Repost on Bumiprabu 2007-11-23
By Prabu

Sumber Gambar : http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs384.snc3/23476_376638829541_585904541_3808739_5423676_n.jpg
Pagi yang indah. Gelap mulai suram sirna ditimpa oleh sinar mentari yang mulai muncul mengawali hari. Sehabis sholat subuh, Mas Pras dan Mbak Tika duduk di teras dekat taman depan rumah menikmati udara pagi disela rintik hujan gerimis. Sedikit gelap masih tersisa, namun segarnya suasana dan hijau basahnya tetanaman membuat hatipun menjadi basah. Adem dan ayem.
“Mas, indah dan menyegarkan ya pagi ini” ujar Mbak Tika mengawali pembicaraan.
“Iya dik, rasanya paru-paru ini begitu lapang saat menyedot udara pagi yang segar ini. Dan mata seakan terpuaskan ketika memandang kesegaran alam pagi ini.”
”Iya Mas, tapi aku masih penasaran sama pembicaraan kita semalam mengenai kondisi masyarakat dan negara kita yang kayaknya belum bisa lepas dari keterpurukan. Sementara pembangunan terus didengungkan, namun berita korupsi dan penyelewengan uang rakyat sebanding dengan berita tentang terjadinya bencana di seantero wilayah nusantara. Dari berita tentang pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan berita tentang penghamburan uang negara oleh para pejabat pemerintah kita. Yang pengin tunjangan dinaikkanlah, yang membangun rumah dinas bak istana, yang jalan-jalan ke luar negri dengan mengangkut seluruh anggota keluarga. Mereka pejabat atau penjahat ya Mas ?”
”Huss … jangan bilang begitu dik. Berbaik sangkalah kepada mereka. Toh merekalah yang telah kita pilih melalui proses pilkada ataupun pilpres.”
”Ah … Mas, kayak nggak tahu aja. Lha wong setiap kali pilkada pasti selalu ada keributan kok. Yang kalah selalu ngomong kalau telah terjadi kesalahan atau merasa digembosi dan dianiaya sehingga mengerahkan pendukungnya yang telah dibayar untuk mendemo terhadap hasil pilkada itu. Demo ratusan orang seolah mewakili seluruh masyarakat. Terus opini disebar di berbagai media. Nah, yang menang kemudian membalasnya dengan bantahan akan kecurangan di pilkada. Kemudian dia mengerahkan massanya untuk menggelar demo tandingan. Akhirnya kedua kubu bentrok. Polisi campur tangan. Sehabis itu selesai sudah, beritanya nggak ada lagi. Penyelesaian dan hasil akhirnyapun kadang hilang tergantikan oleh berita lain yang sedang hot. Demokrasi macam apa itu !” jawab Mbak Tika sewot.
”Ya jangan trus marah-marah gitu dong Dik. Nanti cepat tua lho he he he … Kan kita lagi belajar demokrasi. Mungkin ada yang belum mengenal arti demokrasi dan belum mengenal arti legowo ketika kalah bertganding. Itu soal lain. Kalau menurut saya sih, sikap tersebut didasari oleh pikiran dia bahwa dia merasa rugi besar karena telah mengeluarkan modal besar untuk ikut pilkada dan ternyata tidak balik modal he he he … Meskipun dia orang partai, tapi kan pasti ada modal pribadi yang dipakai untuk investasi. Yang pada gilirannya seandainya nanti menang dia harus mengembalikan modal partai dan modal pribadi. Astaghfirullah .. saya kok jadi berburuk sangka gini ya ..”
“Nggak papa kok Mas. Lha wong begitu itu memang sudah menjadi rahasia umum kok. Dan partai-partai yang ada kebanyakan memang bergerak hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Kalaupun mereka mengungkapkan sebagai pejuang rakyat dan selalu memenuhi aspirasi rakyat, namun pada kenyataannya itu sebagai kedok belaka. Tujuannya adalah melanggengkan kekuasaan untuk menghidupi partai yang didalamnya terdapat banyak pribadi orang dengan berbagai ambisi.”
“Iya ya Dik. Saya baca di Pikiran Rakyat kemarin, masak untuk menjadi calon independen diluar partai yang akan ikut pilkada harus memenuhi persyaratan yang wuihhh … hebat betul. Harus didukung oleh 3 % penduduk dan menyetor uang sebesar 1,3 M sebagai apa ya kemarin. Anggap saja sebagai syarat penitipan.”
“Ya begitulah. Tapi sekarang saya pengin cerita Mas. Sekali-kali dong saya yang cerita tidak Mas melulu. Gini-gini saya juga rajin membaca lho Mas tidak hanya nonton sinetron terus.”
“Tapi kemarin saya lihat kamu masih melihat sinetron di RCTI, apa itu …. Aisyah ya !”
“Ah .. itu karena saya hanya penasaran saja Mas. Masak ceritanya nggak habis-habis dan sengaja dipanjang panjangin dan semakin nggak logis saja.”
“Sudah tahu dibodohin eeeee masih terus nonton juga. Gimana sih!”
“Iya Mas habis ini nggak mau lagi saya dibodoh-bodohin. Saya akan lebih selektif dalam nonton teve terutama untuk kebaikan si Ganden juga.”
”Oke gimana dik cerita yang akan kamu sampaikan tadi”
”Begini Mas jalan ceritanya : Continue reading




