Met Lebaran 1430 H

Kepada para pecinta wayang dimana saja yang merayakan Iedul Fitri, saya ucapkan “Minal Aidzin wal faidzin”, “Taqoballahu minna waminku”, Mohon maaf lahir dan batin.

Meskipun kaki masih pegel habis dari nyetir, namun bahagia rasanya berbagi bahagia bersama keluarga. Begitupun saya harap bagi Anda semua.

Bayangin, Bandung – Garut yang biasa kalau normal ditempuh sekitar 2 jam, barusan menghabiskan dijalan selama 11 jam ! :D

Habis dari Garut terus melanjutkan perjalanan ke Klaten. Mudah-mudahan lancar-lancar saja. Aaamiin

lebaran

Bali dan Wayang

Di Bali seperti halnya di jawa, budaya yang terkait dengan wayang masih tumbuh cukup subur di masyarat.

Di Bali beberapa jalan masih mengambil nama tokoh wayang, seperti Abimanyu, Kunti, Drupadi, Yudhistira, Nakula dll.

bali-crop

Dalam wayang kulit, mungkin agak berbeda bila dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Namun secara umum, kelihatannya sumber ceritanya adalah sama.

Sudah 3 hari ini saya ke Bali atau tepatnya di sekitar Kuta, untuk tugas dinas. Malam ini harus kembali ke Bandung dengan fligh Air Asia yang kembali lagi harus mengalami reschedule jadwal alias delay :) Namun Air Asia profesional kok dengan memberitahukan satu hari sebelumnya. Entah nanti pada saatnya di undur lagi atau on schedule. Harus kembali malam ini karena tetangga sebelah ada punya hajat perkawinan.

Kayon bali

Kebetulan saya sekarang sudah di bandara sambil menunggu jam terbang, mampir dulu di Starbucks Bandara Ngurah Rai. Ada hotspot Speedy Telkom disana, dan wus … wus … lebih cepet kalau saya bandingkan dengan pake modem 3G beberapa operator GSM.

3 hari dua malam di sini nggak bisa kemana-mana. Maklum, Kuta sangat padat dengan turis lokal dan manca negara karena bulan-bulan begini memang lagi ramai-ramainya.

Arjuna the Lover

Yang jelas disini panas, sampai dijalan-jalan banyak orang-orang yang buka-buka baju :)

Beli CD/kaset wayang

Barusan ke Matahari Mall di Klaten, saya menyempatkan diri mencari kaset atau VCD pagelaran wayang. Maunya sih beli banyak, namun karena keterbatasan moneter :) maka saya hanya beli 3 judul saja, yaitu :

  • Banjaran Arjuna oleh Ki Nartosabdho (8 kaset)
  • Durgo Ruwat oleh Ki Hadi Sugito (6 disc)
  • Pandowo Sukur oleh Ki Manteb Sudharsono (6 disc)

Ada beberapa judul dari dalang lain yang sebenarnya pengin saya beli, namun lain kali saja ah …

Audionya akan saya rip sekembali saya ke Bandung nanti …

Matur nuwun

Wayang membuat “awet tua”

Orang tua itu dengan semangat kemudian menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jepang yang masih diingatnya dengan jelas. Lagu-lagu itu adalah lagu yang diajarkan oleh “Saudara Tua” kita Jepang, dan harus dinyanyikan setiap hari oleh Saudara mudanya. Suara yang keluar dari mulutnya yang sudah tak ditumbuhi gigi lagi, masih terdengar dengan jelas.

 

wayang2

Ketika kemudian saya tanya (dalam bahasa Jawa) apa arti dari lagu yang dinyanyikan, maka sambil tertawa renyah dia menjawab sambil menggelengkan kepalanya : “Kulo piyambak mboten ngertos he … Namung waton apal kemawon (Saya sendiri tidak mengerti artinya, asal hapal saja)”.

Lalu dengan tanpa diminta beliau menceritakan bahwa pada jaman Jepang anaknya sudah empat. Lha … jadi berapa usianya sekarang ? Maka dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia telah mengarungi hidup di bumi Indonesia ini selama lebih dari 90 tahun.

