Gonjingmiring

Wayang geculan bala rucah, bernama Ki Bekel Gonjingmiring, kalau bocah-bocah di pedesaan menamainya Pakcepok atau Bambng Pakcepok. Wujud wayangnya senang menghina, matanya sipit hidung pesek, ikat kepala jebehan gadung mlati warna hijau, mondolan besar, jadi abdi dalem gamel, juru tunggu kuda tunggangan patih Hudawa. Bentuk wayang yang seperti itu tidak ada dalam
wayang purwa, ini hanya termasuk wayang tambahan lagi untuk geculan kalau sedang perang gagal saja. Hanya untuk perang musuh lawan Tumenggung Suramedem (Gentonglodong), sehingga bisa timbang sama-sama wayang geculan.
Perangnya mulanya hanya saling mengejek, terus jadi berkelahi, dibanting jatuh
terlentang lalu geculan Sabrang kalah dan mundur. Bentuk wayang Pakcepok itu
yang digunakan sebagai pola adalah wayang wadyabala Bugis pasukan Prabu Klana, wayang Gedog, Daeng Markising.
Ketika jaman Kangjeng Susuhunan P.B. yang ke-sepuluh di Surakarta, banyak abdi dalem dalang dan para dalang yang tinggal di kota. Datang murid-murid di sekolah pedalangan yang sudah pandai-pandai memainkan wayang. Kalau memainkan wayang di dalam kota Sala, tidak ada yang menjalankan perang gagalan dan mengeluarkan wayang geculan tersebut. Setiap ada yang menjalankan pasti dalang dari di pedesaan yang ditanggap di kota, kebanyakan memainkan wayang di pecinan. Wayang geculan tersebut leluconya kebanyakan blangkon, berulang kali dimainkan tetap sama, gonta ganti dalang tetap sama cara memainkannya. Awalnya pasti saling mengejek, itu tidak berubah. Makanya sampai banyak bocah-bocah yang sering melihat sampai hafal dan bisa menirukan.











Leave a Comment
Comments (0)