Blog Archives

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (26)


semar mbarang jantur

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Suasana yang sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur,

oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang,

ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja,

jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Mengertilah sejatinya hidup

manusia hidup didunia itu

hanya seperti orang mampir minum

seumpama burung terbang,

lepas dari kurungannya

dimana ia kan bertengger nantinya, 

janganlah sampai keliru

umpama orang bepergian, bergaul,

tidak urung bakal pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka,

basa kang kalantur

tutur kang katula tula,

ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir para penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya tersenyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi kalau dipikir lebih baik bertindak daripada hanya berdiam diri. Bukankah saling berbagi dan mengingatkan lebih bermanfaat dalam memperluas pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (25)


Kartapiyoga Erawati

“Manakah jalannya kanda?” Kata Pamadi. Sebenarnyalah, disamping kata kata Semar yang dari awal mengingatkan agar jangan sampai menyakiti hati wanita, kali ini Pamadi telah terpikat oleh kemanjaan Banuwati.

“Kamu tidak usah mencari kanda Erawati. Kamu beristirahat dahulu. Sedikitnya enam bulan saja, ya!”. Kembali Banuwati menandaskan.

“Baiklah Banuwati”

Maka demikianlah, Pamadi telah dalam tertancap panah asmara yang telah dilepas putri Mandaraka itu. Banowati yang begitu mempesona, telah menyeret Pamadi yang telah rebah itu, ke dunia muda yang belum pernah ia tapaki.

Bujuk rayu Banuwati telah menyebabkan semua yang ada di dalam benaknya sedikit demi sedikit baur yang akhirnya kabur. Pamadi tak bisa lagi membedakan apa yang benar menurut nalar dan jiwa kesatrianya. Kesediaannya untuk pergi mencari Herawati telah luluh terkena oleh gerojok bujuk manis yang begitu menghanyutkan jiwanya.

Maka keduanya telah bergandengan tangan menuju keputren dengan mesranya, layaknya dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Rasa sungkan Pamade telah hilang. Panah asmara yang sebenarnya telah menancap pada jantung keduanya, telah menjadikan mereka dua orang asmarawan sejati. Saling colek dan saling kerling. Singkatnya benteng asmara Pamadi telah runtuh luluh oleh senyum mesra Banuwati. Begitupun dengan Banuwati, telah lantak rasa kepatutan sebagai wanita lajang. Pesona Pamadi telah menyeretnya jauh dari tatanan susila.

Demikianlah, semakin dalam rasa cinta keduanya telah memabawa mereka ke wilayah yang belum seharusnya mereka masuki. Makin jauh, semakin lupa mereka, bahwa keduanya belum boleh melakukan hal yang tabu. Semalaman mereka bermesraan seperti yang dilakukan oleh penganten baru. Malam dingin keputren Banuwati telah hangat, bahkan panas oleh kobar api asmara keduanya.

Maka ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kali dipagi itu, dan ayam betina telah ribut menggugah anak-anaknya dari bawah ketiaknya, Pamadi bangun gelagapan dari tidurnya yang hanya sekejap. Dari tirai tipis jendela kamar terlihat matahari telah mengintip dari balik cakrawala. Ia telah bangun kesiangan. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (24)


Arjuna Banowati
Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Kok lama tho Rama, ngapain saja di dalam sana” kata Petruk

“Ya bertemu dengan tuan rumah Thole” Semar menjawab seraya tersenyum arif

“Trus bagaimana Rama, tentang lik sayem itu” Bagong ikutan bertanya

“Lik sayem siapa Gong ?”

“Lik sayem putri Mandaraka yang hilang itu, nDara Herawati”

“Sayembara Gong, bukan lik sayem. Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?” Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (23)


Rukmarata

Di dalam hati Prabu Salya berdesakan perasaan antara nurani bersih – rasa kepatutan – dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Apapun cara itu, bagi Salya, yang penting terlaksana. Kedua rasa yang saling bertentangan itu bergulung campur aduk, hingga sekian lama Prabu Salya hanya duduk tegak bagai arca yang terhiasi busana. Setelah menarik nafas panjang, dan menetapan hati, berkata Prabu Salya kepada putranya.

“Putraku Rukmarata !!”

“Daulat Rama Prabu”. Jawab Rukmarata yang sedari tadi menunduk diam menunggu perintah dari ramandanya.

“Semoga dewata memberikan ijin dan meluluskan apa yang menjadi kemauan Pamadi. Selama aku melihat kemenakanku, Permadi, berdesakan rasa dalam dadaku. Alangkah gembira rasa hati ini, pasti juga termasuk hati ibumu, bila kita bisa mendapatkan menantu Permadi, anak Pandu. Itu yang pertama. Kedua, bila dilihat dari kenyataan bahwa dia bisa menjadikan kraton Mandaraka lebih indah, lagi pula menurut hitungan, Pamadi itu adalah salah satu satria yang terbiasa melakukan darma tanpa pamrih. Ketiga, adalah kita ini bisa diibaratkan berusaha hendak mengumpulkan daging yang terpisah dan menautkan tulang yang renggang. Oleh sebab itu ada suatu cara yang bakal aku lakukan. Heh Rukmarata!”

“Daulat Rama Prabu, hamba akan setuju saja dengan pendapat Rama Prabu apapun itu. Putra juga berharap, semoga kehendak Rama Prabu dapat terlaksana”.

Rukmarata telah paham apa yang menjadi jalan pikiran ramandanya. Dan benarlah, ketika Prabu Salya kali ini mengutus dirinya untuk memanggil kedua kakak perempuannya.

“Hari ini aku kepengin kamu memanggil kedua kakak perempuanmu, Surtikanti dan Banuwati. Segeralah panggil keduanya”.

“Baiklah, titah rama prabu akan putara laksanakan.“ Tanpa ada bantahan lagi, Rukmarata segera lengser dari hadapan ramandanya.

Demikianlah, tak lama kemudian Rukmarata telah kembali kehadapan Prabu Salya. Rukmarata telah datang dengan diiring oleh kedua kakaknya Surtikanti dan Banuwati. Surtikanti adalah putra kedua Prabu Salya, berwajah ruruh kalem. Wanita ayu, dan sosoknya sedang. Bila berbaur dengan wanita yang berbadan tinggi ia tidak kelihatan pendek, dan sebaliknya bila ada diantara wanita yang berbadan pendek, ia tidak kelihatan kelewat tinggi. Kulitnya kuning langsat bersih bening bagaikan emas yang baru saja disepuh. Dengan sedikit senyum, cenderung serius. Ia berjalan sebelah kanan mengiring adik lelakinya. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (22)


Pandawa main dadu

“Gong …. Bagong !
“Gong …. Bagong … Baaa Gooong !!!!’
“Heh sssssapi … hoh gatoooot … hih …. cenil sawut grontol tiwul …. weh wonten napa nDara. Ngageti mawon !!!

“Halah …. kowe kuwi dicritani ngeciprus nganti entek ababku, lha kok malah tidur seolah suaraku engkau anggap laksana untaian tembang penghantar tidur saja. Piye tho kamu ini Gong !!!

“Oh nggih …. walah tiwul … eh nyuwun ngapunten nDara, mohon maaf, taksih belum fokus pikiran saya nDara. Rasanya di tikar tadi banyak makanan jajan pasar terhidangkan, ada tiwul, gatot, sawut, cenil de el el. Sekarang kok sudah nggak ada tho nDara. Di makan nDara semuanya ya ?”

“Hush … trembelane kuwi ! Kamu tuh tadi tidur trus ngimpi Gong !”
“Kula tilem tho nDara ?”

“Lha iya gitu kok”
“Nggak terasa je nDara. Rasanya tadi saya sedang makan, tahu tahu kok makanannya habis semua.”

“Dasar kamu … lha wong ngimpi kok kontennya soal makan melulu. Sekali sekali lha mbok mimpi yang lain, semisal mimpi di datangi kekasih hatimu gitu”
“Lha wong kekasih hatiku sudah mati je nDara. Lha kalau didatangi dia, malah jadi takut no saya nDara, takut dijemput tho”

“Ya sudah … sudah melek lagi tho kamu Gong. Terus mau apa lagi nih Gong”
“Yo lanjut no nDara !!!”

“Tapi jangan ngorok lagi lho”
“Siap ndara, kula pesen bajigur rumiyin nggih”

<<< ooo >>>

“Pamadi, kemarilah mendekat kepada uwakmu.” Setelah kembali suasana tertata, dengan sabar Prabu Salya kembali berkata. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)


sengkuni_solo

“nDara, nyimpang dari pembicaraan sebelumnya ya, bagaimana pendapat nDara tentang sosok yang bernama Sengkuni niku ?”
“Maksudmu dipandang dari sudut mana Gong ?”

“Dari segala aspek, dari tingkah polahnya, dari watak perbuatannya, dari segala daya upayanya, pun dari pandangan hidupnya”

“Wah … kalau dibahas nggak akan selesai sehari semalam Gong. Lha wong sosok Sengkuni itu pada dasarnya adalah cerminan sebagian dari diri kita kok. Karena potensi dalam diri kita seperti halnya watak dan perbuatan Sengkuni itu, selalu ada. Cuman seberapa besar dan kuat mempengaruhi diri kita, itulah masalahnya”
“Lha bagaimana sikap nDara dan juga Pandawa yang sudah berulang kali dizalimi oleh rekadaya Sengkuni itu”

“Sakit memang Gong, dan kerap muncul niyat untuk membalasnya. Namun kalau kita mengambil sisi positifnya, justru akibat dari rekadaya maupun aksi licik tipu tipu Sengkuni, membuat Pandawa menjadi lebih kuat dan lebih tahan banting. Memang pemahaman itu muncul dan berkembang melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Sebenarnyalah perbuatan Sengkuni itu dimulai sejak Rama Prabu Pandu berkuasa, bahkan sudah terlihat sejak Sengkuni ingin merebut ibunda Kunti dan Madrim dari tangan Ramanda. Dan sejak itu, Sengkuni selalu hadir dalam lakon kehidupan kami para Pandawa.”

“Apakah nDara tidak ada dendam pada sosok Sengkuni itu ?”
“Rasa tidak suka pasti ada. Positifnya, dari berbagai sengsara papa yang dialami Pandawa karena ulahnya, Pandawa mampu memanfaatkannya menjadi sebuah hal berguna. Kesabaran dan kebijaksanaan dalam menyikapi dan menjalani hidup ini, menjadi matang dengan sendirinya. Dan itu sangat bermanfaat kala kami menghadapi masalah seberat apapun. Begitukan, petuah dan bimbingan Ramamu Semar ?”

“Tapi kalau saya kok muangkel tenan je nDara melihat sosok yang bernama Sengkuni. Lihat wajahnya saja sudah njelehi banget”
“Yah ndak apa-apa, yang penting kita selalu eling dan waspada saja maka niscaya akan terhindar dari malapetaka yang menghancurkan hidup kita sendiri.”

“Oh ya … nDara, dilanjutkan dong cerita yang kemarin itu”
“Siaap Boss Bagong !!!”

<<< ooo >>>

Sejenak sidang agung itu menjadi sunyi. Tak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Tetapi tiba tiba terjadi gaduh diluar sidang. Bertanya Prabu Salya kepada Patih Tuhayata. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (20)


erawati_solo

“nDara … lha kok banjur melamunkan diri setelah kula memberi gambaran sosok nDara Banowati tadi ?”
‘Hmmm …”

“Pasti langsung terbayang nggih cinta nDara kepada sang kekasih hati, nDara Banowati ?”
“Hmmm …”

“Sebenarnya, bagaimana sih awal mula sua kemudian merangkai berdua indahnya cinta bersama nDara Banuwati itu, nDara ?”
“Hmmm …”

“Jangan hmm … hmm … saja dong nDara. Bicara dong, lha wong janjinya mau cerita kok sekarang kelihatannya tidak bergairah begitu. Lagi galau ya ?”

“Oalah … Gong … Gong … ungkapan dan pertanyaanmu tadi membangkitkan kenangan indah yang pasti tak terlupakan hingga kini dan kelak nanti. Seketika bayang bayang indah kala bersamanya seakan tergambar nyata di pelupuk mata, namun sekaligus menyisakan perih luka hati nan menganga. Kamu bener mau mendengarkan ceritaku ini Gong ?”

“Ciyus nDara … ciyus !”
“Nggak akan bosan karena ceritanya cukup panjang ?”

“Ciyus nDara … ciyus tenan kula !”
“Ciyas ciyus … apa sih kamu ini Gong !”

“He he he … nDara nggak gaul sih, ciyus itu bahasa gaul dari serius bener nDara”

“Ya sudah … pertemuanku dengan Banuwati pertama kali saat terjadinya kasus hilangnya putri sulung Mandaraka, Dewi Erawati”
“Terus nDara ?”

<<< ooo >>>

Cinta terlarang sepanjang hidup. Cinta lewat belakang dijalani Arjuna dengan Banuwati hampir sepanjang kedewasaan keduanya. Perselingkuhan cinta keduanya bukanlah sebuah rahasia, tetapi keniscayaan ini telah menjadi rahasia umum. Bahkan suami Banuwati-pun sebenarnya mengetahuinya secara terang benderang. Tetapi Duryudana, sang suami, tak berdaya bertekuk lutut di sudut kerling mata manja Banuwati. Berkali kali Banuwati kepergok, namun keduanya tetap bersatu erat dalam buaian cinta pertama. Kata orang, selingkuh itu indah. Kenyataan ini benar benar tergambar di kehidupan cinta antara Arjuna dan Banuwati. Mereka berdua saling membutuhkan dan Banuwati telah menyatakan janji, yang apakah ini boleh dikatakan suci?. Ia sanggup menjadi mata-mata bagi kejayaan Pandawa dalam perseteruannya dengan saudara sedarah, Kurawa. Janji yang ada atau tidak adapun akan dibayar dengan kemesraan Arjuna yang diperoleh sepanjang hayatnya hingga Aswatama mengakhiri hidup Banuwati usai Baratayuda. Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (19)


Banowati-Solo“nDara !”
“Ana apa Gong, ngageti aku bae”

“Lha kok kaget tho, lha wong jane nggih mboten mbengok kok kula. Napa taksih membayangkah sosok nDara Banowati tho nDara ?”
“Jene ya ora …… ora salah kowe Gong”

“Lha kok katik ngagem tembung ora salah, ora salah rak nggih leres tho nDara”
“Ya pancen iya”

“Menawi miturut rasa njenengan piyambak, nDara Banowati niku kados pundi tho nDara ?”
“Lha nek miturutmu kepriye ?”

“Lha nek kula nggih wong lanang lumrah, tamtu kemawon mastani menawi nDara Banowati niku nggih yektos wanodya ingkang sulistya ing warni”
“Berarti kowe ijek normal Gong”

“Lha inggih tho”
“Bisa mbok kandhakake kepriye kowe nggambarake Banowati kuwi, kaya dalang kae lho Gong yen pas janturan” Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (18)


Banuwati Arjuna

“nDara … !”

“Ana apa Gong”

“Lha nek niki sakjane kula kepengin ngertos saking sumberipun langsung. Masalahipun wonten kabar burung, berita wonten ing infotainment kadosta INSERT, OBSESI utawi SILET perkawis nDara Banowati. Ingkang leres kados pundi ta nDara ?”

“Wah iki angel Gong”

“Rekaos kados pundi ?”

“Masalah iki sensitip !”

“Lha rak saget di setip trus diisolatip trus dilebetaken plastik to nDara”

“Trembelanmu kuwi. Kowe ngerti Banowati kuwi sapa ?”

“Lha rak putri Mandraka tho !”

“Sssst … alon alon aja bengak bengok ngono. Deloken sik … nDaramu Sumbodro ana ning ngendi, mbok menawa krungu mengko bisa bilai iki”

“Lho wonten napa tho !”

“Uwis deloken disik !” Read the rest of this entry

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (17)


Jimambang Dewi

“nDara Janaka, sakjane garwa njenengan niku wonten pinten seh ?”
“Eeeeem … pira ya Gong ?”

“Lha kok malah taken kula tho, lha wong duweke njenengan kok, mosok kula cawe cawe”
“Ora ngono Gong, Nek sing ning Madukoro kuwi yo mung Sumbodro. Srikandi uga kerep mrene. Liyane yo mung sak nyuk-an, utawa aku sing mrana nemoni garwa garwaku”

“Wah … istilahe njenengan niku lho nDara, sak nyuk-an .. Lha nek sak nyuk-an niku saget napa nDara ?”
“Ya bisa sak keplek rong keplek Gong”

“He he he … nDara niku istilahe jian aneh aneh wae. Sing di kepleke niku napa nDara ?”
“Wis … cah cilik ra usah mbahas !”

“Nggih pun. Tanglet sanesipun mawon nggih. Saking sedaya garwa njenengan niku, pundi sing saestu ditresnani tenan ?”
“Ya kabeh ditresnani to Gong”

“Sing saestu paling nDara !”
“Kabeh ya paling. Saiki aku takon karo kowe, ing antarane putra putrane Kakang Semar, endi sing paling ditresnani, Gareng, Petruk apa awakmu ?”

“Lha mboten ngertos no, kedahipun nggih Rama Semar sing njawab”
“Yen pitakon mau dijawab, mesti Ramamu bakal njawab : kabeh ya tak tresnani, ora ana sing paling tak benci utawa sing paling tak tresnani. Nek diprosentase, tresnane karo anak anakku ya satus persen kabeh, ra kurang ra luwih”

“Oooo ngaten nggih nDara, dados pitakenan kula salah nggih”
“Ya ora salah Gong, mung kurang pener wae” Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 939 other followers

%d bloggers like this: