Ketika Kebajikan Hilang Kekacauan pun Terjadi

Dari Pementasan “Republik Togog” Teater Koma

HUMOR adalah sebuah sketsa vibrasi keluhan dan potret sosial masyarakat (bahkan juga situasi perpolitikan nasional). Ia menjadi satire, sebuah arena kegetiran yang coba ditumpahkan ke dalam fantasi senyum. Ia menjadi medan penumpahan emphasis (tekanan) keseriusan untuk disatirkan. Tentunya, latar belakang kehadiran humor karena adanya friksi sosio-kultural dan sosio-politis yang menggumpal. Itulah sesungguhnya yang hendak disampaikan Teater Koma dalam pementasan “Republik Togog” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), mulai 28 Juli hingga 6 Agustus mendatang.

Togog itu sebenarnya bukan siapa-siapa. Ia hanya rakyat biasa yang dipenuhi ambisi untuk menguasai Kerajaan Amarta. Anehnya, penyamaran Togog menjadi resi (ahli agama- red.) tak disadari oleh Raja Amarta, Samiaji. Sebaliknya, Samiaji–putra spiritual Batara Darma, dewa paling bijak di Khayangan–menuruti apa pun yang diperintahkan, termasuk menjadikan adik tirinya, Sadewa (salah satu dari lima pandawa), menjadi tumbal dengan alasan untuk kemakmuran negeri.

Samiaji seperti “kerbau dicocok hidung”. Pun demikian halnya dengan Dewi Kunti (ibunda Samiaji). Puncaknya, Samiaji berniat menjadikan Tejamantri sebagai putra mahkota sekaligus menjadikannya sebagai suami Roro Parwita, putri angkat Samiaji.

Sayangnya, saat gonjang-ganjing itu bermula, para penasihat spiritual pandawa, yakni Kresna dan Betara Ismaya alias Semar, tengah tak berada di Amarta. Keduanya hilang lejam, tak tentu rimbanya.

Gonjang-ganjing itu semakin parah menyusul campur tangan Betari Durga, sosok jahat yang menginginkan kecantikan untuk kemudian merayu Arjuna. Melalui pelayan setianya Kalika, Durga berhasil menghasut Samiaji agar mau menjadikan Sadewa sebagai tumbal.

Alasannya setali tiga uang dengan yang diumbar Togog, demi kemakmuran negeri Amarta. Padahal, sesungguhnya, tumbal itu semata-mata dilakukan sebagai syarat agar Betari Durga mendapatkan kembali kecantikannya.

Sebenarnya, kejanggalan demi kejanggalan itu sudah dirasakan oleh sejumlah penghuni istana, seperti Limbuk (pelayan Drupadi), Drupada (ayah Drupadi sekaligus mertua Samiaji), dan Raden Gatutkaca. Sekali lagi, Samiaji memang sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. (Sepertinya ia memang seorang raja yang tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu, khususnya saat diliciki Sakuni dalam permainan dadu yang memalukan). Ia seolah menutup kuping terhadap semua nasihat dari para bijak di istana. Dalam hitungan hari, Tejamantri dan Betari berhasil menguasai kerajaan.

Alhasil, berita gonjang-ganjing itu sampai juga ke Kelurahan Karang Tumaritis, tempat di mana para panakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, bermukim. Kepedulian kepada nasib bangsa akhirnya membawa para panakawan itu mengunjungi Kerajaan Amarta. Meski rakyat biasa, “titah” Semar punya tuah. Apalagi, kala itu, Semar turut dibantu Sri Kresna yang sekaligus penasihat spiritual Pandawa Lima. Samiaji dan Dewi Kunti pun berhasil kembali disadarkan.

Penyamaran Togog bisa dibongkar. Dan, Roro Parwita dikembalikan kepada kekasihnya, Raden Ariadewa — putera mahkota Kerajaan Girikencana.

**

SEPERTI biasa, Nano mengemas lakon itu dengan humor. Ya, sebuah humor yang matang. Tidak hanya joke-joke ringan, kelugasan wajah, dan gerakan verbalistik yang memancing tawa. Alhasil, humor yang disajikan Teater Koma, tadi malam, mampu meregum piranti kecerdasan sekaligus kejeniusan seorang Nano Riantiarno, sang sutradara. Ia demikian piawai mengakumulasikan energi psikis yang memang diharapkan khalayak penonton.

Dalam produksi teaternya yang ke-103 itu, Nano menyajikan sebuah “penafsiran kembali” lakon wayang yang disebutnya sebagai carangan, versi, atau sempalan. Buktinya, Nano berhasil mengubah sosok Betari Durga yang ganas sekaligus kejam menjadi sosok gemulai yang kebanci-bancian. Ia berhasil mengubah Gatutkaca yang ksatria santun dan hemat bicara menjadi sosok yang berkepribadian Batak. Ia pun “mengacak-acak” sosok para panakawan menjadi orang Tegal, Jawa, Betawi, dan Sunda.

Sayangnya, lakon itu terasa terlalu panjang. Adegan verbal (dan juga serius) para penghuni istana dirasa amat menjemukan. Meskipun, sebenarnya tak ada yang salah jika dilihat dari faktor penguasaan panggung Cornelia Agatha (Roro Parwita), Ratna Riantiarno (Dewi Kunti), Sriyatun Arifin (Drupadi), Salim Bungsu (Kresna), maupun puluhan pemain lainnya. Untungnya, Nano berhasil menyulap lakon panjang itu menjadi “berwarna” menyusul kehadiran sosok jenaka dalam diri Limbuk (Tuti Hartati), Gatutkaca (Vincentius Ramco Sinaga), maupun para panakawan. Meski tak sering, pengunjung tampak selalu menunggu kehadiran gerak-gerik dan ucapan konyol mereka.

Tema tunggal yang hendak disampaikan Teater Koma lewat “Republik Togog” itu adalah sesungguhnya manusia tak lebih dari wayang yang digerakkan oleh dalang. Manusia tak berdaya karena memang alur cerita bukan milik manusia. Sebagai wayang, tentu garis nasib berada di tangan dalang. Akan tetapi, terkadang manusia tinggi hati dan sering “kerasukan”. Merasa lebih dari dalang, manusia menganggap diri berkuasa.

Pada episode “Republik Togog”, kedua tokoh panutan Lima Pendawa itu menghilang. Tak heran, jika berbagai kekuatan jiwa para satria jadi melemah. Jika lakon tersebut hendak dijadikan metafora zaman, mungkin akan timbul dua pertanyaan “apakah sesungguhnya Indonesia kehilangan Semar dan Kresna?” lalu “mengapa?” Soalnya, meskipun kemudian kedua tokoh itu hadir (dan menyelesaikan masalah di Amarta), peristiwa itu tetap bagaikan sebuah mimpi. Pemunculan kedua tokoh itu hanya sebuah “bonus maya” dalam suasana keputusasaan.

Hanya setitik harapan, saat gonjang-ganjing berlangsung terlalu lama. Togog itu ada di mana-mana. Dia mungkin masih menyelusup, menyihir, sekaligus memprovokasi. Ia menjelma sebagai politisi. Ia menjelma dalam sosok pejabat. Bahkan, ia menjelma menjadi ulama. Tak heran, jika kemudian kekacauan itu selalu ada. (Hazmirullah/”PR”)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/29/0104.htm

29 Juli 2004

Lakon Wayang Dan Lakon Kita

Catatan N. Riantiarno

Menafsir kembali salah satu segmen dari lakon wayang, sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering disebut oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut ‘penafsiran kembali’ itu sebagai carangan atau versi. Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan epos Mahabharata karya Vyasa.

Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar adegan lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri, cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja Kediri sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya (1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis oleh para pujangga masa itu.

Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna. Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula. Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu, seakan makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan perubahan bentuk tokoh.

Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian, Raden Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar (1478-1518) dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi salah satu medium penyebaran agama.

Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus, diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit) yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat digemari.

Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa. Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam dan putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon carangan. Pakem lakon dari India ‘hanya’ dimanfaatkan sebagai narasumber imajinasi.

Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian wayang. Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu. Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus, 1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian disebut Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa.

Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah (1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan dengan lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar, Bagong, Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong dianggap terlalu ‘lancang’ mengritik kebijakan pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris sebagai gantinya.

Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah ditulis hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan para pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon digali dan digali terus-menerus, seakan tak habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon wayang dan karakter wayang, menjadi harta intelektual yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.

Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem aslinya dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.

Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku bangsa Jawa.

Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad karya Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua. Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris’ dan ‘Wayang Prancis’), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi sinergis.

Jika sumber ilham datang dari lakon wayang (Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini. Menjadi lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita, masalah kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya coba sadur lewat jalan pikiran wayang.

Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya, tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian yang dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan dan asesori yang berbeda. Justru yang paling penting adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi roh penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak diungkapkan.

Bagi saya, kesenian adalah ‘seni menafsir alam dan kehidupan’. Tujuannya hanya satu ‘berterimakasih kepada alam dan kehidupan’. Apa pun anugerah alam dan kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan, bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi. Nikmat dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri. Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa diri. Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga. Sepanjang masa.

Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh ‘dalang’. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di tangan ‘dalang’.

Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering ‘kerasukan’  Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari ‘dalang’ menganggap diri berkuasa. padahal kita hanya muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak dalam menjalani lakon hingga ke ujungnya. Pemahaman iklas, bukan berarti menyerah lalu tak berbuat apa-apa. Iklas itu cahaya dari akal budi manusia. Karena lakon manusia sebaiknya terdiri dari rangkaian upaya-upaya kreatif tanpa sikap yang tinggi hati.

Upaya memburu ‘keseimbangan batin’, tersirat dalam lakon-lakon wayang carangan yang saya tulis. Sebagian besar lakon dipentaskan oleh Teater Koma. Maaf. Maaf. Maaf, Wanita-Wanita Parlemen, Konglomerat, Burisrawa, Suksesi, Opera Ular Putih, Kala, Semar Gugat, Republik Bagong, Presiden Burung-Burung, Opera Rama-Shinta, Opera Mahabharata, Opera Anoman dan kini Republik Togog, adalah rangkaian yang tak putus dari upaya-upaya itu. Mungkin sulit diserap dan nampak bagai menaruh setitik debu di gurun pasir luas, menuang segelas air di lautan. Sia-sia.

Tapi apa yang bisa dilakukan selain terus berupaya? Harapannya, semoga ada yang masih memiliki kepeka andalam menimbang, kesadaran dalam bertindak, dan punya akal budi. Keserakahan lahir dari kemunafikan. Dan kehancuran bersumber dari keserakahan. Kitab Zaman sudah mencatat berbagai bukti tentang itu.

Di dalam lakon wayang, Sri Kresna dan Semar menjadi tumpuan segenap harapan. Kedua tokoh itu akan muncul jika Lima Pandawa mengalami kesulitan. Sri Kresna adalah titisan Dewa Wisnu yang piawai dalam mengatur berbagai urusan kenegaraan dan penafsir handal garis nasib yang dipatok oleh para dewa. Sedangkan Semar, meski hanya seorang panakawan (pana=cerdik, kawan=sahabat yang cerdik), diakui punya kemampuan membimbing rohani Lima Pandawa. Jika keduanya tak ada, negara akan gonjang-ganjing.

Pada episode Republik Togog, kedua tokoh panutan Lima Pandawa itu menghilang. Tak heran, jika berbagai kekuatan jahat dengan mudah berhasil merasuki jiwa para satria.

Dan kalau lakon ini merupakan metafora zaman, mungkin akan timbul dua pertanyaan; ‘Apakah kita kehilangan Sri Kresna dan Semar?’ Lalu, ‘Mengapa?’ Sebab, meskipun kedua tokoh akhirnya muncul di akhir lakon, peristiwa itu tetap bagaikan sebuah mimpi di siang bolong. Pemunculan mereka seakan hanya sebuah bonus maya dalam suasana keputus-asaan. Hanya setitik harapan, sat gonjang-ganjing berlangsung terlalu lama. Di dalam kenyataan kini, sesungguhnya, di manakah Sri Kresna dan Semar? Dan apakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan untuk mencarinya? Wahai, Kalika dan Durga masih ‘merasuki’ jiwa. Togog Tejamantri ada di mana-mana.

Lakon wayang, adalah juga lakon tentang manusia. Kepadanya kita bisa berkaca. Tapi, masih adakah niat untuk berkaca? Sudikah kita berkaca?

Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu lama menunggu jawaban. ‘Menunggu cahaya Semar dan Sri Kresna, bagai menunggu garuda beranak singa’.

Jakarta, Juni 2004

www.suarakarya.com

 

Ki Sugito : Petruk Takon Bapa

Liputan dan sharing dari Radio Suara Parangtritis Yogya

Keliling Projo

08/07/2010 08:15:12 (Can)-n HUT Ke-3 RSP, Digelar Wayang Kulit BANTUL: Memperingati Hari Ulang Tahun Ke-3, Radio Suara Parangtritis (RSP) akan menggelar wayang kulit semalam suntuk di halaman studio Radio Suara Parangtritis di Jl.Parangtritis km. 22 Tegalsari, Donotirto, Kretek, Bantul, pada Sabtu (9/7/2010). Pimpinan Radio Suara Parangtritis, Ir. Sudarmanto (Darman Purwoko) dalam releasenya mengungkapkan, pertunjukan wayang mengambil lakon ‘Petruk Takon Bopo’ dengan dalang Ki Sugito -dalam muda potensial dari Sanden Bantul- ini dimaksudkan untuk melestarikan budaya jawa serta memberikan wadah kreatifitas bagi dalang muda potensial dan diharapkan berlangsung secara periodik. (*-3)

Berikut ini link untuk mendengarkan rekaman live wayang ultah RSP ke-3

http://www.4shared.com/folder/JQvWmMyH/Petruk_Takon_Bopo_-_Ki_Sugito_.html

KONTRIBUSI POSITIF VI

Beberapa waktu yang lalu PPW jatim menerima kiriman paket istimewa yaitu pita kaset wayang kulit sebanyak 8 pcs, lakon SETO NGRAMAN dalang ki Hadi Sugito dari Mas Budi Susilo Raharjo dari Tangerang

tampak depan pita kaset

tak hanya itu PPW jatim masih punya 1 lakon lagi pita kaset lakon Nayarana Begal dalang Ki Kondo Moerdiyat dari Tulungagung

ini adalah koleksi dari ADS FM TRENGGALEK

Proses convert menggunakan :

KONTRIBUSI POSITIF V

Hanya sekedar Judul saja sebagai pengharapan bahwa masih banyak kepedulian untuk melestarikan budaya adi luhung wayang, dari berbagai sumber dunia maya baik itu facebook SUTRISNO RINGGIT PURWO, facebook  Paguyuban Pecinta Wayang dan sebagainya atau forum – forum dunia maya lainnya baik itu milis – milis, radio – radio dari Berbagai Daerah Seperti RADIO SUARA KENANGA sebagai pelopor sumbangsihnya terhadap blog ini, muncul beberapa waktu yang lalu mengikuti jejak RADIO SUARA KENANGA JOGJAKARTA adalah RADIO KURNIA FM 91.5 MHz TRENGGALEK, dan baru – baru ini banyak koleksi Audio dari RADIO SUARA PARANGTRITIS JOGJAKARTA menyumbangkan koleksi Audio wayang kulit, sehingga menambah khasanah dan makin lengkapnya wayangprabu.com hingga seperti ini.

 

Bukan tidak mungkin akan bermunculan Station Radio radio lain akan menambah warna dan khasanah di wayangprabu.com sehingga pengunjung tak bosan – bosan selalu dapat menikmati berbagai macam Audio/Video wayang dari berbagai daerah di tanah air tercinta Indonesia ini.

Baru – baru ini Pengurus PPW jatim mendapatkan support dari UVS Entertaiment & Video Service yang bergerak dibidang Dokumentasi dan service camera Video Shooting yang ditengah – tengah kesibukan UVS dalam melayani Service camera Video hingga luar Kota Trenggalek dan bahkan sering dapat order service dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, kedepan akan bekerjasama dan mendukung adanya dokumentasi wayang kulit secara murah dan tentu dengan kualitas Profesional dan cling. sample akan di kirim ke Alamat mas Pranowo Budi dikemudian hari.

Ada 2 Koleksi terbaru hasil dokumentasi UVS Entertaiment & Video Service antara lain :

1. Pagelaran wayang kulit live in Desa Dawuhan kecamatan Trenggalek Kab. Trenggalek 13 Juli 2011 Lakon Wahyu Manik Tunjung Seto dalang Ki Eko Kondo Presdianto dari Tulungagung.

2. Pagelaran wayang kulit live in warung kucur Kelurahan Surodakan Kec. Trenggalek, Kab. Trenggalek tanggal 03 September 2011 Lakon Wisanggeni Lahir Dalang Ki Deni Setiawan dari Blitar.

Kurnia FM 91.5 MHz  masih ada beberapa Koleksi yang belum sempat diunggah di wayangprabu.com karena keterbatasan waktu dan bandwitch serta personel yang terbatas membuat lambat dalam proses conversi maupun unggah.

Dari Pengurus PPW jatim kami mengucapkan selamat menikmati semua unggahan dari berbagai Macam Stations Radio tersebut diatas, dan tentu berharap akan banyak Stations Radio Radio lain akan mengikuti jejak dan sumbangsihnya.

Putri Indonesia dan Busana Wayang

Topik ini sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di milis PPW. Mengenai kiprah Nadine Alexandra menuju Miss Universe.

Siapa tak kenal Nadine. Cantik, terpilih sebagai putri Indonesia 2011 dan pastinya smart. Karena terpilih menjadi yang terbaik, pastinya Nadine dikaruniai kelebihan baik fisik maupun kemampuan intelegensianya (mestinya juga emotional dan spiritualnya).

Kalau ada berita-berita semacam ini :

tentunya kita sangat bangga dan mengacungkan jempol atas upaya yang dilakukan dalam memperkenalkan budaya kebanggaan kita yang telah diakui oleh dunia sebagai world masterpiece.

Cuman yang agak “sedikit” mengganjal nih … waktu teman-teman di milis PPW kebetulan “menikmati” foto-foto Nadine disini nih

Nggak ada yang salah sebenarnya pada diri Nadine, karena tentu saja fotografernya pastilah profesional sehingga hasil foto yang diperoleh adalah yang terbaik.

Kata Limbuk, “nek wong ayu … di apak-apake yo tetep ae ayu. Lha nek aku … kudu dandane sing suwe, pupure kudu kandel lan sing moto dikon rada diblerengake cahayane, ameh kulite rada ketok mencorong”

Karena paguyuban kami adalah sebuah perkumpulan bagi para pecinta wayang, maka segala sesuatu yang ada bau-baunya wayang tentunya menjadi perhatian kami. Lha … di foto tadi, Nadine berpose menggunakan pakaian wayang. Sekilas kalau diperhatikan biasa-biasa saja. Kalau saya perhatikan Nadine jadi tambah cantik, mirip-mirip Dewi Surtikanti-lah (kira-kira lho he he he …) Namun setelah pandangan kita mengarah ke bawah menuju pinggul dan kaki, maka mulai muncul “ganjalan” tadi.

Secara seni memang nyeni katanya (guayamu pran koyo ngertio ae …. )

Tapi kalau pembicaraan dikaitkan dengan konten wayang maka mulai muncul perdebatan.

Layakkah busana yang dikenakan Nadine seperti pada gambar, diexpose dan diperkenalkan kepada dunia sebagai citra dari budaya wayang dari Indonesia ?

Pahamkah Nadine terhadap apa yang dilakukan itu ?

Kalaupun yang merancang bukan Nadine, setujukan para pemerhati dan pekerja seni budaya wayang terhadap rancangan busana tersebut ?

Dan mungkin akan banyak muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang pastinya pun akan menimbulkan perdebatan-perdebatan panjang disertai dengan adu argumentasi dan (mungkin) kepentingan.

Kami hanya mengungkap ganjelan hati terhadap masalah ini. Kalau nggak di publish nanti takut malah nylilip di hati dan menyebabkan penyakit.

Mudah-mudahan lembaga atau kelompok atau personal yang merasa terkait terhadap hal ini, lestari dan berkibarnya budaya lokal budaya wayang, merasa ikut terpanggil untuk terus memperbaiki upaya dimaksud.

Sudahkah kita melakukan sesuatu ?

Cukup bangga dengan budaya kita sendiri dan memperjuangkannya untuk tetap eksis di tengah galau dunia global kini. Cukup itu yang kita lakukan.

Ki Anom Sucondro “Semar Mbarang Jantur”

Momoc Daladi
momoc_dld@yahoo.co.id

Puniko kawulo wonten recording wayang lakon Semar Mbarang Jantur Dalang Ki Anom Sucondro kanti restu Ki Dalang audionipun kawulo inggah wonten ing :

1: http://www.4shared.com/audio/RlaxKqj-/1_online.html
2. http://www.4shared.com/audio/fv9Xj9Fh/2_online.html
3. http://www.4shared.com/audio/sU6JYASH/3_online.html
4. http://www.4shared.com/audio/kaHBGwkD/4_online.html

Mbok Bilih wonten ingkang bade ngersakaken
Nuwun.

Profile Anom Sucondro

http://gudeg.net/id/directory/73/977/Anom-Sucondro.html

Beteng RT 63 RW 16, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo INDONESIA

Anom Sucondro bergiat di bidang seni sebagai dalang dan seniman campursari. Ia berasal dari latar belakang keluarga seni, terutama pedalangan. Kakek dan ayahnya adalah dalang, yakni Mbah Jogoyudo dan Ki Cipto Subali. Demikian pula dengan saudara-saudaranya yang sebagian besar menjadi pekerja seni. Motivasi menekuni bidang seni adalah panggilan nurani dan lingkungan masyarakat yang mengarahkannya menjadi dalang, selain juga sebagai wujud dari pengabdian terhadap kesenian adiluhung.

Pria kelahiran Kulon Progo, 3 Juli 1975 ini banyak menimba pengetahuan dan ketrampilan seni dari ayahnya sendiri, selain belajar secara otodidak dari situasi dan kondisi lingkungan yang menjadi inspirasinya berkesenian. Ia juga banyak mengambil pelajaran dari pengamatan dan kekagumannya terhadap Ki Narto Sabdo dan Romo Riyo Cipto Sasongko (pengageng Habiranda).

Prestasi yang pernah diraihnya antara lain: Juara Harapan Dua dalam Festival Wayang Indonesia bidang Pedalangan dari Dinas Kebudayaan DIY (2004) dan Penyaji Terbaik Festival Dalang Remaja dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XVI tahun 2004.

Konsep “Badar” Dalam Lakon Carangan Pewayangan Tradisi Yogyakarta

(The Concept of “Badar” in Yogyakarta Pupettry Tradition Branch Story)

Hanggar Budi Prasetya

Staf Pengajar Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta

Harmonia Vol. VI No. 3 2005

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk (1) Memahami lakonlakon Semar dalam pewayangan tradisi Yogyakarta dan keterkaitannya dengan peristiwa Baratayuda dan (2) Memahami konsep “badar” dalam pewayangan tradisi Yogyakarta. Wayang, seperti halnya jenis folklor yang lain memiliki logika tersendiri yang berbeda dengan logika umum. Salah satu logika itu terlihat dari munculnya konsep”badar” dalam hampir seluruh cerita pewayangan, terutama pada lakonlakon carangan. Konsep “badar” ini berasal dari mitologi Jawa, bahwa seseorang yang memiliki ilmu dapat berubah menjadi bentuk lain, dan pada saatnya bisa kembali atau badar seperri aslinya. Biasanya “badar” mengakhiri sebuah pertunjukan wayang.

Kata Kunci: konsep badar, lakon carangan, lakon Semar

 A. Pendahuluan

Dibandingkan dengan wayang Bali atau wayang Sunda, wayang Jawa jauh berkembang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah lakon wayang yang ada. Lakon wayang Jawa jumlahnya mencapai ra-tusan, sementara wayang Sunda dan Bali sangat terbatas. Gronendael (1988: 209) menemukan 449 judul lakon wayang Ja­wa, sedangkan wayang Sunda dan Bali masingmasing 26 lakon dan 8 lakon. Seb-agian besar lakonlakon yang diciptakan ini dikenal dengan lakon carangan, yaitu lakon yang diciptakan dalang dengan cara mengembangkan lakon baku, lakon yang terkait langsung dengan peristiwa Bara-tayuda.

Ada berbagai jenis lakon carangan, yaitu lakonlakon tentang kelahkan, per-kawinan, wahyu, kembar, dan gugat. Sebagai lakon carangan, lakon gugat dan lakonlakon kembar bisa digolongkan sebagai lakon yang relatif baru. Namun demikian, hingga kini masih belum jelas siapa pembuat dan kapan lakon tersebut pertama kali dipentaskan.

Untuk keperluan analisis, lakon yang dipilih adalah lakonlakon wayang yang disajikan oleh Ki Hadi Sugito. Pe-milihan dalang dilakukan dengan pertim-bangan, yaitu: Pertama, telah tersedia rekaman dalam bentuk pita kaset. Kedua, pertunjukan Ki Hadi Sugito banyak diacu oleh dalangdalang lain dan dapat diang-gap mewakili tradisi Yogyakarta.

B. Tinjauan Pustaka

Cerita, termasuk lakon wayang, lahir dari imajinasi manusia, khayalan manusia, walaupun unsurunsur khayalan tersebut berasal dari kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Putra (1997) cerita seperti ini dapat dipandang sebagai sebuah m-itos. Mitos yang dknaksud di sini berbeda dengan pengertian mitos yang biasa di-gunakan dalam kajian mitologi pada umumnya, yang memandang mitos seba­gai cerita suci yang dalam bentuk sim-bolis mengkisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imajiner tentang asalusul dan perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatankekuatan adikodrati, ma­nusia, pahlawan, dan masyarakat. Di sini mitos merupakan suatu cerita (tidak h-arus suci) yang mengandung pesan-pesan tertentu. Untuk itu lakon wayang dapat dianalisis secara structural.

Lakonlakon carangan telah banyak menarik peneliti dan penulis terdahulu. Beberapa di antaranya adalah Feinstein, dkk (1986) yang menulis mengenai lakon carangan yang tersebar di masyarakat Surakarta. la berhasil mengumpulkan 106 judul lakon yang bersumber dari 43 dalang di Surakarta. Penulisan lakon ca­rangan juga pernah dilakukan oleh (1) Wiryoatmojo (1975) mengenai balungan lakon yang terdiri dari 20 lakon carangan tradisi Surakarta. (2) Meyer, ed (1883) menulis manuskrip Serat Pakem Gancara-nipun Lampahan Ringgit Purwa 24 iji. (3) Prawiro Sudirdjo dan Sulardi (t.t) menulis 20 buah cerita lakon carangan, (4) Probohardjono (1961) menulis 14 cerita lakon. (5) Mangkunegara VII (1927) menulis 176 lakon carangan.

Berbeda dengan di Surakarta, di Yogyakarta sangat miskin tulisan atau kumpulan lakon wayang. Sejauh ini belum ada satupun buku kumpulan lakon carangan tradisi Yogyakarta. Yang ada hanyalah kumpulan lakon Baratayuda yang ditulis oleh Radyomardowo, dkk (1959) berisi 12 lakon.

Dari uraian di atas nampak bahwa penulisan lakon carangan telah dilakukan oleh penulis terdahulu. Namun sayang-nya hanya sebatas pengumpulan lakon saja. Hingga saat ini belum ada tulisan yang mencoba membahas kumpulan la-konlakon carangan. Lebih celaka lagi, hampir seluruh lakon carangan yang telah dipublikasikan adalah lakon carangan tradisi Surakarta. Padahal, lakon carangan tradisi Yogyakarta juga banyak sekali, namun hanya ada secara lesan. Kalau cerita lesan tadi tidak segera dilakukan pendokumentasian, makabisa dipastikan bahwa sebentar lagi cerita wayang tradisi Yogyakarta akan hilang dari pengetahuan masyarakat bersaamaandengan meninggalnya para empu dalang Yogyakarta. Untuk itu, penelirian mengenai lakon carangan tradisi Yogyakarta masih relefan dilakukan.

C. Pengumpulan dan Analisis Data

Pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan mengikuti cara yang pernah ditempuh oleh Putra (2001) da-lam menganalisis cerita rakyat Dongeng Bajo. Langkahlangkah ini dimulai de­-ngan, “membaca” kaset wayang lakon Semar Gugat (SG), Semar Bangun Ka-yangan (SBK), dan Semar Kembar (SK) dengan  cara mendengarkan rekaman kaset yang ada. Dari pembacaan ini diperoleh pengetahuan dan kesan tentang isi cerita, tentang tokohtokohnya, tentang berbagai tindakan yang mereka lakukan, serta berbagai  peristiwa yang mereka alami. Mengingat panjangnya cerita, ceri-  ­ta ini perlu dibagi dalam beberapa epi­-sode. Episode ini hampir sama dengan pembabakan adegan. Oleh  karena  itu  perlu dilakukan pembacaan lagi lebih sesama, guna mengetahui episodeepisode apa saja yang mungkin ada dalam ceri-tera, yang dapat dijadikan dasar bagi analisis selanjutnya. Episodeepisode ini dalam pertunjukan wayang sangat jelas, ditandai dengan pergantian gending (iring-an), janturan (diskripsi tempat) dan ung-kapanungkapan dalang misalnya” Gantya kang dnarita, tunggal kandham seje prenahe” (Sekarang berganti yang diceritakan, satu perkataan tetapi tempatnya berbeda” atau Sinegeg kang winursita kang minongka sinam-beting dnarita kacondra adeging negari ….. (Berhenti dulu yang barusaja diceritakan, yang menjadi kelanjutan cerita adalah negara…), dan sebagainya. Setiap episo­de ini umumnya berisi diskripsi tentang tindakan atau peristiwa yang dialami oleh tokohtokoh dalam cerita. Sebagaimana dikatakan LeviStrauss (Putra, 2001:212) tindakan atau peristiwa ini yang meru-pakan myteme atau ceritemehanya dapat ditemukan pada tingkat kalimat. Oleh karena itu dalam analisis ini perhatian diarahkan terutama pada kalimatkalimat yang menunjukkan tindakan atau peristiwa yang dialami oleh tokohtokoh cerita. Akan tetapi karena cara ini tidak selalu tepat karena sebuah pengertian atau ide tertentu kadangkadang  diung-  kapkan dalam beberapa kalimat. Oleh karena itu pula upaya untuk menemukan ceritemeceriteme di sini dilakukan de- ­ngan memperhatikan rangkaian kalimat­kalimat yang memperlihatkan adanya satu ide tertentu. Dengan cara ini akan dapat ditemukan rangkaianrangkaian kalimat yang memperlihatkan suatu pengertian tertentu (Putra, 2001: 212).

Sebagai kalimatkalimat yang berdiri sendiri, ceriteme sering belum begitu je­las maknanya. Ceritemeceriteme tersebut perlu disandingkan dengan ceriteme lain yang tempatnya belum tentu berurutan atau berdekatan. Hanya dengan menyan-dingkan berbagai ceriteme inilah akan muncul kemudian pengertian tertentu dari ceriteme tersebut. Pengertian baru ini seolaholah lahir dari relasi ceriteme tersebut  dengan ceriteme   lain     dalam konteksnya yang baru.

Dengan langkahlangkah analisis se-perti di atas, akan cukup mudah mene-mukan oposisioposisi antarasatu tokoh dengan tokohlain berdasarkan atas tin-dakan yang mereka lakukan dan peristiwa yang mereka alami. Meskipun begitu, berbagai oposisi ini juga tidak akan be­gitu banyak artinya bagi pemahaman taf-sir kecuali dapat menempatkannya dalam hubungan dengan oposisioposisi lain yang berasal dari cerita wayang secara ke- seluruhan. Hanya dengan begitu interpre-tasi si peneliti atas berbagai oposisi ter­sebut akan menjadi lebih komprehensif, utuh, dan menyeluruh.

Setelah miteme yang ada dalam cerita didapadtan, langkah selanjutnya adalah mencari relasi dalam cerita terse­but. Kumpulan relasi tersebut akan menunjukkan rangkaian-rangkaian trans-formasi lakonlakon carangan. Dari rang-kaian tersebut selanjutnya dapat dibuat sebuah model yang dapat menjelaskan atau membantu peneliti memahami mak-na lakon Semar sebagai suatu kesatuan. Dari sini kemudian peneliti akan melihat bahwa fenomena yang diteliti memper-lihatkan adanya sebuah struktur tertentu yang bersifat tetap. Struktur yang dite-mukan ini selanjutnya digunakan untuk menjelaskan makna lakonlakon Semar dalam cerita wayang. Berikut ini meru-pakan Miteme dari lakonlakon wayang yang diteliti.

D. Miteme Lakon Carangan

1. Semar Gugat (SG) Adegan

I: Negara Dwarawati

Kresna mendapat laporan dari Ga-tutkaca kalau keadaan di negara Amarta sedang tidak aman, banyak warga Amarta yang sakit dan meninggal. la datang ke Dwarawati karena disuruh Puntadewa (raja Amarta) untuk mengundang Kresna agar datang di negara Amarta. Kresna bersedia datang. Gatutkaca di suruh berangkat dulu ditemani Setyaki dan Udawa Continue reading