Blog Archives
Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [2]

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
Terjemahan:
Para raksasa itu tercipta dari hawa nafsu Begawan Kunta Wibisana, yang sangat ingin paduka sempurnakan kembali menjadi ke asal-usulnya (Probo Harjono, 1993: 101).
Membentuk Kesadaran
Dalam mistik Jawa pada tokoh Semar dapat kita temukan adanya kesadaran orang Jawa, bahwa mereka mempunyai ketergantungan pada yang memberi pengayoman. Semar adalah penjamin adanya keselarasan harmonis alam semesta. Laku tapa dan semadi bilamana dikaitkan dengan
Semar akan terjadi suatu pengurangan tekanan, demikian pula kekuatan-kekuatan gaib yang bagaimana pun hebatnya.
Dengan demikian dalam dunia mistik Jawa kita menemukan dua jalan untuk melindungi diri dari ancaman kekuatan-kekuatan magis dan adikodrati. Pertama adalah pencarian yang dilakukan sendiri untuk mendapatkan kesaktian, sedang yang kedua adalah di bawah pengayoman Sang Panakawan Agung Kyai Semar.
Berbuat Bijaksana
Tokoh Panakawan diciptakan oleh para pujangga Jawa sebagai sarana untuk menyampaikan kebijaksanaan hidup. Pertunjukan bayang-bayang di Jawa yang kemudian disebut wayang adalah ciptaan asli orang Indonesia di Jawa. Demikian pula dengan tokoh Semar bukan merupakan imitasi dari India, adalah berdasarkan kata-kata yang terdapat pada prasasti-prasasti ataupun karya-karya sastra kuna seperti: abanyol, haringgit, hanabanwal atau pukana ringgit. Juga dalam kitab Pararaton (± 1222 zaman Kediri-Singasari) terdapat kalimat … lamun hawayang banyol sira gasak ketawang. Jadi nyata bahwa kata-kata wayang dan banyol sudah ada sebelum zaman Majapahit.
Para tokoh panakawan tersebut sangat kuna dan tak dapat diterangkan artinya, bahkan penggambaran boneka-boneka wayangnya pun mempunyai tipe yang sangat berlainan dengan penggambaran di India. Semar beserta anak-anaknya selain sebagai pamong juga sebagai penasehat dan pelindung bagi keturunan satria Pandawa, bahkan sanggup terbang ke kahyangan tempat para dewa bertahta. Sarjana-sarjana Barat antara lain: Van Stein Callenfels, W.H. Rassers, Pigeaud dan Kats bersepakat serta sependapat bahwa Semar benar-benar ciptaan asli orang Indonesia (Jawa) dan bukan berasal atau imitasi dari India, meskipun kemudian timbul polemik dan pendapat-pendapat yang berlainan atau simpang siur, bahkan membingungkan, namun akhirnya menjadi suatu tokoh kesayangan mitologis religius Nusantara dan merupakan suatu konsepsi yang mempunyai nilai filsafat keagamaan cukup menarik untuk diperhatikan dan dipelajari secara seksama.
Kata berjenjang yang menunjukkan adanya sebuah harapan sering digunakan dalam kalimat puja puji berikut: sedaya kawibawan, kamulyan, kabagyan lan karaharjan mugi kasarira ing ngarsa panjenengan sami. Dalam Lakon Semar Boyong, terdapat butir-butir kearifan lokal yang diwejangkan oleh Kyai Semar: Read the rest of this entry
Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [1]

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
~ BAB I ~
Sikap Rendah Hati
Wejangan Luhur
Semar iku pamonge satria agung
Trahing witaradya
Tut wuri pan handayani
Panakawan kang turun saking kahyangan
Terjemahan:
Semar itu pamomong satria agung
Keturunan para bangsawan
Selalu tut wuri handayani
Panakawan yang turun dari kahyangan
Semar adalah penjelmaan Bathara Ismaya yang turun ke madyapada untuk menjadi pamong satria agung. Para satria yang berbudi luhur tentu akan mendapat bimbingan langsung dari Kyai Semar, yang sudah tidak samar terhadap segala mobah mosiking jagad raya. Begitu populernya tokoh Semar dalam pewayangan, banyak tokoh pemuka negeri ini yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar yang dianggap mempunyai kebijakan dan kebajikan.
Betapa pun hebatnya sang satria utama, wejangan dari Kyai Semar tetap diharap. Bagi para satria, Semar adalah figur yang waskitha ngerti sadurunge winarah. Kyai Semar tahu betul peta sosio kultural di Triloka atau tiga dunia yaitu dewata, raksasa dan manusia. Di benak para satria utama itu, kehadiran Semar diyakini akan mendatangkan kebenaran dan keberuntungan.
Jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos), keduanya mendapat pengawalan dari Kyai Semar, sang panakawan minulya. Para dewa di Kahyangan takluk total kepada pribadi agung Semar. Bathara Kala beserta bala tentara jin pun terlalu kecil keperkasaannya bila berhadapan dengan Sang Pamomong Agung, Kyai Semar.
Dalam buku pakem pewayangan yang ditulis oleh Sumosaputra (1953: 34-38) dijelaskan mengenai ajaran Pancawisaya yang berisi tentang refleksi kebijaksanaan hidup. Ketika Arjuna sedang melakukan pengembaraan, dia banyak mengalami kesedihan. Sepeninggal ayahnya almarhum Prabu Pandhu Dewanata, para Pandawa senantiasa mendapat cobaan hidup. Pengembaraan yang dilakukan saudara-saudaranya mendapat anugerah dari dewata. Read the rest of this entry
Wawancara eksklusif bersama Arjuna (2)

Kemudian Arjuna bercerita panjang tentang cinta dan perkawinannya dengan wara Sumbadra. Begini cerita singkatnya :
Wara Sumbadra adalah putri dari Prabu Basudewa, raja kerajaan Mandura. Dia adalah adik dari dua satria besar yaitu Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Baladewa yang semasa mudanya bernama Kakrasana, sebagai putra tertua, akhirnya kemudian mewarisi negara Mandura setelah ayahandanya mengundurkan diri dari tahta kerajaan. Sementara Kresna, yang bernama Narayana dimasa mudanya, diangkat menjadi raja di negri Dwarawati.
Hingga suatu saat melihat Wara Sumbadra yang masih sendiri dan sudah waktunya menikah maka Baladewa menemui Kresna di Kerajaan Dwarawati. Mereka kemudian berunding tentang rencana perkawinan Sumbadra. Terjadi pertentangan pendapat antara keduanya. Prabu Kresna ingin mengawinkan Sumbadra dengan Arjuna, sementara Prabu Baladewa tidak menyetujui dan ingin mengawinkan Sumbadra dengan Burisrawa. Dengan bijak kemudian Prabu Kresna mengingatkan pesan Prabu Basudewa, bahwa bila Sumbadra kawin agar dinaikkan kereta emas, disertai kembang mayang kayu Dewanaru dari Suralaya, dengan diiringi gamelan Lokananta, berpengiring Bidadari. Mempelai laki-laki menyerahkan harta kawin berupa kerbau danu.
Agar adil maka kemudian disepakati agar siapapun yang dapat memenuhi persyaratan tersebut maka dialah yang berhak memboyong Sumbadra. Prabu Baladewa akan mengajukan persyaratan itu kepada raja Duryudana dan kemudian Prabu Kresna menyuruh Samba dan Setyaki ke Ngamarta untuk menyampaikan persyaratan itu juga.
Disisi lain Prabu Kalapardha raja negara Jajarsewu juga jatuh cinta kepada Sumbadara. Untuk itu Prabu Kalapardha kemudian menyuruh Kala Klabangcuring supaya menyampaikan surat lamaran ke Dwarawati. Kala Klabangcuring berangkat, ditemani Kala Kurandha dan Kala Kulbandha dengan diiringi oleh Kyai Togog Wijamantri menjadi penunjuk jalan.
Sementara itu di negri Ngamarta, Prabu Puntadewa tengah duduk dihadapan saudara-saudaranya yaitu Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa yang tengah menyambut kedatangan Bagawan Abyasa. Di saat itu Samba dan Setyaki datang menyampaikan berita tentang syarat perkawinan kepada Prabu Puntadewa. Bagawan Abyasa mendengarkan dengan seksama dan dengan penuh kewaskitaan menyanggupi untuk memenuhinya guna keberhasilan cucunya tercinta.
Bagawan Abyasa kemudian mengatur strategi dan membagi tugas. Werkudara disuruh mencari kerbau danu, Arjuna disuruh ke Kahyangan Cakrakembang minta pohon Dewandaru, gamelam Lokananta dan Bidadari.
Sesaat kemudian Arjuna berangkat ke Cakrakembang, ditemani para panakawan.
Werkudara yang melaksanakan tugas kemudian masuk ke hutan Setragandamayu. Singkat cerita, ia berhasil memperoleh kerbau danu setelah mengalahkan Dhadhungawuk dan menghadap Sang Hyang Pramuni. Langkah selanjutnya, Werkudara menemui Anoman di Kendalisada, ia meminta petunjuk tentang keberadaan kereta emas dan tiang dhomas. Oleh Anoman, Werkudara diajak ke Singgela menemui Prabu Bisawarna. Setelah beberapa lama terjadi dialog, maka Prabu Bisawarna mengabulkan permintaan Werkudara dan segera Werkudara bersama Anoman kembali ke Ngamarta. Read the rest of this entry
Wawancara eksklusif bersama Arjuna (1)

Bagong ragu saat memasuki pintu gerbang itu. Didongakkan kepalanya ke atas dan dibacanya tulisan besar yang terpampang dengan karakter tegas “Anda memasuki wilayah Kesatriyan MADUKARA”. Namun seketika teringat akan “tugas” yang diembannya memenuhi permintaan teman-temannya di kampung yang dipimpin ayahnya, Karang Kedempel, maka buru-buru dilangkahkan kakinya bergegas menuju bangunan paling megah ditengah kota itu.
Bagong tidak asing lagi dengan kota ini, karena bersama dengan kakak-kakaknya, Gareng dan Petruk, sering diajak untuk menghadap dan sowan kepada nDaranya terkasih. Dan bahkan hampir semua penghuni di istana itu, dari para pengawal sampai juru masak dikenalnya dengan baik. Ada Ki Atmo sebagai kepala pengawal gerbang istana yang masa kerjanya telah 20 tahun lebih dijalaninya dengan setia, dikenalnya juga Yu Gawuk yang menjadi juru masak kesayangan nDaranya terutama bila masak sayur tewel (perpaduan buah nangka, daun ketela, bermacam bumbu dan diselingi daging sapi serta diluberi santan dan gula jawa), di akrabi juga si Tukul anak mantri kesehatan Ki Slamet yang bertanggung jawab terhadap kebugaran para penghuni istana, dan yang selalu dikenangnya adalah senyum Darmi nan sederhana dalam penampilan namun begitu anggun memancarkan pesona. Darmi ini adalah pembantu kinasih ibu negara.
Maka belum sampai di pintu gerbang, sosok Bagong yang khas telah dikenal dengan baik oleh Ki Atmo dan anak buahnya, sehingga merekapun berteriak memanggil namanya dan ngawe-awe untuk segera mendekat.
“Eee … gula klapa Gong, kok kadingaren Gong teko mrene mung dhewekan” sapa ramah Ki Atmo begitu Bagong sudah berada didekatnya.
“Iyo Gong, ning endi Ramamu karo kangmas-kangmasmu” bersahutan teriakan Kang Darmo, Kang Panut, Kang Kirno dan yang lainnya menyambut kedatangan Bagong.
Dan seperti biasanya, tawa riang Bagong, celoteh Bagong kemudian meramaikan suasana pagi itu diantara kerumunan para prajurit pimpinan Ki Atmo. Itulah Bagong, dimanapun dia berada maka niscaya suasana ceria dan gelak tawa selalu hadir. Keriuhan dan keakraban terpancar. Dan seperti layaknya tamu agung saja, maka para prajurit itu kemudian mengantarkan Bagong menuju pendapa istana untuk bertemu dengan Sang Empunya istana tanpa birokrasi berbelit.
Dan hebatnya lagi, disana telah menunggu Arjuna bersama dengan Sumbadra yang tengah berdiri beriringan bergandeng tangan dengan mesra seraya mengumbar senyum, tengah menanti kedatangan tamu agung. Bagong jadi salah tingkah. Tak disangka kedatangannya disambut surprise begini.
“Halo … Bagong, piye kabarmu Gong” dengan renyah Arjuna bersapa dan segera mengajak Bagong menuju ruangan dalam istana itu.
“Iya Gong … rak yo apik to pawartamu. Piye kahanane Kakang Semar, Gareng lan Petruk ?” begitupun suara merdu yang keluar dari mulut pemilik wajah jelita Sumbadra turut menyambut kedatangan Bagong.
“Wah … wah … wah … kula … pripun … Rama Semar, Kang Gareng, Kang Petruk lan kula piyambak tansah pinaringan rahayu lan kesaenan awit pangestunipun nDara sekaliyan” gugup Bagong menjawab pertanyaan-pertanyaan Ndaranya itu
“Oh ya … kowe durung sarapan to Gong. Ayo sarapan ndisik. Kae lho Yu Gawuk mau wis masak jangan oblok-oblok karemanmu,” ramah Sumbadra menawarkan
“Siap nDara putri, kadosipun kula nggih mambu wangi sambel trasi. Biasanipun Yu Gawuk ndamel tempe gembus kaliyan goreng cethol menawi pas ndamel oblok-oblok” Bagong tanpa malu menjawab serasa di rumah sendiri saja
“Bener Gong apa sing mbok kandake, kowe nganti wis apal kebiasakane Yu Gawuk yo” Sumbadra mesem
Singkat cerita, 3 piring nasi kebul-kebul disertai dengan lawuh jangan oblok-oblok, diimbuhi goreng cethol dan 5 potong tempe gembus telah memasuki perut Bagong. Meskipun rasanya masih belum puas karena nikmatnya, namun Bagong masih punya rasa malu untuk nambah lagi.
“Wah masakane Yu Gawuk memang tiada banding di dunia ini” Bagong memuji jujur
“Yo wis yo Gong, aku tak ning mburi. Bacutna kowe ngomong karo nDaramu Permadi kae” Sumbadra pamit ke belakang
“Oh inggih nDara, matur nuwun suguhanipun” Read the rest of this entry
Tejamantri, Sang Konsultan
By Bram Palgunadi

Dalam dunia pewayangan, kita mengenal adanya sejumlah ‘panakawan’, yang secara umum artinya ‘sahabat dekat’. Ini merupakan sejumlah tokoh wayang, yang umumnya berperan sebagai penasehat, dan sekaligus juga sahabat bagi tokoh yang diikutinya. Sejumlah tokoh panakwan ini, bolehlah kita katakan sebagai ‘tokoh abadi’, karena di setiap cerita wayang yang manapun, mereka selalu ada. Misalnya, tokoh Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Sarawita. Tokoh lain yang juga abadi, adalah denawa Cakil, raksasa Rambut Geni, dan beberapa tokoh lainnya. Mereka ini, selalu muncul di dalam pagelaran wayang yang manapun. Dalam kehidupan kita sehari-hari, nyatanya kita lebih sering memperhatikan tokoh-tokoh panakawan yang empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Lalu, juga dengan dua tokoh wanita, yaitu Limbuk dan Cangik. Tetapi bagaimana dengan tokoh Togog dan Sarawita? Karena itulah, maka kali ini kita akan sedikit berkenalan dengan dengan tokoh Togog dan Sarawita, yang sebenarnya sama terkenalnya dengan tokoh-tokoh panakawan lainnya.
Tokoh Togog (sering juga disebut ‘Tejamantri’ atau ‘Wijamantri’) dan Sarawita (sering disebut ‘Mbilung’), seringkali dipandang sebagai tokoh ‘panakawan jahat’, hanya karena mereka berdua itu selalu berada di pihak musuh, raja jahat, atau tokoh-tokoh yang berperangai buruk. Ini merupakan sebuah pandangan umum, yang sangat lazim dinyatakan orang tentang kedua tokoh ini. Tetapi apakah benar demikian?
Togog khususnya, sebenarnya sama dengan Semar, mereka berdua adalah ‘dewa yang turun ke bumi’. Masing-masing mempunyai tugas dan peran khusus. Semar, menjadi penasehat para ksatria pembela kebenaran. Sedangkan Togog? Apakah ia dapat dikatakan sebagai penasehat pada ksatria pembela kejahatan? Menurut saya, di sinilah letak kesalahan-pahaman kita dalam memandang peran dan fungsi mereka. Menurut saya, Baik Semar maupun Togog, keduanya merupakan penasehat para ksatria. Jika kita mencermati dialog-dialog keduanya dengan para ksatria yang diikutinya, maka semuanya akan segera menjadi jelas. Keduanya selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik dan berguna. Bedanya, keduanya berdiri pada pihak yang berseberangan.
Cangik dan Limbuk, Dua sahabat dengan kesetiaan tanpa batas
Oleh Bram Palgunadi pada 09 Mei 2011 jam 15:03

Di dunia pewayangan, kita selalu berhadapan dengan dua tokoh wanita, yaitu Cangik dan Limbuk. Mereka berdua, selalu ditampilkan saat tiba pada adegan ‘keputren’ di suatu kerajaan. Ini merupakan suatu adegan yang boleh dikatakan selalu ada di setiap pagelaran wayang. Saking seringnya kedua tokoh ini tampil, sampai-sampai kita tidak pernah tahu atau tidak mau tahu, siapakah sebenarnya mereka berdua itu. Pada judul bahasan ini, saya memakai istilah ‘dua sahabat’ dan bukannya memakai istilah ‘dua wanita’. Memang keduanya, Cangik dan Limbuk, adalah dua orang wanita. Tetapi keduanya sebenarnya sudah meningkatkan level dirinya, menjadi ‘dua sahabat’ bagi sang putri atau permaisuri yang diikutinya.
Kesalahan terbesar dari kita sebagai pengamat dan penikmat pagelaran wayang, khususnya wayang kulit, adalah bahwa tokoh Cangik dan Limbuk seringkali kita pandang sebagai dua orang dayang-dayang atau kasarnya sebagai ‘pembantu’ seorang putri atau permaisuri raja. Ini merupakan kesalahan pemahaman yang bisa dikatakan fatal. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua, Cangik dan Limbuk, sebenarnya bukanlah dayang-dayang dan bukan pula pembantu dalam pemahaman umum seperti yang kita kenal. Mereka berdua, adalah ’panakawan’, yang artinya ‘sahabat’. Jika tokoh panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong; adalah panakawan bagi para tokoh ksatria; maka Limbuk dan Cangik adalah panakawan bagi tokoh putri atau permaisuri. Mereka berdua, bukanlah tokoh biasa. Mereka berdua, adalah tokoh yang peran dan fungsinya sangat luar biasa. Meskipun kenyataannya, mereka berdua kalah pamor dengan para panakawan ksatria yang lebih banyak diekspos dan ditampilkan.
Gambaran bahwa Cangik adalah wanita tua renta yang bertubuh jelek dan buruk rupa, merupakan gambaran yang benar-benar menggambarkan pemahaman kita yang salah terhadap Cangik. Begitu pula tentang Limbuk yang digambarkan tubuhnya tambun (gemuk) dan bermuka jelek. Cangik bukanlah wanita berwajah buruk seperti banyak dikatakan orang. Cangik, adalah gambaran seorang wanita tua yang sangat setia kepada majikannya. Ia adalah seorang wanita yang bertindak sebagai ‘rewang’ bagi majikan perempuan (misalnya: isteri, permaisuri). Bersama anaknya, yang bernama ‘Limbuk”, keduanya merupakan teman atau sahabat sejati, tempat sang putri atau permaisuri curhat, merenungkan kehidupannya, dan mendiskusikan kegundahan hatinya. Mereka berdua, bukanlah orang biasa! Mereka berdua adalah orang-orang dalam lingkungan terdalam suatu istana. Kalau memakai istilah jaman sekarang, mereka berdua itu termasuk orang-orang yang ‘berada di lingkaran ring satu’, yang merupakan orang-orang kepercayaan yang berada paling dekat dan sangat erat hubungannya dengan orang terpenting di istana. Mereka juga ‘pemegang rahasia’ sang puteri atau permaisuri. Begitu dekat dan eratnya hubungan mereka dengan junjungannya, sehingga bisa dikatakan hubungannya jauh melebihi yang bisa dilakukan oleh seorang menteri atau mahapatih (menteri koordinator, menko). Read the rest of this entry














