Category Archives: Artikel Wayang

Sekilas Tentang Lakon Wayang


Pengertian lakon

Pertunjukan wayang kulit purwa, lazim disebut pakeliran. Jika orang melihat sebuah pertunjukan wayang, sebenarnya yang dilihat adalah pertunjukan lakon. Oleh karena itu, kedudukan lakon dalam pakeliran sangat penting sifatnya. Melalui garapan lakon, terungkap nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya pengalaman kejiwaan.

Dikalangan pedalangan pengertian Lakon sangat tergantung dengan konteks pembicaraannya. Lakon dapat diartikan alur cerita, atau judul cerita, atau dapat diartikan sebagai tokoh utama dalam cerita (Kuwato dalam Murtiyoso. 2004).

Selain itu lakon merupakan salah satu kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku yang artinya perjalanan atau cerita atau rentetan peristiwa (Murtiyoso. 2004). Jadi lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa wayang. Perjalanan cerita wayang ini berhubungan dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Kemudian di dalam sebuah cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik dan penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan (jejer sampai dengan tancep kayon) dengan wujud kelompok unit-unit yang lebih kecil yang disebut adegan. Unit adegan yang satu dengan adegan yang lain, saling terkait, baik langsung maupun yang tidak langsung membentuk satu sistem yang disebut lakon.  Read the rest of this entry

RAGAM WAYANG DI NUSANTARA


Disajikan pada acara Sarasehan dan Pergelaran Wayang Pakeliran padat dengan Lakon ‘Anoman Duta’ di Berlin, Jerman

Wayang Beber

 

 

Oleh Turita Indah Setyani 1)

 

Dalam bahasa Jawa, wayang berarti “bayangan”. Dalam bahasa Melayu disebut bayang-bayang. Dalam bahasa Aceh: bayeng. Dalam bahasa Bugis: wayang atau bayang. Dalam bahasa Bikol dikenal kata: baying artinya “barang”, yaitu “apa yang dapat dilihat dengan nyata”. Akar kata dari wayang adalah yang. Akar kata ini bervariasi dengan yung, yong, antara lain terdapat dalam kata layang – “terbang”, doyong – “miring”, tidak stabil; royong – selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain; Poyang-payingan “berjalan sempoyongan”, tidak tenang. dan sebagainya.

 

Selanjutnya diartikan sebagai “tidak stabil”, tidak pasti, tidak tenang, terbang, bergerak kian-kemari.. Jadi wayang dalam bahasa Jawa mengandung pengertian „berjalan kian-kemari, tidak tetap, sayup-sayup (bagi substansi bayang-bayang). Oleh karena boneka-boneka yang digunakan dalam pertunjukkan itu berbayang atau memberi bayang-bayang, maka dinamakan wayang. Awayang atau hawayang pada waktu itu berarti „bergaul dengan wayang, mempertunjukkan wayang.. Lama kelamaan wayang menjadi nama dari pertunjukan bayang-bayang atau pentas bayang-bayang. Jadi pengertian wayang akhrnya menyebar luas sehingga berarti “pertunjukan pentas atau pentas dalam arti umum. 2)

 

Fungsi semula pertunjukan wayang adalah sebagai upacara religius untuk pemujaan kepada nenek moyang bagi penganut kepercayaan “Hyang” yang merupakan kebudayaan Indonesia asli. Kemudian berkembang hingga digunakan sebagai media komunikasi sosial yang dapat bermanfaat bagi perkembangan masyarakat pendukungnya. Sebab lakon cerita wayang merupakan penggambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia yang mencerminkan sifat-sifat dan karakter manusia secara khas, sehingga banyak yang tersugesti dengan penampilan tokoh-tokohnya. Maka terjadilah pergeseran fungsi sebagai media penyebaran agama, sarana pendidikan dan ajaran-ajaran filosofi Jawa. Saat ini pergeseran fungsi semakin nyata hanya sebagai sebuah hiburan. Namun untuk masalah tersebut tidak akan dibicarakan di sini, sebab dalam makalah ini hanya akan menguraikan tentang ragam wayang yang berkembang di Nusantara atau Indonesia pada khususnya.

Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, terdapat sekitar 40an jenis wayang, yang sebagian di antaranya sudah punah. Beberapa jenis di antaranya masih dikenal atau masih dipertunjukkan dalam pergelaran-pergelaran wayang, dan tetap mendapat dukungan masyarakat hingga kini.

 

Wayang Sadat

Read the rest of this entry

Gara-gara Nonton Wayang Bung Karno Jadi Presiden


Sukarno

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/12/gara-gara-nonton-wayang-bung-karno-jadi-presiden-478845.html

Di luar takdir Tuhan, penyebab menjadi presiden bermacam-macam tergantung doa, usaha dan ihtiarnya. Merintis melalui pendidikan tinggi, mengantarkan Sukarno dan BJ Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia. Merintis melalui karir ketentaraan telah mengantarkan Soeharto dan SBY menjadi presiden, merintis melalui organisasi masyarakat dan politik mengantarkan Gus Dur dan Megawati ke puncak panggung kekuasaan negeri.

Karena jabatan presiden terbatas, maka terbatas pula yang bisa menjabat. Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, baru enam orang pilihan di atas yang beruntung menjadi presiden. Selalu saja ada hal-hal menarik tentang para (mantan) presiden itu yang perlu kita ketahui dan menjadi pelajaran hidup. Boleh jadi masing-masing mempunyai sumber motivasi sendiri, namun salah satunya adalah seperti judul di atas.

Membaca naskah amanat Presiden Sukarno pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tanggal 2 Mei 1964, yang berjudul: “Bertjita-tjitalah Setinggi Bintang Dilangit”, membuat saya mengetahui latar belakang yang memotivasi Sukarno menjadi orang besar.

Dalam pidato itu, di hadapan para pemuda dan pemudi, Bung Karno menekankan agar menjadi manusia yang bercita-cita setinggi bintang di langit. Ia teringat nasihat ibunya, “Sukarno, ketahuilah, engkau itu anak fajar, putera fajar, sebab engkau dilahirkan pada waktu fajar menyingsing, fajar 6 Juni sedang merantak-rantak di sebelah timur. Lihat itu fajar. Makin lama makin terang. Engkau nanti akan melihat matahari terbit, jadilah manusia yang berarti, jadilah manusia yang bermanfaat, manusia yang pantas untuk menyambut matahari. Manusia yang pantas untuk menyambut terbitnya matahari!”

Menurut Bung Karno (melanjutkan pidatonya), tidak pantas kalau terbitnya matahari disambut oleh seorang bajingan atau manusia koruptor yang mencuri harta rakyat.

Orangtua Sukarno memberi pendidikan dan menanamkan cita-cita dalam dadanya. Manusia tidak bisa menjadi manusia yang bermanfaat kalau tidak dari mulanya bercita-cita baik. Salah satu cara bapaknya membangunkan cita-cita Sukarno kecil adalah dengan mengajak nonton pertunjukan wayang kulit.

Dalam pertunjukan wayang ada adegan-adegan (biasanya bagian pembukaan — ‘janturan’) Sang Dalang menggambarkan suatu keadaan negeri yang ideal, yaitu: besar, adil dan makmur, murah sandang, papan dan emas, terkenal/disebut di seluruh dunia, berwibawa, perdagangan tidak ada hentinya siang dan malam, aman di perjalanan, ternak-ternak kembali sendiri dari tempat ladang penggembalaan, warga negaranya tidak saling dengki dan jegal, dll. Itulah cita-cita negara ideal yang tertanam sejak kecil di dada Sukarno, sebagai cita-cita politik dan sosial.

Isi pidato Bung Karno masih relevan sampai sekarang. Motivator sekaliber Robert T Kiyosaki pun menganggap cita-cita atau ‘impian’ (menurut bahasanya) adalah sangat penting. Agar maju dan sukses seseorang harus punya impian. Toh tidak dipungut biaya untuk bermimpi. Menurutnya, ada 5 macam pemimpi dan impiannya: [1]

  1. Pemimpi yang bermimpi di masa lalu, yakni yang pencapaian terbesarnya dalam hidup terjadi di belakang mereka. Pada saat kita bicara ke depan, pemimpi ini selalu mengungkit-ungkit keberhasilannya di masa lalu yang tidak ada relevansinya. Sering kita dengar, “Dulu ketika saya yang memimpinnya . . . .” Seorang yang bermimpi tentang masa lampau adalah orang yang hidupnya sudah berakhir, orang itu perlu menciptakan impian di masa depan, supaya kembali hidup.
  2. Pemimpi yang hanya memimpikan impian kecil. Jenis pemimpi ini akan memimpikan impian-impian kecil saja, karena mereka ingin merasa yakin bahwa mereka dapat mencapainya. Masalahnya adalah meskipun mereka tahu dapat mencapainya, tetapi tidak pernah mau mencapainya. Jenis pemimpi ini lebih umum dan seringkali adalah yang paling berbahaya, mereka hidup seperti kura-kura, makan dan minum dalam ruangan yang tenang, kalau diketuk cangkangnya dan menyentuh lubangnya mereka sering menyerang dan menggigit. Pelajaran yang diperoleh adalah, biarkan kura-kura pemimpi ini bermimpi, kebanyakan tidak pergi kemana-mana.
  3. Pemimpi yang telah mencapai impian mereka dan belum menentukan impian besar, yakni seseorang yang telah mencapai impiannya (misal: menjadi dokter, pilot, dll) dan terus hidup dalam impian itu. Kebosanan biasanya tanda bahwa sudah waktunya menentukan impian baru dan petualangan baru.
  4. Pemimpi yang mempunyai impian besar, tetapi tidak punya rencana bagaimana mencapainya, akhirnya tidak mencapai apa-apa. Pemimpi ini sering berusaha mencapai impiannya sendirian, berusaha mencapai banyak tetapi kemudian berusaha melakukan sendiri. Sangat sedikit orang mencapai impian mereka sendirian. Orang ini harus tetap mempunyai impian besar, menentukan rencana dan mendapatkan tim yang akan membantu membuat impiannya menjadi kenyataan.
  5. Pemimpi yang mempunyai impian besar, mencapai impian itu dan terus mempunyai impian yang lebih besar.

Impian yang ke-5 tentunya yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Beruntung Sukarno dan orang-orang yang diperkenalkan dengan pertunjukan wayang sejak kecil. Namun demikian, meski sudah mengenal wayang, untuk memaknainya, ternyata bisa berbeda orang per orang. Itulah sebabnya saya yakin meski seseorang mengenal wayang, belum tentu mempunyai cita-cita, apalagi cita-cita tinggi (termasuk penulisnya, hehehe…).

Saya berterima kasih kepada Bung Karno (selain sebagai proklamator dan pahlawan bangsa) atas nasihat dalam pidatonya itu yang menunjukkan bahwa wayang tidak sekedar hiburan, tetapi bisa menjadi sarana edukasi dan memberi motivasi untuk maju. Tentunya menjadi pelajaran juga kepada produsen film atau hiburan lainnya agar bisa membuat film atau pertunjukan hiburan yang bisa menumbuhkan cita-cita yang tinggi terutama kepada para generasi muda, bukan sekedar hiburan murahan apalagi merusak fisik dan mental. Melihat dampaknya, sepertinya tak ada alasan (pertunjukan) wayang akan punah atau dipunahkan. (Depok, 12 Agustus 2011)

Sumber Ilustrasi: http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

Sumber referensi:

[1] Disadur dari buku ”Business School” karangan Robert T Kiyosaki

Wayang Ajen


BANDUNG, KOMPAS.com–Penampilan wayang ajen pada Festival de Titeres de Canarias 2009 di Spanyol, 23 April-5 Mei, mendapatkan penghargaan untuk kategori penampilan terbaik. Kemampuan meramu pertunjukan tanpa kehilangan karakter dasar seni wayang tradisional dianggap sebagai terobosan mengesankan.

“Menurut Angel Brito, koordinator festival, wayang ajen dengan segala tampilannya mampu memuaskan penonton,” kata Wawan Gunawan, pemimpin rombongan sekaligus dalang wayang ajen di Festival de Titeres de Canarias 2009, melalui surat elektronik, Rabu (6/5).

Dalam festival ini tim wayang ajen tampil di delapan kota, yaitu Los Realejos, Guia De Isora, El Sauzal, El Rosario, Santa Cruz de La Palma, Tenerife, Gran Canaria, dan Aguimes. Selain Wawan, anggota lainnya adalah M Tavip (dalang gambar motekar), Dodong Kodir (musik daur ulang), dan Pandu Radea (penata artistik).

Menurut Wawan, penghargaan itu membuktikan wayang ajen bisa menjadi salah satu karya besar dunia internasional. Wayang ajen dianggap mampu membawakan kesenian baru tanpa melepas identitas asli sebagai bagian dari wayang golek. Hal itu bisa dilihat dari idiom gerak, gambar, dan musik yang digarap secara artistik. Bahasa Inggris dan Spanyol yang dibawakan dalam setiap pertunjukan juga bisa memudahkan penonton menikmati pertunjukan wayang ajen berlakon Rama dan Sinta ini.

“Terutama saat adegan goro-goro yang menampilkan kolaborasi Si Cepot dengan wayang matador, atau ketika Si Cepot mengaku sebagai Lionel Messi dan Raul Gonzales, pemain sepak bola klub terkenal Spanyol, Barcelona FC dan Real Madrid,” katanya.

Kemampuan personel lain juga mampu membangun penampilan wayang ajen semakin hidup. Kemampuan Dodong Kodir mengeksplorasi sampah menjadi alat musik dengan efek-efek bunyi aneh membuat penonton terperangah, contohnya ketika mendengar suara halilintar, angin, dan ombak.

Hal yang sama dilakukan M Tavip. Gambar motekar yang dibawakannya berhasil mengejawantahkan wayang ajen dalam bahasa gambar. (CHE)

Sumber :
Kompas Cetak
—————

Wayang Ajen mendapatkan pengakuan sebagai bentuk pertunjukan kesenian bagian dari warisan budaya tak benda Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Wayang ajen dianggap sebagai salah satu bentuk terobosan kreatif mengembangkan kesenian dan tradisi wayang di dunia.

”Pengakuan itu muncul karena kami tampil dalam Festival Internasional Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (BICHE) di Kota Bucheon, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, 28 September-2 Oktober 2010,” ujar dalang wayang ajen, Wawan Gunawan.

Wayang ajen adalah hasil kolaborasi wayang golek, wayang kulit, wayang dari bahan fiberglass, tari, dan komposisi musik dalam sebuah pertunjukan. Dalam pementasannya, didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum harmonis.

Wawan mengatakan, BICHE 2010 merupakan ajang pertemuan budaya dan kesenian tradisi dunia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, sekaligus guna mengenang sejarah 500 tahun Korea. Beberapa pertunjukan yang ditampilkan, antara lain, adalah tari aspara dari Kamboja, musik dan tari mariachi Latin dari Meksiko, musik dunia Rudiger dari Jerman, dan tari samba dari Brasil.

Menurut Wawan, wayang ajen mendapat kesempatan tiga kali tampil, dengan lakon ”Sinta Ilang”, ”Rahwana Gugur”, dan ”Sinta Obong” dari kisah Ramayana. Untuk memudahkan interaksi dengan penonton, pertunjukan diberi pengantar bahasa Inggris, lalu diterjemahkan dalam bahasa Korea.

”Pesan moral dan diplomasi budaya, sebagai jembatan persahabatan antarbangsa melalui pertunjukan kesenian, merupakan upaya jitu. Semua anggota tim yang berjumlah 10 orang bahkan sempat menyanyikan lagu Korea, ’Arirang’,” ujarnya.

Manajer Wayang Golek Ajen Dini Irma Damayanthi menjelaskan, pertunjukan di Bucheon kali ini hanya tiga kali. Meskipun tidak seperti saat pertunjukan di beberapa kota di Spanyol dan Republik Ceko yang pernah dilakukan, pihaknya puas karena mendapatkan pengakuan dunia.

”Sambutannya sangat meriah. Apalagi, kami juga menyertakan penampilan wayang tavip karya Mohammad Tavip. Wayang hasil daur ulang beragam materi yang sudah tidak terpakai ini mampu memperkaya kekuatan estetika pertunjukan,” ujar Dini.

info lebih lanjut Wayang Ajen

Sumber: Kompas

KI EDY SUBABYO SE – LAKON WAHYU EKO JATI (VIDEO)


Setelah Selesai unggah Audio Mp3 Ki Edy Subagyo SE lakon Wahyu Eko Jati kali ini Videonya dapat dinikmati bersama

SELAMAT MENIKMATI

UTAWI LINK NIKI

Wayang Krucil Trenggalek Jawa Timur. (foto – foto)


Bulan Mei Akhir 2012 Kemarin PPW Jatim berkesempatan mendokumentasikan pertunjukan wayang yang sangat termarjinalkan.

Kenapa dibilang termarjinalkan karena sungguh dengan sangat keterbatasan dan sederhana. Juga dalam pemetasannya hanya dikampung kampung jauh dari hingar bingar kota. dan jarang sekali belum tentu juga 1 Tahun sekali.

Kami PPW Jatim bersama UVS Shooting Visual Trenggalek berkesempatan merekam baik Audio dan Video wayang krucil.

Wayang Krucil adalah sejenis wayang yang terbuat dari kayu dan dilukis mirip seperti wayang kulit.

PPW Jatim berkesempatan mewawancarai kru dalang wayang Krucil tersebut apa kata beliau :

Wayang krucil ini mungkin satu satunya di Trenggalek dan dalangnya juga sudah tua, tidak tau apakah nanti sepeninggal Dalang wayang Krucil ini masih ada generasi penerusnya ?

Dan belum tentu 1 Tahun pentas, karena memang tidak sepopuler wayang kulit,  dan juga tidak ada perhatian dari pemerintah setempat juga.

Keseharian Dalang wayang Krucil ini juga hanya sebagai petani dan terkadang hanya sebagai dalang Ruwat saja.

Wayang Krucil wayang yang terpinggirkan dan hanya pentas juga dipinggiran desa bahkan dipelosok desa.

Pada saat team PPW Jatim datang dilokasi pertunjukan, ternyata sangat sederhana, dengan hanya seperangkat Gamelan laras Slendro saja Wayang Krucil pada malam itu dipertunjukan semalam suntuk.

Pak dalang wayang krucilpun sempat menuturkan juga bahwa : wayang ini sangat memprehatinkan karena selain tidak populer juga sampai sekarang Pak dalang sendiri kesulitan mencari generasi penerusnya. sangat menyedihkan karena tidak ada juga perhatian dari berbagai macam pihak apalagi pemeritahan tidak sama sekali.

sementara PPW Jatim telah berhasil memotret beberapa wayang krucil berikut ini :

Pentas ini di Desa Dawuhan Kec. Trenggalek Kab. Trenggalek

Tampak dari tengah sebagai kelir saat pementasan nanti.

Simpingan kiri

Simpingan Kanan

Tampak lebih dekat sebagian simpingan kanan

Tampak lebih dekat beberapa wayang krucil Trenggalek

dan tentunya masih banyak lagi hasil Jepretan PPW Jatim akan diposting selanjutnya .

mengupas lebih dalam cerita tentang wayang krucil ….TUNGGU SAJA DIPOSTING SELANJUTNYA….CERITA AUDIO dan Video masih dalam proses editing dan convert.

Agregator Situs Budaya Jawa


Kutipan Email dari Mas Hendro Jatmiko dari Sidoarjo Jawa timur kepada saya (Ali Mustofa – Trenggalek) tentang Agregator Situs Budaya Jawa.

Berikut ini Isi Emailnya :

Assalamu’alaikum wr. wb.

Mas Ali, bagaimana kabarnya? Mudah2an selalu dalam kesehatan dan lindungan Allah SWT, amiin..

Lama sekali rasanya ya kita tidak kontak, maklum karena kesibukan masing2, tapi saya masih tetap memantau PPW dan tetap salut serta angkat jempol untuk kerja keras Mas Ali ‘nguripi’ blog PPW ..

Kemarin saya sempat pulang ke Tulungagung, tapi cuma sehari langsung balik, jadi mohon maaf tidak sempat kemana-mana. Tapi insya Allah nanti waktu mberesi akte kelahiran anak saya akan saya sempatkan mampir Mas..

Begini mas, iseng2 saya membuat semacam blog Aggregator Situs Budaya Jawa yang alamatnya di ppwjatim.co.cc (domain gratis dan hosting gratis, nanti kalau gratisannya sudah habis akan saya pasang di hostingnya kantor,he.he.. ).

Perlu diketahui Mas, blog ini saya buat pakai wordpress dan secara otomatis (tanpa perlu kita mengupdate secara manual) mengambil berita terakhir dari kumpulan situs budaya jawa dan menampilkannya sehingga bagi para anggota PPW dan pemerhati budaya pada umumnya dapat mengetahui berita terbaru dari situs2 tersebut tanpa mengunjunginya satu persatu.

Silakan dikunjungi alamat ppwjatim.co.cc tersebut mas, dan mohon dikoreksi dan dikomentari jika ada sesuatu yang kurang.

Maksud saya adalah karena bulan ini adalah moment yang pas untuk peluncuran/grand opening situs ini (ulang tahun PPW Jatim 15 Mei kalau nggak salah) jadi nanti ngiras sebagai kado ulang tahun spesial PPW Jatim, he.he..

Jadi nanti kalau sudah siap, dan kalau bisa jangan melewati bulan Mei ini nanti diumumkan di milis PPW, bahwa sebagai kontribusi nyata PPW Jatim dalam nguri-nguri budaya maka dibuatlah situs ini. Bahkan mungkin bisa jadi sebagai cikal bakal portal wayang yang dimimpi2kan Mas Prabu dan Pak Budi Adi Soewirjo.

Demikian mas, yang dapat saya sampaikan, saya tunggu kabar balasannya.
Matur nuwun.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Salam hangat,
Hendro Jatmiko – Sidoarjo

Tak terasa lebih dari 1 Tahun umur PPW Jatim hingga Juni 2012 ini, Luar biasa disamping kesibukan masing masing sebagai makluk sosial, kita tetap istiqomah dalam meramaikan dunia maya ini khususnya Budaya Jawa dan lebih khusus lagi di Jagat Pewayangan.

SELAMAT ULTAH KE-1 PPW JATIM.

Selamat berkarya dan selamat berbagi untuk semua Pecinta Budaya Jawa dimana saja berada.

Salam dari Jawa timur untuk semuanya.

Terbelenggu oleh Istilah


Oleh Bambang Murtiyoso

Sekelompok pemerhati wayang, dan juga dalang, sering berbicara suatu wacana yang bermakna bias. Sebab, mereka masing-masing sudah mengantongi terminologi sendiri. Berkaitan dengan itu,ada tiga hal yang menggelitik untuk disampaikan pada lesempatan ini; yaitu pakem, klasik, dan juga tradisi. Lantaran masing-masing membawa pengertian sendiri, maka diskusi tentang tiga hal itu selalu tidak pernah gathuk. Alhasil, pembicaraan semacam itu sia-sia saja untuk dilanjutkan.

Tulisan ini tidak berkehendak untuk ngudhari keruwetan itu, kemungkinan akan lebih menambah kesremawutan itu. Sebab, dasar pijakan dan latar pengalaman penulis pasti berbeda dengan orang lain, meski selisihnya sulit untuk dicermati. Di bawah ini akan direntang keragaman pendapat tentang tiga hal tersebut.

Istilah pakem secara harfiah dapat diketahui dalam banyak kamus, misalnya: “paugeran” (Winter Sr. 928:332); “surat, pedoman, cerita asli” (Prawiro¬atmodjo n.d.:461). Elinor Clark Horne dalam Javanese-English Diction¬ary menyebutkan bahwa pakem adalah:

An original story on which other are based. Bratajuda karo Rama-jana kanggo pakem pedalangan. Shadow-play stories are derived from the Bratajuda and Ramajana epics. Pakem balungan story in skeletal form. Pakem pedalangan story in script form showing dialogues, narration, and music for shadow-play. Pakem gantjaran an scenario form (Horne 1974:420).

Kalau mencari definisi pakem yang banyak beredar di kalangan orang tua, mungkin seperti pendapat A. Seno Sastroamidjojo dalam Nonton Wajang-Kulit, yang mengatakan bahwa:

. . . “pakem,” yaitu sebuah kitab (catatan atau daftar) dalam mana tercantum sebagai peraturan mengenai bentuk dan jalannya ceritera pada suatu pertunjukan wayang kulit, boneka-boneka yang harus dipakai, lagu-lagu gamelan yang menghantarkan, dan lain-lain. Peraturan ini lama dimuka pertunjukan itu telah ditetapkan oleh para ahli. Peraturan ini dasarnya tidak boleh dirubah sewenang-wenang, harus berlaku sebagai pedoman (Sastroamidjojo 1958:54–55).

Perlu diketahui untuk lingkungan dalang yang ada di luar keraton juga mempunyai pakem yang diakui dalam kalangan tertentu sebagai pedoman dalam mendalang. Pakem di kalangan dalang ini banyak yang hanya didasarkan pada tradisi lisan, dari generasi ke generasi. Pakem tertulis ini tidak hanya menyangkut masalah ceritera tetapi juga dalam hal tehnis penyajian pakeliran.

Dari kutipan dan keterangan di atas sementara dapat disimpulkan bahwa pakem itu adalah suatu pedoman yang digunakan di lingkungan dalang, yang berupa tehnis penyajian dan/atau ceritera, baik tertulis maupun lisan.

Kalau pakem itu merupakan suatu pedoman di bidang ceritera, mengacu arti yang dibuat Horne, maka dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: (1) pakem gancaran, (2) pakem balungan, dan (3) pakem pedalangan. Tetapi, dalam pembicaraan di masyarakat umum ketiganya sering disebut dengan pakem pedalangan atau kadang-kadang hanya disebut dengan pakem saja. Masing-masing dibicarakan secara agak rinci seperti di bawah ini :

(1) Pakem gancaran, yaitu sebuah pedoman di bidang cerita garis besar mirip dengan bentuk “roman” dalam karya susastra; penceritaannya disampaikan secara bersambung, dari satu eisode ke episode yang berikutnya secara berurutan, belum ada pengaturan pembabakan yang jelas. Yang masih meragukan adalah apakah bila penceritaan ini ditulis dalam bentuk tembang dapat dikatakan pakem gancaran? Yang dimaksud di sini misalnya: Serat Rama, Serat Lokapala, Serat Bratayuda, dan sebagainya yang masih dalam bentuk tembang.

Pakem gancaran ini dapat dilihat di antaranya pada:

  1. Serat Pustaka Raja Purwa, karya Ranggawarsita;
  2. Serat Arjuna Sasrabahu atau Serat Lokapala, karya Yasadipura;
  3. Kalawarti Serat Mahabharata yang diterbitkan Pakempalan Theosofie Surakarta:
  4. Mahabharata Kawedar, gubahan Resi Wahana; dan
  5. Pakem Ramayana susunan Ki Slamet Soetarso.

(2) Pakem balungan, agak berbeda dengan pakem gancaran, pakem balungan ini sudah disusun secara berurutan adegan per adegan, dari awal (jejer) sampai pada usai pertunjukan (tancep kayon) pada setip episode lakon. Jadi pedoman ini sudah dikelompokkan dalam lakon-lakon tertentu. Pakem balungan ada yang dilengkapi dengan pertunjuk tentangrepertoar sulukan dan gending yang diterapkan pada setiap adegan. Pakem balungan juga ada yang dilengkapi dengan dialog-dialog pokok pada setiap adegan.

Wujud pakem balungan dapat disimak di antaranya pada:

  1. Serat Pedalangan Ringgit Purwa yang disusun Mangkunagara VII;
  2. Serat Pedalangan Ringgit Purwa susunan Atmacendana alias Naya-wirangka;
  3. Balungan Ringgit Purwa (ngewrat 20 lampahan) dihimpun Ki Wirya-atmaja;
  4. Pakem Lampahan Ringgit Purwa Warni-warni disusun Ki Siswa¬harsaya;
  5. Balungan Ringgit Purwa mawi Busananing Dhalang, Gendhing, Pratelan Gendhing/Sulukan, dihimpun Marwata Panenggak Widada;
  6. Serat Bharata Yudha, disusun Ki Slamet Soetarso.
  7. Balungan Ringgit Purwa mawi Bantah Kawruh, Ki Marwata Panenggak Widada;
  8. Serat Pakem Pedalangan (Balungan Lampahan) Ringgit Purwa, oleh Kodirun.

Pakem balungan seperti yang dicontohkan di atas tersebar luas melalui berbagai penerbitan dan terjual di toko-toko buku. Perlu diketahui juga bahwa di kalangan dalang mempunyai pakem balungan yang disusun untuk kalangan terbatas berupa naskah tangan. Pakem untuk lingkungan terbatas demikian, yang terkenal di kalangan dalang Klaten, misalnya “Pakem Ngasinan” dan “Pakem Tegalamba.” Ngasinan dan Tegalamba merupakan petunjuk tempat tinggal penulis pakem, sebab pakem tidak resmi demikian itu lazimnya anonim.

(3) Pakem Pedalangan, pakem yang satu ini sudah tidak berupa ceritera garis besar, tetapi sudah sangat rinci dalam garapan satu lakon lengkap; yang memuat cakapan (dialog) dan narasi (janturan dan/atau pocapan) pada setiap babak serta adegan. Kecuali itu, dalam pakem pedalangan ini ada juga yang memuat petunjuk “caking pakeliran” atau teknik sabet wayang secara rinci. Bahkan ada yang dilengkapi dengan kawruh (pengetahuan) dasar tentang pakeliran; meliputi wanda, mantram-mantram, cara memegang cempurit (tangkai) wayang, dan lain-lain.

Wujud pakem pedalangan yang dimaksud dapat dicermati pada beberapa dokumen antara lain pada buku-buku di bawah ini.’

  1. Serat Sastramiruda, susunan KPA Kusumadilaga;
  2. Jaladara Rabi, susunan Ki Reditanaya;
  3. Serat Tuntunan Pedalangan Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi, dihimpun M. Ng. Nayawirangka;
  4. Serat Tuntunan Andhalang Djangkep Sinau Tanpa Guru Lampahan ‘Parta Krama’ utawi Dhaupipun Dewi Bratadjaya Angsal Raden Arjuna, digubah R. Ng. S. Prabaharjana; dan
  5. Pakem Padhalangan Lampahan Makutharama dan Wahyu Purba¬sejati, dianggit Ki Siswaharsaya.

Apabila ketiga hal tersebut selalu berkaitan dengan cerita wayang–pakem balungan, pakem gancaran, dan pakem pedalangan–disebut dengan pakem, bagaimana dengan buku-buku pengetahuan (kawruh) dasar pakeliran, tanpa berkait langsung dengan masalah lakon, dapat disebut dengan pakem? Pertanyaan ini muncul, sebab dalam pembicaraan sehari-hari selalu menyebut pakem apabila sesuatu hal berkaitan dengan kebiasaan atau konvensi, terutama, masalah-masalah teknis pakeliran. Beberapa tulisan berkaitan dengan dunia pedalangan dan/atau pakeliran nonlakon antara lain adalah:

  1. Bauwarna Kawruh Wayang, tulisan RM Sayid;
  2. Teks Verklaring Sulukan, susunan Sutrisna;
  3. Silsilah Wayang Purwa mawa Carita, karya Padmasukaca;
  4. Nonton Wajang Kulit, karangan A. Seno-Sastroamidjojo; dan
  5. sejumlah karangan tentang kawruh pedalangan yang dimuat di media massa berbahasa Jawa, seperti: Jayabaya, Panyebar Semangat, Mekar Sari, Parikesit, dan Kumandhang.

Akhir dari bagian ini, sementara dapat disimpulkan, bahwa pengertian semakin tidak jelas dan rancu, sebab segala hal yang berkaitan dengan teknis pertunjukan wayang selalu disebut dengan pakem. Hal ini semakin bertambah ruwet apabila ada sejumlah orang menyaksikan sebuah pertunjukan wayang yang berbeda dengan konvensi sebelumnya dikatakan telah melanggar, paling tidak, disebut menyimpang dari pakem.

Pakem pewayangan adalah paugeran pergelaran wayang yang harus dipatuhi oleh para dalang. Meskipun demikian, isen-isen ajaran dalam pergelaran wayang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nut jaman kelakone. Bahkan dalam adegan tertentu, omongan tokoh-tokoh tertentu juga tidak ditabukan glenyengan atau dleweran ke permasalahan yang sedang aktual di masyarakat. Bahkan ketika sedang dalam jejeran, tiba-tiba Janaka terkentut, sebenarnya juga bukan hal yang tabu. Bukankah Janaka itu juga gambaran sesosok manusia biasa?

Pernyataan itu disampaikan Ki Hadi Sugito kepada KR pada tahun 1987. Saat itu gaya pewayangan Ki Hadi Sugito dinilai telah mengalami loncatan jauh maju ke depan, inovatif dan kreatif. “Dalam soal lakon, kalau memainkan lakon-lakon babonan saya selalu sama persis dengan apa yang ada di pakem lakon. Tetapi kalau memainkan cerita-cerita carangan, saya memang banyak menafsirkan sendiri dan saya sesuaikan dengan situasi dan kondisi sewaktu saya mendalang. Cerita-cerita carangan itu kan juga diciptakan sendiri oleh mbah-mbah buyut kita?” tegas Ki Hadi Sugito saat itu.

KEDUDUKAN PAKEM

Pakem sering disikapi sebagai peraturan yang tidak boleh dilanggar, seperti pernyataan A. Seno-Sastroamidjojo yang telah dikutip pada bagian awal tulisan ini. Dalam buku yang sama Nonton Wajang Kulit–Sastroamidjojo secara lebih tegas mengatakan: “Dengan perkataan lain merubah ‘sastra pinatok’ itu secara sewenang-wenang, sekalipun ke arah “perbaikan” . . . berarti membuat kesalahan . . . (1958:136).

Kususumadilaga dalam Serat Sastramiruda melampirkan satu teks lengkap dengan yang dikatakan: “iki ginawé babon lakon Parasara Rabi.” Pada bagian pengantar dikatakan bahwa: “cariyos ugering pedalangan ingkang sampun mupakat kanggé abdi dalang ing kadipatèn anom” (1930:1). Pernyataan ini memberikan pengertian bahwa pedoman lakon tersebut hanya berlaku di kalangan terbatas, kadipaten anom. Artinya, tidak harus diikuti oleh para dalang di luar kadipaten anom.

Ki Pujasumarta, dalang terkenal dari Klaten, angkatan pertama murid Padhasuka, berkaitan dengan pakem mengatakan bahwa: “pakem mono temené mung kanggo ancer-ancer para dalang sing lagi sinau mayang, yèn wis mayang temenan luguné kari gumantung marang kadéwasaning dalang. Sabab, lumrahé sing pada sinau mayang (di Padasuka) wis pada duwé sangu carané mayang, jalaran kabèh racak anak dalang sing wis payu mayang” (wawancara tanggal 12 Juni 1970). Perlu diketahui bahwa Pujasumarta sendiri di kalangan dalang, di luar keraton, terkenal sebagai dalang yang sangat ketat mengikuti pakem Padasuka.

Ki Atmacendana alias Nayawirangka dalam pengantar bukunya, Serat Tuntunan Padalangan Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi, mengatakan bahwa: “dene angsal kula seserapan saking para saged kulaklempakaken sarta kula laras kangge tuntunan pasinaon padalangan, . . . (1956:8). Demikian juga Ki Wignyasutarna dalam pengantar tulisannya, Diktat Pedhalangan Ringgit Purwa Watjutjal Lampahan Makutharama, mengatakan senada dengan pernyataan Atmacendana. Prabaharjana dalam Serat Tuntunan Andhalang Djangkep Sinau Tanpa Guru Lampahan ‘Parta Krama’ utawi Dhaupipun Dewi Bratadjaya Angsal Raden Arjuna mengatakan bahwa: “Panggubah kula lampahan Partakrama . . . kadamel langkung cekak nanging rehne ngengeti bilih punika serat tuntunan andhalang tumrap para ingkang nembe sinau pramila kaangkah jangkep, kenginga kangge tambah seserapan )Probohardjono 1966:3).

Mencermati sejumlah pendapat di atas, agaknya dapat disimpulkan bahwa kedudukan pakem lebih diperuntukkan bagi para dalang pemula atau calon dalang, sifatnya sebagai pedoman awal dan/atau ancar-ancar semata. Apabila pakem disikapi sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan secara ketat oleh dalang, mungkin terbatas pada lingkup tertentu, misalnya keraton.

Sampai dengan artikel ini selesai ditulis dan diopload belum pernah dijumpai seorang dalang yang menyajikan pertunjukan wayangnya secara ketat seperti pakem pedalangan yang dipakai dan dianut; termasuk para dalang dan/atau guru dalang yang mengaku sebagai abdi dalem dalang keraton. Pendapat Sastroamidjojo yang sangat tajam bahwa pakem tidak boleh dirubah dapat dikatakan “ngawur’ sebab tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi dalam jagat pakeliran. Pernyataan tajam itu kiranya dapat dimaklumi sebab Adeg, Seno-Sastroamidjojo bukan dalang; barangkali informasi yang diterima terbatas dari kalangan yang juga bukan dalang; kemungkinan juga tidak didasarkan atas pengamatan yang jeli dan bersungguh-sungguh.

Pada masa kejayaannya, keraton memang memiliki wibawa dan/atau pengaruh yang besar, termasuk di bidang pedalangan; tetapi perlu diingat bahwa peredaran pakem keraton itu tidak merata dan meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Dalang-dalang di luar keraton lazimnya meniru kepada para dalang yang lebih populer dan/atau senior; biasanya telah memiliki cara tersendiri dalam melaksanakan pertunjukan wayangnya. Pada kenyataannya tidak semua dalang memiliki kegemaran membaca karena berbagai sebab. Dengan demikian banyak wujud pakeliran tidak sesuai, bahkan barangkali sama sekali berbeda, dengan pakem keraton.

Para dalang “tiru-tiru” itu selanjutnya, secara alami dan kreatif, dapat menyanggit sendiri pakelirannya dalam menghadapi segala permiantaan masyarakat yang selalu berubah. Sering terjadi para dalang “tiru-tiru” tadi lama-kelamaan menjadi dalang yang memiliki kepopuleran puncak di masyarakat luas. Ironisnya, yang terjadi sekarang, ada sejumlah dalang populer–yang nota bene sering dianggap perusak pakem–diangkat menjadi abdi dalem dalang di keraton, dengan diberi gelar kebangsawanan tertentu.

PERBEDAAN-PERBEDAAN YANG TERJADI

Ketidakketatan para dalang dalam menyikapi pakem dapat diamati pada pelaksanaan pengajaran dalang di berbagai lembaga pendidikan pedalangan, meskipun mereka belajar pada guru yang sama. Pertentangan berkepanjangan sering terjadi hanya pada masalah-masalah tehnis kecil, yang sebenarnya secara kualitas tidak sangat berpengaruh; misalnya dalam hal pola dodogan dan/atau keprakan, pemilihan wayang, dan posisi cacakan wayang (pada cacakan atas atau bawah). Contoh lain adalah masalah kapan dalang mulai diperbolehkan membunyikan kepyak, keprak, kepyèk, atau kecrèk pertama kali dalam pakeliran? Paling tidak, di kalangan pedalangan gaya Surakarta, ada empat pendapat berkaitan dengan hal ini, yaitu pada:

  • Ada-ada Astakuwala Ageng setelah cakepan yang berbunyi “mung-jir” terakhir;
  • Ada-ada Girisa dalam jejer dan/atau adegan pasowanan njawi, bersamaan dengan pengucapan cakepan yang berbunyi: ya Kresna lakunira Para-surama;
  • saat memberi suasana yang tegang, greget, waktu gending srepegan dibunyikan, meskipun masih dalam jejer;
  • adegan yang mana saja–termasuk di dalam jejer–apabila sangat diperlukan.

Pendapat terakhir tersebut sesuai dengan keterangan Atmacendana dalam buku pakem pedalangan yang sering disebut, yang mengatakan bahwa: “Makaten malih panganggenipun kepyak salebeting jejer, sa¬nadyan taksih salebeting jejer, manawi wonten perlunipun perlunipun kenging ngangge kepyak, kadosta: manawi wonten tamu sami ratu, mestinipun tangan kalih sami nyepeng ringgit, mangka gangsa seseg bade njantur, punika kenging ngangge kepyak, wosipun sadengah tindak ingkang bade keter, punika lajeng ngangge kepyak, sampun kenging kemawon” (1956 I & II:46–47).

Menarik untuk dikaji selanjutnya, bagi yang berminat, agaknya sastra pinatok yang berbunyi syuh rep data pitana digunakan dalam janturan jejer baru dimulai semenjak zaman Reditanaya; meskipun rangkaian kosakata itu sudah ada semenjak Mpu Tanakung dalam Wrtasancaya, dalam bahasa Jawa Kuna, yang berbunyi: syuh rep nda ta tita hana.

Para mahasiswa ASKI Surakarta (akhir tujuhpuluhan) pernah dibingungkan atas pendapat para dosen luar biasa mereka, yang kesemuanya mengaku mantan murid dan/atau penganut pakem kasunanan, tentang praupan Jembawati. Pendapat yang pertama mengatakan bahwa Jembawati tergolong lanyapan, sedang pendapat kedua sebaliknya, luruh. Dasar pemikiran pertama adalah karena Jembawati anak Trijata (lanyapan), sehingga berdasarkan gene tersebut tepat apabila Jembawati lanyapan. Pendapat kedua didasarkan atas konvensi yang berlaku dalam dunia pakeliran bahwa apabila raja berparas lanyap (Kresna) maka permaisuri (Jembawati) berdasarkan kelaziman pula berparas sebaliknya, luruh. Dengan demikian apabila raja dan permaisuri berdialog memudahkan dalang dalam menetapkan antawacana wayang.

Perdebatan panjang pernah terjadi hanya alasan kecil, udanagara (kepantasan), menyangkut cacakan wayang di gedebog (pohon pisang). Contoh populer adalah tancapan saat Sembadra bersama para permaisuri Dwarawati menghadap Kresna. Satu pihak mengatakan bahwa Sembadra harus ditancapkan di gedebog atas, sebab secara geneologis mereka sejajar, bahkan lebih tua, apabila dibanding dengan ketiga permaisuri Dwarawati yang dicacakkan di gedebog atas. Pihak lain mengatakan sebalik¬nya, gedebog bawah, sebab saat adegan itu (kedatonan) termasuk adegan resmi kenegaraan, status Sembadra di luar strata resmi.

Banyak masalah teknis menarik dalam studi tentang pakem, meskipun dalam gaya dan/atau komunitas yang sama. Syair atau cakepan yang berbunyi: “nembang tengara mundur” dan seterusnya pada pakem Jaladara Rabi (Reditanaya) diterapkan pada suluk patet nem (nama repertoar tidak disebutkan) dan untuk menyertai kedatangan tamu dalam jejer (babak unjal). Pada pakem-pakem yang lain khusus diterapkan pada suluk patet Lindur sebagai pengiring mundurnya para prajurit setelah prang gagal serta isyarat peralihan babak, dari bagian patet nem ke bagian patet sanga.

Permasalahan dapat direntang ke masalah udanagara, kepantasan, etiket, atau kesantunan; yang sering dipakai untuk mengukur baik dan buruknya sebuah pakeliran yang disajikan dalang. Sejumlah contoh kutipan dari buku pakem resmi keraton di bawah ini dapat dijadikan bahan diskusi.

Pertama, kutipan pocapan gara-gara pada Serat Sastramiruda yang berbunyi:

. . . mila rama saputra sami nami lurah, teka wonten jajare ora, mila gentos amaréntah, anglurahi badané priyongga. Dangu Ki Lurah Semar tumurun saking ngarga, boya madha yèn bendarané: manther cahyané, mancur senené, bagus warnané. Wangsul wulucumbu kawulané, wandané kaya gudèl njerum, kang manther uyuhé, mancur duburé . . . (Kamajaya 1981:218).

Kecuali susunan pocapan seperti kutipan di atas tidak dijumpai dalam pakem yang lain, penggunaan kosakata uyuh dan dubur pantas dipertanyakan: apakah hal ini dapat diterima sebagai pedoman bagi para dalang keraton?

Kedua, kutipan teks dialog Kresna, sedang berbicara dengan anaknya (Samba) pada lakon Irawan Rabi (Naya¬wirangka) tertulis: “Uwis ta, tak jaluk colokna matamu, yèn atimu merem, mung kowé kang werit (1960 II & IV:37). Pantaskah sebagai seorang raja Kresna berkata colokna matamu?

Dalam berbagai maszab dan/atau gaya pedalangan Jawa juga sering kita jumpai perbedaan-perbedaan pedoman tentang sesuatu, misalnya:

  1. kecondongan kayon, di Kasunanan untuk bagian pathet nem condong (doyong) ke kanan; sedangkan di Mangkunegaran ke kiri, sebaliknya dalam pathet manyura di Kasunanan condong ke kiri di Mangku¬negaran condong ke kanan;
  2. antawacana raja dalam jejer, di Kasunanan ditetapkan dengan nada atau laras gamelan 6 (nem tengah) tetapi di Mangkunegaran harus nada 2 (gulu tengah);
  3. penggunaan sulukan Jingking di Mangkunegaran ditetapkan bagi ksatria bokongan, di Kasunanan ksatria jangkahan, sebaliknya sendon Bimanyu atau Elayana di Mangkunegaran diterapkan untuk ksatri jangkahan di Kasunanan untuk bokongan
  4. di kalangan keraton Gathutkaca wanda guntur, di lingkungan dalang Klaten disebut wanda tatit, sebaliknya wanda tatit di Keraton oleh dalang Klaten disebut guntur;
  5. Bima di Surakarta biasanya diceritakan berputera dua (Antareja atau Antasena dan Gathutkaca), sedang di Yogyakarta putera Bima ada tiga orang, yaitu: Antareja, Antasena, dan Gathutkaca. Bahkan Banyumas empat orang.

Contoh-contoh seperti yang disampaikan di atas dapat diperpanjang dan banyak sekali, sampai hal-hal yang kecil. Seperti misalnya Kresna bertolak pinggang atau “malangkerik” di Yogyakarta; dan hal ini dirasa janggal bagi orang pecinta pakeliran gaya Surakarta.

Contoh-contoh yang dipaparkan tadi serta pengamatan yang sangat banyak terhadap sajian pakeliran, kita dapat merumuskan kesimpulan bahwa: tidak ada satupun bentuk pakem yang berlaku di sepanjang masa– walaupun dalam daerah maszab dan/ atau gaya yang sama; dan juga tidak ada satupun bentuk pakem yang diakui oleh seluruh dalang atau seluruh maszab dan/atau gaya pedalangan yang ada.

PELANGGARAN RAMBU-RAMBU PEDALANGAN

Sadar ataupun tidak, ternyata banyak dalang yang tidak patuh terhadap pakem, sebagai rambu-rambu pedalangan. Penulis mungkin tergolong aliran yang tidak menutup kemungkinan pelanggaran pakem-pakem itu.

Sejajar dengan itu Penulis pernah menyampaikan pendapat pada suatu Sarasehan Dalang 1984 di ASKI Surakarta demikian: “Awit pakem makaten ugi kathah sanget, gumantung jaman, kewontenan sarta saben kalangan (dhalang) anggadhahi pakem piyambak-piyambak. Kita mboten saged lajeng gampil mastani dhalang A salah sanggite, salah pakeme, salah lakone, . . . Awit manut pamanggih kula, saben dhalang anggadhahi panutan piyambak” (Murtiyoso 1984:5).

Selanjutnya, berkaitan dengan mutu pergelaran wayang atau sajian pakeliran, Penulis berpendapat demikian: “Gesanging pakeliran punika boten awit saking lampahan, nanging gumatung dhateng moncering sanggit sarta boboting dhalang. Manawi dhalangipun sugih sanggit, cekap kasagedanipun; sabet, swanten, trampil ing samukawisipun, sarta tanggap kawontenan jaman, lebet jiwanipun—kula pitados badhe bregas pakeliranipun” (Murtiyoso 1984:7).

Pelanggaran terhadap pakem yang demikian ada yang memang disengaja, terutama para dalang yang kreatif, dengan terpaksa harus banyak mendalang di masyarakat. Dalang-dalang “laris” itu merasa wajib untuk selalu menyajikan pakeliran yang senantiasa segar, meriah, glamour, dan spektakuler; yang diharapkan dapat memikat penontonnya. Tetapi, ada pula dalang yang mengingkari pakem hanya didorong oleh satu kebutuhan demi selera penonton, meskipun selera yang dangkal. Ada pula dalang yang memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan pakem mana pun; padahal pakem sering dijadi¬kan ukuran seseorang untuk menilai sebuah pertunjukan wayang.

Masalahnya sekarang adalah, sejauh mana seorang dalang diperbolehkan meninggalkan pakem? Sebab, penulis yakin sekalipun seorang dalang mempunyai kebebasan dalam menyanggit, sebagai upaya kemasan pakelir¬an, pasti ada benang merah yang dapat digunakan sebagai kriteria dalam menetapkan penilaian. Berkaitan dengan hal ini, kiranya dapat diajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi nantinya.

  1. Bolehkah jejer dengan menampilkan tokoh bukan manusia (raksasa atau binatang misalnya)?
  2. Apakah setiap jejer harus dimulai dengan adegan kerajaan?
  3. Bolehkah menampilkan wayang-wayang baru seperti: pesawat terbang, sepeda/motor, ambulans dan sebagainya?
  4. Bagaimana dengan sanggit lakon yang jauh menyimpang dari ceritera yang sudah ada? Termasuk penciptaan lakon baru seperti: Gareng Tetak, Udawa Dodol TV, Aswatama Ketemu Penembak Misterius?
  5. Bolehkah memasukkan ricikan non gamelan, sepeti: bas drum, klarinet, simbal, tambur, dan sebagainya? Bagaimana kalau bedug, rebana, atau selompret reog?

Pertanyaan di atas terutama penulis sampaikan kepada para ahli pedalangan dan para dalang sekarang. Sebab, kalau pertanyaan itu disampaikan kepada para pakar di masa silam, jawabannya susah pasti tidak boleh. Masalahnya, siapakah orang-orang sekarang yang dapat dikategorikan sebagai ahli pedalangan?

PENUTUP

Secara pribadi, penulis sering berkata bahwa sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk berdebat berkepanjangan dalam mencari kebenaran dari satu wujud pakem. Kesenian itu keberadaannya disebabkan adanya daya ungkap, daya kreativitas; dalam dunia pedalangan disebut dengan sanggit. Rasa-rasanya kurang layak bila kreativitas itu dibatasi oleh aturan-aturan. Pembatasan satu kreativitas tidak terletak pada aturan tehnis, tetapi terdapat pada kepedulian terhadap nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan/ atau bangsa sesuai dengan tanda-tanda zamannnya. Dengan demikian setiap ada perubahan suatu sistem nilai yang dianutnya, maka akan menimbulkan per-ubahan dari garapan suatu karya seni. Berkaitan dengan hal ini pakem yang utama yang perlu mendapat perhatian adalah moral, kemanusiaan,

Pakem sebaiknya tidak membatasi seketat-ketatnya sampai hal-hal yang kecil dan sangat tehnis serta tidak pokok. Sebab setiap usaha yang mengarah ke pembatasan akan dapat membelenggu kreativitas dalang. Kalau sampai kreativitas ini selalu dibelenggu, dapat diramalkan: pedalangan akan mati.

Hormat selalu penulis sampaikan kepada setiap ada usaha pembaharuan lewat eksperimen-eksperimen yang serius di bidang pedalangan dan/ atau pakeliran. Penulis mempunyai satu keyakinan bahwa pedalangan kita dapat hidup dalam masa yang sangat panjang disebabkan adanya penyesuaian pedalangan terhadap perkembangan zaman; juga melalui usaha pembaruan/ eksperimen atau yang semacamnya. Dukungan terhadap upaya pembaruan ini tidak berarti bagi semua pembaruan yang sekedar merubah tanpa perhitungan nilai etis dan estetis.

Dalam dunia pakeliran kita mengenal konsep estetis yang mapan, yaitu adanya: regu, sem, nges, rengkep, tutuk, cucut dan mungkin masih banyak lagi. Sekarang ini agaknya konsep yang masih kuat itu sudah mulai dilupakan; atau paling tidak tuntutan regu, sem, nges, rengkep, greget, tutuk, cucut, dan sebagai-nya tadi intensitasnya sudah semakin tipis. Konsep itu terasa terdesak oleh satu konsep yang lebih murah; sehingga pakeliran hanya menonjolkan tontonan yang asal ramai, asal gobyog, asal lucu, dan yang sejenis dengan itu. Lama-kelamaan terasa kurang adanya keseimbangan antara perkembangan kualitas dan kuantitasnya. Kelanjutannya, hal-hal men¬dalam yang pernah kita banggakan dalam pakeliran sudah digusur oleh hal-hal yang ringan, dangkal dan murahan. Alasan yang sering dipakai untuk membetengi diri, demi menuruti selera penonton; sekalipun selera yang kurang didukung oleh pemahaman atau apresiasi terhadap pakeliran.

Dampak dari larut pada selera penonton yang dangkal itu akan mengaburkan penilaian sebagaian besar pengamat wayang. Dapat terjadi pakeliran akan merosot statusnya menjadi satu bentuk tontonan biasa–seperti: dagelan, tayuban, akrobat, lengger, janggrungan dan sebagainya–serta BUKAN SENI YANG ADILUHUNG lagi, seperti yang sering dibanggakan banyak orang.

DAFTAR PUSTAKA

Feinstein (et al), Alan H.
1986 Lakon Carangan I. Surakarta: Poyek Dokumentasi lakon Carang¬an ASKI Surakarta.
n. d. Lakon Carangan dalam Wayang Kulit Jawa: Suatu Tinjauan Berdasarkan Hasil Proyek Dokumentasi Lakon Carangan. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Depdikbud.

Groenendael, Victoria M. Clara van
1985 The Dalang behind the Wayang. Dordrect-Holand/ Cinnaninson-USA: Foris Publication.
1987 Wayang Theatre in Indonesia an Anotatated Bibligrapy. Dordrect-Holand/Frovidence

 USA: Foris Publication.

Hastanto, Sri
1988 “Pidato Pelepasan Para Wisudawan ASKI Surakarta ke-24.“ tanggal 15 Juli 1988.

Horne, Elinor Clark
1974 Javanese-English Dictionary. New Haven and London: Yale University Press.

Iyanger, KR Srinivasa
1983 Variation in Ramayana in Asia: their Cultural, Social and Anthopological Significense. Madras: Sahitya Akademy.

Kamajaya dan UJ Katijo Wp.
1966 Lampahan Bratayuda IV. Jogja: UP Indonesia.

Kamajaya (alih bahasa) dan Sudibyo Z. Hadisudibyo
1981 Serat Sastramiruda. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud.

Kusumadilaga, KPA
1930 Serat Sastramiruda. Surakarta: De Bliksem.

Mangkunagara VII
1978 Serat Pedhalangan Ringgit Purwa IX. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud.

Murtiyoso, Bambang
1984 “Lampahan Carangan Satleraman.” Makalah dipaparkan pada Sarasehan Dalang di ASKI Surakarta, tanggal 25 s/d 27 Juni 1984.
1988 “Kebebasan dan Keterikatan Estetis dalam Pakem Pedalang¬an,” makalah dipaparkan pada Sarasehan Pedalangan yang di-selenggarakan Javanologi Surakarta bekerja sama dengan Panakawan, di Monumen Pers Nasional.
1995 “Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang,” tesis S-2/ Pasca Sarjana pada Program Studi Pengkajian Seni Per¬tunjukan, Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Nojowirongko al. Atmotjendono
1960 Serat Tuntunan Pedalangan Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi IV. Jogjakarta: Tjabang Bagian Bahasa Djawat¬¬an Kebudajaan, Dep. PP dan K.
1966 Serat Pedalangan Ringgit Purwa IIII. Surakarta: CV “Maha-bharata.”

Padmosoekotjo, S.
1979-1986 Silsilah Wayang Purwa mawa Carita IVII. Surabaya: PT. Citrajaya.

Prawiroatmodjo
n.d. Bausastra Djawa-Indonesia. Surabaja: Express & marfiah.

Poerbotjaroko
1964 Kapustakaan Djawi. Djakarta: Djambatan.

Proohardjono, S.
1964 Serat Tuntunan Andhalang Djangkep Sinau Tanpa Guru Lampah-an “Parta Krama” utawi Dhaupipun Dewi Bratadjaja Angsal Raden Ardjuna. Surakarta: CV “Mahabharata.”

Reditanaya, Ki dan dialihtuliskan Sudibyo Z. Hadisudibyo
1978 Jaladara Rabi, Wrediningsih. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud.

Sekretariat Naional Pewayangan Indonesia SENA WANGI
1983 Pathokan Pedhalangan Gagrag Banyumas. Jakarta: BP Balai Pustaka.

Soenarto Timoer dan SENA WANGI
1988 Serat Wewaton Padhalangan Jawi Wetanan III. Jakarta: BP BalaiPustaka.

Sayid, RM
1958 Bauwarna Kawruh Wayang I & II. Surakarta: “Widya Duta.”

Sastroamidjojo, A. Seno-
1958 Nonton Pertundjukan Wajang-Kulit. Yogyakarta: PT Per¬tjetakan Indonesia.

Siswoharsojo, Ki
1960 Pakem Lampahan Ringgit Purwa Warni-warni. Ngajogya¬karta: tanpa penerbit.
1963 Pakem Padhalangan Lampahan Makutharama. Ngajogya¬karta: tanpa penerbit.
1966 Pakem Padhalangan Lampahan Wahyu Purbasejati. Nga¬jogya¬-karta: tanpa penerbit.

BERBURU KASET AUDIO ING KALANING LIBURAN KECEPIT


Liburan Hari Kejepit tanggal 23 Maret wingi kula sampun ancang-ancang badhe ngeteraken lare mbajeng seminar lan ngiras pantes tuwi lare bontot ingkang taksih kuliah wonten njaban kitha Jakarta. Lha keleres malih, sampun sewulan menika kula mboten nate convert audio awit mboten wonten bahan malih kangge ngisi audio wonten blog, angkahipun mangke sekaliyan berburu wayangan audio wonten kitha alit ingkang samangertos kula taksih wonten kaset audio wayangan.

Ndilalah kaya tumbu oleh tutup, Mas Edy Listanto ngabari lewat SMS menawi Mas Santoso ingkang pidalem wonten ing Bandung kersa nelpon sekedhap malih. Mekaten isinipun SMS.

Mboten watawis menitan, Mas Santoso sampun ngebel. Ngobrol gendhu raos saking kareman ringgit umumipun, melembar kareman khusus midhangetaken KNS, lajeng MaS Santoso kersa nitip ringgitan saking Ki Sugino.

Jum’at enjang, kula sampun dugi toko kaset. Pilah pilih angsal 8 lakon saking Ki Sugino lan 1 lampahan saking Ki Timbul Hadi Prayitno.

Kaset saking KNs wonten kalih ingkang kasedhiyaaken wonten toko. Nanging kalih kalihipun sampun wonten ing unggahan “wp”.

Image

Janipun kejawi 8 lampahan saking Ki Sugino ingkang kula pendhet, taksih watawis 10 langkung lampahan saking dalang sanesipun antawisipun Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono lan Ki Sugino piyambak ingkang dereng sempat kula boyong awit keterbatasan dana. Dene lampahan ingkang katindakaaken dening Ki Hadi Sugito ingkang nalika samanten kula prangguli sampun gusis tanpa tilas.

Senajan makaten, toko sampun paring kalodhangan saged mesen lampahan ingkang dipun keparengaken badhe dipun pundhut mangke. kanthi sarana transfer lan kekirim lewat ekspedisi kiriman.

Ing mriku sampun wonten pribadi ingkang nulis lampahan ingkang dipun kersaaken lan kula ugi nambahi nulis lampahan saking Ki Nartasabdo lan Ki Sugino ingkang kula kajengaken. Amargi mboten apal lampahan saking Ki Hadi Sugito ingkang sampun minggah lan dereng, mangke mbokmenawi lajeng kita lantaraken dhateng toko pesenanipun.

Kados kecathet ing ngandhap, menika lampahan ingkang kula pendhet lan mbaka setunggal badhe kula aturaken kaliyan panjenengan sedaya.

  1. Kresna Dhuta
  2. Pendhawa Kependut
  3. Rama Tambak
  4. Aswanikumba-Kumba-kumaba Lena
  5. Antasena Ngraman
  6. Suryandadari
  7. Praconadewa Gugat
  8. Kuntul Wilanten (Ki Timbul Hadi Prayitno)

Nuwun sewu lampahan Karno Tandhing (KSSC) lan Salya gugur (KSSC) Pundutanipun Mas Santoso dereng wonten.

Senajana mekaten, ing wekdal ingkang mboten lami malih, badhe kula inggah lampahan ing ngandhap:

  1.  Lahiripun Wisanggeni (Ki Sugino) paringanipun Mas Supri Banyumas.
  2.  Anoman Obong (Ki Sugino) paringanipun Radio Mutiara Bandung lumantar Mas Rony Subari. Lan
  3. Antasena Takon Rama, (Ki Sugino) ugi paringanipun Radio Mutiara Bandung.

Senajan no 2 lan no 3 seri terakhir teksih cicir wonten seri pungkasan, nanging tetep kula unggah sinambi ngentosi bokmenawi wonten ingkang aba menawi kagungan jangkepipun.

Maturnuwun Mas Marmin mBanyumas sing kersa rawuh wonten ing gubug tinggalan wong tuwa lan Kang Supri lan Mas Marmin sepindhah malih sing mpun maringi buah tangan.

KONTRIBUSI POSITIF VIII


Luar biasa judul diatas…..sudah sampai ke – 8 dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah dan terus bertambah sebagai wujud cinta terhadap budaya wayang yang adi luhung ini.

Sedikit cerita pada hari sabtu, 11 Februari 2012 kurang lebih jam 11.00 wib mendapat telepon bahwa ada kiriman paket istimewa…..wah paket apa ya kok istimewa, saya pikir paket valentine…..padahal valentine bukan budaya saya (SAY NO TO VALENTINE)

Nah selepas Dhuhur saya coba buka isi paket tersebut….ternyata benar sekali kata teman saya yang ada di pos security memang paket istimewa nah berikut isi paket istimewa ini :

1. 1 Keping  DVD Wayang kulit Lakon Mbangun Alas Tunggorono dengan dalang Ki Kukuh Bayu Aji (Dalang Super Power) asal Banyumas.

2. 6 Keping VCD Wayang kulit Lakon Kikis Tunggorono dengan dalang Ki Manteb Sudarsono live in Kementrian perumahan Rakyat Jakarta.

3. 7 Keping VCD Wayang kulit Lakon Brojodento mbalelo atau Ampak – ampak Pringgondani dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.

Dan 1 berkas surat yang ditujukan ke Ali Mustofa di Trenggalek yang pada intinya menerangkan data tersebut diatas dan beberapa koleksi beliau yang Insya Alloh akan secara bertahab akan dikirim ke Trenggalek dan tertera di dalam surat tersebut adalah :

1. Lakon Sesaji Rojo Suyo dengan dalang Ki Purbo Asmoro

2. Lakon Sombo Juwing dengan dalang Ki Manteb Sudarsono

3. Lakon Sang Gatotkaca dengan dalang Ki Bayu Aji Pamungkas

4. Lakon Karno tanding dengan dalang Ki Sigid Arianto

5. Lakon Banjaran Bimo I dengan dalang Ki Manteb Sudarsono

6. Lakon Banjaran Bimo II dengan dalang Ki Manteb Sudarsono

7. Lakon Bimo Suci (pakeliran padat) dengan dalang Ki Bondhan Riyanto pentas di RRI Semarang dan posisi masih di Bapak Adi Wijaya Bandung.

8. LakonTripomo (pakeliran padat) dengan dalang Ki Bondhan Riyanto live in Dikpora Kebumen

9. lain lain….masih dikumpulkan

Nah begitu besar dan begitu banyak koleksi beliau………….PENASARAN siapakah beliau yang mengirim ini.

Koleksi Tersebut dari Admin http://www.bondanrinyanto.weebly.com

silahkan kunjungi link diatas untuk mengetahui lebih jauh siapa beliaunya.

Tak lupa kami selaku PPW Jatim dan admin wayangprabu.com akan secara bertahap mengunggah Audio daftar diatas.

Semua koleksi tersebut dicopy paste  menjadi dokumentasi KURNIA FM Trenggalek dan PPW jatim serta setelah proses selesai segera dikembalikan ke alamat Admin www.bondanriyanto.weebly.com atas nama Bapak Sucipto Sumarwoto.

Kami PPW jatim selalu terbuka menerima kontribusi – kontribusi koleksi berbagai wayang dari mana saja.

Trima kasih

Salam PPW Jatim.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 941 other followers

%d bloggers like this: