Kidung Malam (77)

Watak Ksatria
Prabu Arimba meninggalkan senyum abadi bagi negara Pringgandani (karya: herjaka HS)

Watak Ksatria

Jika boleh memilih tentunya Arimbi akan memilh diantara Bima dan adik-adiknya tidak perlu bertempur. Karena jika hal itu terjadi hati Arimbi akan dihimpit rasa cemas dari dua penjuru, seperti yang pernah dirasakan ketika Bima bertempur melawan Arimba. Disatu pihak Arimbi mencemaskan Bima suaminya, dipihak yang lain Arimbi juga mengkawatirkan adik-adiknya. Namun apa boleh buat, untuk menundukkan adik-adiknya tidak ada jalan lain kecuali bertempur. Harapannya agar Bima dapat memenangkan pertempuran melawan adik-adiknya dengan tidak menyisakan luka, baik luka di badan maupun luka di hati.

Dikarenakan tidak ada pilihan lain Bima pun meladeni tantangan adik-adik Arimbi. Dengan melangkah tenang namun berat Bima mendekati Brajadenta yang dipandang sebagai pimpinan diantara mereka. Sebelum Bima mendekat semakin dekat, Brajadenta telah memberi aba-aba kepada keempat adiknya untuk menyerang Bima secara serentak. Maka sebentar kemudian terjadilah pertempuran sengit. Bima dikeroyok oleh adik-adik Arimbi, kecuali Kala Bendana yaitu Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa dan Brajalamatan.

Arimbi yang menyaksikan pertempuran itu menilai bahwa pertempuran bakal berjalan seru dan dahsyat. Karena masing-masing dari mereka mempunyai ilmu-ilmu tingkat tinggi. Namun jika dibandingkan dengan Bima ilmu-ilmu yang dimiliki ke lima adik-adinya masih berada dibawahnya. Tetapi dikarenakan kekuatan kelimanya bergabung menjadi satu maka akan sungguh merepotkan Bima. Walaupun Bima merasakan bahwasannya tingkat ilmu adik-adik Arimbi masih berada di bawah Arimba, tidak ada niat di hati Bima untuk menganggap enteng serangan-serangan mereka. Bima selalu waspada menunggu serangan demi serangan yang dilancarkan adik-adik Arimbi jurus demi jurus secara bergantian. Bahkan kadang kala putra-putra Pringgandani tersebut melakukan serangan secara serentak. Menghadapi serangan beruntun Bima lebih memilih menunggu serangan dari pada mengambil inisiatif menyerang. Hal tersebut dilakukan karena Bima tidak berniat untuk menyakiti adik-adik Arimbi, seperti yang dibisikan Arimbi sebelumnya.

Setelah pertempuran berjalan cukup lama, adik-adik Arimbi yang pada mulanya membenci Bima sebagai seorang pembunuh Kakak Arimba, perlahan-lahan mulai mempertanyakan kebencian itu. Benarkah Bima seorang pembunuh yang kejam dan wajib dibenci dan dimusnahkan? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah mereka merasakan bahwa perilaku Bima tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya yaitu ganas dan kejam. Pada kenyataannya Bima adalah seorang kesatria sejati yang penuh tatakrama juga ketika Bima berada di medan laga. Dengan sifat Bima yang demikian dapat dimungkinkan bahwa gugurnya Arimba di tangan Bima akibat dari pembelaan diri Bima menghadapi serangan Prabu Arimba.

Watak ksatria yang melekat pada pribadi Bima telah mengusik watak ksatria anak-anak Pringgandani yang dahulu pernah ditanamkan oleh Prabu Tremboko. Dengan watak ksatria tersebut lalu munculah kesadaran bahwa ilmu mereka masih berada di bawah ilmu Bima. Walaupun mereka telah mengeroyok Bima, adik-adik Arimbi tersebut sulit untuk mengalahkannya. Bahkan kemudian munculah rasa malu di hati mereka karena mengeroyok seseorang adalah tindakkan yang jauh dari watak ksatria.

Oleh karenanya, seperti diberi aba-aba Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa dan Brajalamatan mengendorkan serangan, untuk kemudian menghentikan serangan. Para prajurit jaga pada heran melihatnya. Apa yang terjadi? Brajadenta dapat membaca apa yang diinginkan oleh keempat adiknya. Untuk itulah maka kemudian Brajadenta melangkah mendekati Bima. semua mata mengarahkan pandangannya kepada sosok Brjadenta. Apa yang akan diperbuat? Setelah tepat di depan Bima, Brajadenta berkata “Kami mengaku kalah.”

Arimbi melonjak senang, tawaran damai yang dibawa Arimbi telah diterima oleh adik-adiknya. Selanjutnya terjadilah pemandangan yang mengharukan. Bima memeluk adik-adik Arimbi satu persatu. Mereka telah menerima Bima sebagai bagian dari keluarganya, tidak sebagai musuhnya.

Dengan menghidupi watak ksatria, para putra Pringgandani yang berparas rasaksa dapat ikhlas merelakan kematian Prabu Arimba dalam perang tading melawan Bima. mereka mengakui bahwa Bima memang seorang ksatria keturunan trah Girisarangan yang sakti. Maka dari itu ada rasa bangga di hati mereka ketika Bima telah menyunting Kakang Mbok Arimbi yang sudah menjadi jelita, dan menjadi satu keluarga di Pringgandani.

Dengan bergabungnya Bima di Pringgandani, para putra Pringgandani optimis menatap masa depan negara Pringgandani. Karena pasangan Bima dan Arimbi telah mampu menghidupi kembali watak ksatria yang telah diwariskan oleh para pendahulunya, tat kala membangun dan mendirikan negara Pringgandani. Karena dengan watak berani, bersih, jujur, dan tulus, yang menjadi ciri khas watak seorang ksatria, negara Pringgandani telah menjadi besar. Dan akan semakin besar dan jaya manakala nilai-nilai luhur yang telah diwariskan akan dihidupi dalam menjalankan pemerintahan negara Pringgandani.

Waktu merambat pelan, untuk beberapa waktu Bima tinggal di Pringgandani membantu dan mendampingi Arimbi dalam menata pemerintahan yang telah beberapa waktu komplang tanpa raja. Seiring dengan penataan kerajaan, kandungan Arimbi bertambah semakin besar. Ada secercah kebahagiaan dan harapan yang berkaitan dengan bayi yang dikandung. Tangan Bima dan Arimbi meraba lembut perut Arimbi dengan sebuah permohonan yang bulat dan utuh, jadikanlah anak ini seorang raja ksatria yang membawa kejayaan negara Pringgandani.

Suasana duka masih terasa sejak kepergian Raja besar Pringgandani untuk selamanya. Prabu Arimba telah mempercayakan negara Pringgandani kepada Arimbi. Senyum abadi yang ditinggalkan Prabu Arimba memberi semangat optimisme untuk mewujudkan harapan akan kebesaran dan kejayaan Negara Pringgandani.

herjaka HS

Kidung Malam (76)

Calon Raja yang Cantik
Kala Bendana bergirang hati menyambut kedatangan Arimbi kakaknya
yang sudah menjadi cantik jelita
(karya : herjaka HS)

Calon Raja yang Cantik

Arimbi dan Bima meninggalkan hutan Kamiyaka menuju Negara Pringgandani. Arimbi yang sudah menjelma menjadi seorang putri cantik tinggi perkasa adalah seorang putri raja yang bakal menggantikan Arimba kakaknya menjadi raja di Pringgandani. Maka tidak mengherankan jika Arimbi mempunyai berbagai ilmu tingkat tinggi, salah satunya adalah ilmu meringankan tubuh. Sehingga ia bisa terbang tanpa menggunakan sayap. Demikian juga Bima pasangannya walaupun badannya besar perkasa, ia mempunyai ilmu Angkusprana yang dapat menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin tersebut membuat Bima dapat melompat sangat jauh seperti terbang. Sehingga dua sejoli itu laksana dua burung garuda perkasa terbang membelah langit biru.

Sekejap kemudian mereka telah menginjakan kakinya di Negara Pringgandani. Arimbi mengamati suasana Kraton Pringgandani tempat ia lahir dan dibesarkan. Suasana duka atas meninggalnya Prabu Arimba masih nampak pada pemasangan bendera, umbul-umbul dan rontek. Arimbi merasa berdosa, karena gara-gara dialah Prabu Arimba gugur di tangan Bima. Selagi merenung dalam kesedihan, Prajurit jaga menghentikan langkah Arimbi dan Bima di pintu gerbang utama bagian luar kraton. Arimbi menjelaskan bahwa dia adalah Arimbi raseksi yang sudah menjadi putri berkat pertolongan Kunthi ibu Bima. Oleh karenanya Arimbi minta jalan mau masuk kraton menemui adik-adiknya. Namun penjelasan Arimbi tidak dengan serta merta dipercaya oleh prajurit jaga. Karena menurut aturan bagi orang asing yang ingin memasuki wilayah inti kraton harus tinggal beberapa waktu di bilik panganti untuk diperiksa oleh beberapa petugas yang ada. Namun Arimbi tidak mau melakukannya. Bahkan Arimbi menjadi jengkel atas sikap para perajurit jaga yang sudah tidak mengenalnya lagi dan besikeras menahannya.

Sebagai salah satu pewaris tahta Pringgandani, perlakuan prajurit jaga sungguh menyakitkan. Arimbi dan Bima dipaksa memasuki bilik panganti untuk diperiksa seperti yang diberlakukan bagi orang asing. Kesabaran Arimbi tidak tersisa lagi. Prajurit jaga yang berlaku kasar terhadap dirinya dilumpuhkan dalam sekejap. Melihat rekannya tersungkur tak berdaya prajurit jaga yang lain mengepung Arimbi. Belum sempat mereka bergerak, Arimbi mendahului menyerang mereka. Satu gebrakan sudah cukup bagi Arimbi untuk melumpuhkan beberapa prajurit jaga sekaligus. Melihat beberapa rekannya jatuh tak berdaya panglima jaga memerintahkan untuk menutup pintu gerbang dan salah satu prajurit diperintahkan melapor kepada Brajadenta, salah satu adik Arimbi. Sementara itu Panglima jaga mempersiapkan prajuritnya yang masih tersisa untuk menjadi palang terakhir yang menghalangi Arimbi dan Bima masuk gerbang utama.

Arimbi menoleh kepada Bima, untuk memohon persetujuan kepada kekasihnya bagaimana sebaiknya yang dilakukan untuk menghadapi prajurit jaga yang sudah siaga penuh. Bima menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui Arimbi melakukan kekerasan. Arimbi tersadar bahwa dirinya sudah bukan raseksi lagi. Arimbi adalah seorang dewi yang cantik jelita. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri dan juga malu kepada Bima. Bahkan dibalik itu ada rasa kawatir jika Arimbi berperangai kembali sebagai raseksi Bima akan segera meninggalkannya. Maka segeralah Arimbi menarik kembali amarahnya.

Ketika hatinya menjadi dingin, Arimbi diingatkan akan sebuah ilmu yang menyatukan anak-anak Prabu Tremboko yaitu aji pamomong. Dengan ilmu tersebut diantara anak-anak Tremboko dapat saling berhubungan saling mengingatkan dan saling menjaga walaupun mereka tidak berada dalam satu tempat. Sewaktu hidupnya, Prabu Tremboko menggunakan ajian pamomong untuk menyatukan anak-anaknya, mengetahui keberadaannya dan untuk melindunginya. Oleh karenannya Arimbi segera mengetrapkan aji pamomong untuk mengabarkan keberadaannya kepada adik-adinya. Para prajurit jaga siaga penuh mengira bahwa Arimbi sedang mempersiapkan serangannya. Namun lama ditunggu dalam ketegangan serangan tak kunjung datang. Bahkan dari pintu gerbang munculah adik-adik Arimbi mulai dari Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan yang bungsu adalah Kala Bendana. Mereka berhamburan menyambut Arimbi dengan gembira. Suasana berubah menjadi haru. Para prajurit jaga ikut hanyut dalam keharuan. Walaupun Arimbi sekarang sudah menjelma menjadi seorang dewi yang cantik jelita, mereka masih mengenali Arimbi lewat aji pamomong. Keenam adik-adik Arimbi tak berkedip dalam menatap Arimbi yang cantik. Terbayanglah diangan mereka, seorang raja putri yang cantik menawan yang bakal memerintah Negara Pringgandani untuk masa-masa yang akan datang.

Kedatangan Arimbi mengubah suasana duka menjadi gembira. Adik-adik Arimbi dan rakyat pringgandani yang sebagian besar adalah bangsa raksasa, akan terangkat derajatnya mempunyai pewaris tahta putri cantik bak bidadari kahyangan.

Namun ketika Arimbi mengenalkan Bima sebagai suaminya, Barajadenta dengan tegas menolak. Bima adalah musuh rakyat Pringgandani. Bima adalah pembunuh Prabu Arimba, maka harus dilenyapkan.

Pernyataan Brajadenta dengan cepat merubah suasana haru dan gembira menjadi tegang. Prajurit bersiaga kembali untuk mengamankan negara. Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Barajawikalpa dan Brajalamatan menantang Bima untuk mengadakan perhitungan atas meninggalnya Prabu Arimba. Bima sebelumnya sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. Maka dengan tenang Bima meladeni tantangan adik-adik Arimbi.

Namun sebelum perang terjadi Arimbi mendekati Bima sambil berbisik, “jangan lakukan kekerasan, Kakanda Bima”

herjaka HS

Kidung Malam (75)

Dendam Menjadi Cinta
Hutan Kamiyaka menampakan kelebatannya. (karya: herjaka HS)

Dendam Menjadi Cinta

Malam itu bulan penuh. Bintang bertaburan di langit yang tidak berawan, sehingga sinar bulan tak terhalang mencium bumi. Namun tidak untuk bumi di kawasan hutan Waranawata dan hutan Kamiyaka, karena lebatnya daun dan rapatnya ranting pepohonan, akibatnya sinar bulan mengalami kesulitan untuk menembusnya. Hanya sebagian kecil yang dapat menembus lebatnya hutan dan mencium bumi Kamiyaka. Dari sebagian kecil sinar bulan yang masuk hutan Kamiyaka itupun tidak semuanya mengenai tanah, ada beberapa yang terpaksa menerpa wajah dua sejoli yang sedang merenda cinta. Sementara itu Kidung malam yang timbul dari suara aneka macam binatang hutan dan aneka warna serangga membuat malam itu semakin syahdu.

Arimbi sangat bahagia bisa bersanding dan bersatu dengan Bima pujaan hatinya. Ia tidak meyangka sebelumnya bahwa Bima yang tinggi besar perkasa, kekar kaku, berotot, ternyata adalah sosok lelaki yang sangat lembut dan romantis. Saat-saat yang indah tersebut benar-benar ingin dinikmati sepenuh hati oleh Bima dan terutama Arimbi. Kehadiran pohon-pohon raksasa di hutan Kamiyaka ibaratnya payung agung yang memberi rasa aman dan keagungan bagi pasangan Bima Arimbi yang telah dipersatukan dalam cinta yang mendamaikan.

Rasa damai di hati Arimbii diawali ketika pertama kali ia melihat Bima. Niatnya untuk membinasakan Kunthi dan Pandawa urung karena Bima telah lebih dahulu menghujamkan panah asmara ke hati Arimbi. Akibatnya Arimbi jatuh tidak berdaya. Ia bertekuk lutut di kaki Bima.

