Blog Archives

Cantrik


Cantrik

Tokoh Cantrik ditampilkan dalam wayang kulit purwa dengan roman muka yang gembira dengan plelengan. Hidungnya ndelik atau sumpel. Bermulut sunthi dengan kumis tipis, kadang ada yang berjenggot dan berjabang. Perut buncit, memakai rompi dan memakai celana pocong dagelan. Kepalanya memakai kethu, semacam topi. Dipunggungnya, kemana-mana menyandang sabit.
(wayang buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono)

———-

Cantrik termasuk panakawan, namun tidak panakawan baku seperti halnya: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong (panakawan tengen) atau pun Togog dan Bilung (panakawan kiwa). Cantrik merupakan panakawan morgan atau panakawan sampingan dan tidak baku. Walaupun tidak baku kehadiran Cantrik dalam wayang kulit purwa cukup penting. Ia hadir sebagai pengiring pendeta atau begawan, baik pendeta yang berujud raksasa maupun pendeta yang berujud ksatria, di sebuah pertapaan atau percabaan.

Pada pagelaran wayang kulit Purwa, adegan percabaan ini merupakan kelanjutan dari adegan gara-gara, ketika para panakawan tengen (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) selesai bersenang-senang menghibur, lalu mengantar seorang ksatria menuju percabaan untuk memohon pencerahan kepada pendeta yang bersangkutan. Dalam adegan percabaan ini biasanya seorang dalang memanfaatkan bertemunya Cantrik dan Semar Gareng, Petruk, Bagong dengan guyonan yang lucu dan konyol.

Sesungguhnya Cantrik merupakan penggambaran seseorang yang sedang menuntut ilmu kepada pendeta atau begawan di padepokan atau percabaan. Sistem pengajaraannya menggunankan sistem khusus, yaitu sistem pengajaran paguron. Dalam sistem paguron ini, para Cantrik (laki-laki) dan Mentrik (perempuan) juga menjadi bagian dari keluarga, mereka tinggal makan dan bekerja bersama serta berfungsi sebagai pelayan atau pengasuh.

Tokoh Cantrik jarang diceritakan secara khusus, kecuali tokoh cantrik yang bernama Janaloka. Cantrik yang satu ini menjadi terkenal karena keinginannya memperistri Endang Pergiwa dan ssaudara kembarnya Endang Pergiwati. Pergiwa dan Pergiwati adalah anak Arjuna dengan Endang Manuhara yang tinggal bersama eyangnya Begawan Sidik Wacana di percabaan Andong Sumiwi. Pada suatu hari kedua putri kembar itu ingin menemui Arjuna ayahnya di keraton Ngamarta. Begawan Sidik Wacana mengutus Cantrikanya untuk mengantar kedua cucunya menemui ayahnya. Namun di tengah jalan Cantrik Janaloka yang seharusnya melindungi Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati, malahan berniat memperistrinya. Namun sebelum niat Cantrik Janaloka kesampaian, ia keburu mati ditangan para Korawa.

Cerita ini menggambarkan seseorang yang memiliki keinginan, namun tidak ‘ngilo githoke dhewe,’ tidak melihat kekuatan dan kenyataan yang dimilikinya. Dan juga merupakan penggambaran dari abdi yang tidak setia kepada gurunya yang selama ini telah membimbingnya. Diibaratkan pagar makan tanaman yang seharusnya dijaga malah dirusak sendiri.

 

herjaka HS

Sumber : tembi.org

Harjuna Sasrabahu


Harjuna Sasrabahu
Bentuk wayang kulit Arjuna Sasrabahu buatan Kaligesing Purworejo,
Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)

Harjuna Sasrabahu adalah raja di Negara Maespati menggantikan Prabu Kartawirya orang tuanya. Waktu remaja ia bernama Harjuna Wijaya atau Wingsatibahu yang artinya berbahu seribu. Harjuna Sasrabahu adalah raja titisan Dewa Wisnu yang sangar sakti mandraguna. Jika marah ia berubah wujud menjadi raksasa sebesar gunung yang sangat mengerikan. Patihnya yang bernama Patih Suwanda alias Sumantri pernah mencobai Harjuna Sasrabahu. Namun Sumantri dengan mudah dapat dikalahkan.

Harjuna Sasrabahu mempunyai tiga orang isteri yaitu, Dewi Citralangeni dari kerajaan Tanjungpura, Dewi Srinadi anak Begawan Jumanten dari pertapaan Giriretno dan Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada. Di antara ketiga istrinya Dewi Citrawatilah putri yang paling cantik, karena ia merupakan titisan Dewi Sri. Oleh karenan Dewi Citrawati diangkat menjadi permaisuri raja.

Sang Dewi Citrawati sangat dimanja oleh Harjuna Sasrabahu. Segala keinginannya selalu dipenuhni. Salah satu keinginan Dewi Citrawati yang sungguh merepotkan yaitu memohon kepada raja untuk memindahkan taman Sriwedari yang elok indah.

Pernah pada suatu ketika Dewi Citrawati kepengin berenang di sungai. Prabu Harjuna Sasrabahu menuruti keinginan Dewi Citrawati dengan membendung sungai, sehingga air sungai meluap sampai di perkemahan Dasamuka, yang waktu itu sedang mempersiapkan diri menyerang Maespati. Maka akhirnya Negara Maespati diserbu oleh Dasamuka Raja Alengka, dan terjadilah peperangan. Walaupun Dasamuka dapat dikalahkan oleh Harjuna Sasrabahu, ia telah berhasil membunuh Patih Suwanda. Dengan gugurnya Sumantri Harjuna Sasrabahu mengangkat patih yang baru yang bernama Bambang Kartanadi.

Pada suatu hari Prabu Harjuna Sasrabahu membunuh seorang petapa yaitu Resi Jamadagni yang sedang menuntut keadilan karena ternaknya dibunuh oleh prajurit Harjuna Sasrabahu. Tetapi pengaduan tersebut malahan membuat Prabu Harjuna Sasrabahu marah dan membunuh Resi Jamadagni. Tindakan Harjuna Sasrabahu yang ceroboh tersebut menyebabkan Batara Wisnu tidak lagi mau menitis kepada Harjuna Sasrabahu. Semenjak Batara Wisnu meninggalkan dirinya, Harjuna Sasrabahu berkurang kesaktiannya. Maka ketika Rama Parasu datang menuntut kematian Jamadagni orang tuanya, Prabu Harjuna Sasrabahu kuwalahan menghadapinya. Bahkan akhirnya Harjuna Sasrabahu mati di tangan Rama Parasu. Bahkan tidak hanya Prabu Harjuna Sasrabahu, semua ksatria Maespati dibunuh Rama Parasu, hingga wangsa Harjuna Sasrabahu surud.

herjaka HS

Srikandi


Srikandi
Srikandi dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)

Nama lengkapnya adalah Dewi Wara Srikandi. Ia adalah anak ke dua dari Prabu Durpada Raja Pancalaradya. Srikandi adalah wanita pemberani dan cekatan. ia sangat pandai memainkan panah. Kepandaiannya berolah senjata panah tersebut didapatkan dari Arjuna, dalam kisah Srikandi Ajar Manah.

Ketika dewasa Srikandi dilamar oleh Prabu Jungkung Mardeya raja dari Paranggubarja tetapi Srikandi menolaknya karena ia lebih mencintai Arjuna.

Arjuna pun jatuh cinta kepada Srikandi muridnya, dan kemudian melamar Srikandi. Walaupun Srikandi diam-diam telah jatuh cinta kepada Arjuna gurunya, ketika dilamar Srikandi tidak menerima begitu saja lamaran Arjuna, melainkan mengajukan dua syarat kepada Arjuna. Syarat yang pertama Arjuna harus bisa membangun taman Maerakaca. Syarat yang ke dua, Arjuna harus dapat mencarikan sosk wanita yang dapat mengalahkan dirinya.

Untuk memenuhi permintaan Srikandi Arjuna mengajukan isterinya yaitu Dewi Larasati. Dewi Larasati ini sangat mahir memainkan senjata panah karena sudah dilatih oleh Arjuna. Perhitungan Arjuna tepat, Larasati dapat mengalahkan Srikandi. Setelah kedua syarat tersebut dipenuhi Dewi Wara Srikandi bersedia menjadi isteri Arjuna.

Setelah bergabung dengan Pandawa dan resmi menjadi isteri Arjuna Srikandi menjadi salah satu senopati andalan negara Amarta. Ia mendapat tugas mengamankan seluruh penghuni kasatrian Madukara, tempat tinggal keluarga besar Arjuna.

Tetapi sayang, sebagai wanita Srikandi tidak menurunkan anak dari Arjuna.

Dalam perang Baratayuda Srikandi adalah satu-satunya senopati wanita dari pihak Pandawa. waktu itu ia melawan Senopati Hastinapura yang saktimandraguna yaitu Resi Bisma. Dalam perang tanding Srikandi berhasil mengalahkan Resi Bisma.

Herjaka HS

Abimanyu (2)


Abimanyu 2
Abimanyu dalam wujud wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Abimanyu telah memenangkan sayembara. Dewi Utari yang disayembarakan berhasil digendong Abimanyu. Paserta sayembara yang terdiri dari para raja dari seribu negara tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan di dalam pribadi Dewi Utari telah singgah babone ratu atau induknya raja yang bernama wahyu Widayat. Bagi seorang wanita yang mendapatkan wahyu Widayat ia akan menurunkan seorang raja. Oleh karena wahyu Widayat yang bersemayam tersebut, Dewi Utari menjadi sosok pribadi yang berbobot dan bernilai tinggi. Tidak sembarang orang mampu mengimbangi bobot nilainya, termasuk raja dari seribu negara. Kecuali Abimanyu tentunya.

Kemampuan Abimanyu dapat mengimbangi Dewi Utari dan kemudian menggendongnya dikarenakan ada wahyu Cakraningrat yang bersemayam di dalam pribadi Abimanyu. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang dapat mengantar seseorang menjadi raja atau menurunkan raja. Abimanyu telah mendapatkan wahyu Cakraningrat karena ia tekun menjalani laku tapa. Oleh karenanya ia kuat menggendong Dewi Utari.

Memang sudah menjadi kehendak Jawata bahwa Wahyu Cakraningrat bersatu dengan wahyu Widayat. Maka kemudian Abimanyu dan Dewi Utari diresmikan menjadi pasangan suami isteri yang diharapkan bakal menurunkan raja.

Sebelum mereka berjanji setia, Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu. Apakah Kakanda Abimanyu masih sendirian, dan belum pernah menikah? atas pertanyaan Dewi Utari tersebut seketika Abimanyu terdiam, tidak segera dapat menjawab. Walaupun Abimanyu telah berhasil menggendong Dewi Utari, Abimanyu tidak mempunyai keberanian untuk berkata yang sesungguhnya bahwa Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prab Kresna. Abimanyu takut jika Dewi Utari mengetahui hal tersebut, ia akan mengurungkan niatnya dan menolak dirinya menjadi suaminya. Atas pertimbangan itulah maka kemudian Abimanyu dengan tegas mengatakan dan menyatakan bahwa ia belum pernah menikah.

Dewi Utari sangsi atas pernyataan Abimanyu, karena ia mendengar kabar bahwa Abimanyu telah pernah menikah. Sumber yang dapat dipercaya mengatakan dengan jujur bahwa isteri Abimanyu adalah Dewi Siti Sundari. Abimanyu mengelak dengan gusarnya. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kejujuran. Sungguh aku berkata dengan jujur bahwa aku belum pernah mempunyai isteri, selain dirimu, kata Abimanyu. Dewi Utari belum percaya. Abimanyu semakin gusar dan bingung.

Pada puncak kegusarannya Abimanyu menyatakan sumpah dihadapan Dewi Utari dan alam semesta. Aku bersumpah, jika aku sudah beristeri kelak aku akan mati dalam aniaya yang nista. Alam seakan menggelegar mendengar sumpah Abimanyu. Dewi Utari ketakutan akan sumpah Abimayu. Ia kemudian mendekap Abimanyu erat-erat. Takut kehilangan Abimanyu. Dewi Utari menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Abimayu. Oleh karenanya ia tidak lagi mempermasalahkan apakah Abimanyu sudah beristeri atau belum. Yang didambakan bahwa mulai sekarang Abimanyu menjadi miliknya dan menjadi suami satu-satunya, tidak ada isteri lain bagi Abimanyu selain dirinya.

Pasangan Abimanyu dan Dewi Utari diharapakan oleh para tetua negeri baik negeri Amarta maupun negeri Wirata bakal menurunkan raja besar yang akan merajai di sebuah negara yang besar pula.

Herjaka HS

Abimanyu (1)


Abimanyu
Wayang kulit purwa tokoh Abimanyu koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing
Purworejo (foto: Sartono)

Abimanyu (1)

Abimanyu lahir dari Dewi Sembadara, isteri Arjuna. Diantara anak-anak Arjuna, Abimanyu anak yang paling disayangi. Tidak hanya disayangi oleh Arjuna dan Sembadra sebagai orang tuanya, tetapi juga disayangi oleh kerabat Pandawa. Ia disiapkan menjadi raja, dikarenakan Abimanyu adalah satu-satunya keturunan Pandawa yang mendapat wahyu raja yaitu wahyu Cakraningrat.

Abimanyu digambarkan sebagai satria yang tampan, sakti, pemberani, pendiam tetapi mudah marah dan ringan tangan. Jika sedang marah tidak ada yang berani mendekat, karena sangat berbahaya. Oleh sebab itu ia dinamakan Abimanyu yang artinya Abi = dekat dan manyu = marah.

Ketika masih remaja ia pernah membela dan melindungi ibunya dari ancaman Prabu Angkawijaya raja negara Plangkawati yang ingin memperisteri Dewi Sembadra. Abimanyu berhasil mengalahkan Prabu Angkawijaya. Sejak saat itu kerajaan Plangkawati dikuasai oleh Abimanyu. Rakyat Plangkawati menganggap Abimanyu sebagai pengganti Prabu Angkawijaya. Oleh karenanya mereka menyebut Abimanyu dengan nama Angkawijaya.

Setelah dewasa Abimanyu menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prabu Kresna. Namun sayang Siti Sundari mandul sehingga tidak mempunyai keturunan. Prabu Kresna merasa ikut bersalah atas perkawinan Abimanyu dan Angkawijaya yang ternyata anaknya tidak dapat mengandung dan melahirkan benih raja dari Abimanyu. Karena pada mulanya Kresna telah merekayasa perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari agar kelak anak keturunannya Siti Sundari dapat menjadi raja di tanah Jawa.

Untuk menebus kesalahannya Kresna menganjurkan agar Abimanyu memperisteri Dewi Utari yang mempunyai wahyu ratu yaitu wahyu Widayat. Maka kemudian ketika ada sayembara di negara Wirata, Abimanyu disarankan mengikutinya. Sayembara yang digelar Prabu Matswapati raja Wirata tersebut adalah barang siapa kuat menggendhong Dewi Utari putri raja Prabu Matswapati, berhak memperisteri Dewi Utari.

Ribuan peserta mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan Dewi Utari telah mendapatkan wahyu Widayat, yang adalah wahyu ratu. Satu-satunya orang yang kuat menggendong wahyu Widayat yang telah manuksma atau menjadi satu raga dan suksma dengan Dewi Utari adalah wahyu Cakraningrat yang telah manuksma di dalam diri Abimanyu. Maka sayembara dimenangkan oleh Abimanyu. Wahyu Widayat bersatu dengan wahyu Cakraningrat, Utari bersatu dengan Abimanyu dan melahirkan Parikesit yang kelak menjadi raja Hastina sesudah perang Baratayuda.

herjaka HS

Antasena


Antasena
Antasena,
wayang kulit purwa corak Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Antasena adalah anak ke tiga Raden Wrekudara atau Raden Bimasena yang berpasangan dengan Dewi Urang Ayu anak Begawan Mintuna. Ada beberapa nara sumber yang menyebutkan bahwa Dewi Urang Ayu adalah anak Sang Hyang Baruna penguasa laut.

Kisah kelahiran Antasena bermula ketika Pandawa yang berjumlah lima orang dan Kurawa yang berjumlah 100 orang sedang berlomba menggali sungai dari Kurujenggala, sebelah utara keraton Hastinapura hingga menyambung ke Sungai Gangga. Begawan Mintuna tergerak hatinya melihat Pandawa yang hanya 5 orang tak sebanding dengan Kurawa yang berjumlah 100 orang. Oleh karena rasa iba, Begawan Mintuna mengerahkan puluhan ribu anak buahnya yang berupa belut dan ketam, untuk membantu Pandawa. Dengan bantuan itu proses penggalian sungai yang di lakukan Pandawa berjalan lancar dan dengan cepat menyambung ke Sungai Gangga. Sungai hasil galian Pandawa diberi nama sungai Serayu. Sedangkan penggalian sungai yang dilakukan oleh para Kurawa tertinggal jauh. Bahkan Kurawa salah sasaran. Penggalian sungai yang seharusnya disambungkan ke Sunggai Gangga malahan disambungkan ke Sungai Serayu buatan Pandawa. Maka Resi Bisma yang menjadi penggagas perlombaan menyatakan Pandawa sebagai pemenang.

Keberhasilan Pandawa tak lepas dari bantuan Begawan Mintuna. Selanjutnya Begawan Mintuna berkenan mengambil menantu Bimasena untuk dijodohkan dengan Dewi Urang Ayu putrinya, dan kemudian melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Antasena.

Sesuai dengan harapan orang tua, nama Antasena mengandung makna: a berarti tidak, anta berarti batas, dan sena artinya prajurit atau perwira. Dimaksudkan agar Antasena menjadi seorang perwira perajurit yang mempunyai kemampuan tak terbatas. Antasena bertempat tinggal di kasatrian Randu Kumbala. Ketika masih bayi Antasena pernah dijagokan oleh dewa untuk melawan Prabu Kalarudra dari Kerajaan Giri Kedasar. Dalam pertempyran tersebut Antasena berhasil mengalahkan Prabu Kalarudra. Atas jasanya Antasena diberi kerajaan Giri Kedasar dan Begawan Mintuna diangkat menjadi dewa.

Antasena adalah satria yang agak bengal tetapi jujur dan pembela kebenaran. Sebagai cucu dewa penguasa laut Antasena memiliki pusaka sangat sakti berupa sungut yang berada dikepala seperti sungut udang. Antasena juga dappat hidup di dalam air karena dengan sendirinya mendapat kesaktian dari kakeknya.

Demi mengasah ketajaman batinnya pada usia dewasa Antasena pernah melakukan tapa dengan gelar Begawan Curiganata, seperti gelar yang dipakai oleh Baladewa.

Sebelum perang Baratayuda Antasena dan Wisanggeni saudaranya menghadap Sang Hyang Wenang untuk menanyakan peran apa yang bakal mereka jalankan pada perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang bersabda bahwa Antasena dan Wisanggeni saudaranya tidak mendapatkan peran apa-apa. mereka masing-masing tidak tampil sebagai senapati, karena ia telah mati sebelum perang terjadi. Kematian Antasena dan Wisanggeni adalah mati mukswa yaitu dengan jalan memandang mata Sang Hyang Wenang sehingga tubuhnya mengecil dan kemudian hilang tidak terlihat.

herjaka HS

Yamadipati


Yamadipati
Sang Hyang Yamadipati, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Badaya (foto: Sartono)

Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Orang memanggilku dengan beberapa nama yaitu: Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Yama, Sang Hyang Petraraja yang berarti rajanya neraka dan juga disebut Sang Hyang Yamakingkarapati yang artinya panglimanya makhluk-makhluk Kingkara atau makhluk penjaga neraka.

Nama-nama itu berkaitan dengan tugas yang diembannya yaitu sebagai penunggu neraka. Selain sebagai penunggu neraka, Sang Hyang Yamadipati bertugas mencabut nyawa manusia yang sudah sampai pada batas waktunya.

Digambarkan bahwa pada saat ia melakukan tugasnya, Yamadipati membawa dhadhung, sejenis tali tampar berukuran besar untuk mengambil nyawa orang. Yamadipati berujud raksasa besar, berjubah dan menakutkan. Bukan hanya ujudnya, tugas yang embannya pun membuat orang takut jika kedatangan Yamadipati. Bahkan orang yang bermimpi bertemu dengan Yamadipati dipercaya akan mendapat celaka. Di mana Yamadipati datang di situ akan terjadi kematian.

Oleh karena dua tugas yang disandangnya yaitu Dewa pencabut nyawa dan Dewa penunggu neraka, Yamadipati tidak pernah tinggal di kahyangan yang telah disediakan yaitu Kahyangan Hargadumilah. Dulu ketika masih ada Dewi Mumpuni isterinya, Yamadipati selalu meluangkan waktu untuk pulang. Tetapi saat ini setelah Dewi Mumpuni meninggalkannya, Yamadipati jarang sekali pulang di Hargadumilah.

Menurut pengakuan isterinya yang disampaikan, bahwasanya Dewi Mumpuni mau menjadi isteri Yamadipati karena rasa takut kepada Batara Guru yang telah memberikan dirinya kepada Yamadipati. Namun sesungguhnya Dewi Mumpuni tidak mempunyai rasa cinta kepada Yamadipati yang berwajah menakutkan. Dewi Mumpuni mencintai Bambang Nagatamala putra Sang Hyang Antaboga, Dewa Penguasa bumi.

Walaupun berwajah menakutkan dan bertugas pada dunia kematian yang lebih menakutkan, Yamadipati memiliki kebesaran jiwa. Demi kebahagiaan isterinya ia merelakan Dewi Mumpuni diperisteri oleh Bambang Nagatatmala.

Sejak peristiwa itu hatinya hancur, jiwanya berkeping-keping, Yamadipati jarang sekali pulang di kahyangan Hargodumilah yang telah kosong, Ia suntuk menjalani tugasnya.

Pada suatu hari ketika ia menjalankan tugasnya mencabut nyawa seseorang yang bernama Setyawan, ia sungguh terpana dengan isteri Setyawan yang bernama Sawitri. Rasa terpana Yamadipati tidak hanya karena kecantikan Sawitri, tetapi terlebih karena kesetiaannya kepada Suaminya. Tidak seperti Dewi Mumpuni yang tidak cinta dan tidak setia, gumannya.

Yamadipati meneteskan air mata, ia dahaga akan kasih seorang wanita yang cantik penuh cinta panjang sabar dan setia seperti Sawitri. Oleh karenanya Yamadipati tidak sampai hati menolak permohonan Sawitri agar Setyawan dihidupkan. Hyang Yamadipati mengembalikan nyawa Setyawan agar Sawitri hidup bahagia bersamanya. Dan benarlah Sawitri hidup bahagia bersama Setyawan melahirkan anak-anaknya.

Dalam hidupnya Yamadipati tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, tetapi ia cukup terhibur dapat memberikan kebahagiaan tidak saja kepada Sawitri yang setia kepada suaminya, tetapi juga memberi kebahagiaan kepada Dewi Mumpuni isterinya yang telah mengkhianatinya

herjaka HS

Destarastra


Destarastra
Destarastra wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya
(foto: Sartono)

Aku adalah anak sulung Prabu Kresna Dwipayana atau Begawan Abiyasa raja Hastinapura, lahir dari seorang Ibu bernama Dewi Ambika putri dari negara Giyantipura atau negara Kasi. Sejak lahir aku mempunyai cacat netra, tidak dapat melihat atau buta. Aku mempunyai dua adik dari ibu yang berbeda yaitu Pandudewanata dan Yamawidura.

Walaupun aku cacat, aku memiliki mantra sakti Aji Lebur Saketi yang sangat ditakuti lawan. Apabila mantra Aji Lebur Saketi aku baca maka semua benda yang aku pegang akan hancur menjadi debu.

Nama lain dari Destarastra adalah Raden Kuru. Ia bertempat tinggal di Kadipaten Gajahoya. Isterinya bernama Dewi Gendari putri Prabu Keswara dari Plasajenar atau Gandaradesa.

Perkawinan Destarastra dengan Gendari ini adalah atas kebaikan Pandudewanata adiknya, yang waktu itu memenangkan sayembara dengan memboyong tiga putri. Satu dari ketiga putri boyongan tersebut diberikan kepada Destarastra. Dari perkawinan dengan Dewi Gendari putri boyongan tersebut Destarastra dikaruniai seratus orang anak laki-laki dan ditambah satu anak perempuan, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kurawa. Dari seratus anak, yang lahir sulung merupakan anak istimewa. Istimewa karena ketika lahir bayi tersebut mempunyai badan yang paling besar, berkulit kuning dan tangisnya seperti serigala. Ia diberi nama Duryudana.

Pada akhir hayatnya, Destarastra mati tertimbun beteng bersama isterinya, dan tanpa sengaja diinjak-injak oleh seratus anaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada awal perang Baratayuda, pada saat cerita Kresna duta.

Ada versi lain yang mengatakan bahwa matinya Destarastra pada waktu perang Baratayuda sudah selesai, yaitu ketika Destarastra bersama Gendari isterinya bertapa di hutan. Tiba-tiab hutan terbakar dan mereka berdua mati bersama.

herjaka HS

Narada


Narada
Batara Narada, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Pada awal mula dunia diciptakan, adalah sebuah cahaya berbentuk telur. Sang Maha Pencipta atau Sang Hyang Tunggal menjadikannya kulit telur menjadi bumi dan langit yang dipisahkan cakrawala. Setelah kulit telur terpisah dari isinya, maka semakin bercahayalah isi telur tersebut. Cahaya yang memancar dari kuning telur menjadi Manik atau intan dan Maya, atau cahaya indah berwarna kehijauan. Sedangkang cahaya yang ditimbulkan dari bagian putih telur menjadi Nur, sinar terang benderang berwarna putih kekuning-kuningan, dan Teja atau sorotnya, pancarannya dari cahaya tersebut.

Dari keempat cahaya yang di pancarkan dari isi telur yaitu: Manik, Maya, Nur dan Teja, lahirlah empat orang manusia yang berupa ksatria tampan dengan badan ideal atau disebut dengan bambangan. Dari Manik lahirlah Manikmaya. Dari Maya lahirlah Ismaya. Dari Nur lahirlah Nurada. Dari Teja lahirlah Tejamantri. Keempat manusia pertama ciptaan Sang Hyang Tunggal tersebut disebut sebagai dewa dengan gelar batara.

Pada kisah selanjutnya keempat batara yang tampan tersebut saling berebut untuk menjadi penguasa dunia. Batara Manikmaya, Batara Ismaya dan Batara Tejamantri beradu kesaktian. Dalam adu kesaktian tersebut Batara Manikmaya berubah bentuk menjadi orang bertangan empat dengan sebutan Batara Guru. Batara Ismaya, berubah menjadi seorang berbadan pendek bulat dan hitam dan lebih dikenal dengan nama Semar. Batara Teja atau Batara Tejamantri atau juga Batara Antaga berubah bentuk menjadi orang pendek, gemuk dan bermulut lebar dan biasa dipanggil Togog.

Sementara itu Batara Nurada yang tampan, sakti, cerdas, banyak ilmu dan berwawasan luas sedang bertapa di tengah samodra. Ia merasa paling pantas menjadi penguasa dunia. Batara Guru datang dan mengatakan bahwa dirinya yang paling pantas menjadi penguasa dunia. Dikarenakan tidak ada yang mau mengalah dalam hal kekuasaan, keduanya terlibat dalam perkelahian. Batara Guru dapat mengalahkah kesaktian Batara Nurada dan menyatakan bahwa wajah Nurada itu lucu. Seketika itu Batara Nurada menjadi jelek tidak tampan lagi. Wajahnya lucu dan tubuhnya pendek, perutnya buncit. Namun dalam hal ilmu dan kecerdasan, Batara Nurada yang kemudian disebut Batara Narada mempunyai tingkatan ilmu lebih tinggi dibandingkan dengan Batara Guru. Oleh karenanya Batara Narada diangkat menjadi patih kahyangan Jonggring Saloka atau Suralaya mendampingi Batara Guru.

Selain menjadi patih Batara Narada juga menjadi penasihat Batara Guru dan sekaligus menjadi sesepuh para dewa. Kepada Guru ia memanggil adi Guru, dan sebaliknya Batara Guru menyebut kakang Narada.

Batara Narada bertempat tinggal di Kahyangan Suduk Pangudal-udal. Ia mempunyai satu isteri yang bernama Dewi Wiyodi. Dari perkawinan tersebut Batara Narada menurunkan dua anak yaitu Dewi Kanekawati dan Bhatara Malangdewa.

Karena kata sakti yang diucapkan Batara Guru sehingga ketampanan Batara Narada hilangi. Selanjutnya Batara Narada dilukiskan sebagai dewa yang lucu dan suka berkelakar, tetapi dibalik kelucuannya sesungguhnya ia adalah dewa yang paling pandai dan waskita. Diantara para dewa di Kahyangan, Batara Naradalah yang lebih sering mendapat tugas turun ke dunia memberikan anugerah kepada manusia. Sepanjang hidupnya Batara Narada melakukan satu kesalahan fatal dalam manjalankan tugasnya yaitu ketika ia ditugaskan oleh penguasa Kahyangan untuk menganugerahkan pusaka sakti berujud panah yang bernama Kuntawijayandanu. Seharusnya pusaka itu diberikan kepada Harjuna, tetapi keliru diberikan kepada Adipati Karna.

Batara Narada memiliki jimat berupa cupu Lingga Manik yang berisikan Tirta maya Mahadi yang dapat digunakan untuk mengobati segala macam penyakit. Nama lain dari Batara Narada adalah Sang Hyang Kanekaputra.

herjaka HS

Sumber : tembi.orf

Antareja


Antareja
Wayang kulit purwa Antareja buatan Kaligesing Purworeja, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Raden Antareja atau Anantareja, juga mempunyai sebutan lain yaitu Nagabaginda dan Rupatala. Ia adalah anak Bimasena buah perkawinannya dengan Dewi Nagagini putri cantik anak Sang Hyang Antaboga, dewa penguasa Kahyangan Sapta Pertala. Letak kahyangan ini di dasar bumi lapisan ketujuh. Oleh karenanya dinamakan Kahyangan Sapta Pertala yang artinya Sapta = tujuh dan Pertala = bumi atau tanah.

Antareja tinggal di kasatriyan Jangkarbumi. Ia adalah sosok pemuda tampan tetapi badannya memiliki sisik seperti ular. Hal tersebut dikarenakan Hyang Antaboga ayah dari Antareja merupakan Dewanya ular, yang mempunyai dua wujud, yaitu kadang berujud Dewa dan kadang berujud ular naga yang menakutkan. Untuk wujud yang kedua ini terutama jika Antaboga sedang marah.

Antareja terkenal sangat sakti. Ia memilki pusaka andalan yang berupa upas atau bisa mematikan. Musuh yang terkena semburan upas atau bisa pasti mati. Bahkan Antareja dapat mencelakai atau membunuh musuh dari jarak jauh, hanya dengan menjilat bekas jejak telapak kaki musuh.

Dengan kesaktian seperti itu, Antareja ditakuti lawan dan disegani kawan. Namun sayang, karena kesaktiannya Antareja terpaksa disingkirkan sebelum perang Baratayuda. Tragis memang kisah ini, Antareja sengaja disingkirkan bukan oleh musuhnya tetapi oleh Prabu Kresna yang menjadi botoh perang Baratayuda, yang seharusnya membotohi para Pandawa dan anak-anak Pandawa, termasuk Antareja.

Mengapa Kresna sampai hati membunuh Antareja yang masih keponakannya sendiri? Karena Kresna tahu isi kitab Jitabsara, yaitu kitab yang berisi skenario perang Baratayuda, bahwa pada perang Baratayuda Antareja diangkat menjadi senopati perang barisan Pandawa untuk menandingi Prabu Baladewa senopati perang barisan Kurawa. Jika perang tanding antara Antareja dan Prabu Baladewa benar-benar terjadi, dapat dipastikan bahwa Prabu Baladewa akan kalah dan gugur. Kresna sangat takut kehilangan orang yang sangat dicintainya yaitu Prabu Baladewa, kakaknya. Maka jika Antareja tidak dibunuh sebelum perang baratayuda, Kakaknyalah yang akan gugur di medan perang. Dan benarlah Antareja mati sebelum perang Barayuda meletus, karena tipu daya Prabu Kresna untuk menjilat jejak kakinya sendiri.

Antareja meninggalkan satu isteri yang bernama Dewi Ganggi, anak Ganggapranawa. raja ular dari negeri Tawingnarmada dan satu anak laki-laki yang diberi nama Jayasena.

herjaka HS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 966 other followers

%d bloggers like this: