Mendung diatas Mandaraka [7]

Berganti Cerah, udara Mandaraka.

Oleh MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Dialah Wasi Jaladara, nama lain dari Raden Kakrasana, putra sulung dari Prabu Basudewa, raja di Negara Mandura. Pemuda berbadan sentosa dan berkulit bule ini baru saja ia pulang dari bertapa di Argaliman, memenuhi kehendak hati yang didorong oleh sifat satria pinandita dan juga direstui oleh kebijaksanaan ayahndanya di Mandura.

Kaget mendengar teriakan Larasati yang terburu-buru masuk ke dalam ruang tengah, Jaladara segera menyongsong kedatangan Larasati dengan menghujani pertanyaan seputar ketergesaannya menemui dirinya.

“Ada apa teriak teriak menggangguku, ada apa dengan adikku Rara Ireng?” Kata Jaladara menanyakan kepada Larasati perihal teriakannya, yang menyebut nama Bratajaya. Memang, Lara Ireng adalah panggilan sayang sang kakak, Jaladara, kepada adik bungsunya, Bratajaya atau Sumbadra.

Ketika Jaladara keluar, segera Bratajaya berbalik menubruk kakaknya, mengadukan perihal apa yang terjadi, “Aku dikejar kejar lelaki, kakang!”

“Keparat . . . Sudah bosen hidup rupanya orang itu. Menyingkirlah aku akan hadapi.  Kakrasana segera menyisihkan adiknya dan menghadapi orang yang disebut mengganggunya.

Tapi setelah berhadapan, kemarahan Kakrasana menjadi buyar berganti dengan rasa heran. Pamadi-lah yang tampak dengan senjata terhunus.  “Heh kamu Pamadi. Aneh kalau kamu tidak kenal saudara tuamu Bratajaya. Kamu kesini mau apa?

Pamadi yang juga kaget oleh adanya Kakrasana yang dikenalnya adalah Putra Mahkota Mandura terdiam. Keheranan juga muncul oleh peristiwa yang dianggapnya aneh, hingga mempertemukan kerabat Mandura ada di sebuah kademangan kecil, Widarakandang.

Tak lama kemudian, Pamadi menceritakan apa yang telah terjadi hingga ia marah dan mendapatkan orang yang memberinya makanan yang sudah tidak layak makan.

“Benar apa yang Pamadi katakan, Rara Ireng?”

“Kakang, tanyakan ke Larasati, nasi dan lauknya itu tadinya ada di tempat sanggar sesuci Kakang Kakrasana. Semua makanan yang ada disitu semuanya enak dan pantas dimakan orang”. Bratajaya mendesak kakanya untuk menanyakan kebenaran cerita itu kepada Larasati.

Larasatipun berkata dengan sejujurnya mengenai keadaan makanan yang diberikan kepada Semar Badranaya.

“Lho, semua yang dikatakan Bratajaya makanan itu, semuanya enak. Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Kakrasana.

“Aku tidak merasa memberikan makanan bercampur pasir!!. Jawab Bratajaya yang dari tadi menggelendot ditubuh kakaknya, Jaladara.

Suasana sebentar menjadi hening, karena teka teki seputar makanan yang menyebabkan Pamadi menjadi marah. Semar yang dari tadi diam, kemudian maju menjelaskan sebenarnya yang sudah terjadi, “Ya, kalau ada yang salah, saya minta maaf. Sayalah yang mencampurnya dengan pasir. Sebenarnya makanan yang berasal dari Putri Bratajaya dalam keadaan baik. Tetapi sengaja aku campur dengan pasir. Saya Cuma menyesalkan, momonganku ini tidak meniru leluhurnya dulu, Bambang Sakri, Bambang Sekutrem, Palasara hingga Panembahan Abiyasa dan kemudian Pandu Dewanata, yang bisa sebegitu lama tidak makan dan tidak kehausan walau tidak minum seteguk airpun. Tapi ini, tidak makan tiga hari kok pingsan? Bila satria yang mempunyai cita-cita, kemudian berhenti hanya karena lapar,  lha apa gunanya tapa bertahun tahun. Bila itu yang terjadi, akhirnya semuanya yang telah didapat menjadi tawar, tidak berguna”.

Pamadi merasa terpukul oleh kata-kata pemomongnya. Dipegangnya pundak Semar dan kemudian berkata dengan nada menyesal, “Kakang, semua kesalahku aku minta maaf. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi terhadap aku”

Semar terdiam sejenak, kemudian sambil memandang momongannya ia berkata, “Ya sudahlah, kalau sudah merasa akan kesalahan yang sampeyan buat. Saya hanyalah menjalankan darma sebagai pemomong yang tidak sekedar momong. Harus bisa menjadi orang tua, juga harus bisa menjadi pembantu. Dan juga harus menjadi penuntun langkah. Tadi itu sampeyan telah salah dalam langkah”.

Kakrasana yang dari tadi menjadi tidak mengerti awal mulanya memandang Pamadi dengan air muka yang mengandung pertanyaan. Pamadi yang dipandanginya mengerti akan kehendak tanya yang ada di mata Kakrasana, kemudian kata Pamadi, “Baiklah kakang Kakrasana, semua kejadian tadi, sebenarnya bermula dari putus asanya pikiran ini. Oleh sebab hamba sudah menjawab kesediaan hamba kepada uwa Prabu Salya, untuk mencari hilangnya putri Erawati. Sudah sebulan lamanya hamba mencari keberadaan kanda Erawati yang hilang diculik, tetapi sampai saat ini belum terlihat tanda tanda akan keberadaannya”.

Seperti melihat kilatan ndaru kebahagiaan, Kakrasana menjadi terang pikirannya. Kepekaan hati dan pikirannya yang begitu terasah oleh olah kapanditan yang baru saja dijalaninya, telah menuntunnya kearah takdir yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tetapi rasa kemanusiaannya menjadikannya masih menanyakan kembali apa yang didengar adik misannya, “Nanti dulu, tadi kamu bilang mau kemana?”

“Hamba bermaksud mencari dimana hilangnya bunga kedaton Mandaraka, kanda Erawati, yang sudah sebulan ini hilang dari tempatnya”.

“Terus bagaimana kata raja Mandaraka?” Pertanyaan Kakrasana makin memburu.

“Siapa yang dapat menemukan kanda Erawati, bila ia perempuan, akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila yang menemukan adalah seorang pria, ia akan dikawinkan dengan kanda Erawati”.

“Umpanya, aku yang menemukan, bagaimana?!” Jaladara semakin penasaran. Nalurinya yang tajam telah meyakininya apa yang akan terjadi hubungannya dengan Putri Mandaraka yang hilang  itu.

“Terserah kanda Kakrasana saja.”  Kata Pamadi dengan senyum.

Kembali kepekaan seorang wasi menjadikan Jaladara melakukan tidakan yang tidak tergesa gesa. Rancangan telah diatur didalam benaknya agar nanti peristiwa yang berakhir menjadi akhir yang bahagia. Maka kemudian kata Kakrasana, “Tapi kamu jangan bilang kepada Prabu Salya, kalau aku ini Pangeran Pati dari Mandura. Bilang saja aku pendeta muda dari Argaliman, sebut namaku Wasi Jaladara”.

Pamadi mengangguk setuju. Daripada tidak menemukan Erawati sama sekali, maka saudara misannyapun dapat menyingkirkan rasa malu atas kesanggupan yang telah ia katakan kepada orang tua Banuwati. Demikianlah maka kedua satria itu kemudian berangkat ke Mandaraka untuk meminta ijin mencari hilangnya putri sekar kedaton.

—————

Wajah gembira memancar dari Prabu Salya yang telah kembali menerima kedatangan kemenakan yang ia sayangi. Tidak sabar Prabu Salya segera menanyakan ihwal kedatangannya kembali, “Pamade, bagaimana kabar dari kamu yang dulu sudah mempunyai kesanggupan untuk mencari hilangnya kakakmu Erawati?”

“Mohon maaf uwa Prabu, walau sudah hamba umpamakan seputaran wilayah Mandaraka sudah dijajaki, tetapi jejak kanda Herawati bagaikan tersaput kabut, dan hamba gagal mencarinya. Tetapi tanpa disangka hamba bertemu dengan seorang pendeta muda yang tengah bersemedi di Argaliman, beliaulah yang sanggup mengembalikan kanda Erawati”.

Kegembiraan Prabu Salya berganti sedikit kecewa. Terlihat mendung kembali meliputi air muka Prabu Salya. Harapan kelewat besar yang ia letakkan di pundak Pamadi telah runtuh oleh kata kata kepasrahan Pamadi.

Dengan sedikit acuh, Prabu Salya menanyakan siapa yang disebut oleh kemenakannya itu, “Ooh inikah orangnya? Siapakah kamu?”

“Hamba yang bernama Jaladara, asal hamba dari Pertapan Argaliman”. Jawab Jaladara yang berkata khidmat.

“Apakah kamu yang sanggup mengembalikan putriku Erawati?”.

“Hamba Paduka. Tidak hanya sanggup mengembalikan putri paduka saja, bahkan hamba juga sanggup meringkus penculiknya”.

Merah muka Prabu Salya oleh kata kata Jaladara yang menggambarkan kesombongannya. “Heh Jaladara, kenapa kamu bisa mengatakan begitu? Apakah kamu sudah mendapatkan titik terang siapa penculiknya dan dimana putriku disembunyikan?”

Tidak usahlah hamba pergi dari Mandaraka. Nanti malam, semua penjaga malam sebaiknya diliburkan. Hamba sanggup untuk meringkus penculik itu malam nanti. Nanti tengah malam maling itu akan kembali ke Mandaraka”. Dengan sengaja Jaladara memperlihatkan kesanggupannya yang sedemikian tinggi.

Jaladara. . . ! Perkataanmu itu sebenarnya sudah kelewat takabur!” Prabu Salya bangkit karena sikap sombong Jaladara dan enggan meneruskan pembicaraan dengan Jaladara. Ia mengalihkan  pandangannya kepada putranya, Rukmarata dengan ekor matanya. Rukmarata segera mengetahui kehendak ayahndanya yang berjalan masuk ke dalam istanannya, meninggalkan Pamadi, Kakrasana dan Rukmarata.

Rukmarata yang mengerti apa yang harus dilakukan, menatap tajam mata Jaladara sembari berkata, “Jaladara . . .  lancang ucapanmu. Bila nanti tidak terbukti, besok waktu matahari terbit kepalamu akan aku pisahkan dari lehermu!”

Tidak lagi banyak berkata, Jaladara segera beranjak dari paseban dengan menggandeng Pamadi. Setelah sampai diluar, Pamadi yang dari tadi tidak tahan mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jaladara, segera memburu dengan pertanyaan, “Kalau nanti malam kanda Kakrasana tidak bisa membuktikan kata-kata itu, betapa hamba akan mendapat marah dan malu, kanda”.

“Sudahlah, tidak namanya aku mendahului kemauan yang kuasa. Tetapi catat, bahwa aku rela kehilangan kepalaku bila ucapanku tidak terbukti. Tetapi menjelang tengah malam ini aku mau istirahat dulu. Carikan aku pinjaman tikar untuk sekedar beristirahat”. Santai Jaladara malah rebahan bersandar pada sebatang pohon beringin.

“Lho ini mau kerja apa mau istirahat?” Petruk yang tadi menyongsong kedatangan momongan dan saudara misannya menanya

“Namanya kerja ya harus pakai istirahat. Kalau kerja tanpa Istirahat itu tidak akan bertambah kekuatannya. Istirahat perlu untuk mendapat kekuatan baru”. Bagong menyahut membela Kakrasana.

“Mohon maaf kanda, hamba orang baru disini. Hamba berlum mempunyai kenalan.”

Jaladara yang ternyata mempunyai mata batin yang begitu tajam tersenyum. Kemudian katanya, “Kamu boleh ingkar, Pamade. Tapi aku ini apamu? Aku ini saudaramu tua, semua yang ada di dalam dirimu, sudah aku ketahui”.

“Mohon maaf kanda, hamba belum punya kenalan”, sekali lagi Pamadi yang belum yakin akan kemampuan mata batin Kakrasana kembali berbohong.

Tetapi bagai tersengat kala, Pamadi terkesiap, ketika Kakrasana kemudian bertanya, “Bagaimana? Lha Banowati itu siapa?”

Pamadi yang terkaget mendengar kata Kakrasana yang tajam memalu dadanya. Tanpa berkata Pamade  berlalu dengan cepat dari hadapan Jaladara dengan muka yang memerah, sementara para panakawan mentertawakan momongannya salah tingkah. Kemana Pamadi? Kembali ia berjalan ke keputren menemui Banowati.

Tengah malam. Kedua satria ini sudah ada ditempatnya masing masing. Arjuna muda tidak terceritakan ada dimana dia ;), sedangkan Jaladara bersembunyi menunggu pencuri dengan mata awas terbuka.

Benarlah. Tengah malam telah menjelang, ketika putra raja Tirtakadasar, Raden Kartapiyoga telah sampai di dalam beteng. Ketika ia masih melihat banyak jaga malam yang berseliweran, dalam hati ia berkata, “Hmm, masih ramai keadaan dalam petamanan. Tapi aku tidak kurang akal, aku akan menyirep semua orang yang ada dalam taman sari”.

Sebentar kemudian, niat itu telah ia ujudkan dengan mengucapkan mantra sirep Begananda. Sirep sakti yang mengalirkan udara sejuk yang mampu membelai sukma hingga mata menjadi terpejam, tidur nyenyak.

//Niat ingsun anyirepi/Hong ilaheng awigena/Sirep lerep turu kabeh/Sagung janma jroning pura/Awit karsaning Dewa, mung ingsun kang datan turu/Ya jagad dewa bathara.//

Kidung dengan mantra sakti telah ditembangkan. Demikianlah, maka satu demi satu para penunggu telah jatuh tertidur. Terbahak Kartapiyoga setelah melihat sekitarnya bergelimpangan prajurit jaga telah roboh tertidur. “Heh orang Mandaraka, jangan terkaget. Besok semua akan kehilangan Surtikanti dan Banowati!”.

Tetapi Kartopiyoga memiliki ketelitan. Satu demi satu Kartapiyoga meneliti orang orang yang jatuh tertidur, ia tidak mau pekerjaannya menjadi terganggu oleh kecerobohannya. Sampai pada satu orang yang ia teliti, Kartapiyoga merasa kagum. “Keparat, aku kira semuanya sudah roboh tertidur siapa ini yang tertidur sambil berdiri dengan mata yang diganjal paku? Gagah perkasa muka merah seperti tembaga yang baru digosok. Belum pernah aku bertemu dengan orang ini sebelumnya, ketika pertama kali aku kesini. Tapi tidak perduli. Surtikanti, Banuwati dimana kamu ?!!.

Kartapiyoga yang terlalu percaya diri membiarkan Jaladara yang diraba masih diam. Maka dengan lompatan panjang ia telah sampai disekitar keputren.

Jaladara yang mengamati ulah Kartapiyoga kemudian ganti bergerak cepat mengikuti langkah Kartapiyoga, dalam hatinya ia berkata, “Huh hampir saja aku terlena. Berat mata ini terkena sirep Beganada. Itu dia, maling sudah datang. Jangan berbangga dulu. Ini Jaladara yang hendak menangkapmu !!”.

Belum sempat menyentuh pintu keputren, Kartapiyoga tersentak ketika punggungnya diraba telunjuk Jaladara. Secara tidak sadar, Kartapiyoga mengelak tetapi sepasang tangan kokoh telah melekat dilengan Kartapiyoga. Dengan naluri dan kesaktian tinggi,  Kartapiyoga melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jaladara. Maka tanpa berkata sepatahpun, pertempuran sengit segera terjadi.

Sedikit demi sedikit ilmu mereka yang sedang bertempur telah dinaikkan untuk mengatasi satu sama lain. Tetapi Kartapiyoga yang menjadi heran karena ada salah satu penjaga malam Negara Mandaraka tidak gampang ditundukkan. Dengan rasa penasaran akhirnya Kartapiyoga buka mulut. “Heh penjaga malam, siapa yang mengganggu kerjaku !!??.”

Abdi Mandaraka namaku Jaladara! Siapa kamu maling yang berani menyatroni petamanan Mandaraka”.

“Tidak pakai tedeng aling-aling. Aku pangeran pati dari Negara Tirtakadasar, Putra Prabu Kurandayaksa, namaku Kartapiyoga! Sorongkan lehermu untuk aku pisahkan dari badanmu. Agar tidak menggangu kerjaku memboyong Surtikanti dan Banowati !”. Dengan percaya diri, Kartapiyoga memberitahukan jati dirinya. Pikirnya tak ada seorangpun penjaga malam Mandaraka yang bisa mengalahkannya. Bahkan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi ia hendak memisakan kepala dari tubuh penjaga malam itu.

Namun waktu berlalu, Kartapiyoga makin keteteran  menghadapi penjaga malam yang sedemikan sakti, hingga ia sadar, fajar segera menjelang. Maka dikerahkan kesaktiannya hingga batas tertinggi. Tetapi sekali lagi, penjaga malam itu masih dapat melayaninya dengan nafas yang masih teratur. Putus asa telah menghinggapi pikir Kartapiyoga. Maka segera ia menerapkan ajian ajaran ayahnya, amblas ia kedalam tanah, melarikan diri.

Ternyata ada seorang lagi yang tidak kena sirep. Ialah Permadi. Usai Kartapiyoga melarikan diri dan Kakrasana menghentikan usaha menangkap pencuri, Pamadi mendekati Jaladara. Melihat kedatangan Pamadi, Jaladara menjelaskan apa yang terjadi, “Permadi sudah ada titik terang. Aku sudah mendapat siapa dan dimana pencuri itu. Pencurinya sudah aku ketahui bernama Kartapiyoga anak raja Tirtakadasar. Aku hampir bisa meringkusnya tetapi ia masuk kedalam bumi.  Ternyata ia sangat sakti, terbukti bisa lolos dari tanganku. Ayuh ikut aku mengikut jejak Kartapiyoga”.

Tidak lagi membuang waktu kehilangan jejak. Kesaktian Jaladara telah menempatkan Pamadi dalam ruang cincinnya. Kesaktian Jaladara yang sedemikian tinggi telah melacak arah lari Kartapiyoga.

Sampai dihadapan ayahnya, Kartapiyoga dengan tanpa malu menceritakan bagaimana ia dikalahkan oleh Jaladara. “Aduh rama, ketiwasan. Masuknya hamba kembali ke Mandaraka ternyata disana sudah ada prajurit segelar sepapan yang siap menyongsong. Hamba ketahuan penjaga malam yang bernama Jaladara, sehingga terjadi perkelahian. Kesaktian Jaladara ternyata sangat tinggi. Rama, saya pasrah jiwa raga”.

Marah Prabu Kurandayaksa, anak kesayangannya telah dilecehkan oleh penjaga malah bernama Jaladara, “Heeee . . sekarang giliranku. Pasti ia mengejar kamu kemari. Kita hadapi kedatangannya !!”.

Sementara itu ditempat persembunyian Erawati, wanita malang yang sedang menangisi nasibnya dikejutkan dengan kedatangan dua orang satria yang kelihatan santun. Sebersit harapan telah tumbuh. Setelah ketiganya berhadapan, tanya Erawati kepada keduanya meluncur, “siapakah kalian berdua ini? Yang satu berwajah tampan dan yang satu lagi berbadan perkasa. Katakan maksud kedatanganmu. Katakan, kisanak!”.

“Baiklah raden ayu, terus terang hamba masih kulit daging andika. Hamba putra mendiang Prabu Pandu Dewayana, nama hamba Pamadi”.

“Hamba hanya orang kecil saja, nama hamba Jaladara asal hamba dari Argaliman”. Keduanya memperkenalkan diri.

“Kedatangan hamba tanpa dipanggil, adalah demi tugas yang dibebankan oleh ayah kanda Dewi, Prabu Salya. Hamba harus berhasil memulangkan andika Sang Dewi kembali ke Mandaraka”. Kata Pamadi kemudian.

“Begitu juga hamba yang sudah menyanggupi berdasarkan sayembara, yang siapapun dapat mengembalikan andika Sang Dewi kembali”. Jaladara menjelaskan

Gembira bukan kepalang Erawati mendengar kesanggupan keduanya. Sebersit keraguan masih saja menghinggapi hingga ia masih menanyakan kembali tentang diri mereka, “Tapi kalian bukan dari golongan orang yang menipu, bukankan begitu?”

Bukan Raden Ayu, walaupun bagaimana pun andika Raden Ayu hendaknya bisa membedakan dengan jelas, bahwa hamba masih termasuk kulit daging Mandaraka”.

“Kalau itu yang sebenarnya, aku hanya menurut kepada kamu berdua. Tetapi apakah kamu datang kemari tidak diliputi oleh ancaman bahaya?” Kembali Erawati menyangsikan keduanya. Kesangsian oleh sebab perasaan takut yang telah mengurungnya hari demi hari.

“Benar Raden Ayu. Tetapi semua dapat hamba sisihkan terbukti hamba sudah sampai disini”. Jawab Jaladara meyakinkan.

Kalau begitu, bagaimana kamu bisa membawaku dari sini ?.

“Baik kami akan masukkan Raden Ayu kedalam cincinku”. Kata Jaladara kemudian memupus keraguan Erawati.

Demikianlah, Erawati dan Pamadi telah kembali dimasukkan kedalam bilik cincin Jaladara. Jaladara tidak mau diribetkan dengan Pamadi dan Erawati yang tidak dapat mengarungi bahayanya dunia bawah air Tirtakadasar.

Setelah semuanya diatur rapi, Jaladara berrenang mencari adanya orang penting Tirtakadasar. “Heh orang Tirtakadasar, inilah aku Jaladara yang telah ganti menculik Erawati dari Tirtakadasar !!”

Maka peremuan ketiga manusia itu telah menjadikannya Kerajaan Bawah air Tirtakadhasan menjadi ajang pertempuran sengit. Tidak mudah Kakrasana mengatasi Prabu Kurandayaksa yang memang lebih sakti daripada anaknya, Kartapiyoga. Namun takdir telah jatuh. Kurandayaksa dan anaknya Kartapiyoga tidak mampu mengalahkan Jaladara. Bahkan keduanya dapat dimusnahkan setelah pertarungan sengit terjadi berhari hari.

Ketika ia memeriksa masih adanya musuh dalam kerajaan bawah air itu, ia bertemu dengan seorang wanita berujud raksasa yang dengan terang terangan telah menjumpai Jaladara. Jaladara menjadi terheran dan kemudian menanyakan siapa sebenarnya ia, “Aduh raden, hamba tidak ikut-ikutan”

“Siapakan andika yang berujud raseksi?”

“Hamba istri dari Prabu Kurandageni dan sekaligus ibu dari Kartapiyoga. Nama hamba Tapayati”.

Tanpa diperintah, Tapayati mengisahkan keberadaanya di dasar air, “Begini raden. Sebenarnya hamba sangat tdak setuju dengan tindakan suami serta anak hamba, memaksa putri Mandaraka menjadi istri dari anak hamba, Kartapiyoga. Erawati sejak ada di Tirtakadasar setiap harinya hanya menangis hampir tanpa henti. Saya yang menjadi saksi radenlah yang menyelamatkan putri Prabu Salya itu. Hamba berharap agar hamba diperkenankan ikut ke Mandaraka bersama andika dan Putri Erawati. Maksud hamba adalah sebagai saksi mata bahwa radenlah yang telah berhasil menyelamatkan Erawati dari sekapan anak dan suami hamba”.

“Baiklah aku tidak keberatan”. Tadinya Jaladara ragu, tetapi kembali naluri seorang pertapa menyetujui permintaan Tapayati. Tanpa membuang waktu lagi, Jaladara segera kembali ke pinggir bengawan  yang ternyata telah terkepung oleh wadya Astina.

Kemunculan sosok manusia dengan tubuh berkult tembaga, sontak telah menggegerkan wadya Kurawa yang segera mengepung Jaladara dari berbagai arah. Tombak dan mata pedang telah merunduk mengacu ke tubuh Jaladara yang tetap diam ditempat, namun tubuh yang basah berkilat merah tembaga tersinari matahari, telah membuat para Kurawa kehilangan nyali. Seseorang kemudian menyeruak diantara para prajurit dan nyaring berkata,  “Hee kamu pasti yang telah membawa Dewi Erawati. Ayoh jangan banyak cakap, serahkan Dewi Erawati ke tangan Para Kurawa”. Demikian sapa orang yang ternyata Sangkuni, mencoba menakuti Jaladara dengan mengadang ditepi bengawan segelar sepapan dengan wadya mengurungnya.

Jaladara yang tidak mau dihardik menjawab, “Ini hakku, tidak satupun orang yang akan aku serahi Erawati kecuali ayahnya sendiri, Prabu Salya”. Jawab Jaladara tegas.

Aba–aba telah diteriakkan oleh Sangkuni. Para prajurit Astina bergerak serentak mengepung rapat Jaladara. Tidak tinggal diam, Jaladara mengibaskan tangannya dan beberapa pengepung telah terjerembab ketanah. Namun serangan telah bergelombang kembali mengalir. Tidak mau membuang waktu dan banyak jatuh korban, tidak lama kemudian  dalam rapatnya kepungan Jaladara melompat dan meloloskan diri. Diluar lingkaran pertempuran, Jaladara memetik sekuntum bunga, kemudian dipujanya menjadi sosok Dewi Erawati.

Gembira sorak Para Kurawa telah menemukan Dewi Erawati palsu yang kemudian digendong kedalam tandu untuk dibawa ke Mandaraka. Pada saatnya nanti kegembiraan para Kurawa berubah sebaliknya ketika sampai di Mandarka, Erawati telah kembali ke ujud semula, sekuntum bunga.

————————

Mendung telah tersaput angin. Cerah wajah Prabu Salya ketika menemukan kembali putri sulungnya dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Tak lama kemudian setelah kedatangan Jaladara kembali ke Mandaraka, dipanggilnya Wasi Jaladara kehadapan Prabu Salya, “Kamu sudah membuktikan omonganmu bisa mengembalikan anakku Erawati. Dan aku juga akan membuktikan janjiku, tidak akan ingkar. Tetapi hendaknya kamu bersabar, tunggulah hari baik. Tapi lain dari itu, aku melihat ada raksasa wanita. Siapakah ia Jaladara?”.

“Silakan gusti Prabu menanyakan sendiri jati dirinya”. Jawab Jaladara takzim.

Heh wanita raksasa, siapakah dirimu sebenarnya?” Prabu Salya memandangi Raseksi itu sambil bertanya.

“Hamba adalah ibu dari Kartapiyoga yang telah terbunuh Jaladara.”

“Aku ingin tahu bagaimana kamu beserta keluarga dan para pengikutmu berdiam disuatu negara didalam air yang bernama Tirtakadasar?”

“Terus terang hamba sebagai istri dari Prabu Kurandayaksa sebenarnya dahulu hamba diculik. Ketika hamba sedang mencuci ditepi Bengawan Swilugangga, tidak mengerti datangnya bahaya, hamba diseret kedalam bengawan. Dari situlah hamba dijadikan istri dari Prabu Kurandayaksa. Demikian hingga yang terjadi, hamba mempunyai anak bernama Kartapiyoga itu”.

“Lho, andika itu berasal dari mana asal usulnya?” Ketertarikan akan jalan cerita raseksi itu, Prabu Salya kemudian menanyakan lebih dalam.

“Hamba adalah putri pendeta bernama Begawan Bagaskara, hamba terpisah dengan ayah hamba Begawan Bagaskara sejak saat itu. Ayah hamba dua bersaudara, yang muda bernama Begawan Bagaspati, dua duanya adalah pendita yang berujud raksasa. Juga berputri satu yang namanya adalah Pujawati. Hambalah yang bernama Tapayati”.

Terkesiap hati Dewi Setyawati, istri Prabu Salya yang ikut dalam lingkungan pembicaraan. Karena ialah putri dari Pendita di Argabelah, kakak beradik Begawan Bagaspati dan Begawan Bagaskara. Setyawati alias Pujawati bergerak mendekat ketika mendengar kisah dari Tapayati yang kemudian memeluknya, “Kanda, hambalah yang bernama Pujawati itu. Aku sudah beranak lima kanda!”.

Hening para hadirin yang ikut dalam sidang ketika melihat  keduanya saling berpelukan. Seakan mereka ikut merasakan betapa takdir telah mempertemukan kedua saudara misan itu dalam pertemuan yang tak diduga-duga. Ketika suasana haru tela mereda, Tapayati berkata memohon maaf kepada suami istri itu, “Mohon maaf Sang Prabu, bahwa anak hamba Kartapiyoga yang telah beraninya menculik saudaranya sendiri, Erawati.”

“Tapi aku masih heran, bagaimana Prabu Kurandayaksa bisa membuat Istana dalam air dan bermukim disitu?”. Tanya Prabu Salya.

“Itu adalah kekuatan dari pusaka yang bernama manik sotyaning candrama yang bisa digelar dan digulung. Bisa diringkas menjadi satu ujud seperti yang hamba bawa ini”.

“Oooh itukah bentuk pusaka itu?” Takjub Prabu Salya melihat kesaktian pusaka yang dibawa Tapayati

Kecuali dapat digelar dan digulung sebagai gelaran sebuah negara, pusaka ini juga dapat dibuat sarana untuk mengubah segala bentuk yang buruk menjadi ujud yang baik” tambah Tapayati.

“Apakah kira kira dapat dipakai untuk meruwat ujud ayunda yang serupa raseksi?”

Itulah yang sebenarnya hamba inginkan . . . . ”. Tapayati menjawab dengan wajah yang berharap.

Baiklah ayunda. Tahanlah nafas ayunda, aku akan merubah ujud ayunda sebagaimana yang ayunda inginkan”. Begitulah kesaktian pusaka manik sotyaning candrama tlah dijadikan sarana untuk mewujudkan keinginan Tapayati. Kehendak Dewa telah terjadi, Tapayati berganti ujud yang buruk menjadi sosok cantik mirip dengan dewi Setyawati.

Kembali Setyawati dan Tapayati berrangkulan haru. Kebahagiaan telah merebak diantara saudara trah Bagaspati dan Bagaswara. “Bagaimana hamba dapat mengucapkan terimakasih sinuhun?

“Tidak usahlah berterimakasih kepadaku.”

“Bagaimanapun, hamba harus mempunyai rasa terimakasih. Hamba berjanji, dinda Pujawati semogalah seluruh isi jagad menyaksikan, sampai ajal menjemput, kita berdua tak akan dapat terpisahkan.” Sumpah Tapayati akan terjadi. Hidup mereka berdua berakhir di padang Kurusetra ketika Prabu Salya gugur di medan perang Baratayuda.

Setelah hening sejenak, Prabu Salya berkata, “Tapi begini ayunda, karena ayunda sudah berujud manusia yang sempurna ujudnya, akan aku ubah nama ayunda dengan nama baru; Endang Sugandini”.

Demikianlah, mendung telah benar benar tersaput dari langit Mandaraka. Jaladara sabar menunggu waktu yang telah dijanjikan. Ketika waktu telah ditakdirkan, Jaladara yang kemudian menjadi suami setia dari Erawati, setia hingga akhir hayat. Wasi Jaladara atau Kakrasana bertahta di Mandura dengan jejuluk Prabu Baladewa

Link Pagelaran Wayang dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan keseluruhan cerita Mendung diatas Mandaraka dapat dilihat di:

 http://www.mediafire.com/?5qojwb6u9csd1

atau ingin mempelajari pedhalangan lengkap dengan cerita ini, Bukunya dapat diunduh di:

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/28/160/

Mendung diatas Mandaraka [6] : Semar mBarang Jantur

Dikisahkan kembali oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang melihat keadaan itu, tergopopoh-gopoh mendapatkan momongannya yang tergeletak tak berdaya. Petruk memijit mijit kaki, sedangkan Bagong mengipas-kipaskan daun waru ke tubuh Pamade. Semar yang sedikit banyak mengerti cara mengatasi masalah pengobatan sibuk memijit dan mengurut tubuh Pamade. Tak lama kemudian Pamade sadar dan membuka matanya.

Melihat momongannya membuka mata, Semar segera menghujani pertanyaan menyangkut sebab musabab peristiwa yang terjadi. “Eeh sampeyan kenapa ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah terbiasa sampeyan melawan para raksasa berapa ribu-pun tidak terjadi seperti ini. Apakah sampeyan terkena taring dari para raseksa yang menghadang tadi?”

“Kalaupun aku digigit oleh para raksasa, tidak akan terjadi, taring raksasa itu melukai kulitku”.

Gimana tadi gus, kenapa bisa terjadi seperti itu? Begitu juga Gareng dan Bagong ikut menambahi pertanyaan-pertanyaan konyol.

“Kakang, bagaimana aku bisa seperti ini, kakang, Aku tidak kuat bergerak, semua badanku terasa ngilu. Kepala ini terasa berdenyut dan keringat dingin mengalir disekujur tubuh ini”. Dengan masih tetap berbaring, Pamadi menijit kepalanya yang masih juga terasa berat dan pening.

“Eeeh ampuh omongan Surtikanti. Sampeyan-lah yang sebenarnya bersalah. Pada saat ndika hendak pergi waktu itu kan telah diajak mampir oleh putri putri Prabu Salya, Surtikanti dan Banuwati. Sampean tidak mau, ketika diajak oleh Sutikanti. Tetapi ketika diajak mampir oleh Banuwati, sampeyan nurut. Itulah yang membuat Surtikanti kecewa dan menyumpahi sampeyan. Kalau sampeyan lapar jangan sampai menemukan makanan, kalau kehausan jangan sampai menemukan air walau seteguk. Marilah kita berjalan lagi tinggal selangkah lagi kita bakal menemukan pedesaan. Dan disana pasti kita dapat menemukan orang yang memasak makanan. Nanti disana, saya akan mencarikan orang yang mau memberi kita makanan” Semar masih mengingatkan peristiwa tadi dihubungkan dengan kata serapah Surtikanti ketika di Mandaraka.

“Aduh kakang, aku sudah tidak kuat lagi bangun”. Pamade masih mengeluhkan apa yang dirasa. Semar berpikir sejenak, bagaimana caranya mengatasi keadaan yang terjadi tiba-tiba ini.

Sejurus kemudian dipanggilnya ketiga anaknya, “Toleee, Petruk Gareng dan Bagong, ayo kita gendong momongan kita ketempat yang teduh dibawah pohon gendayakan itu”.

Ketiganya kemudian menggotong tubuh momongannya yang memang sangat lemah itu. Setelah keadaan menjadi lebih baik, Semar kemudian mengumpulkan ketiga anaknya, agar mendekat dan berrembug mencari pemecahan bagaimana jalan keluar dari persoalan itu “Tolee aku benar benar bingung merasakan keadaan momongan kita. Lho kok bisa terjadi seperti itu, kalau hanya tidak makan beberapa hari kemarin, rasanya nggak bakal seperti itu kejadiannya”.

Petruk kemudian memberikan pandangan kepada bapaknya yang sekiranya bisa dijadikan dasar pemikiran selanjutnya, “Tetapi mungkin  ini sebenarnya karena ampuhnya kata-kata orang yang dibuat kecewa”.

Sekarang usaha kita bagaimana? Tanya Semar, yang kemudian disambungnya. Cara kita bagaimana supaya  kita secepatnya mendapatkan makanan?”.

“Kita masak nasi saja Ma? “Gareng mencoba mengusulkan. Kemudian ia melanjutkan idenya, ‘”Supaya kita dapat cepat dapat makanan, kita masak nasi saja. Kalau masalah lauk itu belakangan. Yang penting nasi harus ada. Kalau dalam keadaan kepepet, kecap sama bawang-pun bisa menjadi lauk yang enak”.

“Kalau gitu ayoh cepat cepat masak nasi, kamu bawa beras? “Semar cepat menjawab dengan tidak banyak pikir.

“Nggak bawa kok. Kalau ada, ya pasti kita sudah dari kemarin kita masak buat momongan kita”. Jawab Gareng kemudian

Semar diam karena jawaban Gareng yang tidak masuk akal. Kemudian dipanggilnya nama anaknya yang lain, “Petruk, bisanya kita dapat makan kita harus bagaimana?”

“Cari!’

“Dimana?”

“Ketempatnya”.

“Kamu sudah tau tempatnya?”

“Belum”. Jawab Petruk tidak memecahkan masalah. “Bagaimana kita cari makan kalau kita sendiri juga sudah kecapaian begini?!”

Sekarang dipanggilnya Bagong, walaupun Semar sudah menduga, kalau kali ini juga Bagong pasti juga jawabanya tidak akan memuaskan, “Bagong!?”

“Apa?”

“Bagaimana supaya kita dapat makan gimana Gong?”

“Nyuri!” usul Bagong dengan wajah lugunya. Lha gimana kita dapat makan kalau kita sekarang juga dalam keadaan lapar begini kok ditanyai”.

Tetapi sejurus kemudian Semar semringah. Ia telah menemukan cara bagaimana mengatasi masalah. “Gini saja, kita cari makan tapi dengan cara yang halal. Kita akan ngamen Jantur. Kamu tau apa itu Jantur?”

“Lho menghina?!’ Aku ini orang yang penuh dengan kesusasteraan. Jantur, dapat dari kata Jan dan Tur. Tukijan rumahnya di mBatur.” Petruk menjawab asal-asalan, begitu juga Gareng dan Bagong masing masing menyampaikan arti kata jantur. Semuanya ngaco.

Semar menyalahkan omongan anak-anaknya, katanya, “Oooh goblok. Jantur itu artinya cerita. Aku mau ngamen dengan bertutur cerita, dan nanti akan aku barengi dengan sulapan”.

Maka ketika mereka sudah sepakat, keempat panakawan itu segera menyiapkan perlengkapan ngamen. Berbekal arah adanya asap yang mengepul yang kelihatan dari dalam hutan, mereka berangkat kearah pedesaan yang terdekat.

Setelah sampai di pedesaan pinggir hutan, mereka mulai menggelar kemampuan mereka dengan cerita dan banyolan kadang disertai dengan nyanyian dan joged. Mereka berjalan sambil mengamen dari rumah ke rumah, dari desa ke desa,  hingga sampailah mereka di padukuhan yang bernama Widarakandang. Sebuah desa yang terhitung agak besar dan berpenduduk lebih banyak banyak. Tidak heran, karena keadaannya lebih baik dibanding desa tetangga karena kesuburan dan keasrian alamnya.

Disebuah rumah demang Widarakandang, berdiam Putri Raja Mandura bernama Dewi Bratajaya. Dialah adik dari Kakrasana atau sebagai pertapa bernama Wasi Jaladara. Tinggal pula disitu kakak Bratajaya yang lain, Narayana, putra kedua dari Prabu Basudewa. Tetapi Narayana adalah seorang yang senang berpetualang menunutut ilmu kepada orang-orang sakti, sehingga banyak waktunya yang ia habiskan diluar Widarakandang. Narayana bersahabat erat dengan anak sulung Nyi Demang yang lain, yang bernama Udawa. Narayana selalu mengajak Udawa kemana ia pergi.

Saat ini Bratajaya diperintahkan oleh ayahnya Prabu Basudewa agar bertapa ngrame. Sebuah ritual tapa yang dijalankan bukan dengan duduk tepekur, tetapi melakukan kerja bakti untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Di Widarakandang itulah mereka menetap, tepatnya di kediaman keluarga Demang yang bernama Antyagopa dan istrinya yang bernama Nyai Sagopi.

Pada saat itulah Bratajaya sedang duduk bersama teman yang dianggap saudara perempuannya (yang sebenarnya adalah anak biologis dari Prabu Basudewa) yang bernama Ni Ken Larasati. Ia adalah anak dari Nyi Sagopi.

“Larasati, sudah berapa lamakah kanda Kakrasana bertapa di Argaliman, Larasati?” Kata Bratajaya yang dari tadi diam melamun.

“Sudah sekitar empat puluh hari dan empatpuluh malam putri. Hari inipun seharusnya Kakang Wasi Jaladara pulang ke Widarakandang”

“Begitu sentosanya kakang Wasi Jaladara wadag dan jiwanya. Kesentosaan jiwa dan raga Kakang Wasi Jaladara telah tertempa di Widarakandang sebagai seorang petani dan kesentausaan jiwanya  karena olah tapa di Argaliman, adalah bekal yang teramat berharga bila nanti menggantikan rama Prabu Basudewa setelah surut kelak.’”  Demikian keduanya saling berbicara mengenai keadaan kakak sulungnya dan juga dirinya yang sedang dalam perintah ramandanya, untuk menjalankan tapa ngrame. Sampai kemudian panakawan yang sedang ngamen datang di depan rumah, sambil memainkan peralatan sederhana mereka.

“Larasati, siapakah mereka yang datang itu?” Tanya Bratajaya ketika ia melihat keramaian dihalaman

“Siapa disitu? “ Larasati yang berjalan ke halaman menanya kepada para panakawan yang cengar-cengir mendekat.

“Saya tukang ngamen”

“Amen apa?”

“Semua macam tontonan ada termasuk sulap”. Jawab Petruk

“Berapa ongkos nanggap-nya?”

“Saya yang memutuskan berapa ongkos ngamen. Anak anak itu saya yang ngatur.”  Semar maju mendekat dan menjelaskan.

“Baiklah, kalian saya tanggap”.

Maka mulailah mereka ramai menyanyi dan melagukan tembang-tembang pembuka.

Setelah itu Larasati menanyakan kemampuan lain dari para penakawan. Sekalian juga menanyakan upah untuk mbarang amen seperti yang hendak mereka tampilkan.

“Saya tidak minta upah yang mahal-mahal. Tapi omong-omong yang punya rumah ini sampeyan atau yang sedang duduk itu?”  Kata Semar meminta penjelasan.

“Yang punya rumah itu adalah Dewi Bratajaya”. Jawab Larasati sambil menunjuk ke arah Bratajaya

“Sebaiknya yang memberi perintah yang punya rumah saja”.  Semar meminta.

“Baiklah. Putri silakan memberi perintah para pengamen ini dan minta kesepakatan mengenai ongkos ngamennya”.

“Baiklah Larasati  . . . . . “ Bratajaya memutuskan,” Kalau aku ingin mendengarkan dongeng dan sulapan ongkosnya berapa?”

“Sebetulnya nggak usah pake duit saja putri, saya diberi nasi lengkap dengan lauknya saja. Lauknya apa saja, asal semuanya enak. Tempatkan semua itu di satu tampah besar. Itu sudah cukup”.

“Baiklah, Larasati, ambilkan sesajen yang ada di sanggar pamujan itu, untuk diberikan kepada para pengamen”.

Demikianlah, tontonan mulai digelar, sementara Larasati setelah menyiapkan perlengkapan ongkos kerja, yang kemudian segera menemani Bratajaya mengamati kelucuan tontonan.

Kula miwiti carita

Dongeng wantah minangka ajejampi.

Kinidung ing basa tanggung

Narbuka ing budaya

Tata titi tatane sampun kacakup

Saboboting crita cekak

Dadi sengsem kang mrikasani

Semar memulai unjuk kemampuan dengan sebait kidung. Disusul dengan sulapan yang konyol. Larasati yang melihat kekonyolan itu, menertawakan polah tingkah panakawan dengan sulapannya yang serba amatiran.

Ketika Semar memeragakan sulapan daun kelapa muda yang diubah menjadi seekor ular, kaget dan ketakutan Dewi Bratajaya, yang kemudian pingsan dan diangkat oleh para abdi keruang dalam. Sementara dalam kekalutan suasana itu, anak-anak Semar segera mengemasi semua makanan dan membungkus bersama sehingga menjadi satu tumpukan, malah makanan yang ada dilumuri pasir dan debu oleh Semar. Anak anaknya yang heran dengan perlakuan ayahnya bertanya-tanya, tapi Semar tidak menggubris.

Gembira Pamadi, ketika Semar beserta anak-anaknya telah sampai dihadapannya, yang kemudian bertanya, “Kamu peroleh dari mana makanan itu kakang Semar?”

“Saya dapatkan dari pedukuhan terdekat dari hutan sini. Namanya Pedukuhan Widarakandang. Disitu ada dua wanita cantik yang berdiam di kademangan. Dari situlah kami mendapatkan makanan itu”. Jawab Semar menjelaskan dengan demikian benderang

Nasi beserta lauk itu segera digelar dihadapan Pamadi. Namun begitu melihat ujud nasi yang sudah menyatu dengan lauk bahkan tercampur pasir, timbul kemarahan Pamadi. Tanpa diduga oleh para Panakawan, Pamadi segera menghunus pusaka, dan berjalan cepat malah hampir setengah berlari, mendatangi tempat yang disebutkan oleh Semar.

“Rama, bagaimana ini? Tidak urung tidakanmu mencampur nasi dengan lauk sama pasir itu bakal berakitbat pembunuhan.” Petruk bertanya setengah menyalahkan Semar.

“Coba lihat. Jawab Semar sambil memandang ketiga anak-anaknya, Tadinya momongan kita bergerakpun tidak kuasa, tetepi setelah melihat ujud nasi yuang aku berikan, ternyata ia bisa berdiri bahkan berlari secepat itu. Itu artinya ia sudah tidak lagi lapar”.

“Yang sudah berhenti lapar itu nggak aku pikir, tapi kalau ada peristiwa pembunuhan bagaimana? “Tanya Petruk dengan wajah kawatir.

Tapi Semar tetap senyum saja dan menjawab enteng, “Ya biarkan saja, pasti ada yang berwajib yang menangani. Tapi daripada kita hanya menduga duga, ayoh kita nyatakan apa yang terjadi di Widarakandang nanti”. Tergesa-gesa, para panakawan berlari mengikuti arah Pamade.

Maka Semar dan anak-anaknya menyusul jejak tujuan ke Widarakandang. Gareng berlari terpincang, Petruk berlari tersuruk-suruk. Sedangkan Bagong dan Semar terbirit birit membawa badannya yang kegemukan. Walau sekencang apapun Pamadi berlari, namun ia tersusul oleh para panakawan, karena jelas para panakanawan telah langsung menuju ketempat peristiwa ngamen terjadi.

Berdebaran mereka melihat peristiwa yang tejadi dihadapan mereka, Pamadi sedang menghunus pusakanya berhadapan dengan dua orang wanita, Bratajaya dan Larasati

Gemetar menahan marah, Pamadi bertanya, “Siapakah yang memberiku nasi lewat Kakang Semar Badranaya?”

“Semar Badranaya itu siapa? “Tenang Bratajaya menjawab, sementara Larasati memandang Pamadi ketakutan dibalik punggung Bratajaya.

“Pamomongku yang tadi datang ngamen kesini”. Pamadi memberi penjelasan dengan masih menahan kemarahannya. Sementara Larasari yang telah sadar dengan apa yang terjadi, berlari kedalam rumah mencari pertolongan sambil berteriak

“Terus terang saja, aku yang memberi”. Bratajaya masih bersikap tenang.

“Gegabah dengan Pamade, aku sobek perutmu”. Pamadi yang diliputi kemarahan bergerak maju. Tetapi pada saat bersamaan, keluar dari dalam rumah seorang pemuda bertubuh perkasa dengan kulit yang berwarna merah tembaga dan mempunyai sorot mata yang sangat tajam.

Link pagelaran Wayang Purwa dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?gh7b931vxmhqb16

Ki Asep Sunandar Sunarya – Bambang Jaya Trenggana

Kagarap kana digital ku MasPatikrajaDewaku PPW 11-01-0006

Kerjasama sareng Paguyuban Pecinta Wayang  - Radio Mutiara AM Bandung.

Ieu wayang golek dibantu juru kawih AAn Darwati, Neni Hayati, Wiraswara Iin Subarjah –Dedi Rosada.

Pirigan Seni Sunda Giri Harja II

Linkna aya didieu.

http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/66140/Bambang%20Jaya%20Trenggana

Catatan Prabu : Punteun Kang Aris abdi teu acan ngadangukeun yeuh cariyos, Janteun weh sinopsih engke menyusul.

Brajadenta mBalela-Ki Sugino Siswocarito

Dening MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Makarya sesarengan kaliyan Radio Mutiara AM Bandung)

 

Pasugatan ingkang kepareng kula unggah menika ringgit Banyumasan ingkang katindakaken dening Ki Sugino Siswocarto. Lampahan menika taksih koleksi kaset saking Radio Mutiara AM Bandung. Maturnuwun sepindhah malih kula aturaken dhumateng para pangarsa Radio Mutiara AM Bandung ingkang sampun kesdu paring palilah ngampilaken kaset menika lumantar sumitra kula saking Bandung, Pak Roni Subari . Senajan menika kaset sampun umur watawis 30 tahun kepengker lan track swantenipun taksih mono, nanging mawola-wali kula sebataken, file menika taksih kenging kawastanan taksih sae tumrap upaya nguri-uri kabudayan ringgit purwa mliginpun gagrag Banyumasan. Sakalangkung mligi, ringgit purwa ingkang katindakaken dening dhalang ingkang dados panutan, tumraping panggungan gagrag Banyumasan, Ki Sugino Siswocarito.

Saksampunipun asil convert digital sawatawis kula simpen lan nengga wekdal kaunggah ing wayangprabu.com, ndilalah ingkang siap tayang kanthi laju bit 128Kbps kados biyasanipun, mboten saged kaunggah amargi perangkat komputer wonten nggriya crash.

Untungipun, menika khas tiyang Jawi, senajanta crash nanging taksih untung, file ingkang kula simpen alit-alit laju bit-ipun taksih kula simpen wonten ing external hard disc. Mila inggih mboten wonten pilihan, file ingkang wujudipun file mini menika ingkang kula aturaken kaliyan para pandhemen ringgit, mliginipun ringgit purwa gagrak mBanyumasan saking Ki Sugino.

Senajanta mekaten wonten watawis lampahan inggih menika Anoman Obong-Ki Sugino, Semar mBangun Kahyangan-Ki Sugino, Antasena Takon Rama-Ki Sugino, Pergiwa Ratu-Ki Anom Suroto lan sawatawis lampahan wayang kulit lan wayang golek malih kedah dipun ambali proses konvert-ipun menawi files mboten saged kapulihaken mangke.

Dene cariyos Brajadenta mBalelo menika keleresan kados sampun wonten ingkang request nalika semanten, saking salah satunggaling tamu ingkang paring comment wonten ing unggahan ingkang sampun. Mugi mugi, lampahan menika saged damel marem tumraping ingkang sampun nyuwun lampahan menika mliginipun, lan para sutresna wayang Ki Sugino umumipun.

Lampahan Brajadenta mBalela menika kawiwitan jejeran ing negari Pringgandani, ngrembag bab

sampun tigang pisowanan dene Brajadenta mboten marak seba. Mila Prabu Anom Gathutkaca nyuwun pamanggih kaliyan Raden Brajamusti.

Mboten nami Raden Brajamusti tumbak cucukan, dene Raden Brajamusti matur walaka, namung aturipun menika amargi anjagi karahayuning praja. Amargi kadang Braja menika dados saka guruning kekiyatan Pringgandani.

Aturipun Raden Brajamusti dhumateng ingkang pulunan, Raden Gathutkaca, bilih Dewi Pandhansari, garwanipun Raden Brajadenta, menika ingkang yektosipun dados tuk sumbering tumindakipun Raden Brajadenta ingkang tindak ngraman, mbalela, mbondhan tanpa ratu, mirong kampuh jingga.

Dewi Pandhansari mboten rena menawi namung dados garwanipun Adipati ing Glagah Tinunu.

Senajana makaten, Raden Gathutkaca ingkang mangertos larah larahipun dene Brajadenta nindakaken kraman, malah yektos badhe paring kalenggahan Praja Pringgandani dhumateng ingkang paman, Brajadenta, kanthi  lila legawa.

Nanging Raden Brajamusti mboten sarujuk, lajeng mijangaken larah-larahing kadang Braja

mboten kenging nglungsuri kalenggahanipun ingkang rama Prabu Trembuku. Saterasipun Praja Pringgandani kedah kebawah keprentah dening turuning wiji luhur. Prastawa menika kawijangake dening Raden Brajamusti, wontening lampahan ingkang kasebat Arjuna Liyep. Selajengipun ugi ngengeti bilih Negari Pringgandani sampun kedunungan boyongan wujuding manungsa saking manca ingkang dedunung ing salebeting praja, temah Praja Pringgendani dados negari ingkang reja.

Raden Brajamusti lajeng dipun paringi purbawasesa kapurih ngarih-arih ingkang raka Raden Brajadenta, supados lerem anggenipun madeg ngraman. Dene  iguh pertikel kados pundi anggenipun paring wewarah kasumanggaaken, ingkang wigati ing mangke sampun ngantos andadosaken daredah lan pasulayan.

Saksampunipun Raden Brajamusti bidhal dhateng ing Kasatriyan Glagah Tinunu, Raden Gathutkaca kadunungan raos ingkang tidha-tidha. Amargi mangertosi bilih watak wantunipun para kadang Braja menika gampil mulad menawi kecenthok ing tembung sora. Lajeng Raden Gathutkaca jengkar anjampangi lampahipun Raden Brajamusti lan Brajawikalpa.

Kocap kacarita nalika semanten Raden Brajadenta saweg kaadhep dening punakawan Togog lan Sarahita. Raden Brajadenta nyuwun aturipun Ki Tejamantri larah larahipun dene ingkang rama, Prabu Trembuku maringaken negari Pringgandani dhumateng ingkang wayah Raden Gathutkaca. Lajeng konsultan para sabrang menika negesaken tembung warisan lan warasan. Puntoning rembug, Togog malah dipun jempalani kaliyan Raden Brajadenta amargi mboten narimah kaliyan aturipun Togog lan mboten ndadosaken rena ing penggalihipun Raden Brajadenta.

Leres pandhuganipun Raden Gathutkaca, Raden Brajadenta lan kadangipun anem sami bandayuda pungkasanipun, saksampunipun rembag sarana aris mboten saged angrampungi damel. Pancakara rame andadosaken kadang Braja sami nglumabarah. Raden Gathutkaca ingkang lajeng nyepeng pedhang Sukayana kagunganpun Raden Brajadenta lan badhe kawangsulaken dateng ingkang paman, kawastanan bilih plunanipun badhe nyirnakaken Raden Brajadenta. Rumaos ajrih, Raden Brajadenta lumajar keplayu anggendring kininten menawi badhe kapejahan.

Plajaripun Raden Brajadenta lajeng kacemplung ing Sumur-upas wonten ing tlatah Pasetran Gandamayit. Dene Raden Gathutkaca ingkang nginten menawi ingkang paman sirna, lajeng getun kepara malah nandang raga rikala sampun kondur dhateng Praja Pringgendani.

Lampahan malembar dumugi Negari Ngastina, amargi ing mriku Dewi Banowati kacidra asmara dening Raden Gathutkaca tiron lajeng Sang Prabu Duryudana utusan Pendita Durna kinen paring lapuran kaliyan para kadang Pandhawa kapurih ngrangket Raden Gathutkaca ingkang tindak culika.

Sanalika kebranang raosipun Raden Werkudara lan Raden Arjuna mireng palapuranipun Pandhita Durna. Kalih-kalihipun satriya Pandawa tanpa pamit nilar pasewakan kanthi pamrih ingkang benten.

Kados pundi ramenipun Ki Sugino anggenipun nggancaraken lampahan Brajadenta mBalela? Para rawuh ing wayangprabu.com kula aturi ngundhuh file ingkang senajanta alit alit, nanging tumrap kula, menika dereng ndadosaken degradasi saking aslinipun ingkang wujud kaset.

 

Menika link-ipun:    http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/67609/Brajadenta_mBalela

Ki Anom Surata – Gara-Gara

Kados dene ingkang kagiyaraken wonten ing Radio Kayumanis 99.5FM Jakarta.

Dening MasPatikrajaDewaku – PPW 11-01-0006.

Ingkang kula aturaken menika, pasugatan adegan gara-gara saking Ki Anom Suroto ingkang kapanggungaken ing tlatah Marakash Square Bekasi tahun 2011. Nalika semanten salah satunggaling Paguyuban Ageng Sutresna Kesenian Jawi ing wilayah Bekasi nggelar Ki Anom Suroto wonten ing acara ambal warsa Perusahaan ingkang pangarsanipun kalebet ing jajaran pangarsa paguyuban.

Para rawuh ing “wayangprabu.com” saged mbadhingaken kados pundi bentenipun pagelaran Ki Anom Suroto nalikanipun taksih asring rekaman kaset audio ing tahun 80nan, manawi katandhing kaliyan kados pundi gaya panggung ing tahun-tahun samenika. Nyata menawi Ki Anom keli ing jaman. Ujaripun, nuting jaman kelakone, kados dene ingkang dipun ngendikaaken piyambak nalika ngacarani (dados MC) Mas Seno anggenipun ngaturaken bawa Kangen.

Gebyar lan moncering panggung lan mbalabaring para pamriksa nalika samanten nyata, menawi swasana tumut nyurung Ki Dhalang nguja para rawuh, ing babagan Mata Raga, istilah saking Mas Bram, ingkang kula anggep trep.

Lampahan ingkang kagelar inggih menika Brajadenta mBalela ingkang kula anggep lampahan panjang. Ing mriki panjangipun pagelaran saking talu dumugi tancep kayon watawis 7,5 jam. Nanging ingkang sesambetan kaliyan alur lampahan pakeliran namung watawis 4 jam! Lha ingkang 3,5 jam menika adegan menapa? Mboten sanes adegan Limbukan lan Gara-gara!

Mila menawi panjenengan sengsem kaliyan pagelaran garap klasik, utawi panjenengan ingkang kangen kaliyan garap ndalang saking Ki Anom Suroto ingkang nguja mata batin kados patrapipun Ki Anom nalika tahun-tahun semanten, panjenengan mesthi ngraos kuciwa.

Wondene para rawuh ingkang kepingin mangertosi kados pundi garap gara-gara ingkang kagelar “nut ing jaman kelakone” menika, para rawuh kula aturi migatosaken, kados pundi kiprahipun Ki Anom Suroto anggenipun nglampahaken segment gara-gara menika..

Suluk pratandha pathet sanga ingkang kagarap ngelik mbuka segment menika. Cakepan Pathet Sanga ingkang kagarap dening Ki Anom Suroto lan kadang miwah putra keluwarga Anom Suroto menawi kagatosakan, wonten bentenipun ing kalimat tis-tis sunya tengah wengi, lumrang gandaning puspita lsp, ingkang biasanipun kathah para dhalang ngucap titi sunya tengah wengi, lumrang gandaning puspita. Miturut kula cakepan saking Ki Anom menika malah cakepan baku, ingkang werdinipun anyesing hawa ing tengahing dalu ingkang kaworan ing sumarebak gandaning sesekaran. Nanging menawi Titi sunya tengah wengi lsp, anggambaraken wanci tengahing dalu lan sapiturutipun. Suluk pathet sanga lajeng katerasaken lagon Petismanis.

Sasampunipun janturan sawetawis ingkang anggambarake swasana tengahing ndalu, lajeng kasambet sulukan pathet sanga wantah ingkang cakepanipun

Dhedhep tidhem prabawaning ratri,

sasadara wus manjer kawuryan,

tan kuciwa memanise,

menggep srinateng ndalu,

siniwaka sanggya pra dasih

aglar ing cakrawala

tinulad anglangut

parandene paksa kebegan,

saking kehing  taranggana kang sumiwi,

warata tanpa sela.

Sampak tanggung lajeng kaseseg lan kasambet srepeg Mataraman nyamleng karaos katambahan ing ciblonan kendhang kesit ndudut ati. Saksuwukipun gendhing lajeng Petruk ngudarasa kawontenan sosial politik ingkang tumama ing nagri ingkang nami Indonesia. Ngudaraos kados dene icalipun toleransi, arogansi kelompok, pejabat lan tokoh masyarakat ingkang hipokrit, lan rakyat ingkang gampil dipun provokasi lspt. Ledhok ilining banyu ujaripun Ki Anom, menika namung wonten ing bab lirwanipun warga nagari kaliyan welinginpun Bung Karno, mboten konsekwenipun anggenipun nindakaken ajaran sila sila ing Pancasila. Lan malih secara agama kathah ingkang nilaraken ajaran Panca Susila.

Rampung ngudarasa, Petruk tetembangan mBok ya Mesem, Semar lan anak-anakipun rerembagan bab Wali Sanga ingkang nyebar agami Islam lumantar gelar wayang sak gamelanipun, kalebet cipta-karyanipun Sunan Kalijaga ingkang wujud gendhing lan tokoh Panakawan.

Ing mriki Ki Anom mijangaken karya Sunan Kalijaga ingkang awujud gendhing Petalon Pitu sesambetanipun kaliyan proses jejodhohan mliginipun perkawis karonsih. Ugi mijangaken othak athik mathuk nami Semar saanakipun lan malih nama-nama tokoh Pandhawa dipun gathukaken kaliyan kalimat saking bahasa Arab. Senajanta kapireng meksa, nanging inggih masa borong.

Wosing rembag, Agama Islam dateng ing tanah Jawi menika sanes nuju ing papan ingkang suwung awang uwung. Ing tanah Jawi sampun wonten kapercayan ingkang Ki Anom ngwastani animisme lan dinamisme. Ning menawi kula langkung trep nyebut kapercayan ingkang laras kaliyan alam Jawi, mbok bilih ingkang kasebat kearifan lokal.

Mila saking menika, Sunan Kalijaga lajeng madeg dhalang, laras kaliyan karemanipun warga Jawi nalika semanten. Kanthi pagelaran menika Kangjeng sunan ngudhar piwulanging agami enggal lan ngrembakaaken agama Islam ing tanah Jawi. Mila ing pungkasanipun rembag, Ki Anom Suroto rumaos cuwa menawi wonten umat Islam ingkang nganggep wayang menika barang ingkang haram. Penulis taksih kengetan nalika wonten pawartos ing kompas.com, menawi ing tlatah Solo wonten pembubaran paksa pagelaran wayang, lan penghancuran patung-patung tokoh wayang ing tlatah Purwakarta, ingkang katindakaken dening oknum ingkang ngangge busana ala wali. Miris!!

Saksampunipun rerembagan Kyai Semar lajeng minggah ing papan pasucen, lajeng Ki Dhalang lumantar anak-anakipun Kyai Semar, lajeng melahi nggelar lelagon pilihan pendengar ngiras dados Master of Ceremony.

Pesindhen cacah gangsal lajeng dipun aturi unjuk olah swara. Para pesindhen inggih menika Nyi Kamiyatin, Nyi Darsini, Nyi Rusyati, Nyi Yanti lan Nyi Tumpuk mbaka setunggal tampil.

mBak Yanti, mbikak pilihan pendengar, kanthi ngasta bawa Sinom cengkok grandhel. Satunggaling bawa ingkang sanget asring kita pirengaken wonten ing pagelaran gara-gara ringgitan ing dinten dinten samenika.

Dominasi Nyi Tumpuk kadosipun dipun sengaja ka-expose wonten adegan gara-gara menika. Patrapipun Nyi Tumpuk ingkang “cowag” kaarah saged men-trigger swasana supados langkung gebyar. Dialog vulgar antawisipun Nyi Tumpuk kaliyan Ki Dhalang kadhang nggladrah, nanging untungipun  menawi sampun radi kedlarung Ki Anom kadhang mboten nanggapi. Kadosipun Ki Anom Suroto sadhar, menawi sampun senior lan gelar haji ing ngajengipun nami saged nyandhet lekohipun mBak Tumpuk ingkang matumpa-tumpa.

Bawa lan lelagon saking para pesindhen lan tamu kapungkasan lagon Adu Semu lan Sambel Kemangi.

Audio kompresi menika kula sengaja kaalitanken amargi noisipun lumayan inggil saking ewuhipun anggenipun ngatur gain receiver nalika ngrekam. Senajana mekaten kualitas asil kompresi mbokmenawi namung medhak mboten patos kathah. Menika malah kepara paring lapuran katuju Radio Kayumanis – Tangsel, bilih ing Bekasi, Radio Kayumanis inggih rata-rata namung kados mekaten kualitas receiving-ipun. Tebih  katandhing kalihan nalika taksih wonten ing Jl Kayumanis – Jakarta Timur. Malah ing akhir tahun 2011 ngantos ing wekdal samenika, siaran Radio Kayumanis sampun ka-interference dening radio lokal Bekasi ingkang manggen wonten frekuensi 95.3MHz.

Radio Kayumanis /sembelen puluh sembilan koma lima FM /. . . . .  eh salah . . . .  Radio Kayumanis/ sangangdasa sanga koma gangsal FM/ ngaturaken giyaran ringgit purwa/ kanthi lampahan Banjaran Limbuk lan Petruk . . . . . . . .

http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/67705/Gara-Gar_KAS

Ki Kondho Murdiyat – Bondhan Paksa Jandhu

Oleh: MasPatikrajaDewaku – PPW 11-01-0006

Kerjasama antara Radio Mutiara Bandung dengan Paguyuban Pecinta Wayang.

Pada sampul kaset Bondan Paksa Jandhu tertulis, dalang adalah Ki Kondho Murdi. Saya sampai menanyakan ke Pak Ali Mustofa, apakah beliau yang bernama Ki Kondho Murdiyat? Juga dituliskan   “Wayang Kulonan”, mungkin yang dimaksud disini adalah wayang yang hidup secara geografis di Jawa – Timur, tetapi secara gagrak pagelarannya berkiblat ke Jawa – Tengah. Dan ternyata memang benar, Ki Kondho Murdiyat ini sangat bergaya Surakarta. Bahkan terdengar kombangan suluknya sangat dekat gaya olah vocalnya dengan Ki Nartosabdo.

Ciri yang menegaskan Jawa – Timur, adalah suara keprak dan dialog slenk Madiunan, yang sesekali muncul pada dialog tokoh-tokohnya.

Cerita ini sendiri mengisahkan ketika Wrekudara diakali oleh para Kurawa, hingga disangka oleh Kurawa, bahwa Wrekudara telah tewas. Padahal Werkudara telah ditolong oleh Badawang Ananala dan dikawinkan dengan Putri Sang Hyang Baruna, yang bernama Dewi Urangayu. Dari perkawinan ini, Werkudara dikaruniai anak bernama Antasena.

Untuk menuntaskan pekerjaan membasmi Pandhawa, Kurawa memanggil Puntadewa ke Negara Astina, untuk kembali di-“apus krama”, dengan alasan Puntadewa harus datang menyaksikan Wrekudara yang akan diwisuda menjadi raja di Astina.

Adipati Karna yang diutus oleh Prabu Duryudana, mendapat tentangan dari Gathutkaca. Walau tidak mendapat restu dari uwaknya, Prabu Puntadewa, atas dukungan dari Patih Tambak Ganggeng, Gathutkaca kukuh melawan Adipati Karna. Namun demikian Prabu Puntadewa menyalahkan Gathutkaca, dan meminta Gathutkaca untuk meminta maaf. Puntadewa-pun tidak keberatan untuk pergi ke Astina, memenuhi panggilan anak uwaknya itu.

Rencana Duryudana berantakan ketika Arjuna yang diberitahu Naradda akan terjadinya masalah terhadap Puntadewa, ikut-ikutan pergi ke Astina dan mengamuk. Duryudana tidak mampu menandingi Arjuna yang dijampangi Naradda,  hingga ia memerintahkan istrinya, Banuwati, untuk memadamkan amarah Arjuna. Bahkan Duryudana memerintahkan Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna.

Akhirnya Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna, salah satunya adalah mendirikan Pasar Anyar. Kecuali dipertemukannya Arjuna dengan kekasih lamanya, Banuwati, lakon ini juga terdapat pertemuan dua kekasih yang juga tak pernah kesampaian bersatu, Dursilawati dan Arjuna.

Bagaimana piawainya Ki Kondho Murdiyat memainkan cerita ini? Terus siapa dan apa peran Bondhan Paksa Jandhu dalam konflik Kurawa-Pandhawa?

Kami persilakan anda mengundhuh lakon Bandhon Paksa Jandhu. Pagelaran wayang dengan Dalang dari wilayah Jawa Timur, yang dihiasi tentunya dengan gendhing-gendhing Panaragan dan Banyuwangen.

Audio ini direkam bukan di studio, melainkan pada pagelaran live hajatan. Keramaian suasana tontonan rakyat begitu riuh, terutama pada waktu awal pagelaranlah, yang menandakan keadaan rekaman tersebut. Suasana riuh yang ditingkahi suara balon mainan anak anak ini, malah membuat hidup pakeliran. Menjadikannya penulis ingat akan suasana wayangan di kampung ketika jaman semana.

Walau pagelaran live dari tempat hajatan, keseimbangan dan pemerataan tata suara masing masing instrumen gamelan tergolong baik. Demikian juga rekaman-nya yang mono tidak menjadikan suguhan ini merosot secara kualitas.

Pagelaran lakon Bondhan Paksa Jandhu ini digarap sangat klasik. Plot cerita pakeliran jangkep, lumayan masih begitu di-ugemi oleh Ki Kondho Murdiyat. Jejeran kemudian disusul dengan kedhatonan, kemudian bidhalan, kemudian jejer sabrang walau itu jejeran Amarta.

Perang gagal disambung dengan adegan kesatriyan atau alas. Disinilah letak dalamnya wayang klasik. Tanpa gara-gara, sebagaimana pagelaran wayang jaman tahun 60an. Pagelaran tanpa gara-gara juga sering kita temukan pada beberapa lakon karya Ki Nartasabdo.

Tidak ketinggalan adalah perang kembang antara Arjuna dan Cakil dengan seribu namanya. Perang kembang, yang merupakan adegan yang sering ditinggalkan oleh banyak dalang masa sekarang karena mungkin dianggap rutin, terlalu biasa dan membosankan. Padahal bila ada ditangan dalang yang mandiri, tanpa harus dibantu oleh bintang tamu, pasti bisa mengolah adegan ini sehingga bisa menjadikan lebih hidupnya pakeliran lebih dari adegan limbukan.

Adegan dengan lancar hingga babak perang brubuh, tetapi tanpa diakhiri dengan tayungan. Diakhir pagelaran terdapat pamuji, seperti yang sering saya dengar sewaktu orang menganggap wayang di jaman dahulu, dengan permohonan Ki Dhalang terhadap Tuhan, kurang lebihnya sebagai berikut : Nalika semana pagelaran kang kinarya tepa palupi lampahaning Pandhawa – Kurawa( wus meh paripurna). Sing ala katut banyu mili barat lisus. kang becik kawasa nuntun ing kasampurnaning gegayuhan. Keluwarganing praja kang marsudi mrih kasembadaning sedya kapetung kaluwarga kang kawengku ing Praja Cintakapura, keluwarganing Prabu Puntadewa kang nama xxxx (yang menanggap wayang). Kasembadaning sedya anggenipun xxxxxxx (sebab yang menanggap wayang telah meramaikan pestanya dengan wayangan) antuk pangayomaning kang murbeng gesang lantaran pagelaran wayang kang wus kaleksanan lsp . . . . Juga dipuji doakan keselamatan terhadap para penonton, dan semua crew pagelaran.

Inilah sebenarnya esensi dari wayangan dengan segala ubarampe dan uparengga yang menjadi ciri yang menyiratkan serenity padesaan Jawa, yang mindset-nya manusianya saat itu masih begitu dipenuhi oleh ajaran yang selaras dengan damainya lingkungan alam.

Link undhuh ada di:

http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/65625/Bondhan%20Paksa%20Jandhu

Ki Sugino Siswocarito – Wisanggeni Murca

Digitalized by MasPatikrajaDewaku.

Makarya bareng karo Radio Mutiara AM Bandung

Lha kiye inyong teka maning. Sekiye lakon sing tek unggah lakon ana gegayutane karo Wisanggeni. Mesthine para rawuh neng “wayangprabu” mligine wong penginyongan pada ngarep arep sebab angger Dalang Gino nyuwarakena Wisanggeni jan cocog banget karo selerane wong penginyongan padha. Sebab kiye mung audio, dadi ya wis klop banget denggo ngayalena kepriwe sosok Wisanggeni angger dirungu suarane lewat Dhalange sing jan timbrene serak serak. Angger ana gambare, jane sih tambah seneng maning angger weruh aglang-eglenge Antasena. Jan klop banget angger Antasena ketemu karo Wisanggeni. Sayange, tokoh Wisanggeni neng lakon kiye jan mung kocap thok.

Lah ngomongena lakon kiye, sing judhule Wisanggeni murca. Murca maring ngendi ya kang? Terus kepriwe gegeyutane karo Gatutkaca, Dewi Suryawati lan Dewi Galawati? Tek critani disit sarwa sethithik denggo pengantar donlot kiye.

Kocapa neng Neng Negara Petapralaya, ana ratu sing jejuluk Darma Radeya utawa Darma Dewa. Lah sapa maning kiye. Sing ngadhep neng ngarsane Sang Prabu sing lagi nganakena pasowanan, ora kejaba putrane sing aran Raden Surya Kesuma lan Patih Jayasaraba.

Nalika semana Prabu Darma Radeya lagi sungkawa, awit putrane sing aran Dewi Suyawati nuju dadi kembang lambe, dilamar dening ratu selawe negara. Ana maning sing dadi pikirane, senajan bungahe kayangapa, angger para ratu akeh sing seneng karo putrane, tapi angger jenenge wong wadon, ora nana jamake ngewayuh kakung. Apa maning angger mikirena pengincim incim sekang para raja sing angger ora bisa bisa nggayuh Dewi Suryawati, bakal gawe karangabang ngrusak negara Petaperlaya.

Lewih sedhih maning rawuhe Pendita Drona, sing nambah “daftar panjang” daftar penglamar Dewi Suryawati. Mesthine tekane Drona tumrape penonton sih jan marahena nyengit, tapine gawe ger-geran. Sekang putege Prabu Darma Radeya, Pendita Drona karo Adipati Karna dikon ketemu dewek karo Dewi Suryawati, apa gelem diboyong karo Pendita Drona maring Negara Ngastina dadi sisihane Raden Lesmana Mandrakumara.

Tapi tankocapa, bareng teka maring keputren, neng kono ana Antareja sing main tembak langsung alias “shortcut” mlebu maring petamanan njedhul lewat bumi. Antareja duwe karep sing padha, arep mboyong Suryawati. Antareja ngajak Dewi Suyawati bali maring Sumurupas, ora usah nganggo matur maring ramane.

Suryawati sing ora kepareng melu, mlayu diuber karo Antereja, kepapag karo Adipati Karna. Sulaya rembug dadi peperangan. Lagi Adipati Karna ngunus Kunta Druwasa arep merjaya Antareja, Raden Antasena njedhul nyandhak Antereja mundur.

Apa maning kiye jajal kang, kenangapa Antareja ketemu karo Antasena neng petamanan Petaperlaya. Jan jane kiye loro-lorone anak Werkudara, anu pada diutus karo ramane, kon padha nggoleti ilange Raden Gathutkaca. Koh jebule pada pating bedhengus neng kene sih ya? Raden Antareja blaka angger dheweke kepengin nggarwa Dewi Suryawati. Rembuge kepriwe? Mangga digatekena neng bagiyan 4A.

Senajana kaya kuwe, Antasena sing ngerti angger patrape Adipati Karna sing ngumbar senjata Konta kuwe jane nyalahi empan papan.  Mulane Antasena sing temandang ngadhepi kridhane Adipati Kana. Lepase Kunta Druwasa ditampani karo Antasena, ora papa, malah senjata Kunta dibuang karo Antasena. Lagi Drona arep maju, dipisah karo Pati Jayasaraba. Loro-lorone pihak ditimbali karo Prabu Darma radeya. Wose Dewi Suryawati nyuwun kudangan wujud jago kate mas sing bisa kluruk unine Jagad Dewa ya Bethara. Lha kiye sih! Sing duwe jago kate sing kluruke Jagad Dewa Bethara ora nana liya kejaba Drona dhewek. Jere!

Kepriwe terusane kang? Kepriwe “hubungane” karo Gathutkaca sing lagi tapa neng alas Mandhalasraya detunggoni karo kewan sing wujud sardula. Apa ana “hubungane” Gathutkaca karo sing jeneng Dewi Suyawati lan Dewi Galawati.

Terus apa maning sambung rapete antara jago kate sing kluruke Jagad Dewa ya Bathara karo Wisanggeni?

Angger wis ana sing ngerti ya sukur. Tapi kayangapa-a angger Kaki Gino gole mayangena lakon Wisanggeni Murca, kayane njenengan rugi angger ora migatekena kewasisane. Tela angger crita wayang, kayane ending-e si akeh sing wis ngerti. Tapi jan-jane wayang kuwe bisa ndadekena kenikmatan batin angger inyong sampeyan pada migatekena gendhinge, ya suluke, lekak lekuke suara sindhene lan sepiturute. Malah jere kang Kang Tohirin, krungru kecreke Dalang Gino be jan rasane anu marem banget.

Mulane ora aneh angger akeh sedulur kita sing angel degiring sekang bab kecrek utawa keprak utawa kepyak kebiasaane ngrungokena wayang. Ana sedulur sing angger ora nganggo kepyak sing suarane thing thing thing  . . . . . .  ya trima ora nonton apa ngrungokena wayange. Senajana suara thing thing decampur karo crek crek senajana mung semendhing bae, anu terus ana sing ngilari. Jere ora murni maning. Ora karuwan rasane.

Tapi tumrape inyong sih ya kang, arepa keprak suara thing thing (ora nganggo Ayu) apa suara crek crek, esih bae dearani wayang. Dadi tetep dadi kekareman. Paribasane panganan, arepa gudheg, sega liwet, sroto-mendhoan (matur nuwun mendhoane kang Budi Susilo) malah keredhok ya inyong ora ngilari. Akeh sing bisa dinikmati, akeh uga aneka rupa asupan gizi (jiwa) sing mlebu ngawak denggo nguwati jiwa-raga. Nggih napa nggih? Nggiiiih . . . . . .

Mangga dirahabi wayangan Banyumasan niki. Link-e kang? kiye ora kelalen koh inyong:  http://www.mediafire.com/?vs7adscxwksff

Gatotkaca Krama – Ki Asep Sunandar Sunarya

Kerjasama antawisna PPW jeung Radio Mutiara AM Bandung

Kagarap kana digital ku MasPatikrajaDewaku – PPW011-1-0006

Wilujeng Tahun Enggal 2012 nya baraya sadayana. Awal tahun ieu, abdi bade ngahaturkeun Wayang Golek ti wayangprabu.com, nyarioskeun Gatotkaca Krama.

Ieu lakon nyarioskeun anu halangan nuju Gatotkaca bade kawin jeung Pergiwa.

Kocap kacarita ti Kasatriaan Madukara,  Dipati Arjuna ngabatalkeun pertikahanana Gatotkaca ka Dewi Pergiwa kualatan nampa wangsiting Dewa anu netelahkeun yen pertikahan Gatotkaca jeung Dewi Pergiwa teh bakal sangar.

Narima kaputusan ti Arjuna, kitu teh Bima kacida ambekeunana ka Gatotkaca, sabab pamikirna moal pati-pati Dewa mere wawangsit lamun Gatotkaca teu boga salah, antukna mah Gatotkaca teh disiksa dikaya-kaya.

Lantaran ngrasa era ku balanea jeung kerasa nyeri hate dipegatkeun kacintana ka Dewi Pergiwa katambah deui ku meunang paniksa tinu jada bapa, tungtungna mah Gatotkaca teh putus asa . . .

Sabeda neunggar-neunggarkeun maneh kana cadas nu teuas, terus Gatotkaca nyabut keris Gagak Rancang tuluy ditubleskeun kana awakna. Teu sakara-kara Gatotkaca teh terusna mah ngan . . . . . . . eeeh kumaha nya terasna . . . . . ? Mangga ah bandungan bae sagemblengan ieu lakon Gatotkaca Krama garapan Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya

Ieu pagelaran wayang golek teh, juru kawihna Aan Darwati jeung Nani Hayati. Wira Swara Iin Subarjah, Dedi Rosida. Pirigan Giri Harja III. Juru titena saha MasPatikraja?  Teu aya sanes  . . . .Akang Kustyara kituh.

Mangga diunduh atuh akang . . . . tong era-era nya’ . . . . .

Hatur nuhun oge kanggo Akang Roni Subari nu parantos masihan ieu kaset ti Radio Mutiara nepi ka panangan abdi, janten tiyasa dikonvert ka format digital

Ieu link kanggo ngunduh: http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/65971/Gatotkaca%20Krama

Mendung Diatas Mandaraka [5]

Yang Gundah Terbeban Serapah.

by MasPatikrajaDewaku 

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.

“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”.

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”.

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil

“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.

“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”.

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.

“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.

“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berarti macan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”.

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”. Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.”

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.”

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:

Mengertilah, sesungguhnya

manusia hidup didunia itu

hanya seperti (orang) mampir minum

umpama burung terbang, lepas dari kurungannya

dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.

umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur

tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)

Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang

Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//

Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//

Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .

Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

 

Diriku yang benar-benar setia

dari dulu hingga kini

seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

 

Dirimulah pengayomanku

lahir dan batin tumbuh menjadi nyata

tapi agaknya andika kurang berkenan.

 

Saksi akan tanda-tanda itu

walau seberat apapun

jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

 

Semoga mendapat berkah dari tuhan

andika selalulah dapat mengatasi

Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.

Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.

Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat

agawe rujiting galih

‘rerepa kang sinedya

upama mundhuta rukmi,

Tartamtu tak turuti

ibarat wong numpak prau

lumampah tanpa welah

neng madyaning jalanidi,

temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

 

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian, “Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan. “Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngisep sepuhing supana

mrih pana pranawa_ ing kapti

Tistis ing tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh tyas kasubratan

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus. Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi; walau ditepi samudra sekalipun. Tetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

Link pagelaran dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan kisah diatas:

http://www.mediafire.com/?f4xq7e74ndk3vig

Ki Warseno Slenk – Antasena Takon Bapa

Oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW – 11-01-0006)                               

Kerjasama dengan Radio Mutiara Bandung

Setidaknya ada  tiga alasan ketika pertama kali saya akan membagikan pagelaran dari dalang muda ini.

Alasan pertama adalah, dalangnya sendiri. Ki Warseno Slenk. Nama yang ngepop. Mungkin dalang dengan gelar insinyur ini mendedikasikan pagelarannya, umumnya buat anak muda. Hal ini terlihat dari nama slenk yang memang pada saat itu Group Band Slenk sedang naik daun. Juga gaya selengehan-nya pada adegan santai yang dinilai agak kebablasan waktu itu.

Sebenarnya gaya panggung yang slengehan dalam lakon ini masih pada taraf ditolerir bila dibandingkan dengan yang terjadi pada saat sekarang. Limbukan yang saat rekaman dilakukan oleh Ki Warseno Slenk (dengan gaya yang slengehannya waktu itu) masih belum nggladrah banget. Atau mungkin bisa dikatakan belum pada taraf menjadi lakon “Banjaran Limbuk dan Petruk”, yang sedang trend saat ini. Tapi dari semuanya yang telah saya amati sambil mendigitalisasi kaset analog dari dalang muda ini, sebenarnya Ki Warseno ini punya potensi besar untuk mampu mendalang secara serius, atau bergaya klasik.

Secara gaya mendalangnya, Ki Warseno ini sepertinya hendak mencari jati diri agar tidak berimpit dengan segment audience dari saudaranya yang terlebih dahulu mapan. Maka tidak heran bahwa adik dari Ki Anom Suroto ini “bermain” dalam segmentasi yang berbeda dengan sang kakak. Mungkin anggapan beliau, bila ditinjau dari segi komersial, maka keduanya tidak akan bentrok dengan “dagangan” yang segmentnya sama.  Atau dengan kata lain, masing masing mempunyai “diferensiasi” sendiri-sendiri. Sebabnya adalah, bila dicermati secara vocal, timbre suara dan gaya pedalangannya, Ki Warseno ini adalah tipikal kembaran dari sang kakak.

Satu kreasi positif Ki Warseno adalah olah karawitannya. Olah gending iringan yang menyatu dalam pagelaran-nya membanggakan. Ia berani mendobrak kebiasaan yang pakem. Misalnya jejer Astina yang umumnya dengan iringan Gending Kabor, tapi beliau mengiringi jejer itu dengan sanggit gendhing yang berbeda. Dinamis!! Dinamisnya iringan gending jejeran menggantikan suasana monoton ketika menonton/mendengarkan wayangan ini. Hal ini juga terjadi pada beberapa adegan lagi

Demikian juga dalam hal janturan. Ki Warseno tidak teguh memegang janturan (narasi) standard yang seringkali diucapkan tanpa mengenal siapa atau negara mana yang dijantur. Tetapi beliau menggambarkan dengan cakepan janturan yang berbeda antara, misalnya, jejeran Astina dengan raja yang korup dan negara yang tergolong negara gagal, dibandingkan dengan janturan untuk negara nDwarawati, yang mempunyai raja bawa leksana dan negara loh jinawi, kerta lan raharja.

Kemudian yang saya kagumi dari dalang ini, kecuali suluknya yang kung dengan cakepan yang tidak pasaran dan tidak perlu diceritakan lagi, juga sastra dalam menceritakan keberadaan seorang tokoh atau suasana dengan persajakan (jw. purwakanthi).

Dalam lakon ini banyak adegan dengan narasi persajakan. Misalnya dalam adegan Dewi Banuwati, yang diceritakan kurang lebih seperti ini:

Dewi Banuwati wis kondhang kaloka ayune sesigar jagad, gedhe dhuwur ora kliwat, pakulitan kuning tanpa cacat, yen mesem esmu angujiwat, sapa diesemi mesthi ora kuwat. Mula nadyan larang meksa diangkat, minimal kudu eketan papat  (ketoke sing iki wis ora mekakat).

Dhasar rambut ireng tanpa disemir, netra mblalak irunge mbangir. Lambe abang ginaris pinggir. Lelewani agawe gingsir, sing ora jejeg imane malah klakon bisa kenthir.

Untu cilik miji timun, janggut nyathis kaya winangun. Payudara agawe gumun, sapa nyawang meksa ngalamun, wekasane golek dhukun, karepe dimen kayungyun, jebul mung tiwas urun. Nanging banda entek wekasane turu neng setasiun, dst.

Kurang lebih seperti ini artinya:

Dewi Banuwati terkenal cantiknya setengah jagad, sosoknya sedang, kulitnya kuning tanpa cacat, kalau tersenyum agak menggoda, siapapun yang disenyumi tidak kuat. Maka walaupun mahal tetap saja “dibeli”.

Rambutnya hitam tanpa disemir, matanya berbinar hidungnya mancung. Bibirnya merah bergaris dipinggirnya. Tingkahnya membuat hati tertarik. yang tidak kuat iman bisa menjadi gila.

Gigi teratur bagai biji timun, dagu berbentuk sarang lebah. Payudara membuat orang terheran, membuat siapa yang melihat terus melamun, akhirnya mencari dukun, maksudnya biar ia jadi tertarik. Tidak taunya cuma kehilangan uang, harta habis akhirnya tidur disetasiun.

Dan masih banyak lagi.

Kedua, ini kaset adalah salah satu yang terbaik yang saya pernah temui. Terbaik disini diartikan, keseimbangan tonalnya yang hampir presisi, artinya suara instrumen mendapat porsi gain yang sepadan dalam reproduksi ketika dimainkan ulang. Sedangkan tata suara rekam stereo yang pilah, memungkinkan kita sebagai pendengar seakan masuk dalam kelompok penabuh gamelan. Ini bisa terjadi, bila kita menikmatinya pada posisi apitan speker kiri dan kanan, atau kita mendengarkan lewat headphone. Hal stereo yang pilah ini yang jarang lagi kita dapat lagi pada pagelaran wayang masa sekarang yang kebanyakan mementingkan kuantitas suara yang menggelegar tapi buruk tata suaranya. Padahal efek stereo, sebenarnya diarahkan untuk memanjakan telinga kita yang dua: kiri dan kanan, sehingga terciptanya efek ruang (z). Kondisi seperti inilah pada pagelaran akhir akhir ini menjadi terabaikan.

Yang ketiga adalah, lakon yang dipentaskan. Pada masa lalu, yang namanya Antasena tidak terceritakan dalam gagrak Surakarta. Kalau adapun, nama itu adalah nama lain dari Antareja. Sedangkan untuk gagrak Mataraman dan Banyumasan, tokoh Antasena adalah Antasena itu sendiri. Pada gagrak Mataraman dan Banyumasan, sesama anak Wrekudara ini terlahir dari ibu yang berbeda. Antasena adalah anak Dewi Urangayu, sedangkan Antareja adalah anak dari Dewi Nagagini. Lah sejak kapan, tokoh ini muncul menjadi sosok dengan kemandirian nama pada gagrak Surakarta ini? Mungkin ada yang mau sharing?

Secara cerita, lakon ini mengisahkan Putra Prabu Salya yang bernama Raden Burisrawa, yang tengah patah hati ketiga gagal mempersunting Dewi Sumbadra, idaman hatinya. Burisrawa yang pantang mundur tidak tinggal diam. Usahanya untuk kembali merebut Wara Sumbadra hampir saja tercapai ketika ia, dengan berbekal kesaktian dari Batari Durga, berhasil melarikan Wara Sumbadra. Tetapi ternyata Sumbadra dalam kekuasaan Burisrawa lebih memilih bunuh diri. Jenasah Wara Sumbadra berhasil ditemukan dan dihidupkan kembali oleh Raden Antasena yang ketika itu pertama kalinya akan menemui ayahnya. Ia berhasil menyelamatkan Dewi Wara Sumbadra

Saat ia berbincang mengenai asal-usul keduanya, Gathutkaca yang salah paham menerjang Antasena. Keduanya bertempur seru oleh karena kesaktian keduanya yang memang hebat. Keduanyapun memang belum sempat saling mengenal. Sampai akhirnya keduanya dipisahkan oleh Sumbadra.

Kalau saya perhatikan dari segi cerita, alur ini sama sekali berbeda dengan versi Banyumasan yang dalam lakon-lakon yang sering dipentaskan mengangkat tokoh Antasena sebagai role cerita. Pada cerita Antasena Takon Bapa versi Banyumasan (konversi digital lakon ini yang saya masih simpan, judulnya Antasena Takon Rama), ceritanya adalah berkisar pada hilangnya Dewi Banuwati dari Taman Kadilengeng. Durna menuduh Arjuna yang mencuri Banuwati. Walaupun perkataan Durna tidak dipercaya oleh Adipati Karna, tetapi keduanya terpergok sedang berduaan. Keduanya dipertemukan ketika Arjuna dengan tidak sengaja berhasil menemukan Banuwati yang tengah dilarikan. Lakon ini juga banyak dikenal dengan nama Gendreh Kencana. Yang versi Banyumasan oleh Ki Sugino akan saya share kemudian. (Pendhemen Dhalang Gino mesti wis padha ngenteni kiye).

Dari hal yang menarik diatas, yang saya bisa garis bawahi adalah; rekaman yang sangat bagus membungkus content lakon Antasena Takon Bapa dan digelar oleh dalang potensial dengan cita rasa tinggi.

Link unduh:

  1. 1A. http://jumbofiles.com/prgvo4rkqoxh
  2. 1B. http://jumbofiles.com/bneiipp5skzi
  3. 2A. http://jumbofiles.com/qq6thqpm11du
  4. 2B. http://jumbofiles.com/j4abr8vbdhrd
  5. 3A. http://jumbofiles.com/i4ai08lmeycb
  6. 3B. http://jumbofiles.com/n87ymv31v5ik
  7. 4A. http://jumbofiles.com/wflgb1muy156
  8. 4B. http://jumbofiles.com/elzg68qjepy1
  9. 5A. http://jumbofiles.com/vz5qt5160f3t
  10. 5B. http://jumbofiles.com/cgtzi30zs4c1
  11. 6A. http://jumbofiles.com/ldd479puma9v
  12. 6B. http://jumbofiles.com/st4ajk2vsquu
  13. 7A. http://jumbofiles.com/wlzncgf8vrms
  14. 7B. http://jumbofiles.com/1a6fxozch9ts
  15. 8A. http://jumbofiles.com/6gght0v30j1w
  16. 8B. http://jumbofiles.com/sex9k2xoyatg

________________________________________

FILE AUDIO INI DITUJUKAN UNTUK PENGUNJUNG wayangprabu.com DAN UNTUK KEPERLUAN KONSERVASI SAJA.