Category Archives: Banjaran Cerita Pandawa

Kisah-kisah para Pandawa
Sumber http://tembi.org

Banjaran Cerita Pandhawa (36)



Sakuni sedang memainkan dadu di depan Yudhisthira (karya Herjaka HS)

Pandhawa Dadu

Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di atas singhasana dihadap oleh Patih Sakuni dan warga Korawa. Raja memperbincangkan rencana permainan dadu dengan para Pandhawa. Patih Sakuni memberi petunjuk rencana permainan dadu kepada raja dan warga Korawa. Kemudian raja meningalkan perundingan, masuk istana. Raja disambut oleh permaisuri dan putri raja, Lesmanawati. Kemudian raja bersamadi.

Patih Sakuni dan para Korawa menanti raja, mereka akan ke Balai Kencana, menyambut kedatangan para Pandhawa. Setelah raja keluar dari istana, mereka berangkat naik kereta.

Prabu Jayalengkara raja Parang Gumiwang duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Jayahandaya dan Ditya Jayapracandha. Raja berkata, demi kebahagiaan negara dan rakyat, Prabu Darmakusuma yang menjadi sarana untuk tinggal di kerajaan. Maka raja mengirim surat kepada Prabu Darmakusuma raja Ngamarta. Ditya Jayapracandha ditugaskan untuk menyampaikan surat permintaan itu.

Ditya Jayapracandha dan perajuritnya bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, perajurit Ngastina menyimpang jalan.

Arjuna menghadap Bagawan Abyasa di pertapaan Wukir Retawu. Arjuna memberi tahu, bahwa Pandhawa akan mengadakan pertemuan dengan Korawa yang dipimpin oleh Duryodana. Mereka akan bermain dadu. Bagawam Abyasa memberi banyak nasihat, Arjuna disuruh kembali ke Ngamarta. Arjuna bersama panakawan segera berangkat.

Perjalanan Arjuna dihadang oleh perajurit raksasa dari Parang Gumiwang. Terjadilah perkelahian, para raksasa musnah oleh panah Arjuna.

Bima menghadap Anoman di Kendhalisada, memberi trahu rencana permainan dadu bersama warga Korawa. Anoman meberi nasihat makna pertemuan para Pandhawa dan Korawa. Itu awal akan terjadinya perang.

Kresna raja Dwarawati dihadap oleh para isteri, Samba, Partajumena dan Setyaki. Raja memberi tahu, bahwa atas kehendak dewa akan terjadi awal mula timbul perang antara Pandhawa dengan Korawa. Raja Kresna ingin menyaksikannya, para putra diminta menjaga kerajaan.

Yudhisthira duduk bersama Kunthi, Drupadi, Nakula dan Sadewa. Mereka menanti kedatangan Duryodana dan para Korawa.

Duryodana datang, Yudhisthira menyambutnya. Patih Sakuni mengatur arena permaianan, siap dengan perlengkapannya.

Setelah dijamu mereka bersiap-siap main dadu, Yudhisthira selalu kalah, harta kekayaan habis untuk taruhan. Yudhisthira sesaudara sedih, para Korawa bersukaria mengambil seisi kerajaan Ngamarta.

Patih Sakuni hendak memboyong Kunthi, lalu menarik kain kemben. Dursasana menagkap Drupadi. Kunthi dan Drupadi berteriak keras. kunthi mengutuk dan berjanji, ia tidak akan berkain tutup buah dada, sebelum mendapat kulit Sakuni. Drupadi tidak akan bersanggul sebelum berjamas darah Dursasana.

Bima dan Arjuna datang bersama. Mereka heran mendengar tangis, setelah mengerti persoalannya mereka mengamuk. Para Korawa bercerai berai lari tunggang-langgang. Yudhisthira berdiam diri, datanglah angin kencang, membawa para Korawa jatuh ke kerajaan Ngastina. Warga Pandhawa menjadi tenang.

Kresna datang dan melihat situasi sesudah terjadi keributan. Kunthi memberi penjelasan segala sesuatu yang terjadi. Kresna memberi tahu, bahwa itu kehendak dewa Yang Maha Tinggi.

Bagawan Abyasa berbicara dengan Dhestharastra dan Widura tentang berita pertikaian Pandhawa dangan Korawa. Mereka setuju berkunjung ke Ngamarta.

Prabu Jayalengkara dihadap oleh Patih Jayahandaka dan Ditya Jayapracandha. Tengah mereka berbincang-bincang datanglah Togog memberi tahu, bahwa utusan musnah oleh Arjuna.

Prabu Jayalengkara marah, sang patih diminta mempersiapkan perajurit. Setelah siap, para perajurit raksasa berangkat ke Ngamarta.

Yudhisthira sedang berbicara dengan Kresna, Bima dan Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kresna memberi nasihat agar para Pandhawa mau menyerah kepada kehendak Dewa Yang Maha Tinggi. Tengah mereka berbicara, datanglah Bagawan Abyasa bersama Dhestharastra dan Widura Mereka menghoramat bersama. Setelah tahu, bahwa di Ngamarta telah terjadi keributan, Bagawan Abyasa memberi nasihat agar para Pandhawa mau menerima nasib jeleknya. Kelak dewa akan melindunginya.

Perajurit raksasa yang dipimpin oleh Prabu Jayalengkara datang menyerang kerajaan Ngamarta. Bagawan Abyasa menugaskan Widura, Bima dan Arjuna untuk mengusir musuh.

Jayalengkara mati oleh Widura, Patih Jayahandaka mati oleh Arjuna, dan perajurit raksasa musnah oleh Bima.

Para Pandhawa mengadakan pesta bersama Abyasa dan para tamu yang hadir di Ngamarta.

R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid XXVIII, 1932: 15-20

Banjaran Cerita Pandhawa (35)



Dalam upayanya mengelabui para Korawa Kresna meminta Bima
untuk bersiap-siap di luar kerajaan Ngastina. (karya : herjaka HS)

Pandhawa Sungging

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Durna, Burisrawa, Dursasana, Citraksa dan Citraksi. Raja membicarakan permintaan Burisrawa yang ingin memperisteri Sumbadra. Raja menyerahkan permasalahan itu kepada Pendeta Durna. Pendeta Durna menyanggupinya. Raja membubarkan pertemuan lalu masuk istana.

Banowati dan Dursilawati menyambut kedatangan raja. Raja bercerita tentang masalah rencana perkawinan Burisrawa. Setelah bersantap, raja bersemadi.

Pendeta Durna memanggil Adipati Karna, Burisrawa dan Jayadrata. Untuk dapat memboyong Sumbadra mereka harus dapat mencuri dengan jalan mengelabui para Pandhawa. Karna diubah dalam wujud Kresna. Burisrawa menjadi Arjuna, Jayadrata menjadi Gathotkaca. Mereka bertiga ditugaskan mencuri Sumbadra ke Madukara.

Sumbadra dan Srikandhi bersiap-siap akan ke Ngamarta. Tiba-tiba Kresna palsu datang, Sumbadra diajak ke Ngamarta bersama-sama. Sumbadra menurut, lalu pergi bersama Kresna palsu. Abimanyu merasa tidak enak, lalu minta persetujuan kepada Srikandhi, untuk mengikuti Kresna palsu dan Sumbadra.

Kresna palsu telah tiba di luar istana, Sumbadara diserahkan kepada Arjuna palsu. Arjuna palsu dan Gathotkaca palsu disuruh kembali ke Ngastina. Abimanyu dan Srikandhi menemui Kresna palsu di luar istana. Srikandhi meminta kepada Kresna palsu agar Sumbadara dikembalikan. Kresna palsu tidak mengijinkan, lalu terjadi perselisihan. Kresna palsu dipanah oleh Srikandhi dan berubah menjadi Adipati Karna. Adipati Karna membalas dengan melepaskan panah angin, Srikandhi dan Abimanyu terbawa panah angin dan tiba di Dwarawati.

Arjuna asli bersama panakawan berjalan di tengah hutan. Raksasa Kalarudra dan isteri mencegat Arjuna dan Panakawan, dan tidak memberi ijin Arjuna lewat. Terjadilah perkelahian seru. Arjuna melepaskan panah. Kalarudra dan isteri berubah menjadi Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna memberi hormat lalu disuruh kembali ke Madukara. Kamajaya kembali ke Kahyangan bersama Ratih. Yudhisthira kedatangan Kresna asli. Kresna memberitahu rencana pendirian candi Saptaarga. Arjuna singgah di Ngamarta dan akan ke Madukara. Mereka membicarakan laporan Abimanyu tentang Sumbadra. Kresna asli dan Arjuna asli pergi ke Madukara.

Kresna mencari akal untuk mengelabuhi Korawa. Gathotkaca diubah dalam wujud Duryodana, Arjuna menjadi Sakuni, Kresna menjadi Pendeta Durna. Bima diminta bersiap-siap di luar kerajaan Ngastina. Kresna telah mencipta kerajaan Ngastina. Arjuna palsu dan Sumbadra masuk di kerajaan Ngastina palsu. Durna palsu menerima Sumbadra, Arjuna palsu disuruh ke Mandura mengundang Baladewa. Prabu Baladewa diminta untuk mengawal pengantin. Durna palsu minta agar Duryodana palsu masuk ke istana Ngastina asli, mencuri Banowati dan Dursilawati. Duryodana palsu berangkat ke Ngastina. Sakuni palsu berubah menjadi Arjuna asli, Pendeta Durna menjadi Kresna asli. Duryodana asli ke istana, mengajak Banowati dan Dursilawati pergi ke Mandura. Banowati dan Dursilawati diajak ke Ngastina palsu.

Duryodana asli menerima kedatangan Adipati Karna. Adipati memberi penjelasan hasil yang dicapainya. Prabu Baladewa datang, dan menanyakan rencana perkawinan Burisrawa. Duryodana tercengang, karena tidak merasa suruhan untuk mengundang Prabu Baladewa. Lesmanamandrakumara datang, memberi tahu, bahwa Banowati dan Dursilawati hilang dari istana. Duryodana kebingungan, para Korawa disuruh mencarinya.

Baladewa dan Adipati Karna meninggalkan Ngastina, hendak menyerang Madukara. Kresna dan para Pandhawa telah siap di Madukara. Banowati, Dursilawati dan Burisrawa ditahannya. Pandhawa tidak memberikannya, meskipun Baladewa yang meminta untuk dibebaskannya. Terjadilah pertempuran dahsyat. Adipati Karna dan para Korawa melawan Pandhawa dan putra-putranya. Korawa tercerai-berai oleh amukan Bima dan Gathotkaca, mereka kembali ke Ngastina. Arjuna dan Sumbadra menghadap Baladewa, mereka berdua minta dibunuhnya. Baladewa menjadi kasihan menerima kedatangan adiknya. Ia tidak marah lagi, tetapi minta agar Pandhawa melepaskan Banowati, Dursilawati dan Burisrawa. Pandhawa mau melepaskan semua tahanan dengan perjanjian Korawa tidak akan mengganggu para Pandhawa lagi.

Keluarga Pandhawa dan Dwarawati mengadakan pesta keselamatan di Madukara.

R.S. Subalidinata
Pakem Ringgit Purwa Nomor PB E 102: 172-175

Banjaran Cerita Pandhawa (34)



Pada Perang Baratayuda, Bima berhasil membunuh Dursasana.
Kemudian Drupadi mengambil darah Dursasana untuk menjamasi rambutnya.
(karya Herjaka HS)

Pandhawa Gubah

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Durna, Patih Sakuni dan Adipati Karna. Mereka membicarakan rencana pertemuan dengan Pandhawa. Raja ingin memberikan separuh negara kepada Pandhawa.

Dewa kembar utusan Hyang Guru datang, untuk meminta kepada Duryodana supaya mendirikan Bale Kencana bertiang delapanratus. Raja menyanggupinya, akan dicarinya ke hutan Krukmandhala. Dewa kembar kembali ke Kahyangan, pertemuan dibubarkan, raja masuk ke istana.

Prabu Duryodana menemui permaisuri, Retna Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita tentang pembicaraan di persidangan.

Sementara itu di pagelaran jaba, di Alun-alun, Patih Sakuni dengan Korawa bersiap-siap menghantar kepergian raja ke Hutan Krukmandhala. Kemudian raja berangkat, naik di atas kereta kerajaan.

Yudhistira berbicara dengan Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, tentang rencana penerimaan separuh negara Ngastina.

Dewa Kembar datang menyampaikan pesan Hyang Guru, Pandhawa disuruh mendirikan Balai Kencana bertiang delapanratus. Yudhisthira menyanggupinya. Dewa Kembar minta diri, Bima ditugaskan mencari delapanratus tiang ke Singgela

Bima telah tiba di Singgela, bertemu dengan Patih Kartabangsa, meminta delapanratus tian kencana. Patih Kartabangsa tidak mengijinkannya. Bima ingin bertemu dengan rajanya, tetapi Patih Kartabangsa tidak memperbolehkan. Maka terjadilah perkelahian, Patih Kartabangsa kalah. Bima bertemu Raja Bisawarna. Raja memberikan delapanratus tiang. Tiang dibawa ke Ngamarta.

Anoman melihat delapanratus tiang dibawa Bima, cepat-cepat lari menahannya dan merebutnya. Bima menang dalam perebutan, tiang dibawa pulang.

Bathara Guru cemas terhadap kerukunan Pandhawa dan Korawa. Perang Baratayuda mesti tidak akan terjadi. Bathara Citragotra dan Bathara Guritna disuruh turun ke marcapada, menggoda kerukunan Pandhawa dan Korawa.

Bathara Citragotra dan Bathara Guritna turun ke marcapada. Masing-masing merasuk dalam diri Dursasana dan Burisrawa.

Pandhawa dan Korawa telah hadir di Balai Kencana. Mereka berjanji untuk menerima separuh bagian kerajaan Ngastina, dan tidak akan bermusuhan. Kemudian mereka mengadakan pesta besar bersama.

Dalam pesta besar tersebut, Burisrawa menggoda Sumbadra yang dikawal oleh Setyaki. Setyaki marah , Burisrawa dipukulinya.

Dursasana menggoda Drupadi sanggul Drupadi lepas. Drupadi marah dan berkata, tidak akan bersanggul bila belum berjamas darah Dursasana.

Pertemuan pesta menjadi kacau, Pandhawa mendakwa Korawa mendurhakai perjanjian.

Prabu Duryodana menutup pertemuan, Pandhawa meninggalkan Balai Kencana.

Mangkunagara VII Jilid XXX, 1932: 14-16

Banjaran Cerita Pandhawa (33)



Arjuna menghadap Abiyasa untuk memohon restunya (karya Herjaka HS)

Pandhawa Dulit

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Durna, Dursasana, Burisrawa, Citraksa dan Citraksi. Raja merundingkan rencana pembunuhan terhadap Bima. Bima akan dimasukkan ke sumur Jalatundha. Sakuni ditugaskan menghadap raja Ngamarta, minta agar Bima datang di Ngastina untuk diangkat menjadi Adipati di Gajahoya. Perundingan selesai, Patih Sengkuni minta diri, Raja masuk ke istana permaisuri.

Prabu Duryodana masuk ke istana permaisuri disambut oleh permaisuri. Raja bercerita tentang rencana untuk mengundang para Pandhawa. Kemudian raja bersamadi.

Patih Sakuni bersama beberapa warga Korawa berbicara tentang rencana kepergian ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.

Yudisthira berbincang-bincang dengan Bima, Nakula, Sadewa dan Gathotkaca. Tengah mereka berbincang-bincang, datanglah Patih Sakuni. Patih Sakuni minta agar Bima diperkenankan untuk dinobatkan menjadi Adipati di Gajahoya. Yudisthira dan adik-adiknya menyetujui dan bersama-sama pergi ke Ngastina.

Yudisthira sesaudara diterima oleh Duryodana. Bima ditempatkan di Gajahoya. Yudisthira diminta bertempat di Ketandhan, menjadi Lurah Pasar. Nakula dan Sadewa ditempatkan di belakang kerajaan, disuruh menjadi penggembala itik.

Arjuna menghadap Bagawan Abiyasa, minta agar sang bagawan menghadiri penobatan Bima menjadi Adipati di Gajahoya. Bagawan Abiyasa tidak bersedia menghadiri penobatan. Arjuna minta diri dan mohon doa restu. Arjuna kembali ke Ngamarta diikuti para Panakawan.

Perjalanan Arjuna lewat di tengah hutan. Tiba-tiba dihadang oleh raksasa suami isteri. Terjadilah perkelahian. Raksasa berdua musnah terkena panah Arjuna, kemudian muncul Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna dan Panakawan datang menghormat, Bathara Kamajaya memberi tahu bahwa Duryodana telah menipu saudara-saudara Pandhawa. Setelah memberitahukan hal tersebut, Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih kembali ke Kahyangan. Arjuna meneruskan perjalanan.

Dursasana mencoba akan membunuh Dwijakangka, nama lain dari Yudisthira, tetapi gagal. Karena Dwijakangka tidak dapat dilukai dengan jenis senjata apapun. Dursasana melarikan diri, karena merasa tidak mampu membunuh Dwijakangka.

Duryodana sedang dihadap oleh para Korawa, Patih Sakuni dan Pendeta Durna. Arjuna datang dengan mengacungkan keris, akan membunuh Duryodana. Pendeta Durna membujuk agar Arjuna menyarungkan kerisnya. Dikatakan, bahwa Bima dikurung di Gajahoya, sebab ia akan dinobatkan menjadi adipati.

Banowati menemui Kunthi dan kedua anaknya, Nakula dan Sadewa. Ia menyampaikan suguhan untuk mereka. Duryodana ikut menemui Kunthi dan dua anaknya. Nakula dan Sadewa bangkit marahnya, Duryodana dipukul dengan batu dan mengenai kepalanya.

Arjuna menyamar sebagai penjual kinang atau kapur sirih di pasar. Baladewa, Banowati, dan para abdi membeli sirih dengan perlengkapannya.

Pendeta Durna menyuruh para Korawa agar mencuri gada Bima. Gada Bima ditunggu oleh Bajobarat. Para Korawa diserang oleh Bajobarat. Para Korawa ketakutan, mereka melarikan diri.

Bima dan Arjuna menemui Duryodana. Mereka mendakwa kejahatan Duryodana. Para Korawa mencoba meredakan kemarahan Bima. Terjadilah perkelahian. Bima dan Arjuna dikeroyok oleh para Korawa.

Prabu Kresna merelai permusuhan Korawa dan Pandawa. Mereka mengadakan perdamaian.

Selanjutnya Pandawa dan Korawa mengadakan pesta perdamaian

R.S.. Subalidinata
Pakem Balungan Lampahan Ringgit Purwa, Naskah PB A44:99-102

Banjaran Cerita Pandhawa (32)



Pada waktu Dewi Drupadi dipermalukan Dursasana(karya herjaka HS)

Pandhawa Gupak

Prabu Suyudana dihadap oleh Pendeta Durna dan Patih Sengkuni. Mereka berunding tentang perdamaian dengan Pandhawa. Tengah mereka berbicara Nakula datang, bertanya tentang rencana kehadiran raja Suyudana. Raja Suyudana minta agar Pandhawa menyiapkan Balai Kencana bertiang delapanratus. Nakula minta diri, raja suyudana masuk istana.

Prabu Suyudana menemui prameswari Dewi Banowati. Sang Raja bercerita tentang rencana perdamaian dengan Pandhawa. Mereka lalu santap bersama. Patih Sengkuni dan para Korawa menghantar Nakula sampai di perbatasan negara.

Sadewa menghadap raja Kresna di kerajaan Dwarawati. Raja diminta kehadirannya di Ngamarta. Kresna menyanggupinya, dan bersama Setyaki berangkat ke Ngamarta.

Yudisthira menerima kehadiran Nakula. Nakula memberitahu segala permintaan raja Suyudana. Yudisthira susah hatinya. Kresna dan Setyaki datang, Yudisthira menyambut dengan hormat. Kresna menyetujui rencana perdamaian Korawa dengan Pandhawa. Wrekodara disuruh ke negara Ngalengka, meminjam persyaratan yang diminta oleh raja Suyudana. Wrekodara berangkat ke Ngalengka, akan menghadap raja Wibisana. Bathara Bayu menemaninya.

Raja Wibisana menerima kehadiran Wrekodara. Wrekodara menyampaikan maksud kedatangannya. Wibisana mengajak Wrekodara ke tempat Balai Kencana. Balai Kencana dilihat oleh Wrekodara hanya tampak seperti Balai-balai bambu. Balai Kencana segera dibawanya.

Patih Sengkuni dan para Korawa mencegat perjalanan Wrekodara. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan Wrekodara, lalu kembali ke Ngastina.

Perjalanan Wrekodara diketahui oleh Anoman. Anoman menjamu di Dhadhalisada. Kemudian Wrekodara meminta pamit, kembali ke Ngamarta.

Perjalanan Wrekodara lewat di Tegal Kuru. Baladewa mencegat, Balai Kencana disuruh meninggalkan di Tegal Kuru. Balai Kencana ditinggal oleh Wrekodara.

Wrekodara menemui Yudisthira, Kresna, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Wrekodara memberi tahu, bahwa Balai Kencana telah diperoleh dan sekarang ditinggalkan di Tegal Kuru atas permintaan Baladewa. Nakula disuruh memberi tahu kepada raja Ngastina. Semua warga Pandhawa berangkat ke Tegal Kuru.

Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Brama, Bathara Kuwera, Bathara Citragotra, mereka menanyakan sebab terjadinya gara-gara. Bathara Narada memberi tahu, bahwa Korawa akan mengadakan perdamaian dengan Pandhawa. Bathara Guru khawatir bila tidak terjadi perang Baratayuda. Empat dewa disuruh mendurhakai perdamaian lewat orang-orang Korawa. Para dewa turun ke Marcapada.

Prabu Suyudana dan para para Korawa menerima kedatangan Nakula. Nakula memberi tahu, bahwa permintaan raja telah siap di Tegal Kuru. Raja Suyudana dan para Korawa pergi ke pesanggrahan.

Baladewa memihak Korawa, Kresna dipihak Pandhawa. Masing-masih minta agar menyampaiakn janji. Pandhawa mendahului berjanji, bila memulai berbuat durhaka, sanggup menerima hukuman dari dewa, sengsara sampai anak cucunya. Korawa berjanji demikian itu juga.. korawa dan Pandhawa telah bersatu. Para dewa merasuki kepada Burisrawa, Dursasana dan Patih Sengkuni. Dewa lain merasuk kepada Satyaki dan Gatotkaca. Burisrawa pergi menggoda Sumbadra, Patih Sengkuni mencari Kunthi dan Dursasana mencari Drupadi.

Patih Senhgkuni mengejar Kunthi, dan berhasil menarik kain penutup buah dada. Kunthi mengutuk, kelak bila Patih Sengkuni mati jenasahnya akan busuk tidak seperti bangkai anusia.

Dursasana menggoda Drupadi, dan berhasil melepas sanggul. Drupadi berjanji, ia tidak akan bersanggul sebelum berjamas dengan darah Dursasana.

Burisrawa mengejar Sumbadra. Sumbadra lari, Srikandhi menghalanginya. Burisrawa diberi minuman keras. Setyaki memberi minuman keras kepada Baladewa. Setyaki dan Gathotkaca panas hati, karena Sumbadra digoda, lalu mencari sebab untuk menghantamnya. kain Burisrawa diinjak oleh Setyaki, terjadilah perkelahian. para Korawa memisahnya.

Patih Sengkuni ingin memukul Setyaki. Kartamarma disuruh menghina putra-putra Pandhawa. Kartamarma menghina Nakula, Sadewa, Pancawala, Angkawijaya dan Gathotkaca. Putra-putra Pandhawa mengamuk, terjadilah perkelahian.

Baladewa melihat lalu dilerainya. Baladewa marah terhadap Gathotkaca. Gathothotkaca dipukulinya. Wrekodara membela anaknya. Kresna datang melerai perkelahian mereka. Para Pandhawa berkumpul lalu kembali ke Ngamarta

R.S Subalidinata
L.Th. Mayer. Wajangverhalen, 1924: 237-247

Banjaran Cerita Pandhawa (31)



Harjuna ketika dalam perjalanan mencari air (karya Herjaka HS)

Pandhawa Papa

Prabu Duryodana dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Kartamarma dan warga Korawa. Raja memberi tahu tentang berita para Pandhawa. Dikatakan, Pandhawa berada di Girikandha. Mereka berganti nama. Raja lalu minta agar padepokan Girikandha dihancurkan, para Pandhawa supaya dimusnahkannya. Patih Sakuni diminta menyiapkan perajurit dan melaksanakan perintah raja.

Prabu Duryodana membubarkan sidang, lalu masuk ke istana permaisuri, dan memberitahu kepada permaisuri tentang rencana pemusnahannya Pandhawa. Banowati sedih dan sayang kepada para Pandhawa.

Prabu Duryodana bersamadi memanjatkan doa.

Patih Sakuni menemui Basukarna, Dursasana, Jayadrata, Citraksa, Citraksi dan Aswatama. Mereka berunding tentang perintah raja. Mereka bersiap-siap berangkat ke Girikandha.

Bagawan Selaraja dihadap oleh Jalasangara, Puthut Parandaka, Kunthi dan para Pandhawa. Perajurit Korawa datang menyerang. Pandhawa lari bersembunyi ke hutan. Padepokan Girikandha dirusak, sang bagawan dan para murid melarikan diri.

Kunthi dan para Pandhawa berjalan menyusuri hutan. Pinten dan Tangsen kehausan. Arjuna disuruh mencari air.

Arjuna dan para panakawan pergi mencari air. Di tengah perjalanan diserang raksasa suami isteri. Arjuna melawan dua raksasa. Raksasa dipanah berubah rupa menjadi Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna menghormat, Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih memberi doa restu, lalu kembali ke Kahyangan.

Arjuna melanjutkan pencarian air, dan dapat menemukan sendang. Arjuna segera mengambil air sendang untuk saudara-saudaranya.

Air sendang diserahkan kepada ibunya. Semua minum air, kecuali Semar. Semua yang minum air mati. Semar marah, sendang dikeringkan airnya. Lalu datanglah jin minta hidup, air sendang minta tidak dikeringkannya. Semar berhenti membuang air sendang, lalu diberi air hidup untuk menghidupkan Kunthi dan anak-anaknya. Setelah hidup kembali, mereka meneruskan perjalanan. Masing-masing berganti nama. Kunthi bernama Endhang Rini, Yudisthira bernama Tandha Dwijakangka, Bima bernama Bilawa, Arjuna bernama Kandhi Wrahatnala, Nakula bernama Tripala dan Sadewa bernama Darmagati

Bagawan Sutikna yang tinggal di Wukir Manikmaya, dihadap oleh Endhang Suki dan Endhang Suketi. Mereka berdua bermimpi, bertemu dengan Wasi Jalasangara dan Puthut Parandaka. Tiba-tiba dua ksatria itu datang terbawa angin. Dua remaja itu diambil menantu oleh oleh Bagawan Sutikna.

Korawa datang merusak padepokan Wukir Manikmaya. Sang Bagawan melarikan diri, lari meninggalkan padepokan

Prabu Matswapati raja Wiratha, duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Utara, Wratsangka dan Nirbita. Tengah mereka berbincang-bincang datanglah Bagawan Sutikna minta perlindungan karena diusir oleh Korawa.

Perajurit Korawa datang di Wiratha, minta supaya menyerahkan Bagawan Sutikna. Raja Matswapati tidak mau menyerahkannya, para Korawa mengamuk. Seta, Utara dan Wratsangka berhasil mencerai-beraikan Korawa. Pertempuran selesai.

Bagawan Sutikna dan keluarga Wiratha mengadakan pesta bersama.

R.S. Subalidinata
Kodiran. Pakem Pedalangan Ringgit Purwa, 1967:63-68

Banjaran Cerita Pandhawa (30)



Yudhisthira dan Arjuna sedang berjalan di hutan bersama Semar dan Gareng (karya herjaka HS)

Pandhawa Apus

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Duryodana ingin membinasakan Pandhawa dengan tipu muslihat. Pandhawa akan dijamu makanan yang mematikan. Duryodana telah mengundang Pandhawa.

Tak lama kemudian Pandhawa datang, Duryodana menyambutnya. Mereka dijamu besar-besaran, para Pandhawa diracun, akhirnya para Pandhawa meninggal dunia. Para Korawa senang, mereka mengira, bahwa musuh telah lenyap. Sakuni minta agar Bima dimasukkan ke dalam sumur Jalatundha, Arjuna dibuang ke gua Sigrangga.

Setelah membuang jenasah para Pandhawa, Duryodana masuk ke istana menemui permaisuri dan Gendari, ibunya. Raja memberi tahu tentang kematian para Pandhawa. Patih Sakuni dan para Korawa membuang jenasah para Pandhawa.

Anantasena dan Gathotkaca yang berada di Randhugumbala ingin pergi ke Ngastina. Mereka bersiap-siap lalu berangkat.

Perjalanan mereka berdua bertemu dengan perajurit Ngastina. Mereka berselisih, dan terjadilah perkelahian. Para Korawa kalah, Adipati Karna datang membantunya, Anantasena dan Gathotkaca melarikan diri.

Jenasah Arjuna dipungut oleh Hyang Baruna, lalu dihidupkan kembali. Arjuna dikawinkan dengan Dyah Suyakti, kemudian disuruh pergi ke gua Sigrangga.

Perjalanan Arjuna dihadang oleh raksasa bernama Kala Sabawa bersama isterinya. Arjuna akan mereka makan, maka terjadilah perkelahian. Raksasa dipanah, mereka kembali ke wujud asal, berubah menjadi dewa Kamajaya dan dewi Ratih. Arjuna datang menghormat, lalu minta diri, meneruskan perjalannya.

Jenasah Bima dibawa oleh Nagagini kehadapan Hyang Antaboga. Bima dihidupkan kembali, lalu Bima bercerita asal mula kematiannya. Kemudian Bima disuruh pergi ke gua Sigrangga.

Yudhisthira, Nakula dan Sadewa telah dihidupkan kembali oleh Dyah Suparti. Arjuna dan Bima datang di gua Sigrangga menghadap Dyah Suparti. Dyah Suparti menyuruh agar mereka berlima kembali ke negara, sebab kerajaan Ngamarta dikuasai oleh Adipati Karna.

Bagawan Abyasa pergi ke negara Ngamarta, atas ilham dari dewa ia disuruh melerai permusuhan Pandhawa dan Korawa

Yudhisthira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa bertemu dengan Anantasena dan Gathotkaca. Mereka bersama-sama menuju ke Ngamarta.

Adipati Karna yang berkuasa di Ngamarta, berunding dengan Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Mereka ingin memboyong Drupadi ke Ngastina. Gathotkaca dan Anantasena akan masuk ke istana Ngamarta. Para Korawa meghalang-halanginya. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan mereka berdua. Adipati Karna datang menolongnya, Gathotkaca dipanah, terpental jauh. Anantasena dilempar panah Wijayadanu, terlempar jauh pula

Gathotkaca dan Anantasena jatuh dihadapan Yudhistira. Yudhistira dan Arjuna marah, lalu hendak menyerang kerajaan Ngamarta. Adipati Karna berhadapan dengan Arjuna. Terjadilah perkelahian dahsyat. Bagawan Abyasa datang melerai, Arjuna dibawa lari ke Wukir Retawu. Anantasena dibawa ke tempat Hyang Anantaboga, kemudian disembuhkannya.

Para Pandhawa mengungsi ke Wukir Retawu. Bagawan Abyasa memberi wejangan kepada mereka tentang kesabaran dan perang Baratayuda.

Perajurit Ngastina datang menyerang Wukir Retawu. Bagawan Abyasa menugaskan Bima dan Arjuna untuk melawan serangan para Korawa. Adipati Karna memimpin perajurit Korawa. Perajurit Korawa diceraiberaikan oleh Bima. Arjuna berhadapan dengan Adipati Karna. Masing-masing membawa panah sakti. Arjuna melepaskan panah angin, Adipati Karna terbawa arus angin, kembali ke Ngastina bersama perajurit Korawa. Perang pun selesai.

Para Pandhawa mengadakan pesta di pertapaan Wukir Retawu.

R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid VII, 1930:26-31

Banjaran Cerita Pandhawa (29)



Sadewa ketika berjalan dipinggiran hutan, ketemu dengan Wisanggeni, keponakannya. (karya Herjaka.HS)

Perkawinan Sadewa

Prabu Kresna raja Dwarawati duduk di atas singhasana, dihadap oleh Samba, Setyaki, Setyaka dan Patih Udawa. Kresna memberi tahu, bahwa Yudisthira akan mengawinkan Sadewa dengan Retna Dewarsini. Raja menugaskan Patih Udawa dan Setyaki untuk menyerahkan pesumbang ke Ngamarta. Patih Udawa dan Setyaki minta diri. Kresna masuk ke istana, Jembawati, Rukmini dan Setyaboma menyongsong kedatangan raja. Kresna berpamitan kepada isteri, akan pergi ke Ngamarta. Kresna pergi bersemadi.

Patih Udawa dan Setyaki mengumpulkan perajurit untuk mengawal utusan pergi ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.

Prabu Singamurti raja Trancang Gribig duduk di atas singhasana dihadap oleh Patih Kala Waraha dan Inang Saparni. Raja bercerita tentang mimpinya. Sang Raja bertemu dengan Retna Dewarsini, putri raja Banyuwangi. Raja menunjuk utusan untuk menyampaikan surat lamaran. Patih Kala Waraha mempersiapkan perajurit raksasa, lalu berangkat ke Banyuwangi.

Di tengah perjalanan perajurit raksasa bertemu dengan barisan dari Dwarawati, perajurit raksasa menyimpang jalan.

Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara Panyarikan Bathara Yamadipati, dan Bathara Patuk. Mereka menerima kedatangan Bathara Kamajaya dan Arjuna. Arjuna menyampaikan permohonan Yudisthira, minta diijinkan meminjam empatpuluh bidadari untuk mengawal pengantin. Bathara Guru mengijinkan, kelak para bidadari akan datang bersama Bathara Narada. Arjuna minta diri, meninggalkan kahyangan. Para panakawan mengikutinya.

Arjuna dan panakawan berjumpa dengan perajurit raksasa dari Trancang Gribig. Terjadilah perkelahian, perajurit raksasa musnah. Togog lari kembali ke negara Trancang Gribig.

Prabu Salya raja Mandraka dihadap oleh permaisuri, Rukmarata dan Patih Tuhayata. Raja berkata, ingin menghadiri perkawinan Sadewa di Ngamarta. Mereka bersiap-siap, lalu berangkat menuju Ngamarta.

Prabu Duryodana berkata kepada para warga Korawa, bahwa raja akan pergi ke Banyuwangi. Raja dan permaisuri pergi bersama, para Korawa mengawalnya.

Sadewa menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, minta restu atas perkawinannya. Sang bagawan merestuinya. Sadewa disuruh berangkat terlebih dahulu, sang bagawan akan menyusulnya.

Togog menghadap Prabu Singamurti di istana Trancang Gribig. Memberitahu tentang kemusnahan para perajurit raksasa. Raja marah, lalu minta dipersiapkan perajurit raksasa untuk menyerang Banyuwangi, merebut Retna Dewarsini. Setelah siap mereka berangkat ke Banyuwangi.

Yudhisthira menerima kehadiran Bagawan Abyasa, Kresna, Duryodana, Salya, Baladewa, Drupada, Seta dan Untara. Mereka akan bersama-sama pergi ke Banyuwangi. Arjuna datang dan melapor tentang ijin yang dikabulkan oleh Bathara Guru.

Bathara Kamajaya, Dewi Ratih, dan Dewi Rarasati datang beserta empat puluh bidadari dan perlengkapan upacara perkawinan.

Sadewa naik kereta bersama Bathara Kamajaya, diikuti kereta para raja, kereta para Bidadari dan pengawal lainnya. Mereka menuju ke Banyuwangi.

Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara Bayu dan beberapa dewa berunding akan pergi ke Banyuwangi. Setelah siap mereka berangkat bersama.

Badhwangan Nala telah duduk bersama Patih Nirbita. Bathara Endra dan beberapa dewa menanti kedatangan calon pengantin.

Rombongan calon pengantin datang di istana Banyuwangi. Bathara Kamajaya menggandeng Sadewa. Mereka yang hadir bersiap-siap mempertemukan kedua pengantin. Dewi Ratih dan Dewi Rarasati menjemput Retna Dewarsini, kemudian dipersandingkan dengan Sadewa. Bathara Narada menjadi pengacara perkawinan. Setelah upacara perkawinan selesai, para dewa kembali ke kahyangan. Para bidadari mengikutinya.

Perajurit raksasa Trancang Gribig datang menyerang Banyuwangi. Sang Badhangwang Nala menyerahkan kebijaksanaan kepada Kresna. Kresna menugaskan Bima, Arjuna dan Sadewa. Sadewa berhasil menaklukkan raja Singamurti. Bima dan Arjuna memusnahkan semua perajurit raksasa.

Para raja yang masih tinggal di Banyuwangi mengadakan pesta bersama.

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 12-17

Banjaran Cerita Pandhawa (28)



Nakula dan Sadewa saudara kembarnya mohon restu kepada Kunthi Ibunya (karya Herjaka HS)

Perkawinan Nakula

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Druna, Adipati Karna dan para Korawa. Raja membicarakan permintaan Dursasana. Dursasana jatuh cinta kepada Dyah Suyati, putri raja Ngawuawu Langit. Dyah Suyati disayembarakan. Barangsiapa yang dapat mengalahkan Endrakerata, boleh memperistri Dyah Suyati. Raja menugaskan Adipati Karna dan Jayadrata untuk mengusahakan menang sayembara. Setelah mereka berunding, raja masuk ke istana.

Kedatangan Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri, Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita tentang rencana perkawinan Dursasana dan sayembara. Kemudian raja bersamadi.

Adipati Karna dihadap oleh Patih Sakuni, Jayadrata, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka bersiap-siap ke negara Ngawuawu Langit. Setelah siap mereka berangkat.

Prabu Bajrawijaya raja Selabentara bermimpi, bertemu Dyah Suyati. Raja ingin melamarnya. Patih Kala Wisaya mengusulkan agar Kala Kekaya, Barajamingkalpa dan Kala Minangsraya pergi ke Ngawuawu Langit, untuk menyampaikan surat lamaran. Mereka segera berangkat, diikuti barisan perajurit raksasa.

Perjalanan mereka bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah pertempuran, tetapi perajurit Selabentar meninggalkan medan perang, menyimpang jalan.

Nakula menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu. Ia meminta doa restu untuk mengikuti sayembara di negara Ngawuawu Langit. Sang Bagawan banyak memberi nasihat, kemudian Nakula disuruh berangkat. Nakula berangkat, Semar, Gareng dan Petruk menyertainya.

Di tengah perjalanan Nakula bertemu dngan barisan dari Selabentar. Terjadilah perkelahian seru. Perajurit raksasa musnah. Nakula meneruskan perjalanan.

Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit duduk di atas singhasana, dihadap oleh Jayakerata dan patih Keratabahu. Raja cemas atas sayembara yang diinginkan oleh Endrakerata.

Adipati Karna datang menyampaikan maksudnya, ia ingin mengikuti sayembara. Endrakerata telah siap di gelanggang adu kesaktian. Pertama-tama Jayadrata yang melawan, tetapi kalah. Selanjutnya yang melawan Kartamarma dan Adipati Karna, tetapi semua tidak mampu mengalahkan Endrakerata. Korawa kembali ke Ngastina dengan tangan hampa.

Yudisthira menerima kehadiran Kresna di Ngamarta. Yudisthira bertanya tentang kepergian Nakula. Kresna memberi tahu, bahwa Nakula sedang mengikuti sayembara. Yudisthira, Bima dan Arjuna diminta bantuannya.

Nakula telah tiba di Ngawuawu Langit, menghadap raja Kridhakerata. Nakula menyampaikan maksud kedatangannya, ia ingin mengikuti sayembara. Jayakerata dan Patih Keratabasa mengawal Nakula ke arena sayembara. Endrakerata telah diberi tahu, kemudian datang di gelanggang adu kesaktian. Endarakerata sungguh sakti. Sekali dipanah mati, kemudian hidup kembali. Semar mendekat Nakula, dan memberitahu caranya menghadapi kesaktian Endrakerata. Setelah diberi tahu oleh Semar, Nakula segera memanah untuk yang kesekian kalinya. Endrakerata kena panah, seketika musnah. Nakula menang dalam sayembara, lalu dipersilakan masuk istana.

Togog dan Sarawita datang menghadap raja Bajrawijaya, melapor tentang kematian para raksasa dan pemimpin perajuritnya. Raja marah lalu mempersiapkan perajurit, hendak menggempur kerajaan Ngawuawu Langit.

Prabu Kridhakerata menerima kehadiran Nakula yang dikawal oleh Jayakerata. Raja minta agar permaisuri mempersiapkan perkawinan Dyah Suyati dan Nakula.

Kresna bersama Yudisthira, Bima, Arjuna dan Sadewa tiba di istana Ngawuawu Langit, menghadap raja Kredhakerata. Sang raja bercerita tentang Nakula yang menang sayembara dan akan dikawinkan dengan putri raja bernama Dyah Suyati. Kresna dan Yudisthira menyetujuinya. Mereka bersiap-siap mengadakan upacara perkawinan.

Perajurit rakasa dari Selabentar datang, dipimpin oleh prabu Brajawijaya. Kresna menugaskan Bima dan Arjuna untuk menyongsong kedatangan musuh. Prabu Bajrawijaya mati oleh Bima, sedangkan perajurit raksasa musnah disapu oleh panah Arjuna.

Nakula dan Dyah Suyati dipersandingkan di pelaminan, para Pandhawa menghadirinya. Pesta perkawinan dilaksanakan dengan meriah. Tancep Kayon

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 3-9

Banjaran Cerita Pandhawa (27)



Pandhudewanata tergeletak tak bernyawa, setelah Bathara Yama mencabut nyawanya. (lukisan Herjaka HS)

Nakula Sadewa Lahir

Raja Pandhudewanata berwawancara dengan Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Puntadewa, Sena dan Permadi. Sang raja minta petunjuk dan nasihat kepada Resi Bisma, bahwa Madrim ingin naik Lembu Andini kendaraan Batara Guru. Resi Bisma memberi saran agar raja minta nasihat kepada Bagawan Abyasa di Saptaarga, di pertapaan Wukir Retawu. Raja Pandhudewanata menerima saran Resi Bisma, Patih Kuruncana diperintahkan mempersiapkan perajurit. Setelah selesai perundingan, raja masuk ke Gupitmandragini menemui dua isteri raja memberi tahu tentang hasil pertemuan, dan rencana kepergian raja ke Saptaarga.

Yamawidura mengumumkan perintah dan rencana kepergian raja kepada para perajurit. Para perajurit diperintah supaya menghormat keberangkatan raja. Sebagian perajurit dipersiapkan untuk mengawal kepergian raja ke Wukir Retawu. Raja bersama perajurit berangkat ke Saptaarga, dipimpin oleh Yamawidura.

Bogadata raja negara Turilaya berunding dengan Gandapati, Kartipeya, Patih Hanggadenta, Gendhingcaluring, Togog dan Sarawita. Mereka membicarakan amanat Arya Dhestharastra yang disampaikan oleh Kartipeya, tentang perang Baratayuda. Mereka menginginkan urungnya perang itu. Mereka mengambil putusan untuk menyerang negara Ngastina, membunuh raja Pandhudewanata beserta anak-anaknya. Patih Hanggadenta ditugaskan menyerang negara Ngastina. Gendhingcaluring ditugaskan menjaga tapal batas, dan siapa saja yang akan membantu Ngastina supaya dihancurkannya. Raja Bogadata dan Kartipeya akan pergi ke Ngastina secara sembunyi-sembunyi. Gandapati ditugaskan menjaga keamanan negara Turilaya. Setelah siap, mereka berangkat menjalankan tugasnya masing-masing. Perajurit Turilaya bertemu dengan perajurit Ngastina, terjadilah pertempuran. Pertempuran padam setelah mereka menghentikan perang. Masing-masing menyimpang jalan mencari selamat.

Resi Darmana dan anaknya yang bernama Endang Darmi berbicara dengan para cantrik di padepokan Hargasana. Sang Resi membicarakan surat lamaran Brahmana Kamindana. Endang Darmi menurut kehendak ayahnya. Brahmana Kamindana datang, menagih kesanggupan dan jawaban Resi Darmana tentang lamarannya. Brahmana Kamindana amat kasar tutur katanya, Resi Darmana marah, terjadilah perkelahian. Para cantrik tidak mampu mengeroyok Brahmana Kamindana. Mula-mula Brahmana Kamindana kalah, kemudian menggunakan pusaka saktinya berupa tombak pendek. Resi Darmana ditangkap akan dibunuhnya. Sebelum terbunuh, Resi Darmana mengutuk, Brahmana Kamindana dikatakan seperti rusa. Bersamaan dengan jatuhnya pusaka Brahmana Kamindana ke dada Resi Darmana, Brahmana Kamindana berubah menjadi rusa dan Resi Darmana meninggal dunia.

Setelah mendengar kematian ayahnya, Endang Darmi pergi meninggalkan padepokan. Brahmana Kamindana mengejarnya, tetapi ia tidak dapat menangkapnya. Dikatakan oleh sang brahmana, Endang Darmi lari cepat seperti rusa. Seketika Endang Darmi berubah menjadi rusa betina. Rusa Kamindana berhasil menangkap rusa Darmi, mereka masuk ke hutan.

Raja Pandhudewanata bersama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menghadap Begawan Abyasa di Saptaarga. Raja menyampaikan maksud kedatangannya. Bagawan Abyasa memberi petunjuk dan nasihat, bahwa permintaan Madrim itu kelewat batas, dan besar bahayanya. Bagawan Abyasa menyerahkan kepada sikap Pandhudewanata sendiri. Pandhu ingin menuruti keinginan Madrim, lalu minta diri bersama para panakawan. Bagawan Abyasa mengawal dari kejauhan, menuju ke Ngastina.

Di tengah perjalanan Pandhu dan para panakawan bertemu dengan perajurit raksasa dari Turilaya. Terjadilah pertempuran. Perajurit yang dipimpin Gendhingcaluring kalah, Togog dan Sarawita kembali ke Turilaya. Pandhu meneruskan perjalanan ke Suralaya.

Bathara Narada dan Bathara Srita, Bathara Yama, Bathara Aswi, Bathara Aswin dan Lembu Andini menghadap Bathara Guru. Bathara Guru bertanya kepada Bathara Aswi dan Bathara Aswin, sebab apa mereka berdua turun ke Ngastina. Mereka menjawab, bahwa mereka datang atas panggilan Madrim isteri Raja Pandhu, yang ingin mempunyai anak. Bathara Guru menyuruh agar mereka berdua turun ke Ngastina, untuk bertanggungjawab atas kelahiran bayi yang akan datang. Bathara Aswi dan Bathara Aswin berangkat ke Ngastina.

Sepeninggalnya Bathara Aswi dan Bathara Aswin, raja Pandhu datang, menghadap Bathara Guru, minta pinjaman Lembu Andini. Bathara Guru marah, sebab raja Pandhu pernah mendirikan taman larangan dewa yang disebut Taman Kadilengleng, yang mirip dengan taman Tinjomaya. Pandhu minta maaf, tetapi Bathara Guru bertambah marah, karena ia hanya menuruti keinginan perempuan isterinya. Pandhu minta maaf dan menyampaikan beberapa sanggahan dengan berbagai pertanyaan. Apakah ia bersalah karena menuruti permintaan isteri? Makhluk yang mengajukan permohonan kepada Dewa itu bersalah? Apakah salah bila raja minta perlindungan kepada raja semua raja? Apakah sudah benar raja Tribuana menolak permintaan raja kecil? Bukankah raja besar wajib mengabulkan permintaan raja kecil dan melindunginya? Akhirnya Bathara Guru mengabulkan permintaan Pandhu dengan syarat, Pandhu tidak akan berbuat salah lagi. Bila berbuat salah Pandhu akan dicabut nyawanya. Pandhu sanggup menerima hukuman bila ia bersalah, lalu mohon diri. Para panakawan dan Lembu Andini mengikutinya.

Sepeninggal Pandhu dari Suralaya, Bathara Guru mengutus Bathara Narada supaya turun ke Ngastina. Nyawa Pandhu harus dicabut sesudah mengendarai Lembu Andini. Bathara Yama diberi tugas untuk mengikuti Bathara Narada. Mereka berdua berangkat ke Ngastina. Pandhu mengikuti jalannya Lembu Andini masuk ke hutan Kandhawa. Di tengah hutan Pandhu melihat sepasang Rusa yang sedang memadu kasih. Ia iri melihatnya. Rusa jantan dipanah, berubah menjadi Brahmana Kamindana. Brahmana Kamindana mengutuk, pandhu akan mati bila memadu kasih dengan isterinya. Rusa betina juga dipanahnya, lalu kembali menjadi Endang Darmi. Endang Darmi mengutuk, isteri Pandhu akan mati setelah melahirkan bayi kandungannya. Brahmana Kamindana dan Endang Darmi musnah dari pandangan Pandhu. Pandhu kembali ke negara Ngastina.

Bagawan Abyasa dihadap oleh Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana dan Sena, mereka memperbincangkan kepergian Pandhu ke Suralaya. Pandhu dan panakawan datang bersama Lembu Andini. Pandhu melapor segala usahanya, kemudian masuk ke istana menemui Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang hasil yang diperoleh, Pandhu dan Dewi Madrim naik Lembu Andini. Mereka melayang-layang di angkasa, di atas negara Ngastina. Di atas angkasa Pandhu dan Madrim berwawan asmara, kemudian turun ke bumi Ngastina. Lembu Andini kembali ke Suralaya. Pandhu masuk istana, bercerita kepada Begawan Abyasa, Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Sena dan Arjuna. Mereka asyik mendengarkan cerita Pandhu di istana. Bathara Narada dan Bathara Yama menjalankan tugas mereka, nyawa Pandhu dicabutnya. Pandhu meninggal dunia, orang seistana gempar kesedihan. Bathara Aswi dan Bathara Aswin menjelma kepada bayi yang dikandung oleh Dewi Madrim. Setelah Dewi Madrim tahu bahwa raja Pandhu telah meninggal, ia bunuh diri, sebuah patrem dimasukkan ke dalam perutnya. Dua bayi lahir melalui luka perut Dewi Madrim. Bathara Narada dan Bathara Yama datang, menemui Abyasa, minta agar bayi itu diberi nama Nakula dan Sadewa. Kemudian mereka berdua mengangkat jenasah Pandhu dan Madrim dibawa ke Tepetloka. Begawan Abyasa meminta agar Kunthi mengasuh dua bayi itu seperti anaknya sendiri. Kunthi menerima kedua bayi dengan senang hati.

Raja Bogadata, Kartipeya dan perajurit Turilaya bersiap-siap menggempur negara Ngastina. Bagawan Abyasa berunding dengan Resi Bisma. Yamawidura, Sena, Patih Kuruncana dan Arjuna. Mereka membicarakan kekacauan negara dan serangan musuh. Bogadata dan perajurit telah menyerang. Patih Kuruncana ditugaskan untuk menyiapkan perajurit. Sena, Arjuna dan Yamawidura ikut berperang. Bogadata dipanah oleh Arjuna, Kartipeya kena panah Yamawidura, Hanggadenta mati oleh Patih Kuruncana, para perajurit Turilaya musnah oleh amukan Sena. Perang pun selesai.

Bagawan Abyasa, Resi Bisma, Yamawidura dan Patih Kuruncana berunding, mereka akan menobatkan Dhestharasta sebagai pemegang pemerintahan sampai para Pandhawa dewasa. Mereka mengadakan pesta penobatan.

R.S. Subalidinata
Pandjang Mas Tahun IV, 1956 No. 5-6

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 941 other followers

%d bloggers like this: