Category Archives: Bram Palgunadi

Tulisan-tulisan dari pak Bram Palgunadi

MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA


by Bram Palgunadi on Tuesday, December 11, 2012 at 9:44am ·

Pagelaran wayang kulit purwa yang semarak dan sesekali juga mencekam, merupakan salah satu daya tarik. Tetapi pagelaran wayang kulit purwa masa sekarang, banyak yang melenceng jauh dari hakikatnya sebagai pagelaran wayang. Lalu ‘digantikan’ menjadi pagelaran lainnya, seperti campur-sari, dhang-dhutan, lawak, dan bahkan pagelaran wayangnya sendiri pelan-pelan tapi pasti, lalu berubah mengkerdil menjadi sekedar ‘pelengkap penderita’. Pagelaran wayang lalu kehilangan peran dan fungsinya sebagai media untuk merenungkan hikmah kehidupan. Seperti tampak pada gambar di atas, pagelaran wayang kulit purwa berubah menjadi ‘pagelaran pesindhen’; dan sederet pesindhen ini lalu dipajang, maaf, seperti layaknya barang dagangan.

Saat pertama kali mendengar kata ‘wayangan’ atau ‘karawitan wayangan’, kebanyakan orang berpikir, ini merupakan suatu pagelaran yang rumit, sukar, penuh ritual, mistis, dan memerlukan keterampilan dan pengalaman luar biasa untuk bisa memainkannya. Ini merupakan pandangan umum, yang lazim kita temukan pada kebanyakan orang di kalangan masyarakat awam. Benarkah demikian?

Sebagian dari pendapat ini, harus diakui saja, memang benar. Tetapi, ada sejumlah besar hal, yang mungkin saja tidak diketahui khalayak ramai, yang sebenarnya mencerminkan bahwa memainkan wayang kulit, khususnya wayang kulit purwa tidaklah seseram dan sesukar yang dibayangkan orang. Misalnya, adanya pandangan di kalangan masyarakat luas, bahwa gendhing-gendhing pengiring pagelaran wayangan, merupakan iringan yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan keterampilan, kemampuan khusus, pemahaman, dan bahkan pengetahuan khusus; untuk bisa menjalankannya. Pandangan ini, tentu saja berakibat timbulnya pendapat, bahwa pagelaran wayang kulit purwa merupakan pagelaran yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan ‘orang-orang pilihan dengan kemampuan dan keahlian khusus’. Pendapat inilah yang hendak ‘dibalikkan’. Karena nyatanya, sebuah pagelaran wayang kulit purwa tidaklah selalu merupakan suatu pagelaran yang maha sukar.

Jadi, pertanyaannya, sebenarnya apa saja yang merupakan ‘kebutuhan minimal’ (minimum requirement) untuk bisa melaksanakan suatu pagelaran wayang kulit purwa? Di bawah ini, dijelaskan secara singkat jawabnya. Juga termasuk berbagai renik-renik yang merupakan kekhasan pagelaran wayang kulit purwa.

Gendhing pengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa Read the rest of this entry

KRONIK DAN INTRIK DI ANTARA BOMA NARA SURA, GATHUTKACA, DAN KRESNA….


by Bram Palgunadi on Wednesday, October 17, 2012 at 1:29pm ·

Radyan Bima-Sena, tak bisa menahan diri, karena merasa puteranya secara sengaja telah dikorbankan…..

GENDERAN LALER MENGENG INI, AKAN MENGIRINGI ANDA SAAT MEMBACA CERITA KELAM INI

Perang besar Barata-Yudha sudah mulai menggemakan genderang perangnya di medan laga Tegal Kuru-Setra. Negara-negara sekutu lawan masing-masing sudah mudah mempersiapkan diri dan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan bersenjatanya. Bahkan, korban sudah mulai berjatuhan di pihak Kurawa maupun Pandhawa. Lamat-lamat tembang ada-ada perang Durma terdengar mengalun mengarungi angkasa medan perang, membuat suasana di medan perang Tegal Kuru-Setra semakin mencekam.

 

Ridhu mangawur-awur wurahan,

Tengaraning ajurit,

Gong maguru gangsa,

Teteg kadya butula,

Wor panjriting turanggesti,

Rekatak ingkang,

Bajra lelayu sebit……

 

Di pakuwon markas besar para kerabat Pandhawa, terjadi pertemuan serius yang amat sangat menegangkan. Persoalan serius mencuat, setelah timbul perdebatan sengit dan polemik, siapa yang akan diangkat dan ditetapkan sebagai Panglima Operasi Angkatan Bersenjata Amarta-Pura melawan Angkatan Bersenjata Hastina-Pura. Dari polling di antara para pejabat tinggi Pandhawa, ternyata terjadi perpecahan. Di kalangan kerabat Pandhawa dan sekutunya, ternyata ada dua calon kuat, yaitu Prabu Boma Nara Sura raja Negeri Traju-Trisna dan Prabu Anom Gathutkaca raja muda Negeri Pringgandani. Dua tokoh ini, sama-sama mempunyai pendukung kuat dan kesempatan untuk dipilih sebagai Panglima Operasi Angkatan Bersenjata Amarta-Pura. Celakanya, di masa lampau, kedua tokoh ini juga pernah bersitegang dan mengalami gesekan politik. Pergolakan politik yang akhirnya meluas menjadi ‘perang terbatas’ di antara keduanya, bahkan juga sempat terjadi, saat pecah peristiwa perebutan wilayah tak bertuan ‘Kikis Tunggarana’, yang lokasinya terletak tepat di wilayah perbatasan Negeri Traju-Trisna dan Negeri Pringgandani. Latar belakang masa lalu yang mencekam itu, rupanya sedikit-banyak basih terbawa sampai bertahun-tahun kemudian. Dari catatan dinas intelejen dan para pengamat militer, kedua tokoh itu memang mempunyai reputasi yang sama-sama kelam; tetapi keduanya juga mempunyai reputasi gemilang. Fakta intelejen menyatakan sebagai berikut.

 

Tentang Prabu Anom Gathutkaca Read the rest of this entry

RIWAYAT BOMA NARA SURA DAN PARA KSATRIA YANG BERPERI-LAKU CANDHALA DAN NISTHA….


by Bram Palgunadi on Tuesday, September 4, 2012 at 10:38am ·

Sesaat setelah Raden Suteja didaulat menjadi Raja di Kerajaan Traju-Trisna, setelah menaklukkan Prabu Bomantara.

Raden Suteja atau Raden Sitija versi Yogyakarta yang gagah….

Cerita aslinya, di masa lampau (ratusan tahun yang lalu), ditulis dalam bentuk karya sastra yang berjudul ‘Kakawin Boma Kawya’. Sedang cerita gubahannya, yang jauh lebih populer di kalangan para penggemar wayang, seringkali dimainkan dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa, memakai judul cerita (lakon) ‘Boma Gugur’, ‘Samba Juwing’, atau ‘Gojali Suta’. Cerita yang berpusat pada tokoh Boma ini, merupakan salah satu cerita wayang, yang boleh dikatakan paling banyak versinya.


Raden Suteja, setelah berhasil mengalah Prabu Bomantara, tak sadar lalu berubah peri-lakunya, karena kerasukan sukma Prabu Bomantara yang bertabiat jahat.

Meski pun demikian, setelah ditelusuri, dalam khazanah pagelaran wayang, cerita yang berpusat pada tokoh Boma ini, sebenarnya terdiri atas empat cerita berbeda (tetralogi), yaitu cerita 1) ‘Suteja Takon Bapa’, 2) ‘Rebut Kikis Tunggarana’, 3) ‘Samba Juwing’, dan 4) ‘Gojali Suta’ atau ‘Boma Gugur’. Cerita ‘Suteja Takon Bapa’ dan ‘Rebut Kikis Tunggarana’, biasanya ditampilkan dalam dua cerita yang benar-benar berbeda. Namun, dua cerita yang terakhir, yaitu cerita ‘Samba Juwing’ dan ‘Boma Gugur’, seringkali digabungkan menjadi satu cerita, meski pun sebenarnya merupakan dua cerita yang terpisah.

Boma saat masih muda dan bergelar Raden Suteja atau Raden Sitija.

Cerita ‘Suteja Takon Bapa’ secara ringkas menceritakan saat Raden Suteja (Boma saat masih muda) mempertanyakan siapakah ayahnya yang sebenarnya, dan berusaha menemukan jati dirinya. Pada episode ini, Raden Suteja diminta oleh para dewa, untuk memerangi seorang raja raksasa yang bernama Prabu Bomantara dari Kerajaan Trajutrisna. Cerita ‘Rebut Kikis Tunggarana’, menceritakan peperangan antara Bomanarakasura dengan Gathutkaca, memperebutkan wilayah tak bertuan yang disebut ‘Kikis Tunggarana’. Cerita ‘Samba Juwing’, merupakan bagian yang boleh dikatakan paling menarik dan sangat terkenal, karena menceritakan perselingkuhan Raden Samba, adik tiri Bomanarakasura, dengan Dewi Hagnyanawati, isteri Bomanarakasura; yang berakhir dengan kematian Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati. Sedangkan cerita ‘Gojali Suta’, menceritakan peperangan besar antar saudara, yang awalnya dipicu oleh persaingan antara Gathutkaca dengan Bomanarakasura, yang diperuncing dengan peristiwa dipilihnya Gathutkaca sebagai panglima wadyabala Pandhawa dalam Perang Barata-Yudha. Pada episode ini, Bomanarakasura yang merasa lebih sakti dan merasa lebih berhak menjadi panglima perang dibanding dengan Gathutkaca, karena kecewa, akhirnya menantang semua saudara dan bahkan ayahandanya sendiri (Prabu Kresna). Episode ini, berakhir dengan kematian Bomanarakasura di tangan ayahandanya sendiri. Itulah urutan ‘riwayat’ Bomanarakasura secara ringkas, sejak muda sampai akhirnya gugur. Read the rest of this entry

KI NARTO SABDHO MENANGIS……..


on Monday, August 6, 2012 at 9:00am ·

Ki Narto Sabdho almarhum semula adalah seorang ‘pengrawit’ (pemain musik instrumen gamelan), khususnya sebagai pemain kendhang. Lama kemudian, beliau baru ‘madeg dadi dhalang’, dan boleh dikatakan sejak itu beliau lebih dikenal sebagai dhalang dibanding dengan sebagai pemain kendhang. Tetapi jika dicermati, karya-karya beliau sebenarnya bahkan lebih banyak sebagai pengrawit, dibandingkan dengan sebagai dhalang. Misalnya, beliau sangat banyak membuat lagu dolanan, garap gendhing, dan membuat gendhing versi baru.

Mencermati apa yang pernah dilakukan Ki Narto Sabdho almarhum selama hidupnya, akan merupakan bahan renungan dan diskusi panjang-lebar yang tak habis-habisnya. Tokoh dhalang yang satu ini, faktanya memang memegang peran yang sangat dominan sebagai pemicu perubahan gaya permainan pagelararan wayang kulit versi Jawa, yang dampaknya mulai sangat terasa pengaruhnya menjelang awal tahun 1970-an. Pada masa itu, banyak pihak yang tidak saja menentang Ki Narto Sabdho, bahkan memusuhi dan berusaha menyingkirkan; karena dia dipandang ‘nerak lan ngrusak pakem’. Dalam beberapa pagelaran yang dilakukan di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, bahkan beliau berulang kali mengalami pelecehan harkat, dihujat habis-habisan, atau dilempari saat melakukan pagelaran.

Tapi yang terjadi kemudian, adalah sebaliknya. Para gegeduk ‘pakar-pakar pakeliran wayang dan karawitan’ yang mengucilkan dan memusuhinya, ternyata malah berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat luas sangat mendukung dan menyukai gaya pagelaran Ki Narto Sabdho. Bahkan, pada sekitar tahun 1971, sebagai hasil dari suatu pelaksanaan survei (dilakukan terhadap masyarakat) tentang dhalang mana yang paling disukai, beliau dinyatakan sebagai dhalang paling populer di Indonesia. Situasi inilah yang dengan segera membalikkan sejarah! Sejak itu, gaya permainan Ki Narto Sabdho melanda dan mempengaruhi gaya permainan hampir seluruh pagelaran wayang kulit yang dimainkan oleh banyak dhalang lainnya tanpa bisa dibendung lagi. Kesukaan akan permainan Ki Karto Sabdho, bahkan masih menjalar sampai sekarang, meski pun beliau sudah lama meninggal. Dengar saja secara langsung atau lewat internet (pakai ‘streaming’), bagaimana kaset-kaset pagelaran wayang dengan dhalang Ki Narto Sabdho sampai sekarang masih sering amat terdengar mengudara dan sangat dinikmati oleh banyak pendengar siaran radio.

Pada masa sekarang, para pendengar siaran radio itu berasal dari dalam dan luar negeri. Hampir setiap malam, dari berbagai stasiun pemancar radio (secara langsung atau lewat internet) kita bisa mendengar kembali bagaimana kata, kalimat, tembang, sulukan, antawacana, janturan, serta drama kehidupan yang menyentuh emosi dan perasaan; yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho kepada para pendengarnya (bukan lagi kepada penontonnya). Bahkan tanpa gambar video apa pun, karena di masa itu pita kaset video sangat mahal harganya, rekaman pagelaran wayang Ki Narto Sabdho pada masa itu lebih banyak dikenal lewat pita kaset (merupakan rekaman suara tanpa gambar); mendengarkan rekaman suara pagelarannya saja sudah bisa membuat pendengarnya tercekam dan terhanyut emosi serta perasaannya……

Panggilan akrab penuh kasih sayang bagi Ki Narto Sabdho di kalangan para seniman karawitan jauh sebelum masa sekitar tahun 1970-an adalah ‘Mbah Narto’. Namun, di masa itu, ada panggilan (nick name) lain bagi Ki Narto Sabdho almarhum, yang entah dari mana asalnya, yang pasti saya meyakini bukan berasal dari kalangan seniman karawitan, yaitu panggilan ‘Narto Jaran’ (jaran = kuda). Mungkin panggilan itu mungkin bermula dari kegesitan Pak Narto saat memainkan wayang; atau, gesit dan liar saat mempermainkan emosi dan perasaan penontonnya. Suatu sebutan yang agak aneh, tetapi ya itulah kenyatanya…..

Sampai sekarang menurut saya belum ada yang bisa menggantikan atau menandingi Mbah Narto dalam bidang sanggit, drama, serta permainan emosi penonton. Mbah Narto masih yang terbaik. Dulu, pada sekitar tahun 1976 (saya agak lupa tahunnya), saya pernah nonton Mbah Narto grup Condong Raos-nya memainkan lakon ‘Samba Juwing’ (juga sering disebut lakon ‘Boma Gugur’ atau ‘Gojali Suta’) di Taman Mini, yang nonton pagelarannya banyak sekali, ada barangkali sekitar 20.000 orang. Saat itu, di sejumlah adegannya, banyak sekali penonton yang terharu, tercekam, dan menangis tersedu-sedu, seakan-akan apa yang diceritakan Mbah Narto itu adalah dirinya. Hal itulah yang banyak dinyatakan oleh penonton. “Kula kok karasa yen riwayate Boma niku kados riwayat urip kula,” begitu pernyataan beberapa penonton yang saya tanya sesaat setelah pagelaran berakhir di pagi hari, masih dengan bekas-bekas sembab dan bekas linangan air-mata di sisi-sisi matanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mbah Narto di rumahnya (pada sekitar tahun 1976), di Jl. Anggrek, Semarang; beliau bercerita bahwa lakon ‘Samba Juwing’ merupakan salah satu lakon yang paling disukainya. Karenanya, beliau seringkali membawakan cerita itu. Jauh lebih sering dari pada lakon-lakon lainnya.

Mengatur, mengendalikan, lalu  mempermainkan emosi dan perasaan penonton! Hal inilah yang sampai sekarang belum pernah saya lihat berhasil dilakukan oleh banyak dhalang masa kini (yang mana pun). Dhalang masa kini, kebanyakan hanya hura-hura, ramai, lucu (itu juga karena membawa pelawak, dhalangnya sendiri mungkin tidak terlalu lucu), banyak perangnya, banyak goyang campur-sarian-nya, banyak sindhen-nya, garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (yang amat membosankan dan sangat melelahkan telinga), penuh dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Kalau pun skenarionya bagus, kebanyakan tidak bisa membawa hanyut emosi dan perasaan penontonnya. Sedangkan pagelarannya sendiri seringkali tidak membuat penontonnya terbawa emosinya dan tidak membawa penontonnya memikir atau belajar sesuatu yang bersifat spiritual, sesuatu yang bersifat filosofis, atau sesuatu yang bersifat ajaran bagaimana hidup baik. Artinya, pagelaran wayang kulit purwa pada jaman sekarang, ditinjau dari segi itu, menjadi suatu pagelaran yang kering serta miskin ajaran dan tuntunan rohani.

Menurut saya, semacam ada doktrin atau anjuran, jika mau main wayang semalam suntuk, sebaiknya menerapkan hura-hura sepanjang malam, pokoknya ramai, tidak perlu lucu (kalau mau lucu ya bawa pelawak saja), sebanyak mungkin perangnya biar ramai, perbanyak goyang campur-sarian-nya biar penonton puas, banyak sindhen-nya dan hadapkan wajah mereka ke arah penonton biar wajah mereka bisa menarik perhatian penonton, buat garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (meski pun kenyataannya amat membosankan dan sangat melelahkan telinga, karena grafik garapnya selalu tinggi sepanjang malam), penuhi pagelaran dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan biarkan saja mengorbankan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Pola seperti inilah yang pada masa sekarang berkembang. Kenyataannya, pagelaran jaman sekarang lebih mengeksploitasi ‘naluri rendah manusia’, termasuk sangat mengeksploitasi hawa nafsu (maaf, ‘nafsu kebinatangan’), termasuk humor dan guyonan berbau sex, yang pada masa sekarang sangat banyak dieksploitasi untuk sekedar mengejar kesenangan ragawi penontonnya.

Pada sejumlah pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, kenyataannya penontonlah yang mengendalikan pagelaran, dan bukannya pagelaran yang mengendalikan penonton. Di Kota Bandung suatu ketika terjadi pagelaran wayang dengan dhalang yang sebenarnya bagus permainannya. Tetapi apa yang terjadi? Pas adegan Limbukan, penonton terang-terangan meminta dhalang supaya pagelaran dihentikan saja dan digantikan dengan adegan campur-sarian. Permintaan ini, dinyatakan dalam bentuk teriakan-teriakan, yang semakin lama semakin sering, semakin keras, dan semakin gegap gempita. Peri-laku biadab seperti ini, akhirnya membuat pak dhalang menyerah. Apa yang terjadi? Pagelaran pun dihentikan, lalu diganti dengan campur-sari, yang didukung sejumlah penari yang berlenggak-lenggok dengan seronok dengan gerak tubuh sensual, sehingga semua mata lelaki penonton dengan sangat bernafsu tertuju ke bentuk tubuh sexy yang dibalut pakaian super ketat sekelompok penari campur-sari itu. Sudah barang tentu, tidak pula terlupa disajikan lagu ‘Iwak Peyek’ yang memang sedang naik daun. Rasanya, para nayaga maupun penonton, sudah tidak ada lagi yang mempersoalkan apakah lagu-lagu yang mereka mainkan itu sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak. Cocok atau tidak, rupanya sudah tidak termasuk ke dalam bahan pertimbangan lagi. Bagi mereka kesenangan penonton menjadi target. Perasaan gamang atau mempertimbangkan estetika nada, rupanya sudah lenyap dari otak seluruh nayaga dan penonton. Mereka tidak lagi perduli, apakah nada lagunya sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak.

Waktu sudah menunjukkan jam 02.00 pagi, tetapi adegan Limbukan yang sudah ‘dikudeta’ dengan adegan campur-sarian belum juga selesai. Pak dhalang sempat nyeletuk: “La kalau campur-sarian terus, lalu kapan perangnya?”  Tapi penonton rupanya tidak perduli! Lagu demi lagu diminta penonton untuk terus dimainkan, lengkap dengan lemparan ‘saweran’ berupa lemparan-lemparan lembaran uang. Jam setengah tiga pagi, dengan terpaksa pak dhalang memaksa campur-sarian dihentikan. Pagelaran wayang pun diteruskan, dengan alur cerita yang sudah terlanjur rusak, karena sebenarnya waktu sudah menunjukkan saatnya memainkan ‘pathet manyura’, padahal saat itu pathet masih belum berubah. Jam setengah tiga pagi masih main ‘pathet nem’! Brengsek dan keterlaluan!

Begitu campur-sari berhenti pada jam setengah tiga pagi, penonton lalu bergegas berbondong-bondong meninggalkan ruang pagelaran. Lebih dari tiga per empat jumlah penonton, seketika bubar dan pulang, sementara pagelaran wayang tiba-tiba saja memperpendek waktunya sehingga dalam ukuran hanya beberapa puluh menit, dua pathet dilalui tanpa makna. Dan tidak lebih dari setengah jam kemudian, seluruh pagelaran wayang kulit purwa sudah benar-benar selesai. Pagelaran wayang sudah tidak bisa dinikmati lagi. Alur ceritanya sudah benar-benar rusak berat. Pak dhalang-nya pun hanya ‘ngelus dhadha’ saja. Begitu pula saya…..

Apakah pagelaran wayang kulit purwa seperti ini yang dikehendaki? Saya suka sekali nonton wayang kulit purwa. Saya juga amat sangat suka nonton jaipongan, dangdut, kliningan Sunda, atau kendhang pencak. Begitu juga sangat suka nonton campur-sari, sendra-tari, konser musik, jazz, atau blues. Tapi kalau nonton pertunjukan wayang kulit purwa yang dikudeta dan dicampur-adukkan dengan campur-sarian setengah malam suntuk, rasanya seperti mencampurkan roti yang terkenal sangat enak, mahal, dan nomor satu; dengan baso yang gurihnya luar biasa dan juga nomor satu; dicampur dengan tembakau rokok kretek merk terkenal yang kualitas ekspor, ditambahi potongan sepatu buatan Italia yang termasuk terbaik dan kelas dunia, yang juga nomor satu; serta celana dalam wanita model mutakhir yang sangat sexy, sensual, dan nomor satu cantiknya. Seluruh benda yang semuanya dikategorikan ‘nomor satu’ ini dicampur jadi satu, dimasak, lalu dihidangkan kepada kita. Jangan lupa, semuanya berkualitas tinggi, sedang naik daun, kelas dunia, kelas atas, dan nomor satu. Bagaimana rasanya? Sumpah demi setan dan iblis! Jangankan memakannya, melihatnya saja sudah membuat muak dan muntah……..!

Lalu pak dhalang yang sebenarnya malam itu jadi komandan atau panglima tertinggi pagelaran…. Apa kehormatan, martabat, dan harga diri seorang dhalang bisa dengan mudah dibeli dan dikorbankan begitu saja demi segepok rupiah bayaran? Bukankah dhalang adalah gurunya masyarakat? Jika seorang dhalang tidak sanggup mengendalikan penonton (caranya sih terserah), atau tidak sanggup menjadi gurunya masyarakat, ya lebih baik jangan berani-berani ‘madeg dadi dhalang’. Untuk apa jadi dhalang seperti itu, kalau perannya hanya menjadi pelengkap penderita, serta menjadi fasilitator penggerak nafsu dan naluri rendah manusia….?

Cobalah renungkan dengan bening. Pagelaran wayang dan pagelaran campur-sari sebenarnya sama bagusnya. Tetapi berubah menjadi pagelaran setan dan iblis, jika dicampur menjadi satu. Kalau memang penonton hanya mau campur-sarian, ya lebih baik melakukan pagelaran campur-sari semalam suntuk. Kalau perlu dengan sederetan penari telanjang sekalian. Tapi jangan memakai pagelaran wayang kulit purwa sebagai media dan melakukan manipulasi atau kebohongan publik, seakan-akan pagelaran malam itu adalah pagelaran wayang kulit purwa yang adi luhung, padahal nyatanya hanya merupakan pagelaran campur-sari yang mengekslopitasi nafsu dan naluri rendah manusia. Sementara pagelaran wayang kulitnya hanya sebagai pembuka dan penutup semata. Menyedihkan sekali dan menunjukkan kenyataan bahwa masyarakat kita memang bukan masyarakat yang berbudaya tinggi, tetapi sebaliknya merupakan masyarakat berbudaya rendah, yang dibalut dengan kebohongan, basa-basi, seakan-akan merupakan masyarakat berbudaya tinggi dan adi luhung. Ini merupakan ciri-ciri masyarakat munafik yang umumnya hanya dikenal sebagai penghuni negara-negara ‘terbelakang’, negara-negara tak berbudaya, bahkan sebagai masyarakat negara ‘under development’ pun tidak! Menyedihkan sekali…….

Jika saja Mbah Narto masih berada di antara kita, atau jika di alam sana beliau bisa mengamati apa yang terjadi saat ini, saya yakin sekarang beliau sedang menangis, melihat gaya pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa masa kini dan melihat ulah penonton pagelaran wayang kulit yang sama sekali tidak terkendali, dan malah berbalik mengkudeta serta mengendalikan dhalang pagelaran wayang kulit purwa, lalu mengubah pagelaran wayang kulit purwa yang edi peni dan adi luhung; menjadi sebuah pertunjukan penuh hura-hura, bergelimang nafsu, dan sama sekali tidak bermakna…..

Keluarga Ki Narto Sabdho beserta seluruh anggauta timnya, tinggal di Jl. Anggrek, dekat Simpang Lima, Kota Semarang. Pada masa jayanya, tim kesenian bentukan Ki Narto Sabdho terdiri dari dua tim kerja yang berbeda, yaitu tim yang mendukung pagelaran wayang kulit, bernama ‘Condong Raos’, dan tim yang mendukung pagelaran wayang orang ‘Ngesti Pandhawa’.

Ki Narto Sabdho almarhum, sampai akhir hayatnya, selalu membuat penontonnya terbawa emosi dan perasaannya.

PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA DI TENGAH HUTAN RIMBA BELANTARA


by Bram Palgunadi on Wednesday, June 13, 2012 at 6:19pm ·

 

Pagelaran ‘bayang-bayang’ wayang kulit purwa, yang menggetarkan hati, mengharu-biru emosi, dan memikat hati penonton, merupakan dambaan….

Membaca cerita pendek true story ini, ada baiknya sambil mendengarkan alunan Gendhing Laler Mengeng dan Gendhing Talu Wayangan, gaya tradisional yang sangat klasik (dari tahun 1970-an)…..

GENDHING LALER MENGENG

GENDHING TALU WAYANGAN 1 

GENDHING TALU WAYANGAN 2

GENDHING TALU WAYANGAN 3

GENDHING TALU WAYANGAN 4

GENDHING TALU WAYANGAN 5

Selamat membaca dan menikmati…..

Ini adalah kenangan indah saat saya masih anak-anak dan masih duduk di kelas 3 sampai kelas 6 Sekolah Rakyat (sekarang disebut Sekolah Dasar), di Kota Jember, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1962 – 1963. Di masa-masa yang saat itu dikenal dengan sebutan ‘masa perebutan Irian Barat’, atau oleh kalangan masyarakat umum sering juga disebut ‘jaman Trikora’. [1]

Pada masa itu, ayah saya bekerja sebagai seorang ADM (administratur) PN Perhutani[2] di kantor KPH Jember. [3]  Jika sedang masa liburan, saya seringkali ikut truk milik PN Perhutani ke hutan. Kebetulan kita tinggal di komples perumahan dinas PN Perhutani, yang lokasinya berhadapan dengan garasi dan bengkel PN Perhutani, yang lokasinya di Patrang, sedikit di sisi utara Kota Jember. Naik truk ke hutan, merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan saya. Biasanya truk-truk PN Perhutani itu berangkat pagi-pagi, sekitar jam 07.00 pagi Waktu Jawa (sekarang penyebutan waktu sudah diubah menjadi jam 07.00 Waktu Indonesia Barat atau WIB),  dan pulang dari hutan sore hari. Pada masa itu, truk-truk tua yang dipakai umumnya bertonase sekitar 3,5 ton, merknya Chevrolet, Dodge, dan Fargo. Ketiga merk truk itu, buatan Amerika.

Pada masa itu, rute truk hutan yang paling saya sukai, adalah yang menuju hutan di sekitar Sempolan atau Garahan, yakni ke arah timur, di jalan raya yang menuju Kota Banyu-Wangi. Selewat kota kecil Kali-Sat, truk akan menuju Sempolan dan akhirnya berbelok ke kiri, memasuki jalan hutan. Sebelum masuk jalan hutan, truk-truk itu biasanya berhenti untuk melapor lebih dahulu di kantor ‘kemantren’atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan) Sempolan, yang lokasinya di sisi kiri jalan raya Jember – Banyu-Wangi.  Saya sangat senang dan karenanya juga sangat sering ikut truk yang melewati ke rute ini dan sangat senang jika truk yang saya tumpangi mampir ke ‘kemantren’ Sempolan ini. Mengapa? Tidak lain, karena Pak Mantri Hutan yang tinggal di sebelah kantor kemantren ini, adalah seorang dhalang wayang. Mantri hutan yang pada masa itu sangat terkenal ini, namanya Pak Sugondo; yang biasanya dipanggil Pak Gondo. Disebut sangat terkenal, karena seragam pakaiannya yang luar biasa gagah, memakai pakaian safari dan celana berwarna cokal muda, dengan ikat pinggang kulit berukuran besar. Di ikat pinggangnya, selalu tergatung sebuah pistol  Colt ‘revolver’ kaliber 38 dan sebuah ‘veldvles’ (tempat air minum), serta pisau rimba berukuran besar. Sementara sepatu yang digunakannya adalah jenis sepatu ‘laars’ kulit berwarna hitam, yang tingginya hampir mencapai lutut. Pak mantri hutan ini seringkali pergi memeriksa hutan sambil naik kuda. Saat naik kuda ia memakai topi lebar berwarna coklat tua, seperti topi ‘vilt’ yang biasa dipakai para koboi Amerika, tetapi dibuat dari anyaman ‘mendong’, yang salah satu sisi sampingnya sedikit dilengkungkan ke arah atas dan sisi samping lainnya rata. Kelihatannya gagah sekali, dan sangat mirip dengan seorang ‘sherif’(kepala polisi ‘daerah pedalaman’ Amerika).

Di samping rumah dinas tempat tinggalnya, yang letaknya hanya beberapa meter di sebelah kanan kantor kemantren, saya bisa melihat beberapa orang sedang ‘ngerok’ (mengikis) lembaran kulit sapi atau kulit kerbau, yang ditarik kuat-kuat ke arah samping sampai tegang memakai tali-tali yang diikatkan pada konstruksi batang kayu berbentuk kotak (seperti pigura lukisan). Lembaran kulit sapi atau kerbau itu, dikikis memakai ‘pecok’ (seperti pacul kecil yang ditajamkan), supaya seluruh permukaan kulitnya rata, halus, dan hilang bulu-bulunya. Mengikis kulit sapi atau kerbau, biasanya dilakukan pagi hari sampai menjelang siang hari, dan dilakukan di halaman luar. Dan, yang lebih menyenangkan hati saya, sisa kikisan kulit yang berbentuk gulungan-gulungan kecil terputus-putus, sesudah dikeringkan, biasanya dimasak dengan cara digoreng, dan menjadi ‘krupuk kulit’ atau ‘krupuk krecek’. Atau, dimasak menjadi ‘sambel goreng krecek’, yang jangankan dimakan, bahkan saat melihat saja, sudah timbul air liur saya. Lembar-lembar kulit itu, setelah kering dan rata, lalu dipotong dan dipakai untuk membuat wayang kulit, yang proses pembuatannya juga dilakukan di teras rumah Pak Gondo.

Selain mengikuti truk hutan, saya juga sering ikut ayah melakukan pemeriksaan wilayah hutan, yang di kalangan kehutanan kegiatan seperti ini lazim disebut ‘tourne’. Mobil dinas milik PN Perhutani yang dipakai ayah, adalah sebuah kendaraan jip Willys kuno, buatan tahun 1942, warna hijau tua, dengan lampu besarnya yang sangat khas. Letak lampu depannya, di dalam lubang besar pada panel depan kendaraan. Jip Willys kuno yang bernomor polisi P-310 ini, setiap kali akan dipakai ‘tourne’ harus diisi air dingin lebih dulu. Peralatan baku ‘inventaris’ ayah saya yang dibawa di kendaraan ini, biasanya meliputi senapan laras ganda (double loop) berkaliber 16 mm lengkap dengan sekotak peluru (ukuran pelurunya besar sekali, karena berkaliber 16 mm dan panjang setiap peluru sekitar 10 cm), kompas, teropong binokular, peta petak (peta khusus kehutanan), pisau rimba, ‘veldvles’ (tempat minum versi militer, yang digantung di sabuk celana), sepatu ‘laars’, dan tak lupa juga sebuah jaket. Ayah saya, biasanya memakai baju ‘dinas’ berupa baju safari lengan pendek dan celana panjang yang dibuat dari bahan ‘dril’ berwarna ‘khaki’ (coklat muda). Ia biasanya juga memakai topi pet, berwarna coklat muda. Pada masa itu, kain yang bisa dibeli hanyalah kain dril warna cokla muda itu dan kain belacu warna putih. Seperti juga kesenangan saya ikut truk hutan, saya juga sangat senang jika tourne dilakukan di wilayah hutan sekitar Sempolan. Penyebabnya juga sama, yaitu karena sering mampir di kantor kemantren Sempolan itu.

Selain bersama pengemudi jip Willys tua yang bernama Pak Saleh, seringkali ayah saya juga melakukantourne bersama beberapa pegawai kantor KPH Jember. Di antara mereka, yang paling sering ikut melakukan peninjauan bersama, adalah ‘sinder hutan’ dan ‘mantri hutan’ yang menanggung-jawabi wilayah hutan yang akan ditinjau. Pemeriksaan wilayah hutan seringkali dilaksanakan dengan cara jalan kaki potong kompas, dengan hanya melihat peta petak, langsung menuju petak hutan yang akan ditinjau. Jip Willys tua dan pengemudinya, biasanya dititipkan di rumah penduduk desa setempat, diparkir begitu saja di sisi jalan hutan, atau diminta menunggu di suatu tempat di wilayah sekitar petak hutan yang akan dituju.

Pada masa itu, sebagian wilayah hutan di sekitar Sempolan sedang ditebang dan diganti dengan tanaman hutan produksi jenis pohon pinus. Saat liburan, saya juga sering ikut truk hutan yang mengangkut bibit pohon pinus, yang tingginya sekitar 15 – 20 cm dan diletakkan (dengan media tanahnya) di keranjang-keranjang kecil, yang dibuat dari anyaman bambu. Bibit pohon pinus yang masih kecil ini, biasanya diambil dari tempat pembibitan, yang lokasinya dekat dengan base campperalatan mekanik Sempolan. Beratus-ratus bibit pohon pinus ini, kemudian diangkut ke tempat penamanan, jauh di tengah hutan. Di tempat penaman pohon pinus itu, biasanya sudah ada sekelompok besar penduduk desa ‘mager-sari’, yang oleh PN Perhutani diperbolehkan melakukan kegiatan bertani palawija sambil menanam dan memelihara pohon-pohon pinus yang masih kecil. Biasanya, mereka akan tinggal selama beberapa tahun di lokasi yang sama, sampai pohon-pohon pinus itu menjadi cukup besar dan bisa ditinggalkan. Setelah pohon-pohon pinus itu besar (setinggi kira-kira 2 – 3 meter), mereka akan dipindahkan ke lokasi lain, untuk melakukan peran dan kegiatan yang sama.  Jika kita sekarang melakukan perjalanan dari Kota Jember ke arah Banyu-Wangi, maka setelah melewati Sempolan, sebelum memasuki wilayah hutan Garahan (hutan Gunung Kemitir), kita akan melewati hamparan hutan pohon pinus yang tumbuh subur dan sekarang sudah berubah menjadi pohon pinus yang sangat tinggi dan lebat. Melihat pemandangan ini, membuat saya terharu dan jadi teringat masa kecil saya, saat sering ikut menanam bibit pohon-pohon pinus kecil itu, di sekitar tahun 1962 – 1963. Waktu serasa berlalu sedemikian cepatnya. Tak terasa, pohon-pohon pinus yang dulu terlihat sangat kecil dan ringkih, sekarang sudah menjadi hutan pinus yang indah, lebat, teduh, dan rindang.

Di dalam hutan Sempolan, pada suatu lokasi yang jaraknya beberapa kilometer dari jalan-raya Jember – Banyu-Wangi, ada suatu tempat semacam base camp, tempat para pegawai kehutanan dari bagian mekanisasi kehutanan tinggal beserta seluruh keluarga dan alat-alat berat yang ditanggung-jawabi. Mereka itu, merupakan kelompok pegawai mekanik kehutanan pindahan dari Saradan. [4] Uniknya, semua pegawai mekanik ini (pengemudi traktor raksasa, pengemudi buldozer raksasa, pengemudi truktrailer pengangkut kayu gelondongan), beserta seluruh keluarganya, adalah pemain, penari, dan penabuh gamelan yang sangat canggih. Saya masih ingat benar, salah seorang pengemudi traktor penyeret kayu gelondongan bermesin diesel, beroda rantai raksasa, tipe D-9 merk Allis Chalmers, yang beratnya sekitar 39 ton; adalah seorang penari dan pemeran raksasa ‘cakil’ yang sangat bagus, terampil, sangat cekatan gerak tarinya. Tubuhnya yang tinggi ramping, terlihat sangat cocok dengan peran ‘cakil’-nya itu. Sekali sebulan, saat ada perayaan tertentu, perayaan ‘syawalan’, atau peringatan hari kemerdekaan; mereka bisa tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan grup kesenian, lengkap dengan penari dan penabuh gamelan-nya. Di base camp mereka itu, setiap bulan sekali kita bisa menyaksikan mereka melakukan pagelaran wayang wong atau kethoprak.

Di antara sejumlah pagelaran wayang itu, beberapa kali dilaksanakan di halaman depan kantorkemantren Sempolan. Biasanya, yang menjadi dhalang ya Pak Mantri Sugondo itu. Sedangkan penabuh gamelan, pesindhen, dan wiraswara-nya; para pegawai mekanik kehutanan dan keluarganya. Tetapi ada suatu pagelaran wayang kulit purwa yang benar-benar unik. Pagelaran wayang ini dilakukan di tengah hutan di tengah hutan rimba di sisi barat laut Sempolan. Pada masa itu, PN Perhutan KPH Jember sedang giat-giatnya membuat jalan rintisan (jalan tembus hutan) di wilayah pedalaman barat luat Sempolan. Bukan membuat jalan raya, tetapi membuat jalan hutan yang bisa dilewati truk dan jip saja. Pada saat awal, jalan hutan itu dibuat dengan cara meratakan tanah memakai buldozer raksasa dari unit  mekanisasi Sempolan dan beberapa peralatan berat lainnya. Pembuatan jalan hutan ini memakan waktu selama beberapa bulan. Jika menemui hambatan berupa jurang atau sungai, biasanya dilakukan upaya untuk membuat jembatan. Biasanya yang dibangun adalah jembatan kayu. Beberapa dari jembatan kayu itu, mempunyai bentangan yang cukup panjang dan melewati sungai atau jurang yang cukup dalam.

Pada saat awal pembangunan, biasanya seluruh pegawai PN Perhutani yang terlibat proses pembangunan, termasuk teknisi dan para operator peralatan berat, dipimpin oleh kepala proyek, akan melakukan selamatan, di lokasi dekat jembatan. Selamatan, biasanya dilakukan siang hari, dan hanya secara sederhana saja.  Peristiwa yang benar-benar menyenangkan tetapi juga agak mencemaskan, sebenarnya bukan saat awal pembangunan, tetapi saat jembatan itu sudah jadi dan akan diresmikan pemakaiannya. Pada saat jembatan di tengah hutan rimba itu sudah diselesaikan, maka seperti awalnya, akan dilakukan selamatan dan syukuran. Tetapi yang bagi saya paling menyenangkan, adalah dilaksanakan pagelaran wayang kulit purwa lengkap semalam suntuk. Ceritanya biasanya dipilih yang menarik dan ramai. Dhalang-nya….? Ya Pak Gondo itulah, lengkap dengan para penabuhgamelan yang para operator peralatan berat.

Sejak pagi hari, ‘tarub’ (tenda besar) biasanya sudah didirikan di dekat lokasi jembatan baru. Lalu sekumpulan ibu-ibu (para isteri) keluarga operator peralatan berat itu sudah kelihatan sibuk memasak, di sejumlah tarub kecil, dibantu sejumlah ‘blandhong’ dan anak-anak putri mereka. Sementara, para pria biasanya mempersiapkan penyembelihan sapi, kerbau, atau beberapa kambing. Suasana di sekitar jembatan baru itu, benar-benar semarak dan kelihatan sangat sibuk. Sebagian dari para pria itu, selain sibuk meletakkan deretan kursi, meja, dan tikar mendong untuk duduk lesehan yang dibentangkan di atas lembaran ‘gedheg’ (anyaman bambu); juga sibuk memasang selang-selang kecil di tiang-tiangtarub, yang akan dipasang pada lampu-lampu ‘stromking’. [5]

Siang hari, sekitar jam satu siang, setelah selesai makan, saya bersama ayah melihat-lihat berkeliling dan memperhatikan bagaimana beberapa penabuh gamelan yang sehari-harinya adalah para operator alat berat itu memasang ‘geber wayang’ (layar wayang) dan ‘menyimping’ (menata) wayang kulit dan menancapkannya di atas ‘debog’ pisang panjang, di sebelan kanan dan kiri gunungan. Saya memperhatikan saat wayang-wayang kulit itu ditata secara berurut dan sangat rapi. Beberapa orang sibuk menata ricikan gamelan dan mengatur letaknya, sehingga ada ruang yang cukup untuk para penabuhnya duduk saat menabuh. Tepat di bagian tengah layar wayang, agak ke atas, beberapa orang terlihat sedang sibuk memasang lampu stroomking. Sekitar jam empat sore, seluruh proses penataan panggung pagelaran wayang sudah selesai. Di mata saya, panggung wayang dan gamelan itu tampak sangat indah dan memberikan kesan semarak. Apalagi dengan rancak gamelan-nya yang berwarna merah menyala dengan hiasan ornamen berwarna keemasan.

Sekitar jam tujuh malam, para pejabat PN Perhutani dan para undangan lainnya, termasuk penduduk desa setempat, para sepepuh desa, lurah, carik, kepala dukuh, serta sanak keluarga para operator peralatan berat dan seluruh pekerja proyek jembatan; sudah pada hadir dan duduk di tempat masing-masing. Gendhing-gendhing juga sudah mulai dimainkan. Suara gendhing-nya biasanya bisa terdengar dari kejauhan (beberapa kilometer). Beberapa saat kemudian, upacara pembukaan pun dimulai. Biasanya dilakukan sambutan-sambutan resmi dari para pejabat, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh kyai setempat. Setelah seluruh acara resmi dan pembacaan doa selesai dilaksanakan, lalu dilanjutkan dengan makan bersama-sama.  Hidangan yang paling disukai adalah sate sapi dan sate kambing, dengan saus kacang dan kecap yang pedas bercampur potongan bawang merah. Sementara itu, ada juga hidangan gulai daging kerbau. Ada juga sayur sop dengan potongan-potongan kecil wortel, kentang, dan kubis, yang biasanya sangat gurih rasanya. Sudah barang tentu, kiriman makanan yang berasal dari sumbangan Pak Mantri Sugondo yang sangat khas, yaitu ‘sambel goreng krecek’, tidak pernah lupa disajikan. Nasi hangat (memakai beras ‘Raja Lele’) yang masih mengepul, membuat perut seluruh pengunjung semakin lapar saja. Suasana makan bersama ini, berlangsung sekitar satu jam dengan penuh kegembiraan.

Sebagai pelengkap, biasanya disajikan rokok. Rokok putih, umumnya tidak terlalu disukai. Sebaliknya, lazimnya disajikan rokok kretek, yang biasanya dihidangkan dalam keadaan sudah dibuka bungkusnya dan batang-batang rokoknya diletakkan di dalam gelas-gelas. Berbagai merk rokok kretek dicampur begitu saja di dalam gelas-gelas. Minuman teh hangat dan kopi umumnya menjadi minuman standar yang disajikan. Suasana malam peresmian jembatan itu benar-benar semarak dan membuat senang seluruh yang hadir. Deretan kursi (tidak terlampau banyak), biasanya ditempati para pejabat dan para pamong desa, sedangkan para hadirin lainnya dan penduduk setempat biasanya duduk lesehan di atas tikar. Seluruh yang hadir, biasanya berjumlah sekitar 150 – 200 orang. Semuanya duduk berkumpul di bawah naungan tarub besar itu.

Sekitar jam delapan malam, udara sudah semakin dingin. Gendhing-gendhing dimainkan para pengrawitmenemani para hadirin makan bersama. Bulan sudah purnama dan menyinarkan cahayanya bagaikan bola emas bersinar terang di angkasa. Dan, sekitar jam setengah sembilan malam, Gendhing Talu Wayang mulai dimainkan. Suasana mulai berubah menjadi semakin ‘gayeng’ dan semarak.  Hadirin sedikit demi sedikit berusaha mendekat ke arah panggung. Mereka duduk bersila lesehan di atas tikar. Lalu sekitar jam sembilan malam, Pak Mantri Sugondo yang sudah memakai pakaian tradisional Jawa, seakan ‘berubah’ peran dan menjelma menjadi seorang dhalang, berdiri tegak, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati para pejabat, sesepuh, dan pamong desa. Sesaat, ia bersalaman dengan para pejabat dan memohon ijin untuk memulai pagelaran wayang. Bersamaan dengan terdengarnya Gendhing Sampak Manyura yang ditabuh bertalu-talu, ia naik ke atas panggung pagelaran. Tepat saat Gendhing Sampak Manyura berubah menjadi melambat dan terdengar semakin sayup-sayup karena hendak dihentikan, Pak Gondo yang sudah menjadi dhalang pagelaran wayang kulit purwa malam itu, duduk tegak bersila di tempatnya, tepat di depan layar wayang.  Sesaat kemudian, nyala lampu-lampustroomking dipadamkan. Dan, tinggal sebuah lampu stroomking yang menyala di depan layar wayang. Tiba-tiba saja bau asap kemenyan menyeruak menyebar ke seluruh bagian dalam tarub. Suasana seketika berubah menjadi remang-remang penuh sakral. Begitu Gendhing Sampak Manyura berhenti. Suasanya hening sejenak. Tak ada yang berkata-kata. Hanya kesunyian yang terjadi. Dhalangmembaca mantra dan doa sesaat. Suaranya terdengar lirih, seakan berbisik kepada Sang Penguasa Jagat Raya, memohon berkah, rakhmat, dan karunia-Nya. Hanya terdengar suara burung-burung malam di kejauhan dan gemerisik angin malam yang berhembus. Lalu gedhog dhalang dibunyikan, dan tiba-tiba pagelaran wayang pun dimulai……

Di tengah hutan rimba belantara, pagelaran wayang kulit purwa itu menghasilkan suasana yang menggetarkan. Selama beberapa waktu, saat gendhing jejer pathet nem mulai dimainkan, suaragamelan mengalun seakan menyihir seluruh hadirin, yang duduk terpaku di tempatnya masing-masing. Adegan demi adegan berlangsung di bawah sorot mata para hadirin. Perlahan-lahan, suasana berubah menjadi semakin cair. Semakin malam suasana semakin cair, dan semakin menyenangkan. Semua yang hadir, masuk ke dalam tarub besar itu dan berusaha menempatkan dirinya seenak mungkin.

Sementara di luar tarub besar, jauh di atas ranting dan dahan pohon-pohon rimba yang tegak berdiri agak jauh, samar-samar terlihat sejumlah pasangan cahaya bulat hijau kebiru-biruan bersinar terang di dalam kegelapan. Pasangan cahaya itu sesekali bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Jumlah pasangan cahaya itu, lebih dari sepuluh pasang. Saya yang berdiri di pinggir tarub, terpaku saat melihat pasangan cahaya yang jumlahnya cukup banyak dan selalu bergerak-gerak. Ada sedikit rasa takut saat melihat pasangan cahaya-cahaya itu. Saya mencoba menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas dan bertanya-tanya dalam hati, cahaya apakah gerangan itu. Bermenit-menit saya berusaha memperhatikan titik-titik pasangan cahaya itu, tetapi tak juga mengerti apa sebenarnya pasangan cahaya itu.

Tanpa saya ketahui, rupanya seorang mandor hutan, melihat apa yang sedang saya perhatikan. Dia lalu menggamit bahu saya. Saya sedemikian terkejutnya, sampai-sampai terlonjak kaget. Mandor hutan itu lalu memberitahu saya sambil berbisik: “Anakmas, jangan keluar dari tarub ya.” Saya terkejut dan balik bertanya: “Kenapa Pak?” Dengan tetap berbicara perlahan-lahan, dia menjawab: “Sebab pasangan cahaya berwarna hijau kebiru-biruan yang bergerak-gerak dan ada jauh di atas dahan dan ranting pohon rimba di sana itu, adalah mata macan tutul dan macan kumbang yang akan bersinar jika terkena pendaran cahaya lampu. Harimau-harimau itu menunggu saat yang tepat untuk turun dan makan sisa hidangan, termasuk makan sisa-sisa daging hewan yang siang tadi disembelih di luar tarub. Jadi, sebaiknya Anakmas jangan ke luar dari tarub. Harimau-harimau itu takut pada api dan cahaya. Karena itu, di luar tarub orang menyalakan beberapa api unggun kecil. Api unggun ini harus tetap hidup sampai besok pagi. Harimau-harimau itu, sangat sabar menunggu. Nanti, setelah semua hadirin selesai menikmati makan malamnya, beberapa blandhong akan melemparkan sisa-sisa makanan dan daging ke luar, dilempar jauh-jauh ke arah harimau-harimau itu.” Mendengar penjelasan pak mandor hutan itu, saya jadi bergidik dan timbul rasa takut juga. Tapi dia ‘ngayem-ayemi’ (menteramkan hati saya), dengan berkata: “ Jangan kuatir Anakmas, pokoknya jangan keluar dari tarub ya….” Saya hanya menganggukkan kepala. Pak mandor hutan itu rupanya tahu juga kekecutan hati saya. Ia lalu berkata kepada saya: “Begini saja Anakmas, bagaimana kalau Anakmas saya antar naik ke atas panggung, dan duduk di antara para penabuh gamelan?” Mendengar usulannya itu, saya terkejut dan balik bertanya: “Apa boleh begitu?” Dia menjawab: “Ya boleh saja. Ayo saya antar ke sana…..” Sesaat kemudian, saya diantar pak mandor hutan dan kemudian dicarikan tempat yang agak longgar di antara para penabuh ricikan saron dan demung yang letaknya di deretan paling belakang para penabuh. Nah, sejak itulah, jika nonton pagelaran wayang kulit purwa, saya selalu berusaha untuk naik ke panggung dan duduk di belakang para penabuh ricikan balungan.

Pagi-pagi tubuh saya terasa terguncang-guncang! Ternyata saya telah tertidur pulas di belakang badan para penabuh gamelan. Begitu membuka mata, samar-samar saya melihat ayah saya berdiri di belakang panggung dan berkata: “Ayo kita pulang, wayangan-nya sudah selesai dan hari sudah pagi….” Pagi itu, hari Minggu, dengan mata masih terkantuk-kantuk kami naik jip Willys tua yang setia, kembali ke Kota Jember. Saya tidak tahu lagi melewati mana saja perjalanan pulang itu, karena saya tak bisa lagi menahan kantuk dan meneruskan tidur di jok belakang jip tua itu. Sejak itulah, saya menyukai nonton pagelaran wayang kulit purwa dalam kondisi yang sangat tradisonal. Kenangan indah saat menonton pagelaran wayang kulit purwa di tengah hutan rimba belantara Sempolan itu, tidak akan pernah hilang dari ingatan saya sampai kapan pun…….

____________________________________

[1]       ‘Trikora’ adalah singkatan judul pidato Bung Karno, yang isinya memerintahkan rakyat Indonesia bergabung menjadi sukarelawan dan menyerbu Irian Barat, yang saat itu masih menjadi wilayah jajahan Belanda.

[2]       PN adalah singkatan dari ‘perusahaan negara’. Sekarang, sebutannya sudah berganti menjadi PERUM, singkatan dari ‘perusahaan umum’.

[3]       KPH merupakan singkatan dari ‘Kesatuan Pemangkuan Hutan’. Pejabat tertinggi di kantor KPH adalah seorang ‘administratur’, yang di kalangan kehutanan sering disingkat penyebutannya menjadi ADM. Seorang ADM, biasanya membawahi beberapa ‘sinder’ yang kantornya lazim disebut ‘kesinderan’. Seorang ‘sinder kehutanan’, biasanya membawahi beberapa ‘mantri hutan’, yang kantornya lazim disebut ‘kemantren’ atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan). Seorang ‘mantri hutan’, biasanya membawahi sejumlah ‘mandor hutan’. Dan, seorang ‘mandor hutan’ biasanya membawahi sejumlah ‘blandhong’, yaitu pekerja yang bekerja secara langsung di hutan. Di wilayah kemantren tertentu, biasanya terdapat suatu lokasi yang khusus melakukan pembibitan atau penyemaian tanaman hutan, TPK (tempat penimbunan kayu) hasil tebangan hutan, dan kadang-kadang ada juga base workshop dan base station tempat menyimpan sejumlah peralatan berat untuk keperluan kehutanan, seperti traktor, buldozer, truk trailer, truk katrol, dan kelengkapan bahan bakar serta minyal pelumas untuk keperluan berbagai mesin itu. Unit ini, seringkali disebut sebagai unit peralatan mekanisasi kehutanan, yang lokasinya biasanya terpencil di tengah hutan.

[4]       Saradan, adalah nama sebutan sebuah TPK (tempat Penimbunan Kayu) gelondongan kayu jati dan pohon rimba milik PN Perhutani KPH Madiun, yang sangat terkenal dan sangat besar kapasitasnya. Lokasinya terletak di tengah hutan jati, di sebelah timur Kota Madiun; pada jalan raya Madiun – Jombang.

[5]       ‘Stroomking’ adalah sejenis lampu seperti ‘petromax’, tetapi mempunyai tangki minyak yang terpisah. Lampu stroomking, biasanya menerima minyak tanah bertekanan tinggi dari tangki melalui selang-selang kecil yang dipasang di antara tangki dan lampu stroomking. Tangki minyak tanah yang dipakai, biasanya berukuran cukup besar, karena harus bisa menyalakan semua lampu stroomkingsemalam suntuk. Seperti pada petromax, setiap lampu stroomking sebelum dinyalakan, harus dipanaskan lebih dahulu memakai minyak spiritus selama beberapa menit. Sementara lampu-lampustroomking itu dipanaskan memakai minyak spiritus, tangki minyak tanah dipompa, sehingga menghasilkan tekanan yang cukup tinggi. Setelah lampu stroomking menjadi cukup panas dan tekanan minyak tanah sudah mencukupi, maka keran kecil pengatur aliran minyak tanah bertekanan di lampustroomking itu dibuka sedikit demi sedikit, sehingga nyala lampu stroomking diatur sehingga menjadi terang benderang seperti lampu petromax. Sebagai tambahan, istilah ‘stroomking’ yang lazim dipakai di kalangan masyarakat, sebenarnya merupakan penyebutan yang salah dari merk lampu minyak tanah bertekanan itu. Lampu ini, sebenarnya bermerk ‘Storm King’. Tetapi bagi lidah penduduk lokal, mungkin karena sukar menyebutnya, lalu supaya mudah lalu disebut ‘stroomking’.

Pagelaran wayang beber di masa lampau. Sederhana, penuh ritual, sesaji, dan mistik.

 

Hutan pohon pinus yang indah, lebat, rindang, dan subur; di wilayah Garahan, yang letaknya di sebelah timur Sempolan.

 

Terowongan kereta-api di Garahan, merupakan salah satu pemandangan unik dan indah wilayah ini.

 

Tanjakan jalan raya di sekitar Garahan, pada rute Jember – Banyu-Wangi.

 

Kereta-api penumpang Sri-Tanjung sedang melewati rute di sekitar Garahan.

NADA GAMELAN JAWA YANG AJAIB


by Bram Palgunadi on Tuesday, June 12, 2012 at 3:44pm ·

Ricikan gamelan Jawa jenis ‘bunderan’ yang berperan sebagai ‘penanda’ dan bersuara sangat dominan (keras). Merupakan bagian kecil dari seperangkat gamelan Jawa.

Tulisan ini, didedikasikan untuk tiga orang ‘guru’ yang sangat saya hormati dan yang telah membukakan mata, pikiran, wawasan, dan pengetahuan saya; khususnya dalam berbagai aspek dan proses pembuatan gamelan Jawa. Yaitu Bapak Prawira, [1]  Bapak Wignyo Rahardjo, [2]  dan Bapak Widodo. [3] Tulisan ini, merupakan ringkasan salah satu bahasan dalam skripsi saya, yang berjudul ‘Gamelan Jawa’, juga merupakan ringkasan salah satu bahasan dari buku tulisan saya, yang berjudul Serat Kandha Karawitan Jawi.

Ada sejumlah pertanyaan yang saat saya masih muda dulu, sering saya pertanyakan kepada sejumlahpradangga, nayaga, niyaga, atau yaga. Namun, saat itu saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Pertanyaannya adalah sebagai berikut: “Mengapa orang-orang Jawa yang menjadi pelaku kesenian Jawa, khususnya karawitan (permainan musiknya), cenderung berkeberatan jika nada suara pada gamelan Jawa hendak dibakukan?” Pertanyaan ini, bertahun-tahun tidak pernah mendapat jawab yang jelas dan memuaskan. Namun, pada suatu ketika, saat saya melakukan survei yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan skripsi (sekitar tahun 1980-an),[4] jawaban itu saya akhirnya dapatkan dari seorang ‘panji sepuh’ atau ‘empu sepuh’, Bapak Prawira, yang tinggal di Desa Jati, sedikit di sebelah selatan Bekonang, Sukoharjo.[5] Dari beliaulah, saya mendapatkan jawaban lengkap dan memuaskan tentang apa yang saya pertanyakan selama bertahun-tahun.

Ternyata, penerapan nada pada gamelan Jawa sama sekali tidak sesederhana yang saya pikirkan saat itu. Semua penjelasan yang saya dapatkan dari Bapak Prawira, ternyata mampu meruntuhkan seluruh argumentasi saya, yang saat itu lebih ‘memikirkan proses industrialisasi gamelan Jawa’. Maklumlah, saya saat itu masih muda dan berstatus sebagai mahasiswa pada Jurusan Desain Produk, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Bandung (ITB). Jadi, latar belakang ‘teknologi’ yang sangat kental di lingkung sekitar saya saat itu, telah membuat saya terlampau antusias untuk menerapkan berbagai hal yang berbau teknologi pada gamelan.

Saat kita mulai membahas tentang nada gamelan Jawa, jelaslah bahwa pada gamelan Jawa dikenal ada dua ‘titi laras’ atau ‘laras’ (tangga-nada) yang berbeda, yaitu ‘laras slendro’ (mempunyai susunan sebanyak lima nada, yaitu nada 1, 2, 3, 5, dan 6) dan ‘laras pelog’  (mempunyai susunan sebanyak tujuh nada, yaitu nada 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7). Kedua laras itu, dalam teori nada dikategorikan sebagai ‘nada penta tonis’ (mempunyai lima nada). Meskipun demikian, pada bahasan yang lebih mendalam, ternyata laras pelog bisa dibagi lagi menjadi dua laras yang berbeda, yaitu ‘laras pelog bem’ (mempunyai susunan sebanyak enam nada, yaitu nada 1, 2, 3, 4, 5, dan 6) dan ‘laras pelog barang’ (mempunyai susunan sebanyak enam nada, yaitu nada 2, 3, 4, 5, 6,dan 7). Jadi sebenarnyalaras dalam gamelan Jawa ada tiga, yaitu laras slendro, laras pelog bem, dan laras pelog barang.  Meskipun demikian, kenyataannya kedua laras pelog itu, biasanya disusun dalam satu kesatuan, yang lazim disebut sebagai ‘gamelan laras pelog’, yang susunan nada-nadanya umumnya terdiri dari nada 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Penyebabnya adalah, nada-nada 2, 3, 4, 5, dan 6 pada gamelan laras pelog bemdan laras pelog barang, merupakan nada-nada yang frekuensinya sama.  Jadi, penyatuan laras pelog bem dengan laras pelog barang dalam satu susunan nada, sebenarnya lebih didasari segi kepraktisan. Selain itu, dalam sejumlah komposisi gendhing, secara terbatas ada juga permainan nada yang memang menggunakan kedua susunan nada pelog secara bersamaan.

Bahasan lain yang juga menarik perhatian, adalah tinjauan nada gamelan dari segi ‘jarak antara satu nada ke nada yang lain’. Secara umum, gamelan laras slendro, dinyatakan mempunyai jarak antar nada dinyatakan sama. Sedangkan pada gamelan laras pelog, jarak antar nada dinyatakan tidak sama. Hal ini, merupakan gambaran umum yang dikenal di kalangan masyarakat. Meskipun demikian, hasil diskusi ternyata menyatakan berbeda. Jarak antar nada, sebenarnya ternyata sedikit berbeda; baik pada gamelan laras slendro, maupun pada gamelan laras pelog bem dan gamelan laras pelog barang. Perbedaan ini, disebabkan adanya unsur ‘rasa’ saat memainkan nada-nada gamelan pada saat-saat tertentu. Sebagai gambaran, pada permainan gamelan Jawa, dikenal ada tiga ‘pathet’,yaitu:

  • Pada permainan menggunakan gamelan laras slendro, dikenal ada tiga pathet, yaitu: pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura.
  • Pada permainan menggunakan gamelan laras pelog, dikenal ada tiga pathet, yaitu: pathet lima, pathet nem, dan pathet barang.

Namun, di antara pathet nem dan pathet sanga (pada permainan gamelan laras slendro) dan di antarapathet lima dan pathet nem (pada permainan gamelan laras pelog); dikenal adanya pathet transisi, yang disebut ‘pathet lindur’. Sedangkan di antara pathet sanga dan pathet manyura (pada permainan  gamelan laras slendro) dan di antara pathet nem dan pathet barang (pada prmainan gamelan laras pelog); dikenal adanya pathet transisi, yang disebut ‘pathet nyamat’.

Jadi jika digambarkan secara skematis, maka pathet bisa dinyatakan seperti dalam Tabel 1 sebagai berikut.

Sebagai tambahan, pembagian waktu permainan dalam tabel diatas bersifat tidak terlampau mengikat, dan bisa digeser sedikit sesuai keperluan pagelaran. Namun, sebagai contoh kasus, menjadi sangat tidak lazim, jika misalnya pathet nem dimainkan sampai sekitar jam 02.00.

Pembagian pathet, lazimnya dilakukan mengikuti pola pembagian waktu pada pagelaran wayang kulit purwa, yang menggunakan istilah pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura.[6] Umumnya, tidak menyertakan pembagian waktu yang menyatakan pathet transisi (pathet lindur dan pathet nyamat). Hal ini, besar kemungkinan karena kedua pathet transisi ini, seringkali tidak digunakan, atau waktu penggunaannya seringkali relatif sangat pendek. Read the rest of this entry

MERENUNGKAN GENDHING TALU WAYANGAN…….


by Bram Palgunadi on Monday, April 23, 2012 at 10:16pm

Saat para pradangga mulai memainkan alunan Gendhing Talu Wayangan dengan penuh perasaan dan emosi, semua bayangan tentang kehidupan kita seperti dikhayalkan kembali, sejak kita masih dalam mimpi-mimpi orang tua kita, sampai kita nanti kembali ke haribaan Sang Penguasa Jagat Raya. Permainan yang dilakukan selama setengah sampai satu jam itu, seperti menceritakan kembali sejuta riwayat kita sebagai manusia. Sedangkan pagelaran yang digelar sang dhalang selama semalam suntuk itu, sebenarnya ibarat hanya seujung hitamnya kuku jari kita, dibandingkan dengan apa yang dikandung dalam syair dan makna alunan Gendhing Talu Wayangan yang memenuhi kenangan kita…. 

Ini merupakan koleksi sejumlah Gendhing Talu Wayangan dari masa yang lampau. Sangat indah, klasik, menyentuh perasaan, dan enak untuk didengarkan (terutama jika didengarkan di kesunyian malam); serta bisa membuat perasaan kita menjadi tenang.

Sejumlah besar Gendhing Talu Wayangan lengkap ini disunting secara khusus dari berbagai pagelaran wayang kulit purwa yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho almarhum pada sekitar tahun 1970-an. Permainan iramanya sangat terasa khas ‘wayangan’. Misalnya dengan permainan ‘kendhang kosek wayangan’ yang sangat khas dan sama sekali berbeda dengan kendhangan pengiring klenengan biasa. Gendhing Talu Wayangan memang bisa membuat hati pendengarnya bergetar, karena semuanya mengisahkan kehiduapn kita sebagai manusia, sejak belum ada sampai kita kembali tidak ada….

Gendhing Talu, merupakan suatu rangkaian gendhing yang lazimnya dimainkan sesaat sebelum pagelaran wayang kulit purwa dimulai. Lama permainan Gendhing Talu, biasanya berkisar sekitar duapuluh menit sampai sekitar satu jam. Gendhing Talu, pada dasarnya menceritakan tentang kehidupan manusia, sejak ia belum ada, sampai ia tidak ada. Rangkaian permainan Gendhing Talu, melambangkan seluruh kehidupan manusia, sejak manusia masih dalam bentuk impian dan jauh sebelum lahir, sampai manusia kembali ke haribaan Sang Panguasa Jagat Raya. Sedangkan pagelaran wayang yang dimainkan semalam suntuk, sebenarnya hanyalah sepenggal yang amat sangat kecil, dari seluruh kehidupan manusia. Karenanya, memahami dan mendengarkan permainan rangkaian Gendhing Talu, sama dengan mencoba memahami bagaimana kita sebagai manusia hidup sebelum, selama di alam janaloka, dan sesudahnya. Juga berisi pemahaman tentang hubungan kita dengan orang tua kita (ayah dan ibu), serta hubungan kita dengan Sang Penguasa Jagat Raya.

Permainan Gendhing Talu, merupakan cerita tentang ritual kehidupan manusia yang sakral. Karenanya, tidaklah layak memainkan rangkaian Gendhing Talu dengan disisipi permainan nada atau syair yang mengumbar nafsu dan naluri rendah manusia. Sebaliknya, memainkan rangkaian Gendhing Talu, semestinya dilakukan secara hikmat, penuh hormat, penuh perasaan, emosional, dan mungkin saja juga penuh haru.

Gendhing Talu ini, merupakan hasil suntingan dan potongan dari pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkan oleh para pradangga grup kesenian Condong Raos (dari Kota Semarang), yang dipimpin oleh Ki Narto Sabdho almarhum. Pagelaran wayangnya, dilaksanakan pada sekitar tahun 1970-an. Gaya permainan dan garap karawitannya yang sangat tradisional, klasik, dan tidak neko-neko; membuat permainan Gendhing Talu ini menjadi sangat indah dan enak dinikmati. Irama kosek wayangannya, yang relatif agak cepat dan sangat khas, sangat terasa dominan pada seluruh permainan Gendhing Talu ini. Semua hal ini, membuat bentuk rupa garap karawitannya sangat khas wayangan.

Pada saat hendak melakukan pagelaran wayang kulit purwa, Ki Narto Sabdho seringkali menyempatkan diri memainkan ricikan kendhang, pada saat diperdengarkan Gendhing Talu, yakni kira-kira sejam sebelum pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk dimulai. Hal ini, disebabkan beliau selama bertahun-tahun sebelumnya adalah seorang panjak kendhang yang sangat terampil, dan sangat bagus permainan kendhang-nya. Dalam berbagai pagelaran wayang kulit purwa, saat memainkan Gendhing Talu, beliau seringkali juga unjuk kebisaan dan kemampuan, memainkan sembilan macam kendhang sekaligus.

Meskipun Ki Narto Sabdho sudah lama meninggal, namun rekaman berbagai pagelaran wayang kulit purwa dan klenengan Jawa-nya sampai sekarang masih diburu orang, untuk dinikmati, didengarkan, dan dikoleksi. Bahkan, sampai sekarang sekali pun, rekaman berbagai pagelaran wayang kulit purwa dan klenengan yang dibawakannya bersama grup kesenian Condong Raos dari Kota Semarang, tetap bisa didengarkan oleh banyak pecintanya, karena sangat sering disiarkan oleh sejumlah besar stasiun pemancar radio brodkas, yang kebanyakan merupakan stasiun pemancar radio brodkas swasta, yang berasal dari berbagai kota di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya. Ini merupakan suatu indikasi bahwa Ki Narto Sabdho tetap dicintai dan tetap hidup dihati para pecinta dan penggemarnya.

Ki Narto Sabdho dikenal kreatif dalam membuat, mengarang, dan menggubah lagu, tembang, atau gendhing Jawa. Hasil karyanya, bahkan tetap banyak dimainkan oleh banyak pradangga dalam berbagai kesempatan pagelaran. Dalam hal pagelaran wayang kulit purwa, Ki Narto Sabdho dikenal sangat pandai mempermainkan emosi dan perasaan penontonnya. Kecanggihan sastra, pengolahan alur cerita, penokohan, menyusun logika, drama dan suasana yang dihasilkan selama pagelaran berlangsung, biasanya bisa membawa dan memperngaruhi perasaan dan emosi penontonnya.

Kemahirannya mendramatisasi cerita, tokoh, dan suasana; selama pagelaran wayang kupit purwa dilangsungkan, rupanya membuat Ki Narto Sabdho selalu dikenang dan berada di dalam hati sanubari setiap penggemar dan pecintanya sepanjang masa. Hal itulah yang membuat nama Ki Narto Sabdho selalu diingat orang. Rekaman berbagai pagelaran yang pernah dilakukannya dan teknologi masa kini, rupanya telah ‘menghidupkan kembali’ Ki Narto Sabdho di dunia maya dan di alam khayal para penggemar dan pecintanya….

Untuk mendengarkannya, Anda cukup meng-’klik’ judul yang berwarna biru di bawah ini, lalu secara otomatis Gendhing Talu Wayangan yang Anda pilih akan dipagelarkan.

__________________________________________________________________________

Renungan…….

Bayangkan, betapa syahdunya saat malam hari di wilayah pedalaman Pulau Jawa, sang bulan sedang purnama, dengan cahaya keemasan terang benderang di angkasa raya; sementara Anda berada di sana duduk termenung, mendengarkan sayup-sayup alunan permainan Gendhing Talu Wayangan, ditingkah malam purnama yang indah dengan jutaan bintang bertaburan di angkasa raya. Pagelaran wayang belum dimulai, tetapi Anda sudah hadir di alam khalayal itu, menunggu sang dhalang menceritakan kembali seluruh perjalanan hidup Anda. Saat Anda bersedih, gembira, berlinang airmata, jatuh cinta, saat ditinggalkan, saat sendirian, saat menghadapi kegagalan, saat meraih mimpi, saat mengalami kemenangan, saat mendapat keberhasilan, saat jatuh cinta, saat menikah, saat menimang putra-putri yang dimimpikan, saat membesarkan mereka, saat mengalami kekonyolan, atau saat tertawa terbahak-bahak; mentertawakan diri dan kelakuan kita……. Read the rest of this entry

WAYANG DAN EXPLOITASI BUDAYA NEGATIF DI SEKITAR KITA…..


by Bram Palgunadi on Wednesday, April 11, 2012 at 8:34am
Pagelaran wayang kulit purwa, adalah suatu pagelaran budaya yang mengexploitasi mata-raga dan mata-hati sekaligus. Pagelaran seperti ini, tidak bisa hanya bertumpu kepada salah satu sisi semata, melainkan harus mengandung keduanya sekaligus. Pada pagelaran seperti ini, dhalang menjadi tokoh sentral pelaku utama pagelaran. Karenanya, semua pendukung pagelaran (nayaga, pesindhen, dan wiraswara) sudah seharusnya mendukung pagelaran wayang itu. Kalau pesindhen lalu menari dan menyanyi campur-sari, atau pelawak lalu mengkudeta waktu pagelaran selama beberapa jam; maka situasi ini akan sangat menjatuhkan kehormatan dan martabat dhalang sebagai tokoh sentral pada pagelaran wayang kulit purwa.

Persoalan ini, dimulai dari pertanyaan Mas Suwardjoko yang menggelitik saya, ketika dituliskan di ‘wall’ saya. Di bawah ini, saya kutipkan secara lengkap pertanyaan beliau.

“Bung Bram para pecinta wayang ysh,Tolong sekali-sekali simak acara Indosiar pk. 19.oo “Kisah Rama-Shinta” ! Kira2 40 th y.l. ada acara TVRI yang kurang-lebih serupa, dan saya protes keras. Acara tsb lantas tak disiarkan lagi. Barangkali saya pecinta wayang yang ortodok dan tinja (ketinggalan jaman) yang tidak mampu mencerna seni dan logika sutradara. Rasa-pangrasa “wayang” saya tidak bisa menerima campur aduk seperti itu, berbeda halnya ketika saya nonton OVJ karena memang tujuannya “dagelan/bobodoran/konyol”.Saya memandang pengenalan wayang seperti itu justru akan merusak seni wayang itu sendiri. Celakanya, dalang kondhang Ki Manteb terlibat di dalamnya.Saya sampaikan uneg2 saya ini khususnya Bung Bram (yang seniman) dan rekan2 PSTK-ITB, untuk menilai apakah saya ini yang tergolong tinja; atau biarkan wayang diacak-acak di balik ketiak “kreativitas” ?Terima kasiiiiih.”

Meskipun ada sejumlah pertanyaan, yang disebabkan ketidak-pahaman saya atas pertanyaan Mas Suwardjoko itu, saya berpendapat seperti saya sampaikan di bawah ini.

Mas Suwardjoko Warpani yang saya hormati…., terus terang saja, saya sama sekali tidak mengikuti acara Rama-Shinta yang di Indosiar. Penyebabnya? Ya karena saya tidak menyukainya. Kalau yang YVRI, saya kok sama sekali lupa ya. Maafkan saya. Tapi kalau OVJ, saya sesekali memang nonton, tetapi hanya sesekali. Harus diakui, OVJ memang kreatif, meskipun seringkali terlampau menonjolkan soal fisik dan ada kecenderungan leluconnya berpola mengerjain pemeran tertentu. Ini tidak terlampau saya sukai….

Kalau yang dimaksud Mas Suwardjoko acara yang diikuti Pak Manteb, itu acara yang mana ya? Mohon penjelasan lebih dulu, karena saya takut berbeda acara dengan yang saya maksud.


Pesindhen merupakan pendukung pagelaran wayang kulit purwa dan pendukung permainan dhalang. Tetapi kalau pesindhen sudah berubah fungsi menjadi penyanyi campur-sari, ya sebaiknya membuat pagelaran campur-sari saja, jangan merusak pagelaran wayang.

Mengapa pada pagelaran wayang kulit purwa para pesindhen sampai perlu menghadap penonton? Apa ini merupakan pagelaran ‘model’ pesindhen? Kalau memang begitu, kenapa tidak membuat pagelaran pesindhen saja?

Ini pertunjukan wayang atau pertunjukan campur-sari? Mengapa pesindhen mengkudeta pegaleran wayang? Jadi pesindhen menjadi pesaing dhalang? Atau, lenggak-lenggok tubuh pesindhen yang molek dan gerak yang syur lebih diminati penonton?

Suara yang merdu merayu, kemayu, cantik, sexy, dan berwajah ayu; merupakan senjata pamungkas pesindhen pada pagelaran wayang kulit purwa. Benar seperti itu? Kalau memang mau seperti itu, sebaiknya bikin saja pagelaran pesindhen, dan jangan menjadi perusak pagelaran wayang kulit purwa….

Kalau acara pagelaran wayang di TVRI yang saya juga cenderung tidak menyukainya, dan memang seringkali menampilkan dhalang kondang, adalah pagelaran wayang yang dilakukan selama kira-kira sejam, lalu dipotong oleh pembaca acara dan lalu dilakukan diskusi, yang menurut saya cenderung ‘menggurui’ masyarakat. Biasanya, dalam bentuk wawancara dengan dhalang pembawa cerita pendeknya.

Seperti Mas Suwardjoko, saya juga termasuk yang sedemikian ortodox barangkali, sehingga pagelaran wayang yang sering ditampilkan di jaman sekarang sekalipun, saya juga cenderung tidak menyukainya. Alasannya? Pagelaran wayang jaman sekarang, sudah sedemikian melencengnya dari pakem dan sedemikian rusaknya, sehingga boleh dikatakan lebih sebagai pertunjukan campur-sari dari pada pagelaran wayang. Itu fakta yang sering saya temukan.

Meskipun demikian, saya secara berkala tetap bersama sahabat-sahabat kinasih saya (dari PPW, Paguyuban Pecinta Wayang) tetap memperhatikan, menonton, dan mencermatinya; karena saya tetap percaya, suatu ketika nanti masyarakat pecinta wayang yang sekarang sedang gandrung dengan pagelaran wayang campur-sari itu, suatu ketika akan ‘kembali ke jalan yang benar’, yakni kembali ke pagelaran tradisional yang indah, menyentuh perasaan, dan menyenangkan. Fenomena ini, secara sangat jelas terbukti secara nyata pada pagelaran wayang golek Sunda. Misalnya, yang dimainkan oleh Ki Asep Sunandar Sunarya.Saya mengikuti fenomena wayang golek Sunda ini sejak sekitar tahun 1970-an, saat pagelaran wayang golek Sunda dulu masih lebih menonjolkan jaipongan dari pada pagelaran wayangnya. Sekarang, wayang golek Sunda menurut saya sudah kembali ke jalan yang benar. Kalau ada pagelaran, yang diperhatikan pertama adalah siapa dhalangnya dan apa ceritanya. Hal ini, berbeda dengan di sekitar tahun 1970-an. Saat itu, penonton pertama kali memperhatikan siapa sindhen-nya, berapa jumlahnya, serta cantik dan sexy apa tidak. Read the rest of this entry

SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 2)


by Bram Palgunadi on Friday, November 11, 2011 at 5:01am

Srikandhi telah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang mempesona. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, wajahnya yang selalu cantik dan penuh ceria, selalu membuat para pria terpesona saat mereka memandangnya.

Sang Sasadara telah menyinarkan cahaya purnamanya ke angkasa luas. Cahayanya bersinar keemasan di antara mega-mega, seakan hendak menyampaikan tarian cerita sendu. Bias cahayanya, berpendar-pendar menyeruak di antara gumpalan awan yang berjalan perlahan dengan enggan. Sepasang burung malam, tampak terbang berputaran dengan cekatan, saling menyambar di atas angkasa malam Pancala Radya, bagaikan menarikan bias kehidupan manusia di alam janaloka. Lalu, dari kejauhan, terdengar samar-samar terbawa sang Samirana, tembang Kidung Kinanthi dinyanyikan para pradangga dan waranggana, meniti lembut nada-nada Ketawang Pangarum-arum, melantunkan cerita-cerita parwa yang menyayat hati, bercerita tentang hidup dan perjalanan manusia, saat gamelan ditabuh memainkan rangkaian Talu yang menyentuh pagelaran agung kehidupan anak-anak manusia. Bercerita tentang hidup dan mati. Tentang kelahiran dan kematian. Tentang kemegahan dan kesengsaraan. Tentang cinta dan kesedihan. Tentang ‘sangkan paraning dumadi’  manusia, yang pada suatu ketika nanti pasti akan ’bali mulih mring mula-mulanya’ (kembali pulang ke asal mulanya).  Tentang kesendirian, yang membuat siapapun yang mendengarnya akan terketuk relung hatinya dan meneteskan air mata. Maka Talu-pun dimulai, menceritakan berbagai peristiwa kehidupan Sang Srikandhi, putri Pancala Radya….

Wus munya gangsa ing dalu,

Angelangut gya rinukmi,

Tembanging carita parwa,

Ngarum-arum wanci ratri,

Rinengga wulan kartika,

Heneng hana hanawengi.

Wus munya gangsa gya Talu,

Suluk myang tembang respati,

Ginawa Sang Samirana,

Kidung kandha jroning ratri,

Angidung lakoning jalma,

Sesuluh laku utami. [1]

Sang Srikandhi diam termenung di malam itu. Gelisah perasaannya. Berita-berita tentang para kerabat Pandhawa yang diusir dari Hastina-Pura oleh para kerabat Kurawa, telah sampai pula di telinganya. Berita-berita tentang peristiwa pengusiran kerabat Pandhawa itu, setiap hari memenuhi halaman depan koran dan televisi Pancala Radya dan berita-berita itu selalu menjadi ‘headline’ yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar dan mencolok, disertai dengan ulasan, bahasan, dan cerita; yang hampir semuanya menyalahkan dan memojokkan para kerabat Pandhawa, akibat peri-lakunya kalah berjudi melawan para kerabat Kurawa. Miris hatinya, jika merasakan bagaimana sekelompok kerabat ksatria itu diperlakukan secara nista dan hina. Tetapi saat membaca banyak berita itu, Srikandhi juga bisa merasakan, menimbang, serta membuat kesimpulan; bahwa segala peristiwa itu sebenarnya dimulai dari kebodohan para kerabat Pandhawa sendiri, yang menerima begitu saja tantangan berjudi dari para kerabat Kurawa, tanpa tahu bahwa sebagian besar dari lawannya itu terkenal sebagai penjudi ulung yang licik.

Srikandhi, sebenarnya tidaklah begitu kenal dengan para kerabat Pandhawa itu. Tetapi berita-berita yang sangat gencar dan membanjirinya setiap saat, membuatnya sedikit-banyak terpengaruh juga. Timbul rasa kasihan setiap kali melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan bagaimana para kerabat Pandhawa itu diolok-olok, direndahkan, dan dihinakan martabatnya secara keterlaluan oleh para kerabat Kurawa. Para kerabat Pandhawa itu, diusir dan diperlakukan seakan seperti segerombolan anjing kurap saja. Martabatnya direndahkan sedemikian rupa, sehingga mereka dianggap tak perlu diperlakukan sebagai manusia. Benar-benar keterlaluan…..

Myat langening kalagyan,

Aglar pandham muncar….[2]

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan warsa demi warsa; berlalu begitu saja tak terasakan. Begitu lama berlalu, sehingga akhirnya berita tentang kerabat para Pandhawa itu hilang ditelan waktu. Seakan mereka lenyap dan musnah dari muka bumi. Semua kehidupan, seakan kembali seperti awal mulanya. Begitu pula Sang Srikandhi, kembali kepada kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan berbagai kegiatan seperti dulu. Tak terasakan, waktu telah berlalu begitu lama, dan Sang Srikandhi telah menjelma menjadi seorang putri remaja yang dewasa. Tubuhnya yang semampai, dengan perawakan tegak tinggi bagaikan seorang ksatria, tampil dengan berbagai kepandaian dan kelincahan dalam berolah diri. Sahabat-sahabatnya yang dulunya menjulukinya sebagai ‘si pembuat onar’, telah lama mengganti julukannya menjadi ‘si jelita dari Pancala Radya’. Julukan ini, kelihatan memang lebih cocok untuk Sang Srikandhi yang sudah mulai menginjak dewasa dan seringkali tampil lebih lembut, meskipun masih juga kelihatan ‘tomboy’.

Sesekali, Sang Srikandhi menyenangkan dirinya bermain dan bercengkerama di pantai Pancala Radya…Srikandhi yang enerjik, telah berubah menjadi wanita dewasa yang mempesona…Seperti layaknya seorang wanita yang mulai menapak masa dewasa, mimpi-mimpi Srikandhi juga mulai mengembara jauh ke relung-relung kehidupan yang berbunga-bunga…

Hari itu, Sang Srikandhi nan jelita baru pulang dari sebuah kuliah ‘stadium generale’, Read the rest of this entry

SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 1)


by Bram Palgunadi on Monday, November 7, 2011 at 12:12am

Srikandhi memang terkenal sebagai gadis yang cantik rupawan, sexy, sensual, dan karena itu pula banyak pria yang tergila-gila padanya. Tetapi kepandaiannya berkelahi sudah jelas membuat ciut para pria teman-teman sebayanya.

Srikandhi sebagai seorang gadis ‘tomboy’ yang hidup di kalangan keluarga istana Kerajaan Pancala Radya, memang terkenal sebagai seorang gadis yang pandai, bengal, tangkas, pandai berkelahi, sexy, sensual, pandai bergaul, pandai pula bicara, dan berani dalam banyak hal. Matanya yang besar dan selalu berbinar-binar saat memandang lawan bicaranya, seolah memancarkan sihir yang memukau lawan bicaranya. Sehari-hari Srikandhi, selalu berdandan dan menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman. Namanya juga ‘gadis masa sekarang’. Di kampus Universitas Negeri Pancala Radya, ia lebih dikenal sebagai seorang mahasiswi yang pintar, cerdik, berani, banyak pengetahuannya, dan sebagai seorang gadis ia dikenal suka berkata terus terang, tanpa tedeng aling-aling. Karena ikut grup bela diri, maka Srikandhi juga dikenal sebagai ‘gadis pemberani’, yang sesekali juga ikut terlibat perkelahian jalanan atau membuat onar. Banyak teman sebayanya, yang tentu saja kebanyakan adalah pria, mengaguminya tetapi sekaligus juga agak takut kepadanya. Keberanian Srikandhi, seringkali juga membuat ciut nyali para pria yang mau naksir dirinya. Bagaimana nggak ciut, Srikandhi yang jago berkelahi itu kan anak penggede pemilik negara, anak Raja Pancala Radya, yang terkenal sebagai negara besar yang kekuasaannya sedemikian luas, dan disegani banyak negara asing.

Srikandhi, sang putri yang jago berkelahi, dikenal sebagai gadis yang juga pandai bicara.Kepandaiannya berkelahi, telah membuat Srikandhi dikenal sebagai gadis pemberani.Panah merupakan salah satu senjata andalan Srikandhi.Lemah lembut tetapi kuat dan tangguh, itulah Srikandhi.

Srikandhi juga dikenal berani bertanding melawan ksatria wanita lain.

Cantik, sexy, sensual, dan pandai berkelahi; membuat Srikandhi terkenal di seantero dunia.Lembut, penuh perasaan, juga merupakan keanggunan Srikandhi yang tersembunyi.

Sesekali Srikandhi sebagai seorang selebriti terkenal, juga bisa ditemukan sedang ‘shoping’ di ‘mall’.Seperti layaknya seorang selebritis, Srikandhi sesekali juga suka nampang di majalah mode.

Srikandhi dalam pakaian fesyen bergaya Asia Tengah yang anggun.

Dalam balutan pakaian fesyen mutakhir, Srikandhi juga sering muncul pada sejumlah pesta selebritis di Ibu Kota Kerajaan Pancala Radya. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 942 other followers

%d bloggers like this: