kerling. Singkatnya benteng asmara Pamadi telah runtuh luluh oleh senyum mesra Banuwati. Begitupun dengan Banuwati, telah lantak rasa kepatutan sebagai wanita lajang. Pesona Pamadi telah menyeretnya jauh dari tatanan susila.

Demikianlah, semakin dalam rasa cinta keduanya telah memabawa mereka ke wilayah yang belum seharusnya mereka masuki. Makin jauh, semakin lupa mereka, bahwa keduanya belum boleh melakukan hal yang tabu. Semalaman mereka bermesraan seperti yang dilakukan oleh penganten baru. Malam dingin keputren Banuwati telah hangat, bahkan panas oleh kobar api asmara keduanya.

Maka ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kali dipagi itu, dan ayam betina telah ribut menggugah anak-anaknya dari bawah ketiaknya, Pamadi bangun gelagapan dari tidurnya yang hanya sekejap. Dari tirai tipis jendela kamar terlihat matahari telah mengintip dari balik cakrawala. Ia telah bangun kesiangan.

Banuwati yang terbaring disampingnya terlihat pulas. Dipandangi sejenak sosok indah berkulit kuning gading, yang masih diam berselimut sutera sekenanya. Namun kini kesadaran Pamadi mulai tumbuh. Tak hendak mengusik tidur wanita cantik yang pulas dengan bibir tetap tersenyum, Pamadi bangkit pelahan. Dipandanginya sosok Banuwati. Dalam hatinya ia berjanji hendak menemuinya lagi nanti setelah usai tugas dilaksanakan. Kenangan manis malam tadi, tak urung telah membekas dalam-dalam direlung hati Pamadi.

Masih tanpa membenahi dirinya, segera dicarinya para panakawan yang sudah bangun sedari tadi sambil menghadapi minuman hangat dan beberapa potong makanan ringan.

Melihat datangnya bendaranya yang dalam keadaan tidak tertata, Petruk menyambut dengan kata-kata,” nDara, mbok rambutnya disisir dulu, masak rambutnya awut-awutan gitu Kang Gareng, mbok kerisnya itu dibetulkan.”

Gareng yang enak enakan minum, tidak mau disuruh dan menjawab sekenanya, “Biarkan saja Truk, orang dianya mau seperti itu.”

“Aeh  aeh . . . .  Ini gimana ndara sebaiknya. Andika yang sudah janji dengan sinuwun Prabu Salya jangan sampai mengingkari. Mari kita semua berangkat”. Semar mengingatkan.

Mereka yang belum puas wedangan dipagi itu segera bebenah. Sisa sedikit kue yang belum dimakan segera dikantongi oleh ketiga anak Semar, kemudian cepat cepat diteguknya minuman hangat yang masih tesisa. Tetapi ketika hendak keluar dari petamanan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya Surtikanti. Pamadi kagok kepergok oleh Surtikanti yang kemudian berkata dengan muka ditekuk.

“Permadi, keterluan kamu. Kamu benar-benar telah membuat sakit hatiku. Banyak hal yang telah kamu katakan sebagai dalih untuk menampik kemauanku agar kamu mau mampir di keputrenku. Kamu bilang bahwa kamu sedang menjalankan tugas. Tapi mengapa, ketika Banuwati mengajakmu mampir, kamu hanya menurut”.

“Aku mohon maaf, kanda Surtikanti”, Sela Pamadi. Tapi Surtikanti yang telah tertumbuhi dendam, tidak peduli dan melanjutkan kata katanya.

Aku tidak terima. Sebab kamu telah membuat sakit hatiku, semoga jagad menjadi saksi akan sumpahku terhadapmu. Pertama, semoga usahamu menemukan kanda Herawati akan gagal. Kedua seandainya nanti kamu kelaparan kamu tak akan mendapat makanan. Sedang kalau kamu kehausan, tak akan kamu temukan air”.

Setelah mengucapkan kalimat itu Surtikanti berlalu dari hadapan Pamadi yang hanya berdiri diam menunduk. Sementara panakawan terbengong-bengong mendengar sumpah-serapah Surtikanti. Setelah peristiwa cepat itu berlalu, terdengar Semar memecah kesunyian.

“A-a-a-aaaah , itu adalah buah dari perbuatan andika yang tidak adil. Yang satu disakiti hatinya, sementara yang lain diperlakukan dengan manis. Ini sudah terlanjur”. Semar akhirnya berserah diri setelah semuanya diam.

“Oooooh gimana ini Gong, apa yang akan terjadi nanti setelah kita disumpahi semacam itu?” Petruk meratap-ratap

“Lha gimana lagi” Bagong juga ikut ikutan meratap

“Kakang Semar sudah lumrah apa yang terjadi. Semua orang yang tersakiti pasti ia akan kecewa. Kalau dilayanipun kata kata kanda Surtikanti, itu bakal menjadi hambatan perjalanan. Ayolah segera kita menjalankan tugas yang telah kita sanggupi”.

Itulah kata Pamadi menentramkan hatinya sendiri. Mereka segera melanjutkan perjalanan tanpa peduli lagi dengan kata-kata Surtikanti. Namun dalam hati yang paling dalam, kata kata serapah Surtikanti telah membekas dalam pikirannya. Serapah itu telah bergayut berat membebani langkahnya.

————————————————————————————————

Sementara itu di perkemahan para Kurawa, Raja muda Astina, Prabu Jakapitana atau Jayapitana, telah menemui Patih Sangkuni yang telah kembali dari Mandaraka. Seperti diketahui bahwa Patih Sangkuni telah melaporkan apa yang terjadi ketika mereka, para Kurawa, telah mendapatkan titik terang, akan keberadaan dewi Erawati. Ketika itu, Sangkuni juga telah mendapat restu dari Prabu Salya.

Dan sekarang para Kurawa yang telah selesai membangun pesanggrahan dengan megah. Walau perkemahan di tepi Bengawan  Silugangga itu hanya bersifat sementara, tetapi kemegahan itu seakan hendak menyamai keadaan di kotaraja Astina. Banyaknya wadyabala yang melingkupi bangunan itu nampak menyebar sehingga dari ujung yang satu tidak dapat melihat ujung yang lain.

“Paman, sudah tidak sabar lagi saya mendengar kabar dari si Paman”. Kata Jakapitana, “Apakah sampeyan sudah bisa menceritakan bagaimana hasil dari si Paman yang aku utus datang ke Mandaraka? Apakah si Paman sudah menceritakan bahwa aku sudah mendapat titik terang akan hilangnya Dewi Herawati. Sebab aku sudah melihat sosok yang ditengarai sebagai mahluk yang mencuri putri Mandaraka. Dan kecurigaan itu diperkuat dengan terdengarnya rintihan seorang wanita”. Jakapitana segera menanyakan apa yang telah dijalani di Mandaraka.

“Sedemikian gembira Prabu Salya, sebab sudah ada gelagat bakal ditemukan yang telah hilang yaitu dewi Herawati”. Demikian Sangkuni mulai menceriterakan perjalanannya ke Mandarka, “Dari awal hingga akhir tak ada yang terlewat, semua sudah hamba ceritakan kepada prabu Salya”.

Dursasana yang tidak mau diam ikut-ikutan  meminta keterangan dan memberikan pertanyaan kepada pamannya“Paman, kami tidak merecoki apa kata paman. Tapi sudahkah si Paman sekalian minta penjelasan, apakah benar-benar akan dijodohkan kakang Prabu Jakapitana dengan Dewi Herawati bila putrinya dapat diketemukan? Sebab yang namanya orang Man, bisa saja berubah kata-katanya sewaktu waktu. Sudah menetapkan apa belum Man, perjanjian yang telah dikatakan Man?”

Dursasana, jangan gegabah. Semua yang aku perbuat sudah aku pikirkan. Semua yang ada dalam perjanjian sudah aku tanyakan”.jelas Sengkuni.

“Sukurlah. Sebab aku kawatir, paman itu sudah tua yang terkadang lupa dengan apa yang harus dikatakan. Jangan sampai yang kita perbuat disini akan menjadi sia-sia. Sukurlah kalau demikian Paman!” sambil terus badannya bergerak-gerak, Dursasana sementara puas dengan jawaban pamannya

Kartamarma juga minta keterangan, “Di Mandaraka sana si Paman diberi perintah apa saja”.

“Begini, bila nanti kita sudah bisa mengembalikan Dewi Erawati ke Mandaraka, maka tidaklah seketika itu juga bakal dilakukan upacara perkawinan, tapi mestinya nunggu dulu hari baik. Semua perbuatan yang terburu buru itu tidak akan baik jadinya”. Jawab Sangkuni.

Sekarang Dursasana yang selalu usil, bertanya lagi, “Upama ya Man, kalau saya yang bisa menemukan, itu bagaimana aturannya?

“Kamu harus mengalah kepada kakakmu! Anggaplah kamu mengawinkan kakakmu. Jangan dimakan sendiri”. Dengan sabar Sangkuni menjelaskan.

“Baiklah. Saya menurut saja apa kata si Paman. Semua yang aku perbuat segalanya hanya aku persembahkan untuk saudara tua” Dursasana menjawah puas. Tapi kemudian ia mengalihkan pembicaraan,.” Tapi saya heran Man, manusia lumrah itu tidak mungkin berhuni didalam bengawan. Kalau menyelam sebentar saja bagi manusia itu bakal megap-megap. Tapi itu yang saya lihat, manusia pencuri itu bisa berjalan seperti layaknya jalan diatas tanah. Ketika diterangi dengan obor, makhluk itu sirna seperti ditelan bumi. Itu hal yang saya kira sangat sulit bagi kita untuk mencari pencuri seperti itu”.

“Begini ya Dur, kamu dan saudaramu para Kurawa segeralah tata baris. Lakukan pengepungan dari sini sampai ke pinggir samudra. Supaya jangan sampai pencuri itu dapat meloloskan diri.” Sangkuni mengunci pembicaraan.

Demikianlah setelah pembicaraan yang bertele-tele usai, para Kurawa segera dikerahkan melakukan penyelaman kedasar bengawan. Segala peralatan atas air dan selam dipergunakan oleh ratusan prajurit yang menceburkan diri ke kedalaman bengawan. Seketika banyak hewan air berlompatan menghindar dari kepungan prajurit. Mereka menduga bahwa akan menjadi sasaran buruan orang orang yang menyelam kedalam bengawan

Benarlah perkiraan Para Kurawa. Ternyata didalam bengawan terdapat sebuah negara bawah air yang bernama Tirtakadasar.

Link Pagelaran wayang yang bersangkutan dengan cerita diatas:  http://www.mediafire.com/?0p2mz2elgphss10

Angkawijaya Krama

Adegan (Jejer) Kerajaan Dwarawati.

Prabu Sri Batara Kresna, di pendapa agung sedang duduk di atas singgasana kursi gading, menerima kehadiran kakanda prabu Baladewa raja di kerajaan Mandura, yang diikuti oleh puteranya yang bernama Raden Walsatha dan Patih Pragota.

Sedangkan yang ikut menghadap dalam pertemuan besar (pasewakan) di istana raja selain dari kerajaan Mandura adalah para punggawa kerajaan Dwarawati di antaranya adalah Raden Patih Hariya Udawa, putera mahkota Raden Jayasamba, dan Raden Harya Setyaki.

Dalam persidangannya, sang prabu Baladewa mengusulkan pembatalan perkawinan Abimanyu atau Angkawijaya dengan Siti Sundari putri mahkota Dwarawati. Sri Batara Kresna hanya terserah saja kepada prabu Baladewa. Akhirnya Raden Walsatha bersama Raden Jayasamba diutus untuk menyerahkan surat penggagalan perkawinan Siti Sundari dengan Angkawijaya ke Raden Janaka atas perintah prabu Baladewa.

Keberangkatan Walsatha dan Jayasamba dari Dwarawati menjadikan prabu Baladewa menjadi lega. Namun tidak lama kemudian hadirlah seorang utusan dari Kerajaan Rancang Kencana yang rajanya bernama prabu Kala Kumara. Utusan yang bernama patih Kala Rancang menghaturkan surat lamaran . Isi surat tersebut ada lah sang Prabu Kala kumara menghendaki Siti Sundari untuk bersedia menjadi istrinya. Terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian meningkat dan menjadi adu kekuatan fisik di alun-alun Dwarawati.

Di alun-alun Dwarawati terjadilah perang antara prajurit dari Mandura melawan prajurit Rancang Kencana. Berkat kekuatan prabu Baladewa semua prajurit Rancang Kencana mundur ketakutan.

Sri Batara Kresna yang sekembalinya dari kerajaan langsung bersemedi dibalai semedi (sanggar pamujan), berdoa agar persiapan perkawinan Siti Sundari yang kurang 5 hari itu bisa berjalan dengan lancar, dan kiranya Jayasamba dan Walsatha yang diutus ke kasatriyan Madukara dijauhkan dari mara bahaya.

Jejer Kasatriyan Madukara.

Raden Janaka sedang duduk di atas kursi gading. Dalam persidangan di Kasatriyan Madukara dihadiri Raden Angkawijaya, Raden Gathotkaca beserta pada panakawan Semar, Bagong dan Besut.

Pembicaraan yang diungkapkan adalah mengenai akan berlangsungnya perkawinan Raden Angkawijaya dengan Siti Sundari yang waktunya tinggal 5 hari. Belum lama berselang dalam pembicaraan itu, datanglah Raden Walsatha dan Raden Jayasamba menghadap serta menghaturkan sembah. Setelah duduk dengan tenang, maka segera di tanyakan apa keperluannya. Kedua-duanya menjawab bahwa kehadirannya diutus menyampaikan surat yang dikirim dari rama Prabu Baladewa untuk Raden Janaka.

Setelah surat dibaca oleh Raden Janaka, marahlah ia, surat dirobek-robek hingga hancur. Raden Angkawijaya peka terhadap keadaan tersebut sehingga mengetahui bahwa isi surat itu adalah pembatalan perkawinannya atas perintah prabu Baladewa. Maka marahlah Angkawijaya kepada salah satu utusan yaitu Raden Walsatha.

Continue reading

Forever Love Duryudana

Perang Baratayudha
Peperangan penuh tragedi
Penuh kisah duka
Penuh darah dan air mata
Penuh nuansa jiwa ksatria dan pecundang

Saat Duryudana pamit kepada istri tercintanya, Banuwati
Istri yang begitu disayangi
meski dia sadar bahwa cinta istrinya telah diserahkan
kepada musuh abadinya, Arjuna
Duryudana tidak peduli

“Suamiku bagaimana kabar dari perang Baratayuda? Apakah sudah berakhir? Apakah Kanda telah menyerahkan sebagian negri Astina kepada Pandawa?”

Berondongan pertanyaan yang keluar dari bibir indah Banuwati, seakan menusuk perih jiwa Duryudana. Ia sadar, apa tujuan dari pertanyaan istrinya itu, ingin memastikan keselamatan dari kekasih abadinya.

“Istriku tercinta, perang masih berlangsung. Banyak sudah pepunden dan orang-orang terkasih telah gugur dalam peperangan ini. Eyang Bisma, telah gugur membela negri. Guru kami Durna, pun telah tiada. Dan yang belum lama ini, suami dari kakakmu Surtikanti, Kanda Karna, pun telah gugur setelah menjadi senapati Astina. Kakakmu Surtikanti, mati bela pati,” geram Duryudana membayangkan gugurnya para andalannya. Satu persatu tumbang dalam peperangan kejam ini.

“Lalu apa kata dunia, bila mereka-mereka yang telah memberikan nyawa untuk negri ini sementara aku kemudian menyerah kalah? Sungguh aku akan dicap menjadi orang tak tahu diri. Termasuk golongan pecundang. Berpesta pora di atas darah dan peluh orang-orang yang membantu kemulyaan kita. Ingat Banuwati istriku, selama tubuh Duryudana ini masih tegak berdiri. Selama nyawaku masih berada dalam jasadku, selama itu pula aku akan tetap melanjutkan peperangan ini,” tercekat Duryudana dengan dada yang bergetar menahan amarah dan dendam membara.

“Namun bukankah Pandawa masih saudara kita sendiri Kangmas ? Bukankah sebenarnya Kangmas dapat menghindari perang saudara ini dengan memberikan hak mereka akan sepenggal tanah di Astina ini. Bukankah sebagai gantinyapun, rama Prabu Salya telah bersedia memberikan negri Mandraka bila Kangmas menghendakinya ?” pedih Banuwati tidak berdaya.

“Oooo Banuwati, dinda tidak mengerti bagaimana perih hati ini menyaksikan kemenangan sedikit demi sedikit diraih Pandawa. Meskipun itu juga tidak diperoleh dengan percuma. Banyak ksatria mereka yang tewas juga. Namun Pandawa masih lengkap berjumlah lima, sedangkan Kurawa ? Tinggal berjumlah lima, dinda. Seratus tinggal lima. Bagaimana pertanggungjawabanku terhadap adik-adikku yang berkorban demi kemulyaan kakaknya, kalau aku saat ini menyerah begitu saja. Tidak, dinda ! Tidak saat ini dan tidak untuk selamanya ! Meskipun Pandawa masih bersaudara dekat denganku, meskipun masa kecil kami lalui bersama, namun saat ini keyakinanlah yang membuat peperangan antara kami harus terjadi”

“Oleh karenanya, kanda pamit kepadamu dinda. Ijinkanlah suamimu ini tuk maju ke medan laga. Perang pastilah menghasilkan hanya ada dua pilihan. Antara menang atau sebagai pecundang, antara masih hidup atau meregang nyawa. Itu yang kanda sadarai dan tentunya juga si Adi. Dinda tahu bagaimana cinta kanda kepadamu. Dari awal kita menikah hingga kini tiada berkurang, bahkan terus bertambah dari waktu ke waktu. Cintaku buta, tidak peduli akan terpaan kejadian apapun ataupun gejolak di hatimu yang setidaknya aku ketahui,” lembut Duryudana mengungkapkan hal itu.

Kembali tergambar masa dimana Banuwati, sang kekasih pujaan hati, akhirnya berhasil dinikahinya meskipun dia tahu bahwa tak akan pernah mampu memiliki hati dan cintanya. Cinta kasih Banuwati telah terengkuh dibawa pergi oleh Arjuna. Duryudana sadar akan kelemahan dirinya. Namun cintanya begitu telah tertanam dan tertancap kuat dalam relung hatinya. Biarlah apa kata orang tentang istrinya ataupun apapun sikap istrinya terhadap dirinya yang adakalanya tersirat mengungkapkan harapan sejatinya, baginya Banuwati adalah satu-satunya wanodya yang dikasihinya sepenuh hati. Tiada tergantikan. Walau bila dia mau, puluhan ataupun ratusan wanita yang tak kalah cantiknya mampu direngkuh tuk mendampinginya, namun tiada mampu dia melakukan itu. Banuwati selalu memenuhi pandangan di setiap sisi hatinya.

Dan kini saat dia harus maju sendiri ke medan perang, yang diingatnya hanyalah Banuwati. Keselamatan Banuwati harus tetap dijaga. Maka diperintanlah prajurit kerajaan untuk segera mengamankan Sang Ratu ketempat persembunyian. Duryudana harus yakin akan keselamatan belahan hatinya sebelum dengan sepenuh hati berperang melawan Pandawa.

<< oo >>

Dalam berbagai lakon kisah Mahabarata, Duryudana adalah tokoh antagonis. Sifat dan sikap buruk hampir selalu menyertainya. Kejam, tidak peduli dan mau menang sendiri terhadap saudara-saudaranya, tidak menghargai dan mengindahkan nasehat para sesepuh dan berbagai watak yang tidak baik selalu menjadi keseharian.

Para dalang sering mengungkapkan hal tersebut saat menjelaskan tentang Duryudana,Suyudana, Kurupati, Jakapitana, Jayapitana, Gendarisuta, Destarastratmaja, atau Kurawaendra. Bagaimana Duryudana disebut sebagai Narendra berbanda yang mengandung maksud raja dengan kekayaan yang tiada tara, melimpah ruah seakan sepertiga dunia telah dimilikinya. Berbandu yang artinya memiliki banyak saudara, kurawa seratus, namun sangat disayangkan hampir semua saudara-saudaranya itu memiliki sifat dan watak yang tak ubah seperti dirinya. Pun adigang adiging adiguna.

Itulah Duryudana.

Namun soal cinta dan kasih sayang kepada istrinya, Duryudana sungguh berbeda. Dia menjadi sosok yang luar biasa dalam mencintai dan mampu menerima cinta apa adanya. Kesetiaannyapun sungguh tidak masuk akal.

Cinta telah mengalahkan ego Duryudana.

Alap-alapan Surtikanthi

Sumber : http://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/95-wayang/1238-alap-alapan-surtikanthi-jayasuwignya-1930-170

Alap-alapan Surtikanthi, Jayasuwignya, 1930, #170

1. Sinom

1. tarunaning rèh ukara | nuwila gônda kang nulis | mêmalar sagung nupiksa | manawi wontên kang sisip | mung kumêdah ngêngawin | mamrih sukanirèng kalbu | sagung kang sarju miyat | tuladhaning crita nguni | datan liya amung nyênyadhang aksama ||

2. kang ngarang balilu nyata | tan wikan paramèng tulis | mèngêt duk panuratira | nujwari Jumuwah Pahing | tri likur Sahban sasi | Ehe ing warsa tinutur | sangkalanirèng warsa | nir rasaning srira aji |[1] cinarita kang môngka jêjêring kôndha ||

3. ing nguni natèng Ngastina | Prabu Jayapitanaji | anglamar maring Mandraka | mamrih garwa narapati | Sang Dèwi Erawati |

— 95 —

kinarya sayêmbara wus | murca saking jro pura | mangkana kang antuk kardi | Baladewa narendra nagri Madura ||

4. wurungira sri narendra | karsanira tan ngunduri | tumurun putri pamadya | parab Sang Dyah Surtikanthi | uwus tinampan yêkti | mangkana wau winuwus | nuju sawiji dina | mangkana Sri Kurupati | asewaka lênggah dhampar mas sinotya ||

5. munggwèng singangsananira | balabar kang samya nangkil | pra kadang satus Kurawa | pêpak kang para dipati | tan ewah sabên ari | ingkang kaparêk ing ngayun | Sang Maharsi Sokalima | lan Paman Arya Sangkuni | dhêdhêp sirêp tan ana sabawanira ||

6. kocap nagri ing Ngastina | tuhu nagari linuwih | jumênêngirèng narendra | binathara nyakrawati | praja gung loh jinawi | pasir wukir panjang punjung | praja ngungkurkên arga | amangku sungapan tasik | murah sandhang miwah pangan sru kuncara ||

7. kaloka nagri Ngastina | tan nate kambah pagêring | tan kasrambah ing pahilan | sagung kang tinandur dadi | rajakaya mênuhi | pitik iwèn kathahipun | angrêbda datan ana | bêbaya miwah panyakit | wong sapraja kanohan amangun suka || Continue reading

Semar Kuning (Ki Nartosabdho)

Semar Kuning….setunggaling lampahan ingkang kagarap dening Ki Nartosabdho. mbok menawi saged kagolongaken carios Carangan, nanging ing wingking carios wonten pangandikane Ki Semar (Btr Ismaya) ingkang ngandika minangka hukumanipun dumateng Sri Kresna..dene Abimanyu lan Siti Sundari ing tembene mboten kagungan turunan. Lampahan menika ugi sampun nate dipun pasang ing WP, nanging rumiyin kualitasipun kirang sae lan mono lajeng kula convert dados pseudoStereo. Convert enggal menika sumberipun saking sumbangan mas Santoso (Bandung).

Dene isi cariosipun mekaten:

Ing Dwarawati, Sri Kresna nggadahi pangangkah bade malakrama-aken Siti Sundari kaliyan Abimanyu, nanging amargi Janaka nembe jengkar ingkang mboten pepoyan…lajeng penganten kekalih kadaupaken tanpa dipun tenggani Harjuna. Lha, ing mriki Sri Baladewa sangat mboten sarujuk, nanging Sri Kresna rumaos kuwaos lan minangka titising Sang Hyang Wisnu tartamtu bade kalis ing sambekala. Dumadakan, Ki Semar midanget babagan meniko sigra gupuh2 minggah ing paseban..lan caos pemut dumateng kalimpute Sri Kresna. Sri Kresna mboten rena penggalih lan duka, lajeng kuncung-ipun ki lurah Semar dipun kecohi dening sang Abimanyu…

Lha kados pundi saklajengipun carios menika:

Monggo MONGGO KULA ATURI MUNDUT ING MRIKI

Gatutkaca Sungging; Ki Nartosabdho

Katur para kadang sutresna ringgit wacucal khusus-ipun saking Ki Nartosabdho (swargi). Ing Kalodangan menika kula ngaturaken satunggale lampahan ing rumiyin (awal-awal madegipun WP, jamansemana) sampun kainggahaken lan sampun dipun share kunjuk para sutresna. Nanging rumiyin…nggih naminipun tasih ajaran lan sumber-ipun sampun lawas dados hasilipun ugi taksih wonten kekiranganipun. Lha ing wekdal menika kula aturaken malih kanthi sumber ingkang enggal, mugi2 kualitasipun langkung sae. Sumber enggal minangka sumbangan saking mas Santoso (Bandung).

Menapa tha menggah isi cariosipun:

Lampahan menika dipun wiwiti jejer Astina. Sri Duryudana tansah goreh lan khawatos menggah wontenipun lare2 putra Pandawa ingkang sami masanggrah ing Kurusetra sisih kidul bagian Pandawa Mandalasara ingkang sami gladen perang. Mila prabu Duryudono nyuwun pitulunganipun Sri Baladewa supados ngusir para putra2 Pandawa enggal nilaraken papan menika amargi dipun anggep nantang perang. Nanging Sri Baladewa mboten sarujuk lan kundur nilaraken Astina. Wauto, dumadakan wonten Pandite neneka saking Atasangin (Hawiyat) ingkang kusung2 pamer bade sakbiyantu kekawatiranipun sri Kurupati. Kados pundi carios komplitipun, menapa Nilayaksa saged nundung Gatutkaca lan kadang2?

Monggo menawi ngersakaken lampahan menika; SAGED KAAMBIL ING MRIKI

Ki Nartosabdho; Sayembara Menthang Langkap

Katur dumateng para sutresna ringgit wacucal ing sak indengeng bawana, khususipun pandemen swargi Ki Nartosabdho (saking Semarang). Ing kalodangan menika…mboten-a kula kasebat tiyang kirang gawean, nanging menika kula jarak convert wangsul lan nempel wangsul ing blog menika.

