Ramayana [17]
“Tidak ! Sama sekali aku tidak menyindir apa yang engkau lakukan Ramaparasu ! Sudah aku katakan tadi bahwa aku hanya sekedar lewat dan bertemu denganmu. Namun berfikirlah dengan jernih, endapkanlah dalam hatimu apa yang aku sampaikan tadi”
Dan … ucapan terakhir bijak sang brahmana tadi, semakin meluruhkan jiwa Sang Ramaparasu. Dirasakannya dirinya semakin ringkih, kesombongannya yang menguasai dirinya selama ini, seakan mulai meluntur, berganti hasrat yang begitu membuncah untuk mengikuti kebenaran sejati yang selama ini mungkin tlah tertindas oleh kebenaran pribadi yang begitu diagung-agungkannya. Keinginannya untuk mengakhiri hidup panjangnya semakin nyata karena dirinya merasa telah capek menjalani kehidupan yang begitu keras dan monoton begitu saja. Kemudian dengan pelan dia berucap
“Siapakah sebenarnya engkau ? Tapi itu bukan hal yang penting dan tidak perlu engkau jawab wahai brahmana ! Uraian yang telah engkau sampaikan tadi seolah sabda Dewata Agung yang memberikan jalan terang kepadaku. Telah terjawab apa yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang darma dan kebenaran. Laku darma yang selama ini aku yakini kebenarannya ternyata sungguh tidak benar dan melenceng dari laku yang digariskan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Tujuan hidup yang kupegang erat sejak dahulu, ternyata malah membawa kekisruhan baik bagi dunia ini maupun bagi diriku pribadi. Namun mungkin itu telah menjadi kodrat bagi diriku sesuai dengan permintaan dari rama Resi Jamadagni bahwa aku tidak terkalahkan oleh musuh. Sekarang aku hanya berharap kebijaksanaan Bathara Wisnu untuk segera mengantarkanku meninggalkan dunia ini. Engkau telah memulainya maka segeralah tunjukkan dimana keberadaan Bathara Wisnu !”
Brahmana itu kemudian menjawab pertanyaan Ramaparasu
“Aku telah mendengar sebuah kabar yang mewartakan bahwa Bathara Wisnu sudah turun ngejawantah ke arcapada dunia ini. Melalui guwa garba, kandungan, siapa tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti. Namun aku hanya dapat memperkirakan, mungkin juga tidak benar, bahwa ada seorang raja besar di sebuah negara besar yang bernama Maespati yang bernama Harjuna Sasrabahu, menurut kabar yang aku dengar beliau sanggup ber-triwikrama dan pada saat itulah merupakan gambaran dari Bathara Wisnu yang sebenarnya. Kalau memang demikian adanya, maka titisan Bathara Wisnu yang menjelma dalam diri Harjuna Sasrabahu itulah yang akan menjadi sarana kematianmu wahai Ramaparasu !” Read the rest of this entry
Ramayana [16]

Dan sejak saat itulah nama Ramaparasu begitu terkenal di seantero jagat. Sumpahnya tersebar bak udara panas yang dengan cepat merambah kemana-mana. Sumpahnya menciptakan kekalutan dan kekawatiran kaum satria. Sosok Ramaparasu kemudian digambarkan kegagahannya melebihi kenyataannya. Apalagi setelah korban pertama berjatuhan. Anak turun raja Hehaya yang dalam benaknya adalah penyebab kematian ayahnya, dicari dan kemudian ditumpas habis tak bersisa. Sepak terjang Ramaparasu semakin kondang membahana !
Sumpahnya membawa dirinya berkelana dari satu negara ke negara lain untuk mencari mangsa para satria. Tak terhitung sudah berapa ratus, bahkan mungkin sudah mencapai ribuan jiwa para satria yang menjadi korbannya.
Namun Ramaparasu adalah manusia biasa seperti halnya yang lain, di karuniai juga nalar dan pikiran, ditimpakan juga kebahagiaan dan kesedihan, serta kejenuhan dan kesepian. Sekian lamanya berpetualang dengan tujuan menghabisi kaum satria, dirinya laksana kehausan dan kemudian minum air laut sebagai pengusir dahaga. Bukannya lenyap rasa haus, malah semakin menjadi-jadi.
Jenuh dan jemu kerap menghampirinya. Betapa tidak ? Nyaris tak pernah ada yang mau berbagi dengannya, baik sekedar bersapa ataupun mengobrol santai, apalagi berlama-lama berdiskusi tentang hakekat kehidupan. Jangankan untuk duduk berduaan dengannya, baru mendengar namanya saja orang-orang sudah ketakutan setengah mati dan kaum satria segera berupaya mencari tempat persembunyian untuk menghindarkan diri dari sosok Ramaparasu.
Hidupnya seperti bersendirian, sebatang kara ! Dan juga dalam pikirannya kerap muncul pertanyaan. Sekian lama dia telah berusaha menghilangkan kaum satria dari muka bumi dengan membunuhinya, namun anehnya tiada pernah habis-habis, selalu saja kemudian muncul kaum satria baru. Dalam satu negara ketika rajanya telah dibunuhnya, tidak beberapa lama kemudian tlah didengarnya muncul pengganti raja yang baru.
Bosan ! Jenuh ! Tak tahu harus berbuat apa lagi Sang Ramaparasu. Apalagi jalan hidup yang telah dilaluinya begitu panjang sepanjang usianya kini. Entahlah … telah berapa generasi baru muncul di muka bumi, dirinya tetaplah Ramaparasu yang memiliki sumpah dan sepak terjang sama seperti dulu. Read the rest of this entry
Ramayana [15]
Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Ramaparasu yang berwatak prajurit segera bak kilat mengayunkan langkah kakinya mengejar pasukan raja Hehaya. Dan karena pergerakan pasukan Hehaya tidaklah diburu waktu, bergerak dengan pelan-pelan, maka tidak berapa lama kemudian Ramaparasu berhasil menyusulnya. Tidak terlalu sulit untuk mencari pemimpin pasukan yaitu raja Hehaya karena dapat dilihat dari pakaiannya yang nampak sangat mewah dan berjalan paling depan. Maka segera melesat Sang Ramaparasu ke hadapan raja Hehaya
“He keparat … berhenti dahulu ! Engkau raja Hehaya, bukan ?” bentak Ramaparasu menghentikan langkah raja Hehaya
“He …. siapa engkau berani berkata-kata tidak sopan kepada aku seorang raja besar !” dengan mata melotot raja Hehaya balik bertanya
“Tidak perlu engkau tahu siapa namaku. Terlalu rendah engkau mengetahui siapa aku. Aku hanya menjalankan perintah rama Jamadagni untuk meminta kembali lembu yang engkau rampas dari pertapaan kami”
“Huh … sombong sekali engkau anak muda ! Siapapun dirimu aku tak takut, bahkan dewata sekalipun bila menghalangi langkahku, maka kan kulawan dan kalau perlu akan aku antarkan nyawanya ke neraka jahanam !”
“Engkau berikan lembu itu atau tidak !”
“Kalau aku tidak mau, engkau mau apa ?”
Dengan cepat maka segera di seranglah raja Hehaya itu. Rupanya sesumbar raja Hehaya hanya di mulut belaka, kedigdayaannya tidak sebanding dengan kekuatan Ramaparasu. Walaupun dengan tangan kosong, Ramaparasu sanggup mendesak lawannya dengan hebat. Dan tidak berlama-lama akhirnya pukulan tangan kosong Ramaparasu mengenai dengan telak dada raja Hehaya dan seketika robohlah raja pongah itu dengan nyawa yang sudah melayang. Read the rest of this entry
Ramayana [14]

“Ibumu sekarang sungguh telah berbuat kenistaan di hadapan diriku dan kalian semua. Oleh karenanya daripada sisa hidup ibumu dihantui rasa bersalah dan rasa malu, maka segera lakukanlah apa yang ayah perintahkan. Bila kalian cinta kepada ibumu dan ingin melepaskan nista derita yang kini membelenggu ibumu, maka segera antarkan kematian ibumu !”
Bak disambar geledek di siang hari hati kelima putra mendengar perintah ayahnya yang di luar dugaan dan nalar itu. Di dunia ini, mana ada seorang anak yang tega dengan sengaja membunuh ibunya yang jasanya tiada pernah tergantikan, sebagai lantaran terlahir di dunia, membesarkan, mendidik dan menyayangi dengan sepenuh hati tanpa pamrih. Jangankan manusia, harimau yang ganaspun, mana mau membunuh anaknya ataupun sebaliknya. Kini ayahnya memerintahkan suatu hal yang mustahil bakal dilakukan. Kelima Jamadagni putra semuanya membisu terdiam laksana arca, hanya mata mereka saja saling pandang pandangan mengungkapkan kegundahan hati.
“He … kalian semua ! Mengapa tidak segera mengerjakan apa yang aku perintahkan. Apakah kalian berani menolak perintahku !”
Rasa bimbang, ragu, bingung, takut, bingung berbaur menciptakan suasana yang mencekam di dada para Jamadagni putra. Mereka paham semua akan sifat ayahnya, Resi Jamadagni, yang biarpun kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu lembut dan wajahnya pun masih tetap teduh, namun kali ini amarahnya telah mencapai puncak. Dan bila itu terjadi, maka tidak ada satupun di antara mereka yan berani membantah apalagi menentang.
Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ramaparasu melangkahkan kakinya mendekati tempat ayahnya berdiri. Jamadagni menanti beberapa saat untuk melihat keempat anaknya yang lain mengikuti langkah Ramaparasu. Namun yang diharapkan, tetap berdiri tegak membatu. Maka bersabdalah Sang Jamadagni
“Kalau kenyataannya demikian, kalian berempat bukan sebangsa manusia !”
Dan … terkena tuah dari Sang Jamadagni maka keempat anaknya yang berdiri terpaku tadi, seketika berubah menjadi sato buron wana, hewan buruan di hutan.
Ramabargawa yang menyaksikan itu semua, tergetar hebat hatinya. Saudara-saudaranya adalah belahan jiwanya. Mereka selalu menjadi teman sehari-hari dalam bermain, dalam berdiskusi, dalam gelak tawa dan pula tempat berbagi kala ditimpa lara.
“Ramaparasu!” Jamadagni memanggil Ramaparasu. Read the rest of this entry
Ramayana [13]

Bertahun-tahun lamanya Dewi Renuka seolah terkungkung dalam hutan belantara. Bahkan setelah anak-anaknya yang telah berjumlah lima dan mulai beranjak dewasa, sekalipun dia tiada pernah keluar dari hutan itu. Entahlah … rasanya telah lupa dia akan wujud keramaian kota raja dan gebyar suasananya yang dulu mampu menimbulkan percik-percik daya asmara. Walaupun cinta suaminya kepada dirinya nyaris sempurna, namun saat mendengarkan dendang tembang asmara yang dilantunkan oleh orang yang tengah mandi di danau itu, jiwanya tergetar hebat. Membangkitkan kenangan indah yang lama telah dikuburnya dalam-dalam. Suara merdu laki-laki itu membuat hatinya tersayat-sayat seolah merasakan kegagalan cinta yang selama ini dia alami. Apatah lagi saat menyaksikan orang yang tengah melantunkan kidung itu. Jiwanya melayang, angannya terbang menuju alam kenikmatan.
Air bening danau, menciptakan bayang-bayang tubuh dari Sang Citrarata yang tanpa penghalang. Dibuai oleh hasrat yang semakin meluap, pemandangan itu sungguh membuatnya gelisah tak berujung tak berpangkal. Dalam pandangannya Sang Citrarata begitu gagah dan merupakan tipe lelaki sejati, ditambah lagi wajahnya yang begitu tampan bersinar seakan laksana Dewata ngejawantah. Runtuh sudah asmara Sang Dewi !
“Jagad dewa bathara! Sungguh baru kali ini aku menyaksikan seorang pria yang begitu gagah dan perkasa juga sangat tampan rupawan dan suara tembangnya begitu merdu membetot sukma. Duh … Dewata, tak kuat aku menahan gejolak hati ini !”
“Duh Dewa asmara, dengarkanlah tangis hati ini, belas kasihanilah ragaku ini. Lepaskanlah asmaramu terhadap priya yang sedang menembangkan kidung itu. Dan juga …. duh … Dewa yang agung, kobarkanlah api asmara orang itu agar lega pula rasa hati ini yang tengah dirundung bayang-bayang asmara ini” Read the rest of this entry
Ramayana [12]
Hutan tempat pertapaan Jamadagni memang hutan yang sepi dan sangat jarang didatangi oleh manusia. Hanya orang-orang yang memiliki keberanian dan ilmu yang tinggi saja, yang mau bersusah payah untuk memasukinya dan tentunya karena memiliki tujuan tertentu.
Dan pada hari itu muncullah sosok pemberani itu. Nampak seorang pria yang memasuki hutan dengan gagahnya. Tak ada terbersit rasa takut sedikitpun walaupun dia datang hanya bersendirian. Sepertinya pria itu sedang berburu terlihat dari perlengkapan-perlengkapan berupa senjata panah, tombak, pisau, yang ditempatkan dan digendong dibelakang punggungnya.
Dan yang sungguh mengherankan, ternyata sosok itu masih muda dan memiliki tubuh sentosa dan wajah nan sangat rupawan. Siapakah sosok pria itu ?
Dia bukan sembarang orang karena dia adalah seorang raja di negara Martika. Dialah Prabu Citrarata yang saat ini sedang memuaskan hobinya yaitu berburu di hutan. Secara rutin, setahun sekali dia sisihkan waktunya untuk sekedar bersenang-senang. Kali ini yang menjadi sasaran adalah hutan-hutan disekeliling pertapaan Sang Jamadagni. Mengapa pergi seorang diri ? Karena itulah kebiasaan yang dilakukan selama ini. Pergi seorang diri ke tengah hutan yang angker dan wingit sekalipun tanpa pengawalan para wadya bala kerajaan, tentu dengan maksud tertentu. Sang Citrarata pada dasarnya adalah orang muda yang suka berpetualang, memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni, namun juga memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dengan bersendirian kemanapun berburu ke hutan, maka keindahan-keindahan yang tidak lumrah dia saksikan di sekelilingnya sehari-hari, maka terpuaskan jiwa seninya itu kala mengamati indahnya gelap yang diciptakan oleh jejeran pohon raksasa di dalam hutan, semburat cahya sang bagaskara yang tak mampu leluasa menyinari tanah di bawahnya, danau asri yang bening airnya mengalahkan kilauan permata singgasana kerajaan, dan kicau burung serta bebunyian binatang hutan yang harmoninya begitu indah tertata. Read the rest of this entry
Ramayana [11]

Sigra Brahmana Ricika sawusnya midhanget aturira Sang Prabu Gadi, tumuli manjing wana nedya pepanggihan lawan Batara Waruna. Sidhakep saluku juga, ngeningake panca indriya, nutup babahan hawa sanga, sekawan kang binengkas, sajuga kang sinidikara. Tan antara dangu, tumurun saking awiyat Bathara Waruna mrepegi unggyaning Brahmana Ricika.
Brahmana Ricika setelah mendengar permintaan Sang Prabu Gadi, segera menuju hutan untuk bertemu dengan Batara Waruna. Mengambil sikap samadi, tangan disedekapkan di dada, mengheningkan panca indra, menutup sumber keluar hawa dari badan, terlihat begitu khusyunya. Tidak begitu lama kemudian maka turunlah dari langit Batara Waruna menuju tempat samadi Ricika.
“He cucuku Ricika, gerangan apa yang menyebabkan engkau terlihat sangat sedih terlihat dari pancaran wajahmu yang kusam, redup tanpa cahaya”
Mengetahui kedatangan Batara Waruna, segera Ricika menghaturkan sembah dan kemudian menuturkan pertemuannya dengan Prabu Gadi serta mengungkapkan empat permintaan darinya sebagai persyaratan untuk dapat membawa Dewi Setyawati menjadi istrinya. Dengan tersenyum bijak, Batara Waruna kemudian menanggapi
“Semua yang diminta oleh Prabu Gadi akan dapat terlaksana. Ayo kita bersama-sama menuju kahyangan”
Maka Batara Waruna mengupayakan semua persyaratan yang diminta. Kuda berjumlah seribu yang memiliki bulu berwarna merah serta yang telinga kiri berwarna hitam telah dapat disediakan. Kemudian Brahmana Ricika didandani hingga menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya, Ricika menjadi satria bagus tanpa cacat dan memiliki wajah yang begitu bersinar memancarkan perbawa. Dan kemudian diiringi oleh seribu dewa dewi, Ricika turun menuju negara Kanyakawaya. Read the rest of this entry
Ramayana [10]

Pertanyaan itu cukup lama membuat penasaran Sang Prabu untuk mengetahui jawabannya. Dan akhirnya setelah cukup lama perasaannya terombang-ambing antara semangatnya untuk tetap mempercayai kekuasaan Tuhan dengan kenyataan hidup yang tak berpihak kepadanya, setelah melalui diskusi dengan beberapa begawan yang telah menjiwai dan menjalankan laku ilmu kehidupan, maka terbukalah kesadarannya kembali. Bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan itu tidak terbantahkan, bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus tunduk dan patuh terhadap kehendak Sang Pencipta, itu juga harus disadari. Dan bahwa apapun keinginan kita saat kita pohonkan pinta kepadaNya dan kemudian diberilah kita yang belum sesuai dengan yang diharap, itu adalah jalan yang terbaik yang harus kita terima dengan sabar dan ikhlas.
Namun manusia diwajibkan untuk selalu berupaya menempuh segala daya dan upaya untuk memperoleh yang diharapkannya, tentu saja melalui jalan yang benar. Tugas manusia hanyalah, memantabkan niat untuk kebaikan, kemudian berusaha melalui laku ikhtiar semaksimal mungkin, diiringi dengan doa kepada Tuhan Semesta alam dan yang terakhir adalah menyerahkan segalanya kepada kekuasaanNya dengan sepenuh hati kesadaran dan keyakinan bahwa yang diberikan kepada kita, itulah yang terbaik.
Ilmu sabar dan ikhlas itulah yang kemudian membawa Prabu Gadi untuk kembali menjalani samadi dengan sungguh-sungguh. Apapun kemudian hasilnya, dia tidak peduli lagi.
Dan Tuhan Maha Mendengar dan Maha Penyayang kepada umatnya. Kesabaran Prabu Gadi memperoleh hadiah berupa kabar gembira bahwa prameswari telah mengandung !
Hingga pada saatnya kemudian prameswari melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang sangat cantik yang kemudian diberi nama Setyawati. Walaupun ada sedikit kekecewaan di dalam hati Sang Nata karena anak yang lahir ternyata perempuan, namun akhirnya dia dapat menerimanya dengan ikhlas dan berdoa semoga anaknya akan memberikannya cucu laki-laki yang akan menggantikannya setelah turun tahta kelak.
Tak diceritakan bagaimana masa kecil Setyawati, namun setelah beranjak dewasa nyata bahwa Setyawati adalah kembangnya negri Kanyakawaya yang harum semerbaknya tersebar merata hingga ke ujung dunia. Banyak raja muda dan satria yang berharap untuk memetik bunga itu, namun Sang Dewi masih menolaknya sebab belum ada yang dirasakan cocok untuk dijadikan sebagai suaminya. Read the rest of this entry
Kidung rumekso ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirnoAda nyayian sbagai penjaga diri di malam hari
(yang menjadikan) kuat selamat terhindar dari penyakit
terbebas dari segala petaka
jin dan setanpun enggan
segala jenis teluh, sihir tak mempan
pun perbuatan jahat
guna-guna bakal meleset
bara api teredam daya air
pencuripun menjauh dariku
guna-guna yang ditanam pun kan lenyap
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Mong lemah miring
Myang pakiponing merak
Segala penyakit bakal kembali keasalnya
semua hama terpaksa menyingkir
hanya dengan pandangan kasih
senjata-senjata tak berdaya
bagaikan kapuk menimpa besi
berbagai racun menjadi tawar
binatang buas menjadi jinak
pohon pohon yang aneh tanah wingit angker
liang landak, sarang harimau
tanah miring dan rumah merak Read the rest of this entry
Ramayana [9]

Pesta pernikahan Raden Rama Regawa dan Dewi Sinta berlangsung sangat meriah. Rakyat negri Mantili begitu bergembira karena putri kerajaan mereka telah memperoleh jodoh yang sepadan. Sepadan dalam hal derajat pangkat karena keduanya adalah putra seorang raja, sepadan dalam hal kecantikan dan ketampanan yang dimilikinya dan sepadan akan indahnya budi pekerti dan watak yang disandang baik Rama Regawa maupun Sinta.
Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa tamu kerajaan Ayodya telah hampir dua minggu berada di kerajaan besan. Dan tibalah saatnya untuk pulang kembali ke Ayodya dengan tentu saja memboyong pengantin perempuannya untuk dibawa ke Ayodya.
Rombongan kerajaan Ayodya kemudian diantarkan sampai ke daerah perbatasan oleh wadya bala Mantili yang dipimpin langsung oleh Prabu Janaka. Perpisahan kemudian dilakukan dengan semarak antara pasukan dari Ayodya dan Mantili melalui bebunyian yang meriah sehingga membawa suasana menjadi ramai dan ceria. Setelah saling memohon doa agar semuanya memperoleh keselamatan dan berkah dari Tuhan Semesta Alam, maka akhirnya berangkatlah rombongan Ayodya untuk pulang kembali ke Ayodya. Read the rest of this entry