Rasa damai dengan keturunan Pandu yang ada di dalam hati Arimbi telah ditawarkan kepada kakaknya Arimba, namun dengan tegas Arimba menolak tawaran damai tersebut. Dan oleh karena penolakannya, Arimba gugur di tangan Bima.

Sesaat sebelum gugur, Arimba memasrahkan negara Pringgandani kepada Arimbi adik yang paling tua. Arimbi berjanji dalam hati, bahwa sebelum ia menggantikan Prabu Arimba menjadi raja di Pringgandani, ia akan mencoba menawarkan kedamaian kepada adik-adiknya di Pringgandani dengan keturunan Pandu.

“Kakanda Bima alangkah indahnya hutan ini ketika tidak ada permusuhan di dalam hati. Alangkah bahagianya setiap orang yang mampu menggubah permusuhan menjadi perdamaian, seperti yang kita alami, benarkah kakanda Bima?” kata Arimbi kepada Bima dengan nada manja.

“Iya benar Arimbi. Tetapi kalau ditanya caranya bagaimana?”

“Caranya merubah permusuhan menjadi perdamaian?” tanya Arimbi menandaskan.

“iya” jawab Bima mantap.

Arimbi tidak dapat menjawab. Karena ia sendiri tidak pernah mempunyai rencana untuk merubah permusuhan dengan keturunan Pandu menjadi perdamaian. Pencariannya Arimbi atas keturunan Pandu adalah untuk melampiaskan sebuah dendam kepada pembunuh orang tuanya. Namun ketika bertemu dengan yang di cari, tiba-tiba hatinya dirubah. Ada kuasa besar yang menggunakan Bima dan Kunthi untuk merubah hati Arimbi yang dendam menjadi cinta, bahkan cinta yang tulus.

“Saya tidak tahu Kakanda bagaimana caranya merubah dendam menjadi cinta. Tetapi saya merasakan bahwa yang merubah dendam menjadi cinta adalah…, adalah Kakanda Bima,” jawab Arimbi sembari memeluk manja. Bima menyambut hangat pelukan Arimbi sembari mengelus-elus kepala Arimbi dengan penuh sayang.

Setelah beberapa saat keduanya bermesraan, Arimbi melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Bima “Kalau yang merubah sikap permusuhan Kakanda Bima menjadi cinta kepadaku siapa Kakanda?”desak Arimbi. Walaupun sebetulnya sudah tahu jawabannya, Arimbi ingin mendengar jawaban itu keluar dari mulut Bima yang berkumis lebat.

Namun Bima tidak menjawab. Sebagai gantinya ia memeluk Arimbi dan menciumi pipinya yang ranum dengan penuh kegemasan. Arimbi tertawa kecil penuh suka-cita.

Keduanya bercengkerama di hutan yang lebat hingga malam, tidak ada yang mengganggunya. Satu dua kelelawar yang sering terbang rendah seakan-akan memberi selamat bagi pasangan yang berbahagia.

Pada kesempatan yang sangat baik itu tepatlah kiranya bagi Arimbi untuk mengeluarkan isi hatinya kepada Bima

“Kakanda Bima, sebelum usia kandungan anak kita ini semakin besar, dengan sangat aku memohon agar sudilah kira Kakanda menghantar aku ke Pringgandani, dengan tujuan untuk menawarkan perdamaian seperti yang telah aku lakukan kepada adik-adikku yaitu Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan Kala Bendana, dengan keturunan Pandu,. Selain itu aku juga ingin menata negara yang beberapa bulan ini komplang tidak mempunyai raja, karena gugurnya kakak Arimba. Bima menyanggupi permintaan Arimbi. Maka kebahagiaan Arimbi menjadi penuh.

Malam merambat pagi, Bima dan Arimbi sepakat untuk mengakhiri cengkerama malam itu. Keduanya menuju keperaduan. Sebentar kemudian mereka tidur pulas dalam kedamaian.

Beberapa hari kemudian Bima dan Arimbi memohon pamit kepada Kunthi dan saudara-saudaranya untuk mengantar pulang Arimbi di Pringgandani, dan beberapa waktu tinggal di Pringgandani. Kunthi memberi restu dan juga Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menghantar Bima dan Arimbi sampai di mulut hutan Kamiyaka.

Sepeninggalnya Bima, Harjuna dipasrahi tanggunggjawab untuk menjaga keselamatan Kunthi, Puntadewa dan si kembar Nakula, Sadewa.

Herjaka HS

Kidung Malam 74


Kesaktian Bima salah satunya diperoleh ketika berguru kepada Pandita Durna di Sokalima
(karya: herjaka HS)

Bima dan Arimbi

Bima menundukkan kepalanya untuk menatap Arimbi yang bersimpuh menyembah dan memeluk kaki Bima. Raseksi Arimbi yang sudah menjelma menjadi seorang wanita nan cantik menawan mampu membuat Bima terpana. Jika menuruti nalurinya sebagai lelaki, Bima ingin membungkuk, memegang ke dua pundak Arimbi untuk diangkatnya dan kemudian dipeluknya erat-erat, agar payudaranya menghangatkan dadanya. Jika hal itu yang dilakukan, dapat dipastikan bahwa Arimbi bakal menyambut hangat pelukan Bima. Dikarenakan Arimbilah yang pada awal mula jatuh cinta kepada Bima.

Namun gejolak keinginan Bima tidak dengan serta merta dituruti. Sebagai seorang kesatria Bima berusaha untuk menjaga citranya. Maka dibiarkannya tangan Arimbi memeluk kakinya. Tidak seperti sebelumnya ketika masih berujud rakseksi, Bima merasa jijik dan selalu menghindari Arimbi.

Kunthi, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memandangi keduanya dengan perasaan senang. Dalam hati mereka sepakat bahwa pasangan Bimasena dan Arimbi merupakan pasangan yang serasi. Mereka juga bersyukur karena Bimasena tidak lagi membenci Arimbi yang telah banyak membatu Kunthi dan para Pandawa.

Arimbi merasa lega karena sembahnya diterima Bima. Titik terang mulai memancarkan harapan bahwa cinta Arimbi bakal diterima Bima. Ketika harapan mulai terbuka, Arimbi memberanikan diri untuk maju selangkah lagi dengan melakukan ngaras pada yaitu mencium kaki Bima. Ketika bibir Arimbi menyentuh kaki Bima, seluruh tubuh Bima bergetar, terutama detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Untuk menormalkan kembali detak jauntungnya, Bima memegang kedua pundak Arimbi, untuk di tarik ke atas, agar bibir yang basah bak delima merekah tidak lagi menempel dikaki Bima. Arimbi menuruti pundaknya diangkat Bima untuk berdiri berhadapan dengan Bima. Ke dua pasang mata saling menatap. Entah apa yang terbaca di palung hati mereka yang terdalam.

Hari-hari selanjutnya, Arimbi mengikuti penggembaraan Kunthi dan Pandawa di hutan Waranawata. Hubungan Arimbi dan Bima semakin intim. Kunthi mencoba membaca perasaan anak-anaknya selain Bima, terutama Puntadewa, apakah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya melihat semakin dekatnya hubungan Bima dan Arimbi.

Untuk memastikannya Kunthi menemui Puntadewa secara khusus.

“Puntadewa anakku, seperti yang kita lihat bersama bahwa pertemuannya Bima dan Arimbi bukan aku yang merencana. Demikian kedekatan mereka yang semakin dekat bukan pula karena aku.”

“Aku paham Ibunda Kunthi, bahwa semuanya itu telah diatur oleh Sang Hyang Widiwasa”

“Jika demikian tentunya engkau sebagai saudara sulung rela dan ikhlas seandainya adikmu Bima akan mempunyai dua isteri.”

“Sungguh Ibunda Kunthi aku rela dan ikhlas.”