Rumiyin, lakon menika sampun nate dipun posting nanging sak-perangan sederek pandemen KNS paring laporan menawi convert-ipun kirang sae….mugi2 ingkang kula pasang menika sampun langkung berkualitas tinimbang ingkang kapengker….(nggih nyuwun sewu menawi tasih wonten cacate….naminipun nembe ajaran).

Menapa tho menggah isinipun cariyos meniko…..mbok menawi sampun nate dipun jlentrehaken lan kula pitados panjenengan sami sampun apal. Ingkang jelas lakon menika nyariyosaken nasib-ipun para Pandawa+Dewi Kunthi sak bibaripun ontran2 utawi paekanipun kurawa ing Bale Golo-golo wonten Waranawaca, pendawa diobong….

Nanging, wonten unen2 becik ketitik ala ketara….para Pandawa lan Kunthi saget kalis ing sambekala awit pitulunganipun garangan putih (panjelmanipun batara). Saklajengipun cumondok ing dusun Ekocakra….lan ngantos kalajengaken lampahan menika.

Monggo para sederek ingkang bade ngersakaken lampahan menika kula aturi mundut wonten MRIKI . Nuwun

NB: Lampahan menika sumberipun saking sumbangan mas Wahyudiono Wahyu (Tangerang)

Baratayuda [27] : Utang Piutang Bagaspati – Narasoma

By MasPatikrajaDewaku

“Silakan Raden memberi teka teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku tahu jawabannya”. Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan gelagat yang ia terima. Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan langsung kata teka teki dari mulut Narasoma.

“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.

Sampai disini Begawan Bagaspati menarik nafas panjang. Ia sudah mengetahui maksud dari teka teki yang diberikan oleh Narasoma. Maka katanya kepada Pujawati, “Raden, tidak usah kau teruskan teka teki itu hingga selesai. Aku sudah dapat menebak teka teki itu. Pujawati, pergilah ke sanggar pamujan, siapkan segenap perangkat upacara kematian. Bentangkan selembar mori putih dan kekutug kemenyan beserta mertega sucinya. Segeralah anakku Pujawati”.

Seketika tercekat kerongkongan Pujawati. Kegelisahan telah merayapi jantungnya, namun ia masih saja meminta keterangan kepada ayahnya.

“Untuk apa dan siapa yang hendak diupacarai, Bapa?” Gemetar suara Pujawati.

“Sudahlah nanti kamu juga akan tahu sendiri. Bukankah engkau menghendaki Narasoma menjadi kekasih hatimu? Inilah syarat yang harus kamu sediakan dalam menjawab  teka teki dari calon suamimu, Pangeran Pati Mandaraka, Raden Narasoma. Segeralah kamu lakukan apa permitaanku Pujawati”. Dipandangnya Pujawati dengan sinar mata yang seakan menyihir Pujawati agar segera meninggalkan keduanya.

Sebagai anak yang selalu patuh, Pujawati mohon diri disertai pandangan Narasoma yang terpesona dengan tingkah dan kecantikannya. Dilain pihak Pujawati lengser dengan dihinggapi perasaan yang amat gundah.

Sepeninggal Pujawati, Begawan Bagaspati melangkah lebih dekat ke depan Narasoma. Kemudian ia mengatakan “Raden Narasoma, calon menantuku yang bagus, aku tidak samar dengan apa yang kau maui dengan teka teki yang kau ucapkan. Baiklah, aku akan meminta syarat bila menghendaki Pujawati sebagai istrimu”.

“Katakan Begawan, tentu aku akan kabulkan semua persyaratan yang kau ajukan”. Narasoma penuh percaya diri menyanggupi.

Continue reading

Baratayuda [26] : Salya dan Bunga Cempaka Mulia

By MasPatikrajaDewaku

Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.

Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam. “Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”

“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan”. Jawab Sadewa.

“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.

Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”

“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu

Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami  . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula

“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan  kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.

Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.

“Uwa Prabu . . “

“Uwa Prabu”, tiru Nakula

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “

“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”

Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.

Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.

“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.

Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi “Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.


Continue reading