Dan yang saya kagumi dari beliau, diusia yang sudah lanjut begitu, panca indranya masih berfungsi dengan baik, ingatannya masih bagus dan semangatnyapun masih membara. Tidak heran karena struggle of live dia begitu kuat. Dulu, jalan kaki dari Klaten ke Yogya dengan menggendong beras untuk dijual dilakoninya cukup lama. Pada masa awal-awal kemerdekaanpun beliau ditempa dengan kerja keras dan hidup yang berat. Namun semua dijalaninya dengan baik hingga kini.

Bahkan sekarangpun dia masih ikut “membantu” di perusahaan batik salah satu cucunya. Hebat betul simbah satu ini.

Apa kunci sukses hidupnya ?

Disamping kerja keras dan ikhlas, dia adalah penggembar wayang sejati. Sewaktu mengawali ngobrol dengan saya waktu itu, dia menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu sempat menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Anom Suroto di Jatinom, nggak jauh dari tempat tinggalnya. Continue reading

Ke Klaten yuk ! Liburan

Asyik !!!

Selama satu minggu ke depan, aku cuti. Berdasarkan permintaan istri dan anak-anak maka diputuskan untuk liburan ke Jawa. Emangnya Bandung bukan Jawa ? :) Ndak perlu dijawab

 

Anak saya begitu antusias sampai sudah mempersiapkan jadwal kuliner per hari. Malam Senin ke Palar, berikutnya ke Banyu Urip, besoknya ke Soto Pak Min, kemudian ke bebek kremes, nasi liwet dst dst. Dasar tukang makan !

Lagian memang disana uenak-uenak dengan harga dijamin murah serta cita rasa ndak kalah dibanding makan seperti di Bandung sini. Malah mungkin lebih asyik karena suasana kampung lebih terasa.

Yang jelas, saya lupakan dulu masalah dan kerja di kantor dan saya tinggalkan dulu akses internet selama liburan, biar benar-benar kerasa liburannya dan nggak dibebani macam-macam.

 

OK ..

Mudah-mudahan saya juga bisa nambah koleksi wayang yang nanti akan saya sharing.

Bila Anda berminat wisata ke Klaten bisa lihat-liahat dulu di http://pariwisata-klaten.com/

Nyuwun sewu mbok menawi wonten ingkang komen menopo nggadahi request wonten blog mriki, sementara kulo pending rumiyin nggih ..

Matur nuwun ….

Wayang Modern

Dalang-dalang sekarang ini memang kreatif. Untuk membuat suatu pagelaran wayang lebih spektakuler dan asyik untuk ditonton maka mereka bekerjasama dengan para koreografer multimedia canggih menggabungkan pertunjukan wayang dengan disertai teknik-teknik terkini.

Background layar yang tidak melulu putih, mereka desain layar dapat berubah menjadi langit dengan awan-awan yang berjalan, atau latar belakang hutan belantara, atau lautan. Juga sensasi musik dibuat lebih menggelegar dengan ditambah instrumen-instrumen musik modern.

Disamping itu banyak juga diciptakan wayang-wayang modern versi baru yang sangat dikenal oleh orang-orang sekarang seperti sosok orang, sosok kiai, sosok supermen, sosok satria baja hitam atau yang lainnya. Tujuannnya mungkin agar para kawula muda sekarang ini yang sudah tidak mengenal lagi wayang kulit menjadi tertarik.

Berikut cuplikan gambar dari pagelaran wayang kulitnya Ki Supeno Atmodjo dengan lakon Kresno Mbalelo. Wayang kulit modern versi Jawa Timuran.

Latar belakang langit. Dewa lagi terbang.

Teknik pencahayaan yang okay

Tokoh wayang siapa ini ?

Lha kalau sinden ini bukan rekayasa. Mereka adalah asli sinden, benar-benar manusia :-)

Tokoh kiai ?

Kembali, teknik pencahayaan dan sound effect

Hutan belantara

Sosok kartun yang digemari anak-anak

Wayang supermen

Lha kalau yang ini siapa ?

Sosok wayang yang nakal. Sun sindennya. Atau dalangnya yang nakal ? :-)

Mulanya biasa saja

Kesukaan akan sesuatu, salah satu faktor pendukungnya adalah lingkungan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dalam mengarahkan kegemaran disamping tentu saja keinginan atau hasrat hati. Pengaruh lingkungan dapat berupa alam dan tempat tinggal atau manusia disekitar seperti keluarga, teman dekat, rekan sekerja, para tetangga.

Dulu saya tidak mengenal dan tidak terlalu suka dengan lagu-lagu Iwan Fals. Tapi karena kebetulan teman dekat cewek waktu itu suka Iwan, akhirnya saya jadi menyukainya juga. Awalnya untuk sekedar menyenangkan dia saja, lama-lam kok asyik juga.

Begitupun sosok Ebiet G. Ade. Karena hampir semua kakak suka dengar lagu-lagunya dan di rumah tersedia lengkap kaset-kasetnya, maka akhirnya sayapun jadi penggemar juga. Padahal waktu itu saya masih sekolah di SD dan saat itu sudah hafal lagu-lagunya.

Faktor lingkungan di kampung saya dahulu mengarahkan saya untuk menyukai musik berirama dangdut dan musik tradisional Jawa seperti gending karawitan, langgam dan juga wayang (dulu belum ada campur sari). Bagaimana tidak akan terpengaruh bila hampir di setiap rumah yang kita dengar adalah musik-musik Jawa. Pun pada saat ada kerjaan gotong royong, orang punya gawe atau sekedar santai sambil ngobrol di lincak pinggir jalan, yang selalu terdengar adalah itu juga.

Faktor yang mendukung lainnyapun bertebaran hampir disetiap sisi kehidupan kita. Siaran radio (masih AM) selalu mengumandangkan lagu-lagu Jawa, TVRI rutin menayangkan kesenian tradisional seperti kethoprak, dagelan dan wayang. Semua itu akhirnya mampu membentuk pola pikir dan kegemaran terhadap kesenian Jawa.

Pelajaran Macapat.

Bahkan saya ingat dulu saat kelas satu SMP di Klaten (sekitar tahun 80), ada pelajaran nembang Macapat disamping pelajaran Bahasa Jawa. Saya sudah lupa apa tepatnya nama mata pelajaran itu. Yang saya ingat, kita para murid diberi pelajaran nembang oleh guru beserta not-notnya untuk kemudian diuji satu persatu. Saya ingat betapa susahnya teman-teman waktu itu untuk menembangkan macapat saat diuji, maklum ketika itu para remaja cenderung suka lagu pop atau lagu Barat.

Dan saya selalu memperoleh nilai baik oleh guru karena katanya suara saya lantang dan cukup merdu dengan nada yang tepat. Weleh .. berbakat juga tho … :-) Saya tidak merasa GR karena itu adalah pernyataan guru bukan pernyataan saya lho. Karena sewaktu ada PORSENI dan salah satunya melombakan nembang macapat itu, guru saya menyayangkan karena saya tidak mengikutinya. “Coba kalau kamu ikut pasti kamu juara satu Pran !” begitu kata guru saya. Dan di raporpun terbukti nilai saya selalu yang tertinggi he he he …

Soal Wayang ?

Kegemaran akan wayang bermula karena di kampung saya waktu itu rutin setiap tahun mempergelarkan pertunjukan wayang setiap nyadran. Nyadran adalah tradisi menjelang bulan Puasa untuk berziarah ke makam para leluhur.

Setiap pagelaran membutuhkan biaya yang cukup besar dan itu ditanggung oleh seluruh warga kampung dengan iuran setiap KK tergantung status ke-petani-annya. Maksudnya status kepemilikan lahan sawah. Yang memiliki lahan sawah sendiri tentu menyumbang lebih besar dari petani yang lahannya kecil atau yang tidak memiliki sawah sama sekali (istilahnya buruh). Dan rumah yang menyelenggarakan pertunjukan itu dipilih secara mufakat melalui musyawarah dan tentu saja dengan kriteria-kriteria tertentu. Misalnya rumah harus besar dengan halaman yang cukup luas untuk menampung penonton.

Dan beberapa kali rumah Bapak warisan Simbah dipilih karena memenuhi kriteria. Rumah simbah adalah rumah joglo yang luas dengan halaman yang luas. Apalagi dinding pendopo terbuat dari kayu yang bisa dilepas untuk tempat layar dipasang sehingga mempermudah instalasi panggung.

Dan sesuai dengan prediksi maka begitu malam pertunjukan dimulai maka ramailah seantero kampung. Penonton dari tetangga kampung berdatangan, penjual-penjual kaki lima menawarkan dagangan dan akhirnya setelah pagelaran usai paginya menyisakan kotor dan penat. Tapi semua warga puas karena merasa terhibur dan dapat menghibur warga kampung lain.