Kunthi lega mendengar pernyataan Puntadewa, walaupun dibalik kelegaan ada rasa kasihan terhadap Puntadewa.

Hari berikutnya seluruh anggota keluarga termasuk Arimbi dikumpulkan oleh Kunthi. Hal tersebut dilakukan demi membicarakan hubungan Bima dan Arimbi. Pada kesempatan tersebut Kunthi menghendaki agar hubungan antara Bima dan Arimbi diresmikan menjadi suami isteri. Mengingat bahwa diantara keduanya telah terjalin benang asmara yang sedang bertumbuh, saling mengikat dan saling membutuhkan, sehingga jika dipisahkan akan melukai keduanya.

Semua saudara Bima menyetujui kehendak ibu Kunthi. Maka segera setelah memilih hari yang baik bagi pasangan Bima dan Arimbi, mereka diresmikan sebagai suami isteri dengan selamatan yang sederhana.

Perkawinan Bima dengan Arimbi yang adalah bangsa raksasa menyusul perkawian Bima dengan Nagagini yang adalah bangsa ular merupakan wujud bahwa Pandawa Lima bisa manjing ajur ajer, luluh menjadi satu dengan semua golongan manusia. Bima kesatria yang gagah perkasa patuh, sederhana, berani, sakti, dan jujur memang pantas menjadi idaman banyak wanita. Oleh karena kejujuran dan kesederhanaannya Bima tak pernah berpikir yang macam-macam, tak pernah menolak dengan apa yang memang sudah menjadi tugasnya dan kewajibannya.. Hidup ini dijalaninya dengan apa adanya, mung saderma nglakoni hanya sebatas menjalani saja, karena sudah ada yang mengatur. Bagaikan air, Bima mengalir begitu saja sesuai dengan kehendakNya. Oleh karenanya ketika dipertemukan dengan Arimbi yang cantik Bima tak kuasa menolaknya.

Dengan pemahaman tersebut Bima tidak merasa bersikap kurang ajar terhadap Puntadewa kakaknya yang telah dua kali dilangkahi. Bima juga tidak merasa mengkianati Nagagini pada saat ia bercengkerama dengan Arimbi.

Sedangkan dipihak Arimbi Bima adalah segalanya. Hidup bersanding dengan Bima ibarat kejatuhan bulan di saat purnama, mendapat keberuntungan penuh. Oleh karenanya Arimbi tega mengorbankan Arimba Kakaknya demi cintanya kepada Bima.

Namun walaupun Arimbi telah bahagia bersanding dengan pujaan hati, hatinya sedih juga saat mengingat gugurnya Arimba yang sangat menyayangi dirinya. Sesungguhnya Arimbi tidak rela kalau dianggap membunuh kakanya melalui kekasihnya. Yang dilakukan adalah membela yang lemah tak berdaya. Jika akhirnya yang terjadi adalah kematian Kakaknya, itu sungguh diluar perhitungannya. Arimbi tahu bahwa jika Prabu Arimba ditusuk pusarnya ia akan lemas untuk sementara sehingga Bima dapat melepaskan cengkeramannya. Namun ia tidak tahu bahwa pada saat Arimbi berteriak “tusuk pusarnya” tepat pada saat bedug tengange, saat mata hari berada persis dipuncak ketinggian. Saat itulah kulit Arimba menjadi lunak seperti gethuk dan dengan mudah dikoyak dengan benda tajam. Dengan pembenaran tersebut Arimbi memperoleh keringanan beban hatinya.

Beberapa bulan berlalu, Bima dan Arimbi menjalani masa bualan madu.

“Kakanda Bima aku sunguh bahagia karena benih dari buah cinta kita berdua telah tumbuh di rahimku. Aku mendambakan anak laki-laki, agar nantinya dapat mewarisi Negara Pringgondani. Apakah Kanda Bima setuju?” tanya Arimbi manja. Bima menganguk-angguk sembari membetulkan posisi duduknya, agar Arimbi tidak jatuh dari pangkuannya. Angin hutan meniup perlahan mengusap sekujur tubuh mereka yang berpasihan.

herjaka HS

Kidung Malam 73


Arimbi yang sudah berubah berparas cantik menghaturkan sembah kepada Bima
(karya herjaka HS)

Arimba Gugur

Perang tanding antara Prabu Arimba dan Bimasena tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan perang tanding sebelumnya. Ketika Prabu Arimba mulai mengetrapkan ajian andalanya yang dapat menyedot tenaga lawan, maka kekuatan Bimasena susut dengan cepat. Tidak hanya itu, selain dapat menyedot tenaga lawan, ajian andalan Prabu Arimba menjadikan kulitnya alot seperti janget, tidak luka oleh segala macam senjata tajam, termasuk juga kuku Pancanaka.

Bima menyadari bahwa lawannya mulai mengetrapkan ajian andalannya, yang dapat mencuri tenaga lawan dengan tidak diketahui dan dirasakan oleh lawannya. Dua kali Bima menjadi korban ajian tersebut, sehingga ia kehabisan tenaga di peperangan. Untunglah, pada saat itu Arimba tidak mengabiskan Bima pada saat Bima tak berdaya. Namun untuk perang tanding yang ke tiga ini, jauh berbeda dengan perang tanding sebelumnya. Prabu Arimba tidak lagi menampakkan sifat kesatrianya, tetapi menonjolkan naluri raksasa yang ganas. Sepak terjangnya tidak lagi tenang dan mantap, tetapi kasar dan nagwur. Maka jika kali ini Bima sampai kehabisan tenaga di peperangan, pastilah Arimba akan melumatkannya. Bima tidak mau jatuh di peperangan melawan Arimba untuk ke tiga kalinya. Oleh karenanya Bima telah mempelajari bagaimana cara menghadapi ilmu andalan Prabu Arimba, yaitu dengan mengurangi sentuhan langsung dengan badan Arimba. Terlebih pada saat mengeluarkan tenaga besar, karena tenaga yang akan tersedot juga besar.

Selain mengurangi benturan langsung, Bima mengetrapkan ajian Angkusprana, angkus artinya kait dan prana artinya nafas atau angin. Dengan mengetrapkan aji angkusprana, Bima dapat mengkait dan menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin yang dihimpun menjadi satu, membuat tenaga Bima mampu bertahan dan mengimbangi aji andalan Arimba. Sehingga perang tanding semakin panjang dan rame. Namun satu hal yang menggelisahkan Bima, bahwa Prabu Arimba tidak dapat luka oleh kuku pusaka Bimasena.

Menjelang tengah hari, Prabu Arimba meningkatkan serangannya dan sangat berambisi untuk segera menghabisi Bima. Bima kesulitan membendung serangannya dan mulai terdesak. Hantaman, tendangan dan gigitan acap kali menghampiri tubuh Bima. Hingga pada akhirnya Prabu Arimba berhasil menguasai Bimasena. Pada saat Bima akan dihabisi, tepat matahari bertahta pada puncaknya, Arimbi berteriak nyaring

“Bima! Tusuk pusarnya!!”

Keduanya sama-sama terkejut. Arimba memandang adiknya dengan ekspresi kemarahan. Jahanam Arimbi! engkau bocorkan titik kelemahanku. Sehabis hatinya mengumpat adiknya, Arimba memandang ke langit, kearah matahari yang persis berada di atas kepalanya. Pada saat itulah, Bima yang berada dalam cengkeramannya memanfaatkan kesempatan. Kuku ditangan Bima modot, muncul keluar dan segeralah ditusukkan di pusar Arimba. Raja raksasa sebesar anak gunung menggerang keras.. Bima kemudian menarik kukunya dan menjauhi lawannya.

Pusar Arimba menganga karena luka. Ia berjalan sempoyongan mendekati Arimbi adiknya. Bumi bergetar-getar karena langkahnya yang berat. Arimbi sangat kecemasan. Ia menanti dan pasrah apa yang akan dilakukan kakaknya, untuk menebus kesalahannya. Kunthi juga mencemaskan keselamatan Arimbi dan memberi isyarat kepada Arjuna untuk waspada. Semua mata tertuju kepada Arimba yang semakin gontai mendekati Arimbi.

Ketika tepat berada di depan Arimbi, raja Raksasa yang tinggi besar tersebut jatuh bertumpu pada dua tangan dan lututnya. Dugaan mereka yang mengamati peristiwa itu meleset. Prabu Arimba tidak menumpahkan kemarahannya kepada Arimbi. Dengan nada berat dan patah-patah ia berpesan kepada Arimbi, untuk menitipkan Negara Pringgandani dan merestui hubungannya dengan Bima yang sakti perkasa dan kesatria.

Tangis Arimbi memecah hutan Waranawata, mengiring gugurnya Kakanda Prabu Arimba, pengganti orang tuanya yang ia hormati dan cintai. Arimbi sangat bersedih, dirinya merasa berdosa, atas kepergian Kakanda Arimba ke alam keabadian

Siang hari itu, di saat matahari sedikit bergeser dari puncaknya, para pengawal Pringgandani membawa pulang rajanya yang sudah tidak bernyawa. Mereka tidak berani mengganggu Arimbi yang telah diwarisi kekuasaan Negara Pringgandani secara lesan oleh Prabu Arimba.

Sepeninggalnya para pengawal Pringgandani, Kunthi mendekati Arimbi, yang telah menyelamatkan nyawa Bimasena dan saudara-saudaranya. Sebagai tanda terimakasihnya, Kunthi membisikan mantra sakti ditelinganya. Dengan sepenuh hati Arimbi mendengarkan dan mngucapkan apa yang dibisikan Kunthi.

Sebentar kemudian keajaiban terjadi, Arimbi si raseksi perempuan berubah menjadi putri cantik, berkulit kuning langsat dengan postur tubuh yang tinggi besar. Naluri lelaki Bima terpana, ia mendekati Arimbi dan Arimbi pun segera menghaturkan sembah.

Semua mata memandang keduanya, dalam hati mereka berkata sungguh mereka adalah pasangan yang pantas dan ideal.

herjaka HS

Kidung Malam 72


Kunthi merasakan kesedihannya (karya: Herjaka HS)

Kesedihan Kunthi

Mendengar permohonan maaf Kunthi atas kesalahan Pandudewata, Puntadewa dan adik-adiknya menjadi semakin sedih. Sedih bukan karena tidak mau memberi maaf ayahnya yang sudah meninggal, atau sedih bukan pula karena ditinggal Pandu untuk selamanya, namun sedih karena melihat Ibunda Kunthi bersedih.

“Ibunda Kunthi, janganlah Ibunda bersedih karena kesalahan Ramanda Prabu Pandu sewaktu hidupnya. Jika pun aku dan adik-adikku harus ikut menanggung akibat buruk dari perbuatan Ramanda, kami akan menjalaninya dengan ketulusan hati. Bahkan kami berlima mau melakukan apa saja yang diperlukan demi untuk permohonan ampun atas kesalahannya, sehingga Ramanda segera mendapatkan surga mulia.”

Bagai diiris sembilu hati Kunthi mendengar pernyataan Puntadewa. Walaupun ada kebanggaan besar atas sifat mulia yang dimiliki anak-anaknya, kesedihan Kunthi semakin mendalam. Dalam kesendiriannya, Kunthi merasa tak berdaya untuk membahagiakan anak-anaknya. Ketika beberapa kali anak-anaknya mendapat sasaran aniaya, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Malam menjadi semakin larut. Hutan Waranawata gelap pekat tanpa hadirnya bulan. Beberapa lampu minyak yang dipasang di rumah darurat dari kayu, menari-nari dihembus angin malam. Kunthi dan ke lima anaknya merebahkan diri dalam tidur.

Diwaktu yang sama Arimbi menemui kakaknya Prabu Arimba di kemah pinggir hutan.

“Kakanda Prabu, tidak lebih baikkah jika Kakanda berdamai dengan Bimasena.?” Prabu Arimba tidak segera menjawab. Hatinya sesak dan marah terhadap pertanyaan Arimbi. Bukankah adiknya tahu bahwa ketika upacara wisuda raja, aku bersumpah dihadapan rakyat Pringgandani, bahwa aku akan menagih hutang nyawa kepada Pandudewanata.

“Aku masih ingat, pada waktu penobatan raja, Kakanda berjanji akan mengadakan perhitungan hanya dengan Pandudewanata, tidak kepada anak-anaknya. Bimasena adalah anaknya. ia tidak berdosa, berdamailah dengannya Kakanda”

Benar juga kata Arimbi. Bima tidak bersalah, ayahnya yang bersalah. Tetapi ayahnya sudah meninggal. Tidak mungkin mengadakan perhitungan dengan orang yang sudah mati. Yang mungkin dilakukan adalah mengadakan perhitungan dengan yang masih hidup. Dan wajarlah jika kesalahan dan dosa orang tuanya ditimpakan kepada anaknya. Seperti halnya kepopuleran, kehormatan dan nama baik orang tua, anaknyalah yang ikut merasakan keuntungannya.

“Arimbi aku sudah bersumpah akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Dengan darahnya yang masih mengalir di dalam pribadi anak-anaknya. jika engkau lebih menyayangi Bimasena, berpihaklah kepadanya dan lawanlah aku.”

Arimbi menangis. Ia tidak dapat memilih diantara ke duanya. Ia menghormati dan mencintai Arimba sebagai pengganti orang tuanya. Tetapi ia jatuh cinta kepada Bimasena.

Arimba habis kesabarannya. Adik yang sesungguhnya ia cintai tersebut diusir dari hadapannya. Dengan terisak Arimbi meninggalkan Arimba. Arimba menatap kepergian Arimbi dengan dingin. Hingga gelap malam menelan bayangnya.

Tatkala pagi tiba, Arimbi sudah berada di halaman rumah kayu tempat Kunthi dan ke lima anaknya tinggal. Bima menampakan wajah gelap. Tidak senang atas kehadiran Arimbi. Maka kemudian Arimbi diusirnya. Kunthi merasa kasihan kepada Arimbi.

“Sena anakku, jangan memperlakukan sesamamu tidak dengan hormat dan merendahkan martabatnya. Kalau pun engkau tidak senang jangan begitu caranya.”

“Ibunda, sejak awal aku sudah mengatakan tidak senang, tetapi ia selalu membuatku risih dan jijik.”

Memang akhirnya Kunthi dapat ikut merasakan apa yang dirasakan Bima, maka disarankannya agar Arimbi untuk sementara menjauhi tempat itu.

Matahari belum begitu tinggi.Prabu Arimba bergegas mendatangi Bimasena untuk segera membinasakan.anak-anak Pandu. Gara-gara Arimbi, perang tak kunjung usai. Maka kali ini naluri raksasanya lebih diberi tempat jika dibandingkan dengan sifat kesatrianya. Dengan keganasannya ia ingin secepatnya membinasakan semua keturunan Pandu sebelum matahari sepenggalah.

Bima cukup terkejut dan belum siap mendapat serangan mendadak dari Prabu Arimba. Beruntung ia masih sempat menghindar kesamping dan menusukkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Arimba. Namun dada tersebut sangat ulet, tidak mampu ditembus Kuku Pancanaka. Arimba tak mau melepaskan lawannya, segera ia menyusul dengan serangan berikutnya

Perang dahsyatpun terjadi lagi. Mereka saling serang dan masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Kunthi, Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa, termasuk juga Arimbi cemas dibuatnya. Sedangkan para pengawal Pringgandani. tenang-tenang saja. Bahkan sesekali diantara mereka melempar senyum ejekan kepada kubu Bimasena.

Arimba mulai mengetrapkan ajian andalannya, maka setahap demi setahap tenaga Bima tersedot. Semakin banyak tenaga yang dikeluarkan semakin banyak pula tenaga yang tersedot.

Herjaka HS

Kidung Malam 71


Kunthi menghetikan pikirannya yang mengembara dari peristiwa
yang satu ke peristiwa.yang lain. (karya Herjaka HS)

Derita Tidak Berhenti

Setelah bertemu dengan Harjuna, Bima kembali berkumpul dengan Ibu dan saudara-saudaranya. Di hadapan mereka, Bima bercerita peri hal pertemuannya dan pertempurannya dengan Arimba kakak dari Arimbi, anak Prabu Tremboko. Prabu Arimba raja Negara Pringgandani yang sakti tersebut ingin menumpas anak-anak Pandudewanata, sebagai balas dendam atas meninggalnya Prabu Tremboko.

Mendengarkan cerita Bima si kembar Nakula dan Sadewa menampakan ekspresi ketakutan. Kunthi prihatin bahwa kepergian Pandudewanata suaminya ke alam baka, masih meninggalkan dendam. Dendam itu ditanam pada waktu terjadi perang besar yang bernama perang Pamukswa. Dendam tersebut kini diwarisi oleh Prabu Arimba, dan akan ditumpahkan kepada keturunan Pandu sang pembunuh Prabu Tremboko. Kelima anaknya yang tidak tahu-menahu atas perbuatan orangtua sebelumnya, menjadi sasaran dendam.

Kunthi teringat masa lalu, disaat perang besar Pamukswa terjadi. Ada satu hal yang sampai sekarang masih diselubung misteri, yaitu surat penantang Perang yang dilayangkan Prabu Pandudewanata kepada Prabu Tremboko. Menurut pengakuan Prabu Pandu, ia tidak pernah menulis surat penantang perang. Hubungan keduanya pada waktu itu cukup baik. tidak ada masalah yang berarti. Sehingga cukup mengherankan jika gara-gara surat tantangan perang yang belum jelas asal-usulnya, kedua negara sahabat itu saling menghancurkan dan saling membinasakan. Ada kuasa gelap yang merasuki raja Hastinapura dan Raja Pringgandani, sehingga pecah perang besar yang dicatat sebagai tragedi kemanusiaan dan disebut perang Pamukswa.

Kunthi mencoba menghubungkan antara kejadian yang satu dengan kejadian yang lainnya. Mulai kabar resmi dari perajurit sandi yang menyatakan bahwa Negara Hastinapura akan diserang oleh Negara Pringgandani. Kemudiaan ada wacana dari para petinggi raja Hastina, bahwa dari pada menunggu diserang, lebih baik menyerang lebih dahulu.

Patih Gandamana diperintahkan untuk mengatur barisan dan memimpin penyerangan ke Pringgandani. Sementara itu Negara Pringgandani juga telah menyiapkan perajuritnya untuk menyerang Negara Hastina. Maka kemudian Perang besar pun tak dapat dihindarkan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Didalam perang bubruh yang kacau itu tersebar kabar bahwa Patih Gandamana berhasil diringkus dan menjadi tawanan. Pandu terbakar kemarahannyanya. Ia mengerahkah semua kekuatan Ngastinapura dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Pringgandani, dan membebaskan Patih Gandamana

Pringgandani berhasil dbedah, Prabu Tremboko Gugur di tangan Pandu, namun Patih Gandamana tidak ditemukannya. Ia hilang bagai ditelan bumi Perajurit sandi telah disebar, tetapi tidak ada yang mendapatkan jejak Patih Gandamana, baik hidup ataupun mati.

Pandudewanata sangat berduka kehilangan Patih Gandamana yang sangat disayangi. Ketidak beradaan Patih, apalagi Patih seperti Gandamana yang sakti, negara Ngastina berkurang kekuatannya. Pandu tidak menginginkan jabatan patih kosong terlalu lama. Mengingat masih dalam suasana perang, kekosongan jabatan yang strategis sangat beresiko. Maka diangkatlah Trigantalpati sebagai Patih menggantikan Patih Gandamana.

Pengangkatan Trigantalpati cukup mengherankan banyak pihak, mengapa Prabu Pandudewanata memilih Trigantalpati? Kunthi tahu bahwa Kakanda Pandu sangat mencintai dan mengormati kakak sulungnya yang bernama Destarastra. Maka ketika Destarastra mengusulkan Trigantalpati, adik iparnya menduduki jabatan patih, Prabu Pandudewanata tak kuasa menolaknya.

Kunthi menghetikan pikirannya yang mengembara dari peristiwa yang satu ke peristiwa.yang lain dimasa lalu. Nama Trigantalpati yang kemudian menjadi popular dengan julukan Patih Sengkuni, ternyata telah benyak membuat anak-anaknya sengsara.

Kakanda Prabu Pandu, aku tidak sampai hati melihat anak-anak sengsara. Namun aku juga lebih tidak sampai hati jika aku meninggalkan mereka untuk menyusulmu di alam keabadian. Dosa siapakah ini Kakanda Prabu?. Jika Patih Sengkuni yang diangkat kakanda ternyata telah berulang kali menyengsarakan anak-anak kita. Ditambah lagi saat ini, anak Prabu Tremboko yang telah Kakanda bunuh, sekarang menuntut balas. Besok bersamaan dengan merekahnya fajar Ia yang bernama Arimba akan membinasakan Bima dan saudaranya.

Ibunda Kunthi sangat prihatin, hatinya berduka, melihat anak-anaknya belum bahagia. Ia tidak mengingkari bahwa Pandu suaminya yang dulu menjadi raja besar di Hastinapura, tidak meninggalkan tahta dan kekayaan Hastinapura kepada anak-anaknya, melainkan meninggalkan dua hal buruk yang berdampak kepada anak-anaknya. hal buruk yang nomor satu adalah pengangkatan Patih Sengkuni dan hal buruk yang lainnya adalah membunuh Prabu Tremboko. Kedua hal buruk itulah yang menjadi batu sandungan, bahkan menjadi sumber penderitaan bagi anak-anak Pandudewanata.

Anak-anakku maafkan Prabu Pandudewanata yang telah menimpakan beban kesalahan kepada kalian. Hanya satu kalimat pendek yang meluncur dari bibir Ibunda Kunthi yang kering dan pecah. Tidak ada tanggapan atas kata-kata itu. Semuanya diam dan beku.

Kidungan binatang malam justru semakin jelas terdengar, memecah gelapnya malam. Bersautan tak putus-putusnya, seperti derita yang dialami anak-anak Pandudewanata.

Herjaka HS

Kidung Malam 70


Perang tanding babak ke dua antara Arimba dan Bima berlangsung lebih sengit
(karya: Herjaka HS)

Perang Babak Dua

Berkat pertolongan Arimbi tubuh Bima yang lunglai karena tersedot oleh limu Arimba telah pulih kembali. Ia bangun dan menghampiri Arimba. Kini keduanya siap melanjutkan perang tanding. Sebentar kemudian perang tanding babak kedua terjadi. Lagi-lagi tenaga Bima cepat menyusut, sedangkan tenaga Arimba malah semakin bertambah.

Arimbi dapat memahami apa yang dilakukan Arimba kakanya, bahwa untuk menghadapi lawan setangguh Bima tiada pilihan lain kecuali mengeluarkan ilmu andalan Pringgandani yang khusus diwariskan kepada pemegang tahta. Ilmu andalan tersebut mempunyai daya sedot tenaga lawan. Proses penyedotan berlangsung pada saat terjadi benturan badan. Maka semakin sering dan semakin cepat badan beradu, akan semakin cepat pula tenaga tersedot.

Demikian yang terjadi pada diri Bima, tenaganya cepat menyusut tanpa diketahui penyebabnya. Hanya beberapa saat setelah perang tanding babak ke dua berlangsung, Bima sudah kehabisan tenaga. Ia tak mampu lagi melanjutkan perang tanding. Ia heran dengan apa yang terjadi pada dirinya. Semakin ia bernafsu melumpuhkan lawannya, semakin cepat tenaganya hilang.

Kesedihan menggumpal di hati Bima. Sedhih bukan karena ia takut kalah dan takut mati, melainkan ia meratapi mengapa dirinya tidak mampu berbuat banyak.

Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mencoba berteriak memberi khabar kepada Ibu dan saudara-saudaranya, untuk pamit mati. Namun dikarenakan tenaganya sangat lemah, tidak ada teriakan, yang ada adalah rintihan kekalahan yang hampir tak terdengar.

“Ibu Kunthi aku kalah. Aku pamit mati. Anakmu tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kunthi Ibuku aku mohon ampun, Punta kakakku dan adik-adikku maafkan aku.”

Matahari di ujung kulon semakin redup sinarnya. Sebentar lagi ia akan masuk keperaduan. Seakan-akan ia sengaja meninggalkan Bimasena karena tak sampai hati melihat orang terkuat di Pandhawa itu jatuh dalam ketidak berdayaan.

Sementara itu, Arimba yang melihat Bima tidak berdaya, hanya tertawa ringan. Ia tidak melakukan tindakan apapun juga terhadap lawannya yang sudah tidak berdaya. Arimba masih mencoba menghidupi jiwa kesatrianya, seperti yang diteladankan ayahnya Prabu Tremboko. Ia meninggalkan musuhnya dalam ketidak berdayaan, untuk memberi kesempatan memulihkan tenaganya.

Malam merambat pelan, sayup-sayup terdengar kidung pilu ditengah gulitanya hutan. Kunthi Puntadewa, Arjuna dan si kembar Nakula Sadewa berada dalam kecemasan. Mereka menanti Bima yang tak kunjung datang. Arjuna diutus menerobos lebatnya pepohonan dalam malam yang pekat, untuk menemukan Bima.

Pada waktu yang bersamaan dengan usaha Arjuna mencari Bima. Arimbi mendekati Bima dengan hati-hati. Disadarinya bahwa Bima tidak menyukai dirinya, membenci raut mukanya yang berparas raseksi. Namun Arimbi tahu bahwa Bima tak kuasa mengusirnya atau bahkan meninggalkan dirinya. Seperti ketika dikipasi dengan daun jati, Bima hanya pasrah.

Setelah berada disamping Bima, Arimbi melakukan hal yang sama, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, yaitu mengipasi wajah Bima. Karena dengan cara demikian tenaga Bima cepat pulih. Walaupun Arimbi heran, mengapa semudah dan secepat itu tenaga Bima pulih, ia tidak menemukan jawabannya.

Tidak seorangpun tahu kecuali Bima, bahwa pada saat Arimbi meniupkan anginnya ke wajah Bima melalui kipas, Dewa Bayu, datang bersamaan semilirnya angin malam, mengusap tubuh Bima sehingga menjadi kuat dan segar.

Bima segera meloncat berdiri dan siap untuk bertempur. Namun hari telah gelap, dan Arimba musuhnya tidak ada di depannya, yang ada hanyalah Arimbi si raseksi yang ia benci. Segeralah Bima meninggalkan tempat itu untuk menghindari Arimbi yang menjijikan.

Bima ingin menemui Kunthi dan saudara-saudaranya, sembari menunggu mentari pagi untuk meneruskan perang tanding melawan Arimba. Disepanjang langkahnya, Bima mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi pada saat berperang tanding melawan Arimba? Ia heran mengapa tenaganya cepat menjadi susut? Namun Bima tidak menemukan jawabannya.

Belum jauh Bima meninggalkan Arimbi yang diam tak bergerak, bertemulah ia dengan Arjuna adiknya, keduanya berlangkulan lega. Untuk kemudian bersama-sama menuju ke tempat Ibu Kunthi dan saudara-saudaranya berada.

herjaka HS

Kidung Malam 69


Arimbi mengipasi Bimasena yang lemas kehabisan tenaga (karya Herjaka HS)

Arimba dan Bima

Perang tanding yang dahsyat antara Bimasena dan Prabu Arimba berlangsung dipinggiran hutan Waranawata, disaksikan oleh Arimbi dan para perajurit pengawal dari Pringgandani. Dalam perang tersebut Prabu Arimba dan Bimasena saling mengeluarkan kesaktiannya. Daya kesaktian diantara keduanya sampai menimbulkan debu tanah yang bergulung-gulung, laksana awan mendung. Beberapa kali terjadi suara ledakan keras, menggoncang beberapa ranting pohonan yang berada disekitarnya. Akibatnya merontokan sebagian daun dan ranting pohon di hutan tersebut.

Melihat pertempuran yang kian sengit, Arimbi semakin cemas. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Ia kawatirkan jika salah satu diantaranya cidera atau bahkan mati. Oleh karenanya tak henti-hentinya ia berteriak, memohon agar peperangan dihentikan. Namun teriakan-teriakan Arimbi tak ada yang menghiraukannya. Perang tanding terus berlangsung. Bahkan semakin dahsyat.

Mereka yang menyaksikan terpaksa menjauhi arena perang tanding. Kecuali Arimbi yang tidak mau beranjak dari tempat semula. Ia begitu dekat dengan mereka yang berperang. Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Ia lebih mencemaskan yang sedang berperang tanding. Baik itu Arimba maupun Bimasena.

Setelah peperangan berjalan beberapa lama, tiba-tiba Bimasena terlempar keluar arena, dibarengi suara tawa yang menggelegar-glegar. Arimbi segera mendekatinya, ditangisinya tubuh Bimasena yang tergeletak lemas di tanah. Ia tahu bahwa tenaga Bima telah tersedot habis oleh ilmu andalan yang dimiliki kakaknya.

Arimbi tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap Bima untuk memulihkan tenaganya. Namun ia tidak tega membiarkannya tubuh Bimasena tergeletak sendirian. Dikipasinya Bimasena yang pucat pasi tak sadarkan diri.

Arimba memandangi adiknya, yang sedang menunggui musuhnya dengan setia. Ada rasa iba dihatinya. Adiknya memang benar benar jatuh cinta kepada Bimasena. Disadarinya bahwa, ada kuasa dari atas yang menghendaki benih cinta itu bersemi di hati adiknya, dengan tanpa dapat ditolaknya.

Diakui pula bahwa Bimasena bukan orang sembarangan. Tubuhnya yang tinggi perkasa menjadi ideal jika berpasangan dengan raseksi Arimbi. Demikian pula wajahnya dan kesaktiannya, pantaslah jika adiknya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun sayang, bagi Arimba pesona Bimasena tidaklah mampu menutup luka batin karena gugurnya Ramanda Prabu Tremboko dari tangan Pandu.ayah Bimasena. Masih tergambar jelas peristiwa puluhan tahun lalu, ketika Pandudewanata yang kala itu menjadi raja di Hastinapura, mengirim surat tantangan kepada Ramanda Prabu Tremboko. Pada hal yang ia ketahui bahwa, Prabu Pandudewanata adalah sahabat Ramanda Prabu Temboko.

Walaupun Ramanda Prabu Arimba masih meragukan kebenaran surat tantangan tersebut, Prabu Pandudewanata dan para perajurit terbaiknya telah menggempur Pringgandani menyusul Patihnya, Gandamana yang lebih dahulu menyerang Pringgandani.

Perang yang tidak jelas penyebabnya pun akhirnya terjadi. Dan bahkan menjadi perang yang sangat hebat, antara dua negara besar yaitu Hastinapura dan Pringgandani. Dalam catatan sejarah perang besar tersebut dinamakan dengan Perang Pamukswa.

Di dalam perang Pamukswa itulah Rama Prabu Tremboko Gugur di tangan Pandudewanata. Aku sangat terpukul karenanya. Sebagai anak tertua aku harus bertanggungjawab atas kerusakan bangunan negara Pringgandani, serta para perajurit yang tercerai berai dan menjadi korban. Dalam kondisi yang belum siap, sembari melakukan pembenahan di sana-sini, Ibunda Ratu menyarankan agar aku menduduki tahta Pringgandani.

Maka tidak lama dari waktu gugurnya Prabu Tremboko, aku naik tahta disaksikan oleh seluruh kekuatan Pringgandani yang masih tersisa. Dalam acara resmi penobatanku, aku berjanji akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Tepuk tanganpun bergemuruh mendukung tekadku.

Kini aku telah berhadapan dan berperang tanding dengan keturunan Pandu, dan sekarang ia dalam tak berdaya dihadapanku. Jika aku berniat membunuhnya, ibaratnya tinggal membalikan tangan. Tetapi aku tidak mau melakukannya. Karena jika aku lakukan, artinya aku tidak berwatak kesatria. Walaupun wujudku adalah raksasa, di dalam hatiku telah terpatri watak kesatria yang diajarkan dan diteladankan oleh Ramanda Prabu Tremboko. Maka aku akan menunggu kekuatan Bimasena pulih, dan kembali bertanding denganku.

Bimasena anak nomor dua yang lahir dari Ibunda Kunthi tersebut sesungguhnya bukanlah anak Pandudewanata. Ia adalah anak dari Dewa Bayu. Dewa yang berkuasa atas angin. Berkaitan dengan hal tersebut, secara tidak sengaja apa yang dilakukan oleh Arimbi untuk memulihkan tenaga Bimasena dengan cara dikipasi adalah tepat. Karena melalui angin yang menerpa wajah Bima, Dewa Bayu telah membelai putranya dan memulihkan tenaganya.

Maka sebentar kemudian, setelah Arimbi mengipasi Bima, kekuatannya pulih kembali seperti semula, dan bahkan menjadi semakin segar. Bimasena kemudian meloncat untuk menghampiri Prabu Arimba.

herjaka HS

Kidung Malam 68


Prabu Arimba dan Bimasena bertempur dengan hebat (karya herjaka HS)

Perang hebat

Kemarahan Prabu Arimba belum juga reda. Ingin rasanya ia menghajar Arimbi adiknya, yang telah berkhianat kepadanya, dengan mengabaikan perintahnya. Pada awalnya Arimbi menyanggupi perintah kakanya untuk mengadakan perhitungan dengan pembunuh Prabu Dwaka yang masih saudaranya. Namun setelah melihat pelakunya yang bernama Bimasena, Arimbi jatuh hati. Ia menjadi tak berdaya untuk melaksanakan perintah kakaknya. Oleh karenanya dengan jujur Arimbi mengatakan kepada utusan kakaknya bahwa Arimbi tidak mempunyai daya untuk melukai Bimasena, terlebih membunuhnya.

Oleh karenanya Arimba ingin segera menuju ke hutan Waranawata untuk menghukum Arimbi dan kemudian membunuh Bimasena dan saudaranya.

Di siang yang terik, Prabu Arimba dengan diiringi beberapa pengawal pilihan meninggalkan negara Pringgandani. Dadanya gemuruh karena kemarahan. Akibatnya matanya memerah dan kedua tangannya bergetar. Para pengawal tahu bahwa raja Arimba sedang dalam keadaan marah besar, dan jika tidak hati-hati dalam melayaninya, sedikit saja membuat kesalahan akan berakibat fatal.

Di hutan Waranawata, Arimbi merasa cemas. Ia tahu bahwa kakaknya akan sangat marah mendapat laporan utusannya, bahwa Arimbi telah jatuh hati kepada musuhnya. Maka dari itu, sebelum Arimba sampai di tengah hutan, tempat Kunthi dan anak-anaknya berada, Arimbi menyonsong kakanya di pinggir hutan. Benarlah apa yang perkirakan Arimbi, dari kejauhan ia melihat kakaknya yang diikuti beberapa pengawalnya menampakkan kemarahannya. Maka dari itu, sebelum Prabu Arimba melampiaskan kemarahannya, Arimbi mendahuluinya memeluk kakinya. Sembari menangis, Arimbi memohon belaskasihan kepada Prabu Arimba.

“Dhuh Kakanda Prabu, pada siapa lagi aku sesambat kalau bukan kepada Kakanda Prabu yang menjadi silih orang tuaku. Jikapun aku harus mendapat hukuman, hukumlah aku karena aku telah mengkianati Sang Raja. Bahkan jikapun aku harus dihukum mati, aku rela menerimanya. Namun sebelumnya aku akan mengatakan dengan sejujurnya bahwa aku sebagai wanita yang sudah dewasa, sedang jatuh cinta kepada seseorang. Rasa kasmaran itu tiba-tiba menyergapku. Dan aku tak kuasa melepaskannya. Walau aku tahu bahwa ia yang telah membuatku jatuh cinta tersebut adalah musuh kita. Kakanda Prabu salahkah aku?”

Dada Prabu Arimba naik turun, nafasnya tidak beraturan. Kemarahannya yang sudah mencapai puncak dicoba untuk ditahan. Sebetulnya dilubuk hati yang paling dalam, Prabu Arimba sangat menyayangi satu-satunya adik perempuannya. Sepeninggal ayahnya Prabu Tremboko, Prabu Arimba yang kemudian naik tahta menyadari perannya sebagai pengganti orang tuanya. Maka ketika Arimbi mengingatkan peran yang seharusnya diemban, kemarahan Prabu Arimba berangsur-angsur mereda. Air mata Arimbi yang membasahi kaki Prabu Arimba merambat naik dan menyiram dada yang panas gemuruh.

Walaupun dada masih tetap membusung dan kedua tanganya masih berkacak pinggang, tatapan mata Prabu Arimba mulai merunduk. Dipandanginya adiknya yang masih menangis memeluk kakinya. Pelan-pelan rasa iba telah menyusup di hatinya. Ia menyadari, bahwa adiknya telah tumbuh menjadi dewasa, tanpa ditunggui orang tua, dan sekarang sedang jatuh cinta. Jika saja prabu Tremboko masih hidup alangkah senangnya dia. Namun gara-gara Pandu ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Tiba-tiba Prabu Arimba berteriak lantang

“Bangsat Pandudewanata, engkau telah memisahkan aku dan adik-adikku dengan ayahku. Terkutuklah engkau dan keturunanmu. Rama Prabu Tremboko, akan aku habisi hari ini keturunan Pandu, agar engkau berdiam di alam baka dengan damai..

Prabu Arimba lari meninggalkan Arimbi, masuk hutan ingin membinasakan keturunan Pandu. Belum jauh Prabu Arimba meninggalkan Arimbi, Bimasena menghadang di jalan. Prabu Arimba terkejut dengan keberanian orang ini. Apakah ini yang bernama Bimasena. Jika benar ini adalah Bimasena, pantas jika adiknya jatuh cinta kepadanya.

Sebelum terjadi perang tanding diantara keduanya, Arimbi telah menyusul dan mengatakan kepada Arimba bahwa itu adalah Bimasena, dan memohon agar sang Prabu tidak membunuhnya.

Jeritan Arimbi yang melaranganya agar kakaknya tidak berperang kepada Bimasena, justru membakar hati Arimba untuk segera menghabisi Bimasena. Dengan tenaga yang berlebih, Arimba menerjang Bimasena. Sejenak kemudian terjadilah perang tanding yang hebat.

herjaka HS