Yayahgriwa
Yayahgriwa adalah raksasa balatentara Surateleng pada zaman Sitija/Suteja/ Prabu Bomanarakasura menjadi raja di kerajaan Prajatisa/Trajutrisna.
Yayahgriwa terjadi pada waktu Sitija pergi mencari ayahnya titisan Batara Wisnu. Ia berjalan seorang diri sebatang kara.
Oleh Nagaraja, kakeknya ia diberi cangkok wijayakusuma, yaitu cangkok kembang wijayakusuma pusaka Batara Wisnu sebagai tanda pengenal, bahwa Sitija adalah putra Batara Wisnu dengan Dewi Pratiwi. Daya kesaktian kedua pusaka itu sama, yaitu : dapat menghidupkan kembali dari suatu kematian.
Dalam perjalanan itu, Sitija tiba disuatu tempat yang penuh dengan sisa-sisa buangan apa saja yang telah tak berwujud. Ia ingin mempunyai teman seperjalanan. Barang-barang tersebut kemudian dihidupkan dengan cangkok wijayakusuma, maka terjadilah :
- Bangkai burung merpati setelah hidup menjadi makhluk berwujud raksasa yang sangat ganas bernama ditya Mahundara.
- Bekas tempat sesaji (ancak : jawa) hidup menjadi raksasa yang buas bernama Ancakroga
- Bekas penanak nasi (dandang : jawa) dihidupkan menjadi raksasa berhidung panjang bernama ditya Dandangbiku
- Bekas ikat pingang (timang : jawa) menjadi raksasa bermata sipit bernama Timangdapur
- Pecahan tempayan menjadi raksasa cakil diberinama ditya Yayahgriwa
Semenjak hidupnya Yayahgriwa mengabdi kepada Sitija dan diberi tugas kewajiban sebagai pimpinan pasukan raksasa. Yayahgriwa
Boma Suruhan” kemudian mati oleh Prabu Baladewa melalui senjata Nanggala didalam lakon











Leave a Comment
Comments (